Fungsi Rasio Dalam Politik

Manusia adalah mahkluk rasional (animal rationale), demikianlah penegasan kita mengenai perbedaan yang distingtif antara manusia dan binatang. Terlepas dari perdebatan panjang mengenai dimensi rasionalitas yang menjadi unsur pembeda utama manusia dan mahkluk-mahkluk non-manusia—hal mana sering dikritik sebagai terlalu bersifat antroposentris—tampaknya harus diakui bahwa pembedaan semacam ini tetap diterima dan menjadi  keyakinan umum sampai saat ini. Memang Ernest Cassirer pernah menegaskan bahwa manusia adalah animal simbolicum di mana kemampuan menghasilkan simbol-simbol dan berbudayalah yang justeru menjadi faktor pembeda antara manusia dan mahkluk-mahkluk non-manusia. Meskipun demikian, diskursus tentang hal terakhir ini belum membekas atau berpengaruh dalam pikiran-pikiran kebanyakan orang.

Penegasan semacam ini jelas bernada optimistis terhadap peran rasio dalam kehidupan manusia. Bahwa berkat rasiolah manusia mampu membebaskan diri dari dunia kebinatangannya, kehidupan yang semata-mata didasarkan pada dorongan-dorongan instingtual menuju ke kehidupan berdasarkan pilihan hidup yang rasional. Dalam konteks evolusi bahkan sering dikatakan bahwa manusia mengalami perkembangan yang sangat menakjubkan pada saat rasio mencapai tingkat perkembangannya yang menakjubkan. Berkat rasiolah orang-orang Yunani Kuno pasca Sokrates membebaskan diri dari mitos-mitos dan tahayul-tahayul yang membelenggu. Berkat rasiolah manusia mampu memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkat rasiolah manusia mampu hidup secara etis karena kemampuannya dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Belum lama berselang Dr. Alois A. Nugroho, filsuf dan staf pengajar pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta menerjemahkan sebuah buku filsafat yang dapat dikategorikan sebagai salah satu naskah klasik dalam bidang filsafat ilmu. Buku karya filosof besar A.N. Whitehead berjudul Fungsi Rasio dan diterbitkan Penerbit Kanisius, Yogyakarta itu (2001) secara gamblang menguraikan dua fungsi rasio  yang utama dalam seluruh sejarah peradaban manusia. Secara sederhana kedua funsi rasio itu dapat dideskripsikan berikut. Pertama, rasio manusia memiliki fungsi praktis. Dalam arti bagaimana manusia memanfaatkan akal pikirannya untuk memecahkan persoalan-persoalan yang sifatnya praktis yang dihadapi sehari-hari. Dalam konteks evolusi manusia, misalnya, dapat dicontohkan bahwa ketika manusia berhadapan dengan keras atau ganasnya alam, manusia lalu menghasilkan kebudayaan material yang dapat digunakan untuk menundukkan alam. Perkembangan kebudayaan sejak zaman batu tua dengan teknologinya yang sangat sederhana sampai zaman nuklir dan senjata kimia sekarang ini menunjukkan alur perkembangan rasio praktis ini. Sambil bergerak dari satu periode yang lebih tradisional ke periode yang lebih modern, manusia senantiasa mengembangkan kemampuan rasionya untuk menciptakan kebudayaannya. Daya pendorong atau pemicunya adalah masalah-masalah konkret yang dihadapinya.

Kedua, rasio manusia memiliki fungsi spekulatif. Artinya bahwa manusia memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dari kungkungan strategi, metode, cara kerja, teknologi, manipulasi rasio dan sebagainya yang sifatnya praktis dan mengembangkan kemampuan berpikirnya demi tujuan pada dirinya sendiri. Dalam sebuah proses kebudayaan, manusia tidak hanya memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapinya, tetapi juga menjawab pertanyaan tentang mengapa ia mau memecahkan sebuah persoalan dengan cara tertentu, mengapa ia harus memecahkan persoalan daripada tidak, mengapa ia memiliki kepedulian terhadap perkembangan peradaban manusia, dan sebagainya. Itu berarti fungsi rasio yang kedua ini bersifat lebih subtil dibandingkan dengan yang pertama.

