NALAR DAN PERLUASAN LINGKARAN WILAYAH MORAL
Februari 28, 2009 at 5:50 am | In Filsafat | Leave a CommentPertengahan tahun 1970-an sampai 1980-an, terjadi usaha yang sistematis dari kalangan ilmuwan (biologi) untuk mengganti peran etika dalam menjelaskan perilaku moral manusia. Para ilmuwan memiliki semacam proyek untuk—meminjam istilah Edward O. Wilson—membiologisasikan etika. Karya Edward O. Wilson berjudul Sociobiology, The New Synthesis yang terbit tahun 1975 menjadi titik tolak perjuangan para ilmuwan tersebut. Karya-karya lainnya pun bermunculan setelahnya, sebut saja beberapa di antaranya The Selfish Gene yang ditulis Richard Dawkins (1976), Sociobiology: A New Biological Determinism, sebuah kumpulan karangan yang diedit Ann Arbor (1977), karya David Barash berjudul Sociobiology and Behavior yang terbit tahun 1977, karya Richard Alexander berjudul Darwinism and Human Affairs yang terbit tahun 1977, karya Arthur Caplan berjudul The Sociobiology Debate yang terbit tahun 1978, karya Mary Midgley berjudul Beast and Man: The Roots of Human Nature yang terbit tahun 1978, dan karya Michael Ruse berjudul Sociobiology: Sense or Non Sense yang terbit tahun 1979.
Obsesi para ilmuwan itu—terutama Edward O. Wilson, Richard Dawkins, dan David Barash sebagaimana disebutkan Peter Singer—adalah melucuti etika dari tangan para filsuf moral dan memberikannya kepada para ilmuwan. Peter Singer mengutip kata-kata Edward O. Wilson yang mengatakan, bahwa sekarang tibalah waktunya untuk membiologisasikan etika. Sekaranglah saatnya para ilmuwan berperan dalam menjelaskan perilaku moral manusia, bukan para filsuf.
Mengapa para ilmuwan ini hakul yakin, bahwa mereka mampu menjelaskan perilaku moral manusia? Bukankah penjelasan mengenai apa yang baik dan buruk secara moral selama ini diberikan oleh para filsuf? Lantas, apa peran para filsuf moral setelah peran-peran mereka dilucuti dan dilumpuhkan?
Para ilmuwan tersebut berangkat dari sebuah kredo sains yang mereka imani, bahwa seluruh perilaku manusia memiliki dasar atau fondamen biologi. Pandangan Wilson mewakili kredo ini: “Seorang ahli biologi, yang peduli pada pertanyaan-pertanyaan fisiologi dan sejarah evolusi, menyadari bahwa pengetahuan-akan-diri (self-knowledge) dikendalikan dan dibentuk oleh pusat pengatur emosi (emotional control center) yang terletak dalam hypothalamus dan sistem limbik yang ada di otak. Pusat pengatur emosi inilah yang pada gilirannya memenuhi kesadaran kita dengan semua emosi—kebencian, cinta, ketakutan, dan emosi-emosi lainnya—yang selama ini dirujuk oleh para filsuf ketika mereka ingin memahami perilaku baik dan buruk manusia. Pada akhirnya kita didesak untuk bertanya, apa yang membuat hypothalamus dan sistem limbik? Keduanya berevolusi melalui seleksi alam. Pernyataan biologis sederhana inilah yang harus dikejar dan dirujuk untuk menjelaskan etika dan para filsuf moral, jika bukan para filsuf epistemologi, secara mendalam” (Peter Singer, Ethics and Sociobiology, hlm 46-47).
Dengan demikian, para ilmuwan mau menegaskan bahwa pertama, perilaku baik buruk manusia secara moral dan perilaku-perilaku lainnya dapat dijelaskan secara ilmiah dengan mengembalikan penjelasan itu pada sistem pengatur emosi yang ada di otak (bagian hypothalamus dan sistem limbik). Kedua, perilaku manusia diwariskan dari induk ke anak dan keturunan selanjutnya melalui pewarisan gen. Artinya, manusia memiliki perilaku agresif, cinta, benci, membantu orang lain, takut, dan sebagainya diwariskan secara genetis dalam proses seleksi alam. Ketiga, penjelasan mengenai baik burukny tindakan manusia yang selama ini diberikan oleh para filsuf moral dapat digantikan dengan segera oleh para ilmuwan. Menurut Edward O. Wilson, penjelasan ilmiah mengenai altruisme, misalnya, dapat menjadi senjata pamungkas dalam menyudahi kiprah para filsuf moral.
