Belajar Menghargai

Belajar menghargai seluruh pengalaman dan memetik pelajaran berharga daripadanya. Sumber: http://quotescloud.com/learn-to-appreciate-what-you-have-before-time-makes-you-appreciate-what-you-had-2/
Belajar menghargai seluruh pengalaman dan memetik pelajaran berharga daripadanya. Sumber: http://quotescloud.com/learn-to-appreciate-what-you-have-before-time-makes-you-appreciate-what-you-had-2/

Arnold, seorang lelaki paruh baya, sudah lama tinggal di kota itu. Dia dikenal sebagai orang yang sederhana, ringan tangan, berhati lembut, dan suka membantu. Dialah orang yang setiap ada kesempatan selalu mau menolong orang lain tanpa diminta dan tanpa meminta imbalan. Dia membantu orang lain karena memang dia ingin membantu. Suatu hari, ketika sedang menelusuri jalan kota yang penuh debu, dia melihat sebuah dompet agak kusam, tergeletak di salah satu sudut jalan itu. Dia mendekat dan mengambil dompet itu, dan ternyata isinya memang kosong. Tiba-tiba, seorang wanita berumur muncul bersama seorang polisi dan membawa Pak Arnold pergi.

Perempuan it uterus melontarkan pertanyaan kepada Arnol tentang di mana uangnya. Pak Arnol tidak menjawab sepata-kata pun, karena dompet memang kosong. Karena terus didesak, Pak Arnold pun menjawab, “Kosong bu, dompet itu kosong ketika saya menemukannya.” Mendengar itu, perempuan itu pun berteriak semakin kencang kepadanya, “Cepat kembalikan uang saya. Uang itu mau saya gunakan untuk membayar sekolah anak saya.” Seketika, Pak Arnold sadar bahwa perempuan itu sangat sedih karena kehilangan duit. Dia bisa menebak sepertinya perempuan itu seorang single mother. Pak Arnold kemudian berkata, “Ambillah ini, maaf atas ketidaknyamanan.” Perempuan itu pun segera meninggalkan polisi dan Pak Arnold, dan bergegas pergi.

Perempuan itu tampak sangat senang karena uangnya telah kembali. Tetapi betapa terkejutnya dia ketika menghitung uang yang diberikan Pak Arnold. Jumlah uang ternyata lebih banyak dua kali. Suatu hari, ketika dalam perjalanan ke sekolah anaknya untuk membayar sekolah, dia merasa ada seseorang paruh baya dan kurus sedang berjalan di belakangnya. Dia mengira laki-laki itu segera akan merampok dia, karena itu, perempuan itu pun bergegas menuju seorang polisi yang berdiri tidak jauh dari dia. Sepertinya polisi yang sama yang dahulu pernah menolong dia. Perempuan itu pun segera memberitahu polisi bahwa ada laki-laki yang sedang membuntuti dia. Tetapi tiba-tiba mereka melihat laki-laki itu terjatuh. Keduanya kemudian berlari menuju laki-laki itu, dan mereka sadar bahwa ternyata laki-laki itu yang dahulu menemukan dompetnya dan yang pernah ditangkap polisi atas aduan perempuan itu.

Pak Arnold tampak sangat temah dan tak-sadarkan diri. Polisi itu berkata kepada perempuan itu, “Dia tidak mengembalikan uangmu, dia justru memberikan uangnya sendiri kepadamu.” Keduanya kemudian menolong Pak Arnol supaya bisa berdiri. Pak Arnold kemudian berkata kepada perempuan itu, “Silakan lanjutkan perjalanan Anda dan bergegaslah ke sekolah supaya kau bisa membayar uang sekolahan anakmu. Saya melihat Anda dan terus mengikutimu untuk memastikan bahwa orang lain tidak akan merampok atau mencuri uang yang sangat kau butuhkan itu.” Perempuan itu terdiam dan tak berkata apapun.

Pelajaran moral: Hidup ini memberikan kepada kita pengalaman yang sangat aneh, karang-kadang mengejutkan, dan karang-kadang menjengkelkan. Kita dapat saja melakukan putusan yang keliru atau salah, kita dapat saja marah atau putus asah. Meskipun begitu, ketika kesempatan kedua datang, segeralah mengoreksi kesalahan-kesalahanmu dan berbaliklah kea rah yang benar. Belajarlah untuk menjadi lembut dan murah hati. Belajarlah menghargai apa yang telah diberikan kepadamu.