Di sini kita perlu mengajukan sebuah pertanyaan mengenai relevansi pemetaan pemikiran seperti ini. Apa manfaatnya bagi sebuah proses rancang budaya ketika kita mempelajari peta pemikiran rasio praktis dan rasio spekulatif? Satu hal yang jelas adalah bahwa kedua fungsi rasio tersebut sekarang ini sudah tidak lagi saling bermusuhan satu sama lain. Tidak seperti seratus lima puluh tahun yang lalu ketika teknologi dan filsafat muncul sebagai dua musuh yang saling mengeliminasi (rasio praktis menyatakan dirinya secara jelas dalam teknologi dan rasio spekulatif dalam filsafat/metafisika), teknologi dan filsafat sekarang ini saling bekerja sama secara mutualistis. Pengembangan teknologi tanpa filsafat (etika) hanya akan merusak kehidupam manusia dan semesta, sementara berpikir spekulatif tanpa relevansi praktis sudah dipandang sebagai ideologis dan menyembunyikan kepentingan tertentu (dalam artian Marxian).          Kedua kutub fungsi rasio tersebut menjadi sangat relevan dewasa ini ketika kita berhadapan dengan budaya hidup yang sangat menekankan dimensi praktikalitas (practicality) dan kepentingan sesaat. Dalam konteks politik di negeri kita tidak jarang kita berhadapan dengan “mental” hidup seperti ini. Para politisi kita lebih banyak berpikir secara sangat pragmatis, misalnya bagaimana memenangkan pemilihan umum tahun 2004 daripada memikirkan upaya untuk keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Para politisi kita juga lebih senang bersiteru mengenai upaya mengamandemen pasal-pasal tertentu dari UUD 1945—misalnya pasal 29—yang jelas-jelas menguntungkan kelompok tertentu dari masyarakat ketimbang memperhitungkan kepentingan kelompok minoritas atau memusatkan diri pada upaya pemberantasan korupsi. Rasio praktis bergelut dengan strategi, disiplin dan kemahiran, mengenai bagaimana memanfaatkan peluang untuk memenangkan kepentingan kita. Sementara rasio spekulatif lebih dingin, lamban, mengambil jarak, berpikir secara menyeluruh, mempertimbangkan seluruh aspek dalam keutuhannya dan tidak ingin merugikan kelompok tertentu secara tidak adil. Jelas rasio praktis lebih laku dijual dalam dunia politik dibandingkan dengan rasio spekulatif.          Memisahkan rasio praktis dari rasio spekulatif atau sebaliknya harus dikatakan sebagai hal yang bodoh. Salah satu contoh yang sangat menggelikan tetapi terjadi di republik ini adalah sikap dan komentar kita terhadap keputusan Dr. Syarir, Dr. Andi Malarangeng, dan Prof Dr. Rias Rasyid dalam mendirikan partai politik. Ada yang berpendapat bahwa kalangan akademisi pasti tidak akan sukses dalam dunia politik (praktis), karena dunia politik (praktis) memiliki logika sendiri dan berbeda dengan dunia akademis. Bahwa dunia politik penuh dengan intrik, penerapan strategi, lobi dan kepentingan sesaat, (rasio praktis), dan bahwa ketika berhadapan dengan hal-hal ini kaum intelektual atau bersikap kompromistis (tersedot ke dalam struktur yang sudah ada) atau menjadi frustrasi dan kembali ke kampus. Persoalannya jelas, jika kaum akademisi mewakili rasio spekulatif, maka untuk saat sekarang dikesankan bahwa dunia politik di negara kita seakan-akan belum memberi tempat bagi rasio spekulatif ini.

Apakah seharusnya demikian? Tentu saja tidak. Kalau kita membaca buku Fungsi Rasio dari Whitehead tersebut, jelas bahwa kedua fungsi rasio manusia tidak harus dipisahkan satu sama lain. Berbicara mengenai rasionalitas manusia harus sudah mengandung fungsi rasio praktis dan spekulatif. Perseteruan antara rasio praktis dan spekulatif sudah berakhir pada abad yang lalu, maka upaya mempertahankan perseteruan harus dianggap sebagai sebuah kemunduran kebudayaan.