Demikianlah kalau diposisikan dalam konteks pembelaan Peter Singer atas etika, diskusi mengenai altruisme mendapat porsi yang sangat besar. Melalui buku The Expanding Circle: Ethics and Sociobiology yang kami jadikan sebagai salah satu rujukan utama tesis kami, Peter Singer sebenarnya berusaha mendebat sosiobiologi sembari mengembalikan “harga diri etika”. Preokupasi Peter Singer sebenarnya ada pada upaya melahirkan sebuah etika yang unggul terhadap sosiobiologi sekaligus sanggup sebagai rujukan yang meyakinkan dalam menjelaskan perilaku moral manusia.
Yang menarik dari pemikiran Peter Singer adalah usahanya menggugurkan klaim-klaim saintifik sosiobiologi melalui mengkritisi substansi keilmuan dari sosiobiologi itu sendiri. Pertama-tama Peter Singer menunjukkan bahwa perilaku moral manusia memang memiliki dasar biologis. Dalam arti itu, Peter Singer mengafirmasi pandangan sosiobiologi, bahwa perilaku baik buruk manusia bersifat genetis. Manusia mewariskan sifat dan perilaku cinta, benci, agresif, takut, kerja sama, altruis, dan sebagainya dari induknya. Dan bahwa sifat-sifat ini berkembang dan diwariskan dalam proses evolusi.
Tentu upaya Peter Singer menggugurkan pendapat sosiobiologi dengan memilah-mila antara ranah deskriptif dan wilayah preskriptif pantas diapresiasi. Bahwa kritik para ilmuwan sosiobiologi atas ketidaksanggupan etika dalam menjelaskan perilaku moral manusia tidak bisa diterima persis ketika wilayah epistemologis etika berbeda dengan wilayah epistemologis sains. Bahwa sains berkembang melalui upaya yang sistematis dalam menjelaskan dan meramal fakta-fakta alam. Sementara etika, dengan sifat preskriptifnya, mampu menjelaskan perilaku moral manusia dengan atau tanpa sains. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah usaha Peter Singer menggugurkan pandangan-pandangan dasar sosiobiologi dengan beranjak dari kelemahan-kelemahan internal yang dimiliki sains itu sendiri.
***
Demikianlah, ilmuwan sosiobiologi berpendapat bahwa preokupasi utama para filsuf moral adalah mengkritisi prinsip-prinsip dasar tindakan moral manusia sambil terus merumuskan prinsip-prinsip etika yang semakin dapat dipertanggungjawabkan. Para filsuf moral sebenarnya tidak perlu membuang waktu dengan menjelaskan perilaku moral manusia, karena semuanya bisa dijelaskan secara saintifik. Para ilmuwan mengambil contoh perilaku altruis sebagai contoh. Di tangan para filsuf moral, perilaku altruis dilihat sebagai perilaku terpuji, karena seseorang mampu melampaui kepentingan dirinya demi mewujudkan suatu kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan yang jika diwujudkan akan membawa keuntungan bagi berbagai kepentingan yang lebih kecil.
Para ilmuwan sosiobiologi tidak setuju dengan penjelasan semacam ini. Bagi mereka, perilaku altruis dapat dijelaskan secara ilmiah dengan mengembalikannya kepada masalah genetis. Bagi para ilmuwan, secara genetis individu bersifat egois. Sifat egois ini diwariskan dari induknya. Dalam konteks evolusi—seleksi alam—yang lebih dibutuhkan atau yang lebih meningkatkan daya saing individu dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya adalah sifat egois. Lalu, bagaimana bisa menjelaskan sifat altruis yang de facto ditemukan dalam kehidupan sosial manusia maupun binatang? Bagi ilmuwan sosiobiologi, sifat altruis hanya akan menghancurkan atau memusnahkan baik individu maupun spesies. Memiliki sifat altruis sama saja dengan merisikokan diri dalam proses seleksi alam, dengan akibat individu mengurangi peluang untuk memenangi persaingan. Individu akan kalah dalam persaingan survival for the fittest. Bagi para ilmuwan sosiobiologi, sifat altruis hanyalah tameng belaka. Individu berpura-pura altruis hanya dengan tujuan yang sifatnya egois, yakni memperbesar peluang keberlangsungan hidup. Demikianlah, secara genetis manusia dan binatang sebenarnya bersifat egois. Sifat-sifat nonegoistik hanyalah cara menyesuaikan diri dengan lingkungan supaya bisa bertahan hidup dalam proses evolusi.
