KISAH DUA PENCINTA (TWO LOVERS)
Juli 25, 2009 at 1:40 pm | In Film | Leave a Comment
Melewati malam minggu dengan menonton film Two Lovers saya rasa cukup seru. Film Holywood ini bergenre drama romantik yang diputar di bioskop-bioskop Amerika dan seluruh dunia tahun 2009 ini. Film ini digarap secara cukup serius oleh James Gray selaku penulis skenario dan sutradara dengan mendasarkan seluruh cerita pada novel White Nights karya Dostoevsky. Tentu dengan catatan jangan menonton film ini bersama anak-anak yang masih di bawah umur karena Two Lovers dilabel sebagai film Restricted (R). Maklumlah, ada dua adegan ranjang yang cukup seru, yang sebetulnya masih dalam kategori normal hanya di-shoot secara sangat artistik.
Film Two Lovers diperankan oleh Joaquin Phoenix, Gwyneth Paltrow, dan Vinesa Shaw sebagai tokoh utama. Film ini pernah diikutkan pada festival film Cannes 2008 dan dirilis untuk tontonan publik sejak 13 Februari 2009. Alur cerita dalam film ini memang dramatis. Film mengisahkan bagaimana seorang Leonard yang diperankan Joaquin Phoenix sedang terganggu emosinya karena patah hati. Dia mencoba membunuh diri dengan meloncat dari sebuah jembatan di sungai tetapi kemudian mengubah rencananya tersebut dan akhirnya ditolong oleh orang-orang sekitar yang kebetulan melewati jembatan tersebut. Ketika kembali ke rumahnya, orang tuanya ternyata punya rencana tertentu untuk memperkenalkan Leonard kepada Sandra (Vinesa Shaw), putri seorang keturuan Yahudi. Layaknya orang-orang Yahudi di Amerika Serikat, keluarga Sandra sangat kaya secara ekonomi. Orangtua Leonardo ingin memperkenalkan Leonardo kepada Sandra yang kemudian ketahuan kalau Sandra sendiri lama kesengsem sama Leonard (pengakuan Sandra kalau dia “jatuh cinta” kepada Leonard ketika pertama kali melihatnya di toko pakaian milik orang tua Leonard).
Yang menarik adalah bahwa Leonard yang sebelumnya sangat tertutup dan terganggu emosinya dan sempat tidak tertarik pada kehadiran Sandra dan orang tuanya sewaktu ada jamuan makan malam di rumah orang tuanya Leonardo, perlahan-lahan lunak dan membuka hati. Cukup menegangkan melihat dialog antara Leonardo dan Sandra di kamarnya Leonard malam itu, di mana Leonard mengalami semacam katarsis alias pemulihan emosi. Leonard berani mengisahkan beban batinnya ketika Sandra menanyakan foto setengah badan bekas tunangan Leonard yang ada di kepala tempat tidur Leonard. Dari situlah Leonard tidak hanya mengakui kegagalannya membangun cinta, tetapi juga rasa rendah dirinya. Di sinilah adegan menjadi menarik karena Sandra bersedia menerima Leonard apa adanya dan memperteguh Leonard bahwa dia berharga, bahwa di mata Sandra dialah pria yang pantas diandalkan.
Ketika Leonard mulai membuka hati dan memacari Sandra, secara kebetulan Leonard bertemu dengan Michelle (Paltrow), seorang tetangga baru di apartemen yang juga dihuni keluarganya Leonard. Michelle yang cantik dan cerdas ternyata simpanan seorang pria yang sudah menikah (Ronald Blatt yang diperankan Elias Koteas) yang ternyata adalah teman kerjanya sendiri di kantor pengacara. Sebetulnya Michelle dan Leonard sendiri berada dalam kondisi emosi yang sama, karena keduanya merasa gagal dalam merajut cinta. Rasa tertarik Leonard sempat membuat kedua insan ini menjalin hubungan. Leonard mengalami semacam kelahiran kembali ketika Michelleh yang energik masuk ke dalam hidupnya.
