The Blessings In Disguise!

Mei 23, 2008 at 7:02 am | In Cerita Inspiratif | Leave a Comment
Tags:

Dalam sebuah e-mail dari teman pernah ada kisah sepasang suami-istri dan anaknya. Ceritanya kira-kira begini. Adalah sepasang suami-istri yang sudah lama tidak mempunyai anak.

Suatu hari sang istri ternyata hamil lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Semua tetangga mengatakan mereka adalah pasangan yang beruntung. Anaknya laki-laki lagi. Kalau nanti sudah dewasa, bukankah dia bisa bekerja keras dan merawat orang tuanya? Sungguh beruntung mereka punya anak laki-laki.

Ternyata anak tersebut sangat senang kuda. Dia sangat ingin memiliki seekor kuda. Tapi mereka miskin sehingga tidak bisa membeli hewan tersebut. Semua orang mengatakan bahwa mereka benar-benar sial karena miskin, sehingga tidak bisa membeli kuda. Kalau mereka kaya, kan bisa beli kuda? Sial benar.

Suatu hari ayahnya diberi seekor anak kuda oleh pelanggannya yang sering membeli kayu bakarnya. Jadilah anak itu punya seekor kuda. Semua orang mengatakan mereka sangat beruntung. Ingin punya kuda, eh ada yang memberi kuda. Beruntung sekali.

Anak itu pun belajar berkuda. Dia sering berkuda ke mana-mana. Suatu hari, ketika sedang berkuda. ternyata kuda tersebut mengamuk, sehingga anak itu terjatuh dan kakinya patah. Sejak kejadian itu dia menjadi pincang apabila berjalan.

Semua orang menyesali mengapa dia berkuda. Kalau dulu tidak punya kuda, kan dia tidak akan jatuh. Dan kakinya tidak akan pincang. Sial. Mengapa punya kuda? Lebih baik tidak usah punya kuda. Sial sekali.

Setelah anak tersebut menginjak dewasa, ternyata di negara tersebut pecah perang dengan negara lain. Semua pemuda harus menjadi serdadu. Anak pasangan suami-istri itu juga harus mendaftar. Orangtuanya khawatir kalau anak satu-satunya ikut berperang. Semua tetangga merasa kasihan dan menyesali mengapa dulu tidak lahir anak perempuan saja. Kalau anak perempuan kan tidak harus berangkat berperang. Aduh, sial benar, mengapa pasangan itu dulu melahirkan anak laki-laki?

Ketika dilakukan pemeriksaan kesehatan ternyata anak itu yang kini sudah tumbuh menjadi seorang pemuda, tidak diterima sebagai serdadu karena kakinya cacat. Semua orang mengatakan, beruntung sekali dia tidak harus berperang. Coba kalau dulu tidak jatuh dari kuda, dia pasti harus ikut berperang. Untung dulu dia punya kuda. Untung dulu dia jatuh dari kuda. Untung kakinya pincang. Sungguh beruntung dia.

Dari cerita ini, sebenarnya untung dan sial itu apa sih? Kapan seorang disebut beruntung dan kapan kurang beruntung? Ketika anak laki-laki yang lahir, katanya beruntung, tapi ketika dia harus berperang, orang-orang mengatakan mengapa dulu tidak lahir anak perempuan saja?

Ketika dia mendapat kuda, katanya beruntung, tapi ketika dia pincang karena jatuh dari kuda, katanya sial. Orang-orang menyesali mengapa punya kuda. Lalu ketika dia tidak jadi berperang karena pincang, kata orang dia beruntung karena dulu pernah jatuh dari kuda. Untung dulu punya kuda. Untung dia pincang.

Jadi, sebenarnya kapan seseorang sial dan kapan seseorang beruntung? Apakah karena tidak sesuai dengan yang kita harapkan lalu kita katakan sial atau kita anggap musibah? Apakah ketika sesuai dengan keinginan kita, lalu musibah tersebut bisa berubah menjadi keberuntungan? Kapan kita menyesali sesuatu? Kapan kita mensyukuri sesuatu? Mungkin saja apa yang dianggap sial atau musibah hari ini, mungkin bisa berubah menjadi keberuntungan di masa depan.

Melihat Berkah

Mengapa? Mungkin karena kita belum bisa melihat blessings in disguise. Kita tidak bisa melihat berkah dibalik musibah. Apa yang dilihat sebagai musibah hari ini, ternyata di kemudian hari baru kita sadari bahwa hal itu mengandung berkah.

Kisah berikut ini pernah saya tulis dari sudut pandang yang berbeda.
Sekali waktu ada seorang pria buta huruf yang bekerja sebagai penjaga sebuah gereja di Amerika Serikat. Sudah sekitar 20 tahun dia bekerja di sana. Suatu hari pemimpin gereja itu dipindahkan ke tempat lain dan digantikan oleh pemimpin baru.

Pemimpin baru ini menerapkan aturan baru. Semua pekerja harus bisa membaca dan menulis agar mereka bisa mengerti pengumuman yang ditempel di papan pengumuman. Penjaga yang buta huruf itu terpaksa tidak bisa bekerja lagi.

Dia sangat sedih dan berjalan pulang dengan lemas. Dia tidak berani langsung pulang ke rumah, tidak berani langsung memberitahu isterinya. Dengan sedih dia berjalan pelan menelusuri jalanan.

Setelah hari gelap sampailah dia di sekitar pelabuhan. Dia pun ingin membeli tembakau. Tapi setelah mencari kemana-mana, setelah mengelilingi beberapa blok, tidak ada satu toko pun yang menjual tembakau. Tiba-tiba, dia berfikir “Tembakau sangat perlu. Tapi di sekitar sini tak ada yang jual tembakau. Aku ingin jualan tembakau saja ah.”

Dia pun pulang, lalu dengan penuh semangat menceritakan idenya untuk berjualan tembakau kepada isterinya. Dia tidak lagi menyesali nasibnya yang baru saja kehilangan pekerjaan. Kemudian dia pun membuka kios tembakau. Ternyata tembakaunya laku keras.

Tak berapa lama, dia bisa membuka toko tembakau. Beberapa tahun kemudian dia bisa membuka beberapa cabang toko tembakau di tempat lain. Jadilah dia pedagang tembakau sukses.

Ketika sudah jadi orang kaya, dia pun pergi ke bank untuk membuka rekening. Tapi karena buta huruf, maka dia tidak bisa mengisi formulir. Karyawan bank berkata “Wah, Bapak yang buta huruf saja bisa punya uang sebanyak ini, apalagi kalau Bapak bisa membaca dan menulis, Bapak pasti lebih kaya lagi.” Dengan tersenyum dia berkata “Kalau saya bisa membaca dan menulis, saya pasti masih menjadi penjaga gereja.”

Waktu dia dipecat, dia merasa sedih, putus asa, dan mungkin menyesali kejadian itu. Peristiwa itu merupakan musibah. Tapi kini, dia bisa melihat bahwa mungkin nasibnya tidak akan berubah menjadi seperti sekarang kalau dulu dia tidak dipecat.

Apa yang dulu merupakan musibah, ternyata kini mendatangkan keberuntungan, menjadi berkah. Mari kita mencoba bersabar dan tabah dalam menghadapi apapun. Berdoa supaya bisa melihat berkah di balik musibah. Do not give up! See the blessings in disguise!

KEBAHAGIAAN

Mei 23, 2008 at 7:00 am | In Cerita Inspiratif | 2 Comments
Tags:

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya  endiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi  meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini.

Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, Sehingga dia harus masuk ke panti jompo.
Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.

Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator, aku menggambarkan keadaan kamarnya yang
kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.

Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja
mendapatkan seekor anjing. Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu Perkataan tersebut. Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak,
tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah
memutuskan menyukainya.

Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur. Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.

Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan. Hanya untuk kali ini dalam hidupku. Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan di bank. Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan.

Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan kita. Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku. Aku sedang menyimpannya.

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi
bahagia:

1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. (give more)
5. (expect less)

ALERGI HIDUP

Mei 23, 2008 at 6:57 am | In Cerita Inspiratif | Leave a Comment
Tags:

Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : “Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati”. Sang Guru tersenyum : “Oh, kamu sakit”.

“Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati”.

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : “Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama “Alergi Hidup”. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita”.

“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku”, kata sang Guru.

“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi”, pria itu menolak tawaran sang Guru.

“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?”, tanya Guru.

“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, jawab pria itu lagi.

“Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini… Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang”.

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu” . Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : “Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang”.

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu”. Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami”.

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan”.

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !

Survai Sederhana

Mei 6, 2008 at 1:20 pm | In Saduran | 1 Comment
Tags: ,

Manusia tidak lain selain sebuah jaringan hubungan antarsesama dan hanya inilah yang mempengaruhinya.

ST. Exupery

Hanya inilah yang aku perintahkan kepadamu, supaya kalian saling mencintai.