Di sinilah Peter Singer menemukan “pintu masuk” dalam membela etika sekaligus menegaskan pemikiran-pemikirannya. Bagi Peter Singer, pada awalnya manusia bukanlah makhluk yang egoistis. Manusia adalah makhluk yang altruis. Peter Singer justru melihat bahwa menjadi egois dalam proses seleksi alam justru akan menghancurkan dan memusnahkan manusia sendiri. Contoh dilema moral yang dihadapi Jill dan Jack dalam tesis ini sebagaimana dikemukakan Peter Singer jelas menunjukkan ketidakegoisan manusia demi mempertahankan hidupnya. Bahwa sifat altruis ada dalam gen manusia dan diwariskan kepada keturunan secara proporsional. Dengan demikian, kalaupun ada individu yang musnah karena bersifat altruis, pewarisan sifat altruis tidak akan pernah musnah. Saudara dalam keluarga inti, anak, kemenakan, atau keponakan akan melanjutkan pewarisan sifat altruis kepada generasi berikutnya.
Inilah alasan mengapa Peter Singer menolak berbagai bentuk egoisme. Pandangan dasarnya jelas, secara genetis makhluk hidup bersifat altruis. Jika sosiobiologi ditolak karena perbedaan ranah antara sains dan etika, berbagai bentuk egoisme ditolak karena tidak menggambarkan kenyataan genetis manusia itu sendiri. Manusia dan binatang berinteligensi tinggi mampu mempertahankan hidupnya dan tidak musnah dalam proses evolusi yang keras bukan karena sifat keegoisan manusi, tetapi karena sifat altruistisnya.
***
Tesis ini mencoba mendeskripsikan pemikiran Peter Singer mengenai peran nalar dalam memperluas lingkaran wilayah moral. Satu hal sangat nyata dalam pemikiran Peter Singer mengenai altruisme: manusia dan binatang mau merisikokan dirinya dengan berperilaku altruis karena pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Pertimbangan rasional yang paling sederhana dalam perilaku altruis adalah prinsip etika balas budi. Artinya, seseorang mau bersikap altruis karena orang lain telah melakukan hal yang sama kepada mereka. Atau, dia mau melakukannya dengan maksud supaya di kemudian hari orang lain pun melakukan hal yang sama. Manusia dan binatang juga mengembangkan prinsip hukuman atas mereka yang tidak membalas kebaikan orang lain.
Bagi Peter Singer, wilayah, lingkungan, atau habitat tempat tinggal manusia sebenarnya adalah wilayah-wilayah moral (moral sphere). Manusia tidak bisa melepaskan diri dari wilayah moral ini sama seperti dia tidak bisa melepaskan diri dari tuntutan etika persis ketika secara alamiah (genetis) manusia didorong untuk melakukan kebaikan. Dalam wilayah moral semacam ini manusia dituntut untuk selalu menjustifikasi tindakannya, dan dengan demikian merumuskan prinsip-prinsip dasar tindakannya, sesederhana apapun prinsip itu.
Wilayah moral yang paling sederhana memiliki lingkaran yang melingkupi hanya sebuah keluarga inti. Di situ altruisme dan sikap baik lainnya dipraktikkan sebagai perwujudan paling nyata dari altruisme marga (kin altruism). Altruisme marga ini akan diperluas hingga meliputi sebuah keluarga besar dari satu garis keturusan yang sama. Bagi Peter Singer, bahkan dalam lingkup yang paling sederhana ini, manusia tidak pernah bisa membebaskan diri dari tuntutan justifikasi tindakan moral. Artinya, manusia dihadapkan pada pertanyaan mengapa berperilaku dalam cara tertentu dan bukan dalam cara yang lain. Bagi Peter Singer, jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi landasan bagi tindakan moral selanjutnya. Jadi, kalau seseorang bersikap baik pada orang tuanya karena moral patient adalah orang tuanya, alasan ini cukup menjadi landasan bertindak dalam lingkaran wilayah moral ini. Bahwa anak harus berperilaku baik terhadap orang tuanya.
