TANTANGAN MELAHIRKAN GENERASI UNGGUL

haringteaching1
Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya membebaskan diri dari kebodohan, tetapi membiarkan diri dibentuk secara moral.

Kemerosotan moral bangsa ini seakan tidak terbendung lagi. Korupsi tetap saja terjadi di tengah usaha gencar KPK memberantasnya. Ribuan masalah lainnya seperti jual beli perkara di pengadilan, penggelapan pajak, pungutan liar, rendahnya disiplin kerja pejabat publik, skandal seks, ikut menenggelamkan republik ini. Bagi mereka yang peduli pada pentingnya berperilaku moral dalam kehidupan bernegara, berbagai tindakan tidak bermoral ini seakan menjadi pertanda kehancuran bangsa.

Kita lalu bertanya, “Mengapa tindakan-tindakan tidak bermoral di negara kita justru dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai orang beragama, yang tahu patokan-patokan benar-salah secara moral?” Dari berbagai analisis dan kemungkinan jawaban yang bisa dikemukakan, salah satunya berhubungan dengan masalah pendidikan. Tesisnya berbunyi: pendidikan agama, pendidikan nilai, dan pendidikan moral tidak mengefek pada perilaku karena pendidikan di negara kita lebih menekankan aspek pengetahuan tanpa mempedulikan dimensi transformasi perilaku. Padahal generasi unggul hanya bisa dihasilkan oleh pendidikan yang memadukan secara jitu aspek pengetahuan (knowledge) dan aspek perubahan sikap (moral excellence).

Pendidikan adalah usaha yang secara sadar dilakukan dengan tujuan “mewariskan kepada generasi-generasi yang baru semua pengalaman peradaban yang dikembangkan oleh generasi-generasi yang dahulu” (Maurice Duverger, 1983: 333). Tujuannya tidak lain “to teach useful skills and to shape character, so that younger students may fit in with the economic needs and political common sense of the community” (Robert S. Brumbaugh dkk, 1963: 35). Jelas, pendidikan yang benar memperhatikan kedua aspek ini. Di satu pihak negara berhak merekayasa model pendidikan tertentu demi mencerdaskan bangsa sebagaimana dicita-citakan konstitusi. Sementara di lain pihak, setiap orang mengalami pengalaman pendidikan (individual experiences) sebagai proses pengentasan kebodohan dan keterbelakangan serta kesempatan membentuk karakter bermoral.

Peran Negara

Negara memainkan peran sentral mencerdaskan kehidupan bangsa melalui rekayasa sistem pendidikan tertentu. Sistem pendidikan nasional diterjemahkan secara bertanggung jawab dalam model kurikulum tertentu. Kalau diperhatikan, model kurikulum lahir dari upaya menyesuaikan tujuan ideal pendidikan dengan kebutuhan-kebutuhan nyata sehari-hari. Demikianlah, pendidikan dipraktikkan dalam kerangkan membudayakan individu (Francis Wahono, 2001: 4) di satu pihak dengan upaya menginjeksi nilai-nilai sosial, budaya, ideologi, agama serta keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk survival di lain pihak.

Pertanyaannya, rancangan pendidikan atau kurikulum seperti apa yang seharusnya didesain supaya kita bisa menghasilkan manusia yang unggul? Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang menjadi panduan pelaksanaan pendidikan nasional mencerminkan filsafat pendidikan tertentu yang sebetulnya mampu menghasilkan manusia unggul. Dengan menetapkan isi kurikulum pada tuntutan minimal (kompetensi dasar) dan memberikan ruang kepada setiap satuan pendidikan (sekolah) untuk mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan, KTSP mengafirmasi pandangan filsafat pendidikan yang memposisikan siswa sebagai shareholder. Lebih dari sekadar objek atau tujuan pendidikan, siswa dengan seluruh keunikan pengalamannya justru menjadi titik berangkat seluruh proses pendidikan. Bahwa pendidikan seharusnya dialami dalam sebuah komunitas tertentu dengan nilai-nilainya yang khas serta dialami sebagai pengalaman yang sangat personal.

Ada tiga hambatan bagi negara dalam “menciptakan” manusia unggul. Pertama, perubahan paradigma pendidikan sebagaimana ada dalam KTSP tidak diikuti dengan peralihan dari paradigma lama ke paradigma baru. Masih banyak guru yang gagap melaksanakan KTSP persis ketika paradigma lama memposisikan guru sebagai “yang paling tahu” vis a vis siswa sebagai objek yang harus menerima instruksi dan pengajaran dirasakan jauh lebih enak dan mapan daripada menempatkan diri sebagai mitra dan teman dialog siswa (paradigma baru). Itu artinya hambatan “mencetak” manusia unggul ada pada guru sendiri.

