Mendidik Cara Don Bosco

azrou_center_morocco_m“Susternya jarang ditemui, jarang kelihatan,” demikian pengakuan seorang siswa yang sedang menuntut ilmu di sebuah lembaga pendidikan yang dikelola para biarawati. Untuk pembaca yang non-Katolik, “biarawati” digunakan untuk menyebut sekelompok perempuan yang mempersembahkan hidupnya secara utuh dalam pelayanan kepada Gereja Katolik dengan mengikrarkan kaul (sumpah suci) untuk hidup dalam komunitas religius dalam semangat ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan. Para biarawati ini sehari-hari dikenal sebagai “para suster”. Mereka menghidupi semangat atau spiritualitas pelayanan tertentu yang biasanya telah diletakkan dasarnya oleh pendiri mereka dan yang kemudian disetujui oleh pimpinan Gereja Katolik di Vatican. Salah satu bidang karya para biarawati ini adalah menyelenggarakan pendidikan Katolik.

Kembali ke pernyataan sang siswa tadi: para suster susah ditemui, mereka jarang kelihatan. Ketika saya bertanya lebih lanjut, siswa tersebut mengatakan bahwa para suster memang tidak berbaur dengan para siswa. Bahkan ketika istirahat pun mereka (maksudnya para suster) jarang kelihatan. Jika begitu, siapakah sebenarnya yang menyelenggarakan sekolah tersebut? Apakah kaum awam alias para guru yang non-biarawati tersebut? Dalam sekolah semacam ini tidak jarang kita melihat peran guru-guru awam yang sangat dominan, termasuk juga dalam penegakkan disiplin. Karena itu, bukan hal yang aneh jika ada siswa yang berpendapat bahwa guru (awam) sepertinya lebih “galak” dari para biarawati.

Keadaan semacam ini bisa dibaca secara positif, tetapi bisa juga negatif. Secara positif dapat dikatakan bahwa minimnya keterlibatan para biarawati di antara para siswa merupakan cara yang baik untuk mendorong peran aktif para guru awam. Karena para biarawati umumnya sudah menduduki posisi-posisi kunci seperti Kepala Sekolah, maka “guru awam” diberi kepercayaan lebih untuk mengatur jalannya sekolah. Meskipun begitu, minimnya kehadiran para suster di antara siswa dapat dilihat sebagai hal yang negatif, dan inilah yang ingin saya soroti di sini.

Saya teringat, ketika pertama kali menjadi guru di tahun 1989. Waktu itu saya baru lulus SMA dan sedang bersiap menapaki jalan panggilan imamat. Karena saya memutuskan bergabung dengan para imam Salesian yang bidang karya utamanya adalah pendidikan, saya dan rekan-rekan ditugaskan untuk tinggal sebagai calon novis di salah satu komunitas pendidikan para imam Salesian. Saya diutus bersama seorang rekan dari Timor Leste untuk tinggal di salah satu komunitas di ujung Pulau Timor yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMK. Demikianlah, tahun 1989 – seusai menyelesaikan SMA – saya langsung terjun menjadi guru SMP.

Guru di sekolah-sekolah yang dikelola para imam Salesian memiliki semangat pelayanan yang berbeda. Mereka harus menjadi guru sebagaimana yang dikehendaki Santo Yohanes Bosco, seorang pendidik dan rasul kaum muda. Salah satu praktik yang sangat ditekankan pada waktu itu adalah bahwa pada jam istirahat para guru tidak boleh ada di kantor. Mereka harus berada di halaman sekolah, di gang, di kantin, dan di sudut-sudut sekolah di mana para siswa bisa ditemui. Di situ para guru harus berinteraksi dengan para siswa,berdialog dengan mereka. Para guru harus memosisikan diri mereka di tengah para siswa bukan sebagai polisi tetapi sebagai asisten.

Don Bosco menggunakan istilah asisten. Per definisi, kata “asisten” diartikan sebagai orang atau pribadi yang hadir untuk membantu/menolong. Demikianlah, kata “asisten” bersinonim dengan kata-kata seperti “pembantu” (helper), “yang hadir dan membantu” (attendent), “penolong” (auxilliary), dan sebagainya. Guru sebagai asisten yang hadir di antara siswa adalah sahabat yang memosisikan dirinya tidak lebih tinggi dari orang lain. Dia hadir “di samping” atau “di sisi” siswa dalam artinya yang sesungguhnya.

Salesian Father Savio Rai entertains students at the government-run school in at Chaughare, Nepal, July 9. A magnitude 7.8 earthquake April 25 destroyed more than 25,000 classrooms in nearly 8,000 schools. (CNS photo/Anto Akkara) See NEPAL-SCHOOLS July 21, 2015.
Salesian Father Savio Rai entertains students at the government-run school in at Chaughare, Nepal, July 9. A magnitude 7.8 earthquake April 25 destroyed more than 25,000 classrooms in nearly 8,000 schools. (CNS photo/Anto Akkara) See NEPAL-SCHOOLS July 21, 2015.

