Kesepian Itu Tidak Baik Bagi Kesehatan

Ditulis Maret 6, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Artikel Populer

Tags: , ,

Sebuah studi terbaru yang terbit di Toronto Sun menunjukkan bahwa ternyata “kesepian yang kronis” memiliki bahaya terhadap kesehatan seseorang sama seperti bahaya obesitas. Menurut laporan itu, “kesepian meningkatkan kemungkinan terjadinya kematian dini sebesar 14 persen, dan angka ini sama dengan peningkatan kematian dini karena obesitas.” Dalam arti itu, keduanya memiliki risiko yang sama besar terhadap kematian seseorang.

Laporan itu sebenarnya adalah hasil survei yang dilakukan oleh sebuah Yayasan Kesehatan Jiwa terhadap 2000 responden di Amerika Serikat, di mana 10 persen responden merasa kesepian, sepertiga dari mereka merasa bahwa teman akrab atau saudara mereka sedang mengalami kesepian, dan setengah dari mereka mengatakan bahwa masyarakat pada umumnya semakin lama semakin merasa kesepian.
Studi itu juga menunjukkan bahwa kelompok masyarakat yang paling sering merasa kesepian adalah mereka yang berusia di atas 50 tahun. Sementara kesepian dari kelompok usia di atas 60 tahun semakin kronis karena ditambah dengan kekhawatiran mereka bahwa penyakit karena lanjut usia dan kematian akan segera datang menghampiri.

Ini tentu menjadi ancaman yang cukup serius bagi mereka yang memasuki usia pensiun dan kaum lansia. Bahkan ahli demografi dan psikologi mengatakan bahwa kelompok masyarakat ini sebaiknya selalu hidup berdampingan dan bersama, jangan sampai saling memisahkan diri dan hidup jauh satu sama lain dalam waktu yang relatif lama.

Anehnya, penelitian ini tidak menyinggung faktor lain yang menyebabkan terjadinya kesepian kronis, yakni perceraian yang semakin tahun semakin terus meningkat. Padahal perceraian tidak hanya menyebabkan terjadinya kesepian pada pasangan suami dan istri, tetapi juga anak-anak. Di Amerika Serikat, data statistik menunjukkan bahwa angka perceraian bertambah dua kali lipat sejak tahun 1990, yakni meningkat dari 4,9 menjadi 10,1 perceraian setiap 1000 perkawinan. Jika diperkirakan akan meningkat dua kali untuk sepuluh tahun mendatang, maka di tahun 2020-an angka perceraian mencapai di atas 20 persen dari 1000 perkawinan.

Di Indonesia sendiri, angka perceraian menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Sejak tahun 2005, angka perceraian selalu di atas 10 persen. Pada tahun 2010, terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia. Penyebab pisahnya pasangan jika diurutkan tiga besar paling banyak akibat faktor ketidakharmonisan sebanyak 91.841 perkara, tidak ada tanggungjawab 78.407 perkara, dan masalah ekonomi 67.891 perkara. Sedangkan tahun sebelumnya, tingkat perceraian nasional masih di angka 216.286 perkara. Angka faktor penyebabnya terdiri atas ketidakharmonisan 72.274 perkara, tidak ada tanggungjawab 61.128 perkara, dan faktor ekonomi 43.309 perkara.
Mungkin saja para peneliti dari Yayasan Kesehatan Jiwa itu tidak bermaksud meneliti hubungan antara perceraian dengan kesepian. Tetapi fakta kesepian yang disebabkan oleh perceraian tidak bisa dianggap enteng. Penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dnegan kaum remaja dari keluarga yang utuh, kaum remaja korban perceraian umumnya mengalami kehidupan dalam rasa sepi yang mendalam dan rasa ketidakpuasan pada diri mereka sendiri. Dan ini sudah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan di Pamukkale University di Turki.

Para peneliti dari Pamukkale University di Turki mengumpulkan data dari 863 siswa Sekolah Menengah Atas, yang setelah diolah secara statistik, menunjukkan adanya korelasi positif antara perceraian orangtua mereka dengan perasaan kesepian yang sedang mereka alami. Para peneliti kemudian menyimpulkan, “Para remaja sekolah menengah atas dari orangtua yang bercerai ada dalam bahaya mengalami rasa kesepian dan ketidakpuasan dalam hidup.”

