Kisah Pohon Mangga nan Dermawan

TheGivingTreeDi suatu waktu hiduplah sebuah pohon mangga besar. Sehari-hari ada seorang anak kecil suka datang dan bermain di sekitarnya. Dia suka naik ke atas pohon itu, memetik dan memakan buahnya ketika musim berbuah tiba, bahkan kadang-kadang juga tidur di bawah. Tampaknya dia begitu mencintai pohon mangga itu, dan sebaliknya, pohon mangga juga senang melihat si bocah itu bermain di dekatnya. Waktu pun berlalu. Anak kecil itu bertumbuh menjadi remaja lalu dewasa, dan ia tidak lagi bermain di sekitar pohon.

Suatu hari, anak itu datang kembali ke pohon mangga itu dengan tampilan sedih di wajahnya. “Kemarilah dan bermainlah denganku, “pinta mohon mangga itu begitu melihat sahabat lamanya mendekat. “Saya bukan lagi anak-anak, saya tidak mau bermain-main di sekeliling pohon lagi,” jawab anak itu. Anak itu melanjutkan, “saya butuh mainan. Saya butuh uang untuk membelinya.” “Maaf, saya tidak punya uang … tetapi kamu bisa koq memetik semua buah mangga dan menjual supaya uang hasil penjualan itu bisa kamu belikan mainan.”

Anak itu tampak gembira mendengar usulan pohon mangga itu. Dia lalu memetik semua buah mangga dari pohon itu dan pergi dengan gembira. Anak itu pun segera pergi dan tidak pernah datang kembali. Pohon mangga merasa sangat sedih.

Suatu hari, anak itu tumbuh menjadi seorang pria dewasa. Kali ini dia kembali ke pohon mangga, sahabat lamanya. Dari jauh pohon mangga sudah mengenal dia, karena itu langsung berteriak, katanya, “Hei, kemarilah dan bermainlah denganku.” Tetapi anak itu menjawab lantang, katanya, “Saya tidak punya waktu untuk bermain. Saya harus bekerja untuk menghidupi keluarga saya. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Apakah Anda bisa membantu saya?”

“Maaf, saya tidak punya rumah,” jawab pohon mangga itu. “Meskipun begitu, kamu bisa saja memotong cabang saya untuk membangun rumahmu,” usul pohon mangga. Orang itu pun memotong semua cabang dari pohon mangga itu dan pergi dengan gembira. Pohon mangga itu pun sangat senang melihat sahabatnya berbahagia. Tapi seperti terjadi sebelumnya, anak itu tidak datang kembali sesudahnya. Sekali lagi pohon itu merasa sedih dan kesepian.

Suatu hari di musim panas, pria itu kembali lagi dan pohon mangga itu pun senang. “Kemarilah dan bermainlah denganku!” pinta pohon mangga itu. “Saya sedih dan mulai tua. Saya ingin pergi berlayar, bersantai sejenak dan menikmati kesendirianku. Tetapi saya tidak punya perahu. Apakah Anda dapat menyediakan sebuah perahu bagiku?” Pohon mangga itu pun menjawab, katanya, “Sahabatku, gunakan saja batang saya untuk membuat perahu seperti yang kau inginkan. Setelah itu kamu bisa berlayar ke tempat yang kamu kehendaki dan menikmati kesendirianmu di sana.” Tanpa berpikir panjang, orang itu segera memotong batang pohon mangga itu dan kemudian membuat sebuah perahu. Dalam waktu yang cukup lama, dia pergi berlayar dan tidak kembali untuk waktu yang lama.

Suatu waktu yang agak lama, pria itu kembali ke pohon mangga sahabatnya. Begitu mendekat, pohon mangga yang hanya tersisa sedikit batang dan akar-akarnya itu berkata kepadanya, “Maaf, anakku, saya tidak punya apa-apa lagi yang bisa saya berikan. Tidak ada lagi batang, dahan, ranting dan buah mangga yang bisa kau nikmati. Pria yang sudah mulai tua itu pun menjawab, katanya, “Saya juga tidak punya gigi untuk menggigit.” “Juga tidak ada lagi batang yang bisa kamu panjat,” kata pohon mangga. “Saya juga sudah terlalu tua untuk melakukan hal itu sekarang,” jawab pria itu.

“Saya sungguh tidak punya apa-apa lagi yang bisa saya berikan kepadamu. Satu-satunya yang tersisa yang bisa saya berikan adalah akar saya yang juga sudah mulai melemah dan segera akan mati juga,” kata pohon mangga itu dengan perasaan sedih. “Saya tidak membutuhkan banyak hal sekarang. Saya hanya butuh sebuah tempat untuk beristirahat. Saya sungguh merasa lelah setelah melewati tahun-tahun hidupku, “jawab pria itu. “Baik! Akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat. Ayo duduk bersamaku dan beristirahatlah. “Pria itu pun duduk dan pohon itu merasa senang dan tersenyum.

Pesan Moral: Pohon dalam cerita mewakili orangtua kita. Ketika kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka dan hanya datang kembali ketika kita membutuhkan bantuan. Orangtua mengorbankan nyawa mereka untuk kita. Jangan Lupakan pengorbanan mereka. Beri mereka Cinta dan Perawatan sebelum segalanya terlambat.

Diterjemahkan secara bebas oleh Yeremias Jena dari: http://www.moralstories.org/the-giving-tree/ (13 Januari 2016)

Kita, Konsumerisme dan Tekad di Tahun 2016

new life
new life

Selamat pagi semuanya. Beberapa hari terakhir ini saya berpikir keras tentang apa yang sebaiknya saya tulis, tema yang saya sukai dan mudah-mudahan mengundang refleksi lebih lanjut dari rekan-rekan pembaca. Beberapa tahun terakhir saya memang suka menulis refleksi akhir tahun di mana saya mengangkat tema tertentu yang menurut saya menarik dan pantas didiskusikan. Demikianlah, saya pernah menulis mengenai “ada dan kemewaktuan”, tetapi saya juga pernah menulis perihal makna kerja. Sambil merenung, saya membaca status seorang teman di mana dia menyinggung problem konsumerisme. Ah haaa….. teman ini menyinggung suatu tema yang mengena di hati saya. Ya, saya termasuk orang yang peduli dan suka merefleksikan problem etis di seputar konsumerisme dan sikap konsumeristis.

Aneh juga ya, menulis soal konsumerisme ketika Anda sendiri belum menjadi seorang yang kaya secara ekonomi. Ini menjadi semacam gugatan terhadap diri. Tetapi apakah betul, bahwa seseorang hanya bisa mengkritik konsumerisme jika dia sudah menjadi semacam “korban” atau pelaku dari konsumerisme? Sepertinya cara berpikir demikian sulit diterima sebagai masuk akal. Posisi saya agaknya dirumuskan demikian: memiliki kemampuan finansial supaya bisa mengakses atau membeli barang dan jasa tertentu itu baik, bahkan dapat memanusiakan seseorang. Bayangkan dengan kehidupan di mana Anda tidak bisa mengakses barang dan/atau jasa tertentu. Jadi, jika sekarang refleksi ini mengajukan kritik tajam terhadap konsumerisme, upaya ini seharusnya dibaca sebagai cara saya memaknakan konsumerisme sambil pada saat yang bersamaan mencoba mengambil jarak terhadapnya.

Makna yang Ambigu?

Mungkin baik kalau kita memahami arti kata ini. Dictionary.com memberikan 3 pengertian yang berbeda. Sebagai sebuah kata benda, “konsumerisme mengandung pengertian (1) gerakan modern tahun 1940-an yang berusaha melindungi konsumen melawan produk-produk barang dan jasa yang tidak bermanfaat, bersifat inferior, berbahaya, juga menolak iklan dan kampanye produk yang menyesatkan, penentuan harga yang tidak jujur, dan sebagainya. (2) konsep yang mendeskripsikan semakin meluas dan masifnya konsumsi barang dan jasa yang bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan ekonomi. (3) Penggambaran atas praktik atau fakta meningkatnya konsumsi barang dan jasa; bukan deskripsi netral karena di dalamnya termuat kritik terhadap praktik konsumerisme Amerika Serikat.

Pengertian berdasarkan arti kata ini jelas menunjukkan bahwa “konsumerisme” ternyata tidak memiliki makna tunggal, jadi sangat tergantung sudut pandang, kepentingan dan siapa yang menggunakannya. Konsumerisme dapat merupakan sebuah orde atau tatanan ekonomi (dan itu nyata dalam pengertian kamus nomor 1 dan 2 di atas), yang umumnya merujuk kepada upaya masif mengkampanyekan barang dan jasa demi meningkatkan pembelian terhadapnya di satu pihak serta usaha sistematis untuk mengubah pola hidup warga kepada kehidupan yang lebih konsumtif. Jadi, dalam matra ekonomi, konsumsi mengandung dua pengertian sekaligus: mengkampanyekan produk barang dan jasa dan mengubah pola dan gaya hidup. Konsumerisme, dalam pengertian ini, tampaknya menjadi apa yang disebut sebagai ideologi ekonomi.

Di lain pihak, konsumerisme dapat pula bermakna ideologis, entah ideologi yang “anti” terhadap kapitalisme maupun yang pro pasar alias kapitalisme itu sendiri. Saya tidak berani menyebut sosialisme sebagai ideologi yang anti kapitalisme dan menolak pasar, karena negara-negara sosialis dewasa ini de facto memuja dan menyembah kapitalisme. Dengan begitu, paling-paing kritik terhadap konsumerisme datang dari kelompok agama atau kelompok sosial tertentu yang resah terhadap dampak negatif konsuemerisme, kapitalisme dan semacamnya.

