Inti Kegiatan Kuliah CB-3
Maret 4, 2009 at 6:44 am | In Character Building | 4 CommentsTags: agama, character, huston smith
- Kuliah di kelas (13 kali pertemuan, 1 UTS dan 1 UAS) 2. Tugas Mandiri (TM) minimal 3-5 yang akan diambil nilainya. 3. Mini Project (bisa laporan kegiatan kelompok atau studi kepustakaan).
- Laporan kegiatan kelompok: Setiap kelompok yang beranggotakan teman-teman seagama diminta mengunjungi satu komunitas agama lain atau mengamati kegiatan keagamaan agama lain dan menulis laporan mengenainya.
- Studi kepustakaan: Membaca literatur mengenai agama kemudian menulis sebuah karangan (minimal 5 halaman A4, spasi tunggal) mengenai agama tersebut. Buku-buku yang diusulkan:
- Huston Smith, Agama-agama Manusia, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2001.
- Hagen Berndt, Agama yang Bertindak, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2006.
- Judul-judul lain bisa diusulkan, batas usulan pada pertemuan ke-4.
- Diskusi kelompok di kelas untuk materi-materi tertentu.
- Presentasi kelompok yang membahas materi tertentu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. 4. Ada 2 jenis kelompok diskusi, yakni yang terdiri dari kelompok sesama agama dan kelompok yang berbeda agama.
- Kelompok yang sama agama: siapkan presentasi kelompok pertemuan 4. Masing-masing kelompok diberi kesempatan sekitar 20 menit untuk memperkenalkan salah satu ibadah kepada Tuhan. Setiap kelompok presentasi dan tanya jawab.
- Kelompok yang beda agama, dibentuk 5 kelompok. Rincian persiapan materi presentasi:
- Kelompok 1: Materi pertemuan 3: Iman dan Agama
- Kelompok 2: Materi pertemuan 3: Iman dan Agama
- Kelompok 3: Materi pertemuan 6: Komunikasi Pribadi dengan Tuhan
- Kelompok 4: Materi pertemuan 10: Setia pada kebenaran
- Kelompok 5: Materi pertemuan 11: Berlaku Arif dan Bijaksana
Diskusi Kelompok
Februari 14, 2008 at 5:22 am | In Character Building | Leave a CommentMemang tidak tergolong soleha, tetapi Imel tetap seorang gadis baik-baik. Dia berasal dari keluarga terpelajar yang tinggal di sebuah kota kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ayah dan ibunya lulusan sebuah perguruan tinggi swasta di kota itu. Sebagai anak yang dibesarkan dalam keluarga terpelajar, Imel menyadari betapa pendidikan yang baik mampu menyiapkan seseorang memasuki dunia kerja. Demikian juga yang menjadi keyakinan ayah dan ibunya. Karena itulah, ketika memutuskan untuk kuliah di Jakarta, ayah dan ibu Imel langsung mengizinkan. Lagi pula, mereka tidak khawatir karena di Jakarta Imel bisa tinggal di rumah bibinya yang kebetulan tidak jauh dari kampus. Tentu masa-masa awal tinggal di Jakarta plus berbagai kesulitannya sangat disadari dan diantisipasi Imel dan keluarganya. Kehidupan di Jakarta memang susah-susah gampang. Tidak ada formula yang pasti untuk bisa bertahan hidup. Di tengah kesibukan kuliah, Imel tetap menyibukkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan kepemudaan di gerejanya. Di kelompok itulah dia mengenal Martin, yang ternyata juga kuliah di kampus yang sama. Mulanya biasanya saja, memang, tetapi seringnya mereka bertemu membuat Martin “menaruh hati” pada Imel. Lama menunggu, Martin akhirnya berani mengungkapkan maksud hatinya. Imel menyambut cinta Martin, dan jadilah dua sejoli itu berpacaran. Masa pacaran satu tahun pertama terasa biasa dan standar seperti kebanyak orang lain. Meskipun demikian, cinta antara keduanya semakin dalam bersemi. Imel pun sudah tidak sungkan lagi bertandang ke rumah orang tua Martin. Apalagi