Menyoal Eksistensi Tuhan

Judul: Dunia, Manusia, dan Tuhan. Antologi Pencerahan Filsafat dan Teologi

Penulis: Prof. Dr. J. Sudarminto dan Dr. S.P. Lili Tjahjadi (Editor)

Penerbit: Kanisius, Yogyakarta

Tahun: 2008

Tebal: viii + 293 halaman

Ateisme menjadi “ancaman” serius bagi kepercayaan akan eksistensi Tuhan, tidak hanya selama abad 17–20, tetapi juga di abad ke-21 ini. Atas nama empirisme—pandangan bahwa pengetahuan yang benar hanya dihasilkan oleh hal-hal yang empiris—para filsuf di awal abad modern seperti Hobbes, Locke, Berkeley, dan Hume menyingkirkan Allah sebagai “objek” yang dapat dipikirkan karena sifatnya yang tidak empiris.

Ateisme abad 19 dan abad 20 ditandai dengan munculnya para filsuf “pembunuh” Tuhan seperti Feuerbach, Marx, Nietzsche, dan Sartre. Bagi Feurbach, misalnya, Tuhan dengan berbagai sifat yang mulia tidak lain sebagai proyeksi kekuatan manusia sendiri. Tuhan itu maha kuasa karena manusia mempersepsi diri sebagai lemah dan tak berdaya. Padahal, kemahakuasaan Allah adalah kemahakuasaan manusia sendiri. Sementara kritik filsuf ateis di abad ke-21 lebih terpusat pada ketidakmampuan manusia mempertanggungjawabkan imannya secara rasional.

Sebenarnya musuh terbesar orang beragama di abad ke-21 ini adalah humanisme sekuler. Sebagai sebuah aliran pemikiran, humanisme membangkitkan gairah untuk menghidupkan kembali pemikiran dan budaya Yunani-Romawi yang memosisikan manusia, dan bukan Tuhan, sebagai asal dan tujuan hidupnya. Humanisme sekuler menghapus sama sekali realitas supra natural dan kenyataan-kenyataan spiritualnya dari seluruh proses kebudayaan manusia.

Meskipun demikian, serangan para filsuf ateis ternyata tidak menghancurkan agama. Para penganut agama justru belajar untuk beragama secara bertanggung jawab, termasuk kesediaan untuk mempertanyakan imannya sendiri, mengkritisi institusi agamanya, serta meragukan eksistensi Tuhan yang diimaninya.

Buku Dunia, Manusia, dan Tuhan ini ditulis untuk menghormati Prof. Dr. Louis Leahy, SJ yang merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Sebagai pemikir yang mendedikasikan hampir tiga puluh tahun mengajar filsafat ketuhanan di Indonesia, 12 tulisan yang ada dalam buku ini mampu menggambarkan panorama filsafat ketuhanan dan ateisme yang digeluti pemikir asal Kanada ini. Martin Harun, misalnya, dalam tulisan berjudul Allah Para Ekoteolog (hlm. 29-48) mendeskripsikan masalah transendensi dan imanensi Allah. Allah sebagai yang transenden atas ciptaan-Nya justru dapat melahirkan sikap dan perilaku yang merusak alam, karena pandangan keliru bahwa setelah penciptaan Tuhan tidak lagi terlibat dalam proses pembentukan dunia. Sementara Allah yang imanen justru mengkerdilkan eksistensi Tuhan sendiri, karena Tuhan dan ciptaan-Nya tidak dapat dibedakan.

Martin Harun berpihak pada pemikiran Denis Edwards yang memosisikan Tuhan sebagai pencipta yang terus melibatkan diri-Nya dalam proses evolusi agar dapat mengarahkannya menuju kepenuhannya (hlm 44-45). Tuhan semacam ini bukanlah sosok yang sama sekali transenden dan tidak peduli, tetapi yang melibatkan diri-Nya demi penyempurnaan proses evolusi itu sendiri.

J. Sudarminta dalam tulisannya berjudul Monoteisme dan Sains Modern (hlm 69-78) mengusung kembali pandangan yang sering dikemukakan Louis Leahy, bahwa ilmu pengetahuan dapat berkembang pesat di daerah dengan kepercayaan monoteisme yang kuat. Alasannya, kebudayaan semacam ini telah “membebaskan” Tuhan dari dimensi imanennya (Allah tidak lagi dimengerti sebagai satu bagian dari alam) dan memberi ruang bagi rasio untuk mengobservasi alam secara objektif (hlm 72-73). Dengan demikian, alam semesta dengan hukum-hukumnya dapat diselidiki dan dimengerti, karena merupakan entitas yang teratur dan rasional pada dirinya.

Sementara itu, Karlina Supelli dalam tulisannya berjudul Rasionalitas Sains: Di Antara Tuhan dan Matematika? (hlm 81-116) mampu membuka kesadaran kita akan keterbatasan sains. Bagi Dr. Karlina, sains tidak mampu membuka tabir misteri alam semesta dan menggambarkannya secara objektif-menyeluruh. Sains justru semakin menyadari keterbatasannya, karena itu membuka ruang bagi penggambaran semesta secara simbolik dan metafisis (hlm. 90-92). Dari sinilah ruang bagi diskursus mengenai eksistensi Tuhan membuka diri untuk dipahami dan dipercaya. Hal senada juga digarisbawahi M. Sastrapratedja, bahwa realitas Tuhan lebih tepat digambarkan secara mitik-simbolis, karena keterbatasan bahasa pengungkap (hlm. 117-140).

Masalah kejahatan dan penderitaan pun lama menjadi salah satu celah kritik filsuf ateis terhadap agama. Bagi mereka, jika Allah ada dan Maha Baik dan segala sesuatu terjadi karena kehendak-Nya, mengapa Dia mengizinkan kejahatan dan bencana? Budhy Munawar-Rachman dalam tulisannya berjudul Tuhan dan Masalah Penderitaan (hlm 185-202) mengulas tema ini secara meyakinkan. Budhy Munawar berpendapat bahwa segala kejahatan dan bencana terjadi bukan sebagai kutukan Tuhan. Tuhan tidak bisa sekaligus menjadi sosok yang baik dan sosok penghancur. Tuhan tetap Maha Baik. Kejahatan dan musibah yang terjadi sebenarnya merupakan akibat dari sikap manusia yang menyalahgunakan kehendak bebas yang telah diberikan Tuhan sendiri (hlm 199-200).

Buku ini bukan sebuah traktat sistematis tentang ateisme. Sesuai dengan tujuan awalnya, buku ini menampilkan berbagai tema filsafat ketuhanan dan teologi yang menjadi minat Louis Leahy. Meskipun demikian, berbagai topik dalam buku ini mampu membuka cakrawala kita mengenai kedudukan Tuhan dan agama dalam hidup manusia. Bagaimana Tuhan dipahami dalam konteks paham penciptaan (kreasionisme)? Bagaimana eksistensi Tuhan di hadapan perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi? Bagaimana manusia menghayati kebebasannya? Bagaimana manusia mempertanggungjawabkan imannya?, dan sebagainya.

Bagi yang mendalami masalah-masalah filsafat ketuhanan, buku ini mengandung informasi seputar tema-tema filsafat ketuhanan yang lengkap dan mendalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s