Desakan akan justifikasi tindakan moral dan dorongan semangat socratic dialogue akan “memaksa” seseorang untuk terus mempertanyakan prinsip-prinsip dasar tindakannya. Misalnya, mengapa saya harus berlaku baik tidak hanya kepada keluarga intiku, tetapi juga kepada anggota keluarga besar lainnya? Atau pertanyaan apakah saya bisa berbuat baik bagi orang lain di luar keluargaku atau margaku? Apakah saya bisa mengorbankan kepentingan margaku demi mewujudkan kepentingan orang di luar margaku?
Bagi Peter Singer, pertanyaan-pertanyaan semacam ini memiliki makna ganda, pertama mendesakkan terjadinya perluasan lingkaran wilayah moral, tetapi juga menunjukkan kemampuan nalar dalam mengekspansi moral patient. Dengan kata lain, bagi Peter Singer, tuntutan akan justifikasi tindakan moral yang selalu dihadapi manusia tidak hanya memaksa seseorang merumuskan prinsip-prinsip moralnya yang semakin melingkupi sebanyak mungkin orang, tetapi juga menunjukkan perkembangan nalar itu sendiri. Dari sini kita melihat bahwa lingkaran wilayah moral yang semula sangat kecil karena hanya melingkupi keluarga inti, perlahan-lahan meluas melingkupi anggota marga, anggota spesies, antarspesies, bahkan melingkupi seluruh makhluk hidup. Semuanya ini terjadi karena kemampuan nalar.
Tuntutan akan justifikasi tindakan moral yang “memaksa” nalar terus memikirkan prinsip-prinsip moral yang lebih rasional dan objektif akan sampai pada level di mana berbagai pertimbangan nalar bersifat imparsial dan objektif. Peter Singer melihat bahwa imparsialitas adalah tingkat tertinggi yang mampu dicapai nalar. Nalar yang imparsial inilah yang akan mempertimbangkan berbagai kepentingan secara setara dalam setiap sikap dan tindakan moral. Inilah lingkaran wilayah moral yang paling luas yang bisa dicapai nalar, yakni ketika setiap moral patient diikutsertakan kepentingannya dalam berbagai pertimbangan moral bukan karena hubungan genetis atau kesamaan spesies, tetapi karena kepentingan utilitaris tertentu yang ingin direalisasikan.
Yang kemudian menjadi bahan perdebatan adalah penegasan Peter Singer bahwa nalar yang imparsial secara niscaya mewujudkan kepentingan etika utilitarisme. Memang pertanyaan yang tidak mudah dijawab ketika seorang pelaku moral telah bersikap imparsial dalam setiap sikap dan tindakan moralnya adalah kepentingan moral patient mana yang akan diprioritaskan ketika seluruh kepentingan telah dipertimbangkan secara setara? Di sinilah Peter Singer berpendapat, bahwa etika utilitarisme memberikan jawaban yang paling bisa diandalkan. Bahwa setelah mempertimbangkan secara setara berbagai kepentingan yang terkena dampak tindakan moral, prioritas tindakan moral harus diberikan kepada tindakan moral yang mewujudkan kepentingan dan kebahagiaan terbesar orang. Sementara moral patient meliputi semua sentient being, karena kemampuan mereka dalam merasa sakit dan hasrat mereka untuk bebas dari rasa sakit (mewujudkan kebahagiaan).***
GODAAN KEKUASAAN
Februari 10, 2009 at 3:07 am | In Artikel Populer | Leave a CommentTags: bayi sehat, citra, kekuasaan, nasionalisme Indonesia, penguasa
Tujuan tertinggi hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan. Karena keberadaan manusia adalah koeksistensi (makhluk sosial yang harus hidup bersama orang lain), maka kebahagiaan hanya bisa direalisasikan secara maksimal dalam masyarakat. Kebahagiaan lalu menjadi perkara bersama atau kebaikan umum (bonum publicum) yang harus diwujudkan bersama. Masyarakat dan negara memiliki tanggung jawab untuk mewujudkannya.
Di sinilah kita mengerti mengapa the founding fathers negeri ini menetapkan “masyarakat yang adil dan makmur” sebagai tujuan tertinggi negara yang harus diwujudkan. Bagi orang Indonesia, kebahagiaan sebagai bonum publicum dimaknakan sebagai “masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”, sebuah cita-cita luhur yang menekankan pentingnya mewujudkan kemakmuran tanpa menomorduakan keadilan, dan sebaliknya.