Yoh. 15:7

Studi dan penelitian yang dilakukan sampai dengan hari ini mengenai hubungan antarmanusia semakin memperkuat pandangan dan keyakinan saya mengenai siapa manusia. Studi dan penelitian tersebut menggarisbawahi betapa manusia adalah teka-teki, sulit diprediksi, kuat dan perkasa, tetapi juga rapuh. Manusia juga menakjubkan dan unik. Betapa tidak. Kebanyakan penelitian dan studi mengatakan bahwa rasa aman, kegembiraan dan sukses dalam hidup sangat ditentukan oleh keberhasilan kita dalam membangun hubungan dan persahabatan yang mendalam dan penuh cinta dengan orang lain. Dari pengalaman kita juga menyadari bahwa ketidakmampuan kita hidup secara harmonis dengan orang lain menimbulkan dalam hati kita keresahan yang mendalam, ketakutan, perasaan terisolasi, bahkan menderita penyakit batin tertentu. Tragis bahwa ada dari kita yang meskipun menyadari bahwa kegagalan dalam membina hubungan yang mendalam dengan sesama telah menyebabkan perasaan-perasaan seperti itu, tetap bertahan dengan posisinya untuk tetap tidak membina hubungan persahabatan dan cinta. Tidak hanya itu. Kita bahkan sulit menemukan tempat di mana kebutuhan akan cinta dan keterbukaan bisa dibina dan dikembangkan.

Ada satu cerita lucu. Seorang anak muda pergi ke tokoh buku hendak membeli buku tentang bagaimana membina hubungan yang baik dengan sesama. Di tokoh buku, ia membolak balik buku-buku yang ada di rak dengan harapan bisa menemukan buku yang diinginkannya. Akhirnya ia menemukan sebuah buku berjudul Bagaimana Memeluk. Ia membeli buku itu. Di rumah ia baru menyadari kalau buku tersebut merupakan sebuah ensiklopedi jilid sembilan.

Cerita ini hanya mau mengatakan bahwa kita sering kali panik dengan persoalan yang kita hadapi. Pada saat tidak tahu bagaimana harus berhubungan atau gagal membina hubungan dengan orang yang kita cintai, kita lalu mencari pelampiasan pada bentuk-bentuk hubungan yang semakin menyakitkan hati kita. Bahwa ternyata kita tidak memiliki pemahaman dan kreativitas yang cukup mengenai hubungan antarpribadi. Kalau kita cukup punya pemahaman dan kreativitas, mengapa sampai dengan hari ini anak-anak masih memberontak terhadap orang tua mereka? Pasangan suami-istri muda menganggap mertua dan sanak saudara mereka sebagai musuh? Orang tua menganggap anak-anak mereka sebagai nakal dan menjijikkan? Para suami membiarkan istri-istri mereka merana dan mencari hiburan di tempat lain? Para karyawan di kantor membenci pimpinan mereka atau sesama teman di kantor dan menghabiskan hari-hari mereka dalam suasana yang dingin dan menyebalkan? Agama-agama tertentu menjadi radikal dan membunuh pemeluk agama lain atas nama Allah yang sama? Bangsa yang satu berperang melawan bangsa lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa kita deretkan menjadi lebih panjang lagi, dan mereka menggambarkan kegagalan kita dan membina hubungan antarpribadi. Di manakah letak kegagalan kita, padahal kita telah banyak belajar di bangku sekolah, di rumah, di gereja atau di mesjid mengenai cinta dan persahabatan? Ternyata kita tidak pernah merenungkan secara serius bahwa kita diciptakan bukan sebagai makhluk yang telah sempurna pada dirinya sehingga tidak membutuhkan kehadiran dan cinta orang lain. Kita diciptakan untuk hidup bersama orang lain, saling membantu dan mendidik. Kita semestinya saling membantu, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai cinta dan persahabatan. Dengan demikian, kita bisa menemukan cara dan pilihan-pilihan dalam membina hubungan dengan orang lain. Dengan saling berbagi dan belajar kita bisa menemukan jalan pemecahan kepada pertumbuhan dan perkembangan kita yang lebih manusiawi, kepada kedamaian, pengharapan, dan cinta. Proses saling belajar dan membantu ini seharusnya menjadi alasan pengharapan kita untuk selama-lamanya.

Sudah bertahun-tahun saya menjadi kecewa karena kurangnya perhatian orang terhapa masalah hubungan antarsesama. Beberapa tahun lalu saya memutuskan untuk melakukan sebuah studi bersama para srsitek mengenai bagaimana mereka mempraktikkan hubungan dan persahabatan antarmereka. Dengan cara ini saya berharap bahwa saya bisa sedikit memahami rahasia hubungan dan persahabatan antarmanusia dan kemudian bisa menolong orang lain.

Saya kemudia mengirim sebuah kuesioner sederhana kepada sekitar seribu orang. Kuesioner itu berisi pertanyaan-pertanyaan terbuka dan tertutup mengenai hubungan antarsesama. Selain itu, saya juga memberi kesempatan kepada para nara sumber untuk mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan saya dan menjawabnya secara lengkap sesuai dengan pengalaman mereka. Untuk kepentingan studi ini, saya kemudian mendefinisikan hubungan antarsesama sebagai “hubungan yang diganjar secara sosial, berupa hubungan atau persekutuan yang disepakati secara timbal balik, yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu dari mereka yang terlibat, dan kebutuhan masyarakat, yakni tempat di mana mereka berada dan hidup.”

Saya juga membedakan dua jenis hubungan antarsesama dalam kuesioner tersebut. Yang pertama adalah hubungan primer, dan yang kedua adalah hubungan sekunder. Saya memahami hubungan primer sebagai hubungan yang sangat dekat dan terbuka dengan orang-orang yang dipilih secara sukarela dan bebas, atau hubungan dekat dengan orang-orang yang dilakukan karena terpaksa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan hubungan sekunder adalah hubungan dengan orang-orang yang dipilih secara bebas dan sukarela maupun hubungan yang terjadi karena terpaksa dalam kehidupan sehari-hari, dengan tingkat kedalaman hubungan dan frekuensi interaksi yang lebih kurang dibantingkan dengan hubungan primer.

Para responden diminta untuk menyebut aspek-aspek mana yang paling kondusif dan yang paling destruktif bagi hubungan antarsesama. Mereka juga ditanyakan mengenai pemahaman mereka tentang apa itu hubungan dan persahabatan antarsesama serta nasihat-nasihat yang bisa mereka berikan kepada orang yang akan membina hubungan cinta dan persahabatan kekal, misalnya menjadi suami istri. Dari seribu kuasioner yang disebarkan ada 60 persen yang dikirim kembali.

Sebelum kita menganalisa jawaban-jawaban dari kuesioner itu, baik kalau saya menuliskan di sini pertanyaan-pertanyaan yang saya sebarkan itu. Anda juga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini untuk belajar mengenai diri Anda, keinginan-keinginan dan harapan-harapan Anda. Saya mengusulkan supaya pertanyaan-pertanyaan berikut ini dijawab terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca buku ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Apa yang menurut pertimbanan Anda digolongkan sebagai hal yang primer dalam hubungan cinta Anda?
  2. Tiga hal mana sajakah yang menurut peprtimbangan Anda menjadi aspek-aspek yang paling kondusif bagi pertumbuhan cinta yang terus menerus dan perkembangan di dalam hubungan antarsesama?
  3. Tiga hal mana sajakah yang menurut pertimbangan Anda menjadi aspek-aspek yang paling destruktif (merusak) dalam hubungan cinta antarsesama.
  4. Siapa yang paling Anda dahulukan dalam hubungan antarsesama yang bersifat sekunder (orang tua, pasangan hidup, anak, lainnya)?
  5. Tiga hal mana sajakah yang menurut pertimbangan Anda menjadi aspek-aspek yang paling kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan hubungan antarsesama yang bersifat sekunder?
  6. Apa yang menurut Anda menjadi hubungan cinta antarsesama yang bersifat ideal?
  7. Nasihat apakah yang hendak Anda berikan—berdasarkan pengalaman Anda—kepada orang yan hendak memasuki hubungan antarsesama yang sifatnya primer?

Mitos tentang Cinta

Mei 6, 2008 at 1:08 pm | In Saduran | Leave a Comment

Dan kita telah tertipu oleh cerita-cerita dongeng.”

Anais Nin

“Fallen myths can distill venom.”

Denis De Rougemont

“Dan mereka hidup berbahagia selama-lamanya.” Kita sering kali terperangkap dalam propaganda media massa yang menggambarkan kehidupan para artis dan selebritis sebagai kehidupan yang penuh pesona, penuh tawa dan kegembiraan, diliputi suka cita dan kebahagiaan. Penggambaran oleh media massa dilakukan sebegitu rupa sampai kita beranggapan bahwa masalah yang menyertai kehidupan akan berakhir dengan sendirinya pada saat seseorang yang sedang jatuh cinta memutuskan untuk hidup bersama dengan orang yang ia cintai. Kita lupa bahwa kehidupan nyata banyak kali lebih kejam dari khayalan mengenai cinta.