 

Kepentingan Diri dalam Relasi Sosial

Hoffnungsschimmer_1
Kepentinganku vs kepentingan orang lain. Sumber: http://blogs.wgbh.org/innovation-hub/2015/5/29/0530-full-show/

Dalam sebuah relasi antarmanusia, apakah ada relasi yang sifatnya bebas kepentingan (bebas self-interest)? Dulu saya berpikir, bahwa relasi yang paling intim dengan orang yang kita kasihi seharusnya bebas kepentingan. Yang saya maksudkan dengan bebas kepentingan adalah bebas dari segala upaya mengikutkan agenda atau maksud tertentu yang menguntungkan diri sendiri di luar dari tujuan bersama yang hendak dibangun dalam relasi tersebut. Kepentingan diri dapat termanifestasi dalam berbagai hal, misalnya kesenangan dan kenikmatan diri, motif-motif yang sifatnya psikologi seperti ingin mendapatkan kesenangan dan dukungan dari sebuah relasi atau bahkan ingin menguasai dan mengendalikan orang sampai kepentingan yang sangat ekonomis.

Ternyata pandangan saya itu saya. Bahkan dalam hubungan dengan orang yang paling dicintai pun, tampaknya kepentingan diri tetap diikutkan, entah sadar atau tidak. Pada level yang paling ideal, relasi yang ideal memang tidak boleh menghilangkan atau membinasakan identitas pihak-pihak yang berelasi. Tetapi dalam praktik, banyak hal yang menyebabkan orang mau tidak mau mengikutkan kepentingan atau agendanya sendiri dalam relasi. Teman-teman yang sudah menikah mestinya bisa membuktikan hal ini. Apakah relasi kita dengan suami atau dengan istri kita benar-benar tanpa kepentingan lain selain demi kebaikan pasangan kita? Atau hanya demi kebaikan dan cita-cita luhur kita? Menurut saya, yang berbeda di antara kita tidak terletak pada ada atau tidak adanya kepentingan relasi dengan pasangan hidup kita, tetapi sebesar apakah kepentingan pribadi itu diikutkan.

Bahkan dalam konteks kehidupan dan pelayanan keagamaan. Dua tahun terakhir saya memutuskan untuk terlibat dalam kegiatan keagamaan di Gereja saya (Gereja Katolik). Tepatnya, saya merelakan diri menjadi Katekis dengan tugas mengajar dan mempersiapkan orang-orang yang mau menjadi Katolik. Saya mengatakan bahwa saya merelakan diri, karena ini pilihan saya sendiri. Sudah lama saya pikirkan, dan ketika memutuskan, saya melakukannya dengan bebas. Termasuk mempersiapkan keluarga, bahwa beberapa waktu tertentu saya di akhir pekan akan tersita karena kegiatan pelayanan semacam ini.

Saya berpikir bahwa orang-orang yang terlibat dalam pelayanan di Gereja tidak memiliki kepentingan yang lain selain melayani Gereja, membuat semakin banyak orang mengenal dan mengasihi Tuhan, dan menjadikan orang Katolik semakin baik hidupnya di masyarakat. Tetapi rupanya tidak. Ada berbagai macam alasan dan motif yang mendorong orang merelakan dirinya dalam pelayanan “suci”. Ada yang mau melayani Gereja untuk mengisi waktu luang. Ini biasanya bagi mereka yang sudah pensiun. Ada yang tentunya melayani Gereja karena merasa memang Tuhan “memanggil” dan menginginkan dia dalam pelayanan itu. Tetapi ada juga yang mau melakukannya karena “daripada di rumah”.

Motif terakhir ini yang tampaknya bermasalah. Orang memiliki relasi yang buruk dengan pasangan hidupnya berusaha menghindari masalah itu dengan mencari kesibukan di luar rumah. Bagi dia, aktivitas di luar rumah, termasuk pelayanan di Gereja sebagai aktivitas yang membebaskan dia dari beban hidupnya selama ini.Memang sulit membuktikan apakah motif semacam ini ada dalam pelayanan kegerejaan. Tetapi kegagalan dalam berkomunikasi dengan orang lain dalam konteks pelayanan gereja, dapat memberi kita semacam tanda untuk memahami motif pelayanan sebagai pelarian. Tandanya banyak dan bisa macam-macam, mulai dari orang yang cepat marah dalam pelayanan sampai menjadi keras kepala dan enggan mendengar pendapat orang lain.

