Kerja oh Kerja
November 25, 2009 at 12:12 am | In Merefleksikan Keseharian | Leave a CommentTags: kerja, makna kerja
“Pa, sudah siang. Ayo bangun!” bisik istriku perlahan. Waktu menunjuk
kan pukul empat kurang sepuluh menit, pagi-pagi sekali. Agak malas untuk bangun memang, karena cuaca pagi ini agak dingin. Di luar rintik-rintik hujan membasahi bumi.
Ya, aku harus cepat bangun, mandi lalu berangkat kerja. Kalau sedikit terlambat keluar dari rumah pasti akan macet sekali dan sulit mencapai tempat kerja pada waktunya. Maklumlah, aku harus menembus pagi yang dingin, memacu sepeda motorku menuju Pluit, tempat aku mengajar. Jarak dari tempat tinggalku di Bekasi Timur ke Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya mencapai nyaris 50 kilometer. Kadang kalau lagi malas naik motor, aku menitipkan motor di tempat penitipan motor dekat pintu tol lalu duduk manis di bis kota yang membawaku ke Grogol. Nanti di sana nyambung lagi. Begitulah keseharianku!
Pertanyaan mendasarnya tentulah mengapa harus kulakukan ini semua? Apakah sekadar kewajiban seorang suami dari satu istri? Apakah saya harus melakukan sebagai bentuk konkret tanggung jawab saya kepada kehidupan aku sendiri, kehidupan istriku dan putriku? Jika kerjaku hanya dilandasi oleh tuntutan tanggung jawab atas kehidupan, lantas apalah artinya kehidupanku itu sendiri? Apalah artinya kerja bagi hidupku sendiri?
Jangan-jangan kerja hanyalah siksaan semata karena kejatuhan manusia pertama di Taman Eden. Ketika Tuhan mendapatkan manusia Adam dan Hawa memakan buah terlarang, dan Tuhan tahu bahwa yang memberi buah itu kepada Adam adalah Hawa, istrinya, Tuhan berkata kepada laki-laki ciptaanNya itu, bahwa dia akan berkeringat dan berpeluh supaya bisa mempertahankan hidupnya. Dan saya kira inilah dimensi paling mendasar dari kerja, yakni dengan peluh dan keringat saya “menaklukkan” dunia demi melanjutkan kehidupan.
Tetapi kerja tentu memiliki makna lebih mendalam dari semuanya itu. Mungkin kedengaran berlebihan atau malah menghibur diri sendiri, tetapi kerja adalah bentuk konkret dari realisasi diri dan kebebasanku. Hanya melalui kerja, aku–juga orang lain–menunjukkan bahwa dia mampu merealisasikan kemampuan-kemampuannya. Hasil dari kerja, dengan demikian, tidak akan mengasingkan seseorang seperti yang diklaim Marx, karena kerja dipilih dan dijalankan sebagai bagian dari realisasi kemampuan diri tersebut. Selain itu, kerja juga mengungkapkan dimensi kebebasanku. Saya memilih untuk bekerja sebagai pengajar dan peneliti, dan itu adalah pilihan sadar. Pilihan itu menyisakan ruang untuk dialog, baik dengan diri sendiri maupun denagn orang lain. Pilihan itu pun memberi ruang bagi koreksi diri, bagi pemurnian motivasi, dan bagi pemaknaan kerja yang semakin mendalam dan manusiawi.
Tanpa itu semua, saya kira, ritual bangun pagi dan berangkat kerja akan menjadi turinitas tanpa makna. Bahwa pada akhirnya seseorang menerima apa yang menjadi haknya alias penghasilan bulanan, saya kira itu menjadi reward yang akan terus memacu seseorang untuk terus berkarya. Tentu setiap orang yang bekerja pantas memperoleh apa yang menjadi haknya.
Michelle 300 Kali Orgasme Sehari
November 22, 2009 at 9:32 am | In Merefleksikan Keseharian | Leave a CommentTags: orgasme, michele thompson
LONDON, KOMPAS.com — Ibu seorang anak ini menderita
penyakit aneh. Kalau kebanyakan wanita sulit mendapatkan orgasme, Michele Thompson kebalikannya, ia bisa mendapatkan orgasme 300 kali dalam sehari. Kelainan Michele (43) dalam dunia medis disebut dengan persistent sexual arousal syndrome (PSAS).
