The Blessings In Disguise!
Mei 23, 2008 at 7:02 am | In Cerita Inspiratif | Leave a CommentTags: beruntung
Dalam sebuah e-mail dari teman pernah ada kisah sepasang suami-istri dan anaknya. Ceritanya kira-kira begini. Adalah sepasang suami-istri yang sudah lama tidak mempunyai anak.
Suatu hari sang istri ternyata hamil lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Semua tetangga mengatakan mereka adalah pasangan yang beruntung. Anaknya laki-laki lagi. Kalau nanti sudah dewasa, bukankah dia bisa bekerja keras dan merawat orang tuanya? Sungguh beruntung mereka punya anak laki-laki.
Ternyata anak tersebut sangat senang kuda. Dia sangat ingin memiliki seekor kuda. Tapi mereka miskin sehingga tidak bisa membeli hewan tersebut. Semua orang mengatakan bahwa mereka benar-benar sial karena miskin, sehingga tidak bisa membeli kuda. Kalau mereka kaya, kan bisa beli kuda? Sial benar.
Suatu hari ayahnya diberi seekor anak kuda oleh pelanggannya yang sering membeli kayu bakarnya. Jadilah anak itu punya seekor kuda. Semua orang mengatakan mereka sangat beruntung. Ingin punya kuda, eh ada yang memberi kuda. Beruntung sekali.
Anak itu pun belajar berkuda. Dia sering berkuda ke mana-mana. Suatu hari, ketika sedang berkuda. ternyata kuda tersebut mengamuk, sehingga anak itu terjatuh dan kakinya patah. Sejak kejadian itu dia menjadi pincang apabila berjalan.
Semua orang menyesali mengapa dia berkuda. Kalau dulu tidak punya kuda, kan dia tidak akan jatuh. Dan kakinya tidak akan pincang. Sial. Mengapa punya kuda? Lebih baik tidak usah punya kuda. Sial sekali.
Setelah anak tersebut menginjak dewasa, ternyata di negara tersebut pecah perang dengan negara lain. Semua pemuda harus menjadi serdadu. Anak pasangan suami-istri itu juga harus mendaftar. Orangtuanya khawatir kalau anak satu-satunya ikut berperang. Semua tetangga merasa kasihan dan menyesali mengapa dulu tidak lahir anak perempuan saja. Kalau anak perempuan kan tidak harus berangkat berperang. Aduh, sial benar, mengapa pasangan itu dulu melahirkan anak laki-laki?
Ketika dilakukan pemeriksaan kesehatan ternyata anak itu yang kini sudah tumbuh menjadi seorang pemuda, tidak diterima sebagai serdadu karena kakinya cacat. Semua orang mengatakan, beruntung sekali dia tidak harus berperang. Coba kalau dulu tidak jatuh dari kuda, dia pasti harus ikut berperang. Untung dulu dia punya kuda. Untung dulu dia jatuh dari kuda. Untung kakinya pincang. Sungguh beruntung dia.
Dari cerita ini, sebenarnya untung dan sial itu apa sih? Kapan seorang disebut beruntung dan kapan kurang beruntung? Ketika anak laki-laki yang lahir, katanya beruntung, tapi ketika dia harus berperang, orang-orang mengatakan mengapa dulu tidak lahir anak perempuan saja?
Ketika dia mendapat kuda, katanya beruntung, tapi ketika dia pincang karena jatuh dari kuda, katanya sial. Orang-orang menyesali mengapa punya kuda. Lalu ketika dia tidak jadi berperang karena pincang, kata orang dia beruntung karena dulu pernah jatuh dari kuda. Untung dulu punya kuda. Untung dia pincang.
Jadi, sebenarnya kapan seseorang sial dan kapan seseorang beruntung? Apakah karena tidak sesuai dengan yang kita harapkan lalu kita katakan sial atau kita anggap musibah? Apakah ketika sesuai dengan keinginan kita, lalu musibah tersebut bisa berubah menjadi keberuntungan? Kapan kita menyesali sesuatu? Kapan kita mensyukuri sesuatu? Mungkin saja apa yang dianggap sial atau musibah hari ini, mungkin bisa berubah menjadi keberuntungan di masa depan.
Melihat Berkah
Mengapa? Mungkin karena kita belum bisa melihat blessings in disguise. Kita tidak bisa melihat berkah dibalik musibah. Apa yang dilihat sebagai musibah hari ini, ternyata di kemudian hari baru kita sadari bahwa hal itu mengandung berkah.
Kisah berikut ini pernah saya tulis dari sudut pandang yang berbeda.