Saya menggunakan contoh pelayanan di Gereja hanya untuk menunjukkan bahwa sebetulnya ada beragam alasan yang sering tidak kita sadari ketika kita hendak membangun relasi dengan orang lain atau ketika kita mau terlibat dalam aktivitas yang melibatkan kerjasama dengan orang lain. Contoh yang saya kemukakan di atas (entah pada level keluarga sendiri maupun dalam konteks pelayanan kegaamaan) mendorong kita untuk sadar, bahwa kepentingan diri sering diikutkan dalam setiap relasi yang kita bangun. Posisi saya tidak pertama-tama mendorong agar kepentingan diri tidak diikutkan dalam berbagai relasi atau kegiatan yang melibatkan orang lain. Kepentingan diri sebaiknya tetap dipertahankan, karena kadang-kadang itu juga yang menentukan otentisitas kita. Yang penting adalah bagaimana mengelola kepentingan diri tersebut agar kita tidak menjadi orang yang semata-mata memperjuangkan kepentingan dirinya. Kecuali memang kita mau menjadi orang yang sangat egoistik dan self-centered dalam setiap relasi dengan orang lain.

Harus Yakin

when-you-believe-it-you-will-see-it-2-728

Sore itu, seorang pria paruh baya melewati tepi hutan lindung, tidak jauh dari pemukiman warga. Seperti biasa, dia akan bertemu dengan kawanan gajah dan para pelatih gajah di kawasan itu. Entah sudah berapa kali pengalaman itu berulang.

Tapi sore ini terasa lain. Ketika melewati beberapa kawanan gajah yang tengah merumput, tiba-tiba saja rasa herannya muncul. Dia sadar bahwa ternyata gajah dengan postur tubuh nan raksasa dan mampu menggulingkan mobil sekali pun itu ternyata diikat hanya oleh seutas tali kecil. Kaki-kaki gajah pun tidak dirantai sama sekali. Dia berpikir dalam hati, katanya, “Sebenarnya kapan pun gajah-gajah itu bisa memberontak, menyerang para pelatih mereka, dan berlari masuk ke hutan untuk menikmati kebebasan mereka. Tetapi mengapa itu tidak mereka lakukan?”

Tidak jauh dari situ, dia melihat salah seorang pelatih gajah sedang mengelus belalai salah satu gajah betina. Orang itu pun menghampiri sang pelatih sembari menanyakan hal tersebut. Sang pelatih pun menjawab enteng, katanya, “Ketika gajah-gajah masih kecil, kami menggunakan tali kecil untuk mengikat mereka, dan itu cukup untuk menahan mereka supaya tidak berontak. Ketika mereka menjadi dewasa, mereka tidak perlu dijaga dengan tali yang besar. Karena mereka sudah dikondisikan sejak kecil untuk tidak berontak, meskipun dengan tali yang sangat kecil, pengkondisian itu terus ada dan mempengaruhi hidup mereka. Mereka percaya bahwa tali-tali itu akan tetap mengikat mereka – sekecil apapun tali itu. Dan itu yang membuat mereka tidak pergi atau berontak.”

Orang itu begitu takjub mendengar penjelasan si pelatih gajah. Sambil terdiam, dia mengulang kata-kata sang pelatih dalam hatinya, “Binatang-binatang ini dapat bisa berontak dan berlari ke hutan kapan saja, tetapi karena mereka percaya bahwa mereka tidak bisa melakukannya, maka mereka masih terikat sampai saat ini.” Jadi, sebenarnya yang membuat mereka bertahan adalah keyakinan mereka sendiri.

Sambil mengangguk-angguk kecil, orang itu berkata dalam hatinya, “Benar juga ya. Sebenarnya berapa banyak dari kita yang percaya bahwa dia tidak bisa melakukan suatu hal hanya karena pengalaman kegagalannya di masa lampau, atau karena melihat pengalaman kegagalan orang lain.”

Kuncinya ada di keyakinan, kuncinya ada di keyakinan, kuncinya ada di keyakinan. Orang itu bahkan mengulang-ulang frasa ini beberapa kali dalam perjalanan pulang ke rumah.

Moral: Kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Kita seharusnya tidak boleh menyerah dan terus berjuang dalam hidup ini. Seseorang gagal bukan karena dia ditakdirkan untuk gagal. Gagal bukanlah takdir. Dia gagal supaya dia bisa belajar dari pengalaman kegagalan itu dan bangkit untuk terus maju, terus memperbaiki diri.

Jika Saja Kamu Membawa Cinta

WhyDoWeSufferSo
Sumber: https://theanatomyoflove.com/conclusions/why-do-we-suffer-so/

Pada saat tertentu dalam kehidupan Nietzsche, ide tentang apa yang dia sebut sebagai “cinta atas nasibmu” muncul dalam pikirannya. Apapun yang bakal akan terjadi pada dirimu, Anda mungkin saja mengatakan hal ini, “Ini adalah apa yang aku butuhkan.” Hal ini mungkin saja akan terlihat seperti kecelakaan, tapi terimalah saja hal itu seakan-akan itu sebuah kesempatan, sebuah tantangan yang harus dihadapi.