Martin pernah mengakui kalau orang tuanya sangat mendukung cinta mereka, bahkan setuju jika suatu saat Imel menjadi bagian dari keluarga mereka. Siapa yang tidak bangga memiliki pacar seperti Martin. Tetapi justru kebanggaan itu yang sekarang menghantui Imel. Masalahnya mungkin sepele bagi orang lain, tetapi tidak bagi Imel. Siang itu Imel bertandang ke rumah Martin. Kebetulan di rumah tidak ada siapa-siapa selain Martin. Di saat itulah segala sesuatu terjadi. Dengan alasan cinta yang tulus, Martin mengajak Imel berhubungan intim. Kalau dipikir kembali, jarak antara ajakan tersebut sampai detik ketika kejadian itu berlangsung sangat cepat terjadi. Tidak ada waktu yang cukup bagi Imel untuk memikirkannya secara matang dan rasional. Antara cinta dan penyerahan diri yang tulus—menurut Imel—pertahanan dirinya pun goyah. Sebagai hiburan, Imel berpendapat bahwa tindakan semacam itu toh tidak asing di kalangan remaja sekarang. Apalagi sudah ada komitmen di antara Imel dan Martin untuk melangsungkan hubungan sampai ke jenjang pernikahan. ”Melakukannya sekarang atau nanti setelah menikah itu sama saja, ”demikian Imel. Meskipun demikian, perasaan bersalah sering datang menghantui bahkan tidak jarang melukai hati Imel. Kekhawatiran akan kegagalan hubungan dan perasaan berdosa selalu menjadi bagian dari rasa penyesalan itu. Diskusikan cerita di atas dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut!
1. Apakah Imel memang bersalah? Apakah Martin pun bersalah?
2. Wajarkah tindakan atau perbuatan yang dilakukan Imel dan Martin?
3. Imel dan Martin cukup taat beragama, tetapi mengapa keduanya mau melakukan hubungan intim sebelum menikah?
4. Di manakah peran suara hati? Apakah suara hati dapat kita andalkan dalam menghadapi masalah seperti ini?
5. Apa kiat-kiat Anda ketika berhadapan atau berada dalam masalah yang kurang lebih sama?
Kisah 5
September 21, 2007 at 6:14 am | In Character Building | 2 CommentsNama :Ferdinandus
NIM :0800751076
Kelas :06PIA
Sewaktu remaja memang pada dasarnya tidak dapat mengendalikan gejolak muda baik itu sikap maupun pembentukan kepribadian. Masa remaja adalah masa dimana hormon seseorang mulai meningkat sehingga menyebabkan tingkah laku dan sikap menjadi sangat luar biasa hebat.
Pada saat itu kira-kira umur saya sekitar 15 tahun, kami sekeluarga berkumpul di ruang tamu. Pada awalnya hanyalah lelucon dari ayah saya tetapi entah mengapa saya tiba-tiba marah dan tidak dapat mengendalikan kata-kata saya yang keluar melalui mulut saya ini mungkin karena saya waktu itu masih tidak dapat mengendalikan dan membendung amarah saya, sehingga keluar begitu saja dan berakibat menyinggung perasaannya.
Saya mengucapkan kata-kata kasar kepadanya beserta caci-maki. Sampai sekarang pun saya tidak mengetahui penyebab kemarahan tersebut. Anehnya sehari setelah kejadian tersebut, saya mendapat pelajaran agama yang terdapat pada jadwal hari itu di sekolah. Pelajaran agama tersebut menjelaskan arti dari pentingnya orangtua dalam kehidupan kita sebagai anak.
Dalam kehidupan kita hampir 40% masih memerlukan bimbingan dari orang lain terutama orangtua kita sendiri yang dari awal kita lahir ke dunia yang bisa dikatakan kejam terhadap setiap indivisu manusia yang tidak dapat menjaga dirinya sendiri. Orangtualah yang selalu menasehati kita, membimbing kita baik dalam keagamaan maupun kehidupan di masyarakat. Mereka membesarkan, membiayai, dan tak tangung-tanggung mengorbankan diri mereka sendiri demi kehidupan anaknya agar anak-anak mereka senang selalu.
