Sudah Final Pancasila Sebagai Dasar Negara RI

Pancasila

Egi Sudjana dalam sebuah dialog di TV One hari Senin, 9 Juni 2008 (acara Apa Kabar Indonesia pukul 21:00 yang dipandu Tina Talisa) mengatakan bahwa dasar negara Republik Indonesia adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Dan, karena Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa “kemerdekaan Indonesia diperoleh berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa”, maka dasar negara Indonesia adalah kepercayaan akan Allah. Dari sini Egi Sudjana kemudian menyimpulkan bahwa dasar negara Indonesia adalah Islam.

Tentu cara berpikir seperti ini tidak bisa diterima secara logis. Kesimpulan yang ditarik mengandung kesesatan berpikir karena apa yang disimpulkan bukan merupakan bagian dari proposisi yang ada pada premis mayor maupun premis minor (kesimpulan lebih luas dari premisnya). Kalaupun kesimpulan yang dikemukakan benar, jadi katakanlah bahwa dasar negara Indonesia adalah Ketuhanan yang Maha Esa, atau lebih spesifik lagi adalah Allah (Islam), cara berpikir semacam ini pun belum tentu diterima. Kita semua tahu, bahwa kebenaran logis tidak berbanding lurus dengan kebenaran objektif. Bahkan kebenaran objektif sendiri masih terus dipersoalkan antara kebenaran korespodensial, kebenaran konvensional, atau kebenaran konstruktif.

Menarik bahwa dialog tersebut ditanggapi oleh seseorang dari Kalimantan yang memprotes keras cara erpikir Egi Sudjana. Saya kira kita tidak boleh memutarbalikkan sejarah dan struktur ketatanegaraan Indonesia, dengan menegasikan bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Ketika pemandu dialog mengingatkan, bahwa dasar negara Indonesia adalah Pancasila, Egi Sudjana justru menanggapi dengan mengatakan bahwa kata “Pancasila” tidak disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945, karena itu bukan menjadi dasar negara.

Apa yang bisa Egi Sudjana katakan kalau dia membaca alinea keempat UUD 1945 yang mengatakan bahwa kemerdekaan kebangsaan Indonesia disusun dalam suatu UUD negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepaad Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Itulah lima prinsip universal yang menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itulah Pancasila sebagaimana ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Bisa jadi cara berpikir semacam ini menjadi semacam aspirasi politik yang ingin diperjuangkan dan direalisasik di republik ini. Tentu selalu ada “godaan” untuk mewujudkan negara Indonesia berdasarkan agama tertentu yang parsial. Meskipun demikian, mengatakan bahwa perjuangan politik semacam ini sah dalam sebuah negara demokrasi tidak sepenuhnya benar. Ada berbagai konsensus dan kompromi politik di masa lalu yang harus dihormati bukan semata-mata karena telah ditetapkan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, tetapi karena menentukan eksistensi NKRI itu sendiri. Tentu kita ingat “protes” beberapa orang dari kawasan yang dikuasai Kaigun (AL Jepang) di luar Pulau Jawa yang keberatan dengan “tujuh kata” dalam Piagam Jakarta. Keberatan itu justru direspon secara ksatria dengan menghilangkan “tujuh kata” dari Piagam Jakarta sehingga tercapailah apa yang disebut gentlement’s agreement (Dr. M. Notonegoro, Pancasila Dasar Falsafah Negara , 1983: 72).

Kita tidak boleh lupa bahwa gentlement’s agreement semacam ini adalah hasil sebuah kompromi politik final. Disebut final karena kesepakatan semacam itu justru menentukan eksistensi NKRI itu sendiri. Konsekuensi logisnya, NKRI akan bubar jika konsensus tersebut dilanggar. Bagi saya, konsensus politik tersebut telah mengakhiri perdebatan ideologis mengenai dasar negara, sehingga energi yang ada bisa dikonsentrasikan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Mempersoalkan kembali dasar negara, apalagi menggantinya dengan agama tertentu sama saja dengan menghancurkan NKRI itu sendiri. Ingat, sistem pemerintahan republik yang demokratis harus menghormati keragaman suku, agama, budaya, ideologi, bahkan pandangan politik. Satu-satunya ideologi saat ini yang mampu menjaga keutuhan dan keharmonisan bangsa, dan itu terbukti melalui sejarah nasional kita, adalah Pancasila. Hanya Pancasila yang memiliki vested interest yang rendah, yang mampu mengakomodasi segala kepentingan dan menemukan solusi terbaik dalam menyelesaikan berbagai konflik sektarian yang terjadi.