Problem ini tentu menyulitkan baginya karena ia dapat mengalami orgasme kapan saja dan di mana saja. Namun, ia kini berbahagia karena bisa menemukan pasangan hidupnya, Andrew Carr (32), yang merupakan tetangganya sendiri.
“Andrew telah mengubah hidupku. Saya tak lagi mencari penyembuhan untuk masalah orgasme.” Karena ia selalu menginginkan seks dan ia mendapatkannya dari Andrew, maka mereka dapat memadu cinta 10 kali dalam sehari.
Karena masalah ini, ia harus keluar dari pekerjaannya di pabrik biskuit karena mesin yang ia operasikan sering mati. “Saya tahu bahwa saya bisa orgasme sedemikian banyak saat wanita lain tidak pernah mendapatkannya. Namun, kondisi ini menghancurkan kehidupan cinta saya.”
Pacar pertama Michelle tak tahan setelah beberapa bulan. Beberapa tahun kemudian, beberapa pria juga menyerah karena kebutuhannya soal seks dan mengatakan bahwa ia seorang pria, bukan mesin seks. Ia pacaran lima tahun dengan pria, dan pada saat putus, sang pacar mengatakan ia kelelahan. Ia pergi sebagai seorang pria yang kalah.
Michelle kemudian kencan lewat internet. Namun setelah ia menceritakan kondisinya, mereka kabur, takut bahwa mereka tidak punya cukup stamina.
Kemudian di bulan Mei, ia ketemu Andrew, duda yang bekerja pada industri pembersih yang tinggal dekat rumahnya di Nelson, Lancs.
Awalnya, saya takut ia akan seperti pria lainnya. Akan tetapi, saat saya mengatakan masalah saya, ia tersenyum dan mengatakan ia akan membakarku telebih dahulu. “Saya dapat melakukannya 24 jam sehari dan Andrew juga. Saya secara teratur lari menyeberang jalan ke rumahnya. Kami setidaknya bercinta 10 kali sehari,” kata Michelle.
Michelle kini bahagia, dan merencanakan hidup bersama Andrew. “Saya mencari seseorang seperti Andrew sejak lama dan akhirnya saya sekarang seperti di surga.”
Masalah seperti Michelle juga dialami Sarah Carmen (24). Ia dapat mengalami orgasme dari bermacam getaran mulai getaran rel kereta api, pengering rambut, mesin fotokopi. Kalau Michelle dapat 300 orgasme, Sarah hanya mendapatkan 200 orgasme sehari.
Sebagai contoh, saat ia diwawancarai selama 40 menit, ia mengalami lima kali orgasme. Sama halnya Michelle, ia menderita PSAS, yang menyebabkan aliran darahnya meningkat pada organ seksual.
Sarah, asal London, menderita PSAS setelah diberi obat antidepresi pada usia 19 tahun. Ia yakin bahwa pil itulah yang menjadi penyebab. “Dalam beberapa minggu, saya mulai gampang terangsang dan mendapatkan orgasme tanpa henti,” kata gadis cantik ini. Teman kencan saya akan teperanjat karena dalam satu jam saya mendapatkan banyak sekali orgasme.
Ia dan pacarnya kemudian berpisah, dan partner barunya berusaha keras memenuhi kebutuhan seksnya. “Sering saya menggunakan diri sendiri untuk mendapatkan orgasme sebanyak mungkin agar saya berhenti demi mendapat kedamaian.”
Sarah bekerja sebagai seorang ahli kecantikan yang bekerja di salon yang penuh dengan pengering rambut dan peralatan perawatan kulit yang dapat menyebabkan masalah. “Jika saya mulai batuk dan turun ke lantai bawah, maka rekan-rekan saya tahu bahwa itu saatnya mereka memberi klien saya majalah atau secangkir teh. “Saya terkadang ingin hidup normal. Pelanggan lama saya dapat mengerti, tetapi sulit menerangkan hal itu kepada klien baru.” (notw/rr)
Crazy, I just forgot it
April 29, 2008 at 10:53 am | In Merefleksikan Keseharian | Leave a CommentTags: opini
Oh my God, I really didn’t realize if it was my wife’s b-day. I came home late at night, about 11.00 clock. After spending few minutes talking to my wife, we went to bed. She didn’t tell anything or gave me some hints if tomorrow is her b-day. Fatique after working the whole day, i fell asleep. I woke up suddenly when my wife was about to leave for work. "Darling, I go ahead. Just take care, I love you!" Ok, honey. God bless!
