CARA ASIA MENGUASAI DUNIA

Judul: Asia Menguasai Dunia

Penulis: Stewart Gordon

Penerbit: Ufuk Press, Jakarta

Tahun: 2008

Tebal: vii + 298 halaman

Selama seribu tahun Eropa berada dalam zaman kegelapan, terhitung sejak jatuhnya Kekaiseran Romawi sampai terbitnya zaman fajar budi (aufklarung) dan renaisans (300 – 1300 M). Perdagangan lumpuh, sementara ilmu pengetahun tidak mengalami perkembangan berarti. Bahkan ketika Gereja Katolik “menguasai” hampir seluruh sendi kehidupan orang Eropa selama abad pertengahan pun ilmu pengetahuan tidak mengalami perkembangan karena disubordinasikan sebagai hamba teologi.

Eropa Barat boleh saja jatuh ke dalam zaman kegelapan, tetapi tidak demikian hnya dengan Timur Tengah dan Asia. Daerah yang terbentang luas dari Sumatera sampai Arab hingga Afrika Utata terus ke Spanyol atau dari Cina sampai India justeru sedang mengalami kemajuan pesat dalam bidang perdagangan, diplomasi, agama, dan ilmu pengetahuan selama masa itu. Di akhir tahun 2007, Stewart Gordon, peneliti senior studi-studi Asia di Universitas Michigan (AS), menulis sebuah buku berjudul When Asia was the World. Buku telah banyak diresensi dan dikomentari di luar negeri ini memberikan gambaran yang berbeda mengeni Asia dan kemajuan peradabanny.

Sebagai seorang peneliti senior, Stewart Gordon sangat menguasai sejarah dan kebudayaan Asia. Catatan kaki dan catatan akhir dalam buku ini menegaskan kepakaran Stewart Gordon. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah kemampuannya menuangkan gasannya, sehingga membaca buku initerasa membaca sebuah novel. Mungkin masih bisa diperdebatkan apakah judul

Asia Menguasai Dunia menerjemahkan judul asli buku ini. Tetapi, keputusan Penerbit Ufuk menerjemahkan dan menerbitkan buku ini justeru harus dipuji. Bagaiman Stewart Gordon bisa membuktikan bahwa dunia selma kurun waktu 500 – 1500 M “dikuasai” orang Asia?

Pelaku Sejarah Berbicara

Buku ini terdiri dari sepuluh bab yang disusun sebegitu rupa sehingga koherensinya tidak hanya bersifat kronologis, tetapi juga menunjukkan evolusi perkembangan agama, budaya, ekonomi, dan politik di Asia. Kelihaian Gordon adalah mengangkat tokoh historis tertentu dan mengeksplorasinya sebegitu rupa sehingga biografi tokoh tersebut menjadi narasi atas keadaan agama, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan politik pada zamannya. Demikianlah, berturut-turut Gordon menonjolkan peran Xuanzang, biarawan Budha dari Cina (bab 1), Ibnu Faldan, utusan dari Baghdad (bab 2), Ibnu Sina, filsuf dan apakar pengobatan dari Persia (bab 3)m Fa Xian, sang peziarah dari Cina (bab 4), Abraham bin Yiju, sang pedagang Yahudi di India (bab 5), Ibnu Batuta, diplomat kekaiseran Islam dari Maroko (bab 6), Ma Huan, sang penerjemah dokumen asing dari Cina (bab 7), Babur, keturunan Jengis Khan yang tidak sehebat ayahnya (bab 8), dan Tome Pires, sang apoteker Portugis (bab 9). Bab terakhir merupakan rangkuman dan refleksi Gordon atas fakta-fakta historis yang sudah dibeberkannya.

Bab satu mengisahkan perjalanan Xuanzang, biarawan Budha dari Cina yang mengadakan perjalanan dari Cina menuju India karena Dinasti Tang yang sedang berkuasa tidak melindungi para biarawan Budha. Perjalanan itu sendiri sangat berat, karena harus melewati gurun pasir yang luas membentang, jarak yang sangat jauh, musim dingin yang menggigit, dan air yang sulit diperoleh (hlm 13). Tetapi bagi Xuanzang, perjalanan itu sendiri adalah sebuah ziarah budhisme, “perjuangan” mengalahkan nafsu dan keinginannya, ziarah jiwa dalam proses pembebasan menuju nirwana. Perjalanan Xuanzang mengungkapkan bahwa Budhisme tidak saja berkembang luas dari India sampai Cina, tetapi kenyaan bahwa agama-agama lain seperti Taoisme, Konfusianisme, Zoroastrianisme, dan Brahmanisme sedang bersaing dengan Budhisme demi eksistensi masing-masing. Stewart Gordon ingin menggarisbawahi pengalaman Xuanzang, bahwa persaingan antaragama di Asia adalah fenomena yang wajar (hlm 27), karena tidak harus saling mengalahkan atau melenyapkan.

