SAATNYA GURU JADI PENELITI

Judul: Action Research. Riset Tindakan untuk Pendidik

Penulis: Paul Suparno

Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta: 2008

Tebal: ix + 128 halaman

Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, keinginan menjadi guru terus meningkat belakangan ini. Tidak bisa dipungkiri, meningkatnya APBN untuk pendidikan menjadi salah satu daya tariknya. Bayangan guru seperti sosok “Umar Bakri” dalam lagu Iwan Fals sepertinya sirna, terutama di kota-kota besar di mana tunjangan profesi guru sama besar dengan take home pay yang diterima guru setiap bulan.

Tentu ini hal yang positif dan menggembirakan. Pertanyaannya adalah bagaimana menjadi guru yang ideal, yang tidak hanya mampu mendidik, membimbing, dan mengarahkan peserta didik, tetapi juga memajukan dunia pendidikan sekaligus? Pertanyaan ini menegaskan pendirian bahwa guru yang ideal tidak sekadar memiliki kemampuan mengajar yang mumpuni atau integritas diri yang sanggup mengubah perilaku. Guru yang ideal harus mampu juga memajukan dunia pendidikan itu sendiri. Bagaimana caranya?

Jerome Freiberg dan Amy Driscoll dalam buku berjudul Universal Teching Strategies (2000) berpendapat bahwa dari banyak jawaban terhadap pertanyaan itu, guru yang ideal juga harus mampu melakukan penelitian tindakan (action research) terhadap proses pembelajaran yang dia lakukan. Sebagai seorang sarjana kependidikan, guru pasti memiliki segudang ilmu mengenai metode pengajaran, teknik mengendalikan kelas, teknik evaluasi, dan sebagainya. Tetapi apakah guru juga memiliki kemampuan melakukan penelitian tindakan?

Di tengah terbatasnya literatur mengenai penelitian tindakan, Dr. Paul Suparno dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menerbitkan sebuah buku kecil berjudul Riset Tindakan untuk Pendidik. Meskipun masih jauh dari memadai, buku kecil ini dapat menjadi wacana pendahuluan dalam memahami dan melaksanakan riset atau penelitian tindakan (action research). Ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana tanpa catatan kaki, buku ini seharusnya menjadi salah satu rujukan yang wajib dibaca setiap guru.

Menurut Paul Suparno, riset atau penelitian tindakan adalah “riset yang dilakukan oleh seseorang yang sedang praktik dalam suatu pekerjaan, untuk digunakan dalam pekerjaan itu sendiri” (hlm. 5). Jadi, per definisi penelitian tindakan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam profesi apapun. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengembangkan pekerjaan itu sendiri demi mencapai hasil yang lebih maksimal.

Penelitian tindakan bergerak dalam tiga aras penting sekaligus menegaskan bahwa setiap orang bisa melakukan jenis penelitian ini (hlm.6-16). Pertama, pada dasarnya setiap individu ingin menegaskan eksistensinya. Manusia melakukan hal ini melalui upaya mendefinisikan diri, siapakah aku, apa yang aku kerjakan, mengapa aku memilih melakukan jenis pekerjaan tertentu, apa makna profesi yang sedang aku lakukan bagi hidupku sebagai individu, dan sebagainya. Inilah aras ontologis yang mendesakkan pertanyaan-pertanyaan reflektif-filosofis yang harus dijawab setiap orang.

Kedua, setiap orang, apapun juga profesinya, perlu terus mengembangkan diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan agar bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik dan efisien. Inilah alasan epistemologis dari sebuah penelitian tindakan, bahwa dengan meneliti dan mengevaluasi secara berkala pekerjaan yang sedang dijalankan, seseorang mampu menangkap kekuatan dan kelemahannya, sekaligus merencanakan tindakan yang lebih tepat ke depan. Untuk bisa melakukan penelitian tindakan, seseorang harus mengetahui dan mampu mengoperasikan metode penelitian tertentu. Inilah aras ketiga (metodologi) dalam sebuah penelitian tindakan.

Ketiga aras inilah—ontologis, epistemologis, dan metodologis—yang menjadi semacam dasar atau pilar dalam setiap penelitian tindakan. Buku kecil ini tidak menjelaskan lebih lanjut landasan ontologis dan epistemologis dari penelitian tindakan karena memang tidak relevan dengan tema yang hendak dikembangkan. Buku ini selanjutnya menjelaskan mengenai tujuan, jenis, sifat dan kegunaan riset tindakan (bab 2), proses melakukan riset tindakan (bab 3), contoh dan persoalan riset tindak (bab 4), serta membuat laporan dan menyajikan hasil riset (bab 5). Untuk mendorong dan membesarkan hati guru supaya menjadi peneliti di tempat kerjanya masing-masing, Paul Suparno menutup buku ini dengan usaha mendorong guru menjadi peneliti (bab 5).

Sebagai seorang pendidik dan pemikir pendidikan, mantan rektor Universitas Sanata Dharma ini mencoba memanfaatkan riset tindakan untuk diterapkan dalam dunia pendidikan. Ini karena Paul Suparno menyadari betul, bahwa kebobrokan pendidikan di Indonesia hanya bisa diatasi jika para guru sendiri mau menjadi pembaru yang memprakarsai perubahan. Karena perubahan harus terjadi secara sengaja, terencana, dan metodologis, penelitian tindakan diharapkan mampu memicu perubahan tersebut (hlm. 17). Ada berbagai jenis riset tindakan yang dapat dipilih guru sesuai dengan minatnya, misalnya riset tindakan kritis, riset tindakan praktis, riset tindakan individual, kelompok, atau bahkan riset tindakan gabungan (hlm. 18-20). Yang jelas, manfaat yang dihasilkan dari jenis penelitian ini akan sangat besar dalam memajukan pendidikan, pertama-tama di lingkungan tempat riset itu diadakan, tetapi kemudian juga bermanfaat bagi kemajuan pendidikan nasional itu sendiri.

Buku ini sangat mudah dipahami dan praktis. Tidak ada alasan bagi guru yang sibuk untuk tidak membaca atau melakukan penelitian tindakan. Bagi rekan-rekan guru atau dosen yang sudah membaca dan memahami buku ini tetapi belum mau melakukan penellitian tindakan, mungkin baik kalau menyimak sekali lagi nasihat-nasihat yang ditulis Paul Suparno di bab enam buku ini. Setelah membaca buku ini, tantangan yang dihadapi para guru dan dosen mungkin bukan pada ketidakmampuan memahami isi buku, tetapi pada keberanian untuk mulai meneliti. Tetapi hanya dengan tekad dan idealisme untuk memajukan pendidikan di republik ini, hambatan dari dalam diri (hlm. 117-118) dan dari masyarakat (118-119) dapat diatasi.

Buku kecil ini layak disambut sebagai sumbangan pemikiran yang sangat berharga sekaligus memicu guru dan dosen untuk menjadi pengajar yang baik sekaligus peneliti yang andal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s