Dalam penjelasan tersebut, entah mengapa saya tiba-tiba sadar dan teringat apa yang telah saya lakukan kemarin kepada orangtua saya sendiri. Tetapi dalam diri saya masih saja tidak mengakui apa yang telah saya lakukan dan terus menyalahkan orangtua saya lah yang bersalah. Memang masa remaja adalah masa yang bisa dibilang cukup sulit untuk mengenal lebih dalam akan sesuatu dan tidak dapat berpikir dengan pikiran dingin melainkan dengan amrah dan dengki yang berkepanjangan.
Tetapi menjelang 3 hari. 4 hari, 5 hari, dan hari-hari terus berganti saya belum juga meminta maaf kepada orangtua saya atas apa yang telah saya dan juga belum berbicara satu sama lain. Kami semua lakukan tindakan kami atas ego kami masing-masing. Tetapi entah mengapa saya bermimpi akan kematian yang menimpa saya mungkin saja itu karena saya terlalu memikirkan masalah tersebut atau juga pesan dari-Nya yang disampaikan melalui mimpi. Setelah sadar apa yang telah saya lakukan saya pergi ke orangtua saya untuk meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan hal trsebut lagi dan lagi.
Memang Tuhan dapat menyadarkan umatnya melalui cara apa saja dan tidak dapat di terka oleh siapapun di dunia ini.Pada dasarnya manusia haruslah menghormati orangtua yang telah bersusah payah membesarkan kita semua dan maafkanlah mereka jika mereka membuat sedikit kesalahan yang mungkin menyinggung perasaan kita baik yang mereka sadari atau tidak.
Seperti itulah refleksi daridalam diri saya mengenai ajaran agama sangatlah membantu diri saya seutuhnya walupun dengan itu kita semua umat dapat membuat sesuatu kebaikan untuk sesama kita manusia
Kisah 4
September 21, 2007 at 6:13 am | In Character Building | Leave a CommentNovianti06PIA0800753176 Pengalaman hidup saya di mana agama dan ajarannya sungguh2 berperan / membantu adalah ketika saya SMA. Dulu saya belajar di sekolah yang sama dari TK sampai SMP dan saya mempunyai beberapa sahabat yang akrab. Mereka semua baik-baik dan saya juga dekat dengan keluarga sahabat-sahabat saya tersebut. Kemudian ketika SMA kami semua pindah ke SMA yang berbeda-beda dan saya jadi jarang bertemu dan berhubungan dengan sahabat-sahabat saya tersebut. Tetapi yang saya tahu selain saya, sahabat-sahabat saya yang lain masih saling berhubungan, hanya saya yang jarang berhubungan. Ketika kelas 2 SMA saya mulai sering sms-an dan mulai ada komunikasi yang lumayan sering dengan teman-teman saya lagi. Apalagi dengan banyaknya teman2 perempuan saya yang mengadakan acara ulang tahun yang ketujuh belas (sweet seventeen) kita jadi sering bertemu..Suatu hari, salah satu teman saya ada yang berulang tahun kemudian dia membuka kamar di salah satu hotel, awalnya saya pikir kami hanya bersenang-senang menginap dan berkumpul bersama, tetapi tiba-tiba saya melihat ada yang membawa minuman keras. Dan mereka meminum2 minuman keras tersebut. Awalnya mereka hanya minum-minum sendiri tetapi lama-lama saya juga diajak minum, tetapi saya menolak karena saya takut dosa. Saya takut juga karena beberapa teman saya ada yang sudah mabuk berat dan berbicara yang tidak jelas. Dan belakangan saya mengetahui kalau ternyata mereka sudah sering mabuk-mabukan seperti itu. Saya tidak tahu sejak kapan mereka begitu karena mungkin sudah lama juga saya tidak bertemu dengan mereka. Sejak saat itu saya agak2 menghindari teman-teman saya tersebut, kami masih saling berhubungan tetapi kalau mereka mengajak kumpul bersama saya akan menanyakan dulu mau ke mana, karena saya takut dengan gaya hidup mereka yang bebas dan bertentangan dengan ajaran agama saya yang tidak memperbolehkan minum minuman beralkohol. Saya tetap menghargai teman-teman saya tersebut tetapi bukan berarti saya harus mengikuti gaya hidup mereka. Saya berdoa agar saya tidak terjerumus ke pergaulan yang salah karena saya ingin menunjukkan kepada orang tua saya bahwa saya akan menjadi orang yang baik dan jauh dari hal-hal yang terlarang.