Bagaimana bisa menghadapi keadaan nasib itu? Jika saja Anda membawa cinta masuk dalam menghadapi nasib itu, dan bukan keputusasaan, maka Anda akan menemukan kekuatan yang luar biasa besarnya. Setiap bencana yang Anda hadapi dan akan mampu bertahan sebenarnya adalah kesempatan di mana Anda mengalami peningkatan karakter, kekuatan perawakan, dan kehidupan Anda sendiri. Sungguh sebuah keistimewaan! Inilah kesempatan di mana spontanitas alamiah Anda menemukan kesempatan untuk mengalir. Kemudian, ketika melihat kembali kehidupanmu, kamu akan menemukan bahwa saat di mana terjadi kegagalan yang besar yang diikuti oleh suatu keruntuhan entah semangat hidup atau kehancuran materi, sebenarnya telah ikut membentuk kehidupan yang kamu miliki sekarang. Anda akan menyadari hal ini sebagai benar adanya.

Semua saja yang pernah terjadi pada diri dan hidupmu selalu memiliki nilai positif. Meski tampaknya menjadi pengalaman yang buruk atau menjadi semacam krisis, sebenarnya tidak begitu. Kebaikan dan kemenangan telah menanti Anda di balik semuanya itu.

 

 

 

Kisah Pohon Mangga nan Dermawan

TheGivingTreeDi suatu waktu hiduplah sebuah pohon mangga besar. Sehari-hari ada seorang anak kecil suka datang dan bermain di sekitarnya. Dia suka naik ke atas pohon itu, memetik dan memakan buahnya ketika musim berbuah tiba, bahkan kadang-kadang juga tidur di bawah. Tampaknya dia begitu mencintai pohon mangga itu, dan sebaliknya, pohon mangga juga senang melihat si bocah itu bermain di dekatnya. Waktu pun berlalu. Anak kecil itu bertumbuh menjadi remaja lalu dewasa, dan ia tidak lagi bermain di sekitar pohon.

Suatu hari, anak itu datang kembali ke pohon mangga itu dengan tampilan sedih di wajahnya. “Kemarilah dan bermainlah denganku, “pinta mohon mangga itu begitu melihat sahabat lamanya mendekat. “Saya bukan lagi anak-anak, saya tidak mau bermain-main di sekeliling pohon lagi,” jawab anak itu. Anak itu melanjutkan, “saya butuh mainan. Saya butuh uang untuk membelinya.” “Maaf, saya tidak punya uang … tetapi kamu bisa koq memetik semua buah mangga dan menjual supaya uang hasil penjualan itu bisa kamu belikan mainan.”

Anak itu tampak gembira mendengar usulan pohon mangga itu. Dia lalu memetik semua buah mangga dari pohon itu dan pergi dengan gembira. Anak itu pun segera pergi dan tidak pernah datang kembali. Pohon mangga merasa sangat sedih.

Suatu hari, anak itu tumbuh menjadi seorang pria dewasa. Kali ini dia kembali ke pohon mangga, sahabat lamanya. Dari jauh pohon mangga sudah mengenal dia, karena itu langsung berteriak, katanya, “Hei, kemarilah dan bermainlah denganku.” Tetapi anak itu menjawab lantang, katanya, “Saya tidak punya waktu untuk bermain. Saya harus bekerja untuk menghidupi keluarga saya. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Apakah Anda bisa membantu saya?”

“Maaf, saya tidak punya rumah,” jawab pohon mangga itu. “Meskipun begitu, kamu bisa saja memotong cabang saya untuk membangun rumahmu,” usul pohon mangga. Orang itu pun memotong semua cabang dari pohon mangga itu dan pergi dengan gembira. Pohon mangga itu pun sangat senang melihat sahabatnya berbahagia. Tapi seperti terjadi sebelumnya, anak itu tidak datang kembali sesudahnya. Sekali lagi pohon itu merasa sedih dan kesepian.