Bagi saya, negara ini akan semakin kacau dan menuju ke kehancuran jika kita terus mempersoalkan dasar negara. Sekali lagi, perdebatan ideologis seharusnya telah selesai ketika the founding fathers dengan semangat kebangsawanannya yang tinggi mencapai kesepakatan politik untuk mendirikan NKRI di atas fondasi kuat-kokoh Pancasila. Marilah kita memanfaatkan energi dan segala kemampuan yang ada untuk membangun bangsa, mengentaskan kemiskinan, meningkatkan standar hidup, memajukan pendidikan, menjaga keutuhan wilayah, memberantas korupsi, menegakkan keadilan, memerangi kemaksiatan, dan sebagainya demi kemaslahatan seluruh warga negara. Kita akan menjadi negara yang gagal kalau kita terus ribut soal dasar negara. Tentu kita tidak mau hal itu terjadi, bukan?

18 pemikiran pada “Sudah Final Pancasila Sebagai Dasar Negara RI

  1. Memang agak sulit membincangkan sebuah ideologi yang hendak (atau malah sudah) dijadikan sebagai landasan pengatur kehidupan bersama ketika acuan yang dipakai berbeda-beda. Agama dengan seluruh ajarannya yang ideal memiliki kebenaran yang universal. Universalisasi kebenaran agama seyogyanya tidak diikuti dengan semacam penegasan absolut bahwa kebenaran tersebut adalah satu-satunya kebenaran, kecuali konteksnya adalah inside looking.

    Bagi saya, Pancasila sebagai landasan dan dasar negara RI itu final. Tanpa kesepakatan semacam ini kita akan sekadar lari dan berputar-putar di tempat.

    1. bingung menghadapi para orang2 pintar yang belum mampu mencintai kebijaksanaan.
      sebagai seorang yang awam, saya masih berusaha mencari kebenaran hakiki, yang jelas dari kecil ditanamkan nilai pancasila “katanya”.
      padahal. dengan mengamalkan nilai2 agama, berarti dengan otomatis telah mengamalkan pancasila.
      untuk bapak yang berhati keras, fahamilah, akhir hidup kita dan tujuan kita bukan berakhir di bumi, akankah kehidupan sementara ini kita
      jadikan lubang ke jalan yang penuh derita di tempat kekal kita nanti?

  2. Fitrah | Maret 18, 2009 at 5:25 am:

    “INGAT, HUKUM YANG PALING SEMPURNA, HANYALAH HUKUM ISLAM YANG BERSUMBER DARI ALLAH SWT.
    ISLAM IS UNIVERSAL.
    ISLAM ADALAH AGAMA YANG PALING SEMPURNA.
    ISLAM DITURUNKAN UNTUK SELURUH SEMESTA ALAM.
    ISLAM BUKAN HANYA UNTUK BANGSA TERTENTU (MISAL: BANGSA ARAB SAJA).
    ISLAM ADALAH SUATU ATURAN YANG MENGATUR KEHIDUPAN SELURUH ALAM SEMESTA INI AGAR ADIL DAN SEJAHTERA.”

    Keyakinan tersebut hanya dapat diyakini oleh orang Indonesia yang beragama Islam, tanpa harus memaksakanya kepada orang Indonesia yang beragama lain. Hendaknya dipikirkan lebih dalam mengenai Pancasila dan dipelajari literasu-literasinya, agar segala pandangan tidak bersumber dari satu sisi penglihatan saja.

    Saya adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia.

  3. RALAT:

    PASAL 29 AYAT (2):
    “NEGARA MENJAMIN KEMERDEKAAN TIAP-TIAP PENDUDUK UNTUK MEMELUK AGAMANYA DAN MENJALANKAN IBADAH SESUAI DENGAN AGAMA DAN KEPERCAYAANNYA ITU”

    MAAF, LUPA !!!!

