NALAR DAN PERLUASAN LINGKARAN WILAYAH MORAL

Pertengahan tahun 1970-an sampai 1980-an, terjadi usaha yang sistematis dari kalangan ilmuwan (biologi) untuk mengganti peran etika dalam menjelaskan perilaku moral manusia. Para ilmuwan memiliki semacam proyek untuk—meminjam istilah Edward O. Wilson—membiologisasikan etika. Karya Edward O. Wilson berjudul Sociobiology, The New Synthesis yang terbit tahun 1975 menjadi titik tolak perjuangan para ilmuwan tersebut. Karya-karya lainnya pun bermunculan setelahnya, sebut saja beberapa di antaranya The Selfish Gene yang ditulis Richard Dawkins (1976), Sociobiology: A New Biological Determinism, sebuah kumpulan karangan yang diedit Ann Arbor (1977), karya David Barash berjudul Sociobiology and Behavior yang terbit tahun 1977, karya Richard Alexander berjudul Darwinism and Human Affairs yang terbit tahun 1977, karya Arthur Caplan berjudul The Sociobiology Debate yang terbit tahun 1978, karya Mary Midgley berjudul Beast and Man: The Roots of Human Nature yang terbit tahun 1978, dan karya Michael Ruse berjudul Sociobiology: Sense or Non Sense yang terbit tahun 1979.

Obsesi para ilmuwan itu—terutama Edward O. Wilson, Richard Dawkins, dan David Barash sebagaimana disebutkan Peter Singer—adalah melucuti etika dari tangan para filsuf moral dan memberikannya kepada para ilmuwan. Peter Singer mengutip kata-kata Edward O. Wilson yang mengatakan, bahwa sekarang tibalah waktunya untuk membiologisasikan etika. Sekaranglah saatnya para ilmuwan berperan dalam menjelaskan perilaku moral manusia, bukan para filsuf.

Mengapa para ilmuwan ini hakul yakin, bahwa mereka mampu menjelaskan perilaku moral manusia? Bukankah penjelasan mengenai apa yang baik dan buruk secara moral selama ini diberikan oleh para filsuf? Lantas, apa peran para filsuf moral setelah peran-peran mereka dilucuti dan dilumpuhkan?

Para ilmuwan tersebut berangkat dari sebuah kredo sains yang mereka imani, bahwa seluruh perilaku manusia memiliki dasar atau fondamen biologi. Pandangan Wilson mewakili kredo ini: “Seorang ahli biologi, yang peduli pada pertanyaan-pertanyaan fisiologi dan sejarah evolusi, menyadari bahwa pengetahuan-akan-diri (self-knowledge) dikendalikan dan dibentuk oleh pusat pengatur emosi (emotional control center) yang terletak dalam hypothalamus dan sistem limbik yang ada di otak. Pusat pengatur emosi inilah yang pada gilirannya memenuhi kesadaran kita dengan semua emosi—kebencian, cinta, ketakutan, dan emosi-emosi lainnya—yang selama ini dirujuk oleh para filsuf ketika mereka ingin memahami perilaku baik dan buruk manusia. Pada akhirnya kita didesak untuk bertanya, apa yang membuat hypothalamus dan sistem limbik? Keduanya berevolusi melalui seleksi alam. Pernyataan biologis sederhana inilah yang harus dikejar dan dirujuk untuk menjelaskan etika dan para filsuf moral, jika bukan para filsuf epistemologi, secara mendalam” (Peter Singer, Ethics and Sociobiology, hlm 46-47).

Dengan demikian, para ilmuwan mau menegaskan bahwa pertama, perilaku baik buruk manusia secara moral dan perilaku-perilaku lainnya dapat dijelaskan secara ilmiah dengan mengembalikan penjelasan itu pada sistem pengatur emosi yang ada di otak (bagian hypothalamus dan sistem limbik). Kedua, perilaku manusia diwariskan dari induk ke anak dan keturunan selanjutnya melalui pewarisan gen. Artinya, manusia memiliki perilaku agresif, cinta, benci, membantu orang lain, takut, dan sebagainya diwariskan secara genetis dalam proses seleksi alam. Ketiga, penjelasan mengenai baik burukny tindakan manusia yang selama ini diberikan oleh para filsuf moral dapat digantikan dengan segera oleh para ilmuwan. Menurut Edward O. Wilson, penjelasan ilmiah mengenai altruisme, misalnya, dapat menjadi senjata pamungkas dalam menyudahi kiprah para filsuf moral.

