BAHAYA PURITANISME DALAM PENDIDIKAN KITA

Dave Meier dalam bukunya The Accelerated Learning Handbook (Mizan, Bandung: 2001) menyitir 7 penyakit utama pendidikan Barat yang sejak abad 19 menyerang dunia pendidikan dan yang sekarang sedang disembuhkan. Salah satu dari ketujuh penyakit tersebut adalah puritanisme. Memahami puritanisme sebagai salah satu bahaya dalam pelaksanaan pendidikan di negara kita dapat membantu kita memahami berbagai macam kelemahan dalam dunia pendidikan kita.

Dalam teori pendidikan modern, puritanisme bertentangan dengan 2 prinsip utama pendidikan. Pertama, siswa sebagai shareholders dalam proses pemelajaran. Kedua, pengetahuan yang dicapai dalam seluruh proses pemelajaran bersifat konstruktif. Tulisan ini berusaha menjelaskan puritanisme dalam pertentangannya dengan kedua prinsip utama pendidikan tersebut.

Guru Dengan Tongkat di Tangan

Puritanisme adalah aliran pemikiran kaum protestan ekstrim abad 16 di Inggris. Kelompok ini ingin menyucikan gereja nasional (gereja Anglikan) dengan menyingkirkan sejauh mungkin segala bentuk pengaruh gereja Katolik. Banyak pendeta Anglikan yang lulus dari Universitas Cambridge selama masa kepemimpinan Ratu Elizabeth I menjadi pemimpin-pemimpin gereja yang memelopori doktrinasi teologi kaum puritan yang menempatkan hakikat manusia sebagai buruk secara moral. Karena itu manusia harus tergantung mutlak pada kehendak Allah yang diformulasikan secara legal dan formalistik oleh pemimpin-pemimpin agama.

Semangat kaum puritan ini merasuki dunia pendidikan bahkan sampai akhir abad 19. Karena hakikat manusia adalah buruk secara moral maka pendidikan di sekolah-sekolah harus dilaksanakan secara keras, indoktrinatif, dan penuh kedisiplinan. Dave Meier menganalogikan praktik pendidikan kaum puritan ibarat melatih seekor kuda (2001: hlm. 58). Seperti dalam melatih seekor kuda, seorang anak harus dididik dengan keras supaya ia menjadi jinak (baca: baik secara moral).

Dalam praktik pendidikan semacam ini guru harus bertindak keras dan disiplin. Dengan buku teks di tangan kiri, tangan kanan guru memegang erat tongkat yang siap dihujamkan ke anak-anak yang nakal dan bandel. Para guru seakan dihantui ketakutan anak-anak menjadi nakal dan amoral seperti kata Washington Irving dalam bukunya The Legend of Sleepy Hollow, “Buanglah tongkat, anak pun akan jadi manja.” Guru lalu membuang jauh-jauh pendidikan sebagai proses yang menggembirakan, yang memberi ruang bagi pengetahuan dan pengalaman siswa. Lagu lama School Days yang dilantunkan para siswa di Amerika Serikat sejak tahun 1906 menjadi gambaran praktik pendidikan kaum puritan yang keras, doktrinatif, dan disiplin: “Masa sekolah, masa sekolah, masa-masa yang penuh aturan! Membaca dan menulis dan berhitung, diajarkan seirama dengan ketukan tongkat! (Dalam David Meier, 2001: hlm. 58).

Model pendidikan kaum puritan muncul dalam praktik pendidikan di sekolah-sekolah kita dalam wajahnya yang baru. Hukuman fisik umumnya telah ditiadakan. Meskipun demikian, gaya mengajar (style of teaching) para guru yang indoktrinatif agaknya sulit dihapus. Ini sangat terasa dalam Kurikulum 1994 yang menekankan target pencapaian materi sebagaimana ditetapkan kurikulum. Sistem penilaian (assessment system) yang didesain secara nasional dalam bentuk Ujian Akhir Nasional (UAN) telah memustahilkan guru membebaskan dirinya dari target pencapaian materi pemelajaran tersebut. Akibatnya, anak-anak di-drill untuk menguasai sebanyak mungkin materi yang ditargetkan. Buku-buku teks disusun dengan orientasi kental penguasaan materi sebagaimana ditergetkan.

