Klasifikasi

A.      Apa itu klasifikasi

Yang dimaksud dengan “klasifikasi” adalah pemecahan suatu kelas tertentu ke dalam kelas-kelas bawahan berdasarkan ciri-ciri tertentu khas yang dimiliki oleh anggota-anggota kelas itu. Tujuan dari klasifikasi itu adalah untuk mengetahui keseluruhan logis dari suatu konsep dan bagian-bagiannya dengan lebih baik. Sebuah kelas bukan sekadar sejumlah hal yang kebetulan tercakup dalam suatu kelompok. Sebaliknya, kelas merupakan suatu pengertian atau konsep tentang hal-hal tertentu yang memiliki ciri-ciri yang sama. Misalnya, ciri-ciri mana yang diperlukan untuk menyebut suatu makhluk hidup itu “manusia”? Apakah karena ada kaki dan tangan? Kalau kaki dan tangan yang menjadi ciri, apakah seorang yang tangannya dan/atau kakinya buntung masih dianggap manusia? Atau apakah bangsa kera dapat juga disebut sebagai manusia? Suatu makhluk dapat disebut manusia karena ciri-ciri kemanusiaannya: berakal budi. Sebaliknya, manusia sebagai suatu kelas tertentu dapat dibagi lagi ke dalam kelas-kelas yang dimiliki oleh sejumlah individu. Dalam hal ini “kelas manusia” dapat diklasifikasi berdasarkan ras, interese, kesatuan politik, agama, kebudayaan, dan sebagainya.

Jadi, sebuah kelas ditentukan oleh suatu kumpulan ciri khas yang dimiliki oleh semua anggota kelas. Ciri yang dikenakan pada kelas harus berlaku pada semua anggota tanpa kecuali.

Beberapa buku logika menyebut klasifikasi dengan pembagian atau penggolongan. Di sini perlu ditegaskan bahwa klasifikasi bukan sekadar pembagian atau penggolongan. Karena klasifikasi bukan sekadar membagi atau menggolongkan sejumlah hal menjadi beberapa kelompok. Misalnya pembagian atau penggolongan seratus orang mahasiswa ke dalam sepuluh kelompok yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang bukanlah klasifikasi, karena tidak ada ciri-ciri khas yang menyatukan tiap kelompok itu. Bila seratus orang mahasiswa itu dibagi berdasarkan agama atau berdasarkan daerah kelahirannya, hal itu baru disebut klasifkasi.

Dari uraian di atas, kiranya jelas bahwa klasifikasi merupakan suatu metode untuk menempatkan sejumlah hal dalam suatu sistem kelas, sehingga dapat dilihat hubungannya ke samping, ke atas, dan ke bawah. Misalnya pada waktu berbicara mengenai “demokrasi” dengan menggunakan metode klasifikasi, kita dapat melihat hubungannya ke samping dengan “kediktatoran”, “absolutisme”, sedangkan hubungannya ke atas adalah bahwa semua hal itu merupakan “sistem pemerintahan”, dan ke bawah adalah “demokrasi parlementer dengan sistem seperti di Perancis”, “demokrasi parlementer dengan sistem seperti di Amerika Serikat”, “demokrasi parlementer dengan sistem kerajaan seperti di Inggris dan Belanda”, “demokrasi proletariat”, dan sebagainya.

Perlu ditegaskan pula, klasifikasi merupakan bagian dari logika material dan bukan merupakan bagian dari logika formal. Karena itu, kalau dalam buku ini klasifikasi disinggung juga, hal tersebut semata-mata untuk menguatkan pemahaman kita tentang isi dan luas pengertian. Sebab, jika kita mampu membuat suatu klasifikasi yang benar terhadap suatu hal tertentu, itu mencerminkan bahwa kita telah memehami isi dan luas pengertian dari hal tersebut.

