Diskusi Kelompok

Memang tidak tergolong soleha, tetapi Imel tetap seorang gadis baik-baik. Dia berasal dari keluarga terpelajar yang tinggal di sebuah kota kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ayah dan ibunya lulusan sebuah perguruan tinggi swasta di kota itu. Sebagai anak yang dibesarkan dalam keluarga terpelajar, Imel menyadari betapa pendidikan yang baik mampu menyiapkan seseorang memasuki dunia kerja. Demikian juga yang menjadi keyakinan ayah dan ibunya. Karena itulah, ketika memutuskan untuk kuliah di Jakarta, ayah dan ibu Imel langsung mengizinkan. Lagi pula, mereka tidak khawatir karena di Jakarta Imel bisa tinggal di rumah bibinya yang kebetulan tidak jauh dari kampus. Tentu masa-masa awal tinggal di Jakarta plus berbagai kesulitannya sangat disadari dan diantisipasi Imel dan keluarganya. Kehidupan di Jakarta memang susah-susah gampang. Tidak ada formula yang pasti untuk bisa bertahan hidup. Di tengah kesibukan kuliah, Imel tetap menyibukkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan kepemudaan di gerejanya. Di kelompok itulah dia mengenal Martin, yang ternyata juga kuliah di kampus yang sama. Mulanya biasanya saja, memang, tetapi seringnya mereka bertemu membuat Martin “menaruh hati” pada Imel. Lama menunggu, Martin akhirnya berani mengungkapkan maksud hatinya. Imel menyambut cinta Martin, dan jadilah dua sejoli itu berpacaran. Masa pacaran satu tahun pertama terasa biasa dan standar seperti kebanyak orang lain. Meskipun demikian, cinta antara keduanya semakin dalam bersemi. Imel pun sudah tidak sungkan lagi bertandang ke rumah orang tua Martin. Apalagi Martin pernah mengakui kalau orang tuanya sangat mendukung cinta mereka, bahkan setuju jika suatu saat Imel menjadi bagian dari keluarga mereka. Siapa yang tidak bangga memiliki pacar seperti Martin. Tetapi justru kebanggaan itu yang sekarang menghantui Imel. Masalahnya mungkin sepele bagi orang lain, tetapi tidak bagi Imel. Siang itu Imel bertandang ke rumah Martin. Kebetulan di rumah tidak ada siapa-siapa selain Martin. Di saat itulah segala sesuatu terjadi. Dengan alasan cinta yang tulus, Martin mengajak Imel berhubungan intim. Kalau dipikir kembali, jarak antara ajakan tersebut sampai detik ketika kejadian itu berlangsung sangat cepat terjadi. Tidak ada waktu yang cukup bagi Imel untuk memikirkannya secara matang dan rasional. Antara cinta dan penyerahan diri yang tulus—menurut Imel—pertahanan dirinya pun goyah. Sebagai hiburan, Imel berpendapat bahwa tindakan semacam itu toh tidak asing di kalangan remaja sekarang. Apalagi sudah ada komitmen di antara Imel dan Martin untuk melangsungkan hubungan sampai ke jenjang pernikahan. ”Melakukannya sekarang atau nanti setelah menikah itu sama saja, ”demikian Imel. Meskipun demikian, perasaan bersalah sering datang menghantui bahkan tidak jarang melukai hati Imel. Kekhawatiran akan kegagalan hubungan dan perasaan berdosa selalu menjadi bagian dari rasa penyesalan itu. Diskusikan cerita di atas dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut!

1.      Apakah Imel memang bersalah? Apakah Martin pun bersalah?

2.      Wajarkah tindakan atau perbuatan yang dilakukan Imel dan Martin?

3.      Imel dan Martin cukup taat beragama, tetapi mengapa keduanya mau melakukan hubungan intim sebelum menikah?

4.      Di manakah peran suara hati? Apakah suara hati dapat kita andalkan dalam menghadapi masalah seperti ini?

5.      Apa kiat-kiat Anda ketika berhadapan atau berada dalam masalah yang kurang lebih sama?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s