Kalaupun kita menyadari bahwa cinta, kebahagiaan dan pesona kehidupan sebagaimana digambarkan media seringkali dilebih-lebihkan, banyak dari kita yang tetap merasa kesulitan untuk mempercayai mitos semacam ini. “Dan mereka hidup berbahagia selama-lamanya, “ menurut Joshua Liebman, “merupakan salah satu kalimat yang paling menyedihkan di dalam tulisan-tulisan.” Kalimat ini disebut menyedihkan karena ia menggambarkan secara keliru hakikat kehidupan dan cinta itu sendiri. Celakanya, “kekeliruan ini telah menggiring banyak generasi manusia untuk mengharapkan sesuatu dari eksistensi manusia yang terasa sulit didapatkan di dunia yang rapuhm dan tak sempurna ini, “demikian Liebman.

Saya sangat kaget pada saat menyaksikan John Callaway mewawancarai Helen Hayes. Pada usianya yang ke-82, Hayes tampak begitu mempesona di rumahnya yang asri di New York. Kebanggaan nampak dari wajahnya yang melukiskan seorang pribadi yang telah memenangkan kehidupan secara penuh dan bermartabat. Meskipun Callaway menggiring dia ke pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi, Hayes tampak tenang menjawab semuanya, seakan-akan ia tidak terpengaruh dengan semua pertanyaan tersebut. Meskipun demikian, pada saat Callaway meminta dia menceritakan kehidupan perkawinannya dengan Charles MacArthur, penulis terkenal itu, Hayes mulai gugup dan gusar. Ia mengatakan bahwa dirinya bahkan lupa kalau pernah menikmati sebuah hari penuh bahagia dan menyenangkan.Sambil menatap Callaway dalam-dalam, Hayes berkata, “Barangkali aku tak pernah mengalami kebahagiaan dalam seharipun dalam kehidupan perkawinan saya…. Meskipun demikian, ada saat-saat di mana saya mengalami semacam ekstasi yang mendalam.”

Sama seperti Helen Hayes, kita juga mengalami saat-saat kebahagiaan dan ekstasi di dalam hidup kita bersama orang yang kita cintai. Meskipun demikian, harus diakui bahwa pengalaman-pengalaman tersebut seringkali terhalang untuk dialami secara sempurna karena munculnya pengalaman-pengalaman lainnya seperti kesepian, kebingungan, kekecewaan, dan barangkali juga keputusasaan. Mengapa pengalaman kebahagiaan karena mencintai dan hidup bersama orang yang kita cintai seringkali tidak berlangsung lama, dan terganggu oleh pengalaman-pengalaman menyakitkan seperti disebutkan di atas? Anne Morrow Lindbergh menulis:

Pada waktu Anda mencintai seseorang, Anda tidak mencintai dia setiap waktu dengan cara yang sama. Ini sebuah ketidakmungkinan. Bahkan merupakan kebohongan untuk beranggapan bahwa Anda mencintai dia dengan cara yang sama dalam setiap waktu. Inilah yang sesungguhnya terjadi dengan kita. Kita memiliki kepercayaan yang amat sedikit terhadap pasang-surut dan maju-mundurnya kehidupan, cinta, dan persahabatan. Kita meloncat pada waktu terjadi pasang, dan kita bertahan pada waktu surut. Kita ketakutan kalau pasang tidak akan kembali lagi. Kita memaksa sesuatu supaya terjadi secara tetap, lama, dan kontunyu pada saat hanya ada satu kemungkinan kontinuitas dalam kehidupan dan cinta, yakni perkembangan dan kebebasan.”

Tidak mudah hidup bersama dan mencintai orang lain. Supaya bisa melakukan hal ini, kita dituntut untuk memiliki keterampilan-keterampilan khusus dalam mencintai, sama seperti ahli bedah memiliki keterampilan membedah dan pematung memiliki keterampilan mematung. Ini karena kita tidak bisa melakukan suatu hal atau pekerjaanpun secara profesional dan memuaskan kalau kita tidak memiliki keterampilan-keterampilan tertentu yang dibutuhkan. Lagi pula mencintai orang lain tidak hanya menuntut keterampilan. Ia merupakan tindakan profesionalisme. Meskipun demikian, yang terjadi di dalam hidup kita dalah bahwa kita kekurangan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan-pengetahuan dimaksud. Kita merasa jatuh cinta, mencintai kekasih kita, melangsungkan perkawinan dan membentuk keluarga baru, melahirkan dan membesarkan anak-anak, tetapi kita tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk menjadi orang tua yang profesional. Inilah sebabnya mengapa sebuah persahabatan dan kehidupan yang dimulai secara gembira dan menakjubkan, kemudian berakhir secara menyedihkan dan mengecewakan. Karena itu kita seharusnya tidak hean kalau satu dari dua pasangan suami-istri di Amerika Serikat berakhir dengan perceraian. Menyakitkan memang, bahwa menurut Biro Sensus Amerika Serikat, satu per tiga dari anak-anak Amerika Serikat hidup tanpa orang tua kandung. Hidup kita bahkan dikelilingi oleh orang-orang yang kecewa, kesepian, dan putus asa.

Bagaimana kita bisa mencintai orang lain dan hidup dalam kebahagiaan dengan orang yang kita cintai di hadapan kenyataan sosial seperti ini? Kita seharusnya tertantang untuk mempelajari dan memahami situasi tempat kita tinggal. Pemahaman dan pengetahuan kita diharapkan bisa membawa kita kepada keadaan yang lebih damai dan persahabatan yang tak akan pernah berakhir.

Seorang ibu dari Vermont, Amerika Serikat suatu kali menulis surat kepada saya. Di dalam suratnya itu ia menceritakan bahwa kehidupan perkawinannya yang sudah berlangsung selama 18 tahun itu sia-sia belaka, kosong, dan tidak layak untuk diteruskan. Sebagian dari suratnya berbunyi, “Saya tak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan kepada kehidupan perkawinan kami, semuanya telah habis. Saya merasa bahwa saya telah dimanfaatkan selama 18 tahun, dan saya membenci tahun-tahun itu. Kehidupan tampak tak bermakna apa-apa. Saya mengutuk apa yang telah kami peroleh di dalam kehidupan perkawinan kami. Hidup kami tidak membawa kami ke satu tempat pun, menyita segalanya, dan meninggalkan tak satu hal pun yang pantas dibanggakan.”

Lain lagi kesaksian seorang suami dari Texas. Ia bercerita bahwa dirinya bahkan tidak tahu secara pasti apa yang telah menimpah kehidupan perkawinannya. Orang itu menulis, “Saya tentu saja mencintai istriku pada waktu kami menikah. Pada awalnya saya selalu mengingat dia hampir di setiap saat kehidupanku, tetapi aku semakin bosan bersamaan dengan pertambahan usia perkawinan kami. Tidak ada lagi kejutan-kejutan. Tidak tampak lagi keceriaan, lelucon, dan tawa ria. Kami tak merasa sesuai hari demi hari, akhirnya saya merasa tidak suka berada bersama istriku. Saya tidak suka pulang ke rumah. Perasaan ini semakin bertambah kuat setiap tahun. Saya mengingat istriku hanya pada saat kakiku menginjak pintu rumah kami.”

Seorang wanita setengah baya berkata kepadaku pada saat mengikuti salah satu kuliah yang saya berikan, “Saya tak memiliki sahabat lagi. Saya tidak tahu kemana sahabat-sahabatku pergi. Saya tidak tahu harus melakukan apa. Hal yang bisa saya ketahui adalah bahwa saya tidak memiliki siapa-siapa untuk bisa kuajak bicara. Tak seorang pun yang bertanya tentang keadaanku atau menyurati aku. Tak seorang pun yang bahkan menganggap aku sebagai orang yang layak disahabati. Apa yang terjadi dengan keluargaku adalah bahwa mereka tinggal menyebar di seluruh negara. Dan saya takut kesepian.”

Baru-baru ini muncul sebuah iklan pelayanan jasa di sebuah koran di Kota Los Angeles. Iklan itu menawarkan sebuah agen yang menyiapkan seorang sahabat yang akan datang dan menjadi “teman” pada waktu kesepian, membelai orang pada waktu ia menangis, bahkan menyertai orang menjelang kematian. Dan “sang sahabat” itu akan terus menjadi “milik” kita kalau kita terus membayar dia dengan uang yang cukup. Saya juga tahu seorang ibu setengah baya yang pada waktu senggangnya suka menekan telepon informasi sekedar untuk mendengar suara orang yang menyapa dirinya. “Paling tidak ada suara yang bisa menyapa dan berbicara kepadaku, “kata ibu itu. Saat ini suara dari operator telepon dan informasi bahkan bisa dikomputerisasi. Dengan demikian, sahabat yang dimaksud hanyalah sebuah mesin penjawab.

Demikianlah banyak surat terus saya terima, dan semuanya bercerita tentang peng-alaman kesedihan, kesepian, keputusasaan, dan pengalaman-pengalaman menyedihkan lainnya. Semuanya ini menyentuh satu tema pokok yang sepantasnya kita bahas: “Bagaimana saya seharusnya membentuk sebuah persahabatan dan merawatnya supaya bertumbuh dan berkembang?”