B.     Macam-macam klasifikasi

Sebuah kelas terdiri dari sejumlah anggota. Jumlah anggota yang dimiliki tiap kelas tidak harus sama. Suatu kelas yang lebih luas terdiri dari beberapa kelas bawahan, sedangkan tiap-tiap kelas bawahan itu mempunyai anggota-anggota yang jumlahnya berbeda-beda. Sehubungan dengan itu klasifikasi dapat dibedakan berdasarkan jumlah anggota yang dimiliki oleh kelas yang diklasifikasikan itu.

(1) Klasifikasi sederhana

Klasifikasi sederhana adalah klasifikasi yang jumlah anggota atau kelas bawahan dari kelas yang diklasifikasikan itu hanya dua. Klasifikasi ini disebut juga klasifikasi dikomotis (Yunani : dicha = menjadi dua; temmein = memotong), yaitu suatu sistem yang memecahkan suatu kelas menjadi dua kelas bawahan. Biasanya berupa kelas bawahan yang bersifat negatif dan kelas bawahan yang bersifat positif. Misalnya, kelas “hewan” terdiri dari dua kelas bawahan yaitu “hewan berakal budi” dan “hewan yang tak berakal budi”. Selanjutnya kelas “hewan berakal budi” terbagi lagi menjadi dua kelas bawahan: “laki-laki’” dan “wanita”.

(2) Klasifikasi kompleks

Klasifikasi kompleks adalah klasifikasi yang jumlah anggota atau kelas bawahan dari kelas yang diklasifikasikan itu adalah lebih dari dua. Misalnya, kelas alat transportasi dapat kita klasifikasikan menjadi: alat transportasi darat, alat transportasi air, dan alat transportasi udara.

C.     Prinsip-prinsip klasifikasi

Untuk dapat memperoleh sebuah klasifikasi yang benar, kita perlu mematuhi prinsip-prinsip berikut ini:

(1) Klasifikasi harus lengkap

Maksud dari prinsip ini ialah bahwa apabila kita membuat suatu klasifikasi terhadap suatu kelas tertentu, maka kelas-kelas bawahannya harus dapat menampung semua anggota kelas yang kita klasifikasikan itu. Dengan demikian apabila seluruh kelas bawahan itu kita ambil bersama maka tetap sama dan sebangun dengan keseluruhan sebelum diklasifikasikan. Misalnya, apabila kita mengklasifikasikan “buku-buku yang ada di sebuah perpustakaan”, jangan sampai ada buku yang tidak dapat kita masukkan ke dalam kelas-kelas bawahan yang muncul akibat klasifikasi itu.

Contoh lain, apabila kita mengklasfikasikan “makhluk hidup” menjadi “manusia” dan “binatang”, klasifikas yang kita lakukan tersebut tidaklah lengkap karena “tumbuh-tumbuhan” tak bisa kita masukkan dalam baik kelas “manusia” maupun kelas “binatang”.

(2) Klasifikasi harus sungguh-sungguh memisahkan

Maksud dari prinsip ini ialah bahwa apabila kita membuat suatu klasifikasi terhadap suatu kelas tertentu, jangan sampai ada tumpang-tindih antara kelas-kelas bawahannya, sehingga satu atau lebih anggota kelas bawahan dapat sekaligus menjadi anggota kelas bawahan dari beberapa kelas. Misalnya, apabila kelas “penduduk Jakarta” kita klasifikasikan menjadi “yang berusia di atas 30 tahun” dan “yang berusia di bawah 40 tahun”, maka orang-orang yang berusia antara 30 sampai 40 tahun dapat masuk pada baik kelas bawahan yang “berusia berusia di atas 30 tahun” maupun kelas bawahan yang “berusia di bawah 40 tahun”.

(3) Klasifikasi harus menurut prinsip/dasar yang sama/konsisten

Maksud dari prinsip ini ialah bahwa apabila kita membuat suatu klasifikasi terhadap suatu kelas tertentu, kita tidak boleh menggunakan lebih dari satu dasar/prinsip. Misalnya, apabila kelas “cincin” kita klasifikasikan menjadi “cincin kawin”, “cincin emas”, “cincin perak”, dan “cincin berlian”, maka klasifikasi ini bukan saja tidak lengkap dan tidak sungguh-sungguh memisahkan, melainkan juga tidak menggunakan dasar/prinsip yang konsisten. “Cincin emas”, “cincin perak”, “cincin berlian”, bertolak dari dasar/prinsip bahan baku cincin, sedangkan “cincin kawin” bertolak dari dasar/prinsip fungsi cincin.