Per definisi, kesepian (loneliness) dipahami sebagai perasaan atau emosi yang tidak menyenangkan sebagai reaksi terhadap pengalaman kesendirian (pengalaman terisolasi) atau pengalaman ketiadaan rekan, sahabat, orang terdekat. Kesepian meliputi perasaan khawatir, curiga, atau putus asa terhadap kesendirian, ketiadaan orang-orang sekitar, dan semacamnya. Perasaan ini dapat termanifestasi dalam banyak bentuk, mulai dari hal yang ringan sampai hal yang paling ekstrem seperti bunuh diri.

Kembali ke persoalan di atas, bahwa rasa kesepian sebagai fenomena yang sama berbahayanya dengan obesitas memang harus dihargai. Meskipun demikian, kita masih memiliki pekerjaan rumah yang amat besar, terutama bagiamana membantu saudara-saudara kita yang mengalami kesepian selepas perceraian orangtua mereka.[]

TAJAMNYA PISAU GOSIP

Ditulis Februari 25, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Artikel Populer, Filsafat

Tags: , ,

Oleh Yeremias Jena
(Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Jl. Pluit Raya No. 2 Jakarta Utara. 14440)

Siapa yang tidak tahu gosip? Apakah kita sendiri pernah bergosip ria? Adakah sesuatu yang salah dari tindakan atau perilaku semacam itu? Bukankah gosip wajar dilakukan sejauh ia dipahami sebagai bagian dari status kita sebagai manusia?

Oxford Dictionary mendefinisikan gosip sebagai “casual or unconstrained conversation or reports about other people, typically involving details that are not confirmed as being true.” Per definisi, gosip menegaskan beberapa hal penting yang menandai karakter kita sebagai manusia: percakapan atau informasi yang tak-terbatas mengenai orang lain. Percakapan atau obrolan selalu mengenai hal-hal yang kebenarannya belum dikonfirmasi apakah benar atau salah. Hal penting lainnya yang perlu ditambahkan adalah bahwa obrolan atau percakapan itu terjadi tanpa kehadiran orang yang sedang menjadi subjek pembicaraan tersebut.

Gosip dapat dikaji dari berbagai perspektif. Ada kajian antropologis atau sosiologis yang menegaskan bahwa dalam arti tertentu, gosip dibutuhkan masyarakat sebagai pemersatu relasi sosial. Gosip dapat menjadi sarana edukasi ketika karakter tokoh-tokoh tertentu dikisahkan secara berlebihan sebegitu rupa untuk menimbulkan kekaguman dan imitasi. Sementara gosip mengenai kelemahan lawan dapat membangkitkan keberanian dan harga diri diri anggota komunitas dalam persaingan antarkomunitas.

Gosip juga dapat dimaknakan secara filosofis. Kajian etika sendiri – terutama dari perspektif deontologi – menegaskan bahwa tindakan menggosip orang lain sama saja dengan memperlakukan orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan individu. Dalam arti itu, benarlah yang dikatakan Margareth Holland (“What’s Wrong with Telling the Truth? An Analysis of Gossip” dalam Americal Philosophy Quarterly, Vol. 33, No. 2, April 1996, hlm. 206), bahwa ada alasan moral untuk menghentikan atau tidak berpartisipasi dalam gosip ketika kita menyadari sepenuhnya “kaidah emas” yang memerintahkan kita untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Selain itu, gosip tetap bisa diposisikan sebagai tema refleksi fenomenologis-filosofis, misalnya dari sudut pandang obrolan dan kejatuhan manusia otentik dalam das Mann sebagaimana dikemukakan Martin Heidegger.

Tulisan ini mencoba meneropong gosip dari sudut pandang filsafat Kristiani. Karena tema tulisan ini begitu dekat dengan nilai-nilai Kristianitas, tulisan ini sebenarnya dapat juga dipahami sebagai semacam spiritualitas kritis atas nilai-nilai Kristianitas mengenai gosip itu sendiri. Untuk kepentingan tulisan ini, penulis sangat berutang budi pada karya Thomas Aquinas dalam Summa Theologica, II-II Q. 73,Art. 2.