Pemikiran semacam ini sejalan dengan pemikiran Ernest Gellner mengenai rasio dan kebudayaan. Dalam bukunya berjudul Reason and Culture. The Historical Role of Rationality and Ratinalism (Balckwell, Oxford UK & Cambridge USA, 1992), Gellner tidak hanya menegaskan bahwa rasionalitas manusia sudah melingkupi baik rasio praktis maupun spekulatif, tetapi juga penegasan bahwa rasionalitas harus menjadi sebuah cara kehidupan (a way of life). Sebagai cara hidup, rasionalitas harus meresapi berbagai aspek kehidupan manusia sehari-hari, entah dia seorang politisi, cendekiawan ataupun masyarakat pada umumnya. Rasio praktis akan membuat rasio spekulatif tidak menjadi prinsip-prinsip abstrak tanpa makna dengan kehidupan praktis manusia. Sementara rasio spekulatif membebaskan rasio praktis dari metode-metode dan strategi-strategi pengambilan keputusan yang merugikan kepentingan orang lain, bahkan kaum minoritas sekalipun. Rasio praktis mendekatkan rasio spekulatif pada kehidupan real masyarakat, sementara rasio spekulatif memampukan manusia untuk berpikir secara lebih luas dan mendalam. Hanya melalui rasio teoretislah kita mampu berjumpa dengan nilai-nilai moral.

Pilihannya jelas. Memihaki hanya rasio praktis pasti membuat kita bersikap pragmatis, mementingkan hal-hal praktis, dapat diukur dan mendukung kepentingan jangka pendek kita. Sebaliknya, memihaki hanya rasio spekulatif hanya akan membuat kita menjadi para pemikir yang tidak relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Memang Ernest Gellner berpendapat bahwa “authority unjustified by reason is tyranny” (1992, hlm. 137), tetapi yang ada di benaknya adalah kedua fungsi rasio sebagaimana ditegaskan Whitehead tersebut. Dengan demikian, dalam konteks politik, jika kita mementingkan hanya salah satu fungsi rasio saja, maka kita tidak hanya mentolerir sebuah praktik kekuasaan yang sewenang-wenang (tiranis), tetapi juga praktik kekuasaan yang sama sekali tidak rasional. Tantangannya sangat nyata di hadapan kita: apakah kita mau mengembangkan rasio praktis dan spekulatif sekaligus yang akan membawa kebaikan bagi segenap orang di republik ini atau terus ngotot memperjuangkan kepentingan pragmatis kita, keuntungan jangka pendek yang merugikan bahkan membahayakan kepentingan mereka yang kecil dan lemah.***

Manusia adalah mahkluk rasional (animal rationale), demikianlah penegasan kita mengenai perbedaan yang distingtif antara manusia dan binatang. Terlepas dari perdebatan panjang mengenai dimensi rasionalitas yang menjadi unsur pembeda utama manusia dan mahkluk-mahkluk non-manusia—hal mana sering dikritik sebagai terlalu bersifat antroposentris—tampaknya harus diakui bahwa pembedaan semacam ini tetap diterima dan menjadi  keyakinan umum sampai saat ini. Memang Ernest Cassirer pernah menegaskan bahwa manusia adalah animal simbolicum di mana kemampuan menghasilkan simbol-simbol dan berbudayalah yang justeru menjadi faktor pembeda antara manusia dan mahkluk-mahkluk non-manusia. Meskipun demikian, diskursus tentang hal terakhir ini belum membekas atau berpengaruh dalam pikiran-pikiran kebanyakan orang.

Penegasan semacam ini jelas bernada optimistis terhadap peran rasio dalam kehidupan manusia. Bahwa berkat rasiolah manusia mampu membebaskan diri dari dunia kebinatangannya, kehidupan yang semata-mata didasarkan pada dorongan-dorongan instingtual menuju ke kehidupan berdasarkan pilihan hidup yang rasional. Dalam konteks evolusi bahkan sering dikatakan bahwa manusia mengalami perkembangan yang sangat menakjubkan pada saat rasio mencapai tingkat perkembangannya yang menakjubkan. Berkat rasiolah orang-orang Yunani Kuno pasca Sokrates membebaskan diri dari mitos-mitos dan tahayul-tahayul yang membelenggu. Berkat rasiolah manusia mampu memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkat rasiolah manusia mampu hidup secara etis karena kemampuannya dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Belum lama berselang Dr. Alois A. Nugroho, filsuf dan staf pengajar pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta menerjemahkan sebuah buku filsafat yang dapat dikategorikan sebagai salah satu naskah klasik dalam bidang filsafat ilmu. Buku karya filosof besar A.N. Whitehead berjudul Fungsi Rasio dan diterbitkan Penerbit Kanisius, Yogyakarta itu (2001) secara gamblang menguraikan dua fungsi rasio  yang utama dalam seluruh sejarah peradaban manusia. Secara sederhana kedua funsi rasio itu dapat dideskripsikan berikut. Pertama, rasio manusia memiliki fungsi praktis. Dalam arti bagaimana manusia memanfaatkan akal pikirannya untuk memecahkan persoalan-persoalan yang sifatnya praktis yang dihadapi sehari-hari. Dalam konteks evolusi manusia, misalnya, dapat dicontohkan bahwa ketika manusia berhadapan dengan keras atau ganasnya alam, manusia lalu menghasilkan kebudayaan material yang dapat digunakan untuk menundukkan alam. Perkembangan kebudayaan sejak zaman batu tua dengan teknologinya yang sangat sederhana sampai zaman nuklir dan senjata kimia sekarang ini menunjukkan alur perkembangan rasio praktis ini. Sambil bergerak dari satu periode yang lebih tradisional ke periode yang lebih modern, manusia senantiasa mengembangkan kemampuan rasionya untuk menciptakan kebudayaannya. Daya pendorong atau pemicunya adalah masalah-masalah konkret yang dihadapinya.

