TIGA FONDASI MERAIH KESEJAHTERAAN

quantum-assets-1Judul Buku: Quantum Asset. Mengembangkan Trilogi Asset Mencapai Hidup yang Berkualitas

Penulis: F.X. Harry Cahya

Halaman: 250 halaman

Penerbit: Kanisius, Yogyakarta, 2008

Apa yang ingin disampaikan F.X. Harry Cahya ketika menulis buku Quantum Asset ini? Dua kata kunci dari judul buku ini bisa memberi gambaran. Kuantum dalam Ilmu Fisika adalah bagian terkecil dari gelombang elektromagnetik yang tidak bisa dibagi lagi. Meskipun memiliki sifat nirmassa (foton), kuantum mampu menghasilkan cahaya ketika suatu massa dalam kuantitas tertentu mengalami pemanasan. Dari sisi ini Harry Cahya menggunakan kata kuantum dalam arti populer sebagaimana umumnya dipakai dalam filsafat manajemen yang memotret kesuksesan sebagai kerja sama dinamis antarbagian atau unit terkecil demi mencapai suatu hasil tertentu.

Dalam pemahaman Harry Cahya, unit-unit terkecil (kuantum) ini adalah “kekayaan” (asset) yang kalau disinergikan akan menghasilkan tidak hanya energi maha dasyat, tetapi juga kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Penulis buku ini menawarkan tiga aset penting yang harus bersinergi demi mencapai kesejahteraan, yakni aset diri, aset jaringn, dan aset ekonomi.

Bagaimana seseorang mengelola aset diri demi mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya? Aset diri adalah seluruh kekayaan, potensi, dan talenta yang dimiliki seseorang (hlm 41). Menurut Harry Cahya, aset diri dapat menjadi kekayaan untuk mencapai kesejahteraan jika dipahami sebagai nilai, martabat, dan talenta (hlm 45). Diri dengan seluruh kemampuan dan keterbatasannya adalah nilai pada dirinya, karena itu bermartabat mulia sebagai ciptaan Tuhan. Manusia sekaligus dianugerahi talenta tertentu untuk membangun dunia dan merealisasikan diri demi mewujudkan kesejahteraannya. Karena itu, sikap yang benar terhadap aset diri bukan memperalatnya hanya demi kenikmatan sesaat, tetapi mewujudkan seluruh potensi dan talenta yang ada demi kebahagiaan yang lebih mulia dan abadi.

Bagi Harry Cahya, realisasi seluruh potensi dan talenta diri hanya mungkin jika orang memiliki citra diri yang unggul (hlm 52-57) serta mengenal dengan baik potensi-potensi dirinya (hlm 58-61). Pengenalan akan potensi diri inilah yang pada gilirannya melahirkan semangat (antusiasme) untuk mewujudkan hal terbaik dalam diri (hlm 59) sekaligus menjadi kritik diri dalam menilai dan memperbaiki kelemahan-kelemahan diri. Tentu penulis buku ini benar ketika mengatakan bahwa realisasi seluruh potensi diri dapat diefektifkan melalui merumuskan visi dan misi pribadi (hlm 62-70). Tetapi yang lebih penting dari itu adalah tekad untuk mewujudkan potensi diri tersebut, sehingga apa yang telah dicita-citakan tidak tinggal sebagai angan-angan belaka. Harry Cahya memaknakan hal terakhir ini sebagai “konsistensi” (hlm 71-72).

Cita-cita diri untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraannya tidak mungkin terjadi dalam ruang vakum. Sebagai makhluk sosial, cita-cita kesejahteraan direalisasikan dalam dunia bersama orang lain. Itulah pentingnya relasi atau hubungan sosial sebagai aset jaringan. Tidak bisa dihindari, konsep aset jaringan dalam buku ini (hlm 72-104) sangat kental dengan gagasan network marketing yang cukup dikuasai penulisnya. Bahwa seseorang akan lebih mudah merealisasikan potensi dirinya secara maksimal kalau pada saat bersamaan dia juga memperluas jaringannya (network).

