KETIKA KRISIS MORAL MENDERA KITA

Masyarakat bereaksi cukup keras terhadap beberapa skandal moral yang menimpa para pejabat dan tokoh publik kita. Mulai dari reaksi terhadap skandal korupsi—yang semakin lama semakin melemah dan tidak jelas penanganannya—sampai skandal video mesum atau bahkan praktik perceraian dan poligami. Kalau dibaca secara objektif, reaksi masyarakat yang memprotes, mengecam, atau menolak skandal-skandal tersebut didasarkan pada tatanan moral dasar tertentu yang menjadi patokan hidup sehari-hari. Harus diakui, masyarakat umumnya berharap agar nilai-nilai moral dan pandangan-pandangan agama yang dianut dapat dipraktikkan secara konsekuen oleh setiap individu, termasuk para pejabat dan tokoh publik (Bdk kegundahan seorang Prof. Dr. A. Syafii Ma’arif dalam wawancara dengan Media Indonesia, 12 Februari 2007).

Harus diakui, semakin masyarakat bereaksi dan menunjukkan ketidaksenangan, skandal-skandal moral sepertinya terus saja dilakukan tanpa rasa bersalah. Kenyataan semacam ini menimbulkan pertanyaan seputar tingkat akseptabilitas terhadap nilai-nilai dan norma-norma moral yang berlaku selama ini. Orang bisa saja bertanya, “Ada apa dengan moralitas kita?” “Apakah para pejabat dan tokoh publik kita memiliki patokan moral tersendiri yang berbeda dengan yang ada dalam masyarakat?” Atau, jangan-jangan para pejabat dan tokoh publik tidak perlu diatur oleh norma-norma moral tertentu.      Kemungkinan bahwa para pejabat publik berada di luar wilayah moralitas (beyond moral sphere) tampaknya sulit diterima, karena sejauh ini selalu ada sanksi terhadap skandal-skandal moral yang dilakukan pejabat dan tokoh publik. Katakan saja sanksi-sanksi administratif seperti recall dan pemecatan dari partai politik atau jabatan sampai hukuman penjara. Kenyataan ini sekaligus menepis anggapan bahwa tindakan atau perilaku tidak bermoral dilakukan karena faktor ketidaktahuan (ignorance) pelaku moral (moral agent) akan benar salahnya sebuah tindakan.

Jika bukan karena faktor ketidaktahuan, mengapa para pejabat dan tokoh publik kita terus saja melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral? Berbagai jawaban dapat saja dikemukakan, mulai dari mencari popularitas, mengekspresikan kekuasaan atau mungkin pemberontakan terhadap nilai moral dasar tertentu yang dirasa membelenggu. Dari kaca mata filsafat moral, beberapa skandal moral yang terjadi di negara kita dapat dibaca sebagai krisis atau pendangkalan (triviality) moralitas individu.      Kita bisa saja sepakat dengan John Rawls yang mengatakan bahwa masing-masing kita adalah “pribadi moral” (moral person) yang memiliki kepekaan dan kesadaran tertentu terhadap nilai-nilai moral (dalam Peter Singer, 1979: 16-17). Faktor sebagai pribadi moral (moral person) inilah yang membuat kita berani mengkritik atau mengecam tindakan-tindakan tidak bermoral yang terjadi dalam masyarakat. Alasannya, setiap pribadi moral yang rasional seharusnya berperilaku berdasarkan pengertian yang tepat mengenai yang baik dan buruk secara moral. Dalam arti ini kita sebenarnya juga sepakat dengan pemikiran Aristoteles mengenai pentingnya pengertian yang tepat dalam menggerakkan dan mengarahkan setiap perilaku moral kita (Franz Magnis-Suseno, 1997: 37).

Masalahnya adalah pengertian yang tepat mengenai yang baik dan buruk secara moral tidak menjadi jaminan seseorang akan bertindak baik secara bermoral. Para pejabat dan tokoh publik yang melakukan skandal moral di republik ini bukan tidak memiliki pengertian yang tepat mengenai moralitas. Mereka sangat mengetahui nilai dan norma moral yang berlaku dalam masyarakat. Apalagi mereka adalah orang-orang beragama di mana ajaran agama selalu mendukung dan memperkuat nilai-nilai moral dasar yang berlaku dalam masyarakat. Kalau begitu, di mana letak permasalahannya?