Meskipun ada catatan yang mengatakan bahwa kata ini digunakan secara masif pasca Perang Dunia II, konsepnya sebenarnya sudah muncul dalam literatur sejak tahun 1899, terutama dalam karya Thorstein Veblen. Karya ini terutama dihubungkan dengan kritik terhadap konsumerisme yang terjadi di kalangan kelompok kelas menengah di awal abad ke-20 melalui proses globalisasi. Dengan begitu, sebenarnya masyarakat sudah sejak awal menyadari bahwa cara hidup yang menonjolkan konsumsi dapat sangat berbahaya, baik kepada diri sendiri maupun terhadap masyarakat dan lingkungan alam. Dalam arti itu, salah satu pengertian kamus sebagaimana dideskripsikan di atas dapat kita pahami maksudnya.

Demikianlah, harus dikatakan bahwa ada dua kepentingan yang selalu muncul ketika membicarakan konsumerisme. Di satu pihak ada kepentingan pasar dengan logika konsumtifnya yang terus-menerus berusaha mengubah pola dan gaya hidup masyarakat agar sesuai dengan logika pasar: membeli, membeli dan terus membeli. Dalam konteks inilah kita mengerti ungkapan yang diplesetkan dari kata-kata Rene Descartes, “Cogito ergo Sum” atau “Saya berpikir jadi saya ada” menjadi “Saya membeli jadi saya ada”. Apakah ini menggambarkan secara tepat keadaan masyarakat modern saat ini masih harus diperdebatkan, karena gerakan yang mempromosikan konsumsi secara etis muncu dan berkembang dengan cukup kuat di dunia saat ini, sehingga tanpa harus mengandalkan gerakan anti konsumerisme secara frontal, masyarakat sebetulnya mulai menyadari risiko konsumsi tak-terbatas.

Pada aras inilah saya ingin memposisikan diri saya, bahkan konsumsi adalah bagian dari hidup. Ia adalah sebuah tuntutan biologis yang sangat elementer. Menjadi bermasalah ketika tuntutan konsumsi itu diinjeksikan dari luar sebegitu masifnya sehingga saya memutuskan untuk melakukan tindakan konsumsi, pertama-tama bukan karena pertimbangan dan pilihan rasional saya, tetapi lebih karena pendiktean oleh pasar.

Tantangan Tahun 2016: Konsumsi Secara Bijak

Meskipun masih sangat singkat, deskripsi mengenai pengertian konsumerisme di atas membantu saya untuk merancang hidup saya – syukurlah jika juga hidup keluarga, karena agak sulit “menaklukkan” anak sendiri – di tahun 2016 ini dan ke depannya. Saya ingin merujuknya kepada satu dokumen penting yang dikeluarkan Gereja Katolik tahun 2015 lalu, yakni Ensiklik Laudato Si. Ensiklik ini adalah ajaran resmi Paus Fransiskus yang diterbitkan untuk menanggapi isu kehancuran lingkungan hidup. Banyak insight dan inspirasi yang bisa dipetik dari dokumen ini, dan di sana-sini di banyak sumber seseorang bisa dengan mudah menemukan potongan-potongan kata-kata Fransiskus yang menginspirasi. Bagi saya, ensiklik ini menjawab keresahan hati selama ini, bahwa kerusakan dan kehancuran alam disebabkan oleh ulah manusia sendiri yang tidak peduli, acuh tak acuh dan mengkonsumsi barang dan jasa yang tidak ada batasnya sehingga merusak alam, baik karena mengambil bahan dasar dari alam untuk produksi maupun membuang sisa dan limbah olahan pabrik, sisa konsumsi manusia, dan sebagainya ke alam.

Saya tidak ingin berpanjang kata mengomentari hal ini. Pembaca yang berminat menyimak ilustrasi borosnya perilaku manusia yang berdampak pada kerusakan dan kehancuran lingkungan hidup, silakan saja membaca tulisan yang saya buat beberapa saat lalu untuk salah satu blok saya (klik http://oborhidup.blogspot.co.id/2015/09/bahaya-kultur-pemborosan.html). Di sini saya hanya ingin mengatakan, bahwa ajaran Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si mengafirmasi pemikiran dan keresahan saya, bahwa saatnya sekarang kita perlu mengubah cara konsumsi kita. Saatnya sekarang kita mengubah cara hidup yang mengambil secara membabi buta dari alam. Saat kita melakukan apa yang dalam bahasa rohani disebut sebagai “pertobatan”, yakni peralihan gaya hidup dari acuh tak acuh terhadap dampak konsumsi berlebihan kepada sikap dan pilihan hidup yang semakin menghormati dan memelihara bumi.

Menurut saya, ensiklik Laudato Si sebetulnya menggambarkan keresahan dan kerisauan banyak pihak di dunia dewasa ini, entah karena dipicu oleh perubahan iklim yang masif yang bermuara pada tenggelamnya banyak pulau, entah karena kehancuran hutan, menipisnya lapisan Ozon, semakin banyak warga negara yang menjadi miskin karena kehilangan lahan pertanian, dan sebagainya. Yang jelas, jika pembaca melakukan riset sederhana, misalnya mencari publikasi bertemakan “attitude toward consumerism” di mesin pencari data seperti google scholar, kalian akan menemukan ratusan bahkan mungkin ribuan publikasi mengenai hal ini. Jika disortis untuk publikasi lima tahun terakhir, kita akan mendapatkan cukup banyak publikasi berbobot, banyak darinya adalah analisis empirik, yang menunjukkan sedang terjadinya pergeseran sikap (attitude) masyarakat mengenai konsumsi. Harus diakui, perubahan atau pergeseran sikap ini bersifat positif. Ada cukup banyak gerakan yang dilakukan, entah secara perorangan maupun kelompok sosial, ke arah konsumsi yang lebih rasional dan bertanggung jawab. Yang menarik juga dalam publikasi itu adalah penegasan mengenai pentingnya regulasi pemerintah untuk memastikan terealisasinya konsumsi yang lebih rasional dan bertanggungjawab.

Dalam bingkai optimisme inilah saya ingin menceburkan diri ke dalam sekaligus menyambut datangnya Tahun 2016. Pertama, saya ingin menjadi bagian dari perubahan perilaku sekaligus mengkampanyekan perilaku hidup sederhana dan hidup sehat. Sebagai seorang dosen, saya meletakkan ke pundak tanggungjawab saya sendiri untuk menyebarkan semangat hidup sederhana, semangat membeli karena kebutuhan yang benar, dan bukan kebutuhan sebagaimana dikonstruksi kapitalisme. Kedua, saya ingin menjadi bagian dari kampanye memosisikan alam bukan semata-mata sebagai objek untuk dieksplotasi, tetapi sebagai entitas yang memiliki tujuan pada dirinya. Saya membayangkan akan melakukan banyak kegiatan luar ruangan, misalnya travelling atau mengajak keluarga ke rekreasi alam, melibatkan keluarga atau mahasiswa dalam upaya pemeliharaan alam, dan semacamnya. Ketiga, dalam semangat hidup sebagai orang beragama, saya ingin semakin membuka diri kepada “pewahyuan Allah melalui alam dan karya ciptaan lainnya.”

Dan ketika Kereta Api Eksekutif Parahayangan melewati Karawang di siangn hari ini, 2 Januari 2016, pukul 11:00 WIB, saya mengakhiri tulisan teramat sederhana ini. Dari balik kaca jendela, hamparan sawah nan hijau telah mampu membangkitkan rohku untuk menundukkan diri pada kebesaran Yang Maha Kuasa. Semoga sikap semacam ini terus terpelihara dan merasuk dalam hidup yang terlalu sering lupa bersyukur.

Selamat datang tahun 2016.

Anak Kecil Rindu Bertemu Tuhan

meet-godAda seorang anak kecil ingin bertemu Tuhan. Dia tahu perjalanan untuk bertemu Tuhan akan melalui rute yang cukup jauh dan berliku. Karena itu, ia memasukkan cukup banyak kue Twinkies ke dalam tasnya. Tidak lupa pula dibawanya enam kaleng minuman soft drink. Dia memulai perjalanan setelah semuanya siap.

Ketika baru berjalan beberapa ratus meter, ia bertemu dengan seorang wanita tua sedang duduk di sebuah taman. Wanita tua itu tampak asyik mengamati beberapa burung merpati yang sedang mematuk makanan di tanah.

Anak kecil itu duduk di samping wanita tua itu sambil membuka tas bawaannya. Dia hendak mengambil minum soft drink yang dia bawa dan meminumnya. Tetapi ketika melihat wanita tua itu yang sepertinya lapar, anak kecil itu menawarkan sepotong kue yang dia bawa. Sambil tersenyum manis, wanita tua itu pun menerima tawaran anak kecil itu. Senyumnya begitu cantik sehingga anak kecil itu ingin melihatnya lagi. Karena itu, dia menawarkan satu kaleng minuman yang dibawanya. Sekali lagi wanita tua itu tersenyum padanya. Anak itu sangat senang! Mereka duduk di sana sambil makan dan tersenyum, tapi mereka tidak pernah berbicara satu patah kata pun.

