Konsumerisme

16 Juni 2007, kuliah Character Building 3 untuk semester genap 2006/2007 berakhir. Seminggu lagi para mahasiswa akan menempuh ujian akhir semester. I wish you will do your final exam well.

Satu dari sekian banyak pemikiran selalu ada dalam pikiran saya. Telah lebih dari lima tahun saya mengajar Character Building 3 di UBinus, dan masalah ini selalu kembali. Salah satu tugas mahasiswa yang biasanya saya mintakan setiap semester adalah menulis tantangan mana yang paling berat dihadapi: apakah melawan godaan seks, apakah melawan godaan konsumerisme, atau melawan godaan kekuasaan.

Yang menakjubkan saya adalah mahasiswa umumnya menjawab bahwa mereka paling berat melawan konsumerisme. Di satu pihak, kenyataan ini sebetulnya tidak mengherankan amat, karena hampir seratus persen mahasiswa saya berasal dari keluarga kaya. Tetapi di lain pihak saya lalu berpikir, apakah konsumerisme sunggguh menjadi godaan nyata dewasa ini?

Para mahasiswa bercerita banyak tentang bagaimana mereka sering tidak berdaya mengikuti kemauan pasar. Ada yang sangat tidak tahan jika tidak membeli baju atau celana model terbaru. Ada yang sangat tidak tahan untuk tidak membeli handphone baru, sepeda motor baru, mobil baru, alat-alat elektronik baru, dan sebagainya. Intinya, konsumerisme menjadi godaan yang nyata.

Disebut godaan karena dalam konteks kuliah CB 3, konsumerisme diletakkan sebagai salah satu halangan bagi manusia untuk membina komunikasi yang baik dengan Tuhan dan manusia. Konsumerinsme dapat menciptakan kelekatan (attachment) kepada benda atau barang tertentu sebegitu rupa sehingga orang sulit bersikap lepas-bebas. Padahal, salah satu prasyarat terjalinya komunikasi manusia dengan Tuhan adalah sikap lepas-bebas (detachment).

Karena itu, saya semakin sadar dan yakin, bahwa generasi muda sekarang perlu didampingi dan dibimbing supaya membangun sikap solidaritas dalam diri mereka. Terlalu banyak orang di sekitar yang hidup dalam kekurangan, sementara ada segelintir orang yang hidup dalam kemewahan. Karena itu, penting sekali mendorong mahasiswa untuk memiliki sikap terbuka dan kesediaan untuk berbagi dengan sesama. Inilah sikap solidaritas yang dapat diusahakan dan dimiliki mahasiswa.

Semoga Tuhan memberkati kita semua!

2 pemikiran pada “Konsumerisme

  1. Thanks Fitri, kamu sudah memberi komentar dan masukan yang sangat berharga. Semoga kita bisa lebih aware dengan prang-orang yang ada di sekeliling kita, karena kita mau hidup lebih sederhana. God bless.

  2. sore Pak…
    saya adalah salah satu murid Bapak
    saya mahasiswa semester 5 jur TDSI
    pola hidup trlalu konsumtif memang sangat sulit dihindarkan. apalagi setiap hari bahakan setiap saat berbagai macam produk baru diluncurkan entah pakaian, hp, mobil, dan make up terutama untuk wanita. saya sendiri termasuk suka memakai baju/pakaian yang bagus dan baru-baru. tapi, itu saya rasa adalah sesuatu yang bersifat alamiah. karena setiap orang dari kita memiliki ketertarikan yang berbeda-beda thp suatu benda/produk.
    kalau masalah godaan seks, kita sebagai masyarakat timur sudah memiliki etika dan tata krama. sehingga hal-hal yang seperti itu dijaga agar jangan sampai terjadi.
    beginilah sedikit opini saya. terima kasih atas perhatian Bapak
    kalau ada kesalahan mohon dimaklumi dan Bapak mau memberi petunjuk.
    Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s