Sebuah Cerita tentang Saling Mencintai

Saya ingin memulai pembahasan ini dengan membagi pengalaman saling mencinta yang dihidupi oleh kedua orang tua saya. Saya percaya bahwa pengalaman ini juga terjadi dengan dan dihidupi oleh banyak pasangan suami-istri di dunia. Hanya ada satu harapan yang bisa kita petik dari cerita ini, semoga kita bisa menemukan cara kita sendiri dalam mencintai orang lain.

Ayah saya dilahirkan di sebuah desa di Piedmonte, perbatasan Italia dan Gunung Alps Swiss pada tahun 1888. Desa kelahiran ayahku sebegitu kecilnya sehingga nyaris tidak dikenal di Italia. Ibuku dilahirkan pada tahun yang sama di sebuah kota kecil, hanya beberapa kilometer dari desa ayahku, tetapi masih di daerah Piedmonte. Pada waktu mereka dilahirkan dan bertumbuh, daerah Piedmonte terkenal sebagai pengahasil anggur, dan bata merah untuk membangun rumah. Desa-desa di Piedmonte umumnya kecil-kecil dan dihuni oleh anggota masyarakat yang saling mengenal secara baik. Meskipun dua perusahaan terkenal, Olivetti dan Fiat telah beroperasi di daerah ini dan merubah ekonomi dan lingkungan sekitar, desa-desa di sana tidak jauh berkembang. Sanak saudaraku hidup di dalam rumah yang sama di mana Tulio dan Rosa (ayah dan ibuku) dilahirkan. Yang berubah adalah mereka sekarang telah menikmati terang listrik. Pintu rumah pun telah diganti dengan papan yang baik, jendela rumah juga telah dilengkapi dengan kawat nyamuk.

Meskipun tingkat pendidikan kedua orang tuaku hanya SLTP, mereka menimba pengetahuan dari kerajinan membaca. Karena itu ibuku bisa mengutip secara tepat tulisan-tulisan D’Annuncio dan Dante. Bacaan kesukaan ibuku adalah karya klasik Manzoni berjudul I Promessi Sposi (Janji Suami Istri). Dari buku inilah ibuku sering mengutip kata-kata bijak yang digemarinya. Ia juga menyenangi opera, terutama Puccini, dan Mimi adalah tokoh kegemarannya. Ibuku tak henti-hentinya mendendangkan lagu-lagu untuk mengantarku tidur. Rambut panjang ibuku digelung di belakang kepalanya. Ia mengenakan tusuk konde Spanyol yang terbuat dari sejenis kerang. Meskipun pendek, ia adalah wanita yang cantik, yang memiliki mata yang lebar dengan letak biji mata yang agak mendalam. Dari matanya saya sering melihat tatapan kegembiraan atau kesedihan. Ia sangat sering tertawa dan menyenangi makan. Kerakusannya ada pada Tulio (suaminya), makanan, manisan, dan anak-anak.

Ayahku berperawakan tinggi, berambut hitam, bermata hitam (gelap) dengan kumis dan jenggot yang dibiarkan lebat. Ia seorang pekerja keras. Ia bekerja agar kami terbebas kemiskinan yang melanda banyak orang pada waktu itu. Meskipun sibuk, ayahku selalu memiliki rasa humor, cinta, dan kehangatan.

Di kota kelahiran ibuku terdapat sebuah pabrik. Banyak warga desa bekerja di pabrik tersebut, termasuk ibuku yang bekerja sebagai pemintal. Sementara ayahku adalah seorang mandor di pabrik tersebut. Perkawinan mereka telah direncanakan secara saksama. Meskipun hampir setiap hari mereka bersama-sama di pabrik tersebut, ibuku yang pemalu itu tidak berani menatap wajah ayahku. Lazimnya kaum lelaki, ayahku tentu saja sering memandangi ibuku. Ayahku yang mengatur dan merencanakan segala hal mengenai hubungan dan perkawinan mereka. Dan ini ia lakukan dengan perantaraan sanak keluarga yang lebih tua.Baru pada saat kedua belah pihak telah menyetujui keinginan ayah untuk memperistri ibuku, ayahku diajak ke rumah orang tua ibuku untuk sebuah makan malam. Ibuku hadir waktu itu, tetapi tidak pernah berada sendirian bersama ayahku. Bila ayahku datang ke rumah, ibuku sibuk memasak, melayani, dan membersihkan rumah. Tidak ada kontak mata, apalagi fisik dengan ayahku. Ibuku sangat pemalu sampai ia tidak berani menatap wajah calon suaminya selama periode awal pacaran mereka. Meskipun teman-teman di pabrik meyakinkan ibuku bahwa calon suaminya sangat ganteng, ibuku tetap tidak berani menatap wajah ayahku samapai pada saat mereka menikah. Dan ibuku berpendapat bahwa ia telah melakukan hal yang terbaik bagi hidup dan perkawinannya.

Ayahku seorang petualang. Ia bahkan berkeinginan untuk memperbaiki kehidupan istri dan anak-anaknya di benua lain. Kebetulan pada waktu itu tersebar berita bahwa Benua Amerika menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Ayahku bercita-cita untuk merantau ke Amerika suatu saat nanti. Rosina ibuku melahirkan anak mereka yang pertama, Vincenzio di Italia. Pada tahun 1908 ayahku berkesempatan untuk mewujudkan impiannya, merantau ke Amerika. Di benua baru inilah anak-anak mereka lainnya, Margarita, Carolina, dan Felice lahir. Mereka memiliki delapan orang anak.

Kehidupan perkawinan orang tuaku berlangsung sampai 63 tahun. Ibuku lebih dahulu meninggal dunia pada tahun 1970. Ayahku menyusul ibuku tiga tahun kemudian. Apakah mereka berbahagia? Barangkali kebahagiaan yang tidak sempurna, tetapi saya yakin mereka cukup berbahagia. Mereka tidak menghidupi perkawinan seperti para selebriti dan bintang yang penuh publikasi dan topeng. Mereka hidup secara alamiah sebagai suami istri. Ada banyak saat di mana mereka tertawa dan menikmati kehidupan, dan ada saat-saat saya melihat mereka menangis. Saya melihat mereka berusaha mengatasi kemiskinan dan kesulitan hidup, tetapi saya juga melihat mereka merayakan kemenangan dalam hidup. Saya melihat mereka beradu arrgumen dan saling meneriaki, tetapi saya juga melihat mereka mempraktikkan kelembutan, perhatian, dan cinta. Tidak pernah saya mendengar mereka mempertanyakan mengapa mereka menjadi suami istri. Perceraian? Ibuku pernah berkata, “Tidak pernah ada perceraian dalam hidup kami. Perbedaan pendapat sering kali terjadi, tetapi perceraian tidak pernah!” Kedua orang tuaku telah mengajariku upaya yang paling realistis dalam membina hubungan penuh cinta antarsesama. Persekutuan hidup suami istri mereka kurasakan sejak kelahirannya, dan dari persekutuan hidup inilah saya mendapatkan kekuatan hidup. Inilah persekutuan hidup yang telah menjadi bagian dari hidupku, keluargaku, keluarga anak-anakku dan teman-teman mereka. Persekutuan hidup suami istri dari orang tuaku telah menjadi model pertama bagi hubungan cintaku.

Mengatasi Mitos

Tidak ada proses mengada atau menjadi tanpa persahabatan. Sebagai manusia, kita tidak bisa berkembang secara wajar tanpa adanya hubungan dengan orang lain. Sejak dilahirkan kita menunjukkan diri sebagai makhluk yang paling membutuhkan pertolongan orang lain. Kita tergantung pada ibu kita, orang-orang di sekitar kita, lingkungan kita, sampai kita betul-betul mandiri. Sama seperti laba-laba yang merangkai sarangnya, kita belajar untuk merajut pola hidup kita bersama orang lain. Sebagai orang yang telah mandiri sekalipun, kita tetap membutuhkan persahabatan dan hubungan dengan orang lain.

Kiranya benar bahwa kebertahanan hidup kita sejak awal ditentukan oleh keberhasilan kita dalam membina persahabatan. Pada saat kita masih bayi, kita bisa menjadi psikosis, idiot, bahkan mati kalau kita menolak cinta dan perhatian orang lain. Sebagai orang dewasa, kita tetap menunjukkan “ketergantungan” hubungan cinta dengan orang lain ini. Kita belajar untuk mengungkakan cinta dan kegembiraan, kesedihan dan derita bersama orang lain. Kita akan menyadari “ketergantunan” dan pentingnya membina hubungan cinta dan persahabatan dengan orang lain pada saat pengalaman ketercerabutan dari sahabat menimpah kita, seperti saat kematian, perceraian, dan perpisahan dengan teman yang akan bepergian jauh. Demikianlah, akan menjadi hal yang aneh, kalau kita terus menerus hidup dalam kondisi yang semakin menjauhkan kita dari para sahabat, padahal kita tahu bahwa kita tidak bisa hidup tanpa mereka.