Demikianlah kalau diposisikan dalam konteks pembelaan Peter Singer atas etika, diskusi mengenai altruisme mendapat porsi yang sangat besar. Melalui buku The Expanding Circle: Ethics and Sociobiology yang kami jadikan sebagai salah satu rujukan utama tesis kami, Peter Singer sebenarnya berusaha mendebat sosiobiologi sembari mengembalikan “harga diri etika”. Preokupasi Peter Singer sebenarnya ada pada upaya melahirkan sebuah etika yang unggul terhadap sosiobiologi sekaligus sanggup sebagai rujukan yang meyakinkan dalam menjelaskan perilaku moral manusia.

Yang menarik dari pemikiran Peter Singer adalah usahanya menggugurkan klaim-klaim saintifik sosiobiologi melalui mengkritisi substansi keilmuan dari sosiobiologi itu sendiri. Pertama-tama Peter Singer menunjukkan bahwa perilaku moral manusia memang memiliki dasar biologis. Dalam arti itu, Peter Singer mengafirmasi pandangan sosiobiologi, bahwa perilaku baik buruk manusia bersifat genetis. Manusia mewariskan sifat dan perilaku cinta, benci, agresif, takut, kerja sama, altruis, dan sebagainya dari induknya. Dan bahwa sifat-sifat ini berkembang dan diwariskan dalam proses evolusi.

Tentu upaya Peter Singer menggugurkan pendapat sosiobiologi dengan memilah-mila antara ranah deskriptif dan wilayah preskriptif pantas diapresiasi. Bahwa kritik para ilmuwan sosiobiologi atas ketidaksanggupan etika dalam menjelaskan perilaku moral manusia tidak bisa diterima persis ketika wilayah epistemologis etika berbeda dengan wilayah epistemologis sains. Bahwa sains berkembang melalui upaya yang sistematis dalam menjelaskan dan meramal fakta-fakta alam. Sementara etika, dengan sifat preskriptifnya, mampu menjelaskan perilaku moral manusia dengan atau tanpa sains. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah usaha Peter Singer menggugurkan pandangan-pandangan dasar sosiobiologi dengan beranjak dari kelemahan-kelemahan internal yang dimiliki sains itu sendiri.

***

Demikianlah, ilmuwan sosiobiologi berpendapat bahwa preokupasi utama para filsuf moral adalah mengkritisi prinsip-prinsip dasar tindakan moral manusia sambil terus merumuskan prinsip-prinsip etika yang semakin dapat dipertanggungjawabkan. Para filsuf moral sebenarnya tidak perlu membuang waktu dengan menjelaskan perilaku moral manusia, karena semuanya bisa dijelaskan secara saintifik. Para ilmuwan mengambil contoh perilaku altruis sebagai contoh. Di tangan para filsuf moral, perilaku altruis dilihat sebagai perilaku terpuji, karena seseorang mampu melampaui kepentingan dirinya demi mewujudkan suatu kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan yang jika diwujudkan akan membawa keuntungan bagi berbagai kepentingan yang lebih kecil.