Kisah 3
September 21, 2007 at 6:12 am | In Character Building | Leave a CommentTugas Character Building
Haryo Suryo putro
0800750224 / 06PIA
Disaat keluarga saya sedang menghadapi sebuah masalah ekonomi yang sangat besar, pada saat itu saya selalu bertanya-tanya dalam diri saya”Kenapa masalah keluarga kami tidak ada habis-habisnya?“ walaupun kami sekeluarga sudah bekerja keras sekalipun. Banyak cara yang sudah kami sekeluarga lakukan agar kami dapat keluar dari masalah tersebut, tetapi setiap cara yang kami coba selalu menemui kegagalan. Sampai pada suatu saat kami sekeluarga merasa sudah tidak ada harapan lagi bagi kami agar dapat keluar dari masalah tersebut, dan karena kami sekeluarga beragama Katolik maka pada waktu itu orang tua saya berusaha meminta bantuan doa kepada suster-suster ditempat dulu saya bersekolah, kebetulan keluarga kami memang dekat dengan suster-suster ini. Ketika suatu saat kami sekeluarga sedang melakukan misa pagi di kapel dekat rumah kami, ternyata suster sudah menceritakan masalah keluarga kami kepada pastor. Sehingga pada saat pastor memimpin misa pagi, ia juga memohon kepada seluruh umat yang hadir untuk turut mendoakan keluarga kami yang sedang menghadapi masalah. Pada saat misa pagi tersebut pastor juga memberikan pidato agar jangan sampai masalah yang kita hadapi membuat kita menjadi jauh dari Tuhan terlebih lagi merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan kita atau bertindak tidak adil kepada kita.
Pada saat kami sekeluarga menghadapi masalah yang sangat besar ini, agama mengajarkan kami untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan dalam situasi apapun, jangan pernah menyerah dan tetap percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita anak – anak-Nya. Dan kami sekeluarga pun menjadi lebih tenang dalam menghadapi masalah tersebut, karena kami yakin jika Tuhan selalu bersama kita maka tidak ada sesuatu yang mustahil.
Dari pengalaman pribadi saya tersebut peranan agama bagi saya adalah memberikan ketahanan yang lebih bagi saya dalam menghadapi cobaan hidup karena mengingatkan saya bahwa sebesar apapun masalah yang kita hadapi Tuhan tidak akan pernah meninggalkan anak-Nya.
Kisah 2
September 21, 2007 at 6:04 am | In Character Building | Leave a CommentFanni Margaretta
0800741314
06PIA
Character Building III
Tugas Mandiri 1
Bagi saya, agama dan ajaran-ajarannya sangatlah membantu saya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dunia ini banyak pengaruh positif dan negatif, tergantung bagaimana diri kita memilih mana yang terbaik untuk diri sendiri.
Sewaktu saya masih SMU, saya mulai mengenal apa itu dunia malam dan mengetahui seperti apa kehidupannya. Perlahan saya mulai memasuki kehidupan malam yang lebih dikenal dengan sebutan DUGEM (Dunia Gemerlap) dimana aktivitasnya clubbing di club-club tertentu. Waktu itu, DUGEM lagi trend di kalangan teman-teman saya. Maklum lah, kami adalah anak-anak yang baru mulai melek dengan lingkungan luar. Perjalanan saya dimulai dengan adanya party-party sweet seventeen teman-teman saya. Ada yang merayakannya di hotel yang disertakan acara lantai dansa dengan musik clubbing. Ada yang mentraktir makan di café lalu lanjut ke club tertentu.