Kedua, dalam konteks krisis moral yang sedang melanda negara kita, praktik pendidikan selama ini belum bersifat transformatif dan membebaskan. Praktik pendidikan di negara ini umumnya terbatas pada reproducing knowledge dan bukan pada having knowledge as a tool for civilizing the world and the self. Bahwa praktik kehidupan bernegara yang tidak bermoral mulai dari pencurian kecil-kecilan, pembunuhan sampai kepada “pencurian” uang negara (baca: korupsi) untuk sebagiannya mau tidak mau dikembalikan kepada kegagalan pendidikan. Dan bahwa dalam pendidikan anak-anak dibanjiri oleh berbagai macam informasi (knowledge) yang tidak mampu membentuk karakter atau kepribadian mereka.

Ketiga, mengutip apa yang dikatakan Maurice Duverger, ada keprihatinan lain yang jauh lebih serius, yakni pentingnya peran negara dalam menyelenggarakan pendidikan demi suksesnya pewarisan pengalaman peradaban kepada generasi muda. Peranan negara memang menjadi faktor penting dalam pewarisan pengalaman peradaban karena adanya keanekaragaman pengalaman peradaban itu sendiri dalam sebuah negara. Bahwa dalam memainkan peran ini negara menawarkan semacam kerangka yang kepadanya segala pengalaman peradaban ditempatkan atau dikerangkakan. Dan bahwa penentuan kerangka umum tersebut terkait erat dengan rekayasa di bidang pendidikan berdasarkan nilai-nilai hidup bersama yang telah disepakati untuk dijadikan sebagai acuan hidup bersama.

Persoalannya bukan apakah kita memiliki pengalaman peradaban atau tidak, tetapi pengalaman peradaban manakah—terutama dalam konteks kehidupan sebagai bangsa selama masa orde baru, lalu orde reformasi—yang hendak kita wariskan kepada generasi muda? Tidak diragukan lagi, kita memiliki peradaban yang bernilai tinggi bahkan sejak zaman pra sejarah; dan ini dapat kita buktikan melalui hasil-hasil kebudayaan material serta nilai-nilai yang diwariskan kepada kita dan yang mendasari kehidupan sosial kita. Yang diragukan adalah apakah betul bahwa kita sekarang ini sungguh-sungguh memiliki pengalaman peradaban? Manakah yang disebut pengalaman peradaban ketika kita masih mementingkan kepentingan kita sendiri? Manakah yang disebut pengalaman peradaban ketika kita masih berpikir secara sektoral, berjuang untuk menegakkan sesuatu yang menjadi kepentingan kelompok kita saja dan bukan seluruh masyarakat? Apakah kita punya pengalaman peradaban berhadapan dengan pelanggaran hak asasi manusia, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan, penolakan untuk diaudit kekayaan pribadinya, membenci dan memerangi kelompok lain, memusuhi suku atau daerah lain? Apakah ada pengalaman peradaban di hadapan ketidakjelasan hukum atau pribadi penegak hukum yang mengkhianati profesinya? Sulit menghasilkan manusia unggul tanpa dukungan pengalaman peradaban yang juga unggul (excellent culture).

Tugas Individu

Kembali ke pertanyaan awal, kemerosotan moral terjadi tidak hanya karena negara gagal melaksanakan pendidikan yang membebaskan (transformatif) dan membudayakan. Kualitas moral individu turut menjadi alasan kemerosotan moral bangsa.

Pendidikan tidak hanya membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kebodohan. Pendidikan juga memampukan manusia merencanakan hidup dan menyiasati perilakunya secara rasional. Pendidikan mampu meningkatkan rasionalitas dan inteligensi manusia. Itulah sebabnya mengapa semakin tinggi pendidikan semakin memampukan seseorang mengetahui yang baik dan buruk, benar dan salah, objektif dan subjektif, dan seterusnya.

Berguru pada filsafat pendidikan Plato, pendidikan seharusnya memampukan individu “to lead an intelligent life in which he does not allow his desire for fame or fortune to run beyond all limits, creating inevitable unhappiness” (Robert S. Brumbaugh dkk, 1963: 36). Rasio yang telah dibentuk melalui pendidikan dan yang semakin matang akan mengendalikan perilaku sebegitu rupa sehingga individu sanggup menghindari perilaku-perilaku tak bermoral yang hanya akan menyebabkan ketidakbahagiaan.

Masalahnya, tidak setiap orang—termasuk yang sudah berpendidikan—membiarkan sebagian atau seluruh hidupnya dibimbing oleh rasionya. Di sinilah terletak tantangan melahirkan generasi unggul: pendidikan seharusnya juga mempengaruhi individu supaya tidak hanya tahu yang baik dan buruk secara moral (intelligent life), tetapi juga memiliki kehendak yang kuat (will) untuk selalu hidup menurut patokan-patokan moral. Dalam arti itu, pendidikan yang sanggup melahirkan generasi unggul adalah pendidikan yang juga sanggup memperkuat kehendak supaya setiap orang yang tahu kebaikan moral benar-benar mau hidup sesuai pengetahuannya tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s