Survai Sederhana

Manusia tidak lain selain sebuah jaringan hubungan antarsesama dan hanya inilah yang mempengaruhinya.

ST. Exupery

Hanya inilah yang aku perintahkan kepadamu, supaya kalian saling mencintai.

Yoh. 15:7

Studi dan penelitian yang dilakukan sampai dengan hari ini mengenai hubungan antarmanusia semakin memperkuat pandangan dan keyakinan saya mengenai siapa manusia. Studi dan penelitian tersebut menggarisbawahi betapa manusia adalah teka-teki, sulit diprediksi, kuat dan perkasa, tetapi juga rapuh. Manusia juga menakjubkan dan unik. Betapa tidak. Kebanyakan penelitian dan studi mengatakan bahwa rasa aman, kegembiraan dan sukses dalam hidup sangat ditentukan oleh keberhasilan kita dalam membangun hubungan dan persahabatan yang mendalam dan penuh cinta dengan orang lain. Dari pengalaman kita juga menyadari bahwa ketidakmampuan kita hidup secara harmonis dengan orang lain menimbulkan dalam hati kita keresahan yang mendalam, ketakutan, perasaan terisolasi, bahkan menderita penyakit batin tertentu. Tragis bahwa ada dari kita yang meskipun menyadari bahwa kegagalan dalam membina hubungan yang mendalam dengan sesama telah menyebabkan perasaan-perasaan seperti itu, tetap bertahan dengan posisinya untuk tetap tidak membina hubungan persahabatan dan cinta. Tidak hanya itu. Kita bahkan sulit menemukan tempat di mana kebutuhan akan cinta dan keterbukaan bisa dibina dan dikembangkan.

Ada satu cerita lucu. Seorang anak muda pergi ke tokoh buku hendak membeli buku tentang bagaimana membina hubungan yang baik dengan sesama. Di tokoh buku, ia membolak balik buku-buku yang ada di rak dengan harapan bisa menemukan buku yang diinginkannya. Akhirnya ia menemukan sebuah buku berjudul Bagaimana Memeluk. Ia membeli buku itu. Di rumah ia baru menyadari kalau buku tersebut merupakan sebuah ensiklopedi jilid sembilan.

Cerita ini hanya mau mengatakan bahwa kita sering kali panik dengan persoalan yang kita hadapi. Pada saat tidak tahu bagaimana harus berhubungan atau gagal membina hubungan dengan orang yang kita cintai, kita lalu mencari pelampiasan pada bentuk-bentuk hubungan yang semakin menyakitkan hati kita. Bahwa ternyata kita tidak memiliki pemahaman dan kreativitas yang cukup mengenai hubungan antarpribadi. Kalau kita cukup punya pemahaman dan kreativitas, mengapa sampai dengan hari ini anak-anak masih memberontak terhadap orang tua mereka? Pasangan suami-istri muda menganggap mertua dan sanak saudara mereka sebagai musuh? Orang tua menganggap anak-anak mereka sebagai nakal dan menjijikkan? Para suami membiarkan istri-istri mereka merana dan mencari hiburan di tempat lain? Para karyawan di kantor membenci pimpinan mereka atau sesama teman di kantor dan menghabiskan hari-hari mereka dalam suasana yang dingin dan menyebalkan? Agama-agama tertentu menjadi radikal dan membunuh pemeluk agama lain atas nama Allah yang sama? Bangsa yang satu berperang melawan bangsa lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa kita deretkan menjadi lebih panjang lagi, dan mereka menggambarkan kegagalan kita dan membina hubungan antarpribadi. Di manakah letak kegagalan kita, padahal kita telah banyak belajar di bangku sekolah, di rumah, di gereja atau di mesjid mengenai cinta dan persahabatan? Ternyata kita tidak pernah merenungkan secara serius bahwa kita diciptakan bukan sebagai makhluk yang telah sempurna pada dirinya sehingga tidak membutuhkan kehadiran dan cinta orang lain. Kita diciptakan untuk hidup bersama orang lain, saling membantu dan mendidik. Kita semestinya saling membantu, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai cinta dan persahabatan. Dengan demikian, kita bisa menemukan cara dan pilihan-pilihan dalam membina hubungan dengan orang lain. Dengan saling berbagi dan belajar kita bisa menemukan jalan pemecahan kepada pertumbuhan dan perkembangan kita yang lebih manusiawi, kepada kedamaian, pengharapan, dan cinta. Proses saling belajar dan membantu ini seharusnya menjadi alasan pengharapan kita untuk selama-lamanya.

Sudah bertahun-tahun saya menjadi kecewa karena kurangnya perhatian orang terhapa masalah hubungan antarsesama. Beberapa tahun lalu saya memutuskan untuk melakukan sebuah studi bersama para srsitek mengenai bagaimana mereka mempraktikkan hubungan dan persahabatan antarmereka. Dengan cara ini saya berharap bahwa saya bisa sedikit memahami rahasia hubungan dan persahabatan antarmanusia dan kemudian bisa menolong orang lain.