Bab dua mengangkat kisah perjalan Ibn Fadlan dari Baghdad ke Almis (Rusia). Melalui perjalanan ini Gordon ingin menunjukkan betapa agama dan kebudayaan Islam telah berkembang luas sepanjang jalur yang dilalui Ibn Fadlan. Islam diterima luas karena tidak mengenal sistem kasta (hlm. 30). Penyebaran Islam tidak boleh dipaksakan jika ada raja dan masyarakat daerah tertentu belum bersedia menerima Islam. Pedagang Muslim tahu cara menyebarkan agamanya, yakni melalui hubungan kekerabatan lintas suku. Karena itu, yang dijumpai Ibn Fadlan di sepanjang perjalanannya adalah komunitas Muslim yang heterogen, karena terdiri dari pedagang Arab dan para mualaf lokal, yakni tuan tanah, penjaga toko, pengrajin, buruh, dan sebagainya (hlm. 37, 51-55).

Bab tiga menampilkan otobiografi Ibn Sina, filsuf dan pakar pengobatan dari Persia. Kisah ini memberi gambaran kepada kita jaringan kecendekiawanan selama masa kejayaan Dinasti Abbasiyah. Selama tahun 1020 – 1036, dinasti ini memulai proyek penerjemahan teks-teks berbahasa Yunani dan Latin ke Bahasa Arab, antara lain teks-teks filsafat, matematika, dan kedokteran (hlm. 58). Pada masa ini ilmu pengetahuan di Asia berkembang pesat, terutama matematika (mulai dikenalnya angka nol dan algoritma). Juga berkembang navigasi dan pemakaian kertas (hlm. 59-62).

Otobiografi Ibn Sina tidak hanya menunjukkan jejaring intelektual dengan Baghdad sebagai pusat ilmu, tetapi juga dialektika pemikiran Islam yang berbasis Alquran dengan filsafat pengetahuan, filsafat ketuhanan, dan metafisika Aristoteles (hlm. 70-73). Harus diakui, pemikiran filsuf yang di Eropa dikenal sebagai Avicenna ini memengaruhi pemikiran Albertus Agung, Thomas Aquinas, Roger Bacon, Adelard, dan sebagainya (hlm. 79-83). Itulah cara Asia “menaklukkan” dunia di bidang ilmu pengetahuan.

Melalui perjalanan Fa Xian dari Cina ke India (bab 4), kita memahami tidak hanya penyebaran agama Budha dan inkulturasinya dengan budaya lokal (hlm. 89), tetapi juga persebaran produk-produk Asia seperti keramik, kain sutra, barang-barang dari timah, dan sebagainya. Kesaksian Fa Xian menegaskan betapa ramainya perdagangan internasional di Asia di abad 10-13 M.

Sepak terjang dan kiprah Abraham bin Yiju di Mangalore (tepi barat India) menarik untuk diikuti (bab 5). Pedagang Yahudi ini menguasai jalur perdagangan yang membentang dari India sampai Cairo selama tahun 1120-1160 M. Yang hendak ditunjukkan Stewart Gordon adalah heterogenitas kota-kota metropolitan di Asia selama periode ini (hlm. 94-95; 112) serta etika bisnis berdasarkan prinsip saling percaya (hlm. 103). Siapa pun pedagang yang berlaku curang dan merugikan pedagang lain akan diperkarakan dan dipenjara (hlm. 110).

Kisah perjalanan Ibn Batutah di abad ke-14 M menegaskan bahwa para peziarah atau utusan memegang peranan penting dalam menghubungkan kota-kota metropolitan seperti Delhi, Damaskus, Mekah, dan Kairo (bab 6). Kisah perjalanan Ibn Batutah juga menegaskan bagaimana negara-negara menerapkan hukum islam, perpajakan, fiqih, dan sebagainya. Ibn Batutah sungguh memainkan peran sebagai duta yang menyatukan bangsa-bangsa melalui praktik diplomasi normal, seperti pemberian hadiah kepada penguasa setempat, nasihat berdasarkan informasi dan pengalamannya ketika mengunjungi negara lain, bahkan menginvensi simbol-simbol kekuasaan tanpa menjadi ancaman bagi negara yang dikunjunginya (hlm. 151).

