Tobat

Pengantar

Berikut adalah kisah rekaan saya. Cerita ini saya gubah untuk kepentingan kuliah CB-3. Mahasiswa akan saya minta menelusuri dan mendeteksi tahap-tahap perubahan hidup Lita ketika dia “kembali” percaya pada Tuhan. Tokoh yang ada dalam cerita ini pun fiktif belaka. Terima kasih! 

Selalu Ada Jalan Untuk Kembali

Namaku Lita. Aku bukan seorang ibu yang sangat taat beragama. Bagiku, Tuhan pasti ada. Eksistensinya tidak dapat kupungkiri lagi, terutama ketika aku berhadapan dengan peristiwa atau kejadian sehari-hari yang sulit kupahami dengan nalar. Aku yakin, pendidikan agama yang aku terima sejak kecil punya andil besar menanamkan dalam diriku kesadaran akan eksistensi Tuhan. Ya, Tuhan Maha Tahu. Dia Maha Pengasih lagi Penyayang. Dia mencintai manusia, cinta-Nya tak berkesudahan, dan seterusnya. Bagiku, semuanya ini hanyalah predikat, atribut, atau apapun juga namananya, yang tidak bermakna apapun bagi hidupku. Kalau kemudian aku harus berdoa, itu kulakukan karena rasa malu terhadap kedua orang tuaku.

Meskipun bukan berasal dari keluarga kaya, ayahku cukup punya nama di masyarakat. Dia seorang guru SMA dengan predikat segudang: penuh perhatian, kebapaan, rama, suka menolong, suka mendengarkan, dan—ini  yang sering membuat aku kagum—saleh. Mungkin orang tidak salah menyematkan atribut ini. Ayahku tidak hanya rajin berdoa. Dia juga gemar beramal. Dia sering mengatakan kepada kami anak-anaknya, bahwa hidup ini hampa makna kalau tidak mengandalkan Tuhan. Sebagai anak, saya tahu dengan baik, bahwa ayahku memang seorang yang saleh. Tuhan seakan begitu dekat dan nyata dalam setiap detak jantung dan desah napasnya. Kehadiran Tuhan terasa memenuhi ruang tempat di mana ayahku berpijak.

Dari semua petuah yang pernah dia wariskan, yang satu ini sangat mengusik kesadaranku. Di malam sebelum hari pernikahanku dengan Benny, ayaku berkata, “Zita, ayah hanya berharap agar kamu mau membangun rumah tanggamu di atas fondasi iman yang kokoh.” Ya, aku tahu! Ayah ingin agar aku selalu mengandalkan Tuhan.

Harus kuakui, ini bukan perkara mudah bagiku. Aku seorang arsitek lulusan perguruan tinggi negeri tersohor di ibu kota. Pekerjaanku membiasakan aku berpikir sangat rasional dan terukur. Bagiku, Tuhan memang ada, tapi hanya sebatas mengisi ruang kosong pengalaman atau kejadian yang belum mampu dijelaskan nalar. Aku juga sangat kalkulatif dan mementingkan hasil akhir yang nyata dan terukur. Bagiku, soal ibadah, sedekah, doa berjemaah, praktik-praktik ritual keagamaan, dan sebagainya, lebih sering menyita waktu dari pada membawa keuntungan. Hasil akhirnya pun masih jauh dari jelas.

Begitulah warna dan irama kehidupan aku dan keluargaku di lima tahun pertama perkawinanku. Kalau saja “tragedi” yang menimpa putra tunggalku tidak pernah terjadi, aku barangkali tidak pernah bisa menghayati kehidupan beragama seintensif sekarang. Anakku seorang mahasiswa teknik dan anggota kelompok pencinta alam. Begitu banyak gunung yang yang telah ditaklukkan putraku dan teman-temannya. Dia sering bercerita tentang indahnya muka bumi ketika dipandang dari atas gunung. Dia juga menegaskan betapa kecil dan rapuhnya manusia saat berada di hadapan daya kekuatan alam yang maha hebat. Saya setuju dengan pencerahan batin yang dicapai anakku, bahwa mencapai puncak sebuah gunung butuh penyerahan diri total dalam kerendahan hati pada Sang Khalik yang Maha Tinggi.         Tidak kusangka, itulah kata-kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya seminggu sebelum dia bersama keempat rekannya mengadakan pendakian lagi. Dan itu benar-benar menjadi sebuah wasiat yang sangat bernilai artinya, karena setelah itu, anakku tidak pernah kembali. Dia hilang ditelan bumi. Jejaknya tak tercium. Asa untuk mendekap sekali lagi jasad putraku pun sirna ketika tim SAR dibantu petugas menara pemantau memutuskan bahwa anakku dan rekan-rekannya benar-benar hilang.

Sejak kejadian itu, kata-kata ayahku kembali mengusik kesadaranku. Zita, andalkan Tuhan dalam hidupmu! Ya, benar. Aku harus mengandalkan Tuhan, bukan ketika nalarku sudah tidak sanggup lagi mengurai masalah. Juga bukan sebagai semacam hiburan sesaat atas derita batin kehilangan putra kesayanganku. Putraku seakan mengajari aku bagaimana Tuhan harus dicari. Harus dengan keuletan dan kesabaran, harus dengan kekuatan menahan rasa sepi, ketakutan dan ketidakpastian sama seperti yang dilakukan para pendaki gunung. Tapi, yang mungkin membedakan aku dengan putraku adalah bahwa Tuhan “menemukan” aku ketika aku tidak sanggup dan tidak mau mencari diri-Nya.

Titik balik pun menghampiri hidupku, dan aku  tidak pernah menyesal karena perubahan ini. Tuhan telah membawaku kembali kepada-Nya, bukan semata-mata karena aku kehilangan putraku, tetapi terutama ketika aku lalai memahami kehadiran-Nya. Tuhan telah meluruhkan kebekuan hatiku dan mendekap aku dalam kasih setia-Nya ketika aku lebih mengandalkan kekuatan nalarku. Sejak saat itu dan seterusnya, aku hanya memiliki satu tekad, dan itu sekaligus menjadi untaian doa-doaku saban hari. “Izinkan aku mendaku gunung-Mu, ya Tuhan. Biarkan aku ikut merasakan sunyi sepi jagat ini. Karena Engkau dapat kutemui bukan ketika aku sanggup menaklukkan dunia, tetapi ketika aku sudud dan berserah diri. Total hanya bagi-Mu. Dan semoga orang-orang di sekitarku dan sekalian semesta alam merasakan kehadiran-Mu, sama seperti aku merasakan kehadiran diri-Mu dalam diri ayahku, almarhum.”

Bagaimana kamu memahami kisah ini? Dapatkah kamu menunjukkan tahap-tahap perubahan hidup Lita dampai dia memutuskan kembali kepada Tuhannya?

2 pemikiran pada “Tobat

  1. ceritanya si tidak terlalu seru, tapi inti dari kisah tsb cukup bagus,
    semoga dengan blok ini,
    setiap orang yang selama ini msh mengandalkan dirinya sendiri, mulai tergerak hatinya untuk mengndalkan tuhan,
    dan yg sudah mengandalkan Tuhan, bisa lebih lagi mengandalkan Tuhan dalam segala perkara dalam kehidupannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s