Menjaga Lidah

holdyourtonguesculptureslrgKetika ruang publik kita terlalu ribut dan gaduh, saya teringat satu kajian yang pernah saya tulis dalam buku saya (Wacana Tubuh dan Kedokteran, 2013). Ketika membahas pandangan Yunani Kuno mengenai tubuh, saya menemukan bahwa para pematung dari negeri para dewa ini di zaman klasik (480–323) selalu menghasilkan patung dalam kebebasannya, tampil ekspresif sebagai makhluk penikmat kebebasan, dinamisme, dan independensi. Ini nampak dalam patung discoblos, misalnya. Meskipun begitu, sebetulnya ada dua ekspresi patung yang dihasilkan para seniman zaman ini, yakni patung yang sangat ekspresif dan patung yang kurang ekspresif alias cool. Menurut sejarawan, patung yang cool melambangkan orang Yunani yang beradab, menjaga diri dan kelakuannya, tidak mengumbar kata, tidak berisik, dan memperhatikan keseimbangan dirinya. Patung tipe ini menggambarkan kelompok orang yang BERADAB.

Sebaliknya, patung-patung yang terlalu ekspresif justru menggambarkan kelompok orang yang tidak berhasil menjaga sikapnya, yang tidak mendalam dengan dirinya, yang berusaha mencari dukungan dan pembuktian dirinya dari orang-orang di luar dirinya, yang belum selesai dengan dirinya. Para pematung menghasilkan patung ini sebagai representasi dari kelompok orang yang TIDAK BERADAB (Jena, 2013: 17-18).

Apa yang kita temukan dalam tradisi dan kebudayaan ini bukanlah hal yang baru sama sekali. Ungkapan lama mengatakan, “Jagalah mulutmu!” (hold up your tongue). Surat Rasul Yakobus dari Kitab Sucinya orang Katolik, terutama pada bab 3:5-6 ditulis demikian: Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

Ya, lidah memang ibarat api yang dapat membakar dan menghancurkan apa saja, termasuk diri kita sendiri. Seseorang bisa dengan mudah mencercah dan mencaci maki orang lain, menunjuk tangan sambil mengatakan orang itu salah, meneriaki orang sebagai kafir, menghina orang sebagai kurang beriman, dan seterusnya.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa orang seperti ini termasuk kelompok yang TIDAK BERADAB sebagaimana terjadi dalam zaman klasik di Yunani Kuno. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa adalah penting untuk menjaga tutur, memelihara kata. Ketika seseorang menjaga tuturnya dengan tampil cool dan tidak mengumbar kata, dia sebetulnya sedang mengambil jarak dengan dirinya. Dan dengan mengambil jarak dengan dirinya, dia mampu melihat segala kekurangan dan kelebihannya. Hanya dengan cara ini seseorang belajar untuk menjadi rendah hati (humble), bahwa dirinya tidak lebih sempurna dari orang lain, apalagi mengatasnamakan Allah yang maha sempurna.

Ada satu tradisi rohani Benediktin yang terus dijaga dan dirawat oleh para rahib Benediktin di seluruh dunia. Tradisi itu mereka sebut sebagai “menjaga dan merawat lidah sendiri”. Bagaimana caranya? Setiap pagi, pada jam silentium, atau di ruang makan, setiap rahib berusaha menaruh perhatian pada apa yang mereka katakan. Bagi mereka, setiap orang boleh mengungkapkan pikirannya, bahkan mengekspresikan kemarahannya. Tetapi itu dilakukan dengan kesadaran penuh, bahwa kata-kata yang kasar berpotensi melukai dan memecah-belah.

Mereka yang mempraktikkan hal ini pertama-tama akan menemukan betapa sulitnya mengendalikan diri untuk mengatakan keburukan orang, mencaci maki dan menghina orang lain. Juga bahkan ketika orang tersebut berada seorang diri dengan dirinya. Tetapi dengan latihan yang terus-menerus – dan dengan bantuan Tuhan karena ini konteksnya adalah latihan rohani – orang akan mampu menjaga lidahnya.

Di sinilah saya teringat kata-kata bijak ini: “Jika tidak ada sesuatu yang ingin kamu katakan, janganlah mengatakan apa-apa!” Ya, andaikan saja semua orang di Republik ini bisa menjaga lidahnya dengan baik.

 

 

Apa Agamanya Mark Zuckerberg?

mark-zuckerberg-n-paus-fransiskus-1Mark Zuckerberg, pendiri dan pemilik Facebook dan salah satu orang super kaya di dunia saay ini lama dikenal sebagai seorang ateis – meskipun dia sendiri menolak predikat ini. Tetapi di akhir bulan Desember 2016, terutama di hari raya Natal – perayaan keagamaan Kristen yang di Indonesia dituduh sebagian orang sebagai perayaan orang kafir – suami Priscilla Chan itu membuat kehebohan. Pasalnya Mark menulis statusnya di facebook yang memberi kesan bahwa dia juga merayakan hari Natal. Tulis Mark, ““Merry Christmas and Happy Hanukkah from Priscilla, Max, Beast and me!” Zuckerberg wrote, referring to his wife, their daughter, Maxima, and their pet dog. “Seeing the moments of joy and family shared on Facebook today is one of my favorite things about our community. I hope you’re surrounded by friends and loved ones, and that you have a chance to reflect on all the meaningful things in your life. May the light of your friendships continue to brighten your life and our entire world.”

Dalam waktu teramat singkat, postingan ini memicu ribuan tanggapan. Salah seorang penanggap awal dari sekitar 27.000 komen menanyakan hal sensitif ini kepada Mark, “Bukankah Anda seorang ateis?” Mark langsung membalas pertanyaan ini dengan sebuah jawaban yang sangat meyakinkan, “Bukan. Saya dibesarkan sebagai seorang Yahudi dan kemudian saya melalui masa di mana saya mempertanyakan segala hal, tetapi sekarnag saya percaya bahwa agama itu sesuatu yang penting.” Jawaban ini langsung disukai (“likes”) oleh lebih dari 7.100 orang.

Dua hal langsung menjadi viral dan memicu perbincangan luas di dunia maya. Pertama, pengakuan Mark Zuckerberg bahwa dirinya bukan seorang ateis. Dia lebih suka digambarkan sebagai orang yang terlahir dalam sebuah tradisi agama tertendu dan kemudian mempertanyakan tradisi dan ajaran agama tersebut. Kedua, Mark berkeyakinan bahwa agama itu sesuatu yang penting.

Terus Mencari Makna

Tentang hal yang pertama, kita bisa menelusurinya melalui upaya dia mencari dan menemukan apa yang dirindukan hatinya dalam berbagai tradisi keagamaan. Salah satunya adalah tradisi dan filsafat Budha. Mark menunjukkan ketertarikannya pada tradisi dan ajaran agama Budha ketika di tahun 2015 dia mengunjungi Xi’an (China), dan di sana dia berdoa di depan Pagoda Wild Goose. Ketika itu Mark menulis dalam sebuah postingan plus foto dia sedang berlutut di depan pagoda itu, katanya, “Priscilla (istrinya) adalah seorang Buddhis dan dia meminta saya memanjatkan doa juga buat dia,” Lebih lanjut, tulis Mark, “Buddhisme adalah sebuah agama dan filsafat yang luar biasa (amazing religion), dan saya telah mempelajari lebih banyak hal mengenainya dalam waktu yang lama. Saya berharap untuk terus mendalaminya secara lebih mendalam.”

mark-zuckerberg-n-paus-fransiskus-2Mark Zukerberg ternyata tidak hanya tertarik pada agama dan filsafat Buddha. Dia juga menunjukkan ketertarikannya pada Wisdom 2.0 ketika pada tahun 2010 dia menghadiri salah satu konferensi yang diselenggarakan oleh kelompok itu. Yang waktu itu memang didedikasikan untuk membantu orang supaya bisa “living mindfully in the digital age.” Wisdom 2.0 sebenarnya bukanlah sebuah agama. Ia adalah kelompok atau semacam gerakan yang secara praktis, pragmatis dan kreatif berusaha mengaplikasikan pemikiran dan insight dari tradisi lampau (kuno) supaya bisa digunakan untuk menghadapi kemajuan teknologi yang dihadapi sehari-hari. Yang menarik, setelah konferensi ini, Mark mengundang beberapa akademisi dari Yale dan Stanford untuk mengajarkan kepada perusahaannya tentang konsep dan pemikiran Buddhis mengenai bela-rasa (compassion).

