EMPAT MODEL CINTA
November 8, 2008 at 4:55 am | In Filsafat | 8 CommentsTags: C.S. Lewis, Cinta, eros, kasih, model cinta, nafsu, sayang
Apa itu cinta? Ketika pertanyan ini diajukan, para mahasiswa saya menjawab dengan cukup bersemangat. Umumnya mereka mengakui, bahwa cinta itu perasaan yang timbul dalam diri manusia, yang mendorong manusia untuk membuka diri, menerima dan mengasihi orang lain. Bagi mereka, perasaan ini adalah anugerah dari Tuhan sendiri. Karena itu, mereka melihat getar, emosi, perasaan atau gelora cinta sebagai sesuatu yang berasal dari Tuhan sendiri. Dengan konsekuensi, cinta harus direalisasikan secara utuh dan positif. Cinta harus menemukan belahan jiwanya. Cinta harus menyatakan hasratnya kepada dia yang dicinta. Cinta yang tulus apa adanya akan membuka pengalaman seseorang mengalami kehadiran Tuhan sendiri.
Demikianlah, Klementine Ivana, mahasiswa saya dari kelas 05 PWM mengatakan:
Cinta adalah sebuah penerimaan tanpa sebuah tuntutan, bukan sebuah keegoisan untuk setiap ketidakberdayaan, tapi dia adalah penopang untuk setiap harapan. Cinta adalah keindahan yang murni tanpa kepalsuan, yang memberi imajinasi hidup dalam keselarasan realita dan impian. Cinta yang indah bukanlah ungkapan napsu yang berjalan dalam ketidaksabaran dan pemuasan diri. Cinta yang indah tidak merusak dan tidak menyebabkan tangisan kesedihan. Di dalam cinta ada senyum ada kelembutan ada kedamaian dan ada kenyataan yang membahagiakan sebab didalamnya ada kenyataan dan tujuan. Cinta adalah kepastian, tiada keragu-raguan, tiada yang membingungkan. Cinta adalah sebuah pondasi kebahagiaan sebab didalamnya ada penghargaan dan penghormatan. Cinta adalah keindahan yang tanpa batas, sebab didalamnya ada kasih yang melindungi dan selalu ingin melindungi, membentang melampaui setiap keterbatasan yang fana.”
Sebagai pengalaman yang sangat khas, manusia sering gagap melukiskan perasaan cintanya. Meskipun demikian, perasaan cinta dapat direfleksikan dan ditelusuri fondamen-fondamennya. Dari sekian banyak pemikir yang berbicara mengenai cinta, C.S. Lewis memiliki pandangan yang sangat klasik mengenai perasaan yang satu ini. Lewis menulis sebuah buku mengenai cinta yang sangat fenomenal dan menjadi klasik, berjudul The Four Loves. Meskipun mengeksplorasi hakikat cinta dari sudut pandang Kristiani, buku yang sangat bagus untuk dibaca semua orang. Lagi pula seorang C.S. Lewis adalah filsuf, yang refleksi dan pemikiran kritisnya mampu melampaui berbagai sekat suku, agama, atau ideologi.
Melalui buku ini Lewis meneropong cinta dari pengalaman-pengalaman yang direfleksikan dan contoh-contoh literatur. Isi dari refleksi dan eksaminasi mengenai cinta diawali dengan pengakuan Lewis secara keliru atas kata-kata Yohanes “Allah adalah kasih” sebagai jalan masuk kepada pemikirannya sendiri. Dengan membedakan antara need-love (cinta seorang anak kepada ibunya) dari gift-love (merupakan kasih Allah kepada manusia ciptaanNya), Lewis sampai pada kontemplasi bahwa hakikat dari kategori-kategori cinta jauh lebih rumit dari pada cinta pada awalnya kelihatan. Sebagai akibat, Lewis merumuskan landasan pemikirannya melalui mengeksplorasi hakikat dari kenikmatan (pleasure). Lewis kemudian membagi cinta ke dalam empat kategori, didasarkan terutama pada empat kata Bahasa Yunani yang menggambarkan cinta, yakni afeksi (affection), persahabatan (friendship), eros, dan kedermawanan (charity).
Bagaimana keempat model cinta ini bisa dijelaskan lebih lanjut?
1. Afeksi (affection)
Kata Bahasa Yunani pertama mengenai cinta adalah storge (affection). Secara harfiah, afeksi diartikan sebagai tender attachment (kelekatan yang lembut atau lunak). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI/2003) mengartikannya sebai “rasa kasih sayang yang melibatkan perasaan dan emosi yang lembut atau lunak.” Storge atau afeksi sendiri sebenarnya berarti kesenangan atau kegemaran melalui ikatan keluarga, terutama cinta di antara anggota keluarga atau cinta antara orang yang menemukan diri mereka berada bersama karena kebetulan. Jenis cinta ini digambarkan sebagai model cinta yang paling alamiah, bersifat emotif, dan yang mengikat atau merekatkan cinta secara keseluruhan. Jenis cinta ini bersifat alamiah dalam arti ia ada atau muncul tanpa paksaan. Jenis cinta ini juga bersifat emotif karena merupakan akibat atau hasil dari hubungan yang sifatnya kekeluargaan.