Suatu hari di musim panas, pria itu kembali lagi dan pohon mangga itu pun senang. “Kemarilah dan bermainlah denganku!” pinta pohon mangga itu. “Saya sedih dan mulai tua. Saya ingin pergi berlayar, bersantai sejenak dan menikmati kesendirianku. Tetapi saya tidak punya perahu. Apakah Anda dapat menyediakan sebuah perahu bagiku?” Pohon mangga itu pun menjawab, katanya, “Sahabatku, gunakan saja batang saya untuk membuat perahu seperti yang kau inginkan. Setelah itu kamu bisa berlayar ke tempat yang kamu kehendaki dan menikmati kesendirianmu di sana.” Tanpa berpikir panjang, orang itu segera memotong batang pohon mangga itu dan kemudian membuat sebuah perahu. Dalam waktu yang cukup lama, dia pergi berlayar dan tidak kembali untuk waktu yang lama.

Suatu waktu yang agak lama, pria itu kembali ke pohon mangga sahabatnya. Begitu mendekat, pohon mangga yang hanya tersisa sedikit batang dan akar-akarnya itu berkata kepadanya, “Maaf, anakku, saya tidak punya apa-apa lagi yang bisa saya berikan. Tidak ada lagi batang, dahan, ranting dan buah mangga yang bisa kau nikmati. Pria yang sudah mulai tua itu pun menjawab, katanya, “Saya juga tidak punya gigi untuk menggigit.” “Juga tidak ada lagi batang yang bisa kamu panjat,” kata pohon mangga. “Saya juga sudah terlalu tua untuk melakukan hal itu sekarang,” jawab pria itu.

“Saya sungguh tidak punya apa-apa lagi yang bisa saya berikan kepadamu. Satu-satunya yang tersisa yang bisa saya berikan adalah akar saya yang juga sudah mulai melemah dan segera akan mati juga,” kata pohon mangga itu dengan perasaan sedih. “Saya tidak membutuhkan banyak hal sekarang. Saya hanya butuh sebuah tempat untuk beristirahat. Saya sungguh merasa lelah setelah melewati tahun-tahun hidupku, “jawab pria itu. “Baik! Akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat. Ayo duduk bersamaku dan beristirahatlah. “Pria itu pun duduk dan pohon itu merasa senang dan tersenyum.

Pesan Moral: Pohon dalam cerita mewakili orangtua kita. Ketika kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka dan hanya datang kembali ketika kita membutuhkan bantuan. Orangtua mengorbankan nyawa mereka untuk kita. Jangan Lupakan pengorbanan mereka. Beri mereka Cinta dan Perawatan sebelum segalanya terlambat.

Diterjemahkan secara bebas oleh Yeremias Jena dari: http://www.moralstories.org/the-giving-tree/ (13 Januari 2016)

Kita, Konsumerisme dan Tekad di Tahun 2016

new life
new life

Selamat pagi semuanya. Beberapa hari terakhir ini saya berpikir keras tentang apa yang sebaiknya saya tulis, tema yang saya sukai dan mudah-mudahan mengundang refleksi lebih lanjut dari rekan-rekan pembaca. Beberapa tahun terakhir saya memang suka menulis refleksi akhir tahun di mana saya mengangkat tema tertentu yang menurut saya menarik dan pantas didiskusikan. Demikianlah, saya pernah menulis mengenai “ada dan kemewaktuan”, tetapi saya juga pernah menulis perihal makna kerja. Sambil merenung, saya membaca status seorang teman di mana dia menyinggung problem konsumerisme. Ah haaa….. teman ini menyinggung suatu tema yang mengena di hati saya. Ya, saya termasuk orang yang peduli dan suka merefleksikan problem etis di seputar konsumerisme dan sikap konsumeristis.

Aneh juga ya, menulis soal konsumerisme ketika Anda sendiri belum menjadi seorang yang kaya secara ekonomi. Ini menjadi semacam gugatan terhadap diri. Tetapi apakah betul, bahwa seseorang hanya bisa mengkritik konsumerisme jika dia sudah menjadi semacam “korban” atau pelaku dari konsumerisme? Sepertinya cara berpikir demikian sulit diterima sebagai masuk akal. Posisi saya agaknya dirumuskan demikian: memiliki kemampuan finansial supaya bisa mengakses atau membeli barang dan jasa tertentu itu baik, bahkan dapat memanusiakan seseorang. Bayangkan dengan kehidupan di mana Anda tidak bisa mengakses barang dan/atau jasa tertentu. Jadi, jika sekarang refleksi ini mengajukan kritik tajam terhadap konsumerisme, upaya ini seharusnya dibaca sebagai cara saya memaknakan konsumerisme sambil pada saat yang bersamaan mencoba mengambil jarak terhadapnya.

Makna yang Ambigu?