Mengandaikan bahwa setiap individu adalah pribadi moral (moral person) yang rasional adalah penting dan perlu, antara lain supaya tuntutan justifikasi tindakan moral dapat diajukan. Pengertian yang tepat tentang yang baik dan buruk secara moral pun sama pentingnya, karena itu tidak mudah untuk dihilangkan begitu saja. Yang kurang dihayati oleh manusia dewasa ini—dan ini sekaligus menjadi krisis moralitas dalam dunia modern—adalah semakin melemahnya karakter individu untuk berkembang dan bertumbuh secara lebih mendalam (in depth) dan mengakar. Kita seringkali lupa bahwa untuk dapat bertindak benar secara moral, seseorang dituntut tidak hanya mengetahui manakah tindakan-tindakan yang benar atau salah secara moral, tetapi juga “membiarkan dirinya diarahkan dan dibimbing oleh kebenaran-kebenaran moral tersebut” (Charles Taylor, 1989: 28). Dan itu butuh tekad (commitment) dan kehendak (will) untuk terus mengevaluasi diri dan menjadi otentik dengan terus mengkritik kekurangan dan memperteguh kemampuan diri, dan bertekad untuk selalu memperbaiki diri.

Dalam bahasa yang lebih teknis-filosofis, ini adalah sebuah proses yang mengarah ke dalam diri sendiri, menekuni dan mengenal diri sendiri, dan dengan sadar terus membentuk diri sebagai seorang pribadi moral (moral person). Anehnya, justru proses seperti inilah yang ingin dihindari para pejabat publik dan politisi kita. Alih-alih memperkuat karakter moral pribadi, mereka lebih suka menjadi pribadi yang dangkal dan artifisial, mementingkan pengakuan sosial dan dukungan publik, memprioritaskan penampilan dan kesan publik (pencitraan), serta mengejar sejumlah pengakuan sosial lainnya. Mereka sepertinya beranggapan bahwa menjadi diri sendiri dan memperkuat karakter moral pribadi supaya perilakunya bisa diarahkan oleh nilai-nilai moral dasar adalah pilihan yang terlalu menuntut (demanding) dan tidak menguntungkan secara ekonomi atau politik. Modernitas memang mengajarkan orang untuk menjadi dangkal, munafik, gila hormat, haus kuasa, dan mengejar keuntungan ekonomi dan politik setinggi mungkin tanpa harus mempedulikan nilai dan norma moral yang ada. Tetapi, apakah kita harus mempersalahkan modernitas?

Karena itu, kalau kemudian kita harus memaknakan skandal-kandal moral yang sedang terjadi dalam masyarakat dewasa ini, yang harus ditegaskan adalah pertama, tindakan-tindakan tidak bermoral terjadi ketika orang menghindari proses menjadi diri sendiri dengan sejuta komitmen untuk membiarkan diri dikuasai dan diarahkan oleh nilai-nilai moral ideal. Kedua, perilaku-perilaku tidak bermoral terjadi letika dunia menyediakan segala fasilitas dan sarana yang dapat menghalangi proses pembentukan karakter moral pribadi, entah itu dalam bentuk kekayaan, kemajuan teknologi, kenikmatan gaya hidup, dan sebagainya.

Skandal-skandal moral akan terus terjadi di republik ini kalau seluruh proses pendidikan serta sosialisasi nilai dan norma gagal membentuk katakter pribadi yang kuat secara moral, yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai moral dasar yang dianutnya dan tidak kompromistis terhadap keadaan yang dihadapi. Pendidikan karakter dengan menginduksikan nilai-nilai moral dasar yang telah menjadi golden rule seperti menepati janji, konsekuen, jujur, dan adil dalam sebuah pengalaman belajar akan sangat membantu pembentukan karakter moral pribadi. Sementara itu, sanksi-sanksi sosial terhadap pelanggaran nilai dan norma yang tidak sebatas pada penegakan hukum positif, tetapi juga penolakan masyarakat terhadap eksistensi para pelaku tindakan tidak bermoral dapat menjadi sebuah pengalaman belajar yang penting dalam pembentukan pribadi moral (moral person).

Dengan begitu kita berharap bahwa pembentukan karakter moral pribadi perlahan-lahan mengarah kepada pembentukan karakter moral bangsa. Kita berharap bahwa individu-individu yang hidup baik secara moral karena memiliki karakter moral individu akan mempengaruhi karakter moral masyarakat secara keseluruhan. Di sini dibutuhkan keberanian dan tekad yang kuat untuk memulainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s