Sebagai orang yang hidup dan dibesarkan dalam masyarakat AS yang mayoritas Kristen, Mark juga memperlihatkan keterbukaannya kepada agama itu. Salah satu peristiwa yang paling menonjol dan paling luas peliputannya oleh media massa adalah ketika Mark Zuckerberg dan istrinya Priscilla Chan berziarah ke Vatikan dan beraudensi khusus dengan Paus Fransiskus pada tanggal 29 Agustus 2016. Tampak Mark sangat terkesan dengan pertemuan ini, dan ini tampak jelas dari kata-kata yang diungkapkannya. Melalui facebook, Mark melukiskan pengalaman perjumpaan dengan Paus Fransiskus demikian, “Anda bisa merasakan kehangatan dan kelembuan Paus, dan betapa mendalam kepeduliannya pada upaya menolong orang lain.” Lebih lanjut, Mark menulis, “Kami memberitahu Beliau betapa kami sungguh mengagumi pesan-pesan belaskasih dan kelembutan yang Beliau sampaikan,

Agama itu Penting

Aspek kedua yang juga memicu reaksi khalayak adalah ketika dia mengatakan bahwa agama itu sesuatu yang penting. Sepenting apakah itu? Sebenarnya dari pencariannya dalam agama Buddha, Wisdom 2.0 dan Kristen, kita bisa merasakan sebuah kegundahan dan pencarian makna hidup yang dihadapi Mark. Dia adalah seorang penggiat teknologi (informasi), dan tampaknya dia merasa bahwa teknologi dengan seluruh kecanggihannya dapat mengasingkan manusia. Manusia bisa kehilangan kesejatian dirinya dalam teknologi. Dari perjumpaannya dengan komunitas wisdom 2.0 kita dapat merasakan hal ini.

Tetapi di balik semuanya itu, tampaknya Mark Zukerberg meyakini bahwa teknologi, terutama teknologi komunikasi harus bisa digunakan untuk menyebarkan pesan damai, pesan bela-rasa, dan mendorong orang miskin untuk keluar dari kemiskinannya. Ini bisa kita telusuri dari upaya dia memosisikan ajaran agama Buddha, terutama ajaran mengenai bela-rasa (compassion) sebagai aspek yang penting dan nilai yang dapat diaplikasikan dalam perusahaannya. Mark mempraktikkan sendiri ajaran ini. Ketika putri mereka lahir, Mark dan istrinya mendonasikan 99 persen dari bursa facebook mereka (sekitar $45 milyar atau setara dengan Rp.585 triliun dengan kurs $1 = Rp.13.000) untuk kepentingan kemanusiaan.

Hal yang sama juga yang dilakukan Mark Zuckerberg ketika bertemu dengan Paus Fransiskus. Dia tidak sekadar mengagumi pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia itu, juga tidak sekadar mengagumi ajaran-ajarannya, tetapi lebih pada ajarannya mengenai bela-rasa, mengenai kemurahan hati, pengampunan, serta kepedulian dan komitmen Beliau dalam menolong orang miskin. Itulah sebabnya mengapa Mark membantu Vatican dengan teknologi komunikasinya supaya pesan-pesan moral dan upaya menolong orang lain bisa menjangkau lebih banyak orang lagi.

Belajar dari Mark Zuckerberg

Pada akhirnya mungkin pertanyaan apa agamanya Mark Zuckerberg tidak terlampau penting. Yang terpenting adalah bahwa agama pada akhirnya adalah sebuah pencarian pribadi kaena didorong oleh semacam keinginan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya eksistensial. Saya teringat kata-kata Alfred North Whitehead yang mengatakan bahwa agama itu sesuatu [keyakinan] yang dilakukan orang dalam kesendiriannya (solitariness). Aspek ini tidak bisa dianggap sepeleh. Agama haruslah merupakan pencarian dan jawaban personal tiap orang kepada Allah yang menyapa.

Jadi, kalau pun nanti Mark Zuckerberg memilih menjadi pengikut Buddha atau dibaptis dalam Gereja Katolik – atau mungkin menjadi seorang Muslim – yang terpenting yang kita pelajari dari dia adalah bahwa itu sebuah keputusan pribadi, dan bahwa di dalam agama tersebut dia merasa mendapat jawaban atas berbagai pertanyaannya.

godsnotdead1-e1459367387814Kedua, pencarian kehendak Allah itu dilakukan dengan sikap membuka diri dan membiarkan diri dipenuhi rasa kagum. Ini yang agak susah dimiliki oleh orang-orang modern yang pikirannya sudah dipenuhi oleh kalkulasi teknis dan cara berpikir ilmiah dengan logikanya yang “anti” metafisika. Sika keterbukaan dan rasa kagum itu dibutuhkan supaya seseorang bisa bertemu dan merasakan kehadiran Allah dalam hal-hal yang sederhana, supaya bisa merasakan getaran cinta dan ketulisan hati dari orang-orang yang dijumpai, supaya bisa merasakan kekecilan diri di tengah alam semesta nan luas, dan sebagainya. Dan itu tidak gampang dilakukan.

Ketiga, bagaimana pun, kita mesti sepakat dengan Mark Zuckerberg, bahwa agama harus mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Kita dipanggil atau disapa Tuhan, membuka diri dan hidup kita dalam komunikasi yang intens dengan-Nya bukan pertama-tama untuk menikmati pengalaman rohani seorang diri. Setelah mengalami kedekatan dengan Allah, setiap orang beragama “diutus” untuk menebarkan kebaikan bagi orang lain. Setiap orang beragama disuruh pergi mewartakan kebaikan hati Allah yang mencintai manusia tak ada habisnya. Setiap orang beragama diminta menjadi orang yang mengubah dunia menjadi lebih baik. Beragama, dengan begitu, adalah sebuah karya nyata membangun dunia menjadi lebih baik.

Terima kasih, Mark Zuckerberg. Engkau memberi pelajaran teramat berharga bagi kami yang sudah lama beragama tetapi yang mungkin lebih banyak beragama secara dangkal. Semoga kami juga bisa menemukan Allah dalam pengalaman pribadi kami. Dan semoga kami juga semakin bisa berkomitmen memajukan kemanusiaan.

Keledai yang Tak Pernah Menyerah

keledai-terjatuh-ke-sumurAda seekor keledai tua. Suatu hari tanpa sengaja ia jatuh ke sebuah sumur tua milik seorang petani. Menyadari hal ini, petani pun mulai memutar otak memikirkan “nasib” keledai ini. Berbagai pertimbangan pun segera diambil, dan petani sampai pada sebuah keputusan, bahwa baik keledai maupun sumur itu sendiri tidak bisa diselamatkan. Petani kemudian memutuskan untuk mengangkut tanah dan menutupi sumur itu bersama si keledai malang itu.

Si petani segera memanggil tetangga-tetangganya supaya bisa membantu dia. Para tetangga yang sudah berdatangan tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan pacul dan sekop di tangan, ada yang menggali tanah dan ada yang menyekopnya dan mulailah mereka menutupi sumur itu. Sementara itu, keledai malang yang ada di dalam sumur semula tampak sangat ketakutan. Dia sadar bahwa sebentar lagi dia akan mati perlahan-lahan, tertimbun oleh tanah. Dia pun pasrah.

Tetapi begitu onggokan tanah pertama jatuh dan menimpa punggungnya, keledai mulai berpikir, apakah memang tidak ada jalan lain baginya untuk selamat dari sumur maut itu? Tiba-tiba saja muncul ide dalam pikirannya. Dia harus menggerakkan badannya setiap kali timbunan tanah mengenai punggungnya. Dengan begitu, tanah langsung jauh ke bawah kakinya dan dia mulai menginjak di atas tanah tersebut.