Mengapa Don Bosco mau supaya para gurunya menjadi asisten dan hadir di antara para siswa? Pertama, spiritualitas pendidikan Don Bosco adalah “menyelamatkan jiwa-jiwa”. Don Bosco selalu mengatakan, “Berikan kepadaku hanya jiwa-jiwa dan ambillah yang lainnya daripadaku” (da mihi animas caetera tolle). Dalam arti itu, kehadiran para guru di antara siswa adalah kesempatan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Don Bosco tidak ingin satu detik pun tidak diisi dengan hal-hal baik yang menguduskan. Dia tidak ingin memberi kesempatan kepada setan untuk menggoda dan membawa siswanya kepada pencobaan. Kehadiran guru-guru di antara siswa dimaksud sebagai “cara” untuk mencegah para siswa jatuh ke dalam pencobaan semacam itu. Don Bosco selalu mengatakan kepada para gurunya, “Biarkan anak-anak bermain, loncat, berteriak, berlari ke sana kemari, yang penting tidak jatuh ke dalam pencobaan dan dosa” (“Run, jump, have all the fun you want at the right time, but, for heaven’s sake, do not commit sin!”).

Kedua, pendidikan Katolik sebagaimana yang ditanamkan para Salesian dalam semangat menyelamatkan jiwa-jiwa tersebut juga harus dibaca dalam konteks pembinaan pribadi siswa dalam keutuhannya. Dalam konteks pendidikan modern, pendidikan dalam keutuhan adalah proyek pendidikan karakter yang mengincar pembentukan pribadi yang utuh, intelektual dan rohani, jiwa dan raga. Dan itu hanya bisa tercapai jika setiap guru memosisikan dirinya sebagai model atau contoh. Bagi Don Bosco, kehadiran para guru di antara siswa tidak sekadar sahabat yang bersedia menolong. Kehadiran mereka harus sungguh-sungguh dirasakan sebagai kehadiran yang mengasihi. Don Bosco sangat sering mengatakan bahwa tidak cukup para guru mengatakan bahwa mereka mengasihi anak-anak. Anak-anak harus sungguh-sungguh merasakan cinta kasih tersebut.

Di sini kita berhadapan dengan sebuah spiritualitas pendidikan Salesian yang sangat biblis. Setiap karya kerasulan, termasuk karya pendidikan, adalah cara Allah menyatakan keselamatan-Nya. Menjadi guru dalam semangat ini adalah tanggapan terhadap panggilan agung untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Dan itu dilakukan pertama-tama bukan dengan mendemonstrasikan kehebatan guru dalam mengajar – hal ini juga penting. Juga bukan dalam kemegahan bangunan gedung – hal ini juga penting. De facto sekolah-sekolah Salesian ditandai oleh bangunan yang megah dan mentereng. Menjadi guru yang menyelamatkan, dalam semangat pendidikan Don Bosco, adalah kehadiran di antara para siswa untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mereka dengan cara menjadi model, menjadi sahabat, dan memancarkan kasih supaya kasih itu sungguh-sungguh dirasakan kehadirannya. Tampaknya perubahan perilaku pada diri siswa akhirnya merupakan buah dari kesadaran siswa sendiri bahwa mereka sungguh-sungguh dikasihi, bahwa ada sahabat yang kehadirannya benar-benar menunjukkan “jalan” untuk menjadi sempurna.

Kembali ke “keluhan” siswa di sebuah sekolah di atas yang menyayangkan ketidakhadiran para biarawati di antara para siswa. Mungkin saja para biarawati itu mempraktikkan spiritualitas pendidikan yang lain. Kalau pun ini betul, bagi saya, kehadiran guru di antara siswa tak akan pernah tergantikan, terutama kehadiran sebagai model atau contoh. Para siswa harus sungguh melihat kebaikan dalam diri gurunya supaya mereka bisa menirunya. Dan tampaknya hal terakhir ini yang kurang ditampakkan dalam pelayanan para biarawati tadi. Padahal kita baca dari Inil Matius 5: 16: “Biarlah terangmu juga bercahaya dengan cara yang sama supaya mereka dapat melihat perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”

Bagi saya, hanya dengan penghayatan spiritualitas menjadi guru semacam inilah seorang guru Katolik dapat menempatkan dirinya dalam keseluruhan ekonomi keselamatan Allah yang telah disediakan-Nya bagi semua orang, termasuk bagi para siswa-siswi di sekolah.

Selamat hari guru (terlambat diucapkan karena sudah jam 22:5 WIB, tanggal 25 November 2016)

Inspirasi

find-inspiration3

Sebuah harian Ibukota menurunkan berita utama hari ini, 5 Oktober 2016 dengan judul “Kasus Kopi Sianida Jadi Inspirasi Anton” (Pos Kota, 5/10/2016). Koran dan media online yang lainnya pun menurunkan berita dengan judul yang kurang lebih sama: “Anton Adopsi Ide dari Kasus Kopi Sianida Jessica” (merdeka.com, 3/10/2016),  “Astaga, Kasus Jessica Jadi Inspirasi” (medansatu.com, 5/10/2016), “Pembunuh 2 Pria di Depok Mengaku Sering Nonton Kasus Jessica” (liputan6.com, 3/10/2016), “Oala… Kasus Sianida Jessica Beri Inspirasi Pemilik Padepokan” (fajar.com, 5/10/2016), dan mungkin masih banyak lainnya.

Apakah “inspirasi” termasuk kata yang netral, jadi bisa digunakan untuk hal yang positif dan negatif? Atau, jangan-jangan “inspirasi” hanya digunakan untuk hal/tindakan yang positif saja? Jika yang terakhir ini benar, berarti penggunaan kata “inspirasi” sebagaimana disebutkan di atas pastilah keliru.