Sekali waktu ada seorang pria buta huruf yang bekerja sebagai penjaga sebuah gereja di Amerika Serikat. Sudah sekitar 20 tahun dia bekerja di sana. Suatu hari pemimpin gereja itu dipindahkan ke tempat lain dan digantikan oleh pemimpin baru.
Pemimpin baru ini menerapkan aturan baru. Semua pekerja harus bisa membaca dan menulis agar mereka bisa mengerti pengumuman yang ditempel di papan pengumuman. Penjaga yang buta huruf itu terpaksa tidak bisa bekerja lagi.
Dia sangat sedih dan berjalan pulang dengan lemas. Dia tidak berani langsung pulang ke rumah, tidak berani langsung memberitahu isterinya. Dengan sedih dia berjalan pelan menelusuri jalanan.
Setelah hari gelap sampailah dia di sekitar pelabuhan. Dia pun ingin membeli tembakau. Tapi setelah mencari kemana-mana, setelah mengelilingi beberapa blok, tidak ada satu toko pun yang menjual tembakau. Tiba-tiba, dia berfikir “Tembakau sangat perlu. Tapi di sekitar sini tak ada yang jual tembakau. Aku ingin jualan tembakau saja ah.”
Dia pun pulang, lalu dengan penuh semangat menceritakan idenya untuk berjualan tembakau kepada isterinya. Dia tidak lagi menyesali nasibnya yang baru saja kehilangan pekerjaan. Kemudian dia pun membuka kios tembakau. Ternyata tembakaunya laku keras.
Tak berapa lama, dia bisa membuka toko tembakau. Beberapa tahun kemudian dia bisa membuka beberapa cabang toko tembakau di tempat lain. Jadilah dia pedagang tembakau sukses.
Ketika sudah jadi orang kaya, dia pun pergi ke bank untuk membuka rekening. Tapi karena buta huruf, maka dia tidak bisa mengisi formulir. Karyawan bank berkata “Wah, Bapak yang buta huruf saja bisa punya uang sebanyak ini, apalagi kalau Bapak bisa membaca dan menulis, Bapak pasti lebih kaya lagi.” Dengan tersenyum dia berkata “Kalau saya bisa membaca dan menulis, saya pasti masih menjadi penjaga gereja.”
Waktu dia dipecat, dia merasa sedih, putus asa, dan mungkin menyesali kejadian itu. Peristiwa itu merupakan musibah. Tapi kini, dia bisa melihat bahwa mungkin nasibnya tidak akan berubah menjadi seperti sekarang kalau dulu dia tidak dipecat.
Apa yang dulu merupakan musibah, ternyata kini mendatangkan keberuntungan, menjadi berkah. Mari kita mencoba bersabar dan tabah dalam menghadapi apapun. Berdoa supaya bisa melihat berkah di balik musibah. Do not give up! See the blessings in disguise!
KEBAHAGIAAN
Mei 23, 2008 at 7:00 am | In Cerita Inspiratif | 2 CommentsTags: kebahagiaan
Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya endiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini.
Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, Sehingga dia harus masuk ke panti jompo.
Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.
Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator, aku menggambarkan keadaan kamarnya yang
kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.
Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja
mendapatkan seekor anjing. Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu Perkataan tersebut. Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak,
tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah
memutuskan menyukainya.
Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur. Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.
Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan. Hanya untuk kali ini dalam hidupku. Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan di bank. Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan.
Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan kita. Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku. Aku sedang menyimpannya.
Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi
bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. (give more)
5. (expect less)
ALERGI HIDUP
Mei 23, 2008 at 6:57 am | In Cerita Inspiratif | Leave a CommentTags: hidup
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : “Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati”. Sang Guru tersenyum : “Oh, kamu sakit”.
“Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati”.
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : “Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama “Alergi Hidup”. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita”.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku”, kata sang Guru.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi”, pria itu menolak tawaran sang Guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?”, tanya Guru.
“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, jawab pria itu lagi.
“Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini… Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang”.
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu” . Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : “Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang”.
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu”. Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami”.
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan”.
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !
BANGUN
Maret 28, 2008 at 5:08 am | In Cerita Inspiratif | Leave a Comment“Bangun” (artinya menyadari diri kita) itu seperti seorang gelandangan di London yang sedang mencari tempat untuk tidur pada suatu malam. Hari itu dia hampir tidak mendapatkan sepotong roti pun untuk mengisi perutnya. Akhirnya dia tiba di pinggiran sungai Thames. Malam itu hujan gerimis, karena itu dia menyelimuti dirinya dengan mantelnya yang usang dan berlubang. Dia hampir tertidur ketika tiba-tiba sebuah mobil Rolls Royce yang dikemudikan oleh seorang sopir berhenti. Dari mobil itu keluar seorang wanita muda yang cantik yang berkata kepada gelandangan itu, “Teman saya yang malang, apakah malam ini kamu akan tidur di tepi sungai ini?” Gelandangan itu menjawab, “Ya.” Wanita muda itu berkata, “Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kamu akan saya ajak ke rumah saya dan akan saya sediakan tempat tidur yang nyaman dan makan malam yang enak.” Wanita muda itu mendesak gelandangan itu untuk ikut ke rumahnya. Kemudia mereka naik mobil ke luar kota London dan tiba di suatu rumah besar yang berhalaman luas. Mereka dipersilahkan masuk dengan sopan oleh pengurus rumah tangga. Wanita itu berkata kepada pengurus rumah tangga itu, “James, layanilah teman saya ini sebaik mungkin dan tempatkan dia bersama para pelayan.” Dan James, pengurus rumah tanga itu melaksanakan permintaannya. Wanita muda itu kemudian mengenakan pakaian tidur dan bersiap-siap untuk naik ke tempat tidur, ketika tiba-tiba dia teringat pada tamunya. Maka diapun berjalan perlahan-lahan menuju tempat tinggal para pelayan. Dia melihat seberkas cahaya dari kamar tempat gelandangan itu tidur. Dia mengetuk pintu dengan halus, membukanya dan melihat bahwa gelandangan itu masih terjaga. Wanita itu bertanya, “Apakah ada masalah., teman?” “Apakah kamu tidak mendapat makan malam yang cukup baik?” Gelandangan itu menjawab, “Saya belum pernah makan seenak ini seumur hidup saya, nona.” “Apakah kamu merasa cukup hangat?” Gelandangan itu menjawab lagi, “Ya, ranjang ini hangat dan nyaman.” Kemudian wanita itu berkata lagi, “Mungkin kamu membutuhkan seseorang untuk menemanimu tidur. Bergeserlah sedikit, saya akan berbaring di sampingmu.” Wanita itu mendekatinya dan gelandangan itu bergeser dan diapun terjatuh ke dalam Sungai Thames.*** Diambil dari buku “Awareness. Butir-Butir Mutiara Pencerahan”. Karangan: Anthony De Mello, SJ. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001, hlm 63-64.
DILEMA ABORSI
Maret 28, 2008 at 5:04 am | In Cerita Inspiratif | Leave a CommentKisah ini diceritakan kembali oleh seorang mahasiswa saya, DE STEPHEN LIE dari Universitas Bina Nusantara (JAKARTA).
Kisah berikut ini dikutip dari buku “Gifts From The Heart for Women” karangan Karen Kingsbury. Buku ini dapat Anda peroleh di toko buku Gramedia, maupun toko buku lainnya. Inti ceritanya kira-kira sbb :
Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum mepunyai keturunan. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka.
Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan.Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya. Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi.
Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. “Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak”, kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut,dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian.
Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ? Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya,mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.
Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi. Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis.
Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne),mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka..
Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam…..
Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian. Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya…
Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :
1. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.
2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain.
3. Ibu Anne mengatakan “Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga”.
KISAH BURUNG GAGAK
Maret 28, 2008 at 4:52 am | In Cerita Inspiratif | 1 CommentAlkisah terdapat sekelompok burung gagak yang hidup rukun dan damai, seia-sekata baik dalam mencari makanan maupun dalam kehidupan komunitas sehari-hari. Suatu hari terlahir ke dalam komunitas burung gagak ini seekor anak burung gagak yang berbulu putih. Apakah ini sebuah penyimpangan mengingat berbulu hitam telah menjadi semacam “identitas” bagi komunitas ini. Yang jelas, semula komunitas ini belum menyadari kejadian ini sebagai penyimpangan ataupun ancaman serius bagi eksistensi komunitas.
Suatu hari, tatkala kawanan burung gagak ini sedang berburu makanan ke sebuah desa terdekat, mereka bertemu dengan sekelompok pemburu burung yang sedang mencari mangsa sambil menenteng sejata api di tangan. Dalam keadaan di mana ada bahaya di depan mata mereka baru menyadari bahwa teman mereka yang berbulu putih ternyata menjadi ancaman bagi keselamatan seluruh komunitas. Berbulu putih di antara komunitas gagak berbulu hitam tidak hanya menjadi sasaran bidik bagi para pemburu burung karena mudah dilihat, tetapi juga membahayakan eksistensi komunitas sedara keseluruhan.
Insya Allah, untuk sementara mereka lolos dari serangan musuh. Meskipun demikian, sebuah masalah serius yang menuntut pemecahan yang segera telah muncul ke dalam komunitas ini. Apa yang harus mereka perbuat dengan teman mereka yang berbulu putih itu? Setelah melalui sebuah perdebatan yang melelahkan akhirnya diputuskan bahwa teman mereka itu harus diusir dari komunitas. Mereka yakin bahwa mengorbankan seorang teman yang berbeda “hakikat” justeru menjadi jalan sati-satunya bagi pembebasan dari kemungkinan musnahnya komunitas. Mereka rupanya memegang prinsip dasar, bahwa lebih baik satu orang mati daripada seluruh masyarakat menjadi binasa karenanya.”
