“DEEP ECOLOGY” DAN KESELAMATAN LINGKUNGAN HIDUP

Dalam sebuah tulisan opini di Harian Suara Pembaruan, saya menyitir pendapat John B. Cobb, Jnr dan David Ray Griffin yang dengan tegas menyatakan bahwa krisis dan kerusakan lingkungan hidup yang kita alami sekarang ini erat terkait dengan mentalitas dan cara pandang kita yang keliru mengenai lingkungan hidup itu sendiri (Kepekaan Ekologis , Suara Pembaruan, Jumat, 21 Juni 2002, h. 10). Tentang hal ini baik para filsuf maupun pemikir-pemikir lingkungan hidup pada umumnya langsung tahu, bahwa kritik pertama-tama hendaknya diajukan kepada pemahaman mengenai lingkungan hidup yang sifatnya antroposentris. Antroposentrisme berpendapat bahwa hanya manusia yang memiliki nilai-nilai intrinsik pada dirinya sendiri yang tidak dapat dikorbankan demi alasan apapun juga. Sementara itu, makhluk ciptaan lain yang ada dalam ekosistem seluruhnya diperuntukkan bagi kebahagiaan manusia, dan bahwa manusialah yang memiliki hak penuh untuk “menguasai alam dan menaklukkan bumi” demi kepentingan hidupnya (bdk Dr. William Chang, 2001: 42-43).

          Pemikiran yang sifatnya antroposentris ini memiliki sejarah yang sangat panjang. Kaum feminis dan ecofeminis misalnya, berpendapat bahwa pandangan ini sudah berusia setidaknya sepuluh ribu tahun. Antroposentrisme tidak hanya mencerminkan kesombongan manusia karena menyadari dirinya sebagai satu-satunya ciptaan yang berakal budi dan “diberi” wewenang oleh sang pencipta untuk menguasai alam semesta. Yang paling luar biasa adalah bahwa antroposentrisme telah menjadi bagian atau membentuk peradaban manusia itu sendiri. Dengan kemampuan akal budinya manusia mengembangkan pemikirannya secara distantiatif, melihat alam dan makhluk-makhluk lainnya sebagai non-sentient being (makhluk tak-berperasaan), tidak memiliki hak pada dirinya sendiri, tidak perlu dipertimbangkan secara moral, dan karena itu tidak apa-apa kalau dieksploitasi. Di sini kita teringat pandangan Rene Descartes yang secara menyedihkan menempatkan alam tidak saja sebagai res extensa yang tidak berkesadaran, tetapi juga yang memiliki eksistensi sejauh dipikirkan akal budi manusia.

          Sudah sering dibicarakan, dan benarlah demikian, bahwa pandangan yang antroposentris dan destruktif atas lingkungan hidup memuncak pada zaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi yang diperanakkan oleh ilmu pengetahuan alam seakan-akan bersikap non kompromistis   terhadap eksploitasi dan pengrusakan lingkungan hidup. Di hadapan kemahakuasaan ilmu pengetahuan dan teknologi seakan-akan berlaku pandangan bahwa teknologi hanya akan berhenti bergerak maju jika lingkungan hidup telah rusak seluruhnya. Teknologi mengkondisikan kita untuk berpikir secara dualistis ala Descartes: memilih teknologi supata hidup bahagia—dan itu berarti bersikap kompromistis terhadap kerusakan lingkuangan oleh teknologi—atau menolak teknologi dan mendertita.

          Pertanyaan yang sulit dijawab adalah apakah kita mampu menghentikan kerusakan lingkungan hidup ketika nyata-nyatanya kita hidup dalam sebuah kebudayaan yang cara berpikirnya seperti ini, yakni cara berpikir dan pandangan dunia yang sangat tidak pro pada keselamatan lingkungan hidup itu sendiri? Pertanyaan ini memiliki satu asumsi dasar, bahwa kita hanya mampu mengatasi krisis dan kerusakan lingkungan hidup jika kita sudah berani keluar dari dan mengatasi (go beyond atau transcending ) cara pandang atau pemahaman kita mengenai alam semesta yang bersifat despotik dan antroposentris.

          Kalau kita mengikuti diskursus-diskursus mengenai etika lingkungan hidup, maka kita sering menghadapi tema-tema seperti kritik terhadap pandangan kitab suci yang tidak memadai dan menyumbang bagi kerusakan lingkungan hidup, kritik terhadap agama tertentu yang karena sikap pasifitasnya lalu tidak peduli dengan keadaan alam yang sedang rusak, kritik terhadap human centered ethics , ekologi dangkal atau shallow ecology dan sebagainya. Semuanya ini merupakan usaha untuk keluar dari atau mengatasi cara pandang atau pemahaman yang kurang memadai mengenai alam semesta. Kalau  kita mau jujur, upaya ini jauh lebih serius dan mendalam dibandingkan dengan memperjuangkan penegakan hukum lingkungan hidup, meskipun tentu saja keduanya tidak saling menggantikan.

          Meskipun dikritik oleh para ekolog sosialis yang berpendapat bahwa struktur sosial yang ada sekarang ini yang harus dirombak karena menyembunyikan kekusaan eksploitatif dan menyebabkan kerusakan lingkungan hidup, deep ecology tampaknya menjadi salah satu titik pandang yang memadai bagi upaya mengatasi cara pandang yang sempit dan despotik atas alam. Ekologi dalam (deep ecology ) yang digagas pertama kali oleh filsuf Norwegia, Arne Naess ini melihat alam semesta, mulai dari amuba sampai manusia, sebagai satu kesatuan dalam ekosistem dan membentuk jaring-jaring kehidupan. Akibatnya, merusak salah satu anggota ekosistem sama saja dengan merusak keseluruhan ekosistem itu sendiri. Dengan kata lain, deep ecology mempromosikan suatu cara pandang mengenai alam semesta yang lebih menyeluruh (wholistic ), cara pandang yang melihat setiap makhluk sebagai yang memiliki nilai pada dirinya sendiri yang tidak dapat dikorbankan secara sewenang-wenang oleh mahkluk hidup lainnya.