Ironisnya, kekuatan cinta jenis ini justru sekaligus merupakan kelemahannya. Jenis cinta ini merupakan sesuatu yang sudah ada dalam diri manusia, semacam “built-in”, ada secara alamiah. Karena itu orang suka mengharapkan bahkan menuntut kehadirannya, tidak peduli perilaku mereka dan konsekuensi-konsekuensi alamiahnya.
2. Persahabatan (friendship)
Cinta yang kedua bermodelkan persahabatan, dalam Bahasa Yunani diistilah sebagai philia. Cinta model ini dipahami sebagai jenis cinta yang merupakan ikatan yang antara manusia yang memiliki kesamaan kegiatan (aktivitas) dan kegemaran. Demikianlah, afeksi terjadi antara dua orang yang sama-sama suka menonton sepak bola, suka memancing, suka mengoleksi motor gede, dan sebagainya.
Cinta sebagai ikatan yang mendalam antarmanusia ini melampau jenis cinta afeksi. Persahabatan dibangun bahkan ketika dua atau lebih orang tidak memiliki hubungan kekerabatan sama sekali. Jenis cinta ini diasosiasikan hanya dengan dorongan atau emosi.
Karena itu, jenis cinta ini sering dipandang sebagai ideal. Dua atau lebih orang yang saling mencintai membebaskan diri untuk mendahulukan kepentingan atau agendanya masing-masing. Paradoks cinta ini terletak pada kenyataan bahwa semakin seseorang tidak mementingkan agenda atau dorongan cintanya dan membiarkan cinta diikat hanya oleh ikatan saling mencintai, semakin seseorang bisa melepaskan diri dari api cemburu. Cinta karena ikatan afeksi (cinta seorang anak kepada ibunya), dorongan eros (mencintai demi menghasilkan keturunan), atau charity (memberi makan dan membesarkan anak) berpeluang untuk memasung cinta dalam kelekatan (attachment) dan api cemburu. Cinta karena friendship justru membeban manusia dari belenggu semacam itu.
3. Cinta asmara (eros)
Cinta jenis ini memiliki pengertian “berada atau sedang jatuh cinta”. Jenis cinta ini berbeda dari seksualitas, hal yang disebut Lewis dengan nama Venus. Bagi Lewis, mencinta seseorang karena dorongan atau gairah seksual disebutnya sebagai Venus.
4. Kasih sayang (agape atau charity)
Jenis cinta ini dipahami sebagai cinta tanpa kondisi yang diarahkan kepada sesama yang sama sekali tidak ditentukan oleh kondisi atau kualitas tertentu yang dipersyaratkan oleh yang mencintai. Ini adalah cinta tak bersyarat atau cinta tanpa kondisi. Inilah model dari mencitai seseorang apa adanya, menerimadia sesuai dengan kekurangan dan kelebihannya.
Bagi C.S. Lewis, jenis cinta ini paling ideal dan sempurna. Inilah model cinta yang ditunjukkan pertama kali oleh Tuhan sendiri yang mengasihi ciptaanNya tanpa batas. Kasih Allah tak berkesudahan.Ia yang Maha Sempurna rela mengosongkan diriNya demi mengasihi manusia. Dia bahkan tidak bosan-bosannya mengampuni dan memaafkan manusia, sekalipun manusia jatuh dan terus jatuh ke dalam dosa. Fakta bahwa seseorang adalah manusia, itu sudah cukup baginya untuk dikasihi Tuhan.
Refleksi
Bagaimana dengan cinta kita? Apakah kita masih berkutat pada dan terbelenggu dalam salah satu model cinta sebagaimana dideskripsikan di atas? Tentu sebagai orang beragama, model cinta yang ingin kita raih dan wujudkan adalah agape. Cita-cita ini tidak mudah diwujudkan karena ada begitu banyak hambatan dan halangan yang harus diatasi. Tidak ada jalan pintas menggapai cinta agape selain selalu setia pada keseharian kita, menghadapi berbagai tanyangan hidup dalam cara seorang beriman menghadapinya. Cinta menuntut perseverance, kesabaran untuk menghadapi berbagai tantangan dan cobaan, dan kerelaan untuk melepaskan kepentingan diri sesaat. Cinta justru mengalami kepenuhannya dalam diri orang yang tidak mengejar cinta itu sendiri.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.