Bahaya Kata-kata

Sebuah kisah datang tradisi filsafat Socrates. Sang filsuf dan guru kehidupan yang sangat dihormati ini suatu ketika kedatangan seorang tamu yang adalah sahabatnya sendiri. Kepada Socrates, sang tamu itu berkata, “Tahukah Anda apa yang baru saja aku dengar mengenai para sahabatmu?” Socrates menjawab, katanya, “Tahan sekejab. Sebelum Anda memberitahu kepadaku mengenai sahabat-sahabatku, bagus jika kita berdiam diri sejenak dan menyaring terlebih dahulu apa yang ingin kita katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai ‘tes penyaringan berlapis tiga’. Lapis pertama adalah Kebenaran. Apakah Anda yakin betul bahwa apa yang akan Anda katakan kepadaku adalah sebuah kebenaran?”

“Tidak juga,” jawab sang tamu itu. “Aku hanya mendengarnya dari orang lain dan ….”

Sebelum melanjutkan kata-katanya, Socrates memotong, “Baiklah! Jadi Anda tidak tahu persis apakah yang akan Anda katakan itu benar atau salah. Sekarang marilah kita terapkan penyaringan lapis kedua, yakni lapis Kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya adalah hal mengenai kebaikan sahabat saya?”

Sang tamu itu tampak tersipu-sipu lalu menjawab, “Emmmmm, tidak. Justru sebaliknya!”

Socrates pun menjawab, “Jadi Anda sebenarnya mau mengatakan sesuatu kepada saya mengenai sahabat saya tetapi Anda sendiri tidak bisa memastikan apakah itu suatu Kebenaran atau tidak. Dan yang akan Anda katakan itu bukanlah suatu Kebaikan mengenai sahabat saya. Mungkin saja Anda bisa melewati tes ini karena masih ada satu lagi penyaringan, yakni Kebermanfaatan. Apakah informasi yang ingin Anda beritahukan kepada saya mengenai sahabat saya itu akan bermanfaat bagi saya?”

“Tidak, sama sekali tidak!” jawab sang tamu itu.

“Baiklah,“ Socrates menyimpulkan, “Jika apa yang akan Anda katakan itu tidak mengandung kebenaran, tidak mengandung kebaikan, dan tidak bermanfaat, mengapa Anda ingin sampaikan kepadaku?” (Kisah diambil dari http://www.inspirationpeak.com/cgi-bin/stories.cgi?record=150, akses: 6 Februari 2014).

Mengapa ketiga ketiga syarat sebagaimana dikemukakan Socrates itu harus dipenuhi ketika kita membicarakan orang lain tanpa kehadiran dirinya? Memenuhi ketiga tuntutan itu sama artinya dengan tidak melibatkan diri dalam setiap upaya gosip-menggosip. Apakah manusia memang harus mencegah dirinya memasuki situasi yang memungkinkan terjadinya gosip? Jika disebut sebagai bagian dari hakikat alamiah manusia, mengapa manusia harus mencegah dirinya menggosip sesamanya?

Kata-kata yang keluar dari mulut kita ternyata bagai pedang bermata dua. Dia bisa menginspirasi, membangkitkan dan mendorong perubahan dan pertumbuhan manusia. Tetapi dia juga bisa menghancurkan. Kata-kata bahkan lebih mematikan daripada pedang, terutama ketika itu diungkapkan sebagai fitnah.

Dalam artikel pertama dari pertanyaan 73 dalam Secunda Secundae, Thomas Aquinas mengatakan bahwa gosip itu fitnah (backbiting). Melibatkan diri dalam gosip atau mendengar gosip, dalam iman Katolik, dikategorikan sebagai dosa ringan (venial sin). Menanggalkan terlebih dahulu perdebatan seputar gosip dan dosa, Thomas Aquinas berusaha menunjukkan secara rasional, mengapa gosip yang adalah fitnah itu harus dihindari. Sebagaimana lazim dalam cara berfilsafat Thomistik, sang filsuf pertama-tama menolak pandangan umum yang menolak fitnah sebagai salah (dan dosa). Menurut Thomas Aquinas, mereka yang membela fitnah sebagai tindakan yang salah umumnya mendasarkan diri pada dua alasan utama. Pertama, jika fitnah – per definisi – adalah membicarakan keburukan dan merusak nama baik orang secara rahasia, ini tidak memenuhi syarat kerahasiaan, karena memfitnah seseorang pasti dilakukan di hadapan para pendengar. Dalam arti itu, tindakan memfitnah memiliki dimensi kepublikan sehingga bertentangan dengan definisi kata “fitnah” itu sendiri.

Kedua, sehubungan dengan fitnah sebagai upaya merusak dan menghancurkan reputasi atau nama baik seseorang, pengertian ini pun