Perang Irak dan Perluasan Kesadaran Moral

Penyerangan Pasukan Sekutu atas Irak telah membangkitkan rasa solidaritas yang luar biasa dari masyarakat di seluruh dunia. Di mana-mana kita menyaksikan protes dan demonstrasi ribuan masyarakat menentang tindakan kekerasan yang semakin hari semakin “memakan” korban di kedua belak pihak tersebut. Masyarakat di seluruh dunia memprotes tindakan tersebut bukan saja karena korban rakyat sipil, perempuan dan anak-anak mulai berjatuhan, tetapi karena perang itu sendiri memang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun juga. Sebagian besar masyarakat sedang menunjukkan sebuah kesadaran baru bahwa tidak benar bahwa “siapa yang menginginkan perdamaian maka ia harus bersiap-siap untuk perang.”

Di tengah maraknya aksi protes itu sebuah pemandangan yang menggelikan dan kontradiktif justru sedang terjadi. Presiden AS George W. Bush dan rekannya PM Inggris Tony Blair seakan tidak terpengaruh oleh demonstrasi dan aksi menentang perang tersebut. Tekad mereka sepertinya telah bulat. Berapapun juga risiko yang harus ditanggung, the battle must go on. Apakah mereka tidak pernah merasa ngeri seandainya ratusan ribu, bahkan jutaan warga Irak akan menjadi korban perang itu? Apakah mereka tidak pernah membayangkan betapa tentara mereka sendiri bisa “dihabisi” tentara Irak ketika taktik perang gerilya kota benar-benar terjadi? Atau mereka merasa malu jika perang akhirnya dihentikan di tengah jalan, padahal target menggeser Saddam Hussein belum terwujud?

Demonstrasi jutaan warga masyarakat di seluruh dunia dalam menentang penyerangan tentara sekutu terhadap Irak mendeskripsikan sebuah tindakan solidaritas dan altruisme dalam tahapnya yang paling dalam. Refleksikan filosofis atas tingkat-tingkat altruisme dan memahami tindakan altruistis masyarakat dunia sekarang ini dalam menentang serangan terhadap Irak membawa kita kepada kesadaran betapa kesadaran moral dunia sedang menuju ke tingkatnya yang humanistis pada saat George W Bush dan Tony Blair masih berkutat dengan altruisme pada tingkat hewani.

Dari Altruisme Kebinatangan ke Etika Kemanusiaan Universal

Altruisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimengerti sebagai cinta yang tidak terbatas kepada sesama manusia. Sementara Kamus Webster mendefinisikannya sebagai “unselfish interest in the welfare of others.” Di sini jelas bahwa altruisme tampaknya terbatas hanya pada dunia manusia saja.

Adalah Peter Singer yang memperlihatkan bahwa altruisme juga terjadi pada dunia kebinatangan. Filsuf asal Australia ini berpendapat bahwa sifat altruistis yang ada pada dunia binatang—dia memberi contoh bagaimana kera memberikan sinyal tertentu kepada sesamanya jika menemukan sumber makanan baru—tersebut kemudian diturunkan kepada keturunannya dalam perjalanan evolusi, dan bahwa semakin binatang bersifat altruistik, semakin spesiesnya bertahan hidup dalam survival of the fittest.

Dalam bukunya The Expanding Circle: Ethics And Sociobiology (1981) dan kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam Animal Liberation (2002) Singer menunjukkan banyak sekali contoh bagaimana hewan mempraktikkan altruisme di antara mereka. Gajah, misalnya, rela mengorbankan keselamatan hidupnya demi menolong sesama gajah yang tidak mampu berjalan lagi karena terkena tembak oleh para pemburu. Atau juga monyet yang saling mencari kutu sesamanya supaya terbebas dari kuman mematikan yang dibawa kutu tersebut. Menurut Peter Singer, atruisme pada dunia binatang berlaku prinsip “I will scratch your back if you scratch my back too.” Tindakan altruisme pada tingkat kebinatangan memang sangat utilitaristis-pragmatis.