Club yang pertama saya masuki adalah sebuah club yang cukup punya nama di kawasan Taman Ria Senayan. Waktu itu, saya masuk ke dalam club tersebut dalam rangka acara sweet seventeen yang dilanjut dengan clubbing. Suasana riuh pun langsung didapat saat memasuki club tersebut. Dengungan musik begitu keras sehingga membuat orang harus sedikit berteriak saat berbicara. Banyak orang turun ke dance floor (lantai dansa) untuk jogging (menari). Ada juga yang duduk di bar untuk minum beberapa jenis minuman beralkohol seperti tekila, dsb. Banyak juga asap rokok yang mengepul dalam ruangan. Karena saya baru pertama kali masuk club, jadi saya tidak tahu harus memesan minuman apa. Lalu teman saya yang memesannya. Begitu menenguk minuman tersebut, rasanya seperti ada yang pahit-pahit dan bersoda. Lalu saya tanya minuman apa yang baru saya minum, teman saya menjawab “Whisky Cola”.
Dalam hati saya berkata, “Oh, ini yang namanya Whisky Cola. Rasanya seperti ini”. Setelah minum minuman tersebut, tidak ada rasa mabuk atau mual sedikit pun. Karena kadar alkohol minuman tersebut masih rendah. Malam pun semakin larut, akhirnya kami memutuskan untuk pulang setelah menonton live performance T-Five. Beberapa bulan kemudian, teman baik saya sweet seventeen. Dia mentraktir saya dan beberapa orang di sebuah café di bilangan Taman Ria Senayan. Kemudian lanjut clubbing ke salah satu club yang cukup terkenal. Daerahnya melewati Taman Lawang. Saat itu lah saya pertama kali melihat kehidupan waria yang bekerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersil) di Taman Lawang. Selama ini saya hanya sekedar mendengar dan mengetahui kalau Taman Lawang tempat berkumpulnya para waria mencari nafkah. Ternyata waria-waria tersebut, ada yang cantiknya melebihi wanita tulen (asli) dan memiliki berbagai macam karakter.
Beberapa menit kemudian, sampailah kami di club ternama tersebut. Setelah melewati berbagai macam prosedur seperti pembayaran, pemeriksaan orang yang akan masuk, dll. Akhirnya kami masuk ke dalam club tersebut. Wow! Suasana clubnya sangat berbeda dengan yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Di sini, orang-orangnya lebih liar dan berani mengekspresikan gerakan-gerakan tubuhnya di dance floor (lantai dansa). Musik yang dihentakan lebih kencang dan lebih variatif. Sekitar 40 menitan di club itu, kami memutuskan untuk pulang karena para orang tua sudah menelpon untuk segera pulang. Tentu saja, kami ke club tersebut tanpa sepengetahuan orang tua.
Dari 2 pengalaman saya itu, ada banyak pelajaran yang dapat saya ambil. Pertama, saya mulai memahami seperti apa kehidupan malam yang dilalui kebanyakan orang. Kedua, saya semakin menyadari bahwa iman yang kuat sangat dibutuhkan untuk membentengi kita dari pengaruh negatif yang datang dari lingkungan sekitar kita. Iman yang kuat didapat dari ajaran-ajaran agama yang kita anut. Sehingga kita tidak terpengaruh oleh ajakan-ajakan teman yang menyesatkan. Dan saya berhasil melaluinya dengan baik.
Kisah 1
September 21, 2007 at 5:56 am | In Character Building | Leave a CommentKisah berikut ditulis oleh Sdr. Benny Candra. Dia adalah mahasiswa saya semester genap (2006/2007)
Cerita ini adalah mengenai keyakinan saya terhadap ajaran dari agama yang saya anut.Dimana dalam ajaran agama saya ada dikatakan mengenai “Hukum karma”, yaitu suatu perbuatan yang akan diterima dari hasil perbuatan kita, karma ini dapat kita terima tidak tentu waktunya.mungkin bisa akan langsung ataupun dilain waktu.Inilah yang disebut dengan: “Berbuat baik akan mendapatkan balasan baik, Berbuat jahat akan mendapatkan balasan buruk, Bukanlah tidak ada balasan karma, Hanya waktunya belum tiba saja”.
