Komunitas Ideal dan Keresahan Kita

 

Profesor Charles Taylor, ahli filsafat moral dan pengajar filsafat politik pada Cambridge University dan kemudian MacGill University menulis sebuah buku yang kiranya di kemudian hari menjadi klasik. Buku yang diberi judul The Source of The Self: The Making of the Modern Identity tersebut antara lain menjawab sebuah persoalan yang justeru sekarang disadari sebagai hal yang sangat penting, baik dalam usaha kita untuk memaknakan “siapa diri kita” maupun dalam rangka merumuskan identitas kebangsaan kita. Jika Profesor Taylor mengajukan tesis, bahwa memahami identitas diri dan identitas kelompok atau bangsa selalu dilakukan dalam konteks kehidupan dalam sebuah komunitas yang sudah memiliki nilai dan norma moral tertentu, maka kita lalu bertanya, “Apa yang terjadi dengan pemaknaan diri sebagai pribadi dan diri sebagai bangsa ketika komunitas yang kita masuki memiliki nilai-nilai atau pandangan-pandangan moral yang telah terdistorsi atau yang mengalami pengrusakan secara total?”

Secara sangat radikal—dan ini mengulang tradisi etika tradisional sejak Aristoteles yang menempatkan kebahagiaan sebagai tujuan tertinggi hidup manusia yang hanya dapat dicapai oleh mereka yang memiliki keutamaan—Profesor Taylor menegaskan bahwa komunitas atau masyarakat menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan dalam bagaimana kita memaknakan identitas diri, baik sebagai pribadi maupun komunitas. Kita belajar untuk bertindak secara moral, yakni dengan memilih yang baik dan yang membawa kita kepada kepenuhan hidup serta menghindari yang buruk justeru dalam sebuah komunitas. Dan itu kita lakukan pertama-tama lewat bahasa. Ketika untuk pertama kalinya kita mempelajari suatu bahasa, kita dengan sendirinya sedang memasuki sebuah komunitas tertentu dengan cara berpikir dan memiliki pandangan dunia yang tertentu, komunitas yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma moral tertentu. Dan bahwa yang dapat kita lakukan adalah menjadi salah satu peserta percakapan (interlocutor) di dalam komunitas tersebut. Itu berarti kita mau tidak mau belajar dan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai dan norma-norma yang kita masuki sebelum kita dapat bersikap kritis dan mengambil jarak terhadap nilai-nilai serta norma-norma tersebut.

Hemat penulis, pandangan semacam ini menempatkan masyarakat sebagai sebuah komunitas ideal atau imagine community dalam pemahaman Ben Aderson. Komunitas ideal ini memiliki nilai-nilai dan norma-norma tertentu yang kepadanya kita berdialog mengenai yang baik dan buruk secara moral, yang mengenainya kita mengevaluasi dan mengeritik perilaku-perilaku kita, yang kepadanya kita bersikap kritis dan kemudian berusaha memperbaiki serta memperbarui nilai-nilai yang telah usang.

Apabila demikian persoalannya, maka pandangan seperti ini memunculkan dua gagasan yang sangat radikal. Pertama, pada tataran individu dapat dikatakan bahwa upaya untuk memaknakan identitas diri menjadi relatif lebih mudah dilakukan, karena kita dapat saja menemukan tokoh-tokoh tertentu atau keluarga kita sendiri yang memiliki nilai-nilai moral ideal yang patut diteladani. Apalagi kalau kita hidup dalam keluarga di mana nilai-nilai dan norma-norma moral ideal tingka laku sangat dijunjung tinggi. Demikianlah, upaya memaknakan diri—siapa diri kita—dalam konteks yang lebih kecil tampak jauh lebih mudah diusahakan. Krisis atau bahkan kerusakan moral baru akan terjadi jika nilai-nilai atau pandangan moral dari komunitas kecil ini telah terdistorsi atau rusak entah karena faktor eksternal maupun internal.

Kedua, hal yang mengerikan justeru terjadi ketika kita hendak memaknakan diri kita dalam konteks sebagai bangsa. Mampukah kita memaknakan identitas kebangsaan kita berhadapan dengan tudingan majalah Newsweek bahwa negara kita termasuk negara yang terkorup di dunia? Atau ketika kita sendiri menyaksikan bagaimana para pemimpin bangsa ini satu persatu berguguran karena terlibat dalam Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)? Atau ketika hukum dapat dibeli oleh mereka yang memiliki banyak uang? Atau ketika rasa aman mulai menipis berhadapan dengan maraknya aksi premanisme di mana-mana?  Di hadapan pertanyaan-pertanyaan ini kita seakan-akan kehilangan nilai-nilai dan norma-norma ideal sebagai komunitas atau negara, nilai-nilai dan norma-norma yang dapat diacu dan dijadikan sebagai pegangan hidup bersama, acuan yang membentuk kepribadian bangsa kita, pijakan keindonesiaan kita.