(4) Klasifikasi harus sesuai dengan tujuannya

Maksud dari prinsip ini ialah bahwa apabila kita membuat suatu klasifikasi terhadap kelas tertentu, haruslah kita menyesuaikan klasifikasi tersebut dengan tujuan yang hendak kita capai. Misalnya, apabila kita ingin membuat klasifikasi untuk mengetahui distribusi usia pada mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya, kita tentu saja tidak perlu mengklasifikasikan mahasiswa-mahasiswa tersebut, misalnya berdasarkan tempat kelahirannya atau agamanya.

(5) Klasifikasi harus dilakukan secara rapi

Maksudnya, setiap klasifikasi harus memperlihatkan bahwa kelas-kelas bawahannya jika diklasifikasikan lebih lanjut sampai kelas bawahan yang terkecil mengejawantahkan bagian-bagian yang langsung memperlihatkan keseluruhan lingkup realitas yang ditunjuk dengan pengertian yang diklasifikasikan tersebut.

D.     Beberapa catatan

Selain dari prinsip-prinsip di atas yang harus diperhatikan dalam membuat suatu klasifikasi, beberapa catatan di bawah ini juga perlu diperhatikan supaya kita tidak melakukan kekeliruan-kekeliruan yang biasa terjadi dalam membuat klasifikasi.

(1)   Keseluruhan dan bagian-bagiannya

Jika suatu klasifikasi disusun dengan tepat, maka apa yang dikatakan untuk kelas atasan (baik berupa pengakuan atau pengingkaran) dapat dikatakan juga untuk kelas bawahannya, tetapi tidak sebaliknya. Misalnya, sifat-sifat khas yang terdapat pada “hewan” berlaku untuk “manusia” dan “binatang” juga tetapi sifat-sifat khas yang terdapat pada “manusia” belum tentu terdapat pada semua hewan.

(2)   Batas-batas kelas

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, salah satu prinsip klasifikasi adalah bahwa klasifikasi harus sungguh-sungguh memisahkan, sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara kelas bawahan yang satu dengan bawahan yang lain. Sering tidak gampang menghindari hal itu dalam praktek. Misalnya, apabila “mahasiswa yang berambut panjang” dan “mahasiswa yang berambut pendek”, manakah batas yang jelas dan tegas untuk mahasiswa yang berambut panjang dan mahasiswa yang berambut pendek? Dengan kata lain, kelas “mahasiswa yang berambut panjang” dan “mahasiswa yang berambut pendek” tidak mempunyai batas-batas yang jelas dan tegas sehingga pada gilirannya menyulitkan kita membuat klasifikasi yang sungguh-sungguh memisahkan.

(3)   Dikotomi yang keliru

Kerap orang cenderung mengklasifikasikan suatu kelas dalam bentuk klasifikasi dikotomis, padahal klasifikasi dikotomis tidak dengan sendirinya tepat. Contoh, kelas “manusia” diklasifikasikan menjadi “manusia pandai” dan “manusia bodoh”. Klasifikasi di atas merupakan klasifikasi dikotomis yang keliru karena terlalu menyederhanakan realitas obyektif. Masalahnya, klasifikasi di atas tidak lengkap sebab manusia terbuka kemungkinan untuk dipertanyakan misalnya, di manakah tempat untuk manusia yang tidak pandai namun tidak tergolong bodoh?

LATIHAN

  1. Buatlah suatu klasifikasi (dengan menggunakan skema) dari data-data yang terdapat pada masing-masing butir di bawah ini!
    1. Dalam suatu ruangan pameran, terdapat 15 buah figura sebagai berikut (berturut-turut: bentuk, warna, ukuran):

-          lingkaran, putih, besar (ada lima buah: A, B, C, D, E);

-          segi empat, putih, besar (ada tiga buah: F, G, H);

-          lingkaran, hitam, besar (ada empat buah: I, J, K, L);

-          segi empat, putih, kecil (ada sebuah : P);

-          lingkaran, putih, kecil (ada dua buah : Q, R).