Dalam praktik politik, harus diakui tidak mudah mewujudkan cita-cita mulia tersebut. Dari berbagai kondisi yang dituntut demi tercapainya kesejahteraan, salah satunya adalah “pentingnya figur politik yang bersedia mendedikasikan kekuasaanya bagi kepentingan orang banyak” (Andre Ata Ujan, 2009: 53).
Prasyarat ini terdengar seperti slogan politik, mungkin karena telinga kita terbiasa dengan berbagai iklan politik yang membanjiri kesadaran kita. Melalui iklan politik, partai politik pendukung pemerintah coba meyakinkan kita bahwa merekalah yang paling peduli pada kepentingan rakyat. Bahwa merekalah yang paling sukses mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat, sementara partai-partai “oposisi” berusaha mementahkan klaim-klaim tersebut dengan menunjukkan berbagai kegagalan penguasa dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.
Mengikuti filsafat politik Aristoteles, merealisasikan kebahagiaan bersama melalui kekuasaan seorang pemimpin yang mendahulukan kepentingan rakyat memang merupakan kondisi yang perlu (necessary), tetapi bukanlah kondisi yang cukup (not sufficient). Kondisi lain yang juga tidak kalah penting adalah pentingnya memiliki pemimpin atau penguasa yang tidak suka akan kekuasaan (Andre Ata Ujan, 2009: 53).
Sepintas seolah-olah ada kontradiksi dalam kedua kondisi ini—opsi memajukan kepentingan rakyat dan sikap tidak menyukai kekuasaan. Bukankah kesukaan akan kekuasaan (passion to power) mendorong seseorang untuk berkuasa? Sanggupkah seseorang yang sedang berkuasa membebaskan dirinya dari godaan kekuasaan, sehingga kekuasaannya dijalankan semata-mata demi kebahagiaan atau kesejahteraan masyarakat?
Tidak mudah menemukan penguasa di negeri ini yang tidak suka akan kekuasaan. Bahkan kekuasaan yang legitim karena mendapat ukungan mayoritas masyarakat dalam pemilihan umum pun sulit membebaskan dirinya dari godaan kekuasaan. Kekuasaan itu begitu memikat sehingga orang yang memilikinya seakan-akan sulit melepaskan diri darinya. Betapa tidak! Setiap putusan atau kebijakan, semulia apapun, selalu memiliki pamrih (interest). Bisa saja pamrih tidak dinyatakan secara langsung dan eksplisit, misalnya agar dirinya bisa terpilih kembali, tetapi concern pada akumulasi pencitraan yang positif dari seorang penguasa ujung-ujungnya pasti mengarah ke perpetuasi kekuasaan. Jika seorang penguasa memang tidak suka kekuasaan, dia tidak akan terlalu memusingkan pencitraan, survei, jajak pendapat, atau kritik-kritik “meruntuhkan” dari para lawan politiknya.
Memang sulit menarik garis tegas antara kekuasaan dan sikap imparsial atas kekuasaan yang dimiliki. Dalam konteks ini, seolah-olah menjadi bagian dari logika kekuasaan yang harus diterima, bahwa passion to power akan menarik seseorang jauh ke dalam pusaran kekuasaan sebegitu rupa, sehingga begitu berkuasa dia tidak akan memikirkan hal lain selain melanggengkan kekuasaannya. Bahwa seluruh kebijakan dan keputusan politik akan diarahkan ke tujuan itu, langsung maupun tidak langsung.
Meminjam asumsi Jeremy Bentham, semua tindakan (termasuk tindakan politik) dapat dikenali karakternya sebagai “tindakan yang baik” (good action) atau “perbuatan yang baik” (good deeds). Sebuah tindakan yang baik tidak memiliki motif yang lain selain demi kebahagiaan terbesar masyarakat (greatest good for the greatest number of people). “Tindakan yang baik” bersifat imparsial dalam arti dilakukan semata-mata demi kebahagiaan terbesar orang (Elizabeth H. Wolgast, 1987: 87-88). Sementara “perbuatan yang baik” sering hanya menjadi alat untuk meraih tujuan-tujuan lain yang disembunyikan. Kekuasaan yang mementingkan pencitraan menjalankan mandat kekuasaannya bukan sebagai sebuah tindakan politik yang baik (bernilai dan bermoral), tetapi sekadar sebuah perbuatan politis yang baik, yang tujuannya mudah dikenali: melanggengkan kekuasaan itu sendiri.
