Titik tolak pemikiran Gabriel Marcel dalam Man Against Mass Society

Sejak awal buku ini Marcel sudah menunjukkan dengan jelas bahwa pemikiran-pemikirannya adKarya Gabriel Marcelalah melawan semangat abstraksi. “Unsur dinamis dalam filsafat saya, dilihat secara keseluruhan, dapat dilihat sebagai perlawanan yang tiada hentinya melawan semangat abstraksi.” (h. 1). Mengapa semangat abstraksi hendak dilawan? Jelas dalam tulisannya, bahwa abstraksi mereduksikan individu hanya sebagai alat atau sarana, dan dengan demikian menghilangkan kebebasan individu itu sendiri. Harus dicatat bahwa sejak tahun 1911 dan 1912, tilisan-tulisan awal filsafat Gabriel Marcel memang difokuskan pada “ajakan atau nasihat” melawan setiap filsafat yang mempertahankan keadaaannya sebagai tawanan abstraksi.     

Mengapa ada kecurigaan terhadap abstraksi? Abstraksi dicurigai bukan karena ketidakpercayaan pada demokrasi itu sendiri, tetapi ketidakpercayaan dan kecurigaan tersebut dipicu oleh jenis ideologi yang mengklaim diri sebagai yang menjustifikasi demokrasi dari segi pendasaran filosofisnya. Di sini yang dirujuk adalah revolusi Prancis. Bagi Marcel, tidak ada yang mengagumkan atau memukai dalam membaca tentang revolusi Prancis selain tindak kejahatan dan teror (hlm 2). Hal yang sama juga terjadi pada horor Stalinisme atau Nazisme, bahkan kejahatan-kejahatan yang terjadi di sekitar kita.

Dalam buku ini Gabriel Marcel menunjukkan secara rinci semangat abstraksi yang secara esensial telah menjadi dark passion (hasrat gelap) dan sebaliknya passion (hasrat) tersebut telah mendorong praktik abstraksi. Marcel menulis, “Saya dapat mengatakan tanpa ragu-ragu bahwa pemikiran saya selalu telah diarahkan oleh sebuah hasrat cinta (tapi hasrat pada level yang lain) bagi musik, keharmonisan, damai” (hlm. 3). Dan bagi Marcel, adalah hal yang sulit untuk membangun perdamaian di atas abstraksi.

Marcel melihat bahwa massa eksis dan berkembang hanya pada level yang jauh di bawah inteligensi dan cinta. Alasannya, massa menempatkan manusia hanya pada keadaannya yang telah terdegradasikan, yakni manusia pada dirinya (dalam massa) yang terdegradasikan. Salah satu tanda utama individu yang terdegradasikan adalah ketika ia menjadi fanatik. Propaganda telah berhasil menjadikan manusia sebagai massa yang fanatik. Di sini Marcel melihat bahwa propaganda ternyata memiliki daya sengat listrik yang luar biasa (hlm. 8).

Semangat abstraksi merampas individu yang bebas dan menyanderanya dalam massa. Semangat abstraksi telah menjadi teknik propaganda hebat untuk “menciptakan” massa. Teknik degradasi membuat individu perlahan tapi pasti merasa bahwa dia bebas, padahal kebebasannya telah dirampas. Daya sengat propaganda itu memang seperti sengatan setrum listik yang seolah-olah mampu menghilangkan kesadaran.

Individu yang telah terdegradasikan melalui teknik-teknik degradasi tersebut menjadi massa dan memiliki kesadaran yang palsu. Kesadaran palsu ini adalah kesadaran yang difanatikkan, yang melihat bahwa perang adalah hal yang wajar. Yang terjadi dalam masyarakat massa adalah krisis nilai. Tidak hanya itu. Gagasan pelayanan (service) pun didegradasikan, dan hubungan yang paling personal dengan sesama juga didepersonalisasikan.

***

Lantas, apa yang harus diperbuat? Dapatkah keadaan masyarakat massa ini diakhirni? Dapatkah individu yang telah kehilangan individualitas dan kebebasannya tersebut dibebaskan? Pokok pikiran Gabriel Marcel berikut ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini.

1. Menghadapi keadaan tidak dengan pesimisme. Mengapa demikian? Menurut Gabriel Marcel, kita tidak sedang berada pada fase “the end of history” (ini adalah kritik Marcel terhadap pemikiran Max Picard, pengarang buku L’Homme du Neant yang mengatakan bahwa kita sekarang sedang di akhir sejarah (hlm. 159).

Menghadapi situasi ini, kita juga tidak perlu mengamini pemikiran eskapis yang mengalihkan perhatian kita dari tugas dan tanggung jawab sehari-hari “menyelamatkan dunia”. Kaum eskapis juga menyatakan bahwa jangan sibuk dengan dunia, karena segalanya akan berakhir. Kita juga jangan lari dari dunia, misalnya dengan masuk biara, menghindari dunia dan hidup dalam eschatological quietism (hlm 160).