Few minutes later she sent a short message to my mobile phone, saying, "Hey, do you remember what date is today?" "O my God, to day is 26 April, my wife’s b-day! Oh no, I must be crazy right now. I should not forget this special moment of my beloved wife. Yes, i was to tired that night, I din’t remember even any big thing. So, i asked an honest apology and greet her a warm happy b-day.
Yes, the nature of my work is now eating me. Work as an editor for students’ text book really make me crazy. It is really a busy moment for us before the beggining of the school year here in Indonesia. So, we have only 3-5 months to prepare the books and sell it to the schools around. So, I could excused my self of forgeting my wife’s B-day.
Overall, I love you honey. Thanks alot for your dedication. You really dedicate your time not only teaching the students in school, but also accompany our only daughter in her growth. I just ask and pray, may our Lord Jesus Christ helps us and grant us an everlasting joy.
Love you!
Ketakutan Kaum Minoritas?
Februari 5, 2008 at 9:40 am | In Merefleksikan Keseharian | Leave a Comment
Pilkada Kota Bekasi belum lama berakhir. Ada sejuta pengalaman yang bisa di-sharekan. Di tempat saya memilih, misalnya, pasangan atau calon wali kota dan wakil wali kota yang diusung PKS menang telak. Lantas, kami yang beragama non-muslim agak resah, apa yang akan terjadi di Kota Bekasi.
Keresahan semacam ini tentu beralasan, karena berbagai peristiwa dan konflik atas nama agama yang terjadi di sekitar kita. Hal yang paling ditakutkan tentu penerapan syariat Islam di wilayah Kota Bekasi. Karena ketakutan semacam ini pula tidak mustahil kemudian orang-orang Kristiani memilih Mochtar Muhammad yang diusung PDIP dan partai-partai nasionalis.
Meskipun M2R sudah menang dan sekarang menjadi wali kota Bekasi, pertanyaan yang masih menghantui adalah apa yang akan terjadi di Bekasi jika yang menang adalah partai politik dengan basis ideologi dan agama Islam? Apakah itu menjadi pertanda berakhirnya pluralisme di Bekasi?
Mungkin pertanyaan semacam ini terlalu berlebihan. Tetapi sampai saat itu belum cukup tanda dan bukti yang menjamin bahwa pluralitas akan terjamin di Kota Bekasi meskipun yang menang Pilkada bukan berasal dari pastai nasionalis. Atau, jangan-jangan ini hanya ketakutan semata dari kaum minoritas?
Elit Politik Saling Memfitna
Mei 28, 2007 at 6:14 am | In Merefleksikan Keseharian | Leave a CommentRuang publik kita tengah diwarnai oleh “perang” antara Amin Rais dan SBY. Pasalnya, Amin Rais yang mengaku telah menerima sejumlah dana untuk kepentingan kampanye presiden dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) mendesak agar calon presiden lainnya juga mengakui hal yang sama. Mas Amin bahkan tidak segan-segan menyebut nama, termasuk “menyerang” SBY dan JK yang katanya tidak hanya menerima dana dari DKP, tetapi juga dari luar negeri.
SBY membalasnya dengan mengatakan bahwa apa disampaikan Amin Rais dan kubunya merupakan fitnah. Presiden SBY sendiri dan kubunya membantah menerima dana DKP.
Masyarakat semakin kebingungan. Mengapa? Ada sejumlah hal yang tidak terbuka, terutama mengenai aliran dana kampanye. Para elit politik dan partainya sangat pandai memanfaatkan celah hukum untuk mengumpulkan dana dalam jumlah yang tinggi demi mewujudkan cita-cita politiknya. Karena itu, lebih dari desakan untuk menegakkan hukum di Indonesia seadil-adilnya, sebagai masyarakat biasa kita sebenarnya meminta agar para elit politik kita bersikap jujur dan mengakui kekeliruan mereka.