Hubungan yang singkat ini sempat diwarnai keceriaan, tetapi tetap saja cinta yang dibangun di atas luka karena sama-sama sakit secara emosi hanya akan melahirkan hubungan yang tidak sehat. Ketika Michelleh ingin memutuskan hubungannya dengan Koteas dan ingin berpindah ke San Fransisco, Leonard memutuskan untuk ikut. Tiket sudah disiapkan Leonard, dan malam ketika keduanya akan terbang ke San Fransisco sebenarnya adalah malam di mana keluarga Sandra datang ke apartemen ayahnya Leonard untuk jamuan makan malam tahun baru. Maka betapa menegangkan ketika Leonard harus mengendap-endap dari apartemen. Meskipun kepergok ibunya juga yang ternyata sudah mengendus hubungan asmara anaknya dengan Michelle, Leonard tetap pada pendiriannya untuk pergi dari rumah dan melewati hidupnya dengan Michelle. Apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata ada perubahan mendadak. Michelle memutuskan untuk tidak berangkat ke San Fransisco karena Koteas memutuskan untuk menceraikan istrinya dan kembali ke pangkuan Michelle. Di situlah Leonard tampak begitu terpukul. Cincin yang sudah disiapkan untuk Michelle dibuang begitu saja di sebuah pantai.
Tapi di sinilah adegan perubahan sikap cinta Leonard sangat apik disorot. Sarung tangan yang dipakai Leonard (ini dibeli oleh Sandra) dicopot dan dibuang Leonard ke pantai. Tapi, ketika ombak mulai mengempas sarung tangan itu, Leonard memandangnya dan teringat kalau ada Sandra yang sebetulnya tulus menerima dia apa adanya. Dan Sandra saat itu sedang berada bersama kedua orang tuanya di apartemennya keluarga Leonard. Di situ kamera juga menyorot kotak cincin yang tadinya dibeli Leonard untuk Michelle dan yang sudah dibuangnya itu. Kotak cincin itu ada di dekat situ. Leonard mengambil kotak cincin itu, membersihkannya dan melihat bahwa isinya masih ada. Dia mengambil, mengantonginya dan membawanya pulang. Di apartemen ayahnya Leonard melihat para tamu masih ada di situ. Sandra tampak duduk di salah satu kursi. Leonard menghampiri belahan hatinya, berdialog dengannya dan mengeluarkan kotak cincin dari kantongnya. Sambil mengatakan itu sebagai kejutan, Leonard mengeluarkan cincin dan memakaikannya di jari manisnya Sandra. Terasa benar kelegahan hati Leonard dan ketulusan Sandra dalam mencinta.
Di situlah kisah berakhir gembira. Cinta yang dirajut antara si Leonard yang memiliki pengalaman patah hati dengan Sandra yang utuh emosinya terajut menjadi kasih yang menyembuhkan, yang membuka ruang bagi sebuah hubungan yang saling meneguhkan. Film ini tentu pantas ditonton tidak hanya oleh mereka yang sedang kasmaran dan ingin meneguhkan pilihan cintanya, tetapi juga oleh kita semua, pasangan suami istri yang memang membutuhkan kesempatan untuk saling menguatkan dalam cinta. Dialog-dialog dalam film ini sangat kuat dan inspiratif, meskipun genre film ini dikritik banyak pengamat sebagai melodrama yang terlalu old fahion. Buat saya tidak apa-apa, yang penting enak ditonton.
So, segera dapatkan DVDnya di pasar dan nikmatilah film ini. Jangan lupa, tontonlah dengan pasangan atau teman yang sudah cukup umur, karena label film ini yang Restricted. Selamat menikmati.
MENYAMBUT KEMATIAN (KONYOL)
Juli 22, 2009 at 4:23 am | In Artikel Populer, Filsafat | 3 CommentsTags: das Man, Dasein, Heidegger, ideologi, kematian, massa, teror bom
Jika sosok yang menenteng tas hitam seperti yang terekam kamera CCTV benar pelaku bom bunuh diri di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton tanggal 17 Juli lalu, kita sebetulnya sedang menyaksikan bagaimana dengan dingin dan meyakinkan para teroris menyambut kematian mereka. Sikap serupa tampak dalam pengakuan para pelaku bom Bali II yang begitu yakin, jiwa mereka langsung menikmati kebahagiaan surgawi.
Benarkah mereka menyongsong kematian dengan sukacita? Apakah kematian bagi mereka sungguh sebuah pengalaman puncak penghayatan eksistensi diri di dunia? Apakah mereka telah menghayati seluruh perjalanan hidup sebagai “mengada menuju kematian” (being towards death)?