Saya terusik dengan pertanyaan ini dan mulai melakukan riset kecil untuk bisa menjawabnya. Rupanya ada orang yang pernah menanyakan hal yang sama dalam forum yahoo answer (https://uk.answers.yahoo.com/question/index?qid=20091213183052AAv6Ixy). Jawaban orang-orang dalam forum itu pun berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa inspirasi memang bisa digunakan untuk hal yang positif maupun negatif. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa inspirasi seharusnya digunakan untuk hal atau perbuatan yang positif saja.

Bagaimana kamus memaknakan kata ini dan bagaimana asal-muasal dan penggunaan awal kata ini? Kamus Merriam-Webster (http://www.merriam-webster.com/dictionary/inspire) mendefinisikan kata “inspirasi” sebagai (1) mempengaruhi, mengerakkan, memotivasi, atau membimbing. Biasanya yang menggerakkan atau membimbing adalah inspirasi yang sifatnya ilahi atau supra-natural; (2) menghembuskan nafas (kehidupan) ke dalam diri seseorang (arti kuno); (3) berkomunikasi dengan agen atau pelaku ilahi, dan sebagainya. Mungkin itulah sebabnya mengapa sinonim dari kata ini mengandung pengertian yang mendorong, memengaruhi, memotivasi, menimbulkan hasrat, dan sebagainya dari seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Sinonim dari kata “inspirasi” menurut thesaurus.com antara lain memengaruhi, mendorong, menimbulkan gairah, menyebabkan, memicu, dan sebagainya (http://www.thesaurus.com/browse/inspire).

Sampai di sini, apakah sudah dapat ditarik kesimpulan mengenai penggunaan kata “inspirasi” ini? Apakah digunakan secara positif atau negatif juga? Bagi saya, kata “inspirasi” seharusnya digunakan secara positif. Jika memperhatikan pengertian kata ini sendiri dan sinonimnya, meskipun tidak dikatakan secara eksplisit, seharusnya kita bisa merasa bahwa kata ini mengandung pengertian yang sifatnya positif. Dalam arti itu, seharusnya kita belajar atau membiarkan diri diinspirasi atau dimotivasi oleh sesuatu yang positif agar kita bisa melakukan hal-hal yang juga positif.

Menurut saya, menarik juga untuk menganalisis asal muasal kata ini untuk menggarisbawahi kesimpulan saya tersebut. Kata “inspirasi” digunakan pertama kali pada abad ke-14 (k.l. tahun 1300-an). Kata ini berasal dari Bahasa Latin inspiratus (bentuk past participle dari kata inspirare) yang arinya “menghembuskan nafas ke dalam”). Ketika diadopsi dan digunakan dalam Bahasa Inggris (abad 16), kata ini diartikan sebagai “memasukkan udara ke dalam paru-paru”. Dunia kedokteran mengenal dan menggunakan kata expiration yang artinya tindakan atau proses mengeluarkan udara dari dalam paru-paru. Konon, sebelumnya kata “inspirasi” dimaknakan secara teologis dalam kebudayaan Inggris, ketika mereka mengartikannya sebagai “pengaruh ilahi atas diri seseorang.”  Pemahaman semacam ini diterima luas dalam kebudayaan Inggris pada sekitar abad 14. Meskipun kata “inspirasi” memiliki makna dewasa ini yang telah dilucuti dari pengaruh dan muatan teologisnya, kesan positif pada kata ini tampaknya susah ditanggalkan.

Mempertimbangkan makna kata, sinonim dan asal-muasal kata “inspirasi”, saya semakin yakin bahwa kata ini sebaiknya digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang positif. Di sinilah saya setuju dengan cara R. Kay Green memaknakan kata “inspirasi” (http://www.huffingtonpost.com/r-kay-green/giving-back_b_3298691.html). Bagi dia, “inspirasi” digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana orang-orang biasa atau peristiwa-peristiwa biasa yang dilakukan atau terjadi secara luar biasa sehingga menimbulkan kekaguman atau ketakjuban tertentu. Rasa kagum dan takjub inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk belajar dari orang atau peristiwa tersebut dan kemudian melakukan tindakan-tindakan biasa dalam cara yang luar biasa pula. Karena itu, kita hanya bisa menyebut Ibu Teresa, Gandhi, Marthin Luther King, Jr, atau tokoh-tokoh tertentu sebagai “inspirator”. Sebaliknya, kita agak berkeberatan (atau setidak-tidaknya merasa aneh) jika ada yang merujuk ke Adolf Hitler, Kim Jong Un, Pol Pot, atau orang-orang semacam itu sebagai “inspirator”.

Apakah Anda juga sependapat dengan saya?

Tergelitik Tulisan Buya Syafii

tulisan buyaSaya suka membaca refleksi bernuansa teologis-filosofis-spiritualis menjelang hari raya keagamaan, terutama Natal dan Idulfitri. Natal karena sebagai penganut Katolik, saya ingin menyiapkan diri dengan pikiran dan refleksi tertentu menjelang hari raya. Tetapi juga idulfitri, karena ingin mengetahui makna terdalam dari perayaan keagamaan Islam tersebut. Demikianlah, hari ini saya membaca tulisan Buya Syafii Maarif, Said Aqil Siraj, dan Sukidi, semuanya terbit di Harian Kompas (5 Juli 2016).

