TANTANGAN MELAHIRKAN GENERASI UNGGUL
Januari 22, 2009 at 4:13 am | In Artikel Populer | Leave a CommentTags: guru, kelas, manusia unggul, moral, pendidikan

Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya membebaskan diri dari kebodohan, tetapi membiarkan diri dibentuk secara moral.
Kemerosotan moral bangsa ini seakan tidak terbendung lagi. Korupsi tetap saja terjadi di tengah usaha gencar KPK memberantasnya. Ribuan masalah lainnya seperti jual beli perkara di pengadilan, penggelapan pajak, pungutan liar, rendahnya disiplin kerja pejabat publik, skandal seks, ikut menenggelamkan republik ini. Bagi mereka yang peduli pada pentingnya berperilaku moral dalam kehidupan bernegara, berbagai tindakan tidak bermoral ini seakan menjadi pertanda kehancuran bangsa.
Kita lalu bertanya, “Mengapa tindakan-tindakan tidak bermoral di negara kita justru dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai orang beragama, yang tahu patokan-patokan benar-salah secara moral?” Dari berbagai analisis dan kemungkinan jawaban yang bisa dikemukakan, salah satunya berhubungan dengan masalah pendidikan. Tesisnya berbunyi: pendidikan agama, pendidikan nilai, dan pendidikan moral tidak mengefek pada perilaku karena pendidikan di negara kita lebih menekankan aspek pengetahuan tanpa mempedulikan dimensi transformasi perilaku. Padahal generasi unggul hanya bisa dihasilkan oleh pendidikan yang memadukan secara jitu aspek pengetahuan (knowledge) dan aspek perubahan sikap (moral excellence).
Pendidikan adalah usaha yang secara sadar dilakukan dengan tujuan “mewariskan kepada generasi-generasi yang baru semua pengalaman peradaban yang dikembangkan oleh generasi-generasi yang dahulu” (Maurice Duverger, 1983: 333). Tujuannya tidak lain “to teach useful skills and to shape character, so that younger students may fit in with the economic needs and political common sense of the community” (Robert S. Brumbaugh dkk, 1963: 35). Jelas, pendidikan yang benar memperhatikan kedua aspek ini. Di satu pihak negara berhak merekayasa model pendidikan tertentu demi mencerdaskan bangsa sebagaimana dicita-citakan konstitusi. Sementara di lain pihak, setiap orang mengalami pengalaman pendidikan (individual experiences) sebagai proses pengentasan kebodohan dan keterbelakangan serta kesempatan membentuk karakter bermoral.
Peran Negara
Negara memainkan peran sentral mencerdaskan kehidupan bangsa melalui rekayasa sistem pendidikan tertentu. Sistem pendidikan nasional diterjemahkan secara bertanggung jawab dalam model kurikulum tertentu. Kalau diperhatikan, model kurikulum lahir dari upaya menyesuaikan tujuan ideal pendidikan dengan kebutuhan-kebutuhan nyata sehari-hari. Demikianlah, pendidikan dipraktikkan dalam kerangkan membudayakan individu (Francis Wahono, 2001: 4) di satu pihak dengan upaya menginjeksi nilai-nilai sosial, budaya, ideologi, agama serta keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk survival di lain pihak.
Pertanyaannya, rancangan pendidikan atau kurikulum seperti apa yang seharusnya didesain supaya kita bisa menghasilkan manusia yang unggul? Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang menjadi panduan pelaksanaan pendidikan nasional mencerminkan filsafat pendidikan tertentu yang sebetulnya mampu menghasilkan manusia unggul. Dengan menetapkan isi kurikulum pada tuntutan minimal (kompetensi dasar) dan memberikan ruang kepada setiap satuan pendidikan (sekolah) untuk mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan, KTSP mengafirmasi pandangan filsafat pendidikan yang memposisikan siswa sebagai shareholder. Lebih dari sekadar objek atau tujuan pendidikan, siswa dengan seluruh keunikan pengalamannya justru menjadi titik berangkat seluruh proses pendidikan. Bahwa pendidikan seharusnya dialami dalam sebuah komunitas tertentu dengan nilai-nilainya yang khas serta dialami sebagai pengalaman yang sangat personal.
Ada tiga hambatan bagi negara dalam “menciptakan” manusia unggul. Pertama, perubahan paradigma pendidikan sebagaimana ada dalam KTSP tidak diikuti dengan peralihan dari paradigma lama ke paradigma baru. Masih banyak guru yang gagap melaksanakan KTSP persis ketika paradigma lama memposisikan guru sebagai “yang paling tahu” vis a vis siswa sebagai objek yang harus menerima instruksi dan pengajaran dirasakan jauh lebih enak dan mapan daripada menempatkan diri sebagai mitra dan teman dialog siswa (paradigma baru). Itu artinya hambatan “mencetak” manusia unggul ada pada guru sendiri.
