Mitos tentang Cinta

Dan kita telah tertipu oleh cerita-cerita dongeng.”

Anais Nin

“Fallen myths can distill venom.”

Denis De Rougemont

“Dan mereka hidup berbahagia selama-lamanya.” Kita sering kali terperangkap dalam propaganda media massa yang menggambarkan kehidupan para artis dan selebritis sebagai kehidupan yang penuh pesona, penuh tawa dan kegembiraan, diliputi suka cita dan kebahagiaan. Penggambaran oleh media massa dilakukan sebegitu rupa sampai kita beranggapan bahwa masalah yang menyertai kehidupan akan berakhir dengan sendirinya pada saat seseorang yang sedang jatuh cinta memutuskan untuk hidup bersama dengan orang yang ia cintai. Kita lupa bahwa kehidupan nyata banyak kali lebih kejam dari khayalan mengenai cinta.

Kalaupun kita menyadari bahwa cinta, kebahagiaan dan pesona kehidupan sebagaimana digambarkan media seringkali dilebih-lebihkan, banyak dari kita yang tetap merasa kesulitan untuk mempercayai mitos semacam ini. “Dan mereka hidup berbahagia selama-lamanya, “ menurut Joshua Liebman, “merupakan salah satu kalimat yang paling menyedihkan di dalam tulisan-tulisan.” Kalimat ini disebut menyedihkan karena ia menggambarkan secara keliru hakikat kehidupan dan cinta itu sendiri. Celakanya, “kekeliruan ini telah menggiring banyak generasi manusia untuk mengharapkan sesuatu dari eksistensi manusia yang terasa sulit didapatkan di dunia yang rapuhm dan tak sempurna ini, “demikian Liebman.

Saya sangat kaget pada saat menyaksikan John Callaway mewawancarai Helen Hayes. Pada usianya yang ke-82, Hayes tampak begitu mempesona di rumahnya yang asri di New York. Kebanggaan nampak dari wajahnya yang melukiskan seorang pribadi yang telah memenangkan kehidupan secara penuh dan bermartabat. Meskipun Callaway menggiring dia ke pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi, Hayes tampak tenang menjawab semuanya, seakan-akan ia tidak terpengaruh dengan semua pertanyaan tersebut. Meskipun demikian, pada saat Callaway meminta dia menceritakan kehidupan perkawinannya dengan Charles MacArthur, penulis terkenal itu, Hayes mulai gugup dan gusar. Ia mengatakan bahwa dirinya bahkan lupa kalau pernah menikmati sebuah hari penuh bahagia dan menyenangkan.Sambil menatap Callaway dalam-dalam, Hayes berkata, “Barangkali aku tak pernah mengalami kebahagiaan dalam seharipun dalam kehidupan perkawinan saya…. Meskipun demikian, ada saat-saat di mana saya mengalami semacam ekstasi yang mendalam.”

Sama seperti Helen Hayes, kita juga mengalami saat-saat kebahagiaan dan ekstasi di dalam hidup kita bersama orang yang kita cintai. Meskipun demikian, harus diakui bahwa pengalaman-pengalaman tersebut seringkali terhalang untuk dialami secara sempurna karena munculnya pengalaman-pengalaman lainnya seperti kesepian, kebingungan, kekecewaan, dan barangkali juga keputusasaan. Mengapa pengalaman kebahagiaan karena mencintai dan hidup bersama orang yang kita cintai seringkali tidak berlangsung lama, dan terganggu oleh pengalaman-pengalaman menyakitkan seperti disebutkan di atas? Anne Morrow Lindbergh menulis:

Pada waktu Anda mencintai seseorang, Anda tidak mencintai dia setiap waktu dengan cara yang sama. Ini sebuah ketidakmungkinan. Bahkan merupakan kebohongan untuk beranggapan bahwa Anda mencintai dia dengan cara yang sama dalam setiap waktu. Inilah yang sesungguhnya terjadi dengan kita. Kita memiliki kepercayaan yang amat sedikit terhadap pasang-surut dan maju-mundurnya kehidupan, cinta, dan persahabatan. Kita meloncat pada waktu terjadi pasang, dan kita bertahan pada waktu surut. Kita ketakutan kalau pasang tidak akan kembali lagi. Kita memaksa sesuatu supaya terjadi secara tetap, lama, dan kontunyu pada saat hanya ada satu kemungkinan kontinuitas dalam kehidupan dan cinta, yakni perkembangan dan kebebasan.”