Saya terutama tertarik dan langsung membaca tulisan Buya Syafii di halaman 1 dan bersambung di halaman 15. Tulisan itu diberi judul Bom dan Masa Depan Peradaban Islam. Siapa pun yang mengikuti berita pasti langsung menghubungkan konteks tulisan ini dengan dua bom menjelang Lebaran 2016, yakni bom di Turki dan Baghdad yang menewaskan ratusan orang tak berdosa. Dari situ kita juga mengerti kegundahan dan kegeraman Buya Syafii (dan siang ini juga ada berita tentang bom bunuh diri di Solo). Bahwa masa kejayaan Islam sering justru berjibaku dengan pertarungan teologi di dalam Islam sendiri. Dan bagi Syafii Maarif, itu semua berangkat dari keegoan manusia yang mengakui diri umat Islam tetapi tidak benar-benar menaati ajaran Islam. Merujuk ke keadaan yang porak poranda di Timur Tengah, Buya Syafii melihat itu sebagai ekspresi dari nasionalitas atau etnisitas sempit yang sengaja disandarkan pada pandangan teologis tertentu dalam Islam.

Analisis ini sangat baik, terutama dalam semangat Idulfitri, karena dapat mengingatkan umat seluruhnya, bahwa kemenangan spiritual seusai Ramadhan seharusnya juga nampak dalam upaya membangun peradaban yang lebih manusiawi, jika mau ya peradaban yang berlandaskan ajaran agama. Dan itu mengandaikan setiap orang, setiap pemimpin agama, dan setiap negara melepaskan egonya sendiri, mengubur terlebih dahulu kepentingan politik jangka pendek yang hanya mengahancurleburkan peradaban. Dalam arti itu, sejalan dengan judul tulisan Buya Syafii, peradaban Islam sedang dipertaruhkan.

Sampai di sini saya masih “menikmati” tulisan Buya Syafii. Tetapi ketika menyinggung rapuhnya persatuan Islam, terutama di Timur Tengah, karena setiap negara memperjuangkan nasionalitasnya sendiri, Beliau berpendapat bahwa keadaan semacam ini akan dimanfaatkan bangsa Barat untuk semakin memecah-belah Islam dan kemudian menawarkan apa yang disebutnya sebagai “iming-iming duniawi”. Saya mengutip Buya Syafii, “Musuh terbesar adalah egoisme bangsa dan etnisitas dengan jubah nasionalisme sempit. Barat amat paham fenomena pembusukan budaya ini, lalu diadu domba dengan iming-iming duniawi” (hlm. 15). Bagi saya, pernyataan seperti ini problematis, pertama karena seakan menggarisbawahi cara tafsir sekarang, bahwa Barat tidak hanya melihat Islam sebagai musuh, tetapi berusaha menghancurkannya dari dalam (memanfaatkan kerapuhan dunia Islam sendiri). Sebagai seorang guru besar, Buya Syafii tentu dapat mempertanggungjawabkan ini secara akademis. Tetapi mengingat pembaca media massa tidak memiliki pemahaman yang memadai, maka pernyataan atau kesimpulan semacam ini justru dapat terus memelihara sentimen negatif terhadap Barat. Bagi saya, beban pembuktian tidak bisa diberikan kepada pembaca.

Kedua, pernyataan Buya Syafii juga problematis jika menyimpulkan bahwa Barat menggunakan “iming-iming duniawi” untuk semakin menghancurkan dunia dan peradaban Islam. Lagi-lagi, menurut saya, pandangan semacam ini mendikotomikan Islam vs Barat yang pro “iming-iming duniawi”. Saya sendiri tidak tahu persis apa yang dimaksud dengan “iming-iming duniawi”. Apakah itu ada hubungannya dengan kehidupan dunia Barat yang semakin tidak percaya pada Tuhan? Apakah itu berhubungan dengan sekularisme yang dianut di Barat? Lagi-lagi, Buya Syafii pasti bisa mempertanggungjawabkan ini. Tetapi tetap saja pembaca seperti saya yang kurang pengetahuan ini akan memlihara kesan dalam diri saya, bahwa dunia Barat harus diwaspadai karena dapat menggunakan “iming-iming duniawi” untuk menghancurkan peradaban suatu agama.

Mudah-mudahan saya salah menangkap pesan mulia yang disampaikan Buya Syafii. Tetapi paling tidak, dengan menulis ini, para pembaca bisa membantu saya memahami lebih mendalam apa yang dimaksud dengan pernyataan atau kesimpulan Buya Syafii seperti itu.

Buya Syafii dan rekan-rekan Muslim, selamat Hari Raya Idulfitri 1437 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Nyali

pemimpin bernyali
Pemimpin bernyali. Sumber: Stat Jim B Aditya 2016. Disebarluaskan melalui WA Group Hidesi, 18 Juni 2016).

Pagi ini, sebuah meme beredar di media sosial. Di meme itu tertera gambar Joko Widodo, Susi Pudjiastuti, Basuki Tjahja Purnama, dan Tito Karnavian berikut tulisan: MASA DEPAN INDONESIA ADA DI PUNDAK ORANG-ORANG MUDA YANG BERNYALI.