Berbicara mengenai karma saya mempunya suatu keyakinan, bahwa hal tersebut merupakan suatu hal yang ada dalam setiap kehidupan manusia.Karma merupakan suatu sebab - akibat.hal ini pun selalu saya alami dalam kehidupan ini, Mulai dari masalah yang kecil sampai masalah yang cukup besar. Kejadian – kejadian umum tersebut adalah mulai dari saya mengetawakan teman saya yang mendapatkan masalah, Sehingga saya mendapatkan masalah yang sama juga. Tetapi saya tetap harus menerima hasil yang telah saya perbuat.karma yang lain,yang pernah saya alami adalah pada saat sekolahan, waktu itu saya sedang mengendarain motor diselah – selah mobil tetapi sial nya pada saat itu ada anak yang sedang larian langsung menabrak saya dari samping sehingga saya dan dia terpental.akhirnya banyak orang yang mengerumuni kami dan mereka menanyakan bagaimana kejadian tersebut, lalu saya menjelaskan situasinya tetapi saya ada sedikit berbohong bahwa saya mengendarain motor dengan kecepatan yang pelan walaupun kejadian yang sesungguhnya sebaliknya.Akhirnya orang – orang tersebut berangkapan bahwa kecelakan tersebut merupakan kejadian biasa aja, walaupun si anak tadi mengalami luka – luka tetapi saya tidak peduli karena saya yang ada di kepala saya adalah emosi, serta merasa kesal (karena kendaraan yang saya gunakan masih baru sehingga mengakibatkan kerusakan ) hal ini saya ceritakan kepada teman baik saya yang begitu kental mengikuti setiap ajaran agama kami.ternyata dari kebohongan saya maka karma yang saya dapat adalah kejadian tersebut dialami oleh saya yang kejadian sama, yaitu di tabrak motor, dimana dalam pikiran saya tidak pernah memikirkan karma.Setelah saya sembuh teman saya datang, seperti biasa kami cerita –cerita sampai akhirnya dia mengungkit kejadian yang baru saya alami baru – baru ini, dia mengatakan kepada saya itu merupakan hasil dari karma yang telah saya perbuat, walaupun saya tidak mempercayai 100% tetapi seiring waktu dan hal – hal yang saya alami, saya mulai percaya bahwa karma itu memang ada.
Mulai dari hal – hal tersebut saya nambah meyakinin ajaran dari agama yang saya anut.Biarpun saya masih kurang mengerti, dan saya masih selalu jawaban dari semua teka – teki (suatu hal yang gaib) yang ada di dunia ini.walaupun cerita ini hanya suatu cerita kecil mengenai suatu ajaran agama, tetapi hal tersebut merupakan suatu yang berharga, karena suatu tingkatan harus dimulai dari yang paling kecil kemudian baru ke yang besar.
Konsumerisme
Juni 18, 2007 at 2:24 pm | In Character Building | 3 Comments16 Juni 2007, kuliah Character Building 3 untuk semester genap 2006/2007 berakhir. Seminggu lagi para mahasiswa akan menempuh ujian akhir semester. I wish you will do your final exam well.
Satu dari sekian banyak pemikiran selalu ada dalam pikiran saya. Telah lebih dari lima tahun saya mengajar Character Building 3 di UBinus, dan masalah ini selalu kembali. Salah satu tugas mahasiswa yang biasanya saya mintakan setiap semester adalah menulis tantangan mana yang paling berat dihadapi: apakah melawan godaan seks, apakah melawan godaan konsumerisme, atau melawan godaan kekuasaan.
Yang menakjubkan saya adalah mahasiswa umumnya menjawab bahwa mereka paling berat melawan konsumerisme. Di satu pihak, kenyataan ini sebetulnya tidak mengherankan amat, karena hampir seratus persen mahasiswa saya berasal dari keluarga kaya. Tetapi di lain pihak saya lalu berpikir, apakah konsumerisme sunggguh menjadi godaan nyata dewasa ini?
Para mahasiswa bercerita banyak tentang bagaimana mereka sering tidak berdaya mengikuti kemauan pasar. Ada yang sangat tidak tahan jika tidak membeli baju atau celana model terbaru. Ada yang sangat tidak tahan untuk tidak membeli handphone baru, sepeda motor baru, mobil baru, alat-alat elektronik baru, dan sebagainya. Intinya, konsumerisme menjadi godaan yang nyata.