Kedua, dalam konteks krisis moral yang sedang melanda negara kita, praktik pendidikan selama ini belum bersifat transformatif dan membebaskan. Praktik pendidikan di negara ini umumnya terbatas pada reproducing knowledge dan bukan pada having knowledge as a tool for civilizing the world and the self. Bahwa praktik kehidupan bernegara yang tidak bermoral mulai dari pencurian kecil-kecilan, pembunuhan sampai kepada “pencurian” uang negara (baca: korupsi) untuk sebagiannya mau tidak mau dikembalikan kepada kegagalan pendidikan. Dan bahwa dalam pendidikan anak-anak dibanjiri oleh berbagai macam informasi (knowledge) yang tidak mampu membentuk karakter atau kepribadian mereka.
Ketiga, mengutip apa yang dikatakan Maurice Duverger, ada keprihatinan lain yang jauh lebih serius, yakni pentingnya peran negara dalam menyelenggarakan pendidikan demi suksesnya pewarisan pengalaman peradaban kepada generasi muda. Peranan negara memang menjadi faktor penting dalam pewarisan pengalaman peradaban karena adanya keanekaragaman pengalaman peradaban itu sendiri dalam sebuah negara. Bahwa dalam memainkan peran ini negara menawarkan semacam kerangka yang kepadanya segala pengalaman peradaban ditempatkan atau dikerangkakan. Dan bahwa penentuan kerangka umum tersebut terkait erat dengan rekayasa di bidang pendidikan berdasarkan nilai-nilai hidup bersama yang telah disepakati untuk dijadikan sebagai acuan hidup bersama.
Persoalannya bukan apakah kita memiliki pengalaman peradaban atau tidak, tetapi pengalaman peradaban manakah—terutama dalam konteks kehidupan sebagai bangsa selama masa orde baru, lalu orde reformasi—yang hendak kita wariskan kepada generasi muda? Tidak diragukan lagi, kita memiliki peradaban yang bernilai tinggi bahkan sejak zaman pra sejarah; dan ini dapat kita buktikan melalui hasil-hasil kebudayaan material serta nilai-nilai yang diwariskan kepada kita dan yang mendasari kehidupan sosial kita. Yang diragukan adalah apakah betul bahwa kita sekarang ini sungguh-sungguh memiliki pengalaman peradaban? Manakah yang disebut pengalaman peradaban ketika kita masih mementingkan kepentingan kita sendiri? Manakah yang disebut pengalaman peradaban ketika kita masih berpikir secara sektoral, berjuang untuk menegakkan sesuatu yang menjadi kepentingan kelompok kita saja dan bukan seluruh masyarakat? Apakah kita punya pengalaman peradaban berhadapan dengan pelanggaran hak asasi manusia, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan, penolakan untuk diaudit kekayaan pribadinya, membenci dan memerangi kelompok lain, memusuhi suku atau daerah lain? Apakah ada pengalaman peradaban di hadapan ketidakjelasan hukum atau pribadi penegak hukum yang mengkhianati profesinya? Sulit menghasilkan manusia unggul tanpa dukungan pengalaman peradaban yang juga unggul (excellent culture).
Tugas Individu
Kembali ke pertanyaan awal, kemerosotan moral terjadi tidak hanya karena negara gagal melaksanakan pendidikan yang membebaskan (transformatif) dan membudayakan. Kualitas moral individu turut menjadi alasan kemerosotan moral bangsa.
Pendidikan tidak hanya membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kebodohan. Pendidikan juga memampukan manusia merencanakan hidup dan menyiasati perilakunya secara rasional. Pendidikan mampu meningkatkan rasionalitas dan inteligensi manusia. Itulah sebabnya mengapa semakin tinggi pendidikan semakin memampukan seseorang mengetahui yang baik dan buruk, benar dan salah, objektif dan subjektif, dan seterusnya.
Berguru pada filsafat pendidikan Plato, pendidikan seharusnya memampukan individu “to lead an intelligent life in which he does not allow his desire for fame or fortune to run beyond all limits, creating inevitable unhappiness” (Robert S. Brumbaugh dkk, 1963: 36). Rasio yang telah dibentuk melalui pendidikan dan yang semakin matang akan mengendalikan perilaku sebegitu rupa sehingga individu sanggup menghindari perilaku-perilaku tak bermoral yang hanya akan menyebabkan ketidakbahagiaan.