Saya tertarik dengan kata “nyali” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai sifat berani atau keberanian. Sayang, saya tidak menemukan informasi dalam Bahasa Indonesia seputar asal-usul kata ini, dalam konteks kultur seperti apa kata ini semula digunakan, kapan pertama kali kata ini digunakan secara nasional, dan sebagainya. Padahal informasi seperti ini menarik, tidak saja untuk memahami evolusi sebuah kata, tetapi juga konstruksi budaya mengenai sebuah kata.

Meskipun begitu, kita tetap bisa menangkap “semangat” kata ini dalam bahasa lain, taruhlah saja Bahasa Inggris. Kata “nyali” dalam Bahasa Inggris – menurut saya yang bukan ahli bahasa – adalah kata “courage”. Menurut Dictionary.com, kata “courage” diartikan sebagai (1) kualitas pikiran (mind) dan roh (spirit) yang memampukan seseorang dalam menghadapi berbagai kesulitan, bahaya, rasa sakit (penderitaan) dan seterusnya tanpa rasa takut; (2) hati sebagai sumber emosi. Pengertian kedua ini disebut obsolete, artinya sudah tidak digunakan lagi. Sementara itu, ada juga idiom yang berlaku dalam masyarakat Barat, ketika mereka mengatakan: have the courage of one’s convictions, yang artinya “bertindaklah sesuai keyakinan seseorang, terutama ketika tindakan-tindakan tersebut menghadapi berbagai cemohan dan kritikan.

Menarik juga diperhatikan, bahwa kata “courage” sendiri secara historis merukan “Medium English” (ME), yakni kata-kata yang baru mulai digunakan pada periode tahun 1150-1475, dan yang sekarang masih digunakan oleh masyarakat Barat. Secara akar kata, kata “courage” masuk ke dalam tuturan Bahasa Inggris dari Bahasa Prancis Kuno “corage” yang sepadan dengan kata “cor” dalam Bahasa Latin, yang artinya “hati” dan kata “age”, sebuah sufiks yang mengindikasikan “proses, tindakan, atau hasil dari sebuah proses atau tindakan”. Dengan begitu, kata “courage” yang akar katanya terdiri dari suku kata “cor” dan “age” dapat dimaknakan sebagai (1) tindakan keberanian yang berasal dari hati, yang merupakan buah dari pertimbangan hati, roh dan pikiran; dan (2) tindakan keberanian itu merupakan hasil dari sebuah proses.

Apa yang mau saya tegaskan dengan kedua kesimpulan pengertian yang saya tegaskan ini? Pertama, mengatakan bahwa keberanian berasal dari dalam hati dan merupakan buah dari pertimbangan roh, hati, dan pikiran, itu sekaligus menegaskan bahwa tindakan keberanian itu bukan sebuah kepura-puraan atau bukan sebuah “agenda setting” demi mencapai tujuan tertentu di luar tindakan keberanian itu sendiri. Pertanyaannya, apa yang hendak dicapai dengan sebuah tindakan yang berani? Pada level individu, keberanian adalah sebuah keutamaan pribadi menghadapi tindakan, perlakuan, peristiwa, intervensi, dan sebagainya dari luar yang sifatnya bertentangan dengan pertimbangan hati. Dalam arti ini, suara hatilah yang “memberitahu” individu bahwa apa yang sedang dihadapi adalah sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan, dengan moralitas, dengan ajaran agama, dengan prinsip etika tertentu, dan sebagainya. Himbauan suara hati inilah yang kemudian mendorong individu untuk mengambil tindakan yang berani dengan hasil akhir dan konsekuensi yang berbeda-beda. Karena tindakan keberanian berasal dari hati dan pikiran, kepura-puraan (pura-pura berani) seharusnya tidak diberi tempat. Keberanian sendiri mengandaikan daya tahan, sementara kepura-puraan akan mati atau lenyap saat tidak tercapainya agenda pribadi.

Sementara itu, pada level keutamaan sosial, sikap berani muncul ketika hati nurani dan pikiran menghadapi praktik politik, kebijakan umum, rekayasa politik, ideologi tertentu, dan semacamnya yang jelas-jelas bertentangan dengan kepentingan dan kemaslahatan warga negara. Dalam konteks inilah kita menyebut seorang pemimpin sebagai yang memiliki keberanian jika memiliki “nyali” dalam menghadapi berbagai praktik culas dan kotor dan kemudian berusaha memperbaikinya, tanpa rasa takut akan ancaman, boikot, pelengseran, ditinggalkan koalisi politik, dan sebagainya.

Kedua, sikap berani tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat. Menjadi berani bukanlah sebuah proses instan. Dalam konteks keberanian sebagai keutamaan menurut Aristoteles, sikap semacam ini hanya bisa terwujud ketika orang memiliki disposisi moral akan apa yang baik dan buruk lalu kemudian membiasakan diri (habituasi) bertindak secara benar dalam hidupnya sebegitu rupa sehingga tindakan benar menjadi kebiasaan (habit). Kita tahu ini sebuah proses pendidikan watak di mana seseorang dididik dan dibiasakan untuk bertindak menurut nilai-nilai moral tertentu, termasuk nilai keberanian (courage) tadi. Dengan begitu, tindakan yang berani sebagai sebuah tindakan moral telah teruji selama proses pendidikan dan selama menghadapi berbagai perilaku tidak bermoral dalam hidup sehari-hari.