Tidak mudah hidup bersama dan mencintai orang lain. Supaya bisa melakukan hal ini, kita dituntut untuk memiliki keterampilan-keterampilan khusus dalam mencintai, sama seperti ahli bedah memiliki keterampilan membedah dan pematung memiliki keterampilan mematung. Ini karena kita tidak bisa melakukan suatu hal atau pekerjaanpun secara profesional dan memuaskan kalau kita tidak memiliki keterampilan-keterampilan tertentu yang dibutuhkan. Lagi pula mencintai orang lain tidak hanya menuntut keterampilan. Ia merupakan tindakan profesionalisme. Meskipun demikian, yang terjadi di dalam hidup kita dalah bahwa kita kekurangan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan-pengetahuan dimaksud. Kita merasa jatuh cinta, mencintai kekasih kita, melangsungkan perkawinan dan membentuk keluarga baru, melahirkan dan membesarkan anak-anak, tetapi kita tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk menjadi orang tua yang profesional. Inilah sebabnya mengapa sebuah persahabatan dan kehidupan yang dimulai secara gembira dan menakjubkan, kemudian berakhir secara menyedihkan dan mengecewakan. Karena itu kita seharusnya tidak hean kalau satu dari dua pasangan suami-istri di Amerika Serikat berakhir dengan perceraian. Menyakitkan memang, bahwa menurut Biro Sensus Amerika Serikat, satu per tiga dari anak-anak Amerika Serikat hidup tanpa orang tua kandung. Hidup kita bahkan dikelilingi oleh orang-orang yang kecewa, kesepian, dan putus asa.

Bagaimana kita bisa mencintai orang lain dan hidup dalam kebahagiaan dengan orang yang kita cintai di hadapan kenyataan sosial seperti ini? Kita seharusnya tertantang untuk mempelajari dan memahami situasi tempat kita tinggal. Pemahaman dan pengetahuan kita diharapkan bisa membawa kita kepada keadaan yang lebih damai dan persahabatan yang tak akan pernah berakhir.

Seorang ibu dari Vermont, Amerika Serikat suatu kali menulis surat kepada saya. Di dalam suratnya itu ia menceritakan bahwa kehidupan perkawinannya yang sudah berlangsung selama 18 tahun itu sia-sia belaka, kosong, dan tidak layak untuk diteruskan. Sebagian dari suratnya berbunyi, “Saya tak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan kepada kehidupan perkawinan kami, semuanya telah habis. Saya merasa bahwa saya telah dimanfaatkan selama 18 tahun, dan saya membenci tahun-tahun itu. Kehidupan tampak tak bermakna apa-apa. Saya mengutuk apa yang telah kami peroleh di dalam kehidupan perkawinan kami. Hidup kami tidak membawa kami ke satu tempat pun, menyita segalanya, dan meninggalkan tak satu hal pun yang pantas dibanggakan.”

Lain lagi kesaksian seorang suami dari Texas. Ia bercerita bahwa dirinya bahkan tidak tahu secara pasti apa yang telah menimpah kehidupan perkawinannya. Orang itu menulis, “Saya tentu saja mencintai istriku pada waktu kami menikah. Pada awalnya saya selalu mengingat dia hampir di setiap saat kehidupanku, tetapi aku semakin bosan bersamaan dengan pertambahan usia perkawinan kami. Tidak ada lagi kejutan-kejutan. Tidak tampak lagi keceriaan, lelucon, dan tawa ria. Kami tak merasa sesuai hari demi hari, akhirnya saya merasa tidak suka berada bersama istriku. Saya tidak suka pulang ke rumah. Perasaan ini semakin bertambah kuat setiap tahun. Saya mengingat istriku hanya pada saat kakiku menginjak pintu rumah kami.”

Seorang wanita setengah baya berkata kepadaku pada saat mengikuti salah satu kuliah yang saya berikan, “Saya tak memiliki sahabat lagi. Saya tidak tahu kemana sahabat-sahabatku pergi. Saya tidak tahu harus melakukan apa. Hal yang bisa saya ketahui adalah bahwa saya tidak memiliki siapa-siapa untuk bisa kuajak bicara. Tak seorang pun yang bertanya tentang keadaanku atau menyurati aku. Tak seorang pun yang bahkan menganggap aku sebagai orang yang layak disahabati. Apa yang terjadi dengan keluargaku adalah bahwa mereka tinggal menyebar di seluruh negara. Dan saya takut kesepian.”