Harus ada harga yang dibayar dari kejujuran kita. Dan ini tidak harus menjadikan kita takut untuk menjadi jujur. Semoga saja kejujuran merajai rana politik kita dan kita akan menjadi bangsa yang semakin beradab dalam berpolitik. Dan yang penting adalah agar masyarakat kita menjadi semakin sejahtera.
Hidup Bermakna
Maret 30, 2007 at 5:41 am | In Merefleksikan Keseharian | 5 CommentsHIDUP BERMAKNA
Seorang rekan kita (mahasiswa UBinus) mengajukan pertanyaan di Forum Diskusi (Binus Maya) demikian, “Apakah dalam hidup ini kita akan mencapai kebahagiaan?” Pasti ada berbagai macam jawaban atas pertanyaan ini. Wajar jika ada pro dan ada kontra. Pertanyaan ini memang mendasar dan harus dijawab, paling tidak oleh masing-masing kita. Saya berusaha menjawab pertanyaan ini dengan membagi gagasan mengenai apa artinya “hidup yang bermakna”. Kebahagiaan dan seluruh indikatornya mungkin lebih sering terasa abstrak. Merenungkan kehidupan bermakna akan membuka wawasan kita kepada pemahaman tentang apa itu kebahagiaan.
Bangunlah dan Dengarlah Suara Batinmu
Aku punya seorang sahabat dekat yang menikah pada usia yang cukup terlambat. Dia selalu menunda perkawinan karena ingin menunggu saat yang tepat dan pasangan yang sesuai dengan kriteria-kriterianya. Menurut perhitungannya, suaminya yang sekarang adalah sosok yang memang cocok dengan kriteria-kriteria yang dia kehendaki. Dan bahwa kriteria-kriteria itu juga cocok dengan kriteria-kriteria calon suami yang diinginkan ibunya, atau mungkin juga disetujui oleh kebanyakan ibu, termasuk ibu saya. Suaminya adalah seorang laki-laki yang atletis, tinggi, ganteng, dan saleh (religious). Setelah beberapa saat menikah, dia justru menghadapi masalah yang selalu mengganggu pikirannya, dan yang membuat dia merasa sangat keletihan. Temanku itu ingin sekali pindah dari rumah mereka yang lerletak di gang sempit nan kumuh itu ke daerah yang lebih luas dengan rumah yang lebih luas dan modern. Tetapi suaminya tidak mau pindah karena memang mereka tidak punya cukup uang untuk membeli rumah. Suaminya tidak ingin menambah utang lagi, karena utang dari bank yang dia pinjam untuk kuliah dulu belum lunas dibayar. Padahal temanku ini sudah berangan-angan, bahwa hari kepindahannya ke rumah baru akan menjadi momen yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Temanku ini terus dihantui dengan pikiran dan kekesalannya. Hari-hari dilaluinya dalam keputusasaan tanpa harapan. Apapun juga suara yang dia dengar, dia merasa bahwa kata-kata berikut terus menghantui batinnya: “Hidup ini ternyata telah membohongiku.” Setiap kali dia bangun pagi dan menghadapi hari-hari, suara lain seakan berkata kepadanya, “Hanya seginikah hidupmu?” Pada usia yang baru matang, yakni 18 tahun, saya merasa pasti dengan satu hal: Saya tidak ingin menikah dengan seorang pria hanya demi kenyamanan keuangan (financial security), demi sebuah status sosial, atau karena ingin berlari dari rasa kesepianku. Saya tidak ingin menikahi seorang pria yang tidak punya visi mengenai apa dan keluarga seperti apa yang akan kami bangun bersama. Hanya dalam hitungan beberapa bulan saya sudah mantap berdiri mendampingi calon suami saya di pesta pertunanganan kami. Pusat perhatian dan tekad saya sungguh menjadi kenyataan dalam hidup sehari-hari. Selama beberapa tahun perkawinan kami, diiringi dengan berbagai persoalan dan keberhasilan yang memang menjadi bagian tak-terpisahkan dalam hidup perkawinan, tak ada satu hal pun yang bisa menghalangi kegembiraan dan kebahagiaan saya, yakni ketika saya memulai sebuah hidup baru. Saya kemudian memilih saat peralihan menuju hidup baru ini