Hidup Bermakna

HIDUP BERMAKNA

Seorang rekan kita (mahasiswa UBinus) mengajukan pertanyaan di Forum Diskusi (Binus Maya) demikian, “Apakah dalam hidup ini kita akan mencapai kebahagiaan?” Pasti ada berbagai macam jawaban atas pertanyaan ini. Wajar jika ada pro dan ada kontra. Pertanyaan ini memang mendasar dan harus dijawab, paling tidak oleh masing-masing kita. Saya berusaha menjawab pertanyaan ini dengan membagi gagasan mengenai apa artinya “hidup yang bermakna”. Kebahagiaan dan seluruh indikatornya mungkin lebih sering terasa abstrak. Merenungkan kehidupan bermakna akan membuka wawasan kita kepada pemahaman tentang apa itu kebahagiaan.

Bangunlah dan Dengarlah Suara Batinmu

Aku punya seorang sahabat dekat yang menikah pada usia yang cukup terlambat. Dia selalu menunda perkawinan karena ingin menunggu saat yang tepat dan pasangan yang sesuai dengan kriteria-kriterianya. Menurut perhitungannya, suaminya yang sekarang adalah sosok yang memang cocok dengan kriteria-kriteria yang dia kehendaki. Dan bahwa kriteria-kriteria itu juga cocok dengan kriteria-kriteria calon suami yang diinginkan ibunya, atau mungkin juga disetujui oleh kebanyakan ibu, termasuk ibu saya. Suaminya adalah seorang laki-laki yang atletis, tinggi, ganteng, dan saleh (religious).  Setelah beberapa saat menikah, dia justru menghadapi masalah yang selalu mengganggu pikirannya, dan yang membuat dia merasa sangat keletihan. Temanku itu ingin sekali pindah dari rumah mereka yang lerletak di gang sempit nan kumuh itu ke daerah yang lebih luas dengan rumah yang lebih luas dan modern. Tetapi suaminya tidak mau pindah karena memang mereka tidak punya cukup uang untuk membeli rumah. Suaminya tidak ingin menambah utang lagi, karena utang dari bank yang dia pinjam untuk kuliah dulu belum lunas dibayar. Padahal temanku ini sudah berangan-angan, bahwa hari kepindahannya ke rumah baru akan menjadi momen yang paling membahagiakan dalam hidupnya.  Temanku ini terus dihantui dengan pikiran dan kekesalannya. Hari-hari dilaluinya dalam keputusasaan tanpa harapan. Apapun juga suara yang dia dengar, dia merasa bahwa kata-kata berikut terus menghantui batinnya: “Hidup ini ternyata telah membohongiku.” Setiap kali dia bangun pagi dan menghadapi hari-hari, suara lain seakan berkata kepadanya, “Hanya seginikah hidupmu?” Pada usia yang baru matang, yakni 18 tahun, saya merasa pasti dengan satu hal: Saya tidak ingin menikah dengan seorang pria hanya demi kenyamanan keuangan (financial security), demi sebuah status sosial, atau karena ingin berlari dari rasa kesepianku. Saya tidak ingin menikahi seorang pria yang tidak punya visi mengenai apa dan keluarga seperti apa yang akan kami bangun bersama. Hanya dalam hitungan beberapa bulan saya sudah mantap berdiri mendampingi calon suami saya di pesta pertunanganan kami. Pusat perhatian dan tekad saya sungguh menjadi kenyataan dalam hidup sehari-hari. Selama beberapa tahun perkawinan kami, diiringi dengan berbagai persoalan dan keberhasilan yang memang menjadi bagian tak-terpisahkan dalam hidup perkawinan, tak ada satu hal pun yang bisa menghalangi kegembiraan dan kebahagiaan saya, yakni ketika saya memulai sebuah hidup baru. Saya kemudian memilih saat peralihan menuju hidup baru ini sebagai momen yang paling membahagiakan dalam hidup saya.   Apa momen atau saat peralihan ke dalam hidup baru yang sangat membahagiakanku itu? Saya tentu tidak lebih baik dari sahabat saya yang saya ceritakan di atas. Saya sedikit lebih beruntung. Tentu saja saya juga memiliki suara-suara batin. Orang tua saya pun memiliki kriteria sendiri mengenai hidup saya dan calon suami saya, dan itu semua tetap saya pertimbangkan. Tetapi pada akhirnya, saya membiarkan suara-batin saya bersuara lebih keras dari suara-suara lainnya. Dan ketika saya membiarkan suara-batinku itu berbicara, suara itu semakin lama semakin keras. Saya tahu bahwa suara itu akan menempatkan saya pada jalur yang benar dalam hidup ini.  Kesadaran baru yang membahagiakan dan mengubah hidup saya adalah kesadaran bahwa setiap kita adalah unik. Masign-masing kita diciptakan dengan satu misi khusus, misi khas yang tidak bisa diganti oleh orang lain, apalagi dikerjakan oleh orang lain. Kegembiraan dan kebahagiaan sejati saya rasakan bergaung dari perasaan dan suara batinku yang menyadarkanku bahwa aku berada di jalur yang benar dalam hidupku, dan bahwa hidup ini tidak akan sia-sia. Supaya menjadi orang yang bermakna kita harus terus-menerus bertanya kepada diri sendiri: “siapa diri kita?” “Ke mana kita akan pergi?” “Apa yang kita butuhkan untuk mencapai tempat tujuan itu?” Kebanyakan kita menerima tujuan dan cita-cita hidup dari orang tua kita, rekan dan teman sebaya, komunitas kita, yang ikut menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar ini. Tetapi apakah jawaban-jawaban yang kita dengar itu memang tepat dan menjadi jawaban kita sendiri?

