Antara Permainan dan Pertandingan

Ketika berbicara mengenai dimensi dinamis manusia, Prof. Dr. N. Drijarkara, SJ pernah menulis mengenai permainan seperti berikut. “Bermainlah dalam permainan, tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi” (1969: 83).

Sang filsuf ini sebetulnya sedang memahami salah satu fenomena manusia yang paling umum dijumpai dan yang mengandung makna yang sangat mendalam. Dia memahami permainan sebagai salah satu aktivitas manusia dengan mana ia membebaskan dirinya. Dalam arti bahwa dengan memasuki permainan, manusia tidak lagi menjadikan hasil akhir dari sebuah permainan tersebut sebagai target yang harus dikejar. Melibatkan diri secara otentik dalam sebuah permainan harus merupakan sebuah proses pembebasan diri secara sadar dari pamrih dan menghayati permainan sebagai realisasi otentik dari diri sendiri. Dalam arti itu, “permainan yang dipersungguh” sebagaimana yang dikatakannya tidak lain dari mengikatkan diri secara sengaja dan kaku pada aturan dan strategi tertentu demi tujuan yang mau dikejar, yakni kemenangan. Permainan yang benar tidak berarti bahwa meremehkan kemenangan, tetapi bahwa kemenangan bukan merupakan tujuan akhir yang dikejar pada dirinya sendiri. Mengapa demikian? Karena semata-mata mengejar kemenangan hanya akan melahirkan kecurangan atau sikap-sikap yang tidak sportif, dan dengan demikian mendegradasikan sebuah permainan sekadar sebagai sarana untuk mengejar ambisi pribadi. Permainan lalu menjadi sangat instrumental dan pragmatis.

Gagasan ini akan sangat menarik untuk ditempatkan dalam konteks filsafat sosial yang dapat menerangi kesejatian kehidupan bermasyarakat kita. George Herbet Mead, seorang pemikir sosial abad yang lalu misalnya, sebetulnya mengajukan gagasan yang kurang lebih sama. Pemikir sosial asal Amerika Serikat ini membuat pembedaan antara permainan (play) dan pertandingan (games). Menurut pandangannya, memasuki sebuah permainan membuat seseorang hanya akan menyadari perilakunya atau peran-perannya demi mencapai kemenangan, tidak peduli bagaimana peran-peran orang lain (Lih. Margaret M. Poloma, 2000: 254-266). Dalam arti ini Mead sejajar dengan apa yang dikatakan oleh Drijarkara sebagai “permainan yang dipersungguh”. Sementara itu, dengan pertandingan seseorang tidak hanya memperhatikan perilaku dan perannya demi mencapai tujuan (kemenangan), tetapi juga perilaku dan peran orang lain. Dengan hanya berpusat pada peran dan perilaku diri sendiri menutup kemungkinan untuk melihat perilaku-perilaku ideal tertentu yang bisa diperoleh dari memperhatikan peran dan perilaku orang lain. Sementara dengan memperhatikan juga peran dan perilaku orang lain memampukan orang untuk senantiasa mengevaluasi peran dan perilaku dirinya, menempatkan dirinya dalam tegangan antara peran dan perilaku pribadi dan perilaku ideal yang disodorkan orang lain (masyarakat).

Pembedaan semacam ini sangat sentral dalam pemikiran Mead ketika ia memahami masyarakat sebagai sebuah proses. Bagi dia, masyarakat itu ibarat pertandingan. Ia adalah sebuah realitas sosial yang sangat dinamis yang di dalamnya manusia berada dalam proses “akan jadi” (will be) dan tidak pernah sebagai fakta sosial yang statis dan lengkap. Dalam masyarakat yang dinamis inilah setiap orang (diri) akan melakukan interpretasi dan internalisasi subjektif atas realitas objektif. Diri kita benar-benar merupakan hasil internalisasi atas apa yang telah digeneralisir orang lain atau kebiasaan-kebiasaan, nilai dan pandangan hidup komunitas yang lebih luas. Diri yang sejati dibentuk dari kemampuan mengatasi (to transcending) dan mensintesakan ketegangan antara diriku atau nilai-nilai dan pandangan hidupku dengan diri objektif atau nilai-nilai atau pandangan hidup komunitas.