Mungkin baik kalau kita memahami arti kata ini. Dictionary.com memberikan 3 pengertian yang berbeda. Sebagai sebuah kata benda, “konsumerisme mengandung pengertian (1) gerakan modern tahun 1940-an yang berusaha melindungi konsumen melawan produk-produk barang dan jasa yang tidak bermanfaat, bersifat inferior, berbahaya, juga menolak iklan dan kampanye produk yang menyesatkan, penentuan harga yang tidak jujur, dan sebagainya. (2) konsep yang mendeskripsikan semakin meluas dan masifnya konsumsi barang dan jasa yang bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan ekonomi. (3) Penggambaran atas praktik atau fakta meningkatnya konsumsi barang dan jasa; bukan deskripsi netral karena di dalamnya termuat kritik terhadap praktik konsumerisme Amerika Serikat.

Pengertian berdasarkan arti kata ini jelas menunjukkan bahwa “konsumerisme” ternyata tidak memiliki makna tunggal, jadi sangat tergantung sudut pandang, kepentingan dan siapa yang menggunakannya. Konsumerisme dapat merupakan sebuah orde atau tatanan ekonomi (dan itu nyata dalam pengertian kamus nomor 1 dan 2 di atas), yang umumnya merujuk kepada upaya masif mengkampanyekan barang dan jasa demi meningkatkan pembelian terhadapnya di satu pihak serta usaha sistematis untuk mengubah pola hidup warga kepada kehidupan yang lebih konsumtif. Jadi, dalam matra ekonomi, konsumsi mengandung dua pengertian sekaligus: mengkampanyekan produk barang dan jasa dan mengubah pola dan gaya hidup. Konsumerisme, dalam pengertian ini, tampaknya menjadi apa yang disebut sebagai ideologi ekonomi.

Di lain pihak, konsumerisme dapat pula bermakna ideologis, entah ideologi yang “anti” terhadap kapitalisme maupun yang pro pasar alias kapitalisme itu sendiri. Saya tidak berani menyebut sosialisme sebagai ideologi yang anti kapitalisme dan menolak pasar, karena negara-negara sosialis dewasa ini de facto memuja dan menyembah kapitalisme. Dengan begitu, paling-paing kritik terhadap konsumerisme datang dari kelompok agama atau kelompok sosial tertentu yang resah terhadap dampak negatif konsuemerisme, kapitalisme dan semacamnya.

Meskipun ada catatan yang mengatakan bahwa kata ini digunakan secara masif pasca Perang Dunia II, konsepnya sebenarnya sudah muncul dalam literatur sejak tahun 1899, terutama dalam karya Thorstein Veblen. Karya ini terutama dihubungkan dengan kritik terhadap konsumerisme yang terjadi di kalangan kelompok kelas menengah di awal abad ke-20 melalui proses globalisasi. Dengan begitu, sebenarnya masyarakat sudah sejak awal menyadari bahwa cara hidup yang menonjolkan konsumsi dapat sangat berbahaya, baik kepada diri sendiri maupun terhadap masyarakat dan lingkungan alam. Dalam arti itu, salah satu pengertian kamus sebagaimana dideskripsikan di atas dapat kita pahami maksudnya.

Demikianlah, harus dikatakan bahwa ada dua kepentingan yang selalu muncul ketika membicarakan konsumerisme. Di satu pihak ada kepentingan pasar dengan logika konsumtifnya yang terus-menerus berusaha mengubah pola dan gaya hidup masyarakat agar sesuai dengan logika pasar: membeli, membeli dan terus membeli. Dalam konteks inilah kita mengerti ungkapan yang diplesetkan dari kata-kata Rene Descartes, “Cogito ergo Sum” atau “Saya berpikir jadi saya ada” menjadi “Saya membeli jadi saya ada”. Apakah ini menggambarkan secara tepat keadaan masyarakat modern saat ini masih harus diperdebatkan, karena gerakan yang mempromosikan konsumsi secara etis muncu dan berkembang dengan cukup kuat di dunia saat ini, sehingga tanpa harus mengandalkan gerakan anti konsumerisme secara frontal, masyarakat sebetulnya mulai menyadari risiko konsumsi tak-terbatas.

Pada aras inilah saya ingin memposisikan diri saya, bahkan konsumsi adalah bagian dari hidup. Ia adalah sebuah tuntutan biologis yang sangat elementer. Menjadi bermasalah ketika tuntutan konsumsi itu diinjeksikan dari luar sebegitu masifnya sehingga saya memutuskan untuk melakukan tindakan konsumsi, pertama-tama bukan karena pertimbangan dan pilihan rasional saya, tetapi lebih karena pendiktean oleh pasar.