Ada dua hal yang menarik dalam altruisme pada tingkat kebinatangan. Pertama, altruisme sebagai fakta biologis menunjukkan bahwa binatang tidak bersifat egois. Justru binatang yang egois akan cepat mati, karena keberlakuan prinsip dasar tersebut. Binatang yang egois tidak hanya tidak akan ditolong, tetapi juga akan dikucilkan, karena sikapnya yang tidak altruistis akan diwartakan ke lingkungan sekitar, yang membuat binatang tersebut benar-benar hidup seorang diri. Keadaan semacam ini memang mempercepat kematian binatang yang egoistis tersebut. Kedua, hewan tertentu yang bersifat altruistik dan sampai mengorbankan hidupnya sendiri demi hewan lain, misalnya, ia memang tidak meneruskan keturuannya secara biologis. Meskipun demikian, hewan yang ditolongnya akan meneruskan sifat altruistis sahabatnya tersebut kepada anak-anaknya, dan dengan demikian memastikan bahwa sifat altruistis dalam evolusi tidak terhenti.

Pada hal kedua inilah menurut Singer mulai terjadi perluasan semacam kesadaran moral pada dunia hewan untuk melingkupi semakin banyak hewan lain dalam sikap altruisme mereka. Altruisme bergerak secara perlahan dan meyakinkan dari tingkat altruisme terhadap anggota keluarga, kemudian altruisme marga, lalu kelompok yang lebih besar dan semakin besar. Kalau gerak meluas dari altruisme ini mau digambarkan, ia ibarat gerak lingkaran air kolam yang terus melebar ketika kita melemparkan sebuah batu ke dalamnya. Dan gerak itu terus melebar sampai tak berbatas.

Memang tujuan pemaparan Peter Singer jelas untuk membela hak hidup binatang, bahwa binatang tidak bisa dibunuh sewenang-wenang, karena mereka sendiri telah memiliki semacam kesadaran moral. Tetapi pemaparan semacam ini juga dapat ditarik melebihi maksudnya sendiri. Pola semakin melebarnya gerak sentrifugal altruisme justru juga dipakai untuk menjelaskan altruisme yang terjadi dalam kehidupan manusia. Sebagai salah satu marga binatang, altruisme pada manusia memang pertama-tama terjadi secara sempit, yakni yang dipraktikkan terbatas pada lingkungan keluarga inti. Tetapi sejalan dengan kemajuan akal budinya dalam berefleksi, sifat altruismenya kemudian dipraktikkan semakin melebar dan semakin melingkupi sebanyak mungkin orang, bahkan mengatasi altruisme keluarga inti, marga dan kelompok masyarakat. Dalam terminologi filsafat moral, yang akan menjadi moral patient dalam praktik altruisme manusia akan melingkupi pertama-tama keluarga inti, lalu bergerak menuju marga, kelompok masyarakat dan akhirnya melingkupi seluruh alam semesta.

Apa yang membuat manusia mampu memperluas sikap altruismenya sampai melingkupi juga musuh-mushnya? Altruisme dan sikap moral pada level manusia menjadi semakin melebar sampai tak berhingga karena kemajuan akal budi (rasio) manusia itu sendiri. Kemampuan rasio inilah yang membedakan manusia dari binatang. Sementara altruisme pada tingkat binatang terjadi secara pragmatis dan utilitaristik, pada manusia justru menjadi pilihan bebasnya. Meskipun tidak dikatakan secara eksplisit oleh Singer, tapi harus dikatakan bahwa rasio yang memungkinkan semakin melebarnya lingkaran altruisme dan kesadaran moral adalah rasio Plato (rasio yang mencari pemahaman komplit) dan bukan rasio Ulysses (rasio yang mengusahakan metode untuk bertindak segera) dalam pengertian Alfred North Whitehead (Fungsi Rasio, 2001, 47) atau rasio teoretis dan bukan rasio instrumental dalam pemikiran Jürgen Habermas.