Meskipun beban tanah yang dijatuhkan ke atasnya semakin lama semakin berat, keledai tidak henti-hentinya menggerakkan badannya dan berdiri di atas tanah yang jatuh dari punggungnya itu. Begitu seterusnya sampai dia perlahan-lahan mulai melihat cahaya matahari yang mulai menembusi sumur. Tidak disangka, si keledai perlahan-lahan tampak di permukaan tanah. Dia kini bisa melangkah keluar dari sumur berkat goyangan badannya yang mengempaskan tanah dari punggungnya ke bawah dan berkat pijakan kakinya pada tanah yang jatuh dari punggungnya tersebut.

Keledai tampak menghadapi takdirnya dengan tenang. Dengan ide kreatifnya, keledai bisa menyelamatkan dirinya dari takdir dan kematiannya. Keledailah yang menjadi pemenang dalam tragedi kejatuhannya sendiri.

Apa yang tampaknya telah menguburkan dan mematikannya, justru sekarang menyelamatkan dirinya. Di tengah keputusanasaan dan keadaan tak berpengharapan, keledai justru mendapatkan kembali rasa percaya dirinya. Itu juga karena usahanya yang tak mengenal kata menyerah.

RESOLUSI TAHUN BARU 2017

Wajib dibaca sebelum pergantian tahun 2016/2017

new-years-resolutions1
Resolusi Tahun Baru. Sumber: http://www.yakoutlaws.com/new-years-resolution/

Hampir bisa dipastikan, setiap orang membuat resolusi tahun baru. Per definisi, resolusi artinya “sebuah keputusan yang kuat/teguh untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu”. Keputusan atau lebih tepatnya ketetapan hati dapat dilakukan karena seseorang merefleksikan kehidupan/pengalamannya, mengambil jarak atas segala yang sudah dilakukan (dialaminya) untuk melihat manakah hal-hal yang sudah dilakukannya, dan manakah hal-hal yang gagal dilakukannya. Dalam proses refleksi itu, seseorang berpatokan pada (1) prinsip/cita-cita hidup, proyek hidup pribadi; atau (2) apa yang telah disepakati sebagai cita-cita hidup bersama (pada tingkat keluarga, kelompok kecil/komunitas, masyarakat, maupun negara). Itu artinya, dalam olah refleksi itu, seseorang mengevaluasi diri dan tindakan-tindakannya berdasarkan nilai dan cita-cita hidup individual maupun nilai dan cita-cita hidup masyarakat.

Terhadap hal yang telah dilakukan, orang pertama-tama mengucap syukur atasnya. Itulah pencapaian yang patut dibanggakan dan disyukuri. Itulah prestasi yang menunjukkan level kemampuan seseorang dalam mengola hidupnya. Terhadap prestasi atau pencapaian itu, orang juga berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkannya di tahun baru nanti. DI situ ada komitmen sekaligus janji kepada diri sendiri, bahwa hal yang baik yang sudah dilakukan akan lebih ditingkatkan lagi. Sebaliknya, terhadap hal atau proyek yang gagal dilakukan, orang tentu melihatnya sebagai kegagalan. Sikap penyesalan menyertai kegagalan tersebut, tetapi sekaligus tekad (komitmen) dan janji pada diri sendiri untuk tidak melakukan hal yang buruk dan melakukan hal yang gagal dilakukan. Ada rencana dan komitmen untuk melakukan hal yang gagal dilakukan tersebut.

Pentingnya Resolusi

Tidak bisa dipastikan berapa banyak orang yang melakukan refleksi atas hidupnya dan menentukan resolusi apa yang akan dilakukannya di tahun baru. Pertanyaan tentang jumlah itu bagi saya tidaklah penting. Kalaupun hanya satu yang melakukan refleksi diri dan menentukan resolusi di tahun baru, pertanyaan yang paling penting dan relevan bagi saya adalah apa manfaatnya? Refleksi atas hidup dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan. Itu dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan hal positif yang sudah dicapai dan memperbaiki diri atas berbagai kegagalan di tahun sebelumnya.

Sebuah studi di Australia (https://www.finder.com.au/press-release-new-year-resolutions-2014) menunjukkan bahwa sekitar 35 persen orang menetapkan resolusi tahun baru secara kurang realistis, karena itu mereka gagal merealisasikan resolusi tersebut. Sementara ada sekitar 33 persen yang menentukan resolusinya secara realistis/tepat dan berada di jalur yang benar untuk merealisasikannya. Sebanyak 23 persen lainnya justru lupa bahwa mereka telah menentukan resolusi tertentu. Sisanya tidak pernah membuat resolusi tahun baru.

Sebuah studi lain mengenai resolusi tahun baru juga dilakukan oleh Richard Wiseman dari University of Bristol/Inggris (http://online.wsj.com/article/SB10001424052748703478704574612052322122442.html).  Studi yang melibatkan tiga ribu responden itu menunjukkan bahwa 88 persen orang yang telah menetapkan resolusi tahun baru justru gagal merealisasikan resolusi tersebut, meskipun 53 persen dari mereka merasa begitu yakin akan mampu merealisasikannya. Meskipun begitu, menarik untuk dicatat, bahwa sebanyak 22 persen laki-laki mengatakan bahwa mereka mampu merealisasikan resolusinya jika resolusi tersebut berisi tujuan-tujuan yang dapat diukur. Dalam hal resolusi mengurangi berat badan, misalnya, laki-laki akan dengan mudah merealisasikan resolusi “satu ons berkurang berat badan dalam sehari” atau “satu kilogram berkurang berat badan dalam seminggu”, daripada resolusi yang lebih umum seperti “mengurangi berat badan”. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa sebanyak 10 persen perempuan mengakui bahwa mereka akan mampu merealisasikan resolusinya jika resolusi tersebut ditentukan dan kemudian dinyatakan secara publik (orang lain mengetahuinya) dan ketika teman-temannya mendukung resolusi tersebut.

Empat Pelajaran

Ada empat pelajaran yang dapat kita petik di sini. Pertama, temuan di Australia menegaskan bahwa masyarakat umumnya (lebih dari 90 persen) membuat resolusi tahun baru. Dengan begitu, kalau kita kemudian membuat sebuah resolusi untuk tahun 2017, apa yang kita lakukan itu juga menjadi bagian dari praktik yang umum dilakukan masyarakat di dunia.

Kedua, kita juga belajar bahwa resolusi yang telah kita tetapkan seharusnya merupakan resolusi yang realistis supaya mudah direalisasikan. Di sini kita ingat kata-kata bijak orangtua atau orang yang telah banyak makan asam garam dalam hidup, bahwa boleh bercita-cita tinggi tetapi jangan melupakan pijakan kita sendiri. Artinya, kita sebaiknya mencanangkan suatu cita-cita atau rencana yang memang mudah kita realisasikan. Yang jelas, bercita-cita menjadi Presiden RI tahun 2021 dapat menjadi cita-cita yang menarik tetapi kurang realistis.

Ketiga,  setiap orang yang telah menentukan resolusinya di tahun 2017 harus selalu menaruh perhatian (attention) pada apa yang telah diputuskannya. Ini dilakukan supaya resolusi tersebut terus diingat.Di sini kita mengerti mengapa ada banyak orang yang menuliskan resolusi tahun barunya di sepotong kertas dan menempelkannya di atas meja kerjanya, di dinding kamar tidurnya, di layar handphonenya, dan sebagainya. Di sini juga kita mengerti mengapa resolusi tersebut sebaiknya juga diketahui orang lain, paling tidak orang yang ada di dekat kita, entah keluarga sendiri atau pun teman-teman. Dalam konteks negara, resolusi itu dipublikasikan supaya menjadi semacam kontrol publik bagi perealisasiannya.

