Teror

Teror Itu Bernama Flu Burung

 “Karena umat manusia tidak berhasil mengatasi kematian, kesengsaraan, dan ketidaktahuan, mereka memutuskan untuk tidak memikirkannya.” Blaise Pascal        

Kematian telah menjadi momen terminal yang sangat menakutkan bagi sebagian besar orang. Barangkali hanya sekelompok kecil manusia yang berani menerima peristiwa ini sebagai bagian dari eksistensi dirinya, apa yang oleh Martin Heidegger dibahasakan sebagai penghayatan “ada menuju kematian” (being towards death). Orang beragama segera tahu, bahwa sebagian kecil orang yang dimaksud adalah mereka yang telah mengalami “perjumpaan” istimewa dengan Sang Ada (Supreme Being), lagi-lagi sebuah pengalaman eksistensial lain—kematian termasuk salah satu pengalaman eksistensial—yang mampu meruntuhkan kategorisasi aku – engkau atau distingsi masa lalu – masa kini – masa yang akan datang. Bagi mereka, masa lalu adalah masa kini dan masa yang akan datang, karena masa atau momentum dimaknakan sebagai saat atau waktu seseorang menghayati eksistensinya sebagai eksistensiku, yakni eksistensi atau ada-ku bersama dengan Sang Ada Mutlak.        

Sebagian besar orang justru menghindari momen kematian sejauh mungkin, karena peristiwa tersebut tidak saja menegangkan dan sangat menggetarkan hati, tetapi menimbulkan rasa tidak enak yang mendalam dari orang yang memikirkannya. Manusia pada dasarnya menghindari semua hal yang menimbulkan rasa tidak enak. Karena itu tidak heran jika manusia berusaha untuk tidak memikirkan kematiannya. Daripada memikirkannya dan kemudian tidak mampu mengatasinya, demikian Blaise Pascal, lebih baik tidak memikirkannya.        

Kultur modern memungkinkan kita melupakan momen kematian. Kesibukan sehari-hari serta kehidupan material yang menyenangkan telah menjadi faktor dominan mengapa orang cendrung tidak memikirkan kematian. Paling tidak kenyataan seperti inilah yang diamati Ernest Becker ketika dia menulis bukunya yang terkenal berjudul The Denial of Death (1973). Bagi Becker, orang tidak hanya melupakan kematian sebagai saat yang menakutkan, tetapi menekan (repressed) ketakutan akan kematian sebegitu rupa dengan akibat ketakutan akan kematian yang akan timbul di kemudian hari jauh lebih menegangkan ketika orang harus berhadapan dengan kematiannya sendiri.        

Kita persis berada di zaman ketika di satu pihak momen kematian ingin dilupakan, tetapi di lain pihak “terpaksa” dipikirkan, terutama ketika harus menghadapi kejadian-kejadian menakutkan semisal tindakan-tindakan terorisme (bom, pembunuhan, penculikan, pembajakan, dan sebagainya), perampokan di taksi dan angkutan-angkutan umum, pemerkosaan, atau yang paling terakhir adalah mewabahnya flu burung. Berbeda dengan tindakan-tindakan terorisme yang memiliki tujuan akhir politis tertentu (definisi terorisme memang begitu), atau tindakan-tindakan kejahatan dengan motif ekonomi sebagai tujuan akhirnya, wabah flu burung tidak memiliki tujuan akhir tertentu di luar dirinya. Wabah itu terjadi demi wabah itu sendiri, tidak ada pelaku utama, tidak ada auctor intelectualis, dan tidak ada wilayah target (targeted area) tertentu. Begitu muncul, wabah flu burung dapat menyebar kemana pun juga dan dapat menyerang siapa pun juga. Prediksi bahwa kematian yang ditimbulkan flu burung dapat mencapai jutaan orang kalau penanganannya tidak dilakukan secara tepat atau mulai adanya penyebaran dari manusia ke manusia dalam skala besar (Kompas, 23 September 2005) semakin menambah ketakutan akan kematian itu sendiri. Pelaku teroris dan penjahat adalah “sosok”, pribadi atau orang, yang potret dirinya dapat disebar, dapat ditangkap dan diadili. Flu burung bukanlah pribadi. Ia adalah “mahkluk” yang paling menakutkan saat ini, ibarat hantu yang mampu menembus ruang dan waktu. Flu burung meneror kesadaran dan mengusik ketenangan persis ketika kita mulai menyadari bahwa penularnya adalah unggas, mahkluk yang tidak hanya dekat dengan kehidupan kita, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan kita sendiri.        

Bagaimanapun juga, manusia harus mengatasi ketakutan akan kematian yang ditimbulkan flu burung. Blaise Pascal mungkin saja benar, bahwa manusia dapat memilih untuk tidak memikirkan momen kematian ketika dia tidak berhasil mengatasinya. Tetapi, bagaimana mungkin kita tidak memikirkan momen kematian ketika di sekitar kita banyak orang mati karena flu burung? Apakah kita harus menekan dengan melupakan efek yang ditimbulkan oleh perasaan takut sebagaimana dipotret Ernest Becker? Bukankah akan terjadi, bahwa semakin perasaan takut itu ditekan atau dilupakan, justru semakin menimbulkan ketakutan-ketakutan yang jauh lebih mengerikan? (Dalam pemikiran Sigmund Freud, ketakutan yang diditekan justru akan melahirkan perilaku-perilaku neurosis yang merusak perkembangan kepribadian yang sehat).        