Bukankah dengan demikian, realitas sosial yang dinamis ini adalah sebuah pertandingan? Ya, begitulah keadaannya. Setiap anggota masyarakat secara niscaya dihadapkan pada pilihan atau menghayati kehidupan sosial sebagai sebuah permainan (play) atau pertandingan (games). Bagi mereka yang memutlakkan nilai dan pandangan hidup pribadi dan mengharapkan atau memaksa orang untuk mengikutinya akan memilih dan menghayati hidup sosial sebagai sebuah permainan. Sementara bagi mereka yang menghormati dan mengidealkan nilai-nilai tertentu dari masyarakat sebagai yang melengkapi dan memperkaya nilai dan pandangan hidupnya akan memilih dan menghayati kehidupan sosial sebagai sebuah pertandingan.

Tanpa harus mereduksikan kekayaan realitas sosial, sebenarnya tidaklah sulit untuk membidik beberapa perilaku sosial berbangsa dan bernegara yang dihayati semata-mata sebagai permainan. Upaya yang secara sengaja dilakukan untuk membebaskan diri dari tuntutan keadilan hukum dengan memanfaatkan celah-celah hukum tertentu yang lemah harus disebut sebagai pemaksaan peran dan nilai pribadi atas nilai-nilai komunitas. Belum lagi ketidakberanian kita dalam mengejar dan mengungkapkan korupsi dengan dalih bahwa kita mau membiarkan proses yang ada sekarang berjalan menurut ketentuan hukum yang ada. Padahal nyata bahwa hukum yang ada banyak kali mengandung cacat yang dapat dimanfaatkan untuk membebaskan diri dari jerat yang dipasang oleh hukum itu sendiri. Perilaku-perilaku sosial-politis lainnya seperti penyalahgunaan dana sumbangan kemanusiaan, money politic dalam pemilihan pejabat, dan sebagainya harus disebut sebagai pemaksaan nilai-nilai pribadi dan pelecehan terhadap nilai-nilai komunitas yang ideal dan objektif.

Orang bisa saja berdalih – dan ini sah-sah saja – bahwa mengapa ia harus memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai komunitas yang dalam konteks ini dikategorikan sebagai ideal dan objektif itu. Bagi mereka yang memiliki kekuasaan berhadapan dengan lemahnya aparat penegak hukum, “pembebasan diri” dari nilai dan norma ideal masyarakat itu dapat saja dilakukan. Dan tampaknya kita memang tidak dapat berbuat banyak ketika law enforcement masih sangat lemah. Bahkan dalam pemikiran Mead sendiripun disebutkan bahwa individu tidak harus menyesuaikan diri begitu saja dengan nilai-nilai komunitas yang ideal itu. Individu dapat saja bertindak alternatif dalam arti dia mengatasi nilai dan norma masyarakat. Tetapi itu tidak dalam arti negatif bahwa individu tersebut meremehkan atau tidak mempedulikan nilai dan norma komunitas. Dengan bertindak alternatif, individu justeru menunjukkan kepada masyarakat nilai dan norma ideal tertentu yang untuk saat itu belum dihayati sebagai nilai dan norma yang ideal. Dalam arti itu bertindak alternatif sebagaimana dimaksudkan Mead dapat membawa perubahan masyarakat.

Jelas ini berbeda dengan sikap dan tindakan-tindakan tertentu dalam masyarakat kita sebagaimana disebutkan di atas. Yang kita saksikan di negara kita bukanlah tindakan alternatif sebagaimana dimaksudkan Mead, tetapi tindakan alternatif dalam arti pemaksaan kehendak dan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Yang lebih sering terjadi di republik ini adalah menghayati kehidupan berbangsa dan bernegara sekadar sebagai sebuah permainan. Layaknya sebuah permainan, yang dikejar adalah keuntungan dan kemenangan diri sendiri. Apakah orang lain dirugikan atau terpaksa kalah karena sikap dan perbuatan sosial kita bukan menjadi soal yang harus diperhatikan.

Kehidupan sosial yang dihayati dalam sintesis antara nilai-nilai pribadi dan komunitas dan penghayatan atasnya sebagai sebuah pertandingan yang justeru membedakan kita dari binatang yang menghayati hidup semata-mata sebagai sebuah permainan. Jika demikian, apakah sikap menomorsatukan kepentingan diri dan meremehkan nilai dan norma sosial masih layak dianggap sebagai tindakan sosial yang khas manusia? Wallahuallam!***

Satu pemikiran pada “Antara Permainan dan Pertandingan

  1. benar,
    kalau menurut saya seseorang yg menganggap dan menjadikan hidup sebagai sebuah permainan adalah keliru.
    karena sebagai makhluk kita tak pantas sedikitpun mempermainkan kehidupan makhluk lain.
    karena semua itu adalah hak dan kekuasaan Tuhan semata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s