Para orangtua tidak lebih baik dari guru-guru di sekolah. Seusai sekolah anak-anak dijejali dengan berbagai macam kursus dan les tambahan. Semuanya demi mencapai target sebagaimana ditegaskan kurikulum. Proses pendidikan semacam ini mustahil menjadi pengalaman yang menggembirakan bagi anak-anak.

Dengan menekankan aspek penguasaan kompetensi pada setiap materi pemelajaran, Kurikulum 2004 telah menghapus target pencapaian materi secara kuantitatif. Sistem penilaian pun telah mengalami perubahan yang mendasar dari UAN ke penilaian berbasis kelas. Meskipun demikian, belum ada jaminan bahwa pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah kita tidak bersifat puritan. Harus ada perubahan mendasar, tidak hanya dalam cara mengajar dan mendesain kelas, tetapi juga dalam pemahaman mengenai apa itu pendidikan. Sudah saatnya para guru beralih dari cara mengajar yang sifatnya puritan kepada yang lebih dialogis dengan memberi ruang yang cukup bagi pengolahan pengetahuan dan pengalaman siswa sendiri.

Selain itu, harus diakui pula bahwa buku-buku teks yang dipakai di sekolah-sekolah turut melanggengkan puritanisasi pendidikan kita. Harus diakui bahwa sebagian besar buku-buku teks yang diterbitkan sesuai Kurikulum 2004 belum memberi ruang bagi dialog, share knowledge, dan share experiences para siswa. Desain buku-buku teks semacam ini menyulitkan guru untuk membebaskan diri dari mengajar a la kaum puritan. Ini berarti tidak hanya para guru yang harus mengubah cara mengajar, tetapi juga para penerbit ketika mendesain dan menyusun buku-buku teks pemelajaran. Sudah saatnya buku-buku teks didesain dengan memperhatikan aspek siswa sebagai shareholders dan proses pemerolehan pengetahuan sebagai konstruksi berbagai macam pengalaman, nilai, dan lingkungan sosial-budaya siswa sendiri.

Memperhatikan Dua Prinsip Utama Pendidikan

Menanggapi puritanisme dalam pendidikan, Dave Meier mengusulkan dikembalikannya pendidikan sebagai “pengalaman yang menggembirakan” (2001: hlm. 59). Hal ini hanya mungkin terjadi kalau ada perubahan cara pandang dan praktik pemelajaran di sekolah-sekolah. Tentang hal ini, ada 2 prinsip utama pendidikan yang sekarang ini umumnya diterima dalam proses pemelajaran. Pertama, gagasan bahwa siswa adalah shareholders. H. Jerome Freiberg dan Amy Driscoll memahami gagasan ini sebagai strategi pengajaran dan pemelajaran yang sifatnya reflektif, yakni “strategies that stimulate students to use experiences to discover learning for themselves.” (Universal Teaching Strategies, Allyn and Bacon, USA, 2000: hlm. 305). Menurut kedua ahli pendidikan ini, siswa mampu menemukan cara memecahkan masalah, menjawab pertanyaan-pertanyaan, menarik kesimpulan-kesimpulan, dan bertanggung jawab atas proses pemelajaran mereka sendiri.

Gagasan siswa sebagai shareholders menegaskan bahwa siswa harus dilibatkan secara aktif dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Sekali lagi hal ini berhubungan dengan pengakuan bahwa siswa bukanlah kertas kosong yang siap ditulis guru. Setiap siswa memiliki pengalaman dan pengetahuan awal (prior knowledge) yang memampukan mereka menemukan cara memecahkan masalah mereka sendiri.