Para ilmuwan sosiobiologi tidak setuju dengan penjelasan semacam ini. Bagi mereka, perilaku altruis dapat dijelaskan secara ilmiah dengan mengembalikannya kepada masalah genetis. Bagi para ilmuwan, secara genetis individu bersifat egois. Sifat egois ini diwariskan dari induknya. Dalam konteks evolusi—seleksi alam—yang lebih dibutuhkan atau yang lebih meningkatkan daya saing individu dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya adalah sifat egois. Lalu, bagaimana bisa menjelaskan sifat altruis yang de facto ditemukan dalam kehidupan sosial manusia maupun binatang? Bagi ilmuwan sosiobiologi, sifat altruis hanya akan menghancurkan atau memusnahkan baik individu maupun spesies. Memiliki sifat altruis sama saja dengan merisikokan diri dalam proses seleksi alam, dengan akibat individu mengurangi peluang untuk memenangi persaingan. Individu akan kalah dalam persaingan survival for the fittest. Bagi para ilmuwan sosiobiologi, sifat altruis hanyalah tameng belaka. Individu berpura-pura altruis hanya dengan tujuan yang sifatnya egois, yakni memperbesar peluang keberlangsungan hidup. Demikianlah, secara genetis manusia dan binatang sebenarnya bersifat egois. Sifat-sifat nonegoistik hanyalah cara menyesuaikan diri dengan lingkungan supaya bisa bertahan hidup dalam proses evolusi.

Di sinilah Peter Singer menemukan “pintu masuk” dalam membela etika sekaligus menegaskan pemikiran-pemikirannya. Bagi Peter Singer, pada awalnya manusia bukanlah makhluk yang egoistis. Manusia adalah makhluk yang altruis. Peter Singer justru melihat bahwa menjadi egois dalam proses seleksi alam justru akan menghancurkan dan memusnahkan manusia sendiri. Contoh dilema moral yang dihadapi Jill dan Jack dalam tesis ini sebagaimana dikemukakan Peter Singer jelas menunjukkan ketidakegoisan manusia demi mempertahankan hidupnya. Bahwa sifat altruis ada dalam gen manusia dan diwariskan kepada keturunan secara proporsional. Dengan demikian, kalaupun ada individu yang musnah karena bersifat altruis, pewarisan sifat altruis tidak akan pernah musnah. Saudara dalam keluarga inti, anak, kemenakan, atau keponakan akan melanjutkan pewarisan sifat altruis kepada generasi berikutnya.

Inilah alasan mengapa Peter Singer menolak berbagai bentuk egoisme. Pandangan dasarnya jelas, secara genetis makhluk hidup bersifat altruis. Jika sosiobiologi ditolak karena perbedaan ranah antara sains dan etika, berbagai bentuk egoisme ditolak karena tidak menggambarkan kenyataan genetis manusia itu sendiri. Manusia dan binatang berinteligensi tinggi mampu mempertahankan hidupnya dan tidak musnah dalam proses evolusi yang keras bukan karena sifat keegoisan manusi, tetapi karena sifat altruistisnya.

***

Tesis ini mencoba mendeskripsikan pemikiran Peter Singer mengenai peran nalar dalam memperluas lingkaran wilayah moral. Satu hal sangat nyata dalam pemikiran Peter Singer mengenai altruisme: manusia dan binatang mau merisikokan dirinya dengan berperilaku altruis karena pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Pertimbangan rasional yang paling sederhana dalam perilaku altruis adalah prinsip etika balas budi. Artinya, seseorang mau bersikap altruis karena orang lain telah melakukan hal yang sama kepada mereka. Atau, dia mau melakukannya dengan maksud supaya di kemudian hari orang lain pun melakukan hal yang sama. Manusia dan binatang juga mengembangkan prinsip hukuman atas mereka yang tidak membalas kebaikan orang lain.

Bagi Peter Singer, wilayah, lingkungan, atau habitat tempat tinggal manusia sebenarnya adalah wilayah-wilayah moral (moral sphere). Manusia tidak bisa melepaskan diri dari wilayah moral ini sama seperti dia tidak bisa melepaskan diri dari tuntutan etika persis ketika secara alamiah (genetis) manusia didorong untuk melakukan kebaikan. Dalam wilayah moral semacam ini manusia dituntut untuk selalu menjustifikasi tindakannya, dan dengan demikian merumuskan prinsip-prinsip dasar tindakannya, sesederhana apapun prinsip itu.