Masalahnya, tidak setiap orang—termasuk yang sudah berpendidikan—membiarkan sebagian atau seluruh hidupnya dibimbing oleh rasionya. Di sinilah terletak tantangan melahirkan generasi unggul: pendidikan seharusnya juga mempengaruhi individu supaya tidak hanya tahu yang baik dan buruk secara moral (intelligent life), tetapi juga memiliki kehendak yang kuat (will) untuk selalu hidup menurut patokan-patokan moral. Dalam arti itu, pendidikan yang sanggup melahirkan generasi unggul adalah pendidikan yang juga sanggup memperkuat kehendak supaya setiap orang yang tahu kebaikan moral benar-benar mau hidup sesuai pengetahuannya tersebut.
TIGA FONDASI MERAIH KESEJAHTERAAN
Januari 1, 2009 at 12:15 pm | In Resensei Buku | 3 CommentsTags: bisnis, F.X. Harry Cahya, membuka usaha, mengenal diri, Penerbit Kanisius, quantum asset, resensi buku
Judul Buku: Quantum Asset. Mengembangkan Trilogi Asset Mencapai Hidup yang Berkualitas
Penulis: F.X. Harry Cahya
Halaman: 250 halaman
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta, 2008
Apa yang ingin disampaikan F.X. Harry Cahya ketika menulis buku Quantum Asset ini? Dua kata kunci dari judul buku ini bisa memberi gambaran. Kuantum dalam Ilmu Fisika adalah bagian terkecil dari gelombang elektromagnetik yang tidak bisa dibagi lagi. Meskipun memiliki sifat nirmassa (foton), kuantum mampu menghasilkan cahaya ketika suatu massa dalam kuantitas tertentu mengalami pemanasan. Dari sisi ini Harry Cahya menggunakan kata kuantum dalam arti populer sebagaimana umumnya dipakai dalam filsafat manajemen yang memotret kesuksesan sebagai kerja sama dinamis antarbagian atau unit terkecil demi mencapai suatu hasil tertentu.
Dalam pemahaman Harry Cahya, unit-unit terkecil (kuantum) ini adalah “kekayaan” (asset) yang kalau disinergikan akan menghasilkan tidak hanya energi maha dasyat, tetapi juga kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Penulis buku ini menawarkan tiga aset penting yang harus bersinergi demi mencapai kesejahteraan, yakni aset diri, aset jaringn, dan aset ekonomi.
Bagaimana seseorang mengelola aset diri demi mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya? Aset diri adalah seluruh kekayaan, potensi, dan talenta yang dimiliki seseorang (hlm 41). Menurut Harry Cahya, aset diri dapat menjadi kekayaan untuk mencapai kesejahteraan jika dipahami sebagai nilai, martabat, dan talenta (hlm 45). Diri dengan seluruh kemampuan dan keterbatasannya adalah nilai pada dirinya, karena itu bermartabat mulia sebagai ciptaan Tuhan. Manusia sekaligus dianugerahi talenta tertentu untuk membangun dunia dan merealisasikan diri demi mewujudkan kesejahteraannya. Karena itu, sikap yang benar terhadap aset diri bukan memperalatnya hanya demi kenikmatan sesaat, tetapi mewujudkan seluruh potensi dan talenta yang ada demi kebahagiaan yang lebih mulia dan abadi.
Bagi Harry Cahya, realisasi seluruh potensi dan talenta diri hanya mungkin jika orang memiliki citra diri yang unggul (hlm 52-57) serta mengenal dengan baik potensi-potensi dirinya (hlm 58-61). Pengenalan akan potensi diri inilah yang pada gilirannya melahirkan semangat (antusiasme) untuk mewujudkan hal terbaik dalam diri (hlm 59) sekaligus menjadi kritik diri dalam menilai dan memperbaiki kelemahan-kelemahan diri. Tentu penulis buku ini benar ketika mengatakan bahwa realisasi seluruh potensi diri dapat diefektifkan melalui merumuskan visi dan misi pribadi (hlm 62-70). Tetapi yang lebih penting dari itu adalah tekad untuk mewujudkan potensi diri tersebut, sehingga apa yang telah dicita-citakan tidak tinggal sebagai angan-angan belaka. Harry Cahya memaknakan hal terakhir ini sebagai “konsistensi” (hlm 71-72).
Cita-cita diri untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraannya tidak mungkin terjadi dalam ruang vakum. Sebagai makhluk sosial, cita-cita kesejahteraan direalisasikan dalam dunia bersama orang lain. Itulah pentingnya relasi atau hubungan sosial sebagai aset jaringan. Tidak bisa dihindari, konsep aset jaringan dalam buku ini (hlm 72-104) sangat kental dengan gagasan network marketing yang cukup dikuasai penulisnya. Bahwa seseorang akan lebih mudah merealisasikan potensi dirinya secara maksimal kalau pada saat bersamaan dia juga memperluas jaringannya (network).