Penulis buku ini cukup detail menjelaskan teknik-teknik memperluas jaringan, bahkan mencapai jumlah yang tak terhingga. Lebih teknis lagi, Harry Cahya bahkan menekankan perlunya target dalam memperluas jaringan, misalnya lima orang dalam sehari, serta kemampuan mengklasifikasi mitra dalam jaringan sesuai kelas dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan mereka. Karena itu, realisasi potensi diri yang menjadi bab pembuka buku ini seharusnya dibaca sebagai kemampuan memahami potensi bisnis dalam diri sebegitu rupa dan merealisasikannya demi melayani kebutuhan-kebutuhan mitra (teman-teman dalam jaringan) melalui menyediakan dan menyuplai barang dan jasa yang mereka butuhkan.

Bagaimana dengan aset ekonomi? Bagi penulis buku ini, realisasi maksimal dari aset diri (potensi bisnis) dan aset jaringan akan mewujudkan aset ekonomi. Betapa tidak! Seseorang yang memiliki potensi pemasar (marketer), misalnya, akan berusaha mewujudkan potensi bisnisnya demi meraih angka penjualan tertinggi melalui melayani kebutuhan-kebutuhan mitra dalam jaringan bisnis yang sudah dibangunnya, tentu dengan catatan jaringan tersebut dipelihara, dipertahankan, dan diperluas.

Harry Cahya menyadarkan pembacanya bahwa aset ekonomi memang pertama-tama adalah kekayaan dan keuntungan (material) yang bisa diraih seseorang yang mampu merealisasikan potensi bisnis dalam dirinya bersama-sama dengan para mitranya dalam jaringan yang telah dibentuknya. Tetapi lebih dari itu, penulis buku ini juga mengingatkan agar pengenalan akan potensi diri (potensi bisnis) serta kemampuan membangun jaringan harus sampai pada pengenalan diri, apakah seseorang hanyalah pekerja (employee), menjalankan usaha sendiri (sef-employed), pemilik usaha (business owner), atau investor? (hlm 112). Penulis buku ini sangat yakin, bahwa realisasi maksimal dari seluruh potensi bisnis dalam diri melalui jaringan yang semakin luas tidak hanya menghasilkan aset ekonomi dalam jumlah besar, tetapi juga memampukan seseorang beranjak dari level pekerja (employee) kepada menjadi investor. Jelas, salah satu tujuan buku ini adalah menginspirasi pembaca untuk menjadi investor-investor baru.

Lalu, apa itu kesejahteraan? Mengikuti logika buku ini, kesejahteraan yang diuraikan dalam bab lima merupakan deskripsi tercapainya hubungan dinamis antara aset diri, aset jaringan, dan aset ekonomi. Penulis buku ini sebenarnya cukup berhasil menunjukkan keadaan sejahtera tersebut. Meskipun demikian, mengekstensi penjelasan kesejahteraan meliputi area kesejahteraan fisik, finansial, keluarga, spiritual, sosial, dan mental (hlm 124-131) menyebabkan uraian menjadi terlalu panjang sehingga kehilangan fokus. Sementara itu, mendeskripsikan kesejahteraan bangsa (hlm 132-134) sebagai bagian dari perwujudan Quantum Asset terlalu berlebihan dan dipaksakan. Sementara itu, tema-tema lain yang dibahas dalam buku ini (perjalanan sukses di bab 6, paradigma dan prinsip sukses di bab 7, pilihan di bab 8, perubahan di bab 9, enterpreneurship di bab 10, dan pencerahan di bab 11) tidak terlalu relevan dengan Quantum Asset. Usul saya, tema-tema ini dapat diterbitkan menjadi buku tersendiri.

Sekadar koreksi kecil, karena ada tiga aset yang dibahas maka judul buku ini seharusnya Quantum Assets (bentuk plural karena menjelaskan tiga aset manusia). Untuk konsistensi, aset diri, aset jaringan, dan aset ekonomi yang dibahas dalam buku ini jelas konsep dalam Bahasa Indonesia. Karena itu, kata aset harus ditulis satu “s”.

Bagaiamanapun, buku ini sangat inspiratif, terutama bagi mereka yang ingin terjun dalam dunia bisnis tetapi masih ragu-ragu dengan potensi dirinya. Paling tidak secara konseptual buku ini sudah mampu membuktikan bahwa mengembangkan bisnis itu tidak sulit. Tinggal sekarang bagaimana keberanian setiap orang memutuskan untuk mengembangkan seluruh potensi bisnis dalam dirinya dengan segala risikonya. Inilah hal tersulit yang harus dihadapi setelah membaca buku ini.

3 pemikiran pada “TIGA FONDASI MERAIH KESEJAHTERAAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s