Keempat, sebagai makhluk religius (orang dengan agama dan keyakinan tertentu), baik juga kalau mengikutsertakan Tuhan dalam resolusi tersebut. Kita semua adalah manusia yang rapuh dan lemah. Kita butuh bimbingan Tuhan. Karena itu, baik juga kalau setiap hari atau setiap saat kita bisa merefleksikan kembali resolusi yang sudah diambil, mengevaluasi sejauh mana resolusi tersebut sudah dijalankan, melihat potensi kegagalannya. Dan terhadap apa yang sudah berhasil kita lakukan, kita mengangkat pujian dan syukur kepada Allah. Ini supaya kita tidak menjadi orang yang sombong atas pencapaian kita. Terhadap hal yang belum berhasil kita wujudkan, kita pun meminta bantuan dan pertolongan Tuhan. Kita minta supaya Tuhan menguatkan kehendak (will) kita supaya bisa memiliki komitmen untuk merealisasikan apa yang sudah kita resolusikan. Kita juga minta supaya Tuhan menjauhkan segala rintangan atau halangan yang kiranya menyulitkan kita dalam merealisasikan resolusi tersebut.

Beberapa jam lagi Tahun 2016 akan berakhir dan kita siap-siap memasuki Tahun 2017. Masih ada waktu untuk merenung, berefleksi dan menentukan resolusi tahun baru Anda. Dalam melakukan aktivitas ini, baik kiranya jika Anda membaca dan menyimak apa yang sudah saya tuliskan di sini, terutama di bagian akhir tulisan ini.

Terima kasih banyak bagi pembaca setia blog saya. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang memberikan keberkahan berlimpa bagi Anda semua di Tahun 2017 nanti.

SELAMAT TAHUN BARU 2017!

PERGILAH HAI KEKASIH JIWA

15621579_10154226801497291_7822880902443770254_nAir matanya luruh, membasahi kedua pipinya yang mulai menampakkan tanda-tanda dimakan usia. Dia tidak peduli apa kata orang, juga tidak mengusik bisik sana-sini yang mengira dirinya menyenangi kepergian sang kekasih jiwa. Bagi dia, kepergian itu sekaligus meneguhkan keyakinan terdalamnya, bahwa hadirnya adalah sebuah berkat.

Maka dari itu, dengan bersemangat dia mengisahkan kembali perjumpaannya dengan kekasih jiwa. Itu tidak terjadi di bawah gemerlapnya lampu taman kota. Itu juga tidak terjadi di sepanjang gemercing air di teluk kota ini, ketika air laut mencumbu bibir pantai. Itu justru terjadi di hutan belantara, di tengah rerumputan, pepohonan dan bebatuan. Di antara gemercik air sungai, leguhan binatang buas yang kebetulan lewat. Itu terjadi ketika hati seakan menemukan tambatan hatinya, bahwa Engkau yang dia rasa mengasihi dirinya dan menginginkan baktinya pada karya AgungMu, ternyata menginginkan jalan lain yang lebih memutar. Dan dari hutan belantara dan semak belukar pula Engkau membentuk mereka, membawa mereka mengarungi kehidupan yang oleh kebanyakan orang tampaknya keras dan menyedihkan.

Sang kekasih jiwa tak meratapi nasibnya. Pengabdiannya pada dia total abadi. Cintanya tulus dan murni, semurni dirinya tak tidak pernah berpikiran kompleks. Kesetiaannya tak tertandingi, kesederhanaannya memikat bumi. Dia tak merontak ketika khianat kadang datang menghampiri. Dia menyimpan dan menyusunnya rapi dalam hatinya. Hatinya tenang bak lautan luas yang pernah mereka arungi. Jiwanya tenang teguh, sekokoh gunung gemunung yang pernah mereka daki. Imannya bahkan membakar nyali dia yang pernah merasa lebih dekat dengan Sang Khalik. Dia mematahkan bayang orang tentang gadis idaman. Meski sosoknya tak semenarik dan tak seideal gambaran kebanyakan orang, hatinya menjelma menjadi rumah yang menyatukan.

Sang kekasih jiwa tak berhenti memberinya kehidupan. Hidup mereka tidak tentang kekayaan dan kemakmuran. Mereka melukis di dinding hati tentang hidup, tentang tangis dan teriak anak-anak yang terlahir dari rahimnya yang amat bersahaja itu. Sang kekasih memberinya berjuta anak seperti janji Sang Khalik pada Abraham, bahwa anaknya akan sebanyak butir-butir pasir di lautan. Dan dia memberi itu, tanpa rasa lelah dan penyesalan. Juga bahkan ketika mereka tak tahu harus memberi apa pada mulut anak-anak itu yang teriak meminta makan.

Tetapi kekasih jiwa, engkau tak pernah gentar. Bagimu hidup hari ini cukuplah hari ini. Momen ini punya keresahannya sendiri. Meski begitu, hari esok selalu bagimu sebuah pengharapan, bahwa janji “berilah kami rezeki pada hari ini” akan selalu dipenuhi Tuhan. Itulah yang membuat dia melalui malam-malam sunyi hidupnya dalam damai. Hatinya tak terusik sekalipun akan kekurangan, karena Allah akan mencukupinya. Hidup sang kekasih dan dia lalu menjadi sungguh sebuah jalan, sebuah peziarahan menembus malam gulita. Hanya saja, berbeda dengan dia, sang kekasih jiwa selalu punya keyakinan, bahwa Allah tak pernah meninggalkan mereka.

Kekasih jiwa merintih. Tubuh biologisnya lebih cepat termakan usia.Seperti sebuah mobil tua yang dipaksa menanjaki kehidupan, dia tampak telah habis. Dia menyerah pada keterbatasan tubuh biologis ketika penyakit menghampiri. Tetapi seperti biasa, sang kekasih jiwa tidak merontak. Dia tidak menyalahkan Sang Khalik, apalagi mengutuk keputusan dia yang “mengasingkannya” ke dusun terpencil, nun jauh di sana. Tubuh biologis yang dulu perkasa, yang sanggup mengukit cinta antara pepohonan dan alir sungai, antara lautan dan gedung pencakar langit ibukota. Kini terbujur kaku. Tubuhnya merata dengan bumi. Dia tak lagi berbentuk. Dia menjadi seonggok barang yang tak akan lama lagi dilupakan.

Orang silih berganti berdiri di tepi kotak tempat dia membaringkan kekasih jiwanya. Ada yang berurai air mata, ada yang memaksa pikiran untuk mengenang momen kebersamaan. Tetapi ada yang bercanda tawa riang menghadirkan kembali kekonyolan hidup. Dan kekasih jiwa seakan menjadi saksi bisu, bahwa hidup terkadang konyol dan lucu. Tetapi kekasih jiwa tampak tenang. Ada senyum di wajahnya yang kali ini tampak sangat tua. Ada kegembiraan yang terpancar. Ada realisasi harap, bahwa kebahagiaan abadi sungguh hadir di balik keletihan dan kepenatan membangun cinta.

Hidupnya digusur, tetapi cintanya abadi. Dia melalui semuanya dalam diam. Tak ada tanda pemberontakan yang menjadi jejak orang menelusuri sandiwara cintanya. Hidupnya lurus, cintanya abadi. Dan dalam mencintai, hatinya tak pernah berbelok. Jasadnya boleh terbujur kaku, hidupnya nyaris gambara sebuah cinta. Maka ketika dia berkisah soal kasih yang terbangun lama sekali, tubuh yang terbujur itu hanya bisa kaku tanpa tawa. Tetapi gambaran cintanya tidak pernah dan tidak akan sanggup dilukiskan, juga oleh tutur puitis si belahan jiwanya.

Sang kekasih jiwa pun siap menyelesaikan ziarah hidupnya. Wujudnya terbaring kaku, tetapi jiwanya telah siap mengarungi sebuah ziarah baru. Dan kali ini jauh lebih membahagiakan. Tidak akan ada lagi pepohonan dan hutan belantara yang dilalui. Tidak akan ada lagi lautan yang bergejolak karena terpaan gelombang. Tidak ada lagi teriakan dan suara berisik penghuni gedung-gedung pencakar langit. Tidak ada lagi rasa kesal mendengar cerita orang tentang kenakalan sang belahan jiwa.

Kekasih jiwa dilepas pergi. Ya, kekasih jiwa kini telah pergi. Namun cintanya abadi. Hadirnya terpateri. Jejak kasih sayangnya mudah dilacak. Dia hadir dalam kerendahan hati dan ketulusan mengarungi hidup. Pun ketika gelombang lautan kehidupan jauh lebih kencang dari indahnya cinta. Pun ketika dongeng cinta para bidadari tidak pernah mampir dalam biduk rumah tangga mereka.

