MENJADI RASUL DI ZAMAN MODERN

Judul buku: Twentieth-Century Apostles

Pengarang: Phyllis Zagano

Penerbit: Book Paper, The Liturgical Press, Minnesota, USA: 1999.

Jumlah halaman: 192 hlm

Masalah kemuridan Kristus telah menjadi perdebatan klasik bagi orang Kristen hingga saat ini. Persoalannya, apakah setiap orang yang telah percaya dan dibaptis dalam nama Yesus sudah bisa disebut sebagai rasul Kristus atau hanyalah pengikut-Nya saja. Bahkan orang seperti Paulus yang hidup di zaman Yesus dan yang tidak termasuk dalbilangan kedua belas rasul Sang Nabi dari Nazareth itu merasa perlu untuk membuat sebuah apologia yang menyatakan bahwa dirinya juga seorang rasul, Apologiini menandaskan bahwa pembedaan antara menjadi rasul Yesus atau sekadar pengikut-Nya merupkan persoalan yang amat penting dalam dunia kekristenan saat ini.

Persoalan ini kembali diangkat oleh Phyllis Zagano dalam bukunya berjudul Twentieth Century Apostles (Para Rasul Abad Ke-20). Dalam buku inilah Zagano dengan gemilang menyatakan bahwa persoalan kemuridan Yesus terletak pada pemahaman yang sempit mengenai status kemuridan itu sendiri. Zagano menegaskan bahwa pada awal kekristenan orang cenderung menarik garis pembatas antara menjadi rasul dan menjadi pengikut Kristus. Status rasul lalu hanya dikenakan kepada keduabelas murid Yesus, tetapi pemahaman yang baru mengenai arti kata “rasul” (apostles) membawa kepada kesimpulan bahwa semua orang yang telah percaya dan dibaptis dalam nama Yesus Kristustelah juga menjadi rasul-rasulnya. Insight inilah yang menjadi dasar permenungan buku ini. Zagano lalu mengajak pembacanya untuk kembali ke makna kata “rasul” itu sendiri. Kata “rasul” berasal dari kata Bahasa Yunani, yakni apostolos, yang artinya yang diutus untuk suatu misi tertentu. Dalam konteks inilah setiap orang Kristen, demikian Zagano, adalah murid Yesus Kristus, karena mereka telah dibaptis dan diutus ke tengah-tengah dunia untuk menghidupi apa yang mereka imi secara herois dan otentik.

Pemahaman dasar ini bisa kita baca pada bagian pengantar buku tersebut. Setelah itu, Zagano memperkenalkan kepada pembacanya 12 tokoh Kristen yang menurut penilaiannya telah menghidupi status kemuridan mereka secara otentik. Para tokoh Kristen ini—Charles de Foucauld, Pierre Teilhard de Chardin, Giovanni Battista Montini (Paulus VI), Dorothy Day, Jessica Powers, Franz Jager Statter, Teresa dari Calcutam Thomas Mertonm Roger dari Taize, Oscar Romero, Jean Vanier, dan Thea Bowman—sengaja dibatasi hingga 12 orang saja untuk menarik perhatian pembaca (identifikasi dengan ke-12 murid Yesus). Sementara alasan untuk memilih mereka pun agak subjektif. Karena itu, jumlahnya pun bisa ditambah menjadi ratusan, bahkan ribuan orang.

Nah, apa yang bisa kita simpulkan dari membaca buku yang dipuji oleh Terence W. Tilley (Ketua Fakultas studi-studi keagamaan di Universitas Dayton) sebagai “bacaan yang informatif dan menantang” ini?

Pertama, kita hidup dalam zaman di mana orang lebih memercayi tindakan/perbuatan nyata daripada kata-kata dan teori-teori kosong. Dis ini lalu obsesi para penganut etika keutamaan yang ingin mengajak orang bertindak baik dan benar berdasarkan contoh dan teladan orang orlain menjadi hal yang kontekstual. Dalam buku ini kita mendapatkan bagaimana pada masa tertentu orang-orang Kristen menghidupi iman kekristenan mereka secara sangat radikal, karena mereka percaya bahwa hanya dengan demikian mereka bisa menjadi rasul Yesus.