Exercise of power haruslah sebuah tindakan yang baik (good action) yang memosisikan kebahagiaan terbesar warga negara sebagai tujuan tertinggi setiap kebijakan. Dan ini harus sungguh dialami sebagai realitas politik, bukan sekadar klaim keberhasilan sebagaimana menghiasi iklan-iklan politik belakangan ini. Pada akhirnya, penguasa yang baik bukanlah penguasa yang diam-diam berusaha melanggengkan kekuasaannya dengan berbagai cara, tetapi dia yang tak henti-hentinya berusaha memajukan kepentingan seluruh rakyat, tidak peduli apakah dirinya terpilih kembali atau tidak.
KUNCI KESUKSESAN ADA DALAM DIRI SETIAP ORANG
Februari 6, 2009 at 6:50 am | In Resensei Buku | Leave a Comment
——————————————————————————————————————— Judul Buku : Share the Key. 30 Teknik Terapan NLP Motivasi Pengarang : Krishnamurti Tebal : 258 halaman Penerbit : Kanisius, Yogyakarta: 2008 ———————————————————————————————————————
Majalah Warta Bisnis menobatkan dia sebagai salah satu dari 20 Top Motivator Indonesia. Dialah Krishnamurti, putra kelahiran Palembang 44 tahun silam, yang bercita-cita memotivasi orang supaya bisa berubah dari keadaan “miskin mental” menuju keadaan “kaya mental”. Melalui media talk-show di radio, seminar di berbagai daerah di tanah air, atau berbagi gagasan di media massa cetak atau elektronik, mindset motivator lulusan Neuro Language Programming (NLP) dari NLP Academy, London ini berusaha mengubah mindset orang, bahwa kesuksesan siapa saja bisa sukses dalam hidup.
Krishnamurti sekarang boleh berbangga hati. Setelah melatih dan berceramah di lebih dari 6.000 kelas dalam kurun waktu enam tahun, pria klimis yang “ingin jadi berguna” bagi setiap orang ini akhirnya menerbitkan sebuah buku berjudul Share the Key. 30 Teknik Terapan NLP Motivasi. Buku kecil dengan desain sangat bagus ini tergolong unik, tidak saja karena dilengkapi CD dan sebuah buku bonus “Teknik Cepat dan Teruji Jadi Miliarder” setebal 24 halaman, tetapi juga karena dilengkapi 70 untaian kata mutiara pemberi motivasi. Tentu buku ini memiliki peran tersendiri dalam memotivasi orang ketika situasi sosial, ekonomi, dan politik sehari-hari cenderung mengecewakan dan frustrating.
Struktur buku ini pun unik. Sebagai pemegang kunci kesuksesan, Krishnamurti ingin membagi pengalaman hidupnya melalui 39 teknik terapan NLP motivasi yang dibungkus dalam 7 fundasi utama. Sebagai petunjuk teknis memotivasi mindset, buku ini berisi anjuran, nasihat, dan latihan bagaimana memotivasi diri (pikiran) untuk meraih kesuksesan.
Bagi Krishnamurti, perubahan mindset harus dimulai dengan perubahan keyakinan diri. Orang harus menyadari bahwa dirinya dilahirkan sebagai pemenang (baca: menjadi orang sukses), dan itulah “kodratnya” (hlm 25-26). Kunci untuk menjadi pemenang ada di tangan setiap orang (hlm. 28). Karena itu, orang harus meyakini “kodratnya” ini, menetapkan cita-citanya setinggi mungkin, dan memutuskan dengan berani untuk mewujudkan cita-cita tersebut (hlm. 33-40).
Tentu orang tidak mendadak menjadi sukses, karena ada seribu satu hambatan; salah satunya adalah hantu kegagalan masa lalu. Melalui teknik memotivasi mindset, Krishnamurti meyakinkan pembaca, bahwa masa lalu bias diselesaikan. Yang mungkin baru adalah penyembuhan masa lalu melalui kekuatan nafas (hlm. 63-70). Intinya, melalui olah nafas, orang dibiasakan untuk menyadari diri dan lingkungannya, menerima dan berdamai dengan keadaannya, kemudian mensugesti diri untuk meraih keadaan yang lebih baik dan sukses.