Baru-baru ini muncul sebuah iklan pelayanan jasa di sebuah koran di Kota Los Angeles. Iklan itu menawarkan sebuah agen yang menyiapkan seorang sahabat yang akan datang dan menjadi “teman” pada waktu kesepian, membelai orang pada waktu ia menangis, bahkan menyertai orang menjelang kematian. Dan “sang sahabat” itu akan terus menjadi “milik” kita kalau kita terus membayar dia dengan uang yang cukup. Saya juga tahu seorang ibu setengah baya yang pada waktu senggangnya suka menekan telepon informasi sekedar untuk mendengar suara orang yang menyapa dirinya. “Paling tidak ada suara yang bisa menyapa dan berbicara kepadaku, “kata ibu itu. Saat ini suara dari operator telepon dan informasi bahkan bisa dikomputerisasi. Dengan demikian, sahabat yang dimaksud hanyalah sebuah mesin penjawab.

Demikianlah banyak surat terus saya terima, dan semuanya bercerita tentang peng-alaman kesedihan, kesepian, keputusasaan, dan pengalaman-pengalaman menyedihkan lainnya. Semuanya ini menyentuh satu tema pokok yang sepantasnya kita bahas: “Bagaimana saya seharusnya membentuk sebuah persahabatan dan merawatnya supaya bertumbuh dan berkembang?”

Sebuah Cerita tentang Saling Mencintai

Saya ingin memulai pembahasan ini dengan membagi pengalaman saling mencinta yang dihidupi oleh kedua orang tua saya. Saya percaya bahwa pengalaman ini juga terjadi dengan dan dihidupi oleh banyak pasangan suami-istri di dunia. Hanya ada satu harapan yang bisa kita petik dari cerita ini, semoga kita bisa menemukan cara kita sendiri dalam mencintai orang lain.

Ayah saya dilahirkan di sebuah desa di Piedmonte, perbatasan Italia dan Gunung Alps Swiss pada tahun 1888. Desa kelahiran ayahku sebegitu kecilnya sehingga nyaris tidak dikenal di Italia. Ibuku dilahirkan pada tahun yang sama di sebuah kota kecil, hanya beberapa kilometer dari desa ayahku, tetapi masih di daerah Piedmonte. Pada waktu mereka dilahirkan dan bertumbuh, daerah Piedmonte terkenal sebagai pengahasil anggur, dan bata merah untuk membangun rumah. Desa-desa di Piedmonte umumnya kecil-kecil dan dihuni oleh anggota masyarakat yang saling mengenal secara baik. Meskipun dua perusahaan terkenal, Olivetti dan Fiat telah beroperasi di daerah ini dan merubah ekonomi dan lingkungan sekitar, desa-desa di sana tidak jauh berkembang. Sanak saudaraku hidup di dalam rumah yang sama di mana Tulio dan Rosa (ayah dan ibuku) dilahirkan. Yang berubah adalah mereka sekarang telah menikmati terang listrik. Pintu rumah pun telah diganti dengan papan yang baik, jendela rumah juga telah dilengkapi dengan kawat nyamuk.

Meskipun tingkat pendidikan kedua orang tuaku hanya SLTP, mereka menimba pengetahuan dari kerajinan membaca. Karena itu ibuku bisa mengutip secara tepat tulisan-tulisan D’Annuncio dan Dante. Bacaan kesukaan ibuku adalah karya klasik Manzoni berjudul I Promessi Sposi (Janji Suami Istri). Dari buku inilah ibuku sering mengutip kata-kata bijak yang digemarinya. Ia juga menyenangi opera, terutama Puccini, dan Mimi adalah tokoh kegemarannya. Ibuku tak henti-hentinya mendendangkan lagu-lagu untuk mengantarku tidur. Rambut panjang ibuku digelung di belakang kepalanya. Ia mengenakan tusuk konde Spanyol yang terbuat dari sejenis kerang. Meskipun pendek, ia adalah wanita yang cantik, yang memiliki mata yang lebar dengan letak biji mata yang agak mendalam. Dari matanya saya sering melihat tatapan kegembiraan atau kesedihan. Ia sangat sering tertawa dan menyenangi makan. Kerakusannya ada pada Tulio (suaminya), makanan, manisan, dan anak-anak.