Sama seperti banyak dari antara kita, saya mengahayati kehidupanku sebagai proses yang tiada hentinya mencintai dan membangun persahabatan dengan orang yang saya cintai, dan melihat orang yang saya cinta, para sahabat saya melakukan hal yang sama. Demikianlah, semua orang yang dengannya saya bertumbuh, sanak-saudaraku, istri dan anakku, dan para sahabatku, kami membentuk persahabatan yang tak akan pernah berakhir. Mereka semua tetap menjadi bagian yang vital dari hidupku.

Ada saat-saat dalam hidupku di mana saya merasa gagal dalam membinan persahabatan. Dan saya mulai mengenang semua sahabat saya yang pernah hadir dalam hidupku. Dengan begitu saya menjadi tahu mengapa persahabatan kami gagal. Di manakah mereka sekarang? Apa yang sedang mereka lakukan? Mengapa saya tidak mampu mempertahankan persahabatan kami? Saya juga mengingat keberhasilan-keberhasilan persahabatan kami, orang-orang yang pernah datang dan membantu hidupku, tetanggaku di Los Angeles Timur yang suka memberi kami makanan pada saat kami kekurangan makanan di rumah, teman-teman bermainku, dan sebagainya. Sungguh pengalaman hidup yang menyenangkan.

Pengalaman persahabatan yang menyenangkan seperti ini hampir tidak ditemukan lagi di dalam kehidupan masyarakat urban sekarang. Tembok-tembok rumah, bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, kemajuan sarana komunikasi, telah mengasingkan kita satu sama lain. Allan Fromme dalam bukunya The Ability to Love dengan bagus melukiskan keadaan ini, katanya:

Kota-kota kita dengan penduduknya yang membludak dan tembok-tembok bangunan yang kokoh telah menjadi tempat yang menyakitkan bagi terjadinya kesepian. Hidup bertetangga menjadi kerdil dan lenyap ditelan buldoser dan mesin pengeruk tanah yang membangun perumahan-perumahan. Sanak saudara terpisah dan tinggal saling berjauhan karena pekerjaan dan profesi. Dunia tradisional yang ditandai oleh kehadiran kelompok-kelompok kecil yang saling mengenal dan mencintai telah lenyap dan sirna.

Pasar dan supermarket tempat kita berbelanja pun tidak lagi menjadi tempat dan kesempatan bagi kita untuk berelasi dengan sesama. Tidak seperti penjual susu murni atau abang tukang sayur yang mengenal hampir semua pelanggan dan anak-anak mereka, pasar dan supermarket sekarang telah berubah menjadi tempat yang sangat impersonal. Masyarakat juga berpindah secara cepat dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada umumnya kita lebih memiliki untuk menjaga privasi kita, dan itu berarti membangun rumah dengan tembok-tembok yang tinggi. Kita tidak mengenal tetangga kita. Kita bahkan merasa lebih nyaman kalau semakain mengisolasi diri dari persahabatan dengan orang lain. Kita khawatir jika orang lain masuk dan membagi hidup kita.

Sebuah pengalaman yang menyedihkan terjadi beberapa waktu lalu ketika diberitakan bahwa seorang pemuda ditemukan mati di apartemen kampusnya di Universitas Miami. Mayatnya baru diketemukan setelah dua bulan. Tidak ada teman-teman atau tetangga atau sanak saudara yang merasa kehilangan dirinya.

Kita tidak lagi turut berpartisipasi dalam ronda malam dan menjaga keamanan lingkungan. Keamanan sekarang berarti mempercanggih sistem alarm, memperkuat barisan satpam, dan memperkuat rumah kita sebegitu rupa sampai kita yakin bahwa begitu kita memasuki halaman rumah kita, tak seorangpun yang akan sanggup menggangu hidup kita. Kesempatan untuk bertemu dan berelasi dengan sesama sudah sedemikian jarang dan menghilang. Kita bahkan telah merasa kesulitan untuk berhubungan dengan orang. Kita barangkali punya teman di tempat kerja, tetapi mereka bukanlah tetangga kita. Kita hanya bertemu selama jam kerja, dan setelah itu kita bergulat dengan hidup kita masing-masing. Bagaimana mungkin kita bisa membangun sebuah persahabatan yang bermakna dan penuh cinta kalau kesempatan untuk berelasi dengan orang lainpun semakin sulit kita temukan? Kita bahkan tidak punya kepekaan lagi terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Cara hidup yang demikian, disadari atau tidak, telah mengekalkan pengalaman kesepian, kekosongan dan ketakbermaknaan hidup, isolasi diri, dan sikap acuh tak acuh.

Persahabatan yang penuh cinta memang merupakan hal yang penting dan perlu bagi kehidupan, sama seperti kesehatan dan pertumbuhan. Meskipun demikian, membina persahabatan penuh cinta menuntut keterampilan khusus. Sebelum kita mulai membina persahabatan penuh cinta, sebaiknya kita terlebih dahulu memperluas pandangan dan pemikiran kita mengenai bagaimana sebuah persahabatan bisa terbina, apa yang dimaksud dengan persahabatan dan mengapa kita percaya bahwa persahabatan bisa memperkaya, tetapi juga bisa merusak hidup kita. Kita bisa membina persahabatan ini kalau kita berani belajar dari kegagalan hubungan kita seraya memupuk dan mengembangkan keberhasilan-keberhasilan yang telah kita capai. Persahabatan penuh cinta tidak bisa diterima secara enteng. Banyak dari kita selalu gagal dalam membina hubunan persahabatan penuh cinta ini karena tidak pernah mau belajar mengenai bagaimana mencinta, tidak pernah belajar dari pengalaman kegagalannya, dan tidak pernah berkaca pada keberhasilan-keberhasilannya.

Tentang pentingnya belajar untuk mencintai ini, Carl Rogers berkata:

…..meskipun perkawinan modern sekarang ini telah menjadi laboratorium yang menakjubkan, mereka yang melangsungkan perkawinan melakukan hal ini dengan tidak melalui persiapan yang memadai untuk berperan sebagaimana mestinya dalam kehidupan rumah tangga mereka. Bayangkan, berapa besarnya penderitaan dan kekecewaan dalam hidup perkawinan bisa dihindari kalau itu dilakukan dengan persiapan yang matang sebelum seseorang memasuki hidup perkawinan.

Kata-kata Carl Rogers ini tidak hanya berlaku bagi kehidupan perkawinan, tetapi juga bagi semua jenis persahabatan yang hendak kita bangun dalam hidup.

***

Mencintai Orang Lain Melalui Komunikasi

Mei 6, 2008 at 1:00 pm | In Saduran | Leave a Comment
Tags: , , ,

We have developed communications systems to permit man on earth to talk withman on the moon. Yet mother often cannot talk with daughter, father to son, black to white, labor with management or democracy with communism.

HADLEY READ

Komunikasi seharusnya dipahami sebagai seni membangaun dialog atau pembicaraan dengan sesama. Di dalam dialog tersebut seseorang mengungkakan apa yang ia rasakan dan maksudkan. Ia tidak hanya mengatakan itu secara jelas, tetapi ia juga mendengar apa yang dikatakan orang lain, dan selalu memastikan bahwa ia mendengarkan sesamanya secara akurat. Dalam kehidupan bersama sebagai komunitas, komunikasi menjadi keahlian yang paling menentukan keberlangsungan sebuah persahabatan dan cinta.

Dalam pidato penganugerahan Hadia Nobel di tahun 195o, William Faulker, salah seorang penulis besar Amerika Serikat antara lain mengatakan:

I believe that when the last ding-dong of doom has clanged and faded from the worthless rock hanging tideless in the last red and dying evening, that even then there will still one more sound: that of man’s puny, inexhaustible, voice still talking.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pendapat Faulker ini menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi dalam hidup kita. Dunia masih penuh dengan kata-kata. Tampaknya kebanyakan dari kita terlibat secara aktif di dalam kegiatan komunikasi, bahkan pada saat kita sedang tertidur. Tetapi sayang, karena kita lebih banyak berkomunikasi dengan diri kita sendiri atau dengan orang lain, tetapi kita mendominasi pembicaraan. Kita kenal pembicaraan yang menyenangkan, penuh pengharapan, penuh kebencian, penuh kedamaian, penuh hal-hal yang menyakitkan, penuh perasaan bersalah, penuh ancaman, penuh penolakan, penuh keindahan, penuh kebencian. Kita berharap bahwa dari semua jenis komunikasi tersebut kita masih mengalami komunikasi cinta. William Faulker lebih jauh berpendapat, bahwa komunikasi diwarnai oleh hal-hal semacam itu karena manusia memiliki jiwa, roh yang mampu membangkitkan rasa cinta yang mendalam, pengorbanan, dan kemampuan untuk bertahan. Bagi Faulker, komunikasi yang diwarnai oleh rasa cinta yang mendalam, pengorbanan, dan komitmenlah yang menjadi jenis komunikasi yang memungkinkan terbentuknya relasi antarsesama dan mempertahankan relasi tersebut.