Memoar Ma Huan, seorang pejabat rendahan beragama Muslim dari Cina (hlm. 7) sedikit memberikan gambaran kekuasaan Dinasti Ming. Berkat catatan Ma Huan, kita mengetahui adanya komunitas etnis Cina yang sudah lama bermukim di Jawa, bahwa di pelabuhan Majapahit hidup pada pedagang Arab, Cina, India, Persia, dan pedagang-pedagang dari Asia Tenggara (hlm. 162-163). Ma Huan tidak hanya mencatat ramainya perdagangan, tetapi juga berbagai adat istiadat dan kepercayaan lokal yang berinteraksi secara damai dengan agama Hindu, Budha, dan Islam.

Bab delapan dan sembilan buku ini dipakai Gordon untuk menunjukkan karakter bisnis dan kekuasaan yang jauh berbeda dengan kebudayaan Asia. Jengis Khan dari Mongol adalah seorang perusak (destroyer) ulung kebudayaan Asia yang kaya, yang menghormati keanekaragaman agama, dan yang membangun hubungan dagang berdasarkan prinsip saling percaya. Babur, putra Jengis Khan mempraktikkan kekuasaan yang sedikit berbeda dengan ayahnya, karena dia menerapkan prinsip kekuasaan “garam” (melarutkan), untuk menyatukan berbagai suku, agama, dan rasa demi kepentingan politik dan bisnisnya (hlm. 192-193). Meskipun demikian, karakter bisnis dan kekuasaannya sebenarnya tetap memegang prinsip “tujuan menghalalkan cara”.

Karakter yang kurang lebih sama tampak pada kisah Tome Pires yang mewakili kepentingan bangsa penjajah dari Eropa (bab 9). Bab ini jelas menunjukkan bahwa orang Eropa menjalankan bisnis dan kekuasaan yang murni kolonialistis. Bisnis dibangun di atas prinsip saling percaya diganti dengan penguasaan sumber-sumber ekonomi demi kepentingan sendiri. Dan itu didukung kekuatan senjata dan pendudukan wilayah. Yang lebih menyedihkan, orogansi mengubah kebudayaan Asia yang damai, harmonis, dan heterogen menjadi kebudayaan homogen-Kristen. Penolakan Cina atas kunjungan diplomatik Pires dan kawan-kawan (hlm. 230) menggarisbawahi arogansi Eropa itu sendiri.

Beberapa Catatan

Kesimpulan buku ini ada di bab sepuluh. Melalui kisah-kisah tokoh sejarah di bab-bab sebelumnya, Stewart Gordon ingin menunjukkan cara Asia “menguasai” dunia degnan budaya politik harmoni dan bukan konflik (hlm. 245). Demikian pula dengan etos dan etika bisnis berdasarkan nilai kejujuran dan saling percaya, dengan sedikit mungkin campur tangan pemerintah (hlm. 250). Bahwa agama-agama di Asia (Budha dan Islam) mampu hidup berdampingan dengan sekte-sekte Hindu Brahmana, Zoroastrianisme, anismisme-dinamisme, konfusianisme, taoisme, dan sebagainya (hlm. 248). Sementara itu, cara orang Eropa berbisnis dan menegakkan kekuasaan di Asia menegaskan bahwa mereka benar-benar “orang luar” yang tidak pernah mengerti Asia (hlm. 258).

Buku ini harus dibaca oleh semua orang yang menaruh minat dan harapan b esar pada interaksi dan pembentukan budaya secara akulturatif. Membaca buku ini membawa kita menyusuri lorong-lorong Asia seraya membayangkan masa depan Asia sebagai “rumah” bagi semua orang. Itulah Asia yang sebenar-benarnya.

Satu pemikiran pada “CARA ASIA MENGUASAI DUNIA

  1. buku yang bagus sebagai pegangan untuk para pemimpin dan pengusaha agar dapat menjadi pegengan dalam bersaing di kancah internasional asia tenggara,dapat mengajarkan dengan gampang dan mudah . semoga dapat bermanfaat .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s