Penulis buku ini cukup detail menjelaskan teknik-teknik memperluas jaringan, bahkan mencapai jumlah yang tak terhingga. Lebih teknis lagi, Harry Cahya bahkan menekankan perlunya target dalam memperluas jaringan, misalnya lima orang dalam sehari, serta kemampuan mengklasifikasi mitra dalam jaringan sesuai kelas dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan mereka. Karena itu, realisasi potensi diri yang menjadi bab pembuka buku ini seharusnya dibaca sebagai kemampuan memahami potensi bisnis dalam diri sebegitu rupa dan merealisasikannya demi melayani kebutuhan-kebutuhan mitra (teman-teman dalam jaringan) melalui menyediakan dan menyuplai barang dan jasa yang mereka butuhkan.
Bagaimana dengan aset ekonomi? Bagi penulis buku ini, realisasi maksimal dari aset diri (potensi bisnis) dan aset jaringan akan mewujudkan aset ekonomi. Betapa tidak! Seseorang yang memiliki potensi pemasar (marketer), misalnya, akan berusaha mewujudkan potensi bisnisnya demi meraih angka penjualan tertinggi melalui melayani kebutuhan-kebutuhan mitra dalam jaringan bisnis yang sudah dibangunnya, tentu dengan catatan jaringan tersebut dipelihara, dipertahankan, dan diperluas.
Harry Cahya menyadarkan pembacanya bahwa aset ekonomi memang pertama-tama adalah kekayaan dan keuntungan (material) yang bisa diraih seseorang yang mampu merealisasikan potensi bisnis dalam dirinya bersama-sama dengan para mitranya dalam jaringan yang telah dibentuknya. Tetapi lebih dari itu, penulis buku ini juga mengingatkan agar pengenalan akan potensi diri (potensi bisnis) serta kemampuan membangun jaringan harus sampai pada pengenalan diri, apakah seseorang hanyalah pekerja (employee), menjalankan usaha sendiri (sef-employed), pemilik usaha (business owner), atau investor? (hlm 112). Penulis buku ini sangat yakin, bahwa realisasi maksimal dari seluruh potensi bisnis dalam diri melalui jaringan yang semakin luas tidak hanya menghasilkan aset ekonomi dalam jumlah besar, tetapi juga memampukan seseorang beranjak dari level pekerja (employee) kepada menjadi investor. Jelas, salah satu tujuan buku ini adalah menginspirasi pembaca untuk menjadi investor-investor baru.
Lalu, apa itu kesejahteraan? Mengikuti logika buku ini, kesejahteraan yang diuraikan dalam bab lima merupakan deskripsi tercapainya hubungan dinamis antara aset diri, aset jaringan, dan aset ekonomi. Penulis buku ini sebenarnya cukup berhasil menunjukkan keadaan sejahtera tersebut. Meskipun demikian, mengekstensi penjelasan kesejahteraan meliputi area kesejahteraan fisik, finansial, keluarga, spiritual, sosial, dan mental (hlm 124-131) menyebabkan uraian menjadi terlalu panjang sehingga kehilangan fokus. Sementara itu, mendeskripsikan kesejahteraan bangsa (hlm 132-134) sebagai bagian dari perwujudan Quantum Asset terlalu berlebihan dan dipaksakan. Sementara itu, tema-tema lain yang dibahas dalam buku ini (perjalanan sukses di bab 6, paradigma dan prinsip sukses di bab 7, pilihan di bab 8, perubahan di bab 9, enterpreneurship di bab 10, dan pencerahan di bab 11) tidak terlalu relevan dengan Quantum Asset. Usul saya, tema-tema ini dapat diterbitkan menjadi buku tersendiri.
Sekadar koreksi kecil, karena ada tiga aset yang dibahas maka judul buku ini seharusnya Quantum Assets (bentuk plural karena menjelaskan tiga aset manusia). Untuk konsistensi, aset diri, aset jaringan, dan aset ekonomi yang dibahas dalam buku ini jelas konsep dalam Bahasa Indonesia. Karena itu, kata aset harus ditulis satu “s”.
Bagaiamanapun, buku ini sangat inspiratif, terutama bagi mereka yang ingin terjun dalam dunia bisnis tetapi masih ragu-ragu dengan potensi dirinya. Paling tidak secara konseptual buku ini sudah mampu membuktikan bahwa mengembangkan bisnis itu tidak sulit. Tinggal sekarang bagaimana keberanian setiap orang memutuskan untuk mengembangkan seluruh potensi bisnis dalam dirinya dengan segala risikonya. Inilah hal tersulit yang harus dihadapi setelah membaca buku ini.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.