          Literatur-literatur seputar deep ecology sebenarnya mengungkap pemikiran yang sangat sederhana dan praktis. Deep ecology bergerak dalam tiga tataran kesadaran, yakni pengalaman yang mendalam (deep experience ), mengajukan pertanyaan secara mendalam (deep questioning ), dan komitmen yang mendalam (deep commitment ). Yang dimaksud adalah pengalaman yang mendalam mengenai eksistensi dan kehidupan kita sendiri dan kehidupan makhluk-makhluk lainnya. Pengalaman ini yang kemudian memicu kesadaran kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendalam atau mendasar. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut niscaya membawa kita kepada komitmen mengenai pemeliharaan kehidupan itu sendiri.

          Ada satu contoh yang sangat menarik yang dapat menjelaskan hal ini. Aldo Leopold, penulis buku A Sand County Almanac bercerita bahwa pada tahun 1920-an dia diangkat oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mengembangkan sebuah kebijakan ilmiah dalam mengurangi jumlah serigala di seluruh Amerika Serikat supaya populasi rusa bertambah banyak, dan dengan demikian menguntungkan para pemburu rusa. Jadi kebijakan pemerintah ini sebetulnya ingin memuaskan para pemburu rusa. Sama seperti orang-orang lain, Aldo Leopold dan kawan-kawannya juga memburu dan membunuh serigala secara besar-besaran. Suatu pagi, dia menembak seekor serigala. Ketika ia mendekati bangkai serigala tersebut ia melihat seakan-akan ada air mata yang keluar dari mata hewan tersebut. Apa yang dilihatnya ini membuat dirinya sangat tergoncang, dan ia merasa bahwa alam semesta tidak menyenangi perbuatannya. Seperti yang diakuinya sendiri, “There was something new to me in wolf’s eyes, something known only to her and to the mountain. I thought that because fewer wolves meant more deer, that no wolves would mean hunter’s paradise. But after seeing the wolf die, I sensed that neither the wolf nor the mountain agreed with such a view” (dikutip dari Stephen Harding, 2002, h. 2).

          Pengalaman ini tidak hanya membuat Aldo Leopold menyadari dirinya menjadi satu dengan totalitas jaring kehidupan, tetapi sekaligus mereorientasi dirinya. Ia mengubah hidupnya dari menjadi pemburu serigala dan rusa kepada orang yang sangat peduli dengan keselamatan alam semesta. Inilah pengalaman spontan dan mendalam yang oleh Arne Naess disebut sebagai pengalaman yang mereorientasikan kehidupan, menggugurkan paradigma dan pandangan-pandangan yang tidak memadai dan despotik terhadap alam dan membawa seseorang kepada komitmen baru, yakni menjadi seorang pamong atau penjaga dan pelestari alam semesta.

          Kalau kita mau jujur, cara hidup kita sekarang tidak memberi ruang bagi pengalaman semacam ini. Akibatnya, omongan bahwa hutan di Kalimantan, Sumatera atau Papua yang ratusan ribu hektar akan menjadi tandus jika terus ditebang secara liar atau mengeringnya sungai, danau, atau naiknya air laut dan sebagainya dialami sebagai sesuatu yang jauh bahkan abstrak. Manusia modern hanya mengutamakan kepentingan jangka pendeknya sendiri yang pragmatis. Keselamatan lingkungan dan masa depan bumi yang semakin baik dirasakan bukan sebagai persoalan yang mendesak. Dalam kerangka pemikiran deep ecology barangkali harus disimpulkan bahwa krisis lingkungan hidup yang kita alami sekarang antara lain disebabkan oleh ketiadaan pengalaman yang mendalam, bahwa makhluk-makluk lainpun memiliki nilai pada dirinya sendiri yang harus dihormati. Tantangannya adalah apakah kita berani mengusahakan pengalaman seperti itu ketika tersebut menuntut kita meninggalkan cara pandang kita tertentu yang eksploitatif dan despotik? Padahal justeru cara pandang kita yang eksploitatif dan despotik itulah yang sedang memanjakan kita dalam pola hidup yang glamour dan konsumeristis seperti sekarang ini. ***

3 pemikiran pada ““DEEP ECOLOGY” DAN KESELAMATAN LINGKUNGAN HIDUP

  1. Tiga hari yang lalu saya pergi ke suatu area perkebunan organik bersama group. Kami diajarkan bagaiman harus memulai untuk melakukan gerakan cinta lingkungan hidup seperti membuat pupuk organik yakni mengelola sampah rumah tangga dengan keranjang takakura yang sudah banyak terkenal di Indonesia. Tidak adanya lahan pada rumah-rumah zaman ini, bukan menjadi halangan bagi kita untuk tidak berperan dalam menciptakan lingkungan yang asri. Ramah lingkungan bisa dimulai dari rumah dan sekitarnya. Saya sangat salut akan keberadaan para pecinta-pecinta lingkungan yang begitu rendah hati mau hidup selaras dengan alam, sementara yang lain merebut tahta ‘jabatan’ dan jubah ‘berdasi’. Mereka lebih paham akan mikro kosmos dan makro kosmos, yaitu hubungan antara Tuhan, sesama dan lingkungan. Mereka punya cinta yang sederhana untuk diberikan kepada banyak orang namun akan lestari abadi, cinta lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s