Mengikutsertakan siswa dalam perencanaan dan pengambilan keputusan bukanlah perkara yang mudah. Ini menuntut perubahan radikal di pihak guru yang selama ini mengadopsi gaya mengajar kaum puritan. Buku Universal Teaching Strategies yang ditulis Freiberg dan Driscoll adalah satu dari banyak buku yang dapat membantu para guru menerapkan gagasan siswa sebagai shareholders, mulai dari perencanaan materi pembelajaran, pemanfaatan waktu secara efektif, manajemen kelas, sampai langkah-langkah praktis melibatkan siswa dalam perencanaan dan pelaksanaan pemelajaran. Yang lebih penting dari semua ini adalah perubahan cara pandang (shifting of mind) bahwa para siswa memiliki kemampuan memecahkan masalah sendiri. Meski sering mendatangkan ketidaknyamanan di pihak guru, cara pandang semacam ini tidak bisa ditawar lagi.

Kedua, pengetahuan diperoleh secara konstruktif. Gagasan ini berasal dari filsafat pendidikan konstrukktivisme yang menyatakan bahwa siswa dapat secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, dan bahwa realitas yang dihadapi ditentukan oleh pengalaman-pengalaman dan pengetahuan awal para siswa dan bukanlah entitas objektif yang otonom dari dan melampui individu (Stephen N. Elliot dkk, Educational Psychology, McGraw-Hill, USA, 2000: hlm. 256).

Kurikulum 2004 telah memberi ruang yang luas bagi pengalaman dan pengetahuan awal siswa. Beberapa penerbit pun berusaha mengimplementasikan roh kurikulum ini dengan mengikutsertakan advanced organizer, pengamatan sederhana, diskusi-diskusi kelompok, sharing pengalaman, dan sebagainya. Meskipun demikian, praktik pemelajaran di lapangan tampaknya masih menemukan kesulitan-kesulitan. Bagi saya, masalahnya tetap pada kesiapan para guru dalam melaksanakan gagasan-gagasan ini. Jauh lebih mudah dan nyaman mengadopsi gaya mengajar kaum puritan dari pada mengikutsertakan siswa secara aktif dalam seluruh proses pemelajaran. Kalau perubahan cara mengajar menimbulkan ketidaknyamanan, dibutuhkan keberanian untuk berubah.***

3 pemikiran pada “BAHAYA PURITANISME DALAM PENDIDIKAN KITA

  1. Memang untuk suatu masa tertentu, sistem pendidikan yang sifatnya puritan sangat diperlukan. Sistem itu berubah sejalan dengan perubahan paradigma pendidikan itu sendiri, misalnya ketika siswa diposisikan sebagai subjek pembelajaran (student centered learning) atau ketika nilai-nilai kebebasan dan tanggung jawab individu diberi porsi yang cukup dalam praktik pendidikan.

    So, puritanisme memang produk zamannya. Sekarang mungkin lebih baik jika nilai2 puritan dipadukan dengan nilai2 pendidikan liberal, katakan sebagai basis untuk mempertahankan tradisi sekaligus membuka diri bagi modernitas.

  2. Jadi sistem pendidikan sekarang ini adalah warisan abad 19.. wah baru tahu. tapi gimana dong dengan tingkat keberhasilannya? maksudnya dalam kehidupan anak itu kelak. apakah sistem pendidikan lain menjamin keberhasilannya dimasa yad? itulah kenapa banyak ortu yg kawatir, soalnya contoh yang dilihat saat ini adalah keberhasilan seseorang dikarenakan sistem pendidikan yang katakanlah puritan itu tadi.

  3. kebijakan pemerintah tidak pernah melalui survei yang mendasar, kadang lupa bahwa otak semua anak2 indonesia itu tidak sama dan tidak bisa distandarkan… tapi egosentris pembuat udang-undang selalu tidak pernah melihat sisi ini, dan kemampuan siswa juga banyak yang tidak ditunjang fasilitas pendidikan yang memadai, faktanya begitu !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s