Wilayah moral yang paling sederhana memiliki lingkaran yang melingkupi hanya sebuah keluarga inti. Di situ altruisme dan sikap baik lainnya dipraktikkan sebagai perwujudan paling nyata dari altruisme marga (kin altruism). Altruisme marga ini akan diperluas hingga meliputi sebuah keluarga besar dari satu garis keturusan yang sama. Bagi Peter Singer, bahkan dalam lingkup yang paling sederhana ini, manusia tidak pernah bisa membebaskan diri dari tuntutan justifikasi tindakan moral. Artinya, manusia dihadapkan pada pertanyaan mengapa berperilaku dalam cara tertentu dan bukan dalam cara yang lain. Bagi Peter Singer, jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi landasan bagi tindakan moral selanjutnya. Jadi, kalau seseorang bersikap baik pada orang tuanya karena moral patient adalah orang tuanya, alasan ini cukup menjadi landasan bertindak dalam lingkaran wilayah moral ini. Bahwa anak harus berperilaku baik terhadap orang tuanya.

Desakan akan justifikasi tindakan moral dan dorongan semangat socratic dialogue akan “memaksa” seseorang untuk terus mempertanyakan prinsip-prinsip dasar tindakannya. Misalnya, mengapa saya harus berlaku baik tidak hanya kepada keluarga intiku, tetapi juga kepada anggota keluarga besar lainnya? Atau pertanyaan apakah saya bisa berbuat baik bagi orang lain di luar keluargaku atau margaku? Apakah saya bisa mengorbankan kepentingan margaku demi mewujudkan kepentingan orang di luar margaku?

Bagi Peter Singer, pertanyaan-pertanyaan semacam ini memiliki makna ganda, pertama mendesakkan terjadinya perluasan lingkaran wilayah moral, tetapi juga menunjukkan kemampuan nalar dalam mengekspansi moral patient. Dengan kata lain, bagi Peter Singer, tuntutan akan justifikasi tindakan moral yang selalu dihadapi manusia tidak hanya memaksa seseorang merumuskan prinsip-prinsip moralnya yang semakin melingkupi sebanyak mungkin orang, tetapi juga menunjukkan perkembangan nalar itu sendiri. Dari sini kita melihat bahwa lingkaran wilayah moral yang semula sangat kecil karena hanya melingkupi keluarga inti, perlahan-lahan meluas melingkupi anggota marga, anggota spesies, antarspesies, bahkan melingkupi seluruh makhluk hidup. Semuanya ini terjadi karena kemampuan nalar.

Tuntutan akan justifikasi tindakan moral yang “memaksa” nalar terus memikirkan prinsip-prinsip moral yang lebih rasional dan objektif akan sampai pada level di mana berbagai pertimbangan nalar bersifat imparsial dan objektif. Peter Singer melihat bahwa imparsialitas adalah tingkat tertinggi yang mampu dicapai nalar. Nalar yang imparsial inilah yang akan mempertimbangkan berbagai kepentingan secara setara dalam setiap sikap dan tindakan moral. Inilah lingkaran wilayah moral yang paling luas yang bisa dicapai nalar, yakni ketika setiap moral patient diikutsertakan kepentingannya dalam berbagai pertimbangan moral bukan karena hubungan genetis atau kesamaan spesies, tetapi karena kepentingan utilitaris tertentu yang ingin direalisasikan.

Yang kemudian menjadi bahan perdebatan adalah penegasan Peter Singer bahwa nalar yang imparsial secara niscaya mewujudkan kepentingan etika utilitarisme. Memang pertanyaan yang tidak mudah dijawab ketika seorang pelaku moral telah bersikap imparsial dalam setiap sikap dan tindakan moralnya adalah kepentingan moral patient mana yang akan diprioritaskan ketika seluruh kepentingan telah dipertimbangkan secara setara? Di sinilah Peter Singer berpendapat, bahwa etika utilitarisme memberikan jawaban yang paling bisa diandalkan. Bahwa setelah mempertimbangkan secara setara berbagai kepentingan yang terkena dampak tindakan moral, prioritas tindakan moral harus diberikan kepada tindakan moral yang mewujudkan kepentingan dan kebahagiaan terbesar orang. Sementara moral patient meliputi semua sentient being, karena kemampuan mereka dalam merasa sakit dan hasrat mereka untuk bebas dari rasa sakit (mewujudkan kebahagiaan).***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s