Zagano, penulis buku ini, melukiskan bagaimana Charles de Foucauld (1858-1916) berupaya membentuk sebuah “komunitas universal” tempat setiap orang—tanpa membedakan suku, agma, ras dan antargolongan—mengalami persaudaraan sejati dan kehadiran Allah. Atau, bagaimana Giovanni Battista Montini atau yang lebih dikenal sebagai Paus Paulus VI (1897-1978) terus membela kehidupan—terkenal dengan perangnya terhadap pengendalian kelahiran lewat ajarannya dalam Humanae Vitae—di tengah-tengah dekadensi moral dan perkawinan saat ini. Atau juga Oscar Romero (1917-1980, Uskup El Salvador yang mati diujung senjata musuhnya yang dengan gencar ia tantang kediktatoran pemerintahan sosialis negerinya.

Kedua, orang-orang Kristen yang disebut Zagano sebagai rasul Kristus tersebut berani mengambil risiko mempertaruhkan nyawa mereka, karena mereka telah terlebih dahulu menglami sebuah hubungan yang mendalam dengan Tuhan mereka. Pengalaman ini yang disebut Zagano sebagai “the burning desire” untuk berbakti kepada Allah dan sesama manusia. Tanpa hal ini kita hanyakmemahami cara hidup Teresa dai Calcuta, Teilhard de Chardin, Dorothy Day, Roger dari Taize, serta teman-teman mereka yang lain sebagai kekonyolan ataupun upaya mencari populatitas murahan.

Ketiga, di tengah kehidupan yang mengagung-agungkan teknik dan menomorduakan agama, kita ternyata disadarkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan memecahkan segala persoalan hidup manusia. Belajar dari Teilhard de Chardin, kita bahkan disadarkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi “perpanjangan tangan” Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya dan commited kepada pembangunan dunia yang lebih manusiawi ke arh persatuan kosmik dengan Sang Pencipta sendiri.

Di sini agama lalu menjadi sesuatu yang perlu dan bukannya sesuatu tambahan saja terhadap kehidupan manusia modern. Pengalaman ke-12 tokoh yang ditampilkan dalam buku ini juga sekaligus menegaskan bahwa agama itu tidaklah sekadar doktrin-doktrin dan kewajiban-kewajiban. Agama justru menjadi wadah bagi manusia untukmemhami dan mengalami kejadiran nyata Allah dan sesama.

Buku ini memang sarat dengan kekayaan spiritual agama Kristen. Tapi kami berpendapat bahwa pembacanya tidak harus eksklusif Kristen, karena spiritualitas yang ditawarkan bersifat universal. Upaya membangun dunia sebagai tempat yang manusiawi dan layak huni harus diawali dengan pengalaman hubungan yang mendalam dengan Tuhan sendiri. Agama apapun juga pasti mengajarkan hal ini. Model kehidupan dan ajaan mereka pun bersifat trans-religions. Itulah juga yang menyebabkan mengapa renung-renungan Teilhard de Chardin, Paus Paulus VI, Teresa dari Calcuta, Roger dari Taize, Oscar Romero, Charles de Foucauld, Thomas Merton, dan kawan-kawan malah masih tetap digemari.

Sependapat dengan Terrence W. Tilley, kami menganjurkan agar buku ini dibaca oleh siapa pun juga karena kekayaan informasi dan spiritualitasnya itu. Bahasa Inggris yang dipakai buku ini pun tergolong sederhana dan mudah dipahami sehingga pembaca sangat terbantu untuk memahaminya. Semoga saja ada penerbit yang mau menerjemahkanya ke dalam Bahasa Indonesi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s