GAGAL MENJADI BANGSA YANG MERDEKA

Seabad sebelum meletusnya revolusi Prancis, Marquis de Chastellux, melalui bukunya Essay Concerning Human Happines, menegaskan bahwa “The first object of all government should be to render the people happy” (dikutip dari Geoffrey Scare, Utilitarianism, 1996: 50). Bagi Chastellux, pemerintahan yang sedang berlangsung di Prancis waktu itu jelas bukanlah pemerintahan yang mewujudkan kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Kekuasaan yang sifatnya feudal yang memosisikan raja sebagai penguasa dominant tanpa pengakuan atas hak-hak politik dan ekonomi rakyat mustahil melahirkan kemakmuran. Bagi Chastellux, apa yang terjadi di Prancis menjelang revolusi adalah “sebuah sejarah ketidakbahagiaan” (Geoffrey Scare, 1996: 51).

Potret sejara buram yang penuh derita dan ketidakbahagiaan juga disodorkan Claude Helvetius. Mengusung prinsip utilitarisme yang mengatakan bahwa inti dari setiap tindakan moral—termasuk tindakan politik—adalah mewujudkan the greatest happines for the greatest number, Helvetius berpendapat bahwa pemerintahan di Prancis di masa ancient regime gagal karena dua alasan. Pertama, tidak adanya undang-undang yang mengatur dan menjamin hak-hak individu. Penguasa memerintah dengan sewenang-wenang. Kelompok kecil masyarakat menjadi sangat kaya karena menikmatan hak-hak istimewa tertentu, sementara sebagian besar masyarakat berada dalam penderitaan. Hak-hak individu tidak diakui dan hak miliki tidak dihormati ketika pemerintah dapat merampas dan menguasai tanah rakyat secara sewenang-wenang.

Dengan ini Helvetius sekaligus ingin menegaskan bahwa kemakmuran atau kesejahteraan masyarakat dapat dicapai kalau ada undang-undang atau hukum yang menjamin hak-hak politik dan ekonomi rakyat. Hak miliklah yang paling tidak dihormati selama masa feodal di Prancis. Menyadari hal ini, Helvetius menegaskan pentingnya undang-undang yang mengakui hak milik warga. Ini penting supaya masyarakat dapat melakukan berbagai kegiatan ekonomi demi mewujudkan kesejahteraannya.

Kedua, terbatasnya lapangan pekerjaan (ibid, hlm. 51). Bagi Helvetius, masyarakat tidak dapat melakukan kegiatan ekonomi bukan saja karena tidak diakuinya hak milik pribadi, tetapi juga terbatasnya lapangan pekerjaan. Padahal, dengan bekerja manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Keadaan yang bahagia dan sejahtera berhubungan dengan kondisi di mana masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidup minimumnya.

***

Sudah lebih dari dua ratus tahun Chastellux dan Helvetius menulis pemikiran politik mereka, tetapi tetap relevan untuk menjelaskan keadaan politik dan kehidupan berbangsa kita saat ini. Di depan sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno menegaskan bahwa kesejahteraan rakyat hanya dapat dicapai kalau Indonesia mencapai kemerdekaannya. Kemerdekaan bagi presiden pertama RI ini adalah jembatan emas menggapai masyarakat yang adil dan makmur, tentu saja sejauh kemerdekaan diisi dengan kegiatan pembangunan di segala bidang kehidupan. Ini juga yang menjadi cita-cita negara sebagaimana dituangkan dalam pembukaan UUD 1945.

Setelah lebih dari enam puluh tahun merdeka, apakah masyarakat Indonesia menjadi lebih makmur, sejahtera, dan bahagia sekarang? Pertanyaan ini muncul dan kembali mengusik kesadaran kita ketika keadaan hidup tidak menjadi lebih baik menjelang satu dekade usia reformasi. Apa yang salah dengan bangsa ini sehingga kesejahteraan dan kemakmuran seakan sulit menghampiri kita? Mengapa seribu satu derita dan air mata yang rutin “melawat” kita, mulai dari bencana alam, terorisme, kerusuhan etnis dan agama, sampai teror flu burung?

Orang yang tidak sabar dalam berefleksi akan mengatakan bahwa inilah ujian yang sedang ditimpakan Tuhan kepada manusia. Bahwa Tuhan sedang menguji umat-Nya, dan bahwa kemampuan menghadapi segala ujian dan cobaan akan membawa bangsa Indonesia menyongsong hari baru yang lebih gemilang. Meski menarik, pemikiran semacam ini tidak lebih dari sebuah eskapisme murahan.

Kesulitan hidup yang terus menghimpit memaksa kita untuk berimajinasi dan mencoba menemukan jawaban-jawaban tuntas sekaligus memuaskan. Chastellux dan Helvetius sudah membantu kita mengidentifikasi sebagian masalah yang kita hadapi. Sebenarnya kita lebih beruntung dari Chastellux dan Helvetius, karena kita memiliki ribuan produk hukum yang menjamin hak-hak politik dan ekonomi warga negara. Tapi yang terjadi di republik ini adalah pelanggaran dan pelecehan hukum secara nyata.

Lihatlah betapa para pemimpin bangsa ini lebih memilih bertindak secara formal-legal daripada menjunjung tinggi perasaan keadilan rakyatnya. Berbagai contoh bisa diberikan. Pembayaran uang konsultasi bagi anggota DPR berdasarkan amanat PP No. 37/2006—sekarang sedang ditinjau ulang—tentu merupakan praktik politik yang tidak salah secara hukum, karena ada landasan yuridisnya. Tetapi praktik semacam ini pasti melukai perasaan keadilan rakyat yang sehari-hari berjuang untuk mempertahankan hidup pada tingkat paling minimal. Atau, izin membangun dengan mudah diberikan kepada developer tertentu yang mampu membayar sejumlah uang pelicin. Padahal pembangunan yang dilaksanakan justru merusak lingkungan dan membahayakan kehidupan. Belum lagi praktik-praktik KKN lainnya yang berlindung dibalik asas legalitas suatu hukum.

Kalau sudah begini apa mau dikata? Yang kita saksikan sejak kemerdekaan RI adalah pergantian rezim kekuasaan ibarat peralihan dari satu episode derita ke episode derita lainnya. Mungkin apa yang dilihat Chastellux dan Helvetius di Prancis tepat memotret keadaan kita sekarang. Sejarah bangsa kita ternyata “a history of unhappiness.” Kalau kita jeli membaca sejarah, maka sejarah ketidakbahagiaan ini bukan disebabkan oleh exercise of power tanpa batasan hukum. Yang terjadi adalah exercise of power yang bersifat formal-legal—karena berdasarkan aturan dan norma hukum yang berlaku—tetapi yang memiliki celah untuk dapat dilanggar dan dilecehkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s