sebagai momen yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Apa momen atau saat peralihan ke dalam hidup baru yang sangat membahagiakanku itu? Saya tentu tidak lebih baik dari sahabat saya yang saya ceritakan di atas. Saya sedikit lebih beruntung. Tentu saja saya juga memiliki suara-suara batin. Orang tua saya pun memiliki kriteria sendiri mengenai hidup saya dan calon suami saya, dan itu semua tetap saya pertimbangkan. Tetapi pada akhirnya, saya membiarkan suara-batin saya bersuara lebih keras dari suara-suara lainnya. Dan ketika saya membiarkan suara-batinku itu berbicara, suara itu semakin lama semakin keras. Saya tahu bahwa suara itu akan menempatkan saya pada jalur yang benar dalam hidup ini. Kesadaran baru yang membahagiakan dan mengubah hidup saya adalah kesadaran bahwa setiap kita adalah unik. Masign-masing kita diciptakan dengan satu misi khusus, misi khas yang tidak bisa diganti oleh orang lain, apalagi dikerjakan oleh orang lain. Kegembiraan dan kebahagiaan sejati saya rasakan bergaung dari perasaan dan suara batinku yang menyadarkanku bahwa aku berada di jalur yang benar dalam hidupku, dan bahwa hidup ini tidak akan sia-sia. Supaya menjadi orang yang bermakna kita harus terus-menerus bertanya kepada diri sendiri: “siapa diri kita?” “Ke mana kita akan pergi?” “Apa yang kita butuhkan untuk mencapai tempat tujuan itu?” Kebanyakan kita menerima tujuan dan cita-cita hidup dari orang tua kita, rekan dan teman sebaya, komunitas kita, yang ikut menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar ini. Tetapi apakah jawaban-jawaban yang kita dengar itu memang tepat dan menjadi jawaban kita sendiri?
Potret dari Hidup yang Penuh Shraga Eizenstark tidak pernah berencana untuk menjadi seorang pahlawan. Ketika dia bertemu pertama kalinya dengan anak-anaknya Heilburn, sesuatu terjadi. Keadaan telah membuat ayah dari anak-anak itu tidak mampu menjadi ayah yang baik bagi mereka. Sementara itu, ibu mereka yang manis, lembut, dan rapuh tidak punya cukup uang untuk membiaya hidup anak-anaknya. Penghasilan bulanannya jauh dari mencukupi. Shrage singgah dalam hidup dan penderitaan keluarga ini. Anak-anak itu ditampung dalam asrama yang dikelola Shrage. Membangunkan anak-anak untuk menyambut hari baru yang indah atau mengecek apakah anak-anak sudah mengenakan piyama atau belum di malam hari adalah pekerjaan yang dilakukan Shrage setiap hari, dan dia melakukannya dengan suka cita. Dua minggu yang lalu Nyonya Heilburn (ibu dari anak-anak yang miskin dan malang itu) tewas dalam sebuah kecelakaan bersama putranya yang paling kecil. Shrage telah meninggalkan segalanya dalam hidupnya dan membaktikan sisa hidupnya mengurus anak-anak miskin di asrama. Jika kita bertanya kepada Shrage, berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk mengurus dan membesarkan anak-anak di asrama, dia akan menjawab dengan mantap: “Sampai mereka menjadi dewasa dan mandiri!” Shrage seakan sudah ditentukan untuk mengerjakan hal ini. Dia memiliki misi khusus dalam hidupnya, dan dia dengan suka cita melaksanakannya. Tidak perlu terlalu serius berpikir untuk menyimpulkan betapa berharganya dan berpengaruhnya Shrage bagi anak-anak di asrama. Kehadiran dan pendampingannya akan mempengaruhi seluruh hidup anak-anak. Ketika kita tidak melihat sesuatu yang berharga di balik setiap kejadian, Shrage yang adalah guru SD telah menemukan nilai-nilai herois, belarasa (compassionate), dan transenden dalam hidupnya, yang sangat mudah menjadi tidak tampak, entah bagi dirinya atau bagi orang lain. Dia telah menyadari dan menemukan mutiara berharga dalam hidupnya sendiri.