Tidak disadari ternyata hari mulai gelap. Anak kecil itu pun ingin segera cepat kembali ke rumahnya karena sudah merasa lelah. Hampir seharian penuh duduk di taman itu. Dia bangun dan bergegas pergi. Tapi sebelum melangkah lebih jauh lagi ia justru berbalik, berlari kembali ke wanita tua dan memeluknya. Wanita tua itu pun membalas pelukan itu dengan sebuah senyuman yang terindah yang dia miliki.

Anak kecil itu pun bergegas kembali ke rumahnya. Ketika hendak membuka pintu rumahnya, ibunya justru terkejut melihat wajah sukacita yang terungkap dari anaknya. Sang ibu pun bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan hari sehingga kamu tampak sangat bahagia?” Anak itu pun menjawab, katanya, “Hari ini aku makan siang dengan Tuhan Allah.” Tapi, sebelum ibunya menanggapi hal ini, anak itu buru-buru menambahkan, “Kau tahu apa? Dia punya senyum yang paling indah yang pernah saya lihat!”

Sementara itu, sang ibu tua yang dijumpai di taman itu pun bergegas kembali ke rumahnya dengan wajah penuh sukacita. Di pintu rumahnya, seorang anaknya telah menunggu. Sang anak pun terpana dengan tampilan ibunya karena wajahnya mengekspresikan rasa damai yang luar biasa. Sang anak pun bertanya kepada ibunya, “Ibu, apa yang ibu lakukan hari ini yang membuatmu tampak sangat bahagia?” Sang ibu menjawab, “Hari ini aku makan kue Twinkies di taman, makan bersama dengan Tuhan.” Dan sebelumnya anaknya memberi tanggapan, ibu itu menambahkan, katanya, “Ternyata Tuhan itu jauh lebih muda dari yang saya harapkan.”

Pesan Moral: Sebenarnya Allah ada di mana-mana. Kita hanya perlu membagi kebahagiaan kita kepada sesama kita, membuat mereka tersenyum dan ikut merasakan kebahagiaan yang kita rasakan.

Sumber cerita: Kay, USA. Dikisahkan kembali oleh Yeremias Jena. Akses: http://www.moralstories.org/little-boys-meeting-with-god/

Rindu Membuncah Saat Kau Jauh

passion of love by Mandell Maull
Lukisan Passion of Love karya Mandell Maull. Sumber: http://www.redbubble.com/people/mandellart/works/5478320-passion-of-love.

Kerinduan membuncah ketika kekasih jiwa tak hadir secara fisik. Ketika dua kekasih dipisahkan ruang dan waktu. Ini sebuah pengalaman sangat manusiawi. Lewat sajak-sajak Sextus Propertius menjelang abad pertama masehi, orang Romawi Kuno memiliki kata-kata yang cukup tepat untuk menggambarkan gejolak jiwa ini. Dalam Elegy 33, buku II, Sextus Propertius menulis, “Passion is often greater in absent lovers.” Kalimat itu dalam bahasa Latin menjadi semper in absentes felicior aestus amantes.

Sajak lengkapnya saya kutipkan di bawah ini. Perhatikan kalimat yang saya garisbawahi di bagian terakhir sajak ini.

Book II.33A:23-44 Cynthia drinking late
You don’t listen, and you let my words rattle around, though Icarius’s oxen now draw their slow stars downward. You drink, indifferent: are you not wrecked by midnight, and is your hand not weary throwing the dice? Perish the man who discovered neat wine, and first corrupted good water with nectar! Icarius you were rightly killed by Cecropian farmers, you have found how bitter the scent is of the vine. You, Eurytion the Centaur, also died from wine, and Polyphemus, you by Ismarian neat. Wine kills our beauty, and corrupts our youth: often through wine a lover doesn’t know her man.
Alas for me, much wine doesn’t alter you! Drink then: you’re lovely: wine does you no harm, though your garland droops down, and dips into your glass, and you read my verse in a slow voice. Let your table be drenched with more jets of Falernian, and foam higher in your golden cup.
No girl ever willingly goes to bed alone: something there is that desire forces us all to search for. Passion is often greater in absent lovers: endless presence is lowering for the man who’s always around.

Bagaimana sajak indah ini bisa ditafsirkan? Beberapa kata bisa ditonjolkan untuk memperdalam pemahaman. Salah satu yang menarik perhatian adalah kata “aestus” dalam ungkapan semper in absentes felicior aestus amantes. Kata ini merupakan kata benda maskulin, deklensi keempat, yang artinya (1) panas/heat, api/bara/fire, pasang/tide, hasrat mendalam/passion (secara figuratif). Secara figuratif, kata ini juga mendeskripsikan gerak ombak pasang yang saling bergantian. Dalam arti itu, kata aestus menunjukkan suatu bara, hasrat, gelombang yang bergerak silih berganti. Jika digunakan untuk menggambarkan gejolak atau rasa rindu mendalam sang kekasih kepada belahan jiwanya yang absen di hadiratnya, rasa cinta mendalam (passion), maka dimaksud sebenarnya adalah rasa cinta mendalam atau emosi cinta maha dasyat yang menjadi semakin kuat kepada mereka yang tidak hadir. Pemahaman ini tidak bisa dibalik dengan menyimpulkan bahwa rasa cinta akan berkurang kadar kemendalamannya ketika sang kekasih ada bersama (hadir bersama). Yang terjadi ketika sang kekasih ada atau hadir bukanlah kadar cinta yang berkurang, tetapi cinta yang semakin terpuaskan karena kehadiran. Karena itu, kalau pun ada kesan kurang kuat atau mendalamnya cinta di hadapan hadirnya kekasih, kesan itu hanyalah implikasi logis. Kehadiran membuat cinta menjadi lebih mendalam karena perealisasiannya.

Dalam konteks Bahasa Indonesia, kerinduan mendalam (aestus atau passion) saya maknakan sebagai cinta yang membuncah. Menurut KBBI, buncah artinya hati atau pikiran yang sedang keruh, gelisah, kacau. Sementara berdasarkan analisis Thesaurus, kata aestus/passion/cinta-mendalam dipahami sebagai hati yang guncang, bingung, galau, buntu, hilang akal, kacau, kalang kabut, karut, dan semacamnya. Demikianlah, kata “membuncah” tampaknya menggambarkan secara cukup tepat perasaan seorang kekasih ketika jauh dari belahan jiwanya.

Kata kedua yang menarik perhatian saya dari ungkapan semper in absentes felicior aestus amantes adalah kata felicior. Kata ini adalah bentuk komparatif dari kata felix, artinya “berbahagia” (happy) atau “beruntung” (fortunate). Pengertian paling dasar dari kata ini adalah “berbuah” (fruitful) atau produktif, dan ini berhubungan dengan tanaman dan semacamnya. Disandingkan dengan kata felicior aestus, pilihan kata ini menunjukkan cinta mendalam yang “menguntungkan”, semacam membawa keberuntungan atau bersifat produktif (menghasilkan sesuatu alias semakin mencintai). Dibaca secara lebih optimistis, absennya fisik atau tidak hadirnya sang kekasih jiwa di samping justru membuat dua insan semakin saling mengasihi. Cinta menemukan maknanya yang lebih dalam.

Dalam konteks inilah kita memahami semacam “jeritan” hati Sextus Propertius ketika dia menulis puisi ini. Kepada kekasih jiwanya yang jauh, dia menulis, “Kamu tak mendengar, dan kamu membiarkan kata-kataku terucap tak-bermakna … banyaknya anggur tak sangup menggantikan [hadir]mu … tak seorang wanita pun yang ingin beranjak seorang diri ke tempat tidurnya: ada sesuatu di sana saat hasrat mendorong kita untuk menemukannya.” Dan ketika semuanya itu tak-terealisasi karena absennya sang kekasih jiwa, Sextus Propertius pun berkata dengan yakinnya, “Cinta-mendalam sering [terasa] lebih besar saat tiadanya sang kekasih.”

Pesan Moral

Irving Singer mengatakan dalam bukunya Philosophy of Love (2009, 44-51) bahwa hasrat atau cinta mendalam (passion) terhadap pasangan mengandaikan bekerjanya aspek kognisi dan afeksi. Kehadiran kekasih atau pasangan memungkinkan bekerjanya dua dimensi ini. Keduanya saling mengenal, saling menerima kekurangan dan kelebihan, dan berjanji untuk saling mengasihi. Keduanya juga saling memperdalam cinta mereka. Karena itu, ketidakhadiran salah satu dapat menyebabkan yang lainnya menjadi uring-uringan, gundah, merasa kehilangan, dan sebagainya seperti dikatakan dalam sajak di atas. Sebaliknya, absen atau ketidakhadiran seseorang dalam waktu lama – atau bahkan terus tidak hadir seperti dalam contoh perceraian atau kematian – hanya akan membuat pasangan lainnya terluka. Dia akan mengalami pengalaman kesepian yang menggigit.
Kadang-kadang absen atau tidak hadirnya pasangan hidup untuk sesaat justru baik. Dia dapat menjadi kesempatan untuk memperbarui ikatan cinta kedua belah pihak. Seperti kata syair sebuah lagu lawas, “Aku pergi untuk kembali.” Ya, perginya sang kekasih untuk beberapa saat menciptakan ruang eksistensial untuk menghayati cinta kepada sang kekasih secara lebih mendalam. Dan ketika sang kekasih kembali bersatu secara fisik, cinta yang telah mendalam itu menemukan alasannya untuk semakin berkembang. Pada titik ini, sang kekasih dapat menikmati anggur tanpa merasa sepi kehilangan belahan jiwanya seperti keluhan jiwa Sextus Propertius.