Entah mengapa, di komunitas pada domba yang tidak jauh dari situ juga terjadi hal yang kurang lebih sama. Ke dalam komunitas domba yang berbulu putih lahirlah seekor anak domba berbulu hitam. Hal yang terjadi pada komunitas burung gagak terjadi juga pada komunitas domba. Demikianlah, dengan berat hari pada domba akhirnya mengusir teman mereka yang memiliki perbedaan “hakikat” tersebut.
Ketika kedua mahkluk yang malang itu sedang meratapi nasib mereka, keduanya justeru dipertemukan. Pertemuan tersebut membuahkan kesepakatan untuk hidup bersama. Maka terbentuklah sebuah komunitas buangan, komunitas burung gagak dan domba yang malang karena memiliki perbedaan dibandingkan dengan komunitas asali mereka.
Apakah komunitas buangan ini akan bertahan lama? Tampaknya tidak. Keduanya menyadari bahwa ternyata dunia mereka berbeda, dunia yang memiliki nilai-nilai dan pandangan hidup yang khas dan berbeda. Kesadaran yang meresahkan ini tampaknya hanya dapat diatasi dengan kembali ke dunia atau komunitas asali mereka. Tetapi apakah ini mungkin? Bukankah mereka telah dieksklusikan karena dianggap membahayakan eksistensi komunitas? Seraya merenung dan mencari jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini mereka melewati sebuah pabrik cet. Tiba-tiba saja burung gagak mendapat idea dan mengusulkan kepada domba temannya itu supaya mereka mengecet bulu mereka. Domba hitam itu setuju sehingga dalam waktu singkat mereka telah mengubah bulu mereka menjadi seperti warna bulu dari komunitas asali mereka. Sesudah itu mereka berpisah dan kembali ke komunitas mereka masing-masing mengenakan sebuah “identitas” baru.
Sialnya, mereka ditimpa hujan lebat dalam perjalanan pulang ke komunitas asalai itu. Meskipun demikian, perjalanan pulang tidak mereka hentikan. Dengan hati penuh cemas mereka semakin mendekati komunitas asali mereka. “Akankah saya ditolak lagi? Kemanakah saya akan pergi?” Di luar dugaan, ternyata mereka diterima kembali. Konon ketika mereka dieksklusikan dari komunitas, muncul kesadaran bahwa pembuangan itu tidak baik, dan bahwa tanpa kehadiran anggota komunitas yang berbeda itu ternyata telah menimbulkan perasaan incompletenes yang mendalam. Maka kembalinya teman mereka yang dulu dieksklusikan itu justeru menjadi peristiwa yang dirayakan. “Engkau adalah bagian dari kami, bagian dari komunitas burung gagak berbulu hitam dan putih. Kita sama-sama telah membentuk komunitas burung gagak” (tanpa embel-embel putih dan hitam). Demikian pula hanya dengan komunitas domba.
Cerita ini bersifat inspiratif untuk menerangkan banyak hal, mulai dari persoalan rekonsiliasi dan pluralitas dalam sebuah masyarakat multikulur sampai kesadaran akan pentingnya menghormati hak-hak kaum minoritas dalam sebuah civil society dan sebagainya. Dalam konteks perbincangan kita mengenai diri (self) menurut Charles Taylor cerita ini sengaja saya tuturkan dengan maksud untuk menonjolkan satu hal penting yang sekaligus akan menjadi sorotan kita. Hal itu adalah bahwa diri (self) selalu dipahami dalam konteks sebuah komunitas, jadi dalam relasi antara subjek (diri) dengan orang lain, dalam sebuah proses ambil bagian sebagai lawan bicara di dalam sebuah percakapan di dalam komunitas tertentu. Dan bahwa di dalam konteks komunitaslah diri yang dipahami sebagai yang selalu “on a quest” terus mempertanyakan tujuan-tujuan ultim hidupnya, yakni kebahagiaan. Dan bahwa komunitas tersebut bukanlah sebuah komunitas netral, tetapi sebuah komunitas yang telah memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang dapat membantu diri dalam merealisasikan dirinya secara total.
Cerita ini dikisahkan ulang secara bebas berdasarkan versi aslinya berjudul The White Raven and The Black Sheep, written and illustrated by Eugen Sopho, North-South Books, NY., 1991 (translated into English by Helen Graves).
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.