Dalam konteks refleksi semacam inilah kita bisa memahami ungkapan dari meme ini: MASA DEPAN INDONESIA ADA DI PUNDAK ORANG-ORANG MUDA YANG BERNYALI. Setiap kita bisa menyimpulkan sendiri seperti apa dan dalam konteks praktik politik seperti apakah Presiden Jokowi disebut sebagai pemimpin yang berani. Demikian pula dengan Ibu Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan, Bapak Basuki Tjahja Purnama selaku Gubernur DKI, dan Bapak Jenderal Tito Karnavian (yang segera akan menjadi Kapolri).

Mereka dan banyak lagi orang muda pemberani yang memang punya nyali politik yang seharusnya memimpin republik ini jika memang kita mau mencapai cita-cita masyarakat yang adil dan makmur. Semoga!

Frugalitas

lock-money-frugal-saving
Hemat sebagai bagian dari kesederhanaan hidup. Sumber: http://moneyoff.com.au/extreme-frugality-where-to-draw-the-line/

Kuliah kemarin sore menyisakan sebuah pikiran yang terus saja mengiang di telinga, entah mengapa. Teman mempresentasikan pemikiran filsuf Polandia, Henryk Skolimowski, yang dewasa ini lebih dikenal sebagai pemikir eco-spiritual. Pemikirannya mengenai keselamatan bumi sangat menarik, karena mengusulkan pendekatan baru terhadap alam. Bahwa manusia harus bertanggungjawab terhadap keselamatan alam, dan bahwa kesadaran akan tanggungjawab ini menjadi sangat urgen berhadapan dengan masifnya kerusakan alam.

Salah satu gagasan yang tadi saya katakana menarik adalah mengenai kesederhanaan hidup (frugality). Menurut Beliau, kesederhanaan hidup seharusnya menjadi sikap dan cara hidup manusia jika menginginkan terselamatkannya alam dan kehidupan. Tentu ini bukan sebuah gagasan yang baru sama sekali, tetapi tetap menarik, terutama ketika kita hidup dalam dunia yang terlalu mengagungkan konsumerisme.

Frugalitas dalam ilmu perilaku dipahami sebagai kecenderungan untuk mengambil dan menggunakan berbagai barang dan jasa secara terkendali, karena memperhitungkan juga ketersediaan barang dan jasa dalam jangka panjang, keberlangsungan tersedianya sumber daya alam dan kepentingan generasi yang akan datang. Filsafat frugalitas yang dikemukakan Skolimowski dan filsuf-filsuf lainnya juga mengatakan hal yang kurang lebih sama. Bahwa manusia harus membatasi diri dalam memenuhi kebutuhannya, menggunakan barang dan jasa yang hanya benar-benar dibutuhkan.

Secara filosofis, frugalitas sebagai “gaya” atau “sikap” hidup diposisikan sebagai sebuah posisi moral berhadapan dengan ideologi konsumerisme dan logika pasar, bahwa seorang individu yang bebas dan otonom memiliki keyakinan pada pengetahuan dan kemandiriannya, bahwa dia mampu menentukan hal-hal yang benar-benar dibutuhkan, bebas dari intervensi pasar. Sikap ini menjadi semacam antitesa terhadap kultur konsumeristik yang oleh kebanyakan orang tampak sebagai hal yang sulit diatasi. Sikap semacam ini mengandaikan kepemilikikan atau keberpihakan pada semacam spiritualitas tertentu.

Benar begitu, bahwa sikap frugalitas memang ikut dipengaruhi oleh spiritualitas tertentu atau gerakan sosial tertentu. Beberapa pengaruh itu bisa disebutkan di sini. Pertama, pengaruh kelompok puritan yang beranggapan bahwa manusia seharusnya menahan diri dari menikmati barang dan jasa tertentu, terutama kenikmatan makanan, minuman beralkohol, tetapi juga pentingnya kesetiaan pada perkawinan, pada keluarga, dan larangan untuk melakukan hubungan di luar ikatan perkawinan yang sah. Kedua, semangat hidup frugalitas juga dipengaruhi oleh kaum enviromentalis yang meyakini nilai ini sebagai sebuah keutamaan. Kelompok ini ingin mengembalikan keterampilan dan kebijaksaan nenek moyang yang memenuhi kebutuhan dari alam dengan mengambil dan menggunakan sumber daya seperlunya saja.

Intinya, frugalitas berhubungan dengan kesederhanaan hidup. Kesederhanaan hidup merupakan buah dari filsafat mengenai kehidupan. Dalam pemikiran Skolimowski, yang memiliki nilai intrinsik adalah manusia.Nilai intrinsik yang paling utama pada manusia adalah penghormatan atas kehidupan (reverence for life), selain nilai intrinsik lainnya seperti tanggung jawab, dan frugalitas. Nilai-nilai intrinsik inilah yang memampukan manusia merencanakan hidupnya kesederhanaan. Penghormatan pada kehidupan merupakan imperatif moral untuk menahan diri dari kecenderungan eksploitatif terhadap alam. Ini karena imperatif tanggungjawab dalam diri individu untuk memperhatikan keselamatan alam dan kepentingan generasi yang akan datang. Sementara frugalitas, sebagaimana dijelaskan di atas, membatasi manusia dari menjalani hidup secara berlebihan.