    SEMANGATNYA:

    “PANCASILA IS OKAY!!! PANCASILA SUDAH FINAL”
    “TETAPI, PANCASILA YANG BENAR-BENAR ASLI”
    “IALAH PANCASILA YANG MUNCUL 1 JUNI 1945”

    SILA -1:
    “KETUHANAN YANG MAHA ESA DENGAN MENJALANKAN SYARI’AT ISLAM BAGI PARA PEMELUK-PEMELUKNYA”

    KOK, BEBERAPA KATA-KATA TERAKHIR DIBUANG SIH ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

  4. PASAL 29 AYAT (1):
    “NEGARA BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”

    PASAL 29 AYAT (2):
    “NEGARA MENJAMIN KEMERDEKAAN TIAP-TIAP PENDUDUK UNTUK MEMELUK AGAMANYA MASING-MASING SESUAI DENGAN KEPERCAYAANNYA ITU”

    JADI, DALAM UUD 1945 JUGA TELAH TERTUANG BAHWA
    “NEGARA INDONESIA HARUS MEMILIKI DASAR NEGARA YANG BERDASAR KEPADA PRINSIP HUKUM YANG BERSUMBER DARI TUHAN YANG MAHA ESA”.

    HUKUM TERSEBUT ADALAH HUKUM ISLAM. ISLAM MENDEFINISIKAN BAHWA:
    TUHAN ADALAH ALLAH SWT.

    DI AYAT (2) DISEBUTKAN BAHWA DENGAN
    DASAR TUHAN YANG MAHA ESA INILAH, INSYA ALLAH NEGARA MENJAMIN KEBEBASAN RAKYAT UNTUK MEMELUK AGAMA DAN KEPERCAYAANNYA MASING-MASING. TIDAK ADA PAKSAAN.

    INGAT, HUKUM YANG PALING SEMPURNA, HANYALAH HUKUM ISLAM YANG BERSUMBER DARI ALLAH SWT.
    ISLAM IS UNIVERSAL.
    ISLAM ADALAH AGAMA YANG PALING SEMPURNA.
    ISLAM DITURUNKAN UNTUK SELURUH SEMESTA ALAM.
    ISLAM BUKAN HANYA UNTUK BANGSA TERTENTU (MISAL: BANGSA ARAB SAJA).
    ISLAM ADALAH SUATU ATURAN YANG MENGATUR KEHIDUPAN SELURUH ALAM SEMESTA INI AGAR ADIL DAN SEJAHTERA.

    ALLAHU AKBAR……..!!!!!

    <>

  5. Subhanalloh. orang dah di bulan kita masih memikirkan hal itu. Kalau dalam perang kita tah kena tembak tuh.
    Menurut pengetahuan awam saya, hidup tidak bisa lepas dari Tuhan. Tidak ada alasan untuk lepas dari tangannya, apapun agama kita. Tujuan hidup semua insan adalah mencari ridlo-Nya karena mau tidak mau kita akan dipanggil oleh-Nya. Namun, akankah kita kembali ke pangkuan-Nya?
    Artinya, yo sama-sama kita mencari ridlo-Nya. Mensyukuri rahmat-Nya. Saya yakin dengan menjalankan semua syariat-Nya, otomatis hukum formal negara ini juga tidak akan melarang-Nya.
    Cum memang, idealnya kita selalu menjalankan hukum dalam kehidupan kita dengan memakai syariat-Nya, itu salah satu tanda dan barometer keimanan kita.
    Tuhan juga tidak akan salah menilai hamba-Nya,mana salah mana benar.
    Mari kita renugkan dengan hati nurani yang jernih dibumbui rasa rendah diri dihadapan-Nya. Hilangkan sifat sombong, takabur terhadap-Nya. Pertanyakan pada diri kita, darimana, sedang apa, mau kemana hidup kita sebenarnya?
    Jika kita sudah mendapat jawaban hal itu, saya yakin, tidak ada lagi yang berdebat tentang hukum dan aturan hidup kita.
    Jadi, saya tidak akan menyebutkan harus memakai sistem hukum mana, karena kalau sudah terjawab ketiga pertanyaan itu, maka kita akan sadar dengan sendirinya.
    Kita harus malu dengan nafas,mata, telinga, dan semua seisi bumi yang telah diberikan-Nya pada kita, tanpa IA meminta imbalan pada kita.
    Semoga kita selalu dilmpahkan rahmat, ampunan, serta taufiq dari Sang Khaliq untuk selalu menapaki hidup ini dengan penuh syukur dan karunia-Nya.
    Saya usulkan, “MARI KITA RENDAHKAN DIRI KITA DIHADAPAN SANG PENCIPTA.”