Potret dari Hidup yang Penuh Shraga Eizenstark tidak pernah berencana untuk menjadi seorang pahlawan. Ketika dia bertemu pertama kalinya dengan anak-anaknya Heilburn, sesuatu terjadi. Keadaan telah membuat ayah dari anak-anak itu tidak mampu menjadi ayah yang baik bagi mereka. Sementara itu, ibu mereka yang manis, lembut, dan rapuh tidak punya cukup uang untuk membiaya hidup anak-anaknya. Penghasilan bulanannya jauh dari mencukupi. Shrage singgah dalam hidup dan penderitaan keluarga ini. Anak-anak itu ditampung dalam asrama yang dikelola Shrage. Membangunkan anak-anak untuk menyambut hari baru yang indah atau mengecek apakah anak-anak sudah mengenakan piyama atau belum di malam hari adalah pekerjaan yang dilakukan Shrage setiap hari, dan dia melakukannya dengan suka cita.  Dua minggu yang lalu Nyonya Heilburn (ibu dari anak-anak yang miskin dan malang itu) tewas dalam sebuah kecelakaan bersama putranya yang paling kecil. Shrage telah meninggalkan segalanya dalam hidupnya dan membaktikan sisa hidupnya mengurus anak-anak miskin di asrama. Jika kita bertanya kepada Shrage, berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk mengurus dan membesarkan anak-anak di asrama, dia akan menjawab dengan mantap: “Sampai mereka menjadi dewasa dan mandiri!” Shrage seakan sudah ditentukan untuk mengerjakan hal ini. Dia memiliki misi khusus dalam hidupnya, dan dia dengan suka cita melaksanakannya. Tidak perlu terlalu serius berpikir untuk menyimpulkan betapa berharganya dan berpengaruhnya Shrage bagi anak-anak di asrama. Kehadiran dan pendampingannya akan mempengaruhi seluruh hidup anak-anak. Ketika kita tidak melihat sesuatu yang berharga di balik setiap kejadian, Shrage yang adalah guru SD telah menemukan nilai-nilai herois, belarasa (compassionate), dan transenden dalam hidupnya, yang sangat mudah menjadi tidak tampak, entah bagi dirinya atau bagi orang lain. Dia telah menyadari dan menemukan mutiara berharga dalam hidupnya sendiri.

Mengapa Kita Ada Di Sini?Kita semua ada di sini untuk sesuatu tujuan. Ada dari kita yang selalu membuka diri dan siap menolong sahabat dan orang lain yang membutuhkan. Ada dari kita yang memiliki jiwa yang besar dan hati yang selalu terbuka untuk mengasihi, terlepas dari segala kekecewaan yang dialaminya. Ada dari kita yang dengan keramahan yang dimilikinya selalu membuat orang lain tersenyum dan terhibur. Ada dari kita yang selalu mengingatkan kita, bahwa Tuhan mengasihi kita. Inilah orang-orang yang sudah menyadari alasan mengapa mereka hidup dan hidup hidup di jalan yang benar menuju ke kepenuhan hidup, hal yang barangkali masih tersembunyi bagi kebanyakan kita. Supaya bisa menemukan tujuan hidup kita di dunia ini, kita bisa melakukannya dengan mengikuti tahapan-tahapan ini.