Ada banyak insight dan inspirasi yang dapat dipetik dari pemikiran semacam ini. Berbagai gerakan sosial yang hendak memperjuangkan keselamatan lingkungan pun dapat mengambil semangat gerakan dari pemikiran semacam ini. Juga rencana kebijakan politik dan penyelenggaraan negara. Semuanya ini dilakukan dengan satu tujuan jelas: menjaga bumi dari kehancuran. Frugalitas, dengan begitu, dapat menjadi nilai hidup yang harus terus diperjuangkan demi keselamatan alam dan seluruh ekosistem.

Belajar Menghargai

Belajar menghargai seluruh pengalaman dan memetik pelajaran berharga daripadanya. Sumber: http://quotescloud.com/learn-to-appreciate-what-you-have-before-time-makes-you-appreciate-what-you-had-2/
Belajar menghargai seluruh pengalaman dan memetik pelajaran berharga daripadanya. Sumber: http://quotescloud.com/learn-to-appreciate-what-you-have-before-time-makes-you-appreciate-what-you-had-2/

Arnold, seorang lelaki paruh baya, sudah lama tinggal di kota itu. Dia dikenal sebagai orang yang sederhana, ringan tangan, berhati lembut, dan suka membantu. Dialah orang yang setiap ada kesempatan selalu mau menolong orang lain tanpa diminta dan tanpa meminta imbalan. Dia membantu orang lain karena memang dia ingin membantu. Suatu hari, ketika sedang menelusuri jalan kota yang penuh debu, dia melihat sebuah dompet agak kusam, tergeletak di salah satu sudut jalan itu. Dia mendekat dan mengambil dompet itu, dan ternyata isinya memang kosong. Tiba-tiba, seorang wanita berumur muncul bersama seorang polisi dan membawa Pak Arnold pergi.

Perempuan it uterus melontarkan pertanyaan kepada Arnol tentang di mana uangnya. Pak Arnol tidak menjawab sepata-kata pun, karena dompet memang kosong. Karena terus didesak, Pak Arnold pun menjawab, “Kosong bu, dompet itu kosong ketika saya menemukannya.” Mendengar itu, perempuan itu pun berteriak semakin kencang kepadanya, “Cepat kembalikan uang saya. Uang itu mau saya gunakan untuk membayar sekolah anak saya.” Seketika, Pak Arnold sadar bahwa perempuan itu sangat sedih karena kehilangan duit. Dia bisa menebak sepertinya perempuan itu seorang single mother. Pak Arnold kemudian berkata, “Ambillah ini, maaf atas ketidaknyamanan.” Perempuan itu pun segera meninggalkan polisi dan Pak Arnold, dan bergegas pergi.

Perempuan itu tampak sangat senang karena uangnya telah kembali. Tetapi betapa terkejutnya dia ketika menghitung uang yang diberikan Pak Arnold. Jumlah uang ternyata lebih banyak dua kali. Suatu hari, ketika dalam perjalanan ke sekolah anaknya untuk membayar sekolah, dia merasa ada seseorang paruh baya dan kurus sedang berjalan di belakangnya. Dia mengira laki-laki itu segera akan merampok dia, karena itu, perempuan itu pun bergegas menuju seorang polisi yang berdiri tidak jauh dari dia. Sepertinya polisi yang sama yang dahulu pernah menolong dia. Perempuan itu pun segera memberitahu polisi bahwa ada laki-laki yang sedang membuntuti dia. Tetapi tiba-tiba mereka melihat laki-laki itu terjatuh. Keduanya kemudian berlari menuju laki-laki itu, dan mereka sadar bahwa ternyata laki-laki itu yang dahulu menemukan dompetnya dan yang pernah ditangkap polisi atas aduan perempuan itu.

Pak Arnold tampak sangat temah dan tak-sadarkan diri. Polisi itu berkata kepada perempuan itu, “Dia tidak mengembalikan uangmu, dia justru memberikan uangnya sendiri kepadamu.” Keduanya kemudian menolong Pak Arnol supaya bisa berdiri. Pak Arnold kemudian berkata kepada perempuan itu, “Silakan lanjutkan perjalanan Anda dan bergegaslah ke sekolah supaya kau bisa membayar uang sekolahan anakmu. Saya melihat Anda dan terus mengikutimu untuk memastikan bahwa orang lain tidak akan merampok atau mencuri uang yang sangat kau butuhkan itu.” Perempuan itu terdiam dan tak berkata apapun.

Pelajaran moral: Hidup ini memberikan kepada kita pengalaman yang sangat aneh, karang-kadang mengejutkan, dan karang-kadang menjengkelkan. Kita dapat saja melakukan putusan yang keliru atau salah, kita dapat saja marah atau putus asah. Meskipun begitu, ketika kesempatan kedua datang, segeralah mengoreksi kesalahan-kesalahanmu dan berbaliklah kea rah yang benar. Belajarlah untuk menjadi lembut dan murah hati. Belajarlah menghargai apa yang telah diberikan kepadamu.