2. Dengan kata lain, kita tidak boleh menyerah. Jangan lupa bahwa pengalaman harus menjadi guru yang baik bagi kita. “For we have not merely gone through a harrowing experience, like somebody who has been the victim of an accident or has had a grave illness. We have been instructed by our harrowing experience. Something has been revealed to us, or at least ought to have been revealed to us; all abyss has opened under our feet” (hlm 162).

3.   Kita harus memiliki pikiran yang optimistik (optimistic mind) untuk melihat adanya kesatuan dunia berhadapan dengan perkembangan dan kemajuan teknik modern (hlm 163). Menurut Marcel, optimistic mind tidak melihat dunia sebagai yang sedang berakhir, tidak lari dari dunia, atau memahami eskatologi secara salah. Optimistic mind memiliki kesadaran eskatologis (eschatological consciousness), yakni kesadaran mengenai akhirat. Apa yang dimaksud dengan kesadaran ini? 

* Secara negatif adalah menolak untuk menjadi bagian/turunan dari filsafat tertentu mengenai massa yang didasarkan di atas konsiderasi teknik-teknik. 

* Secara negatif adalah penolakan untuk mengalienasikan diri dengan optimisme manusia dari opini-opini dan sikap-sikap yang mapan (hlm 168).

4.   Godaan jumlah yang besar (gerombolan atau massa) itu harus dihindari, demikian juga dengan statistik-statistik yang menekankan semacam keagungan kelompok (hlm 166-167). Tapi, di sini tidak sedang membangun kembali individualisme abad 19 yang sempit tersebut. Yang hendak diusahakan adalah “we are not trying to give an exalted idea of the individual who defies the masses, and in fact we are not trying to give an exalted idea of anybody. We are seeking to scrutinize what I have called, in the title of this chapter, the eschatological consciousness: the consciousness of the last things.” (hlm 167-168).

5.   Tugas pada filsuf adalah membantu menyelamatkan manusia dari dirinya yang terpenjara dalam massa dengan menolak semangat abstraksi (hlm 205). Tugas sang filsuf adalah melawan kesombongan yang berlebih-lebihan (hlm 199) dari dunia dewasa ini yang beranggapan bahwa teknologi dan menjadi teknokrat adalah segala-galanya (hlm 199-200).     

Siapa yang mengangkat para filsuf untuk tugas-tugas ini? Memang harus diakui bahwa setiap orang berada pada posisi untuk menyeruhkan dan mendukung, di dalam dirinya dan di luar dirinya, semangat kebenaran dan cinta. Jadi, tidak terbatas pada dan tidak dibatasi hanya untuk segelintir orang tertentu saja. Meskipun demikian, harus ditambahkan bahwa proposisi sebaliknya harus ditolak, yakni setiap orang ada pada posisi, melalui kekuasaan penolakan yang dimilikinya, menaruh rintangan-rintangan untuk memajukan kebenaran dan cinta dan bermaksud mempertahankan dunia supaya tetap berada dalam kegelapan, tidak saling percaya timbal balik, perpecahan internal. Mengapa demikian, karena mendukung proposisi ini sama saja dengan merintis jalan bagi kehancuran diri sendiri dan kehancuran dunia (hlm 202). 

Jadi, pro pada keberlangsungan hidup (eksistensi diri) menjadi alasan untuk mengemban tugas “menyelamatkan dunia”.

3 pemikiran pada “Titik tolak pemikiran Gabriel Marcel dalam Man Against Mass Society

  1. Ya, buku itu memang bisa difotokopi di STF Driyarkara. Di sana semuanya lengkap. Kalau kamu ada teman di STF, kamu bisa minta tolong ke dia…. Di sana ada banyak frater dari Flores, siapa tahu mereka bisa bantu.

  2. Selamat berjumpa pak, terimakasih atas artikelnya yang sungguh menarik ini. Terus terang saya meras tertarik dan merasa tertolong dengan tulisan ini karena sekarang saya masih dalam proses menyelesaikan Skripsi saya yang membahas tetang hubungan antar manusia menurut Marcel. Saya mengaami kesulitan karena saya belum menemukan buku Man Against mass Society. Saya tidak tahu saya harus cari ke mana. Mungkinkah bapak bisa membantu memberi alamat tempat kemana aku harus mencari buku itu atau aku harus beli di mana? Saya seorang mahasiswa filsafat simester VIII di Sebuah Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero- Flores. Atas bantuannya saya ucapkan terimakasih.

  3. saya tertarik pada tulisan gabriel marcel, terutama pada bukunya yang berjudul Metaphysic :introduction….. sehingga saya membahas skripsi tentang tulisan Marcel. Kalo boleh tau kira2 anda tahu dimana saya bisa mendapatkan buku itu? Saya berdomisili di Surabaya..thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s