Petualangan

Pulau Robinson Crusoe dan Sosialitas Kita

“We are not Robinson Crusoe Island’s dwellers.” Ungkapan ini sudah umum dan lazim dalam literatur-literatur politik yang mau menegaskan bahwa kita adalah mahkluk sosial. Bahkan sejak lahir kita sudah “ditentukan” untuk hidup bersama orang lain. Manusia adalah mahkluk sosial sebagaimana pernah dikumandangkan Aristoteles 23 abad yang lalu bukan merupakan kata-kata yang kosong. Sosialitas menentukan hakikat hidup kita sebagai manusia.        

Mengapa dalam literatur politik ungkapan ini diterima luas sebagai yang menyatakan sosialitas manusia tidak banyak orang yang tahu, sama tidak jelasnya ketika seseorang diminta menunjukkan di mana letak Pulau Robinson Crusoe. Pulau Robinson Crusoe terletak 400 mil di sebelah Barat Valparaiso, Chile. Pulau kecil dengan luas sekitar 40 mil persegi ini semula bernama Pulau Juan Fernandes, tetapi kemudian diganti namanya oleh pemerintah Chile dengan maksud untuk menarik para turis datang ke sana. Dan memang sejak pergantian nama itu banyak turis yang mengunjungi pulau ini.        

Sebagaimana ditulis James S. Bruce dan Mayme S. Bruce dalam artikel mereka berjudul Alexander Selkirk: The Real Robinson Crusoe dalam “The Explorers Journal” (Spring 1993), kecuali nama yang melekat pada pulau itu dengan seluruh imajinasi yang ditimbulkannya, pulau Robinson Crusoe sebetulnya tidak menarik dari segi atraksi sosial dan kebudayaannya atau dari segi pariwisata lingkungannya.         Robinson Crusoe adalah judul sebuah novel terkenal karya Daniel Defoe. Meskipun demikian, tokoh yang digambarkan dalam novel tersebut sebetulnya bernama Alexander Selkirk. Dia adalah seorang pelaut ulung berkebangsaan Skotlandia. Pria kelahiran Largo, Skotlandia pada tahun 1676 ini semula melarikan diri dari kampung halamannya karena merasa tidak cocok dengan kehidupan kampung dan pekerjaan sebagai pembuat sepatu. Ia mulai berlayar pada tahun 1695 dan kemudian menggabungkan diri dengan William Dampier pada tahun 1703 dalam proyek pelayaran ke Pasifik. Diceritakan bahwa pada bulan September 1704 ia bertengkar dengan kapten kapalnya dan akhirnya ia meminta untuk diturunkan di sebuah pulau terisolasi yang di kemudian hari disebut oleh orang-orang Spanyol sebagai Pulau Juan Fernandes.        

Apa yang terjadi kemudian adalah cerita menegangkan mengenai kehidupan seorang Alexander Selkirk. Perahu kecil yang ditumpanginya untuk mendarat di Pulau Juan Fernandes hancur diterpa gelombang laut. Dan itu berarti ia harus tinggal di pulau kecil itu untuk waktu yang tidak diketahuinya. Sementara di pulau itu tidak ada manusia lain selain dirinya yang ditemani oleh binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan. Dapatkah kita membayangkan bagaimana Selkirk hidup menyendiri di pulau tersebut selama lima tahun (1704-1709)?         

Kapten Woodes Rogers dalam bukunya A Voyage Around the World yang diterbitkan di London pada tahun 1712 menulis demikian mengenai Alexander Selkirk di Pulau Juan Fernandes itu. “Setelah mengalahkan perasaan sedih dan kemurungan jiwanya, kadang-kadang ia mengalihkan perhatiannya kepada hal-hal lainnya, misalnya memahat namanya di pohon-pohon. Pada awalnya ia merasa sangat terganggu oleh banyaknya tikus dan kucing yang ada di sana dan yang berkembang biak dengan sangat cepat. Tikus-tikus mengerat pakaian dan kakinya ketika ia lelap tertidur sehingga ia harus membungkus tubuhnya dengan beberapa potong kulit kambing. Yang terjadi kemudian adalah bahwa tikus-tikus dan kucing menjadi jinak dan berteman dengannya. Untuk mengusir kejenuhannya, ia kadang-kadang menari dan menyanyi bersama tikus-tikus dan kucing-kucing tersebut. Semangat mudanya—ia berusia 30 tahun—yang membuat dia mampu mengalahkan perasaan sedih dan kesepiannya.”        

