KISAH BURUNG GAGAK

Alkisah terdapat sekelompok burung gagak yang hidup rukun dan damai, seia-sekburung gagakata baik dalam mencari makanan maupun dalam kehidupan komunitas sehari-hari. Suatu hari terlahir ke dalam komunitas burung gagak ini seekor anak burung gagak yang berbulu putih. Apakah ini sebuah penyimpangan mengingat berbulu hitam telah menjadi semacam “identitas” bagi komunitas ini. Yang jelas, semula komunitas ini belum menyadari kejadian ini sebagai penyimpangan ataupun ancaman serius bagi eksistensi komunitas.

Suatu hari, tatkala kawanan burung gagak ini sedang berburu makanan ke sebuah desa terdekat, mereka bertemu dengan sekelompok pemburu burung yang sedang mencari mangsa sambil menenteng sejata api di tangan. Dalam keadaan di mana ada bahaya di depan mata mereka baru menyadari bahwa teman mereka yang berbulu putih ternyata menjadi ancaman bagi keselamatan seluruh komunitas. Berbulu putih di antara komunitas gagak berbulu hitam tidak hanya menjadi sasaran bidik bagi para pemburu burung karena mudah dilihat, tetapi juga membahayakan eksistensi komunitas sedara keseluruhan.

Insya Allah, untuk sementara mereka lolos dari serangan musuh. Meskipun demikian, sebuah masalah serius yang menuntut pemecahan yang segera telah muncul ke dalam komunitas ini. Apa yang harus mereka perbuat dengan teman mereka yang berbulu putih itu? Setelah melalui sebuah perdebatan yang melelahkan akhirnya diputuskan bahwa teman mereka itu harus diusir dari komunitas. Mereka yakin bahwa mengorbankan seorang teman yang berbeda “hakikat” justeru menjadi jalan sati-satunya bagi pembebasan dari kemungkinan musnahnya komunitas. Mereka rupanya memegang prinsip dasar, bahwa lebih baik satu orang mati daripada seluruh masyarakat menjadi binasa karenanya.”

Entah mengapa, di komunitas pada domba yang tidak jauh dari situ juga terjadi hal yang kurang lebih sama. Ke dalam komunitas domba yang berbulu putih lahirlah seekor anak domba berbulu hitam. Hal yang terjadi pada komunitas burung gagak terjadi juga pada komunitas domba. Demikianlah, dengan berat hari pada domba akhirnya mengusir teman mereka yang memiliki perbedaan “hakikat” tersebut.

Ketika kedua mahkluk yang malang itu sedang meratapi nasib mereka, keduanya justeru dipertemukan. Pertemuan tersebut membuahkan kesepakatan untuk hidup bersama. Maka terbentuklah sebuah komunitas buangan, komunitas burung gagak dan domba yang malang karena memiliki perbedaan dibandingkan dengan komunitas asali mereka.

Apakah komunitas buangan ini akan bertahan lama? Tampaknya tidak. Keduanya menyadari bahwa ternyata dunia mereka berbeda, dunia yang memiliki nilai-nilai dan pandangan hidup yang khas dan berbeda. Kesadaran yang meresahkan ini tampaknya hanya dapat diatasi dengan kembali ke dunia atau komunitas asali mereka. Tetapi apakah ini mungkin? Bukankah mereka telah dieksklusikan karena dianggap membahayakan eksistensi komunitas? Seraya merenung dan mencari jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini mereka melewati sebuah pabrik cet. Tiba-tiba saja burung gagak mendapat idea dan mengusulkan kepada domba temannya itu supaya mereka mengecet bulu mereka. Domba hitam itu setuju sehingga dalam waktu singkat mereka telah mengubah bulu mereka menjadi seperti warna bulu dari komunitas asali mereka. Sesudah itu mereka berpisah dan kembali ke komunitas mereka masing-masing mengenakan sebuah “identitas” baru.

Sialnya, mereka ditimpa hujan lebat dalam perjalanan pulang ke komunitas asalai itu. Meskipun demikian, perjalanan pulang tidak mereka hentikan. Dengan hati penuh cemas mereka semakin mendekati komunitas asali mereka. “Akankah saya ditolak lagi? Kemanakah saya akan pergi?” Di luar dugaan, ternyata mereka diterima kembali. Konon ketika mereka dieksklusikan dari komunitas, muncul kesadaran bahwa pembuangan itu tidak baik, dan bahwa tanpa kehadiran anggota komunitas yang berbeda itu ternyata telah menimbulkan perasaan incompletenes yang mendalam. Maka kembalinya teman mereka yang dulu dieksklusikan itu justeru menjadi peristiwa yang dirayakan. “Engkau adalah bagian dari kami, bagian dari komunitas burung gagak berbulu hitam dan putih. Kita sama-sama telah membentuk komunitas burung gagak” (tanpa embel-embel putih dan hitam). Demikian pula hanya dengan komunitas domba.

Cerita ini bersifat inspiratif untuk menerangkan banyak hal, mulai dari persoalan rekonsiliasi dan pluralitas dalam sebuah masyarakat multikulur sampai kesadaran akan pentingnya menghormati hak-hak kaum minoritas dalam sebuah civil society dan sebagainya. Dalam konteks perbincangan kita mengenai diri (self) menurut Charles Taylor cerita ini sengaja saya tuturkan dengan maksud untuk menonjolkan satu hal penting yang sekaligus akan menjadi sorotan kita. Hal itu adalah bahwa diri (self) selalu dipahami dalam konteks sebuah komunitas, jadi dalam relasi antara subjek (diri) dengan orang lain, dalam sebuah proses ambil bagian sebagai lawan bicara di dalam sebuah percakapan di dalam komunitas tertentu. Dan bahwa di dalam konteks komunitaslah diri yang dipahami sebagai yang selalu “on a quest” terus mempertanyakan tujuan-tujuan ultim hidupnya, yakni kebahagiaan. Dan bahwa komunitas tersebut bukanlah sebuah komunitas netral, tetapi sebuah komunitas yang telah memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang dapat membantu diri dalam merealisasikan dirinya secara total. 

Cerita ini dikisahkan ulang secara bebas berdasarkan versi aslinya berjudul The White Raven and The Black Sheep, written and illustrated by Eugen Sopho, North-South Books, NY., 1991 (translated into English by Helen Graves).

2 pemikiran pada “KISAH BURUNG GAGAK

  1. Hi there, just became aware of your blog through Google, and found that it
    is really informative. I am gonna watch out for brussels.
    I will appreciate if you continue this in future.
    Lots of people will be benefited from your writing. Cheers!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s