 

  1. Kelas logika seksi 14 pada semester ini diikuti oleh 46 mahasiswa, yaitu (berturut-turut: nama, fakultas, angkatan, jenis kelamin):

-          Suryati, Hukum, ’86, wanita;

-          Fenny, Ekonomi, ’87, wanita;

-          Donny, Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 87, pria;

-          Hendra, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’88, pria;

-          Anto, Ekonomi, ’86, pria;

-          Agnes, Ilmu Administrasi, ’87, pria;

-          Agus, Ilmu Administrasi, ’88, pria;

-          Novy, Ekonomi, ’87, wanita;

-          Kardi, Ekonomi, ’88, pria;

-          David, Kedokteran, ’88, pria;

-          Effendy, Tehnik, ’88, pria;

-          Ratna, Ilmu Administrasi, ’88, pria;

-          Rudy, Ekonomi, ’87, pria;

-          Ferdy, Hukum, ’86, pria;

-          Dessy, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’88, wanita;

-          Helen, Ilmu Administrasi, ’87, wanita;

-          Badil, Ilmu Administrasi, ’88, pria;

-          Sofian, Tehnik, ’87, pria;

-          Ricky, Hukum, ’86, pria;

-          Abdul, Ekonomi, ’88, pria;

-          Felix, Kedokteran, ’87, pria;

-          Bambang, Ekonomi, ’88, pria;

-          Riskan, Ekonomi, ’87, pria;

-          Elis, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’86, pria;

-          Erny, Hukum, ’87, wanita;

-          Yulius, Tehnik, ’87, pria;

-          Andre, Tehnik, ’88, pria;

-          Lily, Hukum, ’88, wanita;

-          Santo, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’87, pria;

-          Silvy, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’87, pria;

-          Christian, Hukum, ’88, wanita;

-          Rakhmat, Tehnik, ’88, pria;

-          Yanti, Kedokteran, ’87, wanita;

-          Fity, Kedokteran, ’87, wanita;

-          Gatot, Kedokteran, ’87, pria;

-          Tono, Ekonomi, ’86, pria;

-          Asrul, Ekonomi, ’88, pria;

-          Toni, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’88, pria;

-          Bejo, Ilmu Administrasi, ’88, pria;

-          Maria, Ilmu Administrasi, ’87, wanita;

-          Susy, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’88, wanita;

-          Erik, Kedokteran, ’87, pria;

-          Andi, Ekonomi, ’88, pria;

-          Yuli, Ilmu Administrasi, ’88, wanita;

-          Yono, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ’88, pria;

-          Ilham, Tehnik, ’88, pria;

 

  1. Setiap butir di bawah ini mengandung suatu klasifikasi. Selidikilah klasifikasi tersebut dan kemudian berilah komentar anda!
    1. Lagu-lagu dapat digolongkan menjadi lagu-lagu modern dan klasik.
    2. Menurut bahannya, lantai dapat dibagi menjadi lantai batu, lantai papan, lantai tanah, dan permadani.
    3. Mahasiswa di kelas ini terdiri dari mahasiswa yang berambut panjang, berkacamata, berambut pendek, dan tidak berkacamata.
    4. Mahasiswa yang mendapat nilai di atas 6 tidak perlu mengerjakan tugas ini; sedangkan mahasiswa yang mendapat nilai di bawah 5 harus mengerjakan tugas ini.
    5. Binatang dapat kita golongkan menjadi binatang menyusui dan binatang buas.
    6. Makhluk hidup dapat kita klasifikasikan menjadi manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan.
    7. Kalau kita tinjau pakaian berdasarkan fungsinya, maka kita mengenal pakaian dalam, pakaian hangat, pakaian luar, dan pakaian tipis.
    8. Yang tingginya di atas 160 cm silakan berdiri di samping kanan saya; sedangkan yang tingginya di bawah 170 cm silahkan berdiri di samping kiri saya.
About these ads

One comment

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s