Kedua, rasio manusia memiliki fungsi spekulatif. Artinya bahwa manusia memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dari kungkungan strategi, metode, cara kerja, teknologi, manipulasi rasio dan sebagainya yang sifatnya praktis dan mengembangkan kemampuan berpikirnya demi tujuan pada dirinya sendiri. Dalam sebuah proses kebudayaan, manusia tidak hanya memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapinya, tetapi juga menjawab pertanyaan tentang mengapa ia mau memecahkan sebuah persoalan dengan cara tertentu, mengapa ia harus memecahkan persoalan daripada tidak, mengapa ia memiliki kepedulian terhadap perkembangan peradaban manusia, dan sebagainya. Itu berarti fungsi rasio yang kedua ini bersifat lebih subtil dibandingkan dengan yang pertama.

Di sini kita perlu mengajukan sebuah pertanyaan mengenai relevansi pemetaan pemikiran seperti ini. Apa manfaatnya bagi sebuah proses rancang budaya ketika kita mempelajari peta pemikiran rasio praktis dan rasio spekulatif? Satu hal yang jelas adalah bahwa kedua fungsi rasio tersebut sekarang ini sudah tidak lagi saling bermusuhan satu sama lain. Tidak seperti seratus lima puluh tahun yang lalu ketika teknologi dan filsafat muncul sebagai dua musuh yang saling mengeliminasi (rasio praktis menyatakan dirinya secara jelas dalam teknologi dan rasio spekulatif dalam filsafat/metafisika), teknologi dan filsafat sekarang ini saling bekerja sama secara mutualistis. Pengembangan teknologi tanpa filsafat (etika) hanya akan merusak kehidupam manusia dan semesta, sementara berpikir spekulatif tanpa relevansi praktis sudah dipandang sebagai ideologis dan menyembunyikan kepentingan tertentu (dalam artian Marxian).          Kedua kutub fungsi rasio tersebut menjadi sangat relevan dewasa ini ketika kita berhadapan dengan budaya hidup yang sangat menekankan dimensi praktikalitas (practicality) dan kepentingan sesaat. Dalam konteks politik di negeri kita tidak jarang kita berhadapan dengan “mental” hidup seperti ini. Para politisi kita lebih banyak berpikir secara sangat pragmatis, misalnya bagaimana memenangkan pemilihan umum tahun 2004 daripada memikirkan upaya untuk keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Para politisi kita juga lebih senang bersiteru mengenai upaya mengamandemen pasal-pasal tertentu dari UUD 1945—misalnya pasal 29—yang jelas-jelas menguntungkan kelompok tertentu dari masyarakat ketimbang memperhitungkan kepentingan kelompok minoritas atau memusatkan diri pada upaya pemberantasan korupsi. Rasio praktis bergelut dengan strategi, disiplin dan kemahiran, mengenai bagaimana memanfaatkan peluang untuk memenangkan kepentingan kita. Sementara rasio spekulatif lebih dingin, lamban, mengambil jarak, berpikir secara menyeluruh, mempertimbangkan seluruh aspek dalam keutuhannya dan tidak ingin merugikan kelompok tertentu secara tidak adil. Jelas rasio praktis lebih laku dijual dalam dunia politik dibandingkan dengan rasio spekulatif.          Memisahkan rasio praktis dari rasio spekulatif atau sebaliknya harus dikatakan sebagai hal yang bodoh. Salah satu contoh yang sangat menggelikan tetapi terjadi di republik ini adalah sikap dan komentar kita terhadap keputusan Dr. Syarir, Dr. Andi Malarangeng, dan Prof Dr. Rias Rasyid dalam mendirikan partai politik. Ada yang berpendapat bahwa kalangan akademisi pasti tidak akan sukses dalam dunia politik (praktis), karena dunia politik (praktis) memiliki logika sendiri dan berbeda dengan dunia akademis. Bahwa dunia politik penuh dengan intrik, penerapan strategi, lobi dan kepentingan sesaat, (rasio praktis), dan bahwa ketika berhadapan dengan hal-hal ini kaum intelektual atau bersikap kompromistis (tersedot ke dalam struktur yang sudah ada) atau menjadi frustrasi dan kembali ke kampus. Persoalannya jelas, jika kaum akademisi mewakili rasio spekulatif, maka untuk saat sekarang dikesankan bahwa dunia politik di negara kita seakan-akan belum memberi tempat bagi rasio spekulatif ini.