Pertama, belajarlah untuk selalu mendengar suara batinmu, dan bukan suara orang tua atau sahabat. Meskipun memuaskan orang tua adalah hal yang baik, di masa  depan yang lebih tahu akan makna hidup yang penuh dan berkelimpahan adalah kita sendiri. Kitalah yang menentukan langkah hidup kita sendiri.  Kedua, selalu tekun berusaha untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Kita mungkin kagum dengan orang-orang di sekitar kita yang selalu bekerja keras untuk meraih segala yang diinginkannya. Yang lebih mengagumkan tentu saja adalah melihat orang yang mengorbankan hal yang paling berharga dalam hidupnya demi meraih sesuatu tujuan yang bagi orang lain bukan merupakan tujuan yang seharusnya dikejar. Yang penting untuk selalu kita ingat adalah kenyataan bahwa sarana-sarana untuk meraih aktualisasi diri yang penuh ada dan tersedia di tangan kita. Apa yang kita miliki kurang penting dibandingkan dengan diri kita sendiri. 

Ketiga, jangan takut pada kegagalan. Kita gagal dan berusaha lagi. Ketika gagal, kita memberi kesempatan sekali lagi kepada diri kita sendiri sambil berusaha keras untuk meraih yang kita inginkan. Sama seperti dalam kehidupan spiritual, selalu ada saat di mana kita gagal dan saat di mana kita berhasil. Dengan kata lain, kegagalan adalah bagian dari hidup. Yang membuat kita berbeda adalah apakah kita tinggal dalam kesedihan karena gagal atau kita bangkit untuk memulai lagi perjalanan.  Keempat, kejelasan dan fokus. Hidup ini perlu kejelasan dan fokus. Saya membayangkan diri saya berdialog dengan seorang malaikat, dengan seorang penghujat, dengan seorang penyelamat. Malaikat penjemput maut menghampiri aku dalam mimpiku. “Saya sekarang datang menjemputmu, Tiara, “sapa malaikat itu dengan suara yang lembut. “Tidak, jangan sekarang. Aku belum siap!” Tiba-tiba ada saat di mana kami terdiam. Malaikat itu tiba-tiba menjadi sangat ramah, membiarkan waktu kepada saya memikirkan apa yang sebetulnya ingin saya lakukan dalam hidup saya, jika jiwa saya tidak diambil malaikat itu. Momen keheningan itu seperti sebuah pengalaman kekekalan. Malaikat itu bertanya, “Apa yang masih ingin kamu lakukan dan kamu butuh berapa lama untuk melakukannya?” Kata-kata akhirnya keluar dari mulutku …. “Gedung. Bimbingan. Belajar. Anak-anak. Anak-anak mereka. Membutuhkan waktu yang lama. Berikan aku kehidupan, aku akan menggunakannya!” Saya terjaga dari tidurku ketika saya membayangkan sahabatku yang aku ceritakan di atas berkata, “Maksud Anda saya tidak akan pernah bisa keluar dari rumah yang kecil dan kumuh ini? Sebelum saya mati saya harus sudah tinggal di rumah yang mewah dan luas!”  Kadang-kadang mimpi-mimpi yang kita alami terasa aneh. Kita tidak mengerti. Tapi, kalau kita terus mencermatinya, mimpi bisa menjadi suara batin yang menyadarkan kita akan sesuatu yang amat berharga dalam hidupmu.   Di manakah engkau menaruh hidupmu? 

Diterjemahkan dengan bebas oleh Jeremias Jena.

Sumber: Rebbetzin Tzipporah Hellen, A Meaningful Life. http://www.aish.com/spirituallity/growth/A_Meaningful-Life.asp

5 pemikiran pada “Hidup Bermakna

  1. Kamu benar, Ian.
    Bahagia memang bukan tujuan. Perasaan bahagia atau keadaan mencapai kebahagiaan adalah buah atau hasil akhir dari sebuah proses menemukan kebahagiaan. Dengan kata lain, kebahagiaan dicari bukan sebagai tujuan (intentionem), tetapi sebagai akibat atau efek (efectum) dari mengusahakan kebahagiaan.

  2. IMO, jika tujuan hidup seseorang tercapai maka baginya itu sudah berarti bahwa hidupnya bermakna, sehingga ia merasa bahagia. Tujuan itulah yang harus dicari dan diraih.

    Tapi untuk lingkup yang lebih sempit (bukan kebahagiaan eternal), dalam kehidupan sehari-hari misalnya, menurut sudut pandang psikologi, kebahagiaan hanya ditentukan oleh bagaimana cara seseorang melihat hidup itu sendiri: he sees his glass half empty, or half full? Sometimes it’s just as simple as that, right?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s