Pulau itu sekarang hanya dihuni oleh sedikitnya 600 orang. Sebagaimana diceritakan suami isteri James S. Bruce dan Mayme S. Bruce, kebanyakan orang mengunjungi pulau ini karena ingin merasakan bagaimana seorang Alexander Selkirk dapat bertahan hidup seorang diri di pulau ini selama kurang lebih lima tahun. Di sebuah bukit tidak jauh dari bekas tempat tinggal Selkirk ada sebuah gua yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai lookout. Konon dari gua di bukit berketinggian 2.500 meter inilah Alexander Selkirk mengamati ke arah laut untuk mengecek jika ada kapal yang lewat yang dapat dimintai pertolongannya. Dan ia melakukan itu selama 5 tahun sampai pada bulan Februari 1709 Kapten Woodes Roger dengan kapalnya Duke menemukan dan menyelamatkannya dari pulau maut itu.

***        

Dalam literatur politik ungkapan “kita bukanlah para penghuni Pulau Robinson Crusoe” dipakai terutama untuk mengeritik liberalisme klasik yang menempatkan individu sebagai pribadi-pribadi yang bersifat atomistik, seperti monad dalam pemikiran sang filsuf Lebniz, yang hidup untuk mengejar kekayaannya sendiri tanpa adanya hubungan dengan orang lain. Inilah pandangan ekonomi laissez faire yang menjadi semangat hidup masyarakat Barat sejak Adam Smith, yakni semacam spritualitas yang membatasi sama sekali intervensi pemerintah dalam urusan pengejaran dan penumpukan kekayaan privat, karena asumsi bahwa masyarakat secara keseluruhan akan menjadi sejahtera dengan sendirinya jika individu-individu dibiarkan mewujudkan kebebasannya secara penuh dalam proses kapitalisme. Penumpukan kekayaan privat dan gaya hidup yang individualistis sebagaimana terjadi dalam masyarakat Barat saat ini mencerminkan pola hidup atomistik seperti itu.        

Bernard Susser dalam bukunya Political Ideology in the Modern World (Allyn & Bacon: USA, 1995) mengeritik dengan sangat tajam individualisme yang berlebihan yang ditiupkan liberalisme klasik ini. Bagi Susser, individualisme yang berlebihan bukan saja sebuah kesalahan fatal dari sudut pandang epistemologi karena bertentangan dengan hakikat dasar manusia, tetapi juga absurd. Dia melihat, bahwa tidak hanya hakikat manusia adalah mahkluk sosial, tetapi bahwa kekayaan bertumpuk yang dimilikinya justeru diperoleh karena kesalinghubungan antarmanusia. “Berbicara mengenai kekayaan pribadi tidak bisa tidak berarti pengakuan bahwa klaim hak milik pribadi dimediasikan secara niscaya melalui institusi sosial dan perjanjian-perjanjian,” demikian Susser (1995, hlm. 89).        

Gambaran atau cita-cita mengenai kehidupan manusia yang terpisah sama sekali dari orang lain justeru menjadi karikatur yang lucu dewasa ini. Kesendirian seorang Alexander Selkirk di Pulau Juan Fernandes bukan merupakan sebuah pilihan yang sengaja dan rasional, tetapi lebih merupakan sebuah “kecelakaan” karena terjadi di luar kemauan seseorang. Individualisme mutlak dewasa ini bahkan telah menjadi sebuah ideologi yang tidak menarik bagi sebuah kehidupan sosial persis ketika ia memaklumkan sebuah “spiritualitas” yang mencabut manusia dari hakikatnya sendiri.           