Tantangan Tahun 2016: Konsumsi Secara Bijak

Meskipun masih sangat singkat, deskripsi mengenai pengertian konsumerisme di atas membantu saya untuk merancang hidup saya – syukurlah jika juga hidup keluarga, karena agak sulit “menaklukkan” anak sendiri – di tahun 2016 ini dan ke depannya. Saya ingin merujuknya kepada satu dokumen penting yang dikeluarkan Gereja Katolik tahun 2015 lalu, yakni Ensiklik Laudato Si. Ensiklik ini adalah ajaran resmi Paus Fransiskus yang diterbitkan untuk menanggapi isu kehancuran lingkungan hidup. Banyak insight dan inspirasi yang bisa dipetik dari dokumen ini, dan di sana-sini di banyak sumber seseorang bisa dengan mudah menemukan potongan-potongan kata-kata Fransiskus yang menginspirasi. Bagi saya, ensiklik ini menjawab keresahan hati selama ini, bahwa kerusakan dan kehancuran alam disebabkan oleh ulah manusia sendiri yang tidak peduli, acuh tak acuh dan mengkonsumsi barang dan jasa yang tidak ada batasnya sehingga merusak alam, baik karena mengambil bahan dasar dari alam untuk produksi maupun membuang sisa dan limbah olahan pabrik, sisa konsumsi manusia, dan sebagainya ke alam.

Saya tidak ingin berpanjang kata mengomentari hal ini. Pembaca yang berminat menyimak ilustrasi borosnya perilaku manusia yang berdampak pada kerusakan dan kehancuran lingkungan hidup, silakan saja membaca tulisan yang saya buat beberapa saat lalu untuk salah satu blok saya (klik http://oborhidup.blogspot.co.id/2015/09/bahaya-kultur-pemborosan.html). Di sini saya hanya ingin mengatakan, bahwa ajaran Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si mengafirmasi pemikiran dan keresahan saya, bahwa saatnya sekarang kita perlu mengubah cara konsumsi kita. Saatnya sekarang kita mengubah cara hidup yang mengambil secara membabi buta dari alam. Saat kita melakukan apa yang dalam bahasa rohani disebut sebagai “pertobatan”, yakni peralihan gaya hidup dari acuh tak acuh terhadap dampak konsumsi berlebihan kepada sikap dan pilihan hidup yang semakin menghormati dan memelihara bumi.

Menurut saya, ensiklik Laudato Si sebetulnya menggambarkan keresahan dan kerisauan banyak pihak di dunia dewasa ini, entah karena dipicu oleh perubahan iklim yang masif yang bermuara pada tenggelamnya banyak pulau, entah karena kehancuran hutan, menipisnya lapisan Ozon, semakin banyak warga negara yang menjadi miskin karena kehilangan lahan pertanian, dan sebagainya. Yang jelas, jika pembaca melakukan riset sederhana, misalnya mencari publikasi bertemakan “attitude toward consumerism” di mesin pencari data seperti google scholar, kalian akan menemukan ratusan bahkan mungkin ribuan publikasi mengenai hal ini. Jika disortis untuk publikasi lima tahun terakhir, kita akan mendapatkan cukup banyak publikasi berbobot, banyak darinya adalah analisis empirik, yang menunjukkan sedang terjadinya pergeseran sikap (attitude) masyarakat mengenai konsumsi. Harus diakui, perubahan atau pergeseran sikap ini bersifat positif. Ada cukup banyak gerakan yang dilakukan, entah secara perorangan maupun kelompok sosial, ke arah konsumsi yang lebih rasional dan bertanggung jawab. Yang menarik juga dalam publikasi itu adalah penegasan mengenai pentingnya regulasi pemerintah untuk memastikan terealisasinya konsumsi yang lebih rasional dan bertanggungjawab.

Dalam bingkai optimisme inilah saya ingin menceburkan diri ke dalam sekaligus menyambut datangnya Tahun 2016. Pertama, saya ingin menjadi bagian dari perubahan perilaku sekaligus mengkampanyekan perilaku hidup sederhana dan hidup sehat. Sebagai seorang dosen, saya meletakkan ke pundak tanggungjawab saya sendiri untuk menyebarkan semangat hidup sederhana, semangat membeli karena kebutuhan yang benar, dan bukan kebutuhan sebagaimana dikonstruksi kapitalisme. Kedua, saya ingin menjadi bagian dari kampanye memosisikan alam bukan semata-mata sebagai objek untuk dieksplotasi, tetapi sebagai entitas yang memiliki tujuan pada dirinya. Saya membayangkan akan melakukan banyak kegiatan luar ruangan, misalnya travelling atau mengajak keluarga ke rekreasi alam, melibatkan keluarga atau mahasiswa dalam upaya pemeliharaan alam, dan semacamnya. Ketiga, dalam semangat hidup sebagai orang beragama, saya ingin semakin membuka diri kepada “pewahyuan Allah melalui alam dan karya ciptaan lainnya.”