Beberapa tahun yang lalu, ketika memberi mata kuliah tentang cinta, bersama para mahasiswa kami memutuskan supaya mereka mengerjakan sebuah tugas kuliah. Saya meminta mereka untuk menemui orang yang mereka anggap sebagai yang paling berharga dalam hidup mereka, atau yang paling mempengaruhi hidup mereka dan yang mereka cintai. Para mahasiswa kemudian saya minta untuk secara verbal mengungkap rasa cinta kepada orang-orang pilihan mereka itu. Ruang kuliah tiba-tiba menjadi sunyi. Tugas yang saya berikan ini seakan membungkam mulut mereka. Keadaan ini segera menyadarkan saya bahwa ternyata hampir semua mahasiswa mengalami kesulitan mengungkapkan rasa cinta secara spontan kepada orang yang mereka sayangi. Ada yang merasa malu, ada yang takut, enggan, atau sekedar karena tidak terbiasa. Pengalaman ini semakin menyadarkan saya, bahwa inilah sebetulnya alasan mengapa ungkapan “aku mencintaimu” semakin jarang terdengar, atau kalau terdengar, itu hanya basa-basi semata. Kita lupa bahwa rasa cinta yang tidak kita ekspresikan secara verbal justru bisa menyebabkan penderitaan dan kekecewaan. Mengapa kita menunggu sampai seseorang meninggal dunia supaya kita bisa mengungkapkan rasa cinta kita, sementara kita tidak berani melakukannya selama ia masih hidup?

Sebagaimana telah saya ceritakan di depan, saya selalu merasa beruntung dilahirkan dan berkembang di dalam keluarga di mana komunikasi penuh cinta sering sekali terjadi. Tentu saja komunikasi tersebut tidak selalu bersifat lembut dan manis, karena ibu saya sering meneriaki anak-anaknya. Ibuku tidak pernah membaca buku-buku psikologi, sehingga ia juga tidak mengerti dengan nasihat bahwa seseorang sebaiknya tidak berteriak atau memukuli anak-anaknya, karena kata-kata yang keras dan kasar atau luka bisa menimbulkan kebencian abadi. Kalau ibu mulai meneriaki kami, kata-kata “kesayangan”nya adalah te spacco la faccia (aku akan menampar wajahmu) atau shut up (tutup mulutmu). Ayahku juga tidak pernah merasa takut bahwa kemarahannya bisa membuat batin kami terluka. Kedua orang tuaku melakukan ini semua, karena mereka memiliki nilai-nilai tertentu yang mau mereka bagikan kepada kami. Suasana yang sedikit pedas ini tentu saja tidak mewarnai keseluruhan kehidupan kami. Ibuku tidak pernah lupa membelikan anak-anaknya coklat atau kue kesayangan kalau ia pergi berbelanja ke Super Market. Kedua orang tuaku tidak pernah lupa memeluk masing-masing kami sambil mengucapkan kata “hello”, “selamat malam”, dan “selamat pagi”. Mereka juga tidak pernah alpa memberi kami ciuman. Luka-luka yang kami rasakan karena kerasnya didikan orang tua segera akan menghilang pada saat kami mengalami ungkapan cinta yang besar dari orang tua kami.

Dengan cinta mereka juga membagikan pengalaman doa dan pengenalan akan Allah kepada kami. Dengan cinta pula mereka mengusahakan pendidikan kami, membimbing kami untuk bersosialisasi dengan lingkungan, dan berbagi makanan sehari-hari. Seringkali juga kami mengalami kejutan-kejutan dari mama, misalnya dengan memberi kepada kami hadiah-hadiah, yang dari perspektif kita sekarang mungkin tidak bernilai sama sekali. Tidak peduli berapa usia kami, semua anggota keluarga sungguh merasakan menjadi partisipan yang aktif di dalam rumah. Kita sangat didukung dan diberi kesempatan untuk mengungkapkan kegembiraan-kegembiraan, kebencian dan ketidaksenangan, ketakutan, kekecewaan, serta cinta. Dengan demikian, kalau salah satu dari kami tertimpah masalah atau persoalan, itu menjadi persoalan keluarga. Dan secara aktif kami mencari solusinya, paling tidak membicarakannya secara terbuka. Meskipun berstatus sebagai anak, suara kami tetap didengarkan dan dihormati oleh kedua orang tua kami. Dalam suasana seperti inilah kami belajar untuk mengatakan dan bersikap secara benar, memahami kesalahan dan kekeliruan orang lain dan membantunya, dan bersikap toleran terhadap sesama.

Satu dari keluhan terbesar yang dilontarkan kaum muda dewasa ini adalah bahwa mereka tidak mendapatkan kesempatan yang luas untuk berkomunikasi, baik dengan orang tua, dengan teman sebaya, maupun di sekolah. Padahal dibandingkan dengan masa-masa kami dahulu, kaum muda sekarang hidup dalam kecukupan ekonomi dan kenyamanan fisik. Mereka kehilangan kesempatan untuk mengalami jenis pembicaraan atau dialog yang memungkinkan mereka bisa mendengar dirinya sendiri, menemukan kekurangan dan kelebihan dirinya, memahami dan kemudian memperbaikinya. Kaum muda dewasa ini tidak mengalami atau hidup dalam iklim yang sifatnya suportif terhadap komunikasi timbal balik antarsesama. Mereka merasa bahwa komunikasi yang benar yang terjadi antarmereka, dengan orang yang mereka cintai maupun dengan dirinya sendiri tidak hanya tidak diberi tempat, tetapi juga tidak dihargai sebagai salah satu keutamaan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia.

Suatu saat seorang mahasiswaku datang kepadaku dan meminta saya mencarikan solusi terhadap persoalan pribadi yang sedang ia hadapi. Saya mengusulkan agar ia membicarakan hal ini dengan orang tuanya, karena selain masalahnya bersifat pribadi, solusinya pun semakin baik dan efektif kalau didukung oleh cinta kasih dan perhatian keluarga. Ia mati-matian menolak usul saya ini, karena menurut dia, orang tuanya tidak akan mendengarkannya. Saya meyakinkan dia, bahwa sebaiknya ia memberi kesempatan sekali lagi untuk mengkomunikasikannya dengan mereka. Beberapa hari kemudian ia datang lagi dan menceritakan bahwa ia telah mengkomunikasikan persoalannya kepada orang tuanya, tetapi mereka tidak menanggapinya. Menurut dia, orang tuanya bahkan menuduh dia mengada-adakan persoalan atau mencari sensasi. Yang lebih menyakitkan adalah bahwa orang tuanya mengalihkan toipik pembicaraan pada waktu mahasiswa itu membagikan persoalan yang ia hadapi. Orang tua itu beranggapan bahwa persoalan yang dihadapi putri mereka akan menghilang dengan sendirinya jika mereka meremehkan atau menutup-nutup persoalan tersebut. Bagi mereka, mendiskusikan persoalan yang dihadapi anak sama saja dengan membuang-buang waktu. Mereka baru sadar bahwa putrinya perlu didengarkan ketika anak mereka mencoba membunuh diri. Orang tua yang tidak tanggap terhadap persoalan yang dihadapi anak-anak mereka sering mengajukan pertanyaan seperti ini, “Mengapa Anda tidak pernah mengatakan kepada kami bahwa Anda sedang menghadapi persoalan seperti ini?” Dan wajar saja kalau anak menjawab, “Mengapa Kalian tidak mendengarkan saya pada saat saya membuka hati dan menceritakan persoalan saya?”

Eric Berne, seorang penulis buku terkenal berjudul Transpersonal Psychology sangat menaruh minat pada bagaimana membawa manusia kembali kepada keintiman mereka. Ia menunjukkan bahwa komunikasi antarmanusia semakin rusak karena banyaknya peran dan permainan yang harus kita mainkan dalam hidup. Keadaan ini tidak hanya menyebabkan semakin jauhnya jarak, tetapi dinginnya hubungan dan keintiman antarmanusia. Sehubungan dengan proses komunikasi antarsesama, Eric Berne selalu mengajukan empat pertanyaan berikut:

® Bagaimana Anda mengucapkan kata “hello”?

® Bagaimana kita menjawab kembali kata “hello” itu?

® Apa yang kita katakan selanjutnya setelah mengucapkan kata “hello” itu?

® Kalau pada umumnya orang tidak mengucapkan kata “hello” itu, lalu apa yang mereka ucapkan?

Pertanyaan-pertanyaan yang baik dan menarik, bukan?

Perhatian saya mengenai persoalan komunikasi akan tampak lebih kompleks, karena saya ingin memahami secara lebih baik mengenai komunikasi cinta. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan akan lebih dalam dari sekedar mengucapkan kata “hello” pada waktu bertemu dengan seseorang. Saya lebih suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Bagaimana Anda mengucapkan kata “saya cinta kamu” dan mengapa orang mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata-kata ini?
  • Bagaimana Anda menjawab ungkapan cinta ini dengan kata-kata “saya juga mencintaimu” tanpa intimidasi atau perasaan takut?
  • Apa yang akan kita katakan selanjutnya setelah kita mengungkapkan kata-kata “saya cinta kamu”?
  • Bagaimana kita menjaga agar cinta dan komunikasi cinta ini tetap bersemi?
  • Dan, lebih dari semuanya itu, jika orang tidak mengkomunikasikan perasaannya dengan kata-kata “saya cinta kamu”, lalu apa yang ia lakukan?