Mengapa Kita Ada Di Sini?Kita semua ada di sini untuk sesuatu tujuan. Ada dari kita yang selalu membuka diri dan siap menolong sahabat dan orang lain yang membutuhkan. Ada dari kita yang memiliki jiwa yang besar dan hati yang selalu terbuka untuk mengasihi, terlepas dari segala kekecewaan yang dialaminya. Ada dari kita yang dengan keramahan yang dimilikinya selalu membuat orang lain tersenyum dan terhibur. Ada dari kita yang selalu mengingatkan kita, bahwa Tuhan mengasihi kita. Inilah orang-orang yang sudah menyadari alasan mengapa mereka hidup dan hidup hidup di jalan yang benar menuju ke kepenuhan hidup, hal yang barangkali masih tersembunyi bagi kebanyakan kita. Supaya bisa menemukan tujuan hidup kita di dunia ini, kita bisa melakukannya dengan mengikuti tahapan-tahapan ini.
Pertama, belajarlah untuk selalu mendengar suara batinmu, dan bukan suara orang tua atau sahabat. Meskipun memuaskan orang tua adalah hal yang baik, di masa depan yang lebih tahu akan makna hidup yang penuh dan berkelimpahan adalah kita sendiri. Kitalah yang menentukan langkah hidup kita sendiri. Kedua, selalu tekun berusaha untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Kita mungkin kagum dengan orang-orang di sekitar kita yang selalu bekerja keras untuk meraih segala yang diinginkannya. Yang lebih mengagumkan tentu saja adalah melihat orang yang mengorbankan hal yang paling berharga dalam hidupnya demi meraih sesuatu tujuan yang bagi orang lain bukan merupakan tujuan yang seharusnya dikejar. Yang penting untuk selalu kita ingat adalah kenyataan bahwa sarana-sarana untuk meraih aktualisasi diri yang penuh ada dan tersedia di tangan kita. Apa yang kita miliki kurang penting dibandingkan dengan diri kita sendiri.
Ketiga, jangan takut pada kegagalan. Kita gagal dan berusaha lagi. Ketika gagal, kita memberi kesempatan sekali lagi kepada diri kita sendiri sambil berusaha keras untuk meraih yang kita inginkan. Sama seperti dalam kehidupan spiritual, selalu ada saat di mana kita gagal dan saat di mana kita berhasil. Dengan kata lain, kegagalan adalah bagian dari hidup. Yang membuat kita berbeda adalah apakah kita tinggal dalam kesedihan karena gagal atau kita bangkit untuk memulai lagi perjalanan. Keempat, kejelasan dan fokus. Hidup ini perlu kejelasan dan fokus. Saya membayangkan diri saya berdialog dengan seorang malaikat, dengan seorang penghujat, dengan seorang penyelamat. Malaikat penjemput maut menghampiri aku dalam mimpiku. “Saya sekarang datang menjemputmu, Tiara, “sapa malaikat itu dengan suara yang lembut. “Tidak, jangan sekarang. Aku belum siap!” Tiba-tiba ada saat di mana kami terdiam. Malaikat itu tiba-tiba menjadi sangat ramah, membiarkan waktu kepada saya memikirkan apa yang sebetulnya ingin saya lakukan dalam hidup saya, jika jiwa saya tidak diambil malaikat itu. Momen keheningan itu seperti sebuah pengalaman kekekalan. Malaikat itu bertanya, “Apa yang masih ingin kamu lakukan dan kamu butuh berapa lama untuk melakukannya?” Kata-kata akhirnya keluar dari mulutku …. “Gedung. Bimbingan. Belajar. Anak-anak. Anak-anak mereka. Membutuhkan waktu yang lama. Berikan aku kehidupan, aku akan menggunakannya!” Saya terjaga dari tidurku ketika saya membayangkan sahabatku yang aku ceritakan di atas berkata, “Maksud Anda saya tidak akan pernah bisa keluar dari rumah yang kecil dan kumuh ini? Sebelum saya mati saya harus sudah tinggal di rumah yang mewah dan luas!” Kadang-kadang mimpi-mimpi yang kita alami terasa aneh. Kita tidak mengerti. Tapi, kalau kita terus mencermatinya, mimpi bisa menjadi suara batin yang menyadarkan kita akan sesuatu yang amat berharga dalam hidupmu. Di manakah engkau menaruh hidupmu?
Diterjemahkan dengan bebas oleh Jeremias Jena.
Sumber: Rebbetzin Tzipporah Hellen, A Meaningful Life. http://www.aish.com/spirituallity/growth/A_Meaningful-Life.asp
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.