Sadar atau tidak, peristiwa-peristiwa buruk dan amoral yang sedang kita hadapi di negara saat ini (ketidakpastian hukum, praktik-praktik pengadilan yang jauh dari perasaan keadilan masyarakat, konflik antaretnis, premanisme, KKN yang akut dan sebagainya) telah menciptakan efek negatif yang tidak menguntungkan pembentukan identitas dan karakter keindonesia kita. Bagaimana sekarang kita dapat mengajarkan kepada anak-anak kita mengenai keadilan kalau mereka menyaksikan sendiri absennya ketidakadilan di negeri ini? Mampukah kita mengajarkan perdamaian dan persaudaraan ketika generasi muda kita terus berhadapan dengan situasi permusuhan yang akut antarsesama warga bangsa? Dapatkah kita mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma moral yang ideal tanpa adanya model yang dapat ditiru? Apakah kita lupa bahwa salah satu kegagalan orde baru adalah bahwa rezim ini mengajarkan kepada kita nilai-nilai dan norma-norma moral Pancasila yang tidak ditunjang oleh perilaku politik yang bermoral sehingga nilai-nilai dan norma-norma tersebut menjadi semacam lip service semata? Inilah kenyataan-kenyataan yang sangat gamblang yang menegaskan bahwa pembeberan nilai dan norma moral yang dimaksud untuk membentuk karakter bangsa tidak akan pernah menjadi efektif jika tidak ditunjang dengan contoh atau model perilaku yang baik dan bermoral.

Kalau mau jujur, sebetulnya di masa yang serba sulit ini kita lebih membutuhkan pemimpin yang jujur dan adil. Jujur karena yang dikejar dalam kepemimpinannya bukanlah kepentingan dirinya sendiri atau bahkan kepentingan kelompoknya yang dititipkan di atas punggungnya dan yang dikemas secara rapih supaya sulit terungkap. Adil karena ia mau menegakkan keadilan di negeri ini bukan berdasarkan seruan-seruan semata untuk menghormati “proses hukum”, tetapi seruan yang diikuti oleh tindakan nyata di lapangan bahwa hukum memang benar-benar ditegakkan. Kehadiran seorang pemimpin yang jujur dan adil dalam keadaan seperti sekarang ini sudah sangat menjanjikan perubahan, kalaupun dia sendiri harus menjadi korban ketidakadilan karena perjuangannya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan berjibaku dengan sebuah struktur kekuasaan yang korup.

 

Yang paling kita takutkan adalah keadaan di mana nilai-nilai dan norma-norma moral dalam masyarakat dan negara kita semakin menjadi kabur. Lalu kita akan kehilangan acuan bagi tindakan publik karena rusaknya tatanan hidup bersama itu. Bahasa pengungkap kebenaran dan keadilan semakin hari semakin kabur maknanya. Kebohongan dilakukan secara terang-terangan. Aksi main hakim sendiri dengan membakar hidup-hidup para pelaku kejahatan juga semakin meningkat. Bukankah semuanya ini menjadi indikasi awal bagi kedatangan masa yang mengerikan itu?

Kita hanya bisa berharap bahwa masa yang mengerikan itu tidak akan datang. Deskripsi ini hanya menjadi semacam cemeti bagi kita untuk terus mengusahakan sebuah jati diri Indonesia yang bermartabat. Kita belum terlambat dan tidak akan pernah terlambat. Pendidikan yang adil dan demokratis di keluarga dan dalam komunitas-komunitas yang lebih kecil dapat saja menjadi momen-momen pencerahan yang efektif. Hanya generasi muda yang mampu membedakan prinsip-prinsip moral dari yang tidak bermorallah yang sanggup menghadapi krisis kebangkrutan moralitas bangsa. Dan itu tanggung jawab kita semua untuk mengusahakan generasi muda yang bermoral itu, kecuali kalau kita sama sekali menginginkan hancurnya negeri yang kita cintai ini.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s