Harus diakui sebagai kenyataan bahwa porsi terbanyak dari komunikasi yang kita lakukan adalah dengan diri kita sendiri. Ini bukan saja karena kita sering kali merasa tidak jelas dengan apa yang akan kita katakan, atau karena kita tidak memiliki kemampuan berbahasa yang memadai. Komunikasi dengan diri sendiri banyak kali kita lakukan karena orang lain menunjukkan sikap ketidaktertarikan dengan apa yang mau kita katakan. Tidak hanya itu. Orang juga seakan tidak memahami emosi atau apa (isi) dari apa yang akan kita katakan. Komunikasi lalu menjadi sekedar vibrasi yang tak bermakna apa-apa.

Percakapan dan seni berkomunikasi semakin hari semakin menghilang dari kehidupan kita. Pertemuan-pertemuan dan pesta-pesta perjamuan lebih ditandai oleh suasana gaduh dan dialoh yang tak bermakna. Pertemuan dan acara makan keluarga tidak lagi menjadi moment untuk berbagi suka dan duka, tetapi menjadi ritual yang semakin hari semakin menyebalkan. Di rumah kita lebih senang berdiam diri di kamar masing-masing atau berada secara fisik di satu ruangan yang sama tetapi tidak saling berkomunikasi, karena kita sibuk menonton acara televisi.

Loys Wise, dalam salah satu buku kumpulan pusisi-puisinya yang diberi judul Lovetalk, menulis:

So many television marriages –

that playing out of lives against a

back ground the tube.

Instead of two lives filling the room,

There are their two loves and the eleven o’clock news

With

Constant comercial interruption.

Instead of what you say and what I say

It is what Dick and Johnny and their guests say.

You don’t love with me;

I don’t love with you.

All the wit comes pouring out of the tube.

And we laugh at it together.

The more we avoid talking

the more passively the relationship becomes.

Television permits us to walk through

life

with minor speaking parts.

And the more we fail to speak,

the more difficult speaking becomes.

Bagaimana Anda mengucapkan kata “saya cinta kamu”?

Persahabatan Penuh Cinta

Mei 6, 2008 at 12:49 pm | In Saduran | Leave a Comment
Tags:

Tenderness emerges from the fact that the two persons, longing, as all individuals do, to overcome the separateness and isolation to which we are all heir because we are individuals, can participate in a relationship that, for the moment, is not of two isolated selves but union.

ROLLO MAY

Terhadap teman-teman yang sedang menghadapi persoalan hubungan dengan sesama, kekasih, atau pasangan hidupnya, kita sering bertanya demikian, “Apa yang terjadi denganmu setelah hidup sekian lama bersamanya?” Dan bisa jadi ia menjawab, “Saya tidak tahu. Saya tak menyangka semuanya akan seperti ini.”

Banyak dari kita yang tidak pernah membayangkan kalau ada orang yang akan mengajukan pertanyaan semacam ini kepadanya. Selain sibuk dalam pekerjaan, kita juga memiliki kesempatan untuk berelasi dengan sesama kita. Tetapi anehnya, kita jarang memikirkan dinamika yang bisa menyebabkan relasi kita menjadi bertambah baik dan mendalam atau justru sebaliknya. Setiap hari, misalnya, kita berelasi dengan isteri, suami, anak-anak, teman, kekasih, dan pimpinan kita dan dengan banyak orang lainnya. Tetapi kita tidak peduli dengan relasi-relasi itu, karena sudah menjadi kebiasaan harian kita. Kita memperlakukan orang-orang yang temui dalam hidup kita sehari-hari secara datar dan biasa-biasa saja. Tampaknya kita tidak peduli kalau mereka semua mempengaruhi hidup dan perkembangan kita. Kita melupakan kenyataan, bahwa sesama kita memiliki kemampuan membuat kita tertawa atau menangis, bergembira atau ketakutan. Kita seakan-akan beranggapan bahwa relasi dengan orang lain—isteri, anak, orang tua, teman, kekasih, pimpinan, dan sebagainya—tidak usah terlalu serius dipikirkan. Hal itu terjadi secara alamiah dan mekanistis.

Demikianlah, banyak dari kita tidak beranggapan bahwa ternyata kita harus selalu mengevaluasi relasi atau persahabatan kita dengan orang lain. Padahal evaluasi itu perlu, karena relasi atau persahabatan dengan orang lain ternyata mempengaruhi pertumbuhan mental kita, peran kita di dalam masyarakat, hubungan kita dengan teman-teman dan kekasih, dan dengan kelompok di mana kita menjadi anggotanya.

Meskipun saya telah menaruh hormat dan menggarisbawahi pentingnya relasi penuh cinta dengan sesama dalam keseluruhan hidup saya, sesungguhnya hal ini baru saja terjadi 20 tahun silam. Demikianlah, dalam waktu yang masih relatif singkat inilah saya menaruh perhatian dan studi pada relasi atau hubungan antarmanusia. Dan saya kira waktu ini sudah cukup matang bagi saya untuk memahami hubungan antarmanusia dan membagikannya kepada sesamaku di seluruh dunia.

Ketertarikan saya pada relasi atau persahabatan penuh cinta telah membawa saya kepada mempelajari hal itu secara formal dan informal. Setiap kali saya berelasi dengan orang lain, saya senantiasa melakukan semacam penelitian informal mengenai relasi tersebut. Dan ini membuat relasi atau persahabatan dan percakapan kami menjadi lebih menarik dan mendalam. Di dalam relasi saya dengan orang lain, saya sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah mereka merasa bahagia dengan hidup mereka, dan apakah mereka telah mencapai apa yang mereka inginkan di dalam hubungan atau relasi mereka dengan orang lain. Dan jawaban yang saya terima selalu mengejutkan. Kebanyakan jawaban berbunyi, “Saya kira demikian.” Kadang-kadang.” “Saya tidak memikirkannya lagi.” “Saya mengikuti saja irama kehidupanku.” “Saya memiliki masa yang menyenangkan dan masa sulit.” Hampir tidak ada orang yang langsung menjawab “Ya” kalau ditanya apakah mereka bahagia atau menginginkan hubungan atau persahabatan yang sedang mereka hidupi saat ini.

Saya biasanya terus menanyakan jika mereka secara khusus mempelajari bagaimana berelasi atau bersahabat dengan orang lain, atau memiliki waktu untuk memikirkan dan merenungkan hidup dan persahabatan mereka. Reaksi mereka pun boleh dibilang mengejutkan. Mereka menjawab, “Secara khusus mempelajari tentang bagaimana berelasi atau bersahabat dengan orang lain? Ya, apakah saya memilikinya? Saya kira saya tidak lebih jelek dari orang lain, tetapi mempelajari bagaimana seharusnya berelasi atau berhubungan dengan orang lain? Ini akan sia-sia saja.”

Saya hanya tertawa dalam hati memikirkan betapa banyak orang dari antara kita yang ingin melompat ke dalam air atau kolam renang tanpa terlebih dahulu belajar bagaimana berenang dan menyelamatkan diri. Demikianlah, saya cukup memahami mengapa banyak dari mereka yang tidak mengalami kebahagiaan hidup setelah sekian lama hidup bersama pasangan hidupnya. Saya hampir tidak bisa membayangkan apakah mereka cukup punya keyakinan bahwa kehidupan dan cinta juga memerlukan perubahan dan pertumbuhan, dan bahwa dengan membuka diri kepada perubahan dan perkembangan di dalam relasi dan persahabatan—karena kita mau belajar dari relasi kita yang telah terjadi—kita justru bisa semakin diperkaya dan dihangatkan dalam cinta. Saya ragu-ragu kalau mereka memiliki kesadaran bahwa hubungan yang penuh cinta justru menciptakan kehidupan yang bermakna dalam seluruh kehidupan manusia jika manusia tidak pernah belajar dari relasi dan persahabatan mereka.

Supaya bisa mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan ini secara lebih akademis, saya kembali menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kuisioner saya di atas. Saya meminta responden menuliskan pemahaman mereka mengenai apa itu relasi atau persahabatan penuh cinta. Dan harus diakui bahwa jawaban-jawaban mereka sangat bagus dan mendalam. Ada dari mereka yang bahkan merasa senang dan tertantang dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Seorang responden menulis, “Anda memaksa saya untuk menjelaskan secara tepat dan kongkret hal-hal yang saya terima begitu saja dalam tahun-tahun kehidupanku yang tidak membahagiakan ini.” Ada juga yang menulis, “Saya tidak menyangka bahwa ternyata sangat sulit untuk mengungkapkan pikiran-pikiran dan perilaku saya yang telah saya hidupi selam 52 tahun dalam kata-kata. Tentu saja ada juga responden yang menolak untuk mendefinisikan pertanyaan saya.

Sebelum kita memahami jawaban-jawaban para responden saya mengenai apa itu relasi atau persahabatan penuh cinta, saya mengusulkan supaya Anda semua menjawab pertanyaan berikut terlebih dahulu. Dengan menjawab pertanyaan ini Anda sebetulnya diajak untuk membahasakan pengalaman kehidupan dan cinta Anda.