Sejauh sebagai insight dan pisau analisis untuk memahami dan mengeritik penyerangan terhadap Irak, kita dapat menegaskan paling sedikit dua hal berkenan dengan sikap altruisme yang ditunjukkan dunia hari-hari ini. Pertama, ketika mayoritas warga dunia sudah bergerak mengatasi altruisme sempit keluarga atau kelompoknya dan bersatu dengan saudaranya seantero dunia untuk mengutuk perang karena rasio Platonya mengatakan bahwa perang pada dirinya sendiri adalah jahat dan harus dihindari, George W. Bush dan sekutu-sekutunya justeru berkutat pada altruisme pada tingkat binatang. Prinsp altruisme pada dunia kebinatang di atas bisa diganti demikian: “Jika Anda tidak tunduk pada ultimatum saya dan mengakui bahwa Anda sedang mengembangkan senjata kimia, maka Anda akan dihabisi.” Dan bahwa para sekutu akan saling bersolider dan membantu dengan tujuan yang sangat utilitaristik, misalnya untuk dilindungi di masa depan jika mereka diserang atau bahkan untuk membagi kekayaan alam Irak secara bersama.

Kedua, kalau kita setuju dengan sikap altruisme sebagaimana dikemukakan Singer sebagai yang terus melebar hingga melingkupi seluruh alam semesta, maka seharusnya kita mampu menyapa tidak hanya orang Arab atau orang Eropa atau orang Asia sebagai “saudara” tetapi seluruh alam semesta adalah saudara kita. Konsekuensinya adalah bahwa kita tidak akan menghancurkan alam semesta secara sewenang-wenang, apalagi sesama manusia. Yang menarik adalah semakin melebarnya sikap altruisme dan kesadaran moral sampai melingkupi seluruh kosmos ini justru sangat sesuai dengan spiritualitas kekristenan, sehingga kalau ini tidak sampai dipraktikkan, apakah Bush dan sekutu-sekutunya masih pantas disebut sebagai orang-orang Kristen?

Kalau kita mau mengikuti pemetaan Hannah Arendt mengenai ruang privat dan ruang publik, bahwa dalam ruang privat orang memikirkan kepentingannya sendiri untuk mempertahankan hidup, dan bahwa dalam ruang publik segala kepentingan masyarakat dikomunikasikan secara demokratis untuk mencapai kesepakatan mengenai bagaimana kehidupan bersama seharusnya diatur, maka sebetulnya George W. Bush dan sekutu-sekutunya mempraktikkan kekuasaan mereka di dalam ruang privat, ruang yang penuh perjuangan kepentingan jangka pendek demi survival, ruang yang dikuasai oleh rasio instrumental sebagaimana dimaksudkan Habermas. Ironis, karena penerapan model kekuasaan ini justeru terjadi dalam negara-negara  yang selama ini dikenal sangat demokratis.

Seluruh dunia seharusnya berani melawan para penguasa dan birokrat yang thoughtless sebagaimana pernah sangat dikhawatirkan Hannah Arendt. Penguasa dan birokrat yang thoughtless adalah mereka yang menjalankan kekuasaannya dalam ruang privat, yang mencari kepentingan jangka pendek demi kebaikan hidup kaumnya saja (Jurnal Filsafat Driyarkara, September 2002, 64). Merekalah yang akan mematikan demokrasi, menghambat dirkursus yang komunikatif, dan membawa kembali ke panggung politik kekuasaan yang otoriter dan sewenang-wenang. Gaya kepemimpinan semacam ini sudah mulai kita saksikan hari-hari ini ketika protes dan demonstrasi melawan penyerangan ke Irak tidak hanya tidak digubris, tetapi di beberapa tempat tertentu justru ditindak secara tegas dan kasar, bahkan juga ditangkap. Ketakutan kita akan menjadi komplit ketika kita dihadapkan pada pertanyaan ini: bagaimana mungkin kita dapat memperluas altruisme dan kesadaran moral kita sampai melingkupi seluruh kosmos selaku moral patient kita ketika para pemimpin bangsa-bangsa menjalankan kekuasaan mereka secara thoughtless?

Sebelum segala sesuatu menjadi lebih buruk, sudah waktunya kita menghentikan perang dan kekerasan dengan alasan apapun juga demi solidaritas dan sikap altruisme kita yang semakin menjadikan siapa dan apa saja sebagai saudara. Dan sudah waktunya pula kita menghentikan kesewenang-wenangan para penguasa yang lalim sebelum mereka menjadi lebih nekad lagi dengan menghancurkan seluruh alam semesta ini.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s