  6. Bung Jeremiasjena,
    Fyi, tulisan anda seputar pancasila sudah kami copypaste dan mencantumkan sumbernya (me-link ke blog anda). Bila anda memiliki tulisan seputar ke Bhinnekaan, sudilah kiranya mengabari kami. Semoga selalu kuat untuk tetap jernih dan berakal sehat. Trims banyak.

  7. Terima kasih, Anda sudah mengemukakan beberapa catatan “kritis” atas tulisan saya. Salut, dengan bahasa dan semangat yang menggebu-gebu, Anda ingin memperjuangkan suatu “kebenaran”. Tentu masih harus didiskusikan, kebenaran yang Anda perjuangkan itu hendak diwujudkan dalam sebuah masyarakat homogen atau masyarakat plural. Saya khawatir, hanya dengan semangat Anda yang menggebu-gebu, Anda menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuan. Konsensus kebangsaan dan kenegaraan kita jelas, Pancasila dan UUD 1945. Setahu saya, sampai sekarang hal ini belum berubah. Saya menganut paham politik, bahwa konsensus kebangsaan yang ada sekarang boleh dikatakan final. Begitu dia dipersoalkan, tentu kita bisa mencapai konsensus baru, katakan penerapan syariah menurut perjuangan Anda. Saya tidak tahu jika Anda cukup mengerti dengan aplikasi sistem dan prinsip demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Cara Anda menanggapi Dr. Tomagola cenderung emosional dan merendahkan. Itu adalah argumentum ad hominem (do you understand?). Belajar lebih keras lagi untuk beragumentasi secara ilmiah, academically, dan sopan.

  8. Logika berfikir andalah yang mesti diperbaiki bung…
    Anda berani beradu opini ?
    Sudah sangat jelas apa yang disampaikan eggy sudjana,jika anda mempunyai kekuatan argumen berdasarkan fakta yang ada,jelas anda tidak akan bisa menjawabnya bung…
    Ttg Thamrin tamagola,saya aja yg blom lulus kuliah geleng2 kepala liat argumen sang Profesor ketika dialog dengan Ali Muchtar Ngabalin diTv ONe kemaren malem…,bisanya cuma cengengesan dan lebih ajaibnya mengeluarkan kata-kata******…Naudzubillahi mindzalik..
    Ajaran/Syariah Islam TIDAK AKAN BISA anda jauhkan dari hidup dan peri kehidupan umat muslim diManapun…Sekalipun dia muslim Pezina,Perampok,Pencuri,Pembunuh.. karena Alloh yang menjaminnya…
    Bukalah hati dan mata anda untuk Kebenaran Islam,
    Semoga Alloh ta’ala memberi hidayah anda kembali kedalam pangkuan dan Lindungan Cahaya Islam…
    mailto: poetra_m4hkot4@yahoo.co.uk

  9. Terima kasih sudah log-in dan membaca tulisan saya. Anda boleh copypaste tulisan ini dan masukkan di blogmu. Saya OK saja, karena itu memperluas pemikiran saya. So, thanks a lot!

  10. Terima kasih Denny atas masukannya… Saya memang mengikuti diskusi malam itu dengan perasaan jengkel dan geram. Memang pemandu acaranya tidak bisa mencecar nara sumber tersebut, sehingga apa yang dikatakannya seakan-akan mewakili pemikiran yang benar.

    Saya juga salut bahwa beberapa hari kemudian, ketika debat menghadirkan Pak Thamrin, beliau menyinggung hal itu. Media massa kita dewasa ini terlalu memberi porsi peliputan pada pemikiran2 yang bisa menyesatkan, dan kalau tidak hati2 justru menghancurkan NKRI itu sendiri.

  11. dear mas jeremia,.
    saya setuju dgn anda. yang saya sayangkan adalah pembawa acara yg goblok itu. ada komentar yg salah kok tdk langsung di-cut
    salut ama bpk dari kalimantan. Jg salut ama bpk thamrin tomagola
    salam,
    denny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s