Bagaimana Anda mendefinisikan sebuah persahabatan atau relasi penuh cinta antar-sessama manusia?

Jawaban Responden

  • Persahabatan penuh cinta merupakan pilihan kemitraan. Mencintai orang lain di mana ketaksempurnaan nampak jelas di hadapan mata telah menjadi dasar pertumbuhan yang terus menerus dalam kehidupan, terutama ketika keindahan terus dicari dan ditemukan dalam kehidupan dan perjuangan hidup bersama.
  • Persahabatan penuh cinta merupakan model kehidupan di mana setiap individu saling mempercayai. Dalam persahabatan penuh cinta seseorang tidak akan merasa dieksploitasi atau dirugikan oleh pasangannya. Persahabatan penuh cinta melibatkan lebih banyak komunikasi, saling berbagi, dan kelembutkan.
  • Hubungan persahabatan penuh cinta merupakan relasi antarmanusia yang memungkinkan orang yang terlibat di dalam relasi itu bisa membuka diri dan menjadi jujur dengan pasangannya tanpa adanya ketakutan akan diadili atau dicela. Orang yang terlibat di dalam relasi ini akan merasa aman untuk saling terbuka dan mengungkapkan diri secara jujur dan apa adanya.
  • Hubungan persahabatan penuh cinta merupakan relasi yang melaluinya individu yang terlibat mengalami pertumbuhan di dalam pemahaman dan saling menerima perbedaan-perbedaan pasangannya, dan mendukung setiap pribadi untuk keluar dari hubungan mereka dan berbagi suka dan duka persahabatan mereka dengan sebanyak mungkin orang yang ada di sekitar mereka.
  • Hubungan persahabatan penuh cinta merupakan relasi di mana Anda menerima keseluruhan diri orang lain pada saat ini dan menerima hal yang sama dari pasangan Anda.
  • Hubungan persahabatan penuh cinta merupakan relasi yang terjadi di mana perbedaan-perbedaan karena hak-hak pribadi, hak milik, pikiran, emosi, dan bahkan tindakan menjadi tidak nampak. Dan semuanya ini tidak dipersoalkan, karena kita saling berbagi baik aspek-aspek manusiawi tujuan-tujuan maupun ilahi yang mau dicapai.
  • Hubungan persahabatan penuh cinta bersifat mistis, tetapi konkret. Ia merupakan pengalaman yang dinamis, mengalir, memiliki tujuan pada dirinya sendiri dan tidak ingin menjadi sarana bagi tujuan-tujuan tertentu di luar dirinya.
  • Sebuah persahabatan penuh cinta merupakan relasi yang dibangun, yang melaluinya orang mengalami pengalaman saling memperhatikan dan kepekaan terhadap pertumbuhan dan perkembangan pasangannya. Dalam relasi ini sifat ingin memiliki pasangan (posesif) membuka jalan kepada membiarkan pasangan menjadi dirinya sendiri, sifat mementingkan diri sendiri membuka jalan kepada keralaan berkorban dan saling berbagi. Di dalam relasi ini komunikasi dibangun secara mendalam dan terbuka, kebaikan pasangan semakin diperbesar, sementara kejelekkan semakin diperkecil.
  • Persahabatan penuh cinta terjalin memampukan orang untuk memiliki kesadaran yang mendalam mengenai pasangan yang dicintainya, kesadaran dan kepekaan mengenai orang lain, bertumbuh bersama orang yang dicintai sambil menyadari bahwa meskipun tak seorang pun bersifat sempurna di dunia ini, cinta selalu tetap sempurna. Karena sifat cinta yang demikian, ia tidak hanya menjadi dasar hubungan antarsesama, tetapi juga bisa memecahkan banyak persoalan.
  • Persahabatan penuh cinta merupakan penerimaan pribadi lain tanpa kondisi. Penerimaan itu dimaksud untuk membantu dia mencapai tujuan tertinggi hidupnya, bertumbuh, dan memupuk pertumbuhan tersebut. Setiap orang melihat pasangannya sebagai sahabat yang bisa dipercaya, tempat bergantung, dan tempat untuk merasakan kegembiraan dan suka cita.
  • Persahabatan penuh cinta menimbulkan perasaan nyaman di tengah kehadiran orang yang dincintai. Melalui kehadiran, kata-kata dan bahasa tubuh kita bisa saling mempercayai, jujur, saling mengagumi, dan saling taat. Dan bahwa jalan kepada kebahagiaan juga dicapai melalui kebersamaan yang saling mendukung.
  • Orang yang saling mencintai dan terlibat di dalam persahabatan penuh kasih bisa menciptakan persaan kelembutan, perasaan nyaman, dan kegembiraan. Persahabatan demikian memberikan dukungan yang tak ada batasnya dan kekuatan yang senantiasa ada sepanjang waktu.
  • persahabatan penuh cinta membuat orang saling menukar kehangatan dan perhatian tanpa merasa dipaksa, karena ini berakar pada kejujuran yang total dan komunikasi yang terus menerus tanpa saling merugikan satu sama lain.
  • Persahabatan penuh cinta tidak didefinisikan berdasarkan lamanya waktu persahabatan, tetapi berdasarkan kualitas persahabatan itu sendiri. Melalui persahabatan orang berbagi pikiran, perasaan, dan pengalaman. Persahabatan merupakan rumah bagi jiwa kita, tempat kita menjadi diri kita sendiri, dambaan hati, pengaharapan, ketakutan dan kegembiraan. Persahabatan penuh kasih menyingkirkan perasaan takut diadili dan dipersalahkan, ditolak, atau bahkan ditinggalkan. Ia merupakan suasana di mana kita bisa menikmati suasana santai, didukung, dan mendapatkan kekuatan untuk perjuangan hidup kita sehari-hari.
  • Terjalinnya persahabatan penuh kasih membuat pasangan hidup kita merasa bebas untuk menjadi dirinya sendiri. Bersamanya kita bisa menikmati tertawa, dan bukan menertawakan pasangan, bisa menangis bersama dan bukan mengais karena pasangan, mencintai kehidupan, diri sendiri, dan mencita karena merasa telah dicinta. Hubungan semacam ini dibangun di atas dasar kebebasan. Ia tidak pernah bisa berkembang dari sebuah hati yang suka cemburu.
  • Persahabatan penuh cinta memungkinkan orang, yang karena merasa dicintai, diterima, dan nyaman, berbagi perasaan-perasaan terdalam mereka, mimpi-mimpi (impian-impian) mereka, kegagalan-kegagalan, dan keberhasilan-keberhasilan tanpa adanya perasaan canggung. Interaksi dengan orang yang dicintai bersifat dua arah, yakni bersifat memberi dan menerima. Ia berakar dalam saling menghargai dan percaya.
  • Persahabatan penuh cinta menjadi ibarat “rumah” yang di dalamnya Anda bisa menjadi dirimu sendiri secara total, diterima, dipahami, dipercaya, dan dipahami sebagai insan yang pantas dan bermakna. Ia menciptakan suasana yang memampukan orang yang saling mencintai mampu memberikan perhatian dan kenyamanan kepada pasangannya. Hanya dengan demikian seseorang bisa mengalami kasih sayang dan perlindungan, berbagi harapan dan kecemasan, bertumbuh dan belajar untuk menjadi dewasa.
  • Persahabatan penuh cinta memungkinkan orang merayakan kehidupannya, berkomunikasi, dan mengetahui hati dan jiwa pasangannya.
  • Persahabatan penuh kasih merupakan kemampuan untuk mengungkapkan perasaan secara apa adanya, jujur, dan terbuka seperti sifat anak-anak yang lugu dan spontan.
  • Persahabatan penuh cinta membuat seseorang memandang pasangannya bukan sebagai perpanjangan dirinya, tetapi sebagai pribadi yang unik, indah, dan terus menjadi dirinya sendiri. Suasana persahabatan penuh cinta memampukan orang untuk saling membawa kediriannya kepada pasangannya, saling menyatukan diri tanpa takut kehilangan diri.

Jawaban-jawaban mengenai apa itu persahabatan penuh cinta yang diungkapkan para responden di atas terasa mewakili juga pemahaman dan pengalaman cinta kita. Yang penting di sini bukan indahnya kata-kata, tetapi bahwa kata-kata tersebut mewakili pikiran, perasaan, pengalaman, bahkan kehidupan cinta kita. Ada dari kita yang barangkali memahami bahwa kehidupan persahabatan dan cintanya harus dibangun di atas dasar kejujuran, saling percaya, dan komimen. Untuk orang yang lain kehadiran, dukungan, dan rasa aman. Semua jawaban di atas membantu kita untuk mengevaluasi dan memahami secara terus menerus hubungan cinta dan persahabatan kita. Yang terpenting adalah bahwa kesejatian persahabatan dan cinta kita bisa diukur dari kejujuran kita untuk mengatakan kepada pasangan hidup kita atau orang yang kita cintai, “Datanglah sayang, masuklah ke dalam hidupku. Aku menyayangimu!”

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.