Pertanyaan terakhir ini pernah menjadi preokupasi pemikiran Martin Heidegger (1889–1976) lebih dari delapan puluh tahun lalu. Menurut Heidegger, ada dua cara menghayati hidup di dunia, yakni secara otentik dan secara tidak otentik. Manusia sendiri hidup dalam dunia (umwelt) melalui tiga cara (moda). Manusia tidak hanya hidup dengan sesama (Being-with-others), tetapi juga hidup berdampingan dengan benda-benda (being-alongside-things) dan bereksistensi pada dirinya (Selbstein).
Ketidakotentikan penghayatan hidup terjadi ketika pertama, manusia hanyut dalam dunia benda-benda dan dikuasai sepenuhnya oleh alat yang diciptakannya sendiri. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memosisikan manusia semata-mata sebagai objek menjadi salah satu bukti ketidakotentikan penghayatan hidup manusia. Manusia mengalienasikan dirinya dalam teknik atau alat buatannya sendiri. Sementara ketidakotentikan yang lain terletak pada bagaimana manusia membiarkan dirinya dikuasai oleh massa. Moda Selbstein hilang lenyap dalam massa (das Man) di mana individu ditelan habis oleh kerumunan (the They).
Bagi Heidegger, lenyapnya individu dalam kerumunan (das Man) akan menyulitkan individu itu sendiri membebaskan diri darinya persis ketika perangai massa yang begitu menenangkan (tranquillizing/beruhigend). Massa atau kerumunan dengan seluruh kekuatan ideologisnya tidak hanya membelenggu individu, tetapi sekaligus mengalienasikan (entfremdung) dan mendekap (self-entangling). Mengalienasikan diri (individu) dalam kerumunan ibarat menikmati candu yang membawa kepada ketagihan dan ketergantungan.
Tidak mudah membebaskan diri dari perangkap kerumunan dan ideologi yang membentenginya. Dibutuhkan usaha keras supaya bisa sampai pada level menghayati keseharian sebagai kekhawatiran (angst/anxiety), sekurang-kurangnya rasa resah bahwa seseorang sedang terperangkap dan teralienasi, entah dalam dunia alat atau dalam ideologi tertentu. Perasaan resah seperti inilah yang akan mendorong individu melakukan diskursus (logos), dan dengan demikian membebaskan dirinya dari perangkap dunia benda maupun ideologi tertentu.
Kematian merupakan keresahan terbesar (anxiety) yang akan terus mengusik individu saat menghayati kehidupannya. Kematian menampakan diri sebagai faktisitas yang “memaksa” individu menghayati dan memaknakan hidupnya dalam diskursus (logos) serta perumusan berbagai kepentingan bersama dengan orang lain (Being-with-Others) dengan memanfaatkan berbagai alat yang tersedia (being-alongside-things). Menghayati kehidupan sebagai eksistensi menuju kematian (being towards death) membangkitkan tanggung jawab individu untuk memahami dirinya sebagai “ada” (being) tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bersama orang lain di dalam dunia fisik.
Pertanyaannya, apakah para teroris menghayati kematian mereka sebagai puncak dari keotentikan penghayatan hidup (being towards death) tanpa mengobjekkan atau mengorbankan orang lain? Kalau tidak mau dibilang kekonyolan, kematian yang dihadapi para teroris tidak pernah lebih dari rusak atau hancurnya sebuah benda. Kematian mereka justru terjadi tanpa identitas persis ketika individualitas mereka (Selbstein) dikerangkeng oleh ideologi radikal tertentu yang mereka anut. Kematian justru mereka hayati secara nihilistik sebagai alat atau sarana untuk menghancurkan sesama maupun dunia fisik itu sendiri.
Di sini epistemologi penghayatan hidup (Dasein) dalam pemikiran Heidegger mengingatkan betapa kematian dihayati kaum teroris sebagai semata-mata alat untuk membebaskan diri dari ketidaksanggupan “mengada bersama orang lain”. Ideologi yang mereka anut adalah candu yang memberangus nalar (diskursus atau logos), dan karena itu memutus jembatan penghubung dengan sesama. Ketidaksanggupan membuka ruang dialog dengan sesama diganti dengan semacam nazar untuk memperjuangkan ideologi radikal sebagai satu-satunya jalan dan kebenaran. Padahal kebenaran yang dimaksud tidak pernah difalsifikasi persis ketika ruang diskursus (logos) telah lebih dulu diberangus.