Masyarakat ternyata memiliki cara sendiri dalam mengatasi ketakutan akan kematian. Daripada menghindar atau melupakannya, mereka berusaha menjelaskan seluruh peristiwa kematian, termasuk yang ditimbulkan oleh flu burung sebagai momen di mana Yang Mutlak (Supreme Being) menyatakan kehendak-Nya. Dalam sebuah obrolan, seorang teman berpendapat bahwa Yang Maha Kuasa sedang menunjukkan kehendak-Nya kepada manusia lewat peristiwa-peristiwa menakutkan seperti flu burung, kecelakaan pesawat, bencana alam tsunami dan bencana banjir, kebakaran, penyakit kawasaki dan peristiwa-peristiwa lainnya yang terjadi di Indonesia. Ketika ditanya, apa kehendak Yang Maha Kuasa yang ingin diperlihatkan-Nya itu? Dia menjawab, bahwa kehendak-Nya adalah supaya manusia kembali hidup dalam jalan-Nya. Bagi dia, selama ini manusia sudah terlalu jauh dari perintah-perintah Tuhan. Korupsi merajalela, ketidakadilan meningkat, perjudian, pelacuran, dan pembabatan hutan semakin meningkat. Semuanya menggambarkan keserakahan manusia yang ingin mengambil lebih dari apa yang dijatahkan Tuhan baginya.        

Masyarakat tidak tahu apakah penjelasan-penjelasan yang mereka berikan mengungkapkan pandangan teologi predestinasi atau tidak. Mereka juga tidak mengerti diskusi antara kemahakuasaan Tuhan (the omnipotence of God) dan kehendak bebas manusia. Yang mereka tahu adalah mereka berhadapan dengan peristiwa-peristiwa menakutkan, momen-momen eksistensial seperti kematian, yang tidak bisa mereka hindari. Cara mereka menerima peristiwa kematian yang meneror kesadaran seperti flu burung dan peristiwa-peristiwa lainnya adalah dengan menjelaskannya menurut akal sehat (common sense) mereka. Tampaknya seperti itulah masyarakat kita memaknakan kehidupan. Yang menakjubkan adalah bahwa mereka konsekuen dengan apa yang mereka pikirkan. Membasmi ribuan unggas, menjauhi praktik-praktik perjudian, dan mulai hidup di “jalan Tuhan” adalah konsekuensi logis dari cara mereka berdamai dengan dan menerima kehendak Tuhan. Dalam konteks ini masyarakat umumnya tidak bersikap parsial. Mereka memaknai kejadian-kejadian sehari-hari dengan menarik benang merah tertentu, misalnya dengan menghubungkannya dengan kehendak Tuhan dan sebagainya. Benang merah penjelasan-penjelasan ini menjadi semacam prinsip-prinsip penjelas yang akan dipakai untuk memaknai peristiwa-peristiwa apa saja yang berhubungan dengan teror dan kematian.         

Barangkali pemerintah harus belajar dari masyarakat untuk bersikap holistik menghadapi berbagai peristiwa yang menimpa negara kita. Kita tidak harus mengatakan bahwa semua tragedi yang menimpa bangsa kita adalah akibat dari dosa-dosa pemerintah sama seperti ketika masyarakat menghubungkannya dengan pelaksanaan kehendak Tuhan di dunia. Meskipun demikian, traged-tragedi yang terjadi memiliki benang merah yang perlu diungkapkan. Memang ada bencana alam yang terjadi di luar kendali manusia, tetapi tragedi seperti bencana banjir berhubungan erat dengan penebangan hutan. Kelangkaan BBM ada hubungan dengan penimbunan dan ekspor BBM ilegal. Keruntuhan ekonomi erat hubungannya dengan penggelapan pajak dan korupsi. Flu burung tidak bisa dipisahkan dari kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang peternakan, dan sebagainya. Benang merah tragedi-tragedi inilah yang seharusnya menjadi prinsip penjelas (eksplanan) yang sekaligus memengaruhi pengambilan tindakan ketika berhadapan dengan tragedi-tragedi nasional. Sikap parsial seperti memisahkan pencegahan illegal lodging atau penimbunan dan ekspor BBM dengan korupsi dan penegakan hukum tidak hanya membuat kita bersikap parsial dan kasuistik, tetapi juga tidak mampu memotong akar kejadian-kejadian itu.        

Pemerintah yang tidak mampu mengatasi tragedi-tragedi yang sedang melanda bangsa ini hanya akan menjadi teroris yang mengusik kesadaran dan menimbulkan ketakutan yang mendalam akan ketidakpastian hari esok. Jenis terorisme ini akan sama dengan terorisme yang ditimbulkan oleh flu burung. Keduanya hanya akan menjadi hantu yang menakutkan, yang menembus relung-relung kesadaran dan menciptakan ketakutan yang maha dahsyat di dalamnya sampai-sampai kita tidak mampu menghindar darinya. Jangan sampai hal ini terjadi, supaya kita tidak menjadi masyarakat yang insane.[] 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s