Ayahku berperawakan tinggi, berambut hitam, bermata hitam (gelap) dengan kumis dan jenggot yang dibiarkan lebat. Ia seorang pekerja keras. Ia bekerja agar kami terbebas kemiskinan yang melanda banyak orang pada waktu itu. Meskipun sibuk, ayahku selalu memiliki rasa humor, cinta, dan kehangatan.

Di kota kelahiran ibuku terdapat sebuah pabrik. Banyak warga desa bekerja di pabrik tersebut, termasuk ibuku yang bekerja sebagai pemintal. Sementara ayahku adalah seorang mandor di pabrik tersebut. Perkawinan mereka telah direncanakan secara saksama. Meskipun hampir setiap hari mereka bersama-sama di pabrik tersebut, ibuku yang pemalu itu tidak berani menatap wajah ayahku. Lazimnya kaum lelaki, ayahku tentu saja sering memandangi ibuku. Ayahku yang mengatur dan merencanakan segala hal mengenai hubungan dan perkawinan mereka. Dan ini ia lakukan dengan perantaraan sanak keluarga yang lebih tua.Baru pada saat kedua belah pihak telah menyetujui keinginan ayah untuk memperistri ibuku, ayahku diajak ke rumah orang tua ibuku untuk sebuah makan malam. Ibuku hadir waktu itu, tetapi tidak pernah berada sendirian bersama ayahku. Bila ayahku datang ke rumah, ibuku sibuk memasak, melayani, dan membersihkan rumah. Tidak ada kontak mata, apalagi fisik dengan ayahku. Ibuku sangat pemalu sampai ia tidak berani menatap wajah calon suaminya selama periode awal pacaran mereka. Meskipun teman-teman di pabrik meyakinkan ibuku bahwa calon suaminya sangat ganteng, ibuku tetap tidak berani menatap wajah ayahku samapai pada saat mereka menikah. Dan ibuku berpendapat bahwa ia telah melakukan hal yang terbaik bagi hidup dan perkawinannya.

Ayahku seorang petualang. Ia bahkan berkeinginan untuk memperbaiki kehidupan istri dan anak-anaknya di benua lain. Kebetulan pada waktu itu tersebar berita bahwa Benua Amerika menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Ayahku bercita-cita untuk merantau ke Amerika suatu saat nanti. Rosina ibuku melahirkan anak mereka yang pertama, Vincenzio di Italia. Pada tahun 1908 ayahku berkesempatan untuk mewujudkan impiannya, merantau ke Amerika. Di benua baru inilah anak-anak mereka lainnya, Margarita, Carolina, dan Felice lahir. Mereka memiliki delapan orang anak.

Kehidupan perkawinan orang tuaku berlangsung sampai 63 tahun. Ibuku lebih dahulu meninggal dunia pada tahun 1970. Ayahku menyusul ibuku tiga tahun kemudian. Apakah mereka berbahagia? Barangkali kebahagiaan yang tidak sempurna, tetapi saya yakin mereka cukup berbahagia. Mereka tidak menghidupi perkawinan seperti para selebriti dan bintang yang penuh publikasi dan topeng. Mereka hidup secara alamiah sebagai suami istri. Ada banyak saat di mana mereka tertawa dan menikmati kehidupan, dan ada saat-saat saya melihat mereka menangis. Saya melihat mereka berusaha mengatasi kemiskinan dan kesulitan hidup, tetapi saya juga melihat mereka merayakan kemenangan dalam hidup. Saya melihat mereka beradu arrgumen dan saling meneriaki, tetapi saya juga melihat mereka mempraktikkan kelembutan, perhatian, dan cinta. Tidak pernah saya mendengar mereka mempertanyakan mengapa mereka menjadi suami istri. Perceraian? Ibuku pernah berkata, “Tidak pernah ada perceraian dalam hidup kami. Perbedaan pendapat sering kali terjadi, tetapi perceraian tidak pernah!” Kedua orang tuaku telah mengajariku upaya yang paling realistis dalam membina hubungan penuh cinta antarsesama. Persekutuan hidup suami istri mereka kurasakan sejak kelahirannya, dan dari persekutuan hidup inilah saya mendapatkan kekuatan hidup. Inilah persekutuan hidup yang telah menjadi bagian dari hidupku, keluargaku, keluarga anak-anakku dan teman-teman mereka. Persekutuan hidup suami istri dari orang tuaku telah menjadi model pertama bagi hubungan cintaku.