Karena itu, langkah tegar nan meyakinkan dari para teroris menyambut kematian sambil menenteng tas berisi bom sebenarnya adalah langkah kelompok yang gagal berelasi dengan dirinya sendiri. Mereka tidak lebih dari sekelompok benda atau alat tanpa rasa (without mood), tanpa kekhawatiran (without anxiety). Kematian mereka pun ibarat membuang sebuah kerikil kecil di lautan lepas. Seperti kerikil, mereka hilang tak berbekas. Mereka mati tanpa meninggalkan jejak individualitas.[]
KANT MENSINTESA UNSUR APRIORI DAN APOSTERIORI PENGETAHUAN
Juli 14, 2009 at 12:22 pm | In Filsafat | Leave a CommentTags: Immanuel Kant, apriori, aposteriori, filsuf Jerman, sintesa, sejarah filsafat
Immanuel Kant lahir di Konigsberg pda tanggal 22 April 1724 dan meninggal pada tahun 1804. Pemikirannya digolongkan ke dalam periode praktis/dogmatis (1755-1770) dan periode kritis (pasca 1770). Apa yang terjadi pada periode dogmatis? Seperti yang terjadi pada para filsuf pada umumnya sebelum kemunculan pemikiran skeptis David Hume, Immanuel Kant juga menerima begitu saja penjelasan metafisika atas realitas.
Ini berbeda dengan pemikiran Kant pada masa kritis. Setelah dibangunkan dari tidur dogmatis leh pemikiran David Hume, Kant mengembangkan pemikiran yang lebih kritis mengenai realitas dan pengetahuan. David Hume menolak peran rasio dalam menggerakkan atau mengendalikan perilaku. Bagi Hume, perilaku manusia tidak digerakkan oleh rasio tetapi oleh perasaan.
Kant bangun atau bangkit lalu mempertanyakan otoritas metafisika dalam memberikan penjelasan atas realitas. Kant bertanya, apakah metafisika dapat diandalkan dalam memberikan jawaban yang pasti mengenai Allah, kebebasan, dan keabadian? Jenis pengetahuan metafisika bersifat apriori (pengetahuan murni dihasilkan oleh akal budi). Karena itu, mempertanyakan metafisika sama saja dengan mempersoalkan pengetahuan apriori. Pertanyaannya, bagaimana pengetahuan apriori mungkin?
Dengan mengajukan pertanyaan ini, Immanuel Kant lalu membedakan jenis-jenis putusan menjadi dua jenis yang selama ini diterima umum. Kedua jenis putusan itu adalah (1) putusan analitis, dan (2) putusan sintetis. Pada putusan analitis, predikat sudah terkandung dalam subjek. Di sini predikat dalam putusan adalah analisis atas subjek, karena itu tidak ada unsur baru dalam putusan itu. Sifat putusan analitis adalah apriori murni, disebut juga pengetahuan murni. Disebut demikian karena konsep-konsep yang membangun pengetahuan tidak diturunkan dari pengalaman, melainkan berasal dari struktur-struktur pengetahuan subjek sendiri (kosong dari pengaman empiris). Contoh: “Semua peristiwa ada sebabnya”. Putusan ini adalah jenis pengetahuan murni karena predikat sudah terkandung dalam subjek yang ingin dijelaskannya.
Sementara dalam putusan sintetis, predikat tidak terkandung dalam subjek. Predikat memberikan informasi baru yang sifatnya aposteriori. Jenis putusan sintetis adalah aposteriori. Ilmu alam memiliki karakter putusan sintetis ini. Misalnya: “Semua benda itu berat”, konsep “berat” dalam predikat tidak termuat dalam konsep “benda” sehingga bukanlah keterangan atas “benda”. Di sini predikat (berat) merupakan informasi baru dalam putusan ini.
Kembali ke pertanyaan yang diajukan Kant di atas: apakah metafisika dapat diandalkan dalam menjelaskan realitas? Metafisika tidak bisa diandalkan dalam memberikan penjelasan mengenai realitas karena sifatnya yang apriori murni. Penjelasan-penjelasan metafisika bukanlah penjelasan-penjelasan yang menghasilkan suatu pengetahuan baru. Sementara di lain pihak, penjelasan-penjelasan metafisika tidak mungkin berkarakter sintetis aposteriori, terutama ketika menjelaskan Allah, kebebasan, dan keabadian.