Pergilah kau, kekasih jiwa. Dia memang lebih mengasihi engkau daripada sang belahan jiwa. Songsonglah hidupmu yang terbebaskan dari belenggu nestapa kefanaan itu. Sambutlah dia dalam senyuman surgawi.[]

Mendidik Cara Don Bosco

azrou_center_morocco_m“Susternya jarang ditemui, jarang kelihatan,” demikian pengakuan seorang siswa yang sedang menuntut ilmu di sebuah lembaga pendidikan yang dikelola para biarawati. Untuk pembaca yang non-Katolik, “biarawati” digunakan untuk menyebut sekelompok perempuan yang mempersembahkan hidupnya secara utuh dalam pelayanan kepada Gereja Katolik dengan mengikrarkan kaul (sumpah suci) untuk hidup dalam komunitas religius dalam semangat ketaatan, kemurnian, dan kemiskinan. Para biarawati ini sehari-hari dikenal sebagai “para suster”. Mereka menghidupi semangat atau spiritualitas pelayanan tertentu yang biasanya telah diletakkan dasarnya oleh pendiri mereka dan yang kemudian disetujui oleh pimpinan Gereja Katolik di Vatican. Salah satu bidang karya para biarawati ini adalah menyelenggarakan pendidikan Katolik.

Kembali ke pernyataan sang siswa tadi: para suster susah ditemui, mereka jarang kelihatan. Ketika saya bertanya lebih lanjut, siswa tersebut mengatakan bahwa para suster memang tidak berbaur dengan para siswa. Bahkan ketika istirahat pun mereka (maksudnya para suster) jarang kelihatan. Jika begitu, siapakah sebenarnya yang menyelenggarakan sekolah tersebut? Apakah kaum awam alias para guru yang non-biarawati tersebut? Dalam sekolah semacam ini tidak jarang kita melihat peran guru-guru awam yang sangat dominan, termasuk juga dalam penegakkan disiplin. Karena itu, bukan hal yang aneh jika ada siswa yang berpendapat bahwa guru (awam) sepertinya lebih “galak” dari para biarawati.

Keadaan semacam ini bisa dibaca secara positif, tetapi bisa juga negatif. Secara positif dapat dikatakan bahwa minimnya keterlibatan para biarawati di antara para siswa merupakan cara yang baik untuk mendorong peran aktif para guru awam. Karena para biarawati umumnya sudah menduduki posisi-posisi kunci seperti Kepala Sekolah, maka “guru awam” diberi kepercayaan lebih untuk mengatur jalannya sekolah. Meskipun begitu, minimnya kehadiran para suster di antara siswa dapat dilihat sebagai hal yang negatif, dan inilah yang ingin saya soroti di sini.

Saya teringat, ketika pertama kali menjadi guru di tahun 1989. Waktu itu saya baru lulus SMA dan sedang bersiap menapaki jalan panggilan imamat. Karena saya memutuskan bergabung dengan para imam Salesian yang bidang karya utamanya adalah pendidikan, saya dan rekan-rekan ditugaskan untuk tinggal sebagai calon novis di salah satu komunitas pendidikan para imam Salesian. Saya diutus bersama seorang rekan dari Timor Leste untuk tinggal di salah satu komunitas di ujung Pulau Timor yang menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMK. Demikianlah, tahun 1989 – seusai menyelesaikan SMA – saya langsung terjun menjadi guru SMP.

Guru di sekolah-sekolah yang dikelola para imam Salesian memiliki semangat pelayanan yang berbeda. Mereka harus menjadi guru sebagaimana yang dikehendaki Santo Yohanes Bosco, seorang pendidik dan rasul kaum muda. Salah satu praktik yang sangat ditekankan pada waktu itu adalah bahwa pada jam istirahat para guru tidak boleh ada di kantor. Mereka harus berada di halaman sekolah, di gang, di kantin, dan di sudut-sudut sekolah di mana para siswa bisa ditemui. Di situ para guru harus berinteraksi dengan para siswa,berdialog dengan mereka. Para guru harus memosisikan diri mereka di tengah para siswa bukan sebagai polisi tetapi sebagai asisten.

Don Bosco menggunakan istilah asisten. Per definisi, kata “asisten” diartikan sebagai orang atau pribadi yang hadir untuk membantu/menolong. Demikianlah, kata “asisten” bersinonim dengan kata-kata seperti “pembantu” (helper), “yang hadir dan membantu” (attendent), “penolong” (auxilliary), dan sebagainya. Guru sebagai asisten yang hadir di antara siswa adalah sahabat yang memosisikan dirinya tidak lebih tinggi dari orang lain. Dia hadir “di samping” atau “di sisi” siswa dalam artinya yang sesungguhnya.

Salesian Father Savio Rai entertains students at the government-run school in at Chaughare, Nepal, July 9. A magnitude 7.8 earthquake April 25 destroyed more than 25,000 classrooms in nearly 8,000 schools. (CNS photo/Anto Akkara) See NEPAL-SCHOOLS July 21, 2015.
Salesian Father Savio Rai entertains students at the government-run school in at Chaughare, Nepal, July 9. A magnitude 7.8 earthquake April 25 destroyed more than 25,000 classrooms in nearly 8,000 schools. (CNS photo/Anto Akkara) See NEPAL-SCHOOLS July 21, 2015.

Mengapa Don Bosco mau supaya para gurunya menjadi asisten dan hadir di antara para siswa? Pertama, spiritualitas pendidikan Don Bosco adalah “menyelamatkan jiwa-jiwa”. Don Bosco selalu mengatakan, “Berikan kepadaku hanya jiwa-jiwa dan ambillah yang lainnya daripadaku” (da mihi animas caetera tolle). Dalam arti itu, kehadiran para guru di antara siswa adalah kesempatan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Don Bosco tidak ingin satu detik pun tidak diisi dengan hal-hal baik yang menguduskan. Dia tidak ingin memberi kesempatan kepada setan untuk menggoda dan membawa siswanya kepada pencobaan. Kehadiran guru-guru di antara siswa dimaksud sebagai “cara” untuk mencegah para siswa jatuh ke dalam pencobaan semacam itu. Don Bosco selalu mengatakan kepada para gurunya, “Biarkan anak-anak bermain, loncat, berteriak, berlari ke sana kemari, yang penting tidak jatuh ke dalam pencobaan dan dosa” (“Run, jump, have all the fun you want at the right time, but, for heaven’s sake, do not commit sin!”).

Kedua, pendidikan Katolik sebagaimana yang ditanamkan para Salesian dalam semangat menyelamatkan jiwa-jiwa tersebut juga harus dibaca dalam konteks pembinaan pribadi siswa dalam keutuhannya. Dalam konteks pendidikan modern, pendidikan dalam keutuhan adalah proyek pendidikan karakter yang mengincar pembentukan pribadi yang utuh, intelektual dan rohani, jiwa dan raga. Dan itu hanya bisa tercapai jika setiap guru memosisikan dirinya sebagai model atau contoh. Bagi Don Bosco, kehadiran para guru di antara siswa tidak sekadar sahabat yang bersedia menolong. Kehadiran mereka harus sungguh-sungguh dirasakan sebagai kehadiran yang mengasihi. Don Bosco sangat sering mengatakan bahwa tidak cukup para guru mengatakan bahwa mereka mengasihi anak-anak. Anak-anak harus sungguh-sungguh merasakan cinta kasih tersebut.

Di sini kita berhadapan dengan sebuah spiritualitas pendidikan Salesian yang sangat biblis. Setiap karya kerasulan, termasuk karya pendidikan, adalah cara Allah menyatakan keselamatan-Nya. Menjadi guru dalam semangat ini adalah tanggapan terhadap panggilan agung untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Dan itu dilakukan pertama-tama bukan dengan mendemonstrasikan kehebatan guru dalam mengajar – hal ini juga penting. Juga bukan dalam kemegahan bangunan gedung – hal ini juga penting. De facto sekolah-sekolah Salesian ditandai oleh bangunan yang megah dan mentereng. Menjadi guru yang menyelamatkan, dalam semangat pendidikan Don Bosco, adalah kehadiran di antara para siswa untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mereka dengan cara menjadi model, menjadi sahabat, dan memancarkan kasih supaya kasih itu sungguh-sungguh dirasakan kehadirannya. Tampaknya perubahan perilaku pada diri siswa akhirnya merupakan buah dari kesadaran siswa sendiri bahwa mereka sungguh-sungguh dikasihi, bahwa ada sahabat yang kehadirannya benar-benar menunjukkan “jalan” untuk menjadi sempurna.