Mengatasi Mitos

Tidak ada proses mengada atau menjadi tanpa persahabatan. Sebagai manusia, kita tidak bisa berkembang secara wajar tanpa adanya hubungan dengan orang lain. Sejak dilahirkan kita menunjukkan diri sebagai makhluk yang paling membutuhkan pertolongan orang lain. Kita tergantung pada ibu kita, orang-orang di sekitar kita, lingkungan kita, sampai kita betul-betul mandiri. Sama seperti laba-laba yang merangkai sarangnya, kita belajar untuk merajut pola hidup kita bersama orang lain. Sebagai orang yang telah mandiri sekalipun, kita tetap membutuhkan persahabatan dan hubungan dengan orang lain.

Kiranya benar bahwa kebertahanan hidup kita sejak awal ditentukan oleh keberhasilan kita dalam membina persahabatan. Pada saat kita masih bayi, kita bisa menjadi psikosis, idiot, bahkan mati kalau kita menolak cinta dan perhatian orang lain. Sebagai orang dewasa, kita tetap menunjukkan “ketergantungan” hubungan cinta dengan orang lain ini. Kita belajar untuk mengungkakan cinta dan kegembiraan, kesedihan dan derita bersama orang lain. Kita akan menyadari “ketergantunan” dan pentingnya membina hubungan cinta dan persahabatan dengan orang lain pada saat pengalaman ketercerabutan dari sahabat menimpah kita, seperti saat kematian, perceraian, dan perpisahan dengan teman yang akan bepergian jauh. Demikianlah, akan menjadi hal yang aneh, kalau kita terus menerus hidup dalam kondisi yang semakin menjauhkan kita dari para sahabat, padahal kita tahu bahwa kita tidak bisa hidup tanpa mereka.

Sama seperti banyak dari antara kita, saya mengahayati kehidupanku sebagai proses yang tiada hentinya mencintai dan membangun persahabatan dengan orang yang saya cintai, dan melihat orang yang saya cinta, para sahabat saya melakukan hal yang sama. Demikianlah, semua orang yang dengannya saya bertumbuh, sanak-saudaraku, istri dan anakku, dan para sahabatku, kami membentuk persahabatan yang tak akan pernah berakhir. Mereka semua tetap menjadi bagian yang vital dari hidupku.

Ada saat-saat dalam hidupku di mana saya merasa gagal dalam membinan persahabatan. Dan saya mulai mengenang semua sahabat saya yang pernah hadir dalam hidupku. Dengan begitu saya menjadi tahu mengapa persahabatan kami gagal. Di manakah mereka sekarang? Apa yang sedang mereka lakukan? Mengapa saya tidak mampu mempertahankan persahabatan kami? Saya juga mengingat keberhasilan-keberhasilan persahabatan kami, orang-orang yang pernah datang dan membantu hidupku, tetanggaku di Los Angeles Timur yang suka memberi kami makanan pada saat kami kekurangan makanan di rumah, teman-teman bermainku, dan sebagainya. Sungguh pengalaman hidup yang menyenangkan.

Pengalaman persahabatan yang menyenangkan seperti ini hampir tidak ditemukan lagi di dalam kehidupan masyarakat urban sekarang. Tembok-tembok rumah, bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, kemajuan sarana komunikasi, telah mengasingkan kita satu sama lain. Allan Fromme dalam bukunya The Ability to Love dengan bagus melukiskan keadaan ini, katanya:

Kota-kota kita dengan penduduknya yang membludak dan tembok-tembok bangunan yang kokoh telah menjadi tempat yang menyakitkan bagi terjadinya kesepian. Hidup bertetangga menjadi kerdil dan lenyap ditelan buldoser dan mesin pengeruk tanah yang membangun perumahan-perumahan. Sanak saudara terpisah dan tinggal saling berjauhan karena pekerjaan dan profesi. Dunia tradisional yang ditandai oleh kehadiran kelompok-kelompok kecil yang saling mengenal dan mencintai telah lenyap dan sirna.