Itu artinya harus ada jenis pengetahuan lain yang tidak bersifat apriori murni tetapi juga bukan sintetis aposteriori. Jenis putusan ketiga inilah yang diusulkan dan menjasi sumbangan terbesar Immanuel Kant, yakni putusan sintetis apriori. Bagi Kant, metafisika hanya mungkin atau hanya bisa diandalkan dalam memberikan penjelasan mengenai realitas jika penjelasan-penjelasannya bersifat sintetis apriori. Di sini langsung tampak sumbangan pemikiran Kant, bahwa pengetahuan yang diandalkan dalam memberikan penjelasan mengenai realitas mengandung unsur apriori (aspek rasionalisme) sekaligus unsur aposteriori (aspek empirisme). Pertanyaannya lalu menjadi, bagaimana pengetahuan sintetis apriori ini mungkin? Bagaimana menjelaskannya?
Jika kaum empiris berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman, bagi Kant, tidak seluruh pengetahuan berasa dari pengalaman. Ketika suatu objek menampakkan diri pada pikiran, subjek menerima representasi objek tersebut lewat intuisi langsung. Dengan intuisi langsung, Kant tidak memaksudkan sebagai pengetahuan yang murni subjektif. Kant mau menegaskan bahwa manusia memiliki kemampuan mengindrai, sehingga pikiran tidak menerima begitu saja objek yang menampakkan diri, tetapi menerimanya menurut kategori pemikiran subjek yang berpikir. Memang dalam pengindraan atau dalam intuisi langsung, subjek dipengaruhi dalam taraf tertentu oleh objek, tetapi subjek memiliki kategori-kategori tertentu dalam mengindrai dan memahami objek tersebut.
Demikianlah, menurut Kant, selalu ada dua unsur dalam setiap penampakan objek, yakni unsur materi (materia) dan unsur bentuk (forma). Unsur materi selalu berhubungan dengan isi pengindraan, sementara unsur bentuk memungkinkan berbagai penampakan tersusun dalam hubungan-hubungan tertentu. Di sini forma atau bentuk merupakan unsur apriori dari pengindraan sementara materi merupakan unsur aposteriori. Dalam setiap pengindraan, selalu beroperasi dua kategori ini dalam rasio manusia, yakni forma ruang (raum) dan forma waktu (Zeit).
Di sini jelas Kant menunjukkan adanya sintesis jenis pengetahuan rasionalisme dan pengetahuan empirisme. Bagi Kant, subjek tidak pernah menangkap objek pada dirinya (das Ding an sich). Objek pada dirinya sendiri tidak bisa diketahui. Yang ditangkap dan diketahui subjek adalah objek yang menampakkan diri dalam rasio dan telah ditata dalam forma ruang dan waktu. Dalam rasio subjek yang berpikir terjadi pengindraan internal terhadap objek yang menampakan diri itu. Dalam pengindraan internal inilah beroperasi forma ruang dan forma waktu. Forma ruang merupakan bentuk pengindraan internal, sementara forma waktu adalah penampakan itu sendiri.
Demikianlah, dalam pemikiran Immanuel Kant jelas diperlihatkan bagaimana unsur jenis pengetahuan analitis apriori (rasionalisme) dan sintetis aposteriori (empirisme) dapat didamaikan. Konsep das Ding an sich dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan sintesis ini. Bahwa objek yang menampakkan diri hanya bisa diketahui karena telah terjadi apa yang disebut pengindraan internal. Dan bahwa melalui pengindraan internal inilah pengetahuan dihasilkan melalui membuat putusan atas pengetahuan. Bagi Kant, putusan-putusan yang adalah pengetahuan tidak lain adalah sintesis antara aspek aposteriori (benda yang menampakan diri dan yang sudah melalui proses pengindraan internal) dengan aspek apriori. Ada 12 kategori dalam pikiran manusia (3 kategori kuantitas, 3 kategori kualitas, 3 kategori relasi, dan 3 kategori modalitas) yang ibarat kacamata merah, membuat subjek melihat benda-benda sebagai berwarna merah. Benda-benda pada dirinya tidak bisa diketahui. Yang diketahui adalah benda-benda berwarna merah karena adanya kategori dalam rasio manusia.
Demikian seterusnya proses ini terjadi dalam setiap kegiatan mengetahui manusia (Untuk informasi lebih jelas dan memuaskan, baca F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietsche. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2007, hlm. 128-153).
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