Kembali ke “keluhan” siswa di sebuah sekolah di atas yang menyayangkan ketidakhadiran para biarawati di antara para siswa. Mungkin saja para biarawati itu mempraktikkan spiritualitas pendidikan yang lain. Kalau pun ini betul, bagi saya, kehadiran guru di antara siswa tak akan pernah tergantikan, terutama kehadiran sebagai model atau contoh. Para siswa harus sungguh melihat kebaikan dalam diri gurunya supaya mereka bisa menirunya. Dan tampaknya hal terakhir ini yang kurang ditampakkan dalam pelayanan para biarawati tadi. Padahal kita baca dari Inil Matius 5: 16: “Biarlah terangmu juga bercahaya dengan cara yang sama supaya mereka dapat melihat perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”

Bagi saya, hanya dengan penghayatan spiritualitas menjadi guru semacam inilah seorang guru Katolik dapat menempatkan dirinya dalam keseluruhan ekonomi keselamatan Allah yang telah disediakan-Nya bagi semua orang, termasuk bagi para siswa-siswi di sekolah.

Selamat hari guru (terlambat diucapkan karena sudah jam 22:5 WIB, tanggal 25 November 2016)

Inspirasi

find-inspiration3

Sebuah harian Ibukota menurunkan berita utama hari ini, 5 Oktober 2016 dengan judul “Kasus Kopi Sianida Jadi Inspirasi Anton” (Pos Kota, 5/10/2016). Koran dan media online yang lainnya pun menurunkan berita dengan judul yang kurang lebih sama: “Anton Adopsi Ide dari Kasus Kopi Sianida Jessica” (merdeka.com, 3/10/2016),  “Astaga, Kasus Jessica Jadi Inspirasi” (medansatu.com, 5/10/2016), “Pembunuh 2 Pria di Depok Mengaku Sering Nonton Kasus Jessica” (liputan6.com, 3/10/2016), “Oala… Kasus Sianida Jessica Beri Inspirasi Pemilik Padepokan” (fajar.com, 5/10/2016), dan mungkin masih banyak lainnya.

Apakah “inspirasi” termasuk kata yang netral, jadi bisa digunakan untuk hal yang positif dan negatif? Atau, jangan-jangan “inspirasi” hanya digunakan untuk hal/tindakan yang positif saja? Jika yang terakhir ini benar, berarti penggunaan kata “inspirasi” sebagaimana disebutkan di atas pastilah keliru.

Saya terusik dengan pertanyaan ini dan mulai melakukan riset kecil untuk bisa menjawabnya. Rupanya ada orang yang pernah menanyakan hal yang sama dalam forum yahoo answer (https://uk.answers.yahoo.com/question/index?qid=20091213183052AAv6Ixy). Jawaban orang-orang dalam forum itu pun berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa inspirasi memang bisa digunakan untuk hal yang positif maupun negatif. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa inspirasi seharusnya digunakan untuk hal atau perbuatan yang positif saja.

Bagaimana kamus memaknakan kata ini dan bagaimana asal-muasal dan penggunaan awal kata ini? Kamus Merriam-Webster (http://www.merriam-webster.com/dictionary/inspire) mendefinisikan kata “inspirasi” sebagai (1) mempengaruhi, mengerakkan, memotivasi, atau membimbing. Biasanya yang menggerakkan atau membimbing adalah inspirasi yang sifatnya ilahi atau supra-natural; (2) menghembuskan nafas (kehidupan) ke dalam diri seseorang (arti kuno); (3) berkomunikasi dengan agen atau pelaku ilahi, dan sebagainya. Mungkin itulah sebabnya mengapa sinonim dari kata ini mengandung pengertian yang mendorong, memengaruhi, memotivasi, menimbulkan hasrat, dan sebagainya dari seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Sinonim dari kata “inspirasi” menurut thesaurus.com antara lain memengaruhi, mendorong, menimbulkan gairah, menyebabkan, memicu, dan sebagainya (http://www.thesaurus.com/browse/inspire).

Sampai di sini, apakah sudah dapat ditarik kesimpulan mengenai penggunaan kata “inspirasi” ini? Apakah digunakan secara positif atau negatif juga? Bagi saya, kata “inspirasi” seharusnya digunakan secara positif. Jika memperhatikan pengertian kata ini sendiri dan sinonimnya, meskipun tidak dikatakan secara eksplisit, seharusnya kita bisa merasa bahwa kata ini mengandung pengertian yang sifatnya positif. Dalam arti itu, seharusnya kita belajar atau membiarkan diri diinspirasi atau dimotivasi oleh sesuatu yang positif agar kita bisa melakukan hal-hal yang juga positif.

Menurut saya, menarik juga untuk menganalisis asal muasal kata ini untuk menggarisbawahi kesimpulan saya tersebut. Kata “inspirasi” digunakan pertama kali pada abad ke-14 (k.l. tahun 1300-an). Kata ini berasal dari Bahasa Latin inspiratus (bentuk past participle dari kata inspirare) yang arinya “menghembuskan nafas ke dalam”). Ketika diadopsi dan digunakan dalam Bahasa Inggris (abad 16), kata ini diartikan sebagai “memasukkan udara ke dalam paru-paru”. Dunia kedokteran mengenal dan menggunakan kata expiration yang artinya tindakan atau proses mengeluarkan udara dari dalam paru-paru. Konon, sebelumnya kata “inspirasi” dimaknakan secara teologis dalam kebudayaan Inggris, ketika mereka mengartikannya sebagai “pengaruh ilahi atas diri seseorang.”  Pemahaman semacam ini diterima luas dalam kebudayaan Inggris pada sekitar abad 14. Meskipun kata “inspirasi” memiliki makna dewasa ini yang telah dilucuti dari pengaruh dan muatan teologisnya, kesan positif pada kata ini tampaknya susah ditanggalkan.

Mempertimbangkan makna kata, sinonim dan asal-muasal kata “inspirasi”, saya semakin yakin bahwa kata ini sebaiknya digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang positif. Di sinilah saya setuju dengan cara R. Kay Green memaknakan kata “inspirasi” (http://www.huffingtonpost.com/r-kay-green/giving-back_b_3298691.html). Bagi dia, “inspirasi” digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana orang-orang biasa atau peristiwa-peristiwa biasa yang dilakukan atau terjadi secara luar biasa sehingga menimbulkan kekaguman atau ketakjuban tertentu. Rasa kagum dan takjub inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk belajar dari orang atau peristiwa tersebut dan kemudian melakukan tindakan-tindakan biasa dalam cara yang luar biasa pula. Karena itu, kita hanya bisa menyebut Ibu Teresa, Gandhi, Marthin Luther King, Jr, atau tokoh-tokoh tertentu sebagai “inspirator”. Sebaliknya, kita agak berkeberatan (atau setidak-tidaknya merasa aneh) jika ada yang merujuk ke Adolf Hitler, Kim Jong Un, Pol Pot, atau orang-orang semacam itu sebagai “inspirator”.

Apakah Anda juga sependapat dengan saya?

Tergelitik Tulisan Buya Syafii

tulisan buyaSaya suka membaca refleksi bernuansa teologis-filosofis-spiritualis menjelang hari raya keagamaan, terutama Natal dan Idulfitri. Natal karena sebagai penganut Katolik, saya ingin menyiapkan diri dengan pikiran dan refleksi tertentu menjelang hari raya. Tetapi juga idulfitri, karena ingin mengetahui makna terdalam dari perayaan keagamaan Islam tersebut. Demikianlah, hari ini saya membaca tulisan Buya Syafii Maarif, Said Aqil Siraj, dan Sukidi, semuanya terbit di Harian Kompas (5 Juli 2016).