Pasar dan supermarket tempat kita berbelanja pun tidak lagi menjadi tempat dan kesempatan bagi kita untuk berelasi dengan sesama. Tidak seperti penjual susu murni atau abang tukang sayur yang mengenal hampir semua pelanggan dan anak-anak mereka, pasar dan supermarket sekarang telah berubah menjadi tempat yang sangat impersonal. Masyarakat juga berpindah secara cepat dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada umumnya kita lebih memiliki untuk menjaga privasi kita, dan itu berarti membangun rumah dengan tembok-tembok yang tinggi. Kita tidak mengenal tetangga kita. Kita bahkan merasa lebih nyaman kalau semakain mengisolasi diri dari persahabatan dengan orang lain. Kita khawatir jika orang lain masuk dan membagi hidup kita.

Sebuah pengalaman yang menyedihkan terjadi beberapa waktu lalu ketika diberitakan bahwa seorang pemuda ditemukan mati di apartemen kampusnya di Universitas Miami. Mayatnya baru diketemukan setelah dua bulan. Tidak ada teman-teman atau tetangga atau sanak saudara yang merasa kehilangan dirinya.

Kita tidak lagi turut berpartisipasi dalam ronda malam dan menjaga keamanan lingkungan. Keamanan sekarang berarti mempercanggih sistem alarm, memperkuat barisan satpam, dan memperkuat rumah kita sebegitu rupa sampai kita yakin bahwa begitu kita memasuki halaman rumah kita, tak seorangpun yang akan sanggup menggangu hidup kita. Kesempatan untuk bertemu dan berelasi dengan sesama sudah sedemikian jarang dan menghilang. Kita bahkan telah merasa kesulitan untuk berhubungan dengan orang. Kita barangkali punya teman di tempat kerja, tetapi mereka bukanlah tetangga kita. Kita hanya bertemu selama jam kerja, dan setelah itu kita bergulat dengan hidup kita masing-masing. Bagaimana mungkin kita bisa membangun sebuah persahabatan yang bermakna dan penuh cinta kalau kesempatan untuk berelasi dengan orang lainpun semakin sulit kita temukan? Kita bahkan tidak punya kepekaan lagi terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Cara hidup yang demikian, disadari atau tidak, telah mengekalkan pengalaman kesepian, kekosongan dan ketakbermaknaan hidup, isolasi diri, dan sikap acuh tak acuh.

Persahabatan yang penuh cinta memang merupakan hal yang penting dan perlu bagi kehidupan, sama seperti kesehatan dan pertumbuhan. Meskipun demikian, membina persahabatan penuh cinta menuntut keterampilan khusus. Sebelum kita mulai membina persahabatan penuh cinta, sebaiknya kita terlebih dahulu memperluas pandangan dan pemikiran kita mengenai bagaimana sebuah persahabatan bisa terbina, apa yang dimaksud dengan persahabatan dan mengapa kita percaya bahwa persahabatan bisa memperkaya, tetapi juga bisa merusak hidup kita. Kita bisa membina persahabatan ini kalau kita berani belajar dari kegagalan hubungan kita seraya memupuk dan mengembangkan keberhasilan-keberhasilan yang telah kita capai. Persahabatan penuh cinta tidak bisa diterima secara enteng. Banyak dari kita selalu gagal dalam membina hubunan persahabatan penuh cinta ini karena tidak pernah mau belajar mengenai bagaimana mencinta, tidak pernah belajar dari pengalaman kegagalannya, dan tidak pernah berkaca pada keberhasilan-keberhasilannya.

Tentang pentingnya belajar untuk mencintai ini, Carl Rogers berkata:

…..meskipun perkawinan modern sekarang ini telah menjadi laboratorium yang menakjubkan, mereka yang melangsungkan perkawinan melakukan hal ini dengan tidak melalui persiapan yang memadai untuk berperan sebagaimana mestinya dalam kehidupan rumah tangga mereka. Bayangkan, berapa besarnya penderitaan dan kekecewaan dalam hidup perkawinan bisa dihindari kalau itu dilakukan dengan persiapan yang matang sebelum seseorang memasuki hidup perkawinan.

Kata-kata Carl Rogers ini tidak hanya berlaku bagi kehidupan perkawinan, tetapi juga bagi semua jenis persahabatan yang hendak kita bangun dalam hidup.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s