Liberalisme klasik telah menimbulkan banyak penyimpangan dalam masyarakat Barat, paling tidak dalam hal akses terhadap sarana-sarana sosial dan partisipasi politik warga negara. Tidak jarang orang kaya lebih memperoleh kemudahan dalam mengakses sarana-sarana sosial yang tersedia serta lebih berpeluang dalam mengakses kekuasaan. Liberalisme klasik dengan semangat individualismenya mematikan ruang publik tempat para warga masyarakat berinteraksi dan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan bersamanya. Sebaliknya, penolakan terhadap liberalisme klasik menciptakan ruang publik yang hilang itu, mengembalikan masyarakat ke hakikatnya sebagai mahkluk sosial dan membiarkan mereka saling berhubungan dan mendiskursuskan berbagai hal yang menyangkut kepentingan hidup bersama sebagai warga negara. Demokrasi dan hanya demokrasi yang mampu menggerakkan hal ini. Sementara itu, solidaritas sosial justeru diperanakkan oleh demokrasi itu sendiri dalam sebuah ruang publik yang terbuka untuk dimasuki oleh semua orang bebas dan rasional.           

Di Indonesia kita tidak punya tradisi perdebatan seputar liberalisme klasik, liberalisme modern, demokrasi maupun solidaritas sosial. Kita mengeritik secara pedas liberalisme Barat sebagai yang bertentangan dengan Pancasila, tetapi kita tidak pernah serius membuat pembedaan antara liberalisme klasik dan liberalisme modern yang sangat demokratis dan yang sangat pro solidaritas sosial. Ketika masyarakat Barat sekarang ini perlahan-lahan meninggalkan demokrasi klasik dan menghidupi semangat hidup liberalisme (modern) yang demokratis dan pro solidaritas sosial, kita masih berkutat dengan kepentingan-kepentingan individu atau kelompok. Ketika masyarakat Barat secara gencar memajukan sebuah semangat hidup kosmopolitan yang bebas, demokratis serta menghargai hak dan kehidupan semua orang, kita masih dicengkeram oleh pertentangan antaretnis dan agama. Perdedatan-perdebatan politik kita pun belum berhasil mengatasi kepentingan-kepentingan individualistis atau golongan. Selama lima tahun Alexander Selkirk menantikan pembebasannya dari kesendirian hidup di Pulau Juan Fernandes. Di sini kita mengerti bahwa ada rentang waktu antara datangnya pembebasan dan penantian kita. Karena itu, kita pun kemudian menerima kenyataan bahwa mengubah paradigma “orang-kita” ke paradigma “ke-kita-an” membutuhkan waktu. Kesadaran kita mengatakan bahwa waktu yang dibutuhkan bisa cepat tetapi bisa juga sangat lambat. Satu hal yang jelas membuat kita berbeda dengan Alexander Selkirk adalah usaha atau perjuangan menggapai pembebasan. Alexander Selkirk tanpa henti-hentinya berdiri di atas bukit dengan tatapan mata yang menerawang jauh ke lautan lepas. Dia melakukan hal itu selama lima tahun. Apakah sebagai bangsa kita bisa mengharapkan terbentuknya komunitas hidup bersama di mana semua orang diterima sebagai sesama anak bangsa tanpa usaha bersama untuk mengatasi perjuangan kepentingan diri atau kelompok? Jika Alexander Selkirk seringkali harus berdiri di atas bukit di dekat tempat tinggalnya untuk mengamati kapal yang lewat yang dapat menyelamatkan hidupnya, kapankah kita mulai bergerak naik (baca: mengatasi kepentingan individu dan kelompok) dan mulai mewujudkan sebuah kehidupan bersama dalam paradigma “kekitaan” tanpa memandang agama, suku, kelas sosial, atau etnis?[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s