Saya terutama tertarik dan langsung membaca tulisan Buya Syafii di halaman 1 dan bersambung di halaman 15. Tulisan itu diberi judul Bom dan Masa Depan Peradaban Islam. Siapa pun yang mengikuti berita pasti langsung menghubungkan konteks tulisan ini dengan dua bom menjelang Lebaran 2016, yakni bom di Turki dan Baghdad yang menewaskan ratusan orang tak berdosa. Dari situ kita juga mengerti kegundahan dan kegeraman Buya Syafii (dan siang ini juga ada berita tentang bom bunuh diri di Solo). Bahwa masa kejayaan Islam sering justru berjibaku dengan pertarungan teologi di dalam Islam sendiri. Dan bagi Syafii Maarif, itu semua berangkat dari keegoan manusia yang mengakui diri umat Islam tetapi tidak benar-benar menaati ajaran Islam. Merujuk ke keadaan yang porak poranda di Timur Tengah, Buya Syafii melihat itu sebagai ekspresi dari nasionalitas atau etnisitas sempit yang sengaja disandarkan pada pandangan teologis tertentu dalam Islam.

Analisis ini sangat baik, terutama dalam semangat Idulfitri, karena dapat mengingatkan umat seluruhnya, bahwa kemenangan spiritual seusai Ramadhan seharusnya juga nampak dalam upaya membangun peradaban yang lebih manusiawi, jika mau ya peradaban yang berlandaskan ajaran agama. Dan itu mengandaikan setiap orang, setiap pemimpin agama, dan setiap negara melepaskan egonya sendiri, mengubur terlebih dahulu kepentingan politik jangka pendek yang hanya mengahancurleburkan peradaban. Dalam arti itu, sejalan dengan judul tulisan Buya Syafii, peradaban Islam sedang dipertaruhkan.

Sampai di sini saya masih “menikmati” tulisan Buya Syafii. Tetapi ketika menyinggung rapuhnya persatuan Islam, terutama di Timur Tengah, karena setiap negara memperjuangkan nasionalitasnya sendiri, Beliau berpendapat bahwa keadaan semacam ini akan dimanfaatkan bangsa Barat untuk semakin memecah-belah Islam dan kemudian menawarkan apa yang disebutnya sebagai “iming-iming duniawi”. Saya mengutip Buya Syafii, “Musuh terbesar adalah egoisme bangsa dan etnisitas dengan jubah nasionalisme sempit. Barat amat paham fenomena pembusukan budaya ini, lalu diadu domba dengan iming-iming duniawi” (hlm. 15). Bagi saya, pernyataan seperti ini problematis, pertama karena seakan menggarisbawahi cara tafsir sekarang, bahwa Barat tidak hanya melihat Islam sebagai musuh, tetapi berusaha menghancurkannya dari dalam (memanfaatkan kerapuhan dunia Islam sendiri). Sebagai seorang guru besar, Buya Syafii tentu dapat mempertanggungjawabkan ini secara akademis. Tetapi mengingat pembaca media massa tidak memiliki pemahaman yang memadai, maka pernyataan atau kesimpulan semacam ini justru dapat terus memelihara sentimen negatif terhadap Barat. Bagi saya, beban pembuktian tidak bisa diberikan kepada pembaca.

Kedua, pernyataan Buya Syafii juga problematis jika menyimpulkan bahwa Barat menggunakan “iming-iming duniawi” untuk semakin menghancurkan dunia dan peradaban Islam. Lagi-lagi, menurut saya, pandangan semacam ini mendikotomikan Islam vs Barat yang pro “iming-iming duniawi”. Saya sendiri tidak tahu persis apa yang dimaksud dengan “iming-iming duniawi”. Apakah itu ada hubungannya dengan kehidupan dunia Barat yang semakin tidak percaya pada Tuhan? Apakah itu berhubungan dengan sekularisme yang dianut di Barat? Lagi-lagi, Buya Syafii pasti bisa mempertanggungjawabkan ini. Tetapi tetap saja pembaca seperti saya yang kurang pengetahuan ini akan memlihara kesan dalam diri saya, bahwa dunia Barat harus diwaspadai karena dapat menggunakan “iming-iming duniawi” untuk menghancurkan peradaban suatu agama.

Mudah-mudahan saya salah menangkap pesan mulia yang disampaikan Buya Syafii. Tetapi paling tidak, dengan menulis ini, para pembaca bisa membantu saya memahami lebih mendalam apa yang dimaksud dengan pernyataan atau kesimpulan Buya Syafii seperti itu.

Buya Syafii dan rekan-rekan Muslim, selamat Hari Raya Idulfitri 1437 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Nyali

pemimpin bernyali
Pemimpin bernyali. Sumber: Stat Jim B Aditya 2016. Disebarluaskan melalui WA Group Hidesi, 18 Juni 2016).

Pagi ini, sebuah meme beredar di media sosial. Di meme itu tertera gambar Joko Widodo, Susi Pudjiastuti, Basuki Tjahja Purnama, dan Tito Karnavian berikut tulisan: MASA DEPAN INDONESIA ADA DI PUNDAK ORANG-ORANG MUDA YANG BERNYALI.

Saya tertarik dengan kata “nyali” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai sifat berani atau keberanian. Sayang, saya tidak menemukan informasi dalam Bahasa Indonesia seputar asal-usul kata ini, dalam konteks kultur seperti apa kata ini semula digunakan, kapan pertama kali kata ini digunakan secara nasional, dan sebagainya. Padahal informasi seperti ini menarik, tidak saja untuk memahami evolusi sebuah kata, tetapi juga konstruksi budaya mengenai sebuah kata.

Meskipun begitu, kita tetap bisa menangkap “semangat” kata ini dalam bahasa lain, taruhlah saja Bahasa Inggris. Kata “nyali” dalam Bahasa Inggris – menurut saya yang bukan ahli bahasa – adalah kata “courage”. Menurut Dictionary.com, kata “courage” diartikan sebagai (1) kualitas pikiran (mind) dan roh (spirit) yang memampukan seseorang dalam menghadapi berbagai kesulitan, bahaya, rasa sakit (penderitaan) dan seterusnya tanpa rasa takut; (2) hati sebagai sumber emosi. Pengertian kedua ini disebut obsolete, artinya sudah tidak digunakan lagi. Sementara itu, ada juga idiom yang berlaku dalam masyarakat Barat, ketika mereka mengatakan: have the courage of one’s convictions, yang artinya “bertindaklah sesuai keyakinan seseorang, terutama ketika tindakan-tindakan tersebut menghadapi berbagai cemohan dan kritikan.

Menarik juga diperhatikan, bahwa kata “courage” sendiri secara historis merukan “Medium English” (ME), yakni kata-kata yang baru mulai digunakan pada periode tahun 1150-1475, dan yang sekarang masih digunakan oleh masyarakat Barat. Secara akar kata, kata “courage” masuk ke dalam tuturan Bahasa Inggris dari Bahasa Prancis Kuno “corage” yang sepadan dengan kata “cor” dalam Bahasa Latin, yang artinya “hati” dan kata “age”, sebuah sufiks yang mengindikasikan “proses, tindakan, atau hasil dari sebuah proses atau tindakan”. Dengan begitu, kata “courage” yang akar katanya terdiri dari suku kata “cor” dan “age” dapat dimaknakan sebagai (1) tindakan keberanian yang berasal dari hati, yang merupakan buah dari pertimbangan hati, roh dan pikiran; dan (2) tindakan keberanian itu merupakan hasil dari sebuah proses.