Setelah bedamai dengan masa lalu, Krishnamurti mengusulkan agar langkah selanjutnya adalah keberanian untuk mentransformasi diri dan komitmen menghidupi kekiniaan. Masa lalu dengan berbagai kegagalan dan pengalaman pahit tidak cukup diterima atau dimaafkan. Karena buku ini sebuah teknik memotivasi mindset, maka yang dibutuhkan adalah usaha manusia keluar dari pikirannya sendiri mengenai kegagalan. Bagi Krishnamurti, masalah terbesar sebenarnya ada di pikiran, karena itu penting sekali mentranformasi pikiran dari keadaan sedih, kacau, putus asa (kegagalan) kepada optimisme dan penuh harapan, bahwa dirinya “ditakdirkan” untuk sukses. Sekali lagi, tranformasi ini tidak terjadi secara mendadak, tetapi melalui berbagai proses dan tahapan (hlm 82-88). Yang penting dari semua tahapan transformasi diri itu adalah kesadaran bahwa alasan untuk perubahan diri lahir sebagai kekuatan maha dasyat dari dalam diri setiap orang. “Sesungguhnya sangat sederhana untuk menjadi berhasil. Kita hanya perlu satu Guru, satu Kiblat saja. Guru itu adalah di dalam diri kita” (hlm. 93).
Memotivasi pikiran untuk meraih keberhasilan tidak akan bermakna apa-apa kalau seseorang tidak memiliki komitmen untuk menghidupi kekinian, memutuskan untuk memulai perubahan saat ini juga. Sasaran utama buku ini sebenarnya bukan menambah pengetahuan yang baru mengenai bagaimana memotivasi pikiran. Buku ini mendorong pembacanya berani memutuskan untuk berubah, sekarang juga atau tidak sama sekali. Itulah alasan mengapa Krishnamurti menantang pembacanya untuk menghidupi keseharian dalam keadaan fokus, termotivasi, sambil terus berusaha secara konsisten mewujudkan apa yang dicita-citakan.
Hidup manusia memang tidak gampang sebagaimana diteorikan. Bagi yang pernah gagal, pengalaman pahit sering menjadi momok yang menakutkan, bahkan menarik seseorang ke belakang. Bagi yang belum pernah gagal, ketidakpercayaan pada potensi diri pun sering menjadi hambatan. Ini disadari betul oleh Krishnamurti, bahwa menyelesaikan dan mengampuni masa lalu dan memotivasi pikiran untuk maju harus diikuti oleh pertama, tekad untuk menjaga api semangat tetap menyala di dalam hati. Dan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya selalu melakukan refleksi diri atas berbagai hal yang telah dikerjakan (hlm. 183-194). Kegiatan ini menjadi semacam evaluasi diri untuk melihat hal-hal yang bisa menghambat kemajuan diri dan kekuatan yang mampu mengubah hambatan menjadi jalan menuju kesuksesan. Inilah yang menjadi semacam spiritualitas yang mendorong orang untuk maju. Krishnamurti akan terus “menghipnotis” pikiran pembacanya, “Keep on moving” (hlm. 237), jangan panik, tetap tenang menghadapi berbagai tantangan, karena “Kamulah yang dapat menyelesaikan semuanya” (hlm 255).
Kedua, pentingnya memiliki misi hidup. Memang seseorang penting memotivasi pikirannya untuk terus maju dan meraih kesuksesan. Orang juga harus berani menghidupi kesehariannya. Tetapi tidak kalah penting adalah perlunya menetapkan misi hidup. Supaya mencapai kesuksesan dalam hidup, orang harus tahu tujuan hidupnya, apa yang ingin dicapai dalam hidup, apa tujuan tertinggi hidupnya, dan sebagainya (hlm 151-160). Misi hidup inilah yang menjadi semacam kobaran api yang menyala-nyala dalam diri, yang mendorong dan memotivasi setiap orang untuk merealisasikannya.
Buku ini bukanlah sebuah tinjauan teoretis ilmiah mengenai motivasi, sehingga tidak perlu merumuskan struktur dan alur pikiran yang logis dan komprehensif. Penulis buku ini pun tidak bermaksud demikian. Kekuatan buku ini terletak pada berbagai teknik motivasi pikiran yang sangat sederhana dan siap dioperasikan oleh siapa saja. Tentu kembali ke masing-masing kita, apakah siap dan berani mengubah hidup demi meraih kesuksesan? Kalau siap, bacalah buku ini dan ikuti setiap langkah konkret yang dikemukakan Krishnamurti.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.