Diam itu Emas

Kita semua pasti pernah mendengar ungkapan atau peribahasa “diam itu emas” (silence is golden). Ungkapan atau peribahasa ini umumnya digunakan dalam situasi ketika orang berpikir bahwa lebih baik tidak mengatakan suatu apapun daripada berbicara atau mengatakannya.

Meskipun ada yang percaya bahwa ungkapan ini dapat diasalkan pada ungkapan Mesir Kuno dan sudah digunakan oleh orang-orang dari negeri Firaun ribuan tahun silam, kita tetap tidak punya catatan sejarah mengenai asal-muasal ungkapan ini. Yang jelas, ungkapan “diam itu emas” pertama kali muncul dalam literatur Inggris, terutama dalam puisi karya Thomas Carlyle (4 December 1795 – 5 February 1881) seorang filsuf Skotlandia, penulis esai, sejarawan, guru, dan penulis satir. Carlyle menggunakan ungkapan ini ketika menerjemahkan frasa Jerman dalam sebuah novelnya berjudul Sartor Resartus yang terbit sekitar tahun 1833-1834 di Fraser’s Magazine. Sebagai catatan, novel ini sendiri sebetulnya merupakan sebuah komentar atas pemikiran dan kehidupan awal seorang filsuf Jerman bernama Diogenes Teufelsdröckh.
Ungkapan “diam itu emas” memang merujuk ke novel tersebut yang dalam perkembangannya kemudian mulai digunakan secara luas sebagai sebuah watak atau keutamaan yang baik. Sebuah kutipan cukup panjang yang menggambarkan ungkapan “diam itu emas” dapat disimak di bawah ini sebagai berikut:

“Silence is the element in which great things fashion themselves together; that at length they may emerge, full-formed and majestic, into the daylight of Life, which they are thenceforth to rule. Not William the Silent only, but all the considerable men I have known, and the most undiplomatic and unstrategic of these, forbore to babble of what they were creating and projecting. Nay, in thy own mean perplexities, do thou thyself but hold thy tongue for one day: on the morrow, how much clearer are thy purposes and duties; what wreck and rubbish have those mute workmen within thee swept away, when intrusive noises were shut out! Speech is too often not, as the Frenchman defined it, the art of concealing Thought; but of quite stifling and suspending Thought, so that there is none to conceal. Speech too is great, but not the greatest. As the Swiss Inscription says: Sprecfien ist silbern, Schweigen ist golden (Speech is silvern, Silence is golden); or as I might rather express it: Speech is of Time, Silence is of Eternity.”

Demikianlah, kita dapat menangkap maksud dari ungkapan “diam itu emas” sebagaimana yang saya garisbawahi di atas. Ungkapan yang berhubungan dengan “diam itu emas” yang menarik bagi saya adalah (1) “hold thy tongue for one day”. Terjemahan lurusnya adalah “hentikan lidamu satu hari”. Orang menggerakkan lida ketika berbicara. Karena itu, menghentikan lida berarti berhenti berbicara. (2) Terlalu banyak bicara identik dengan menimbulkan keributan atau kegaduhan, apa yang dalam kutipan di atas diistilahkan dengan “intrusive noise” atau kegaduhan yang luar biasa yang membuat orang jengkel. (3) Banyak bicara itu bukan hal yang buruk. Seperti dikatakan dalam kutipan di atas, banyak bicara itu “bagus” (great) tetapi bukan yang luar biasa (the greatest). Sebagaimana juga dinyatakan di bagian awal dari kutipan itu, banyak hal besar dan luar biasa dapat menyatakan diri justru ketika seseorang mampu “menjaga lidanya” dalam arti mampu membangun dan mempertahankan keheningan (diam) dalam dirinya.
Dalam kehidupan spiritual, “diam” (silence) adalah metafor untuk menyatakan “ketenangan batin” (inner stillness) atau ketenangan yang terbentuk dalam diri seseorang. Ketenangan pikiran dan ketenangan batin pertama-tama bukanlah ketiadaan suara atau hilangnya kegaduhan di sekitar. Keheningan batin dalam spiritualitas lebih dimaknakan sebagai keterbukaan dan komunikasi dengan yang ilahi. Tuhan hanya mau berbicara dalam keheningan dan membuka komunikasi dengan orang yang telah mencapai keheningan. Seperti yang pernah dikatakan Eckhart Tolle, penulis buku-buku spiritualitas kontemporer, keheningan dapat dipahami baik sebagai tiadanya kegaduhan, tetapi dapat pula berarti ketenangan pikiran dan batin. Demikianlah, dalam konteks ini, yang terpenting bukanlah ada atau tidak adanya kegaduhan di sekeliling, tetapi bagaimana seseorang memiliki ketenangan pikiran dan batin untuk dapat berkomunikasi dengan yang ilahi.

Saya sengaja merujuk ungkapan “diam itu emas” ke karakteristik pengalaman rohani, bahwa Allah hanya bisa dialami dalam keheningan. Maka, yang pertama yang harus diusahakan oleh setiap orang beragama adalah mencapai keheningan. Bagi saya, berbagai praktik ritual keagamaan apapun tidak bermakna apa-apa bagi individu ketika seseorang belum mampu mencapai taraf keheningan dalam dirinya. Dan saya lebih khawatir lagi ketika agama terlalu gaduh dalam mementingkan ritual sebegitu rupa sehingga tidak sanggup membantu umatnya mencapai keheningan. Jika sudah begitu, agama sebetulnya tidak lebih baik dari lembaga yang memelihara kegaduhan sebagai bagian dari watak eksistensinya.

Ya, diam itu memang emas.

Sumber
1. http://www.phrases.org.uk/meanings/silence-is-golden.html
2. https://en.wikipedia.org/wiki/Sartor_Resartus
3. https://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Carlyle
4. https://en.wikipedia.org/wiki/Silence#In_spirituality

TEROR DI PARIS DAN PERANG WACANA

paris-afp

Oleh Yeremias Jena

Aksi teror dan bom bunuh diri di Paris saat sebagian warga sedang menikmati konser musik dan sepak bola telah melahirkan reaksi dan kutukan yang keras dari pemerintah Prancis (dan sekutu-sekutunya). Aksi di Jumat kelabu, 13 November 2015 itu mengundang reaksi pengecaman terhadap kelompok radikal Islam bernama ISIS. Media sosial penuh dengan tagar ucapan simpati dan dorongan semangat untuk kembali bangkit. Kita tidak boleh menyerah terhadap tindakan barbarik yang mendehumanisasikan kebudayaan. Kita tidak boleh menggadaikan kehidupan yang menghormati kebebasan, kesamaan, dan solidaritas. Seperti itulah reaksi publik Prancis terhadap tragedi tersebut.

Berbagai wacana dan analisis telah mengemuka, dan salah satunya merujuk kepada apa yang disebut Samuel Huntington di tahun 1992 sebagai “clash of civilization”. Banyak pihak meragukan ketepatan menganalis tragedi 13 November di Paris menggunakan pendekatan ini. Memang dibutuhkan tilikan yang lebih mendalam dan objektif sebelum menyimpulkan itu sebagai sebuah “benturan budaya”. Meskipun demikian, perang wacana menarik untuk direfleksikan, persis ketika dunia Barat harus memaknakan berbagai gerakan radikal berbasis keagamaan yang mulai bermunculan di Eropa.

Beda Episteme

Orang pun bertanya, apakah tragedi semacam ini adalah sebuah tindakan teror atau sebuah tindakan terpuji atas nama agama dan/ideologi tertentu? Jawabannya tidak sekadar mengembalikannya kepada pemilik episteme masing-masing, karena itu akan menyulitkan upaya mencari jalan keluar. Kelompok Barat yang berangkat dari episteme kebebasan, kesamaan, dan persaudaraan memaknakan aksi brutal dan kekerasan atas nama apapun sebagai terorisme. Lebih dari upaya menciptakan rasa takut yang luar biasa sebagai dampak dari setiap aksi terorisme, dunia Barat juga memaknakan brutalisme ini sebagai upaya serius dan terencana menggeser nilai kehidupan Barat yang pro kebebasan, kesamaan dan persaudaraan tadi. Keputusan menyerang balik dalam sebuah operasi militer yang masif, dengan begitu, menjadi konsekuensi yang niscaya bagi upaya membentengi diri dan nilai-nilai yang dihidupinya. Celakanya, nilai-nilai Barat dibangun di atas peradaban yang telah meminggirkan agama sebagai pencipta dan penjaga nilai kemanusiaan.

Di lain pihak, kelompok teroris dan radikal justru memaknakan gerakan dan perjuangannya sebagai sebuah perintah suci. Bagi mereka, kebebasan individual bersifat terbatas dan dibatasi oleh apa yang disebut syariah. Manusia adalah makhluk rapuh yang tidak bisa dipercaya, karena itu, berbagai pembatasan harus diimposisikan ke atasnya, mulai dari larangan terhadap hal-hal yang sangat serius dan dapat menjadi titik simpul kesepakatan bersama agama-agama di dunia, sampai pada hal-hal yang remeh-temeh semisal apakah seorang perempuan dapat diizinkan menyetir mobil atau memeriksakan kesehatannya kepada dokter laki-laki. Dalam arti itu, menurut mereka, realitas sosial harus dikonstruksi berdasarkan pandangan-pandangan Kitab Suci yang penerimaan atasnya bersifat literer.