Apa yang mau saya tegaskan dengan kedua kesimpulan pengertian yang saya tegaskan ini? Pertama, mengatakan bahwa keberanian berasal dari dalam hati dan merupakan buah dari pertimbangan roh, hati, dan pikiran, itu sekaligus menegaskan bahwa tindakan keberanian itu bukan sebuah kepura-puraan atau bukan sebuah “agenda setting” demi mencapai tujuan tertentu di luar tindakan keberanian itu sendiri. Pertanyaannya, apa yang hendak dicapai dengan sebuah tindakan yang berani? Pada level individu, keberanian adalah sebuah keutamaan pribadi menghadapi tindakan, perlakuan, peristiwa, intervensi, dan sebagainya dari luar yang sifatnya bertentangan dengan pertimbangan hati. Dalam arti ini, suara hatilah yang “memberitahu” individu bahwa apa yang sedang dihadapi adalah sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan, dengan moralitas, dengan ajaran agama, dengan prinsip etika tertentu, dan sebagainya. Himbauan suara hati inilah yang kemudian mendorong individu untuk mengambil tindakan yang berani dengan hasil akhir dan konsekuensi yang berbeda-beda. Karena tindakan keberanian berasal dari hati dan pikiran, kepura-puraan (pura-pura berani) seharusnya tidak diberi tempat. Keberanian sendiri mengandaikan daya tahan, sementara kepura-puraan akan mati atau lenyap saat tidak tercapainya agenda pribadi.

Sementara itu, pada level keutamaan sosial, sikap berani muncul ketika hati nurani dan pikiran menghadapi praktik politik, kebijakan umum, rekayasa politik, ideologi tertentu, dan semacamnya yang jelas-jelas bertentangan dengan kepentingan dan kemaslahatan warga negara. Dalam konteks inilah kita menyebut seorang pemimpin sebagai yang memiliki keberanian jika memiliki “nyali” dalam menghadapi berbagai praktik culas dan kotor dan kemudian berusaha memperbaikinya, tanpa rasa takut akan ancaman, boikot, pelengseran, ditinggalkan koalisi politik, dan sebagainya.

Kedua, sikap berani tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat. Menjadi berani bukanlah sebuah proses instan. Dalam konteks keberanian sebagai keutamaan menurut Aristoteles, sikap semacam ini hanya bisa terwujud ketika orang memiliki disposisi moral akan apa yang baik dan buruk lalu kemudian membiasakan diri (habituasi) bertindak secara benar dalam hidupnya sebegitu rupa sehingga tindakan benar menjadi kebiasaan (habit). Kita tahu ini sebuah proses pendidikan watak di mana seseorang dididik dan dibiasakan untuk bertindak menurut nilai-nilai moral tertentu, termasuk nilai keberanian (courage) tadi. Dengan begitu, tindakan yang berani sebagai sebuah tindakan moral telah teruji selama proses pendidikan dan selama menghadapi berbagai perilaku tidak bermoral dalam hidup sehari-hari.

Dalam konteks refleksi semacam inilah kita bisa memahami ungkapan dari meme ini: MASA DEPAN INDONESIA ADA DI PUNDAK ORANG-ORANG MUDA YANG BERNYALI. Setiap kita bisa menyimpulkan sendiri seperti apa dan dalam konteks praktik politik seperti apakah Presiden Jokowi disebut sebagai pemimpin yang berani. Demikian pula dengan Ibu Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan, Bapak Basuki Tjahja Purnama selaku Gubernur DKI, dan Bapak Jenderal Tito Karnavian (yang segera akan menjadi Kapolri).

Mereka dan banyak lagi orang muda pemberani yang memang punya nyali politik yang seharusnya memimpin republik ini jika memang kita mau mencapai cita-cita masyarakat yang adil dan makmur. Semoga!

Frugalitas

lock-money-frugal-saving
Hemat sebagai bagian dari kesederhanaan hidup. Sumber: http://moneyoff.com.au/extreme-frugality-where-to-draw-the-line/

Kuliah kemarin sore menyisakan sebuah pikiran yang terus saja mengiang di telinga, entah mengapa. Teman mempresentasikan pemikiran filsuf Polandia, Henryk Skolimowski, yang dewasa ini lebih dikenal sebagai pemikir eco-spiritual. Pemikirannya mengenai keselamatan bumi sangat menarik, karena mengusulkan pendekatan baru terhadap alam. Bahwa manusia harus bertanggungjawab terhadap keselamatan alam, dan bahwa kesadaran akan tanggungjawab ini menjadi sangat urgen berhadapan dengan masifnya kerusakan alam.

Salah satu gagasan yang tadi saya katakana menarik adalah mengenai kesederhanaan hidup (frugality). Menurut Beliau, kesederhanaan hidup seharusnya menjadi sikap dan cara hidup manusia jika menginginkan terselamatkannya alam dan kehidupan. Tentu ini bukan sebuah gagasan yang baru sama sekali, tetapi tetap menarik, terutama ketika kita hidup dalam dunia yang terlalu mengagungkan konsumerisme.

Frugalitas dalam ilmu perilaku dipahami sebagai kecenderungan untuk mengambil dan menggunakan berbagai barang dan jasa secara terkendali, karena memperhitungkan juga ketersediaan barang dan jasa dalam jangka panjang, keberlangsungan tersedianya sumber daya alam dan kepentingan generasi yang akan datang. Filsafat frugalitas yang dikemukakan Skolimowski dan filsuf-filsuf lainnya juga mengatakan hal yang kurang lebih sama. Bahwa manusia harus membatasi diri dalam memenuhi kebutuhannya, menggunakan barang dan jasa yang hanya benar-benar dibutuhkan.

Secara filosofis, frugalitas sebagai “gaya” atau “sikap” hidup diposisikan sebagai sebuah posisi moral berhadapan dengan ideologi konsumerisme dan logika pasar, bahwa seorang individu yang bebas dan otonom memiliki keyakinan pada pengetahuan dan kemandiriannya, bahwa dia mampu menentukan hal-hal yang benar-benar dibutuhkan, bebas dari intervensi pasar. Sikap ini menjadi semacam antitesa terhadap kultur konsumeristik yang oleh kebanyakan orang tampak sebagai hal yang sulit diatasi. Sikap semacam ini mengandaikan kepemilikikan atau keberpihakan pada semacam spiritualitas tertentu.

Benar begitu, bahwa sikap frugalitas memang ikut dipengaruhi oleh spiritualitas tertentu atau gerakan sosial tertentu. Beberapa pengaruh itu bisa disebutkan di sini. Pertama, pengaruh kelompok puritan yang beranggapan bahwa manusia seharusnya menahan diri dari menikmati barang dan jasa tertentu, terutama kenikmatan makanan, minuman beralkohol, tetapi juga pentingnya kesetiaan pada perkawinan, pada keluarga, dan larangan untuk melakukan hubungan di luar ikatan perkawinan yang sah. Kedua, semangat hidup frugalitas juga dipengaruhi oleh kaum enviromentalis yang meyakini nilai ini sebagai sebuah keutamaan. Kelompok ini ingin mengembalikan keterampilan dan kebijaksaan nenek moyang yang memenuhi kebutuhan dari alam dengan mengambil dan menggunakan sumber daya seperlunya saja.

Intinya, frugalitas berhubungan dengan kesederhanaan hidup. Kesederhanaan hidup merupakan buah dari filsafat mengenai kehidupan. Dalam pemikiran Skolimowski, yang memiliki nilai intrinsik adalah manusia.Nilai intrinsik yang paling utama pada manusia adalah penghormatan atas kehidupan (reverence for life), selain nilai intrinsik lainnya seperti tanggung jawab, dan frugalitas. Nilai-nilai intrinsik inilah yang memampukan manusia merencanakan hidupnya kesederhanaan. Penghormatan pada kehidupan merupakan imperatif moral untuk menahan diri dari kecenderungan eksploitatif terhadap alam. Ini karena imperatif tanggungjawab dalam diri individu untuk memperhatikan keselamatan alam dan kepentingan generasi yang akan datang. Sementara frugalitas, sebagaimana dijelaskan di atas, membatasi manusia dari menjalani hidup secara berlebihan.

Ada banyak insight dan inspirasi yang dapat dipetik dari pemikiran semacam ini. Berbagai gerakan sosial yang hendak memperjuangkan keselamatan lingkungan pun dapat mengambil semangat gerakan dari pemikiran semacam ini. Juga rencana kebijakan politik dan penyelenggaraan negara. Semuanya ini dilakukan dengan satu tujuan jelas: menjaga bumi dari kehancuran. Frugalitas, dengan begitu, dapat menjadi nilai hidup yang harus terus diperjuangkan demi keselamatan alam dan seluruh ekosistem.