Disebut godaan karena dalam konteks kuliah CB 3, konsumerisme diletakkan sebagai salah satu halangan bagi manusia untuk membina komunikasi yang baik dengan Tuhan dan manusia. Konsumerinsme dapat menciptakan kelekatan (attachment) kepada benda atau barang tertentu sebegitu rupa sehingga orang sulit bersikap lepas-bebas. Padahal, salah satu prasyarat terjalinya komunikasi manusia dengan Tuhan adalah sikap lepas-bebas (detachment).
Karena itu, saya semakin sadar dan yakin, bahwa generasi muda sekarang perlu didampingi dan dibimbing supaya membangun sikap solidaritas dalam diri mereka. Terlalu banyak orang di sekitar yang hidup dalam kekurangan, sementara ada segelintir orang yang hidup dalam kemewahan. Karena itu, penting sekali mendorong mahasiswa untuk memiliki sikap terbuka dan kesediaan untuk berbagi dengan sesama. Inilah sikap solidaritas yang dapat diusahakan dan dimiliki mahasiswa.
Semoga Tuhan memberkati kita semua!
Tobat
Maret 17, 2007 at 1:34 am | In Character Building | 2 CommentsPengantar
Berikut adalah kisah rekaan saya. Cerita ini saya gubah untuk kepentingan kuliah CB-3. Mahasiswa akan saya minta menelusuri dan mendeteksi tahap-tahap perubahan hidup Lita ketika dia “kembali” percaya pada Tuhan. Tokoh yang ada dalam cerita ini pun fiktif belaka. Terima kasih!
Selalu Ada Jalan Untuk Kembali
Namaku Lita. Aku bukan seorang ibu yang sangat taat beragama. Bagiku, Tuhan pasti ada. Eksistensinya tidak dapat kupungkiri lagi, terutama ketika aku berhadapan dengan peristiwa atau kejadian sehari-hari yang sulit kupahami dengan nalar. Aku yakin, pendidikan agama yang aku terima sejak kecil punya andil besar menanamkan dalam diriku kesadaran akan eksistensi Tuhan. Ya, Tuhan Maha Tahu. Dia Maha Pengasih lagi Penyayang. Dia mencintai manusia, cinta-Nya tak berkesudahan, dan seterusnya. Bagiku, semuanya ini hanyalah predikat, atribut, atau apapun juga namananya, yang tidak bermakna apapun bagi hidupku. Kalau kemudian aku harus berdoa, itu kulakukan karena rasa malu terhadap kedua orang tuaku.
Meskipun bukan berasal dari keluarga kaya, ayahku cukup punya nama di masyarakat. Dia seorang guru SMA dengan predikat segudang: penuh perhatian, kebapaan, rama, suka menolong, suka mendengarkan, dan—ini yang sering membuat aku kagum—saleh. Mungkin orang tidak salah menyematkan atribut ini. Ayahku tidak hanya rajin berdoa. Dia juga gemar beramal. Dia sering mengatakan kepada kami anak-anaknya, bahwa hidup ini hampa makna kalau tidak mengandalkan Tuhan. Sebagai anak, saya tahu dengan baik, bahwa ayahku memang seorang yang saleh. Tuhan seakan begitu dekat dan nyata dalam setiap detak jantung dan desah napasnya. Kehadiran Tuhan terasa memenuhi ruang tempat di mana ayahku berpijak.
Dari semua petuah yang pernah dia wariskan, yang satu ini sangat mengusik kesadaranku. Di malam sebelum hari pernikahanku dengan Benny, ayaku berkata, “Zita, ayah hanya berharap agar kamu mau membangun rumah tanggamu di atas fondasi iman yang kokoh.” Ya, aku tahu! Ayah ingin agar aku selalu mengandalkan Tuhan.