Dua perspektif ini saja menimbulkan kerumitan yang luar biasa seriusnya, terutama dalam hal bagaimana melumpuhkan gerakan politik radikal. Dalam konteks Prancis, idealnya setiap penduduk menerima dan menjadikan nilai-nilai sekuler seperti liberte, egalite, dan fraternite sebagai bagian dari nilainya. Dengan begitu, slogan-sloga seperti Je Suis Paris atau liberte, egalite, fraternite yang marak muncul sebagai tagar di media sosial pasca tragedi 13 November dapat dilihat sebagai ekspresi masyarakat dengan nilai-nilai semacam itu. Sebaliknya, fakta bahwa para pelaku teroris adalah anak-anak muda yang lahir di Prancis membuktikan secara gamblang kegagalan proses sosialisasi nilai dan norma sosial. Di lain pihak, pemaksaan episteme kaum radikal yang mendasarkan kehidupan sosialnya pada sebuah ideologi/agama tertentu dalam ranah publik yang sekuler hanya akan menyisakan satu alternatif: mengubah ranah sekuler menjadi berbasis agama, dan terorisme menjadi alat untuk mewujudkannya.

Persoalan ke depan yang dihadapi oleh banyak negara di Eropa persis terletak pada bagaimana mendamaikan kedua ekstrem wacana ini. Dalam konteks membanjirnya puluhan ribu imigran dari Timur Tengah, misalnya, sangat sulit mentransformasi nilai dan pandangan politik mereka yang tidak mengenal pemisahan negara dan agama melalui program apapun, entah itu proyek multikulturalisme di Inggris atau asimilasi sosial di Prancis. Masalahnya justeru terletak pada basis nilai pembentukan kehidupan bernegara yang berbeda, yakni negara sekuler versus negara agama. Dalam arti itu, sebagian besar negara Eropa yang menyambut para imigran dengan semangat persaudaraan dan kemanusiaan sejati tampaknya sedang menggali lubang kematiannya sendiri, persis ketika fondamen kehidupan bernegara yang sekuler dan teokratis tidak bisa dikompromikan. Dan jalan keluar militer hanya akan mengekalkan lingkaran kekerasan di kedua kubu.

Saya setuju dengan dua wacana yang mengemuka beberapa hari terakhir, terutama dalam diskusi di media-media asing. Pertama, pentingnya mendorong peran kaum Muslim moderat untuk memerangi aksi kekerasan dan brutalisme atas nama agama. Absennya hierarki dan ketiadaan “garis komando” dalam Islam memang disadari sebagai hambatan. Meskipun demikian, wacana semacam ini mengingatkan kita akan pentingnya memaknakan ajaran Kitab Suci tidak hanya berdasarkan konteks kekinian, tetapi juga mengedepankan sifat evolutif tafsir atas ayat-ayat suci. Memang belum ada contoh di dunia yang memperlihatkan keberhasilan peran kaum moderat dalam membendung aksi terorisme atas dasar ajaran dan/atau ideologi agama. Meskipun begitu, eksistensi wacana semacam ini dibutuhkan sebagai alternatif wacana di ruang publik.

Kedua, episteme Barat sebetulnya tidak murni sekuler, dan ini yang tampaknya tidak disadari atau sengaja dilupakan. Prinsip liberte, egalite, dan fraternite, misalnya, menegaskan bahwa setiap manusia adalah setara dan sederajat karena statusnya sebagai khalifatullah. Itulah yang seharusnya mendorong setiap orang kepada persaudaraan sejati sebagai sesama ciptaan, bahwa Allah menciptakan langit dan bumi untuk semua ciptaan-Nya. Sementara nilai kebebasan itu sendiri secara historis lahir sebagai reaksi atau lebih tepatnya koreksi terhadap tindakan semena-mena rezim Gereja yang lupa akan misi sucinya “membebaskan” manusia dari kedosaan, dan bukan malah menindas dan membelenggunya. Dalam konteks ini, upaya membangun sebuah kehidupan bersama yang mengorbankan nilai-nilai kebebasan sama saja dengan mengembalikan model kehidupan ke zaman jahiliah (baca: sebelum revolusi Prancis).

Episteme Barat yang implisit bersifat religius dan episteme Islam yang eksplisit religius seharusnya bisa disandingkan, bukan dengan menganeksasi episteme lain, tetapi mengkompromikannya. Meniadakan kompromi politik dalam sebuah masyarakat plural seharusnya dilihat sebagai perilaku apolitis kalau tidak mau disebut sebagai bodoh. Dan dalam arti itu, Eropa seharusnya tidak perlu malu atau ragu mengusung nilai-nilai religiusnya (terutama Kristianitas) ketika berinteraksi dengan masuknya budaya non-Kristiani. Tanpa itu, kita hanya akan menyaksikan proses silang budaya tanpa substansi, apa yang oleh banyak teolog disebut sebagai humanitas tanpa kebenaran. Dan kebenaran itu seharusnya bersumber pada ajaran atau episteme religius tertentu.[]

 

UJARAN KEBENCIAN DAN ETIKA

Memasuki pekan kedua Oktober 2015, publik dikejutkan oleh Surat Edaran (SE) Kapolri Badrodin Haiti, nomor SE/06/X/2015, tentang penanganan ujaran kebencian (hate speech). Tanggapan publik pun beragam. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah bentuk terselubung dari upaya sistematis membunuh demokrasi. Orang juga menghubungkannya dengan kemungkinan intervensian Jokowi yang menggunakan tangan Polri untuk membungkam para pengkritiknya.

Jika dibaca sebagai manifestasi dari berbagai UU yang melindungi hak asasi manusia warga negara Indonesia (hak-hak ekonomi, social,budaya, hak-hak sipil dan politik, hak untuk tidak didiskriminasi secara ras dan etnis), maka SE tersebut tampak berkarakter sangat normatif. SE itu menjadi semacam panduan awal bagi para anggota Polri di lapangan dalam mengantisipasi dan menghadapi masalah-masalah penyebaran ujaran kebencian. Jika asumsi ini benar, penolakan berlebihan terhadap SE Kapolri dapat menjadi semacam political paranoia atas berbagai upaya eksternal membatasi hak berpendapat.

Penolakan publik menimbulkan satu persoalan etika yang sangat serius. Apakah kebebasan berpendapat di ruang publik tidak perlu dibatasi dengan norma atau hokum positif tertentu? Jika dibatasi, sejauh mana pembatasan tersebut bersifat etis? Ada dua model argumentasi yang dapat dikemukakan. Pertama, publik mengira bahwa kebebasan menyampaikan pendapat identik dengan kebebasan mengatakan apa saja dengan cara apa saja berdasarkan pertimbangan subjektifnya atas hal-hal yang berkenan dengan kepentingan publik.

Argumen semacam ini tidak meyakinkan persis ketika kebebasan bersifat terbatas karena kebebasan orang lain. Kebebasan orang lain membatasi kebebasan individu untuk mengatakan apa saja dengan cara apa saja yang nyata-nyata tidak berhubungan dengan kepentingan publik atau bersifat penghinaan. Dalam arti itu, seluruh argumen atau pendapat yang bersifat menyerang orang (argumentum ad hominem) tidak dapat dibenarkan.

Kedua, sebagian orang berpendapat bahwa setiap individu warga negara adalah pribadi moral yang bebas dan bertanggung jawab. Dia memiliki semacam kontrol diri yang dapat mencegahnya melakukan kejahatan, termasuk mencegah penyebaran ujaran kebencian.

Pandangan yang sangat mulia karena memosisikan warga negara sebagai pribadi yang bebas dan otonom, tampaknya hanya sekadar konstatasi pikiran. Penyebaran fitnah terhadap Presiden Jokowi ketika mengunjungi dan berdialog dengan warga suku anak dalam di Jambi sebagai “rekayasa peristiwa”, penghasutan kelompok masyarakat tertentu untuk membakar dan menghancurkan rumah ibadah di Tolikara maupun di Aceh Singkil (Aceh) adalah sekelumit fakta yang langsung menggugurkan argument semacam ini. Dengan kata lain, individu yang bebas dan otonom belum merupakan gambaran real masyarakat Indonesia. Dalam arti itu, berbagai regulasi yang sifatnya pedagogis masih sangat dibutuhkan demi menjamin terciptanya keteraturan sosial.

Ketiga, bisa jadi penolakan terhadap SE Kapolri berangkat dari semacam sikap “political paranonia”, entah terhadap institusi kepolisian atau pemerintahan Jokowi. Sebagai gejala psikis, paranoia mendeskripsikan sikap ketidaksenangan terhadap pihak lain tanpa alas an objektif tertentu. Sebagai sikap politik, gereja semacam ini hanya akan memosisikan institusi tertentu atau sosok pemimpin tertentu sebagai pihak yang selalu salah, berpenampilan kurang meyakinkan, kurang mampu memenuhi ekspektasi publik dan semacamnya pada saat sebagian besar masyarakat memiliki perasaan atau pandangan yang justru sebaliknya (Jan-Willem van Prooijen dan Paul A.M. Van Lange, Why People are Suspicious of Their Leaders, Cambridge University Press: 2014).