Dan ketika Kereta Api Eksekutif Parahayangan melewati Karawang di siangn hari ini, 2 Januari 2016, pukul 11:00 WIB, saya mengakhiri tulisan teramat sederhana ini. Dari balik kaca jendela, hamparan sawah nan hijau telah mampu membangkitkan rohku untuk menundukkan diri pada kebesaran Yang Maha Kuasa. Semoga sikap semacam ini terus terpelihara dan merasuk dalam hidup yang terlalu sering lupa bersyukur.

Selamat datang tahun 2016.

Anak Kecil Rindu Bertemu Tuhan

meet-godAda seorang anak kecil ingin bertemu Tuhan. Dia tahu perjalanan untuk bertemu Tuhan akan melalui rute yang cukup jauh dan berliku. Karena itu, ia memasukkan cukup banyak kue Twinkies ke dalam tasnya. Tidak lupa pula dibawanya enam kaleng minuman soft drink. Dia memulai perjalanan setelah semuanya siap.

Ketika baru berjalan beberapa ratus meter, ia bertemu dengan seorang wanita tua sedang duduk di sebuah taman. Wanita tua itu tampak asyik mengamati beberapa burung merpati yang sedang mematuk makanan di tanah.

Anak kecil itu duduk di samping wanita tua itu sambil membuka tas bawaannya. Dia hendak mengambil minum soft drink yang dia bawa dan meminumnya. Tetapi ketika melihat wanita tua itu yang sepertinya lapar, anak kecil itu menawarkan sepotong kue yang dia bawa. Sambil tersenyum manis, wanita tua itu pun menerima tawaran anak kecil itu. Senyumnya begitu cantik sehingga anak kecil itu ingin melihatnya lagi. Karena itu, dia menawarkan satu kaleng minuman yang dibawanya. Sekali lagi wanita tua itu tersenyum padanya. Anak itu sangat senang! Mereka duduk di sana sambil makan dan tersenyum, tapi mereka tidak pernah berbicara satu patah kata pun.

Tidak disadari ternyata hari mulai gelap. Anak kecil itu pun ingin segera cepat kembali ke rumahnya karena sudah merasa lelah. Hampir seharian penuh duduk di taman itu. Dia bangun dan bergegas pergi. Tapi sebelum melangkah lebih jauh lagi ia justru berbalik, berlari kembali ke wanita tua dan memeluknya. Wanita tua itu pun membalas pelukan itu dengan sebuah senyuman yang terindah yang dia miliki.

Anak kecil itu pun bergegas kembali ke rumahnya. Ketika hendak membuka pintu rumahnya, ibunya justru terkejut melihat wajah sukacita yang terungkap dari anaknya. Sang ibu pun bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan hari sehingga kamu tampak sangat bahagia?” Anak itu pun menjawab, katanya, “Hari ini aku makan siang dengan Tuhan Allah.” Tapi, sebelum ibunya menanggapi hal ini, anak itu buru-buru menambahkan, “Kau tahu apa? Dia punya senyum yang paling indah yang pernah saya lihat!”

Sementara itu, sang ibu tua yang dijumpai di taman itu pun bergegas kembali ke rumahnya dengan wajah penuh sukacita. Di pintu rumahnya, seorang anaknya telah menunggu. Sang anak pun terpana dengan tampilan ibunya karena wajahnya mengekspresikan rasa damai yang luar biasa. Sang anak pun bertanya kepada ibunya, “Ibu, apa yang ibu lakukan hari ini yang membuatmu tampak sangat bahagia?” Sang ibu menjawab, “Hari ini aku makan kue Twinkies di taman, makan bersama dengan Tuhan.” Dan sebelumnya anaknya memberi tanggapan, ibu itu menambahkan, katanya, “Ternyata Tuhan itu jauh lebih muda dari yang saya harapkan.”

Pesan Moral: Sebenarnya Allah ada di mana-mana. Kita hanya perlu membagi kebahagiaan kita kepada sesama kita, membuat mereka tersenyum dan ikut merasakan kebahagiaan yang kita rasakan.

Sumber cerita: Kay, USA. Dikisahkan kembali oleh Yeremias Jena. Akses: http://www.moralstories.org/little-boys-meeting-with-god/