Harus kuakui, ini bukan perkara mudah bagiku. Aku seorang arsitek lulusan perguruan tinggi negeri tersohor di ibu kota. Pekerjaanku membiasakan aku berpikir sangat rasional dan terukur. Bagiku, Tuhan memang ada, tapi hanya sebatas mengisi ruang kosong pengalaman atau kejadian yang belum mampu dijelaskan nalar. Aku juga sangat kalkulatif dan mementingkan hasil akhir yang nyata dan terukur. Bagiku, soal ibadah, sedekah, doa berjemaah, praktik-praktik ritual keagamaan, dan sebagainya, lebih sering menyita waktu dari pada membawa keuntungan. Hasil akhirnya pun masih jauh dari jelas.
Begitulah warna dan irama kehidupan aku dan keluargaku di lima tahun pertama perkawinanku. Kalau saja “tragedi” yang menimpa putra tunggalku tidak pernah terjadi, aku barangkali tidak pernah bisa menghayati kehidupan beragama seintensif sekarang. Anakku seorang mahasiswa teknik dan anggota kelompok pencinta alam. Begitu banyak gunung yang yang telah ditaklukkan putraku dan teman-temannya. Dia sering bercerita tentang indahnya muka bumi ketika dipandang dari atas gunung. Dia juga menegaskan betapa kecil dan rapuhnya manusia saat berada di hadapan daya kekuatan alam yang maha hebat. Saya setuju dengan pencerahan batin yang dicapai anakku, bahwa mencapai puncak sebuah gunung butuh penyerahan diri total dalam kerendahan hati pada Sang Khalik yang Maha Tinggi. Tidak kusangka, itulah kata-kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya seminggu sebelum dia bersama keempat rekannya mengadakan pendakian lagi. Dan itu benar-benar menjadi sebuah wasiat yang sangat bernilai artinya, karena setelah itu, anakku tidak pernah kembali. Dia hilang ditelan bumi. Jejaknya tak tercium. Asa untuk mendekap sekali lagi jasad putraku pun sirna ketika tim SAR dibantu petugas menara pemantau memutuskan bahwa anakku dan rekan-rekannya benar-benar hilang.
Sejak kejadian itu, kata-kata ayahku kembali mengusik kesadaranku. Zita, andalkan Tuhan dalam hidupmu! Ya, benar. Aku harus mengandalkan Tuhan, bukan ketika nalarku sudah tidak sanggup lagi mengurai masalah. Juga bukan sebagai semacam hiburan sesaat atas derita batin kehilangan putra kesayanganku. Putraku seakan mengajari aku bagaimana Tuhan harus dicari. Harus dengan keuletan dan kesabaran, harus dengan kekuatan menahan rasa sepi, ketakutan dan ketidakpastian sama seperti yang dilakukan para pendaki gunung. Tapi, yang mungkin membedakan aku dengan putraku adalah bahwa Tuhan “menemukan” aku ketika aku tidak sanggup dan tidak mau mencari diri-Nya.
Titik balik pun menghampiri hidupku, dan aku tidak pernah menyesal karena perubahan ini. Tuhan telah membawaku kembali kepada-Nya, bukan semata-mata karena aku kehilangan putraku, tetapi terutama ketika aku lalai memahami kehadiran-Nya. Tuhan telah meluruhkan kebekuan hatiku dan mendekap aku dalam kasih setia-Nya ketika aku lebih mengandalkan kekuatan nalarku. Sejak saat itu dan seterusnya, aku hanya memiliki satu tekad, dan itu sekaligus menjadi untaian doa-doaku saban hari. “Izinkan aku mendaku gunung-Mu, ya Tuhan. Biarkan aku ikut merasakan sunyi sepi jagat ini. Karena Engkau dapat kutemui bukan ketika aku sanggup menaklukkan dunia, tetapi ketika aku sudud dan berserah diri. Total hanya bagi-Mu. Dan semoga orang-orang di sekitarku dan sekalian semesta alam merasakan kehadiran-Mu, sama seperti aku merasakan kehadiran diri-Mu dalam diri ayahku, almarhum.”
Bagaimana kamu memahami kisah ini? Dapatkah kamu menunjukkan tahap-tahap perubahan hidup Lita dampai dia memutuskan kembali kepada Tuhannya?
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.