Apakah seharusnya demikian? Tentu saja tidak. Kalau kita membaca buku Fungsi Rasio dari Whitehead tersebut, jelas bahwa kedua fungsi rasio manusia tidak harus dipisahkan satu sama lain. Berbicara mengenai rasionalitas manusia harus sudah mengandung fungsi rasio praktis dan spekulatif. Perseteruan antara rasio praktis dan spekulatif sudah berakhir pada abad yang lalu, maka upaya mempertahankan perseteruan harus dianggap sebagai sebuah kemunduran kebudayaan.

Pemikiran semacam ini sejalan dengan pemikiran Ernest Gellner mengenai rasio dan kebudayaan. Dalam bukunya berjudul Reason and Culture. The Historical Role of Rationality and Ratinalism (Balckwell, Oxford UK & Cambridge USA, 1992), Gellner tidak hanya menegaskan bahwa rasionalitas manusia sudah melingkupi baik rasio praktis maupun spekulatif, tetapi juga penegasan bahwa rasionalitas harus menjadi sebuah cara kehidupan (a way of life). Sebagai cara hidup, rasionalitas harus meresapi berbagai aspek kehidupan manusia sehari-hari, entah dia seorang politisi, cendekiawan ataupun masyarakat pada umumnya. Rasio praktis akan membuat rasio spekulatif tidak menjadi prinsip-prinsip abstrak tanpa makna dengan kehidupan praktis manusia. Sementara rasio spekulatif membebaskan rasio praktis dari metode-metode dan strategi-strategi pengambilan keputusan yang merugikan kepentingan orang lain, bahkan kaum minoritas sekalipun. Rasio praktis mendekatkan rasio spekulatif pada kehidupan real masyarakat, sementara rasio spekulatif memampukan manusia untuk berpikir secara lebih luas dan mendalam. Hanya melalui rasio teoretislah kita mampu berjumpa dengan nilai-nilai moral.

Pilihannya jelas. Memihaki hanya rasio praktis pasti membuat kita bersikap pragmatis, mementingkan hal-hal praktis, dapat diukur dan mendukung kepentingan jangka pendek kita. Sebaliknya, memihaki hanya rasio spekulatif hanya akan membuat kita menjadi para pemikir yang tidak relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Memang Ernest Gellner berpendapat bahwa “authority unjustified by reason is tyranny” (1992, hlm. 137), tetapi yang ada di benaknya adalah kedua fungsi rasio sebagaimana ditegaskan Whitehead tersebut. Dengan demikian, dalam konteks politik, jika kita mementingkan hanya salah satu fungsi rasio saja, maka kita tidak hanya mentolerir sebuah praktik kekuasaan yang sewenang-wenang (tiranis), tetapi juga praktik kekuasaan yang sama sekali tidak rasional. Tantangannya sangat nyata di hadapan kita: apakah kita mau mengembangkan rasio praktis dan spekulatif sekaligus yang akan membawa kebaikan bagi segenap orang di republik ini atau terus ngotot memperjuangkan kepentingan pragmatis kita, keuntungan jangka pendek yang merugikan bahkan membahayakan kepentingan mereka yang kecil dan lemah.***

5 pemikiran pada “Fungsi Rasio Dalam Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s