Saya kemudia mengirim sebuah kuesioner sederhana kepada sekitar seribu orang. Kuesioner itu berisi pertanyaan-pertanyaan terbuka dan tertutup mengenai hubungan antarsesama. Selain itu, saya juga memberi kesempatan kepada para nara sumber untuk mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan saya dan menjawabnya secara lengkap sesuai dengan pengalaman mereka. Untuk kepentingan studi ini, saya kemudian mendefinisikan hubungan antarsesama sebagai “hubungan yang diganjar secara sosial, berupa hubungan atau persekutuan yang disepakati secara timbal balik, yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu dari mereka yang terlibat, dan kebutuhan masyarakat, yakni tempat di mana mereka berada dan hidup.”

Saya juga membedakan dua jenis hubungan antarsesama dalam kuesioner tersebut. Yang pertama adalah hubungan primer, dan yang kedua adalah hubungan sekunder. Saya memahami hubungan primer sebagai hubungan yang sangat dekat dan terbuka dengan orang-orang yang dipilih secara sukarela dan bebas, atau hubungan dekat dengan orang-orang yang dilakukan karena terpaksa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan hubungan sekunder adalah hubungan dengan orang-orang yang dipilih secara bebas dan sukarela maupun hubungan yang terjadi karena terpaksa dalam kehidupan sehari-hari, dengan tingkat kedalaman hubungan dan frekuensi interaksi yang lebih kurang dibantingkan dengan hubungan primer.

Para responden diminta untuk menyebut aspek-aspek mana yang paling kondusif dan yang paling destruktif bagi hubungan antarsesama. Mereka juga ditanyakan mengenai pemahaman mereka tentang apa itu hubungan dan persahabatan antarsesama serta nasihat-nasihat yang bisa mereka berikan kepada orang yang akan membina hubungan cinta dan persahabatan kekal, misalnya menjadi suami istri. Dari seribu kuasioner yang disebarkan ada 60 persen yang dikirim kembali.

Sebelum kita menganalisa jawaban-jawaban dari kuesioner itu, baik kalau saya menuliskan di sini pertanyaan-pertanyaan yang saya sebarkan itu. Anda juga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini untuk belajar mengenai diri Anda, keinginan-keinginan dan harapan-harapan Anda. Saya mengusulkan supaya pertanyaan-pertanyaan berikut ini dijawab terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca buku ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Apa yang menurut pertimbanan Anda digolongkan sebagai hal yang primer dalam hubungan cinta Anda?
  2. Tiga hal mana sajakah yang menurut peprtimbangan Anda menjadi aspek-aspek yang paling kondusif bagi pertumbuhan cinta yang terus menerus dan perkembangan di dalam hubungan antarsesama?
  3. Tiga hal mana sajakah yang menurut pertimbangan Anda menjadi aspek-aspek yang paling destruktif (merusak) dalam hubungan cinta antarsesama.
  4. Siapa yang paling Anda dahulukan dalam hubungan antarsesama yang bersifat sekunder (orang tua, pasangan hidup, anak, lainnya)?
  5. Tiga hal mana sajakah yang menurut pertimbangan Anda menjadi aspek-aspek yang paling kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan hubungan antarsesama yang bersifat sekunder?
  6. Apa yang menurut Anda menjadi hubungan cinta antarsesama yang bersifat ideal?
  7. Nasihat apakah yang hendak Anda berikan—berdasarkan pengalaman Anda—kepada orang yan hendak memasuki hubungan antarsesama yang sifatnya primer?

Satu pemikiran pada “Survai Sederhana

  1. According to Eric Fromm, love is the only satisfactory answer to the problem of human existence, and yet most people have very luttle understanding of the nature of love.
    Is love an art? Then it requires knowledge and effort. Or is love a pleasant sensation? There is anything that needs to be learned about love.
    And in my opinion, love is something inside the human beings that moves them to do good things in life. So love is inside of everyone and to be given to others. Love is pure and honest. Love has power to eliminate hatred, anger or resentment. And it is not called love untill you do. Some people looking for love by finding special person to live with. We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person, perfectly.

    Some says ; THE GREATEST THING THAT CAN HAPPEN TO YOU IN THIS WORLD IS TO LOVE AND BELOVED IN RETURN

    The fact is that it doesn’t work that way, many times. For example, parents love children but not in return or a person cheating on his/her couple. If a person say that he/she loves someone but cheating or not being honest, it’s a lie.

    We may loved the wrong person, we may have cried for the wrong reason but no matter how things go wrong, our mistakes keep us to become a better person.
    Let God guide us to love others, to find true love and to to find the right person to be loved.

    Thank you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s