 

Kepentingan Diri dalam Relasi Sosial

Hoffnungsschimmer_1
Kepentinganku vs kepentingan orang lain. Sumber: http://blogs.wgbh.org/innovation-hub/2015/5/29/0530-full-show/

Dalam sebuah relasi antarmanusia, apakah ada relasi yang sifatnya bebas kepentingan (bebas self-interest)? Dulu saya berpikir, bahwa relasi yang paling intim dengan orang yang kita kasihi seharusnya bebas kepentingan. Yang saya maksudkan dengan bebas kepentingan adalah bebas dari segala upaya mengikutkan agenda atau maksud tertentu yang menguntungkan diri sendiri di luar dari tujuan bersama yang hendak dibangun dalam relasi tersebut. Kepentingan diri dapat termanifestasi dalam berbagai hal, misalnya kesenangan dan kenikmatan diri, motif-motif yang sifatnya psikologi seperti ingin mendapatkan kesenangan dan dukungan dari sebuah relasi atau bahkan ingin menguasai dan mengendalikan orang sampai kepentingan yang sangat ekonomis.

Ternyata pandangan saya itu saya. Bahkan dalam hubungan dengan orang yang paling dicintai pun, tampaknya kepentingan diri tetap diikutkan, entah sadar atau tidak. Pada level yang paling ideal, relasi yang ideal memang tidak boleh menghilangkan atau membinasakan identitas pihak-pihak yang berelasi. Tetapi dalam praktik, banyak hal yang menyebabkan orang mau tidak mau mengikutkan kepentingan atau agendanya sendiri dalam relasi. Teman-teman yang sudah menikah mestinya bisa membuktikan hal ini. Apakah relasi kita dengan suami atau dengan istri kita benar-benar tanpa kepentingan lain selain demi kebaikan pasangan kita? Atau hanya demi kebaikan dan cita-cita luhur kita? Menurut saya, yang berbeda di antara kita tidak terletak pada ada atau tidak adanya kepentingan relasi dengan pasangan hidup kita, tetapi sebesar apakah kepentingan pribadi itu diikutkan.

Bahkan dalam konteks kehidupan dan pelayanan keagamaan. Dua tahun terakhir saya memutuskan untuk terlibat dalam kegiatan keagamaan di Gereja saya (Gereja Katolik). Tepatnya, saya merelakan diri menjadi Katekis dengan tugas mengajar dan mempersiapkan orang-orang yang mau menjadi Katolik. Saya mengatakan bahwa saya merelakan diri, karena ini pilihan saya sendiri. Sudah lama saya pikirkan, dan ketika memutuskan, saya melakukannya dengan bebas. Termasuk mempersiapkan keluarga, bahwa beberapa waktu tertentu saya di akhir pekan akan tersita karena kegiatan pelayanan semacam ini.

Saya berpikir bahwa orang-orang yang terlibat dalam pelayanan di Gereja tidak memiliki kepentingan yang lain selain melayani Gereja, membuat semakin banyak orang mengenal dan mengasihi Tuhan, dan menjadikan orang Katolik semakin baik hidupnya di masyarakat. Tetapi rupanya tidak. Ada berbagai macam alasan dan motif yang mendorong orang merelakan dirinya dalam pelayanan “suci”. Ada yang mau melayani Gereja untuk mengisi waktu luang. Ini biasanya bagi mereka yang sudah pensiun. Ada yang tentunya melayani Gereja karena merasa memang Tuhan “memanggil” dan menginginkan dia dalam pelayanan itu. Tetapi ada juga yang mau melakukannya karena “daripada di rumah”.

Motif terakhir ini yang tampaknya bermasalah. Orang memiliki relasi yang buruk dengan pasangan hidupnya berusaha menghindari masalah itu dengan mencari kesibukan di luar rumah. Bagi dia, aktivitas di luar rumah, termasuk pelayanan di Gereja sebagai aktivitas yang membebaskan dia dari beban hidupnya selama ini.Memang sulit membuktikan apakah motif semacam ini ada dalam pelayanan kegerejaan. Tetapi kegagalan dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam konteks pelayanan gereja, dapat memberi kita semacam tanda untuk memahami motif pelayanan sebagai pelarian. Tandanya banyak dan bisa macam-macam, mulai dari orang yang cepat marah dalam pelayanan sampai menjadi keras kepala dan enggan mendengar pendapat orang lain.

Saya menggunakan contoh pelayanan di Gereja hanya untuk menunjukkan bahwa sebetulnya ada beragam alasan yang sering tidak kita sadari ketika kita hendak membangun relasi dengan orang lain atau ketika kita mau terlibat dalam aktivitas yang melibatkan kerjasama dengan orang lain. Contoh yang saya kemukakan di atas (entah pada level keluarga sendiri maupun dalam konteks pelayanan kegaamaan) mendorong kita untuk sadar, bahwa kepentingan diri sering diikutkan dalam setiap relasi yang kita bangun. Posisi saya tidak pertama-tama mendorong agar kepentingan diri tidak diikutkan dalam berbagai relasi atau kegiatan yang melibatkan orang lain. Kepentingan diri sebaiknya tetap dipertahankan, karena kadang-kadang itu juga yang menentukan otentisitas kita. Yang penting adalah bagaimana mengelola kepentingan diri tersebut agar kita tidak menjadi orang yang semata-mata memperjuangkan kepentingan dirinya. Kecuali memang kita mau menjadi orang yang sangat egoistik dan self-centered dalam setiap relasi dengan orang lain.