Kontrol Publik Tetap Dibutuhkan

Secara implicit, ketiga poin di atas mendukung pembatasan kebebasan berpendapat, dan dengan begitu, beada pada pihak pendukung SE Kapolri. Problemnya sangat jelas: menyatakan pendapat secara bebas dengan cara apapun (termasuk memfitnah dan menyebar kebencian) tidak dapat dipertahankan sebagai sikap politik. Dan bahwa regulasi atau apapun UU harus dilihat sebagai alat edukasi Warga Negara untuk mencapai kebebasan dan kemandirian individual.

Pertanyaannya, sejauh mana kontrol dan pembatasan kebebasan dapat dijustifikasi secara etis? Dua distingsi dapat dikemukakan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, pembatasan kebebasan berpendapat hanya untuk melindungi orang, pejabat atau kelompok tertentu agar kebal dari kritik dan kontrol publik tidak dapat dibenarkan secara etis. Demokrasi partisipatoris mensyaratkan kebebasan warga negara menyatakan pendapatnya di ruang publik, bahkan kritiknya yang sangat tajam terhadap berbagai kebijakan publik. Membatasi kebebasan berpendapat hanya karena keengganan menerima kritik warga negara justru bertentangan dengan prinsip pemerintahan demokratis yang sedang dibangun di Republik ini. Menyimak keterangan Polri maupun Pejabat RI, tampaknya bukan ini alas an kontrol terhadap penyebaran ujaran kebencian.

Kedua, pembatasan ujaran kebencian harus dilihat sebagai upaya perlindungan negara terhadap harkat dan martabat manusia. Perlindungan itu sangat nyata dalam SE Kapolri, terutama nomor 2 (g), bahwa ujaran kebencian atas nama suku, agama, aliran kepercayaan, aliran agama, ras, antargolongan, warna kulit, etnis, gender, cacat, dan orientasi seksual berpotensi menghasut dan menyulut kebencian, sehingga harus dilarang.

Mungkin perlu kajian atau penelitian akademis yang cukup serius dan mendalam untuk memastikan adanya relasi antara ujaran kebencian dengan kekerasan atau konflik sosial yang terjadi di Indonesia. Meskipun demikian, itu tidak berarti bahwa rujukan kepada konflik sosial di negara lain sebagai yang disebabkan oleh ujaran kebencian bukan tidak bisa dilakukan. SE Kapolri memang menyebut kasus genosida di Rwanda dan Afrika Selatan, tetapi juga konflik sosial di Indonesia, dan ini seharusnya menjadi semacam peringatan (warning) bagi ancaman menyebarnya ujaran kebencian. Semakin menurunnya sikap toleransi warga negara Indonesia (In Indonesia, Minorities Under Threat from Muslim Hard-Liners, JakartaGlobe, 5/11/2015) seharusnya juga dilihat sebagai alas an bagi pembatasan penyebaran ujaran kebencian.

Tantangan terbesar justru ada di pihak Polri. Jika SE Kapolri dibaca sebagai upaya mempersiapkan anggota Polri mengantisipasi dan mencegah menyebarnya ujaran kebencian, pengetahuan dan kemampuan menganalisis serta memilah-milah berbagai ujaran di ruang publik menjadi syarat yang harus dipenuhi. Apakah segenap anggota Polri telah siap dengan tugas teramat mulia ini hanya bisa dijawab oleh Polri sendiri.

HERMENEUTIKA DAN FENOMENOLOGI

Seorang rekan yang adalah mahasiswa program master psikologi baru saja berdiskusi mengenai hermeneutika. Menyimak penjelasan saya mengenai apa itu hermeneutika, dia menangkap kesan seakan-akan hermeneutika sama saja dengan fenomenologi. Dia pun bertanya, apa perbedaan antara hermeneutika dan fenomenologi? Saya berusaha menjawabnya secara singkat berikut.

Mengenai Hermeneutika

Hermeneutika berasal dari kata “hermes”, merujuk ke pesan-pesan yang disampaikan oleh dewa Hermes. Dialah yang dapat mengerti dan menginterpretasikan apa yang dewa atau yang ilahi ingin sampaikan kepada manusia.

Per definisi, hermeneutika sebenarnya adalah seni memahami (art of understanding) dan teori penafsiran (interpretasi). Membicarakan hermeneutika, kedua dimensi ini menjadi satu kesatuan. Jadi, pasti ada pemahaman dan kemudian penafsiran. Menginterpretasi selalu bersifat teknis dan teoretis, sementara memahami lebih merupakan seni. Sementara yang dipahami adalah fenomenon (gejala) tertentu, entah itu periode sejarah, orang, kejadian tertentu, dan sebagainya yang menampakkan diri kepada subjek (kesadaran).
Friedrich Schleimacher (1768-1834), adalah filsuf yang menjadi titik awal dikenalnya hermeneutika sebagai pendekatan dalam filsafat. Ada dua sumbangan penting yang diberikan Friedrich Schleimacher. Pertama, dia menekankan apa yang disebutnya sebagai “hipotesis atas sesuatu secara linguistik” (“linguisticality hypothesis”). Bagi dia, manusia adalah makhluk bahasa. Pemahamannya mengenai fenomena berakar pada hakikatnya sebagai makhluk bahasa ini. Dengan kata lain, seseorang tidak bisa memahami sesuatu tanpa bahasa. Bahasa adalah alat untuk memahami fenomena.
Kedua, Friedrich Schleimacher berpendapat bahwa memahami pernyataan lisan atau tulisan selalu tergantung pada dua hal, yakni konteks bahasa (linguistic context) dan konteks pribadi (personal context). Dalam konteks bahasa, subjek memahami pernyataan sebagaimana dinyatakan dalam bahasa tertentu; di sini ada interpretasi gramatikal. Misalnya, terhadap kalimat “I have spent a whole night with my fiance in a hotel” berbeda dengan “I will be spending a whole night with my fiance in a hotel”. Kedua pernyataan ini jelas berbeda secara gramatikal, dan karena itu mengungkapkan makna yang berbeda; yang pertama sudah selesai dilakukan, sementara yang kedua baru akan dilakukan.

Sementara itu, dalam konteks personal, subjek berusaha memahami pernyataan dengan memperhatikan keadaan hidup dan pikiran dari orang yang mengatakan kalimat tersebut. Di situ ada interpretasi psikologis. Demikianlah, berhadapan dengan seseorang yang mengatakan bahwa “I have spent a whole night with my fiance in a hotel”, saya bisa memahami pernyataannya dengan memperhatikan gesture atau gerak tubuhnya, ekspresi wajahnya, intonasinya, merasakan perasaannya dan sebagainya. Apakah pernyataan itu dikatakannya sebagai ungkapan kegembiraan atau justru ungkapan kekecewaan karena malam-malam yang menjengkelkan yang dia rasakan selama berdua dengan kekasihnya.

Ingat bahwa kedua dimensi dalam penafsiran ini selalu berjalan beriringan.

Tokoh lain yang juga menarik adalah Wilhelm Dilthey (1833-1911). Dia biasanya dihubungkan dengan masa para hermeneut romantik abad 19 (terutama Schleiermacher) dan hermeneut abad 20. Wilhelm Dilthey sendiri mengoreksi pandangan Schleiermacher mengenai hipotesis atau penafsiran linguistik (gramatikal). Bagi dia, proses penafsiran adalah sebuah proses kehidupan itu sendiri; kategorinya bersifat eksistensia. Dia melihat bahwa sebagai penafsir atau subjek yang ingin memahami sesuatu, kita ternyata tidak bisa membedakan antara tahap penafsiran linguistik dan tahap penafsiran personal. Kita melakukannya sebagai sebuah kegiatan pemahaman dalam satu kesatuan persis karena kita adalah makhluk bahasa, yang berbicara dan mendengar, yang menulis dan membaca, yang memaknakan pengalaman, dan sebagainya, dan yang pada saat bersamaan memahami dan memberi makna pada fenomena tertentu. Bahwa setiap aspek kehidupan kita adalah upaya menafsir dan memahami realitas tanpa membuat pembedaan tajam antara kedua aspek tersebut.

Hubungan hermeneutika dan fenomenologi

Lalu, apa hubungan hermeneutika dengan fenomenologi sebagaimana yang Anda tanyakan?

Per definisi, fenomenologi adalah ilmu mengenai fenomena. Penjelasan ini tidak dengan sendirinya jelas, karena fenomena sendiri digunakan dalam cara yang beragam dan berbeda. Jadi, jika fenomenanya sendiri belum jelas didefinisikan, bagaimana kita bisa memahami fenomena tersebut? Meskipun demikian, sesuatu masih bisa dikatakan sehubungan dengan fenomena. Dalam konteks pengetahuan, isu atau hal utama yang diangkat adalah apakah realitas terdalam (the essence of things) menyatakan atau menyingkapkan diri dalam fenomena?

Kembali ke contoh konteks gramatikal dan konteks personal yang saya contohkan di atas. Tarulah bahwa saya sudah menghabiskan semalaman bersama pacar saya di sebuah hotel, dan bahwa itu adalah pengalaman yang menyenangkan. Dan bahwa pengalaman itu benar memang begitu adanya. Jadi, jika seorang penafsir (hermeneut) menafsir pernyataan saya sebagai ekspresi kebahagiaan – misalnya menghubungkannya dengan ekspresi wajah saya, intonasi dan pilihan kata atau gerak tubuh saya – dan penafsirannya itu sesuai dengan keadaan yang saya alami, interpretasi itu “berhasil”. Saya sebagai fenomena telah mengungkapkan diri kepada si penafsir dan dia berusaha memahami saya sebagaimana saya menampakkan diri.

Masalahnya kemudian adalah apakah saya (being) yang menampakkan diri melalui ekspresi wajah, gerak tubuh, intonasi bahasa, dan pernyataan itu memang menampakkan hakikat terdalamku? Apakah esensiku sebagai pengada menampakkan diri secara menyeluruh kepada kesadaran si penafsir? Jika pun pengada menampakkan diri secara menyeluruh, apakah subjek yang memahamiku mampu menangkap keseluruhan esensiku? Pertanyaan mendasarnya adalah “apakah kita dapat memahami esensi dari sesuatu?”

Demikianlah, fenomena adalah subjek yang menampakkan diri kepada kesadaran. Kesadaran subjek yang berupaya memahami fenomena itulah upaya penafsiran atau hermeneutika.
Supaya penafsiran subjek tidak bersifat subjektif (asal menafsir) dan supaya penafsiran itu semakin dekat dengan hakikat atau esensi dari fenomena yang menampakkan diri, maka hal-hal berikut harus diperhatikan baik oleh hermeneutika maupun fenomenologi. Hal-hal itu adalah:

Pertama, horizon (sumbangan Gadamer). Yang dimaksud di sini adalah konteks interpretasi, wilayah, lingkup, setting, keadaan, atau ruang ketika sebuah teks atau sebuah fenomena diinterpretasikan dan ketika penafsir menjadi bagian dari wilayah atau konteks itu. Kembali ke contoh di atas, si penafsir mampu menyimpulkan bahwa saya sedang bersukacita setelah menghabiskan waktu bersama pacar saya karena dia ada dalam konteks ketika saya menyatakan diri. Penafsir itu tidak berjarak dan tidak mengoperasikan konsep dan pemikirannya sendiri. Dia menarik kesimpulan berdasarkan fenomena yang dia lihat, tetapi dia mengambil bagian di dalamnya.

Kedua, pemahaman/understanding (sumbangan Gadamer). Yang dimaksud dengan dimensi ini adalah fusi atau pemaduan atau terjadinya pertemuan antara horizon penafsir dan teks. Kembali ke contoh di atas, jika penafsir tidak pernah memiliki horizon tertentu bahwa ekspresi wajah saya dan gerak tubuh saya menyimbolkan kegembiraan, dia tidak akan pernah mampu memahami saya yang menyatakan diri. Dalam arti itu, tidak terjadi pertemuan antarhorizon.

Ketiga, lingkaran hermeneutis interpretatif (interpretative hermeneutical circle). Perjumpaan yang memungkinkan horizon penafsir berelasi dengan horizon fenomena yang menampakan diri hanya bisa terjadi dalam sebuah proses yang dialektis. Inilah yang disebut sebagai lingkaran interpretatif hermeneutif. Analogi lingkaran memang cocok menggambarkan proses fusinya horizon, pertama-tama bukan relasi subjek – objek, tetapi sebuah proses pemahaman. Proses itu sendiri lebih tepat digambarkan sebagai lingkaran.

Keempat, lingkaran hermeneutik kontekstual (contextual hermeneutical circle). Penafsir memahami hubungan antara bagian dengan keseluruhan teks atau fenomena. Kembali ke contoh di atas, penafsir bisa saja menangkap bahwa bagian dari fenomena yang saya tampakan atau nyatakan kepadanya (mengekspresikan kegembiraan setelah menginap semalam bersama pacar di sebuah hotel) ternyata memiliki relasi dan menjadi bagian dari keseluruhan diri saya. Bahwa saya memang pemuda yang suka “mempermainkan perempuan”, persis ketika penafsir melihat lebih dalam ke siapa diri saya dan menemukan teks-teks yang lebih utuh mengenai diri saya. Bahwa telah beberapa kali saya mengecewakan perempuan dengan mencampakkan mereka setelah mereka “ditaklukkan”.

Kelima, lingkaran fenomenologis hermeneutik (phenomenological hermeneutical circle). Pada level ini, relasi dialektis antara penafsir dengan fenomena, termasuk di dalamnya kemampuan memahami bagian teks dalam hubungannya dengan keseluruhan teks (fenomena), lalu fusi antara horizon penafsir dengan horizon teks (fenomena), diharapkan penafsir mampu memahami fenomena dalam keseluruhan maknanya, apa yang disebut Gadamer sebagai “to reveal a totality of meaning in all its relations”.

Jadi, kembali ke pertanyaan yang diajukan sebagai problem fenomenologi di atas, jawabannya adalah bahwa fenomena dapat dipahami dalam totalitasnya, bahwa esensi atau hakikat fenomena dapat dipahami. Tetapi dengan catatan, proses-proses hermeneutik terjadi secara tepat dan benar, yakni dengan memperhatikan dan mempraktikkan kelima hal di atas.

Semoga bermanfaat!

Filsafat Ilmu Pengetahuan

filsafat ilmu2Filsafat ilmu adalah cabang dari ilmu filsafat yang mempelajari dasar atau fundamen, metode, dan implikasi dari sains. Persoalan utama yang hendak diangkat filsafat ilmu pengetahuan sebenarnya adalah bagaimana mengkaji atau merefleksikan secara filosofis unsur-unsur hakiki dari reliabilitas teori-teori ilmiah dan tujuan-tujuan yang hendak diwujudkan ilmu pengetahuan.

Filsafat ilmu mengkaji atau mendiskusikan secara filosofis apa tujuan ilmu pengetahuan. Perdebatan dalam konteks tujuan ilmu pengetahuan terletak pada apakah ilmu pengetahuan memiliki tujuan praktis tertentu yang ingin diwujudkan demi sesuatu di luar dirinya, misalnya demi kesejahteraan masyarakat?

Filsafat ilmu juga mendiskusikan secara filosofis sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Relevansi kajian ini terletak pada bagaimana ilmu pengetahuan tidak hanya berkembang dalam historisitas tertentu, tetapi juga dipengaruhi oleh sejauh mana kesadaran keilmiahan manusia berkembang. Di akhir dari kajian ini kita semakin menyadari betapa para ilmuwan saling belajar satu sama lain, saling mengkritik dan mengoreksi untuk mencapai hipotesis dan teori ilmiah yang penjelasannya mengenai realitas semakin mendekati kebenaran.

Buku ini diberi judul Filsafat Ilmu: Kajian atas Sejarah dan Metodologi Keilmuan. Kajian historis mengambil porsi yang cukup besar dalam buku ini, terutama dalam bab-bab mengenai pemikiran Yunani Kuno mengenai sains, problem realisme ilmiah dan Revolusi Kopernikus, polemik sains di abad 17 dan 18, serta kritik terhadap positivisme. Kajian ini bertujuan untuk menunjukkan betapa ilmu pengetahuan berkembang dalam sejarah dan budaya tertentu. Dalam arti itu, kecenderungan ilmu pengetahuan yang ingin membebaskan diri dari tanggung jawab sosial seharusnya tidak diberi tempat.

Tentang Penulis

Buku ini ditulis oleh saya sendiri, Yeremias Jena, S.S., M.Hum, M.Sc. Tentang siapa saya dapat dideskripsikan demikian: Lahir di Lembata (NTT), 23 Agustus 1969. Bekerja sebagai staf pengajar tetap di Fakultas Kedokteran, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta. Ia adalah Koordinator Mata Kuliah Humaniora Kedokteran sekaligus mengajar mata kuliah Etika Umum, Etika Biomedis, dan Filsafat Kedokteran di fakultas tersebut. Selain itu, ia juga mengajar Filsafat Ilmu di Fakultas Psikologi, Bioetika di Fakultas Teknobiologi dan Logika, semuanya di lingkungan Atma Jaya Jakarta.

Ia menyelesaikan S1 dan S2 bidang filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta dan bidang S2 bidang Bioetika dari Katholieke Universiteit Leuven (Belgium).

Ia aktif menerbitkan karya-karya filsafat di Jurnal Filsafat Driyarkara, Jurnal Etika Respons, Jurnal Filsafat Diskursus, Jurnal Filsafat Melintas dan beberapa jurnal lainnya. Sebagai staf Pusat Pengembangan Etika (PPE) d tempatnya bekerja, ia aktif mengisi kolom etika di harian Suara Pembaruan. Ia telah menerbitkan buku Yohanes Bosco: Rasul Kaum Muda (2009), Merajut Hidup Bermakna. Narasi Filosofis Pencerah Kehidupan (2013), dan Wacana Tubuh dan Kedokteran. Sebuah Refleksi Filosofis (2014). Ia bisa dihubungi di email: yeremias.jena@gmail.com

Bagaimana Bisa Memiliki Buku Ini

Jika pembaca berminat dan ingin memiliki buku ini, Anda bisa menghubungi saya di email saya seperti tertera di atas. Terima kasih.

Angeline dan Cinta yang Gagal Bertunas

Berita seputar Angeline, bocah delapan tahun di Bali yang menghilang sejak tanggal 16 Mei 2015 dan kemudian ditemukan tidak bernyawa pada tanggal 10 Juni 2015 telah menarik perhatian seantero jagad. Pemberitaan oleh media massa telah mengoyak-ngoyak kesadaran dan akal sehat kita. Reaksi publik pun beragam. Orang dibuat bertanya-tanya, sungguh tega seorang ibu membunuh “anaknya” sendiri? Kalau pun kemudian bukan sang ibu (angkat) yang menjadi pelakunya, pertanyaan publik tetap tidak bergeser, “Mengapa ada orang yang tega menganiaya, menyakiti, dan membunuh sesamanya, apalagi seorang anak kecil dan kelompok yang tidak mampu membela dirinya?”

Sebagian pemberitaan menghubungkan kasus ini dengan tingginya angka kekerasan terhadap anak-anak. Logika yang dibangun tampaknya sederhana dan masuk akal. Di tengah semakin meningkatnya angka kekerasan terhadap anak, kekerasan berujung kematian yang dialami Angeline seakan menemukan alasan penjelasnya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan bahwa kekerasan terhadap anak menjadi semakin meningkat selama lima tahun terakhir. Dicatat terdapat 261 kasus kekerasan terhadap anak di tahun 2011, meningkat menjadi 426 di tahun 2012, 1.615 di tahun 2013 dan 622 kasus di tahun 2014. Memang masih harus dibuktikan hubungan keniscayaan antara meningkatnya kekerasan terhadap anak dengan kekerasan aktual terhadap Angeline supaya tidak jatuh ke dalam kesesatan berpikir non causa pro causa (sesuatu yang bukan sebab justru dijadikan sebab), angka-angka itu mengingatkan kita perihal kerentanan kelompok anak-anak di Indonesia.

Sebagian pemberitaan lainnya menghubungkan kematian Angeline dengan hasrat dan hidden agenda orang-orang di sekitarnya untuk merebut hak warisan yang konon mencapai 60 persen dari total kekayaan mendiang ayah angkatnya. Meskipun masih harus dibuktikan di pengadilan, hasrat dan perilaku buruk semacam ini pun tidak bisa dipungkiri, telah menjadi bagian dari “nafsu” thanatos (destruksi dan penghancuran yang berakibat kematian) manusia. Dalam arti itu, secara psikologis dapat dikatakan bahwa “nafsu” semacam ini dapat termanifestasi di tangan siapa pun, tergantung faktor pemicunya.Kedua cara tafsir atas kekerasan terhadap anak ini sebetulnya berhubungan dengan cara kita memosisikan dan memahami orang lain. Dalam perspektif pemikiran filsuf eksistensialis Prancis, Gabriel Marcel (1889–1973), kekerasan terhadap anak, perempuan, orang cacad, janin, bayi, bahkan umat manusia secara keseluruhan seharusnya tidak terjadi jika relasi yang dibangun dengan mereka telah mencapai level pengalaman eksistensial, di mana orang lain adalah sesama, saudara, bukan objek, yang membuka diri, yang mengundang untuk dipahami sebagai misteri, dan bukan pertama-tama sebagai objek. Refleksi filosofis dan etis atas kasus kematian Angeline dari perspektif fenomenologis Gabriel Marcel dapat memperkaya pemahaman kita mengenai siapa diri kita dan siapa sesama kita.

Tiga Kondisi

Jika kedua tafsir di atas benar adanya, bahwa kematian Angeline berhubungan dengan kegagalan masyarakat melindungi anak-anak serta dorongan hasrat pembunuh dari dalam diri karena keinginan untuk memperkaya diri, maka harus dikatakan bahwa relasi yang dibangun dengan orang lain pun telah mengalami kegagalan. Supaya orang lain tidak dipahami sebagai objek yang harus dikuasai dan ditaklukkan, Gabriel Marcel mengajukan tiga kondisi penting, yakni cara memahami orang lain, cara memahami diri, dan “kita” sebagai titik temu antara orang lain dan saya.

Pertama, bocah Angeline sudah hidup bersama dengan orangtua angkatnya selama delapan tahun. Dalam perspektif Marcel, bisa saja terjadi bahwa Angeline di mata ibu angkat dan saudara-saudara tirinya dilihat sebagai “orang lain”, “orang asing”, “orang yang ada di jalan”, “bukan siapa-siapa”. Ada jarak yang terbentang antara Angeline yang pohon biologis berbeda dengan orangtua angkat dan saudara-saudara tirinya. Dia ada dalam rumah, hidup di antara mereka tetapi tidak pernah bersama mereka. Dia menghabiskan waktu dalam kesendirian meskipun secara fisik berada di dekat mereka. Orangtua angkat dan saudara-saudara tiri gagal memahami Angeline sebagai “seseorang seperti saya”, “sesama”, yakni orang yang sama seperti saya, yang memiliki martabat, identitas, dan harga diri yang tak pernah bisa tergantikan. Delapan tahun dilewatkan dalam sebuah kehidupan bersama yang palsu karena tanpa “kebersamaan”.

Kedua, jika seseorang memahami dirinya sebagai subjek yang bermartabat, seharusnya seperti itu pula dia memahami orang lain. Martabat dirinya terletak pada pemosisian dirinya sebagai subjek yang bermartabat. Sebagai subjek bermartabat, dirinya memiliki tidak hanya nalar – yang sanggup mengobjekkan orang lain – tetapi juga perasaan yang mampu menjalin persekutuan (la communion) dengan orang lain. Dalam arti itu, tampaknya tidak ada cukup perasaan yang terbangun selama delapan tahun kehidupan Angeline bersama orangtua angkatnya, selain kesadaran objektif bahwa bocah itu telah menjadi penghalang bagi kebahagiaan keluarga sepeninggal almarhum ayah angkatnya.

Ketiga, pemosisian Angeline sebagai orang asing dan kehidupan bersama tanpa persekutuan pada akhirnya gagal membentuk sebuah kehidupan bersama sebagai “kita” (toi). Angeline selamanya bukan siapa-siapa bagi keluarga angkatnya. Tidak ada relasi intersubjektif, tidak ada persekutuan, tidak ada hubungan ke-kita-an. Dalam perspektif Marcel, kehidupan bersama sebagai “kita” seharusnya membentuk persekutuan antarpribadi, di mana sesama adalah “dia yang saya cintai (celui qui j’aime) dan dia yang menjadi harapan bagi saya (celui en qui j’espère). Angeline jelas bukan sosok yang dicintai. Bocah kecil nan malang itu ternyata tidak menjadi harapan bagi keluarga angkatnya.

Cinta yang Gagal Bertunas

Absennya tiga kondisi dalam kehidupan Angeline dan orangtua angkatnya sebenarnya juga menunjukkan fakta lain seputar kegagalan cinta antarmereka. Kita asumsikan bahwa Angeline diadopsi atas dasar cinta atau sekurang-kurangnya perasaan suka. Tetapi perasaan suka itu tidak sempat bertumbuh menjadi cinta orangtua angkat kepada anaknya. Apa faktor penyebabnya?

Cinta dan keputusan untuk mencintai seseorang pertama-tama adalah keputusan bebas. Keputusan itu diambil setelah seseorang bertemu dengan orang lain secara pribadi. Pertemuan itu menghasilkan sebuah pengalaman kehadiran bersama (co-prèsence) yang pada gilirannya mampu menumbuhkan persekutuan (communion). Dalam perspektif Marcel, cinta bertumbuh dari sebuah pengalaman perjumpaan ketika orang lain membuka dirinya dan memanggil aku untuk mencintainya. Cinta itu bertumbuh bukan karena dia memiliki banyak hal yang menarik, tetapi karena dia adalah dia (1927: 217).

Sulit menerapkan kondisi cinta sejati yang diusulkan Gabriel Marcel ini dalam memahami cinta antara Angeline dan orangtua angkatnya. Pengalaman perjumpaan antarmereka sepertinya tidak berhasil membuahkan pengalaman kehadiran bersama, apalagi sebuah persekutuan. Delapan tahun hidup Angeline adalah sebuah pengalaman yang melelahkan dan mengasingkan, ketika kehadirannya tidak sanggup menghimbau, mengetuk hati dan memanggil untuk dikasihi. Entah karena apa orangtua angkatnya memelihara hati yang keras dan tak-tersentuh oleh kelembutan dan ketakberdosaan seorang bocah kecil. Dan jika benar bahwa perkara warisan menjadi faktor pemicunya, harus dikatakan bahwa kerakusan dan ketamakanlah yang membutakan mata kasih dan membekukan hati cinta.

Soal kerakusan dan ketamakan, Erich Fromm (1900 – 1980), seorang psikoanalis dan filsuf sosial pernah mengatakan, Greed is a bottomless pit which exhausts the person in an endless effort to satisfy the need without ever reaching satisfaction.” Kematian Angeline dan “keberhasilan” mendapatkan apa yang diinginkan tidak akan pernah memuaskan dahaga tamak, rakus, dan nafsu penumpukkan kekayaan. Di situlah nafsu destruktif akan mengejawantah menjadi dewa bengis “thanatos” alias pencabut nyawa tak-berperikemanusiaan dan siap mengorbankan orang-orang yang tak-berdosa.

Alih-alih cinta merekah dalam hidup Angeline. Cinta bahkan tak pernah mampir. Dan bocah kecil itu pun menghadap Sang Khaliknya dalam kehampaan cinta.[]

Artikel ini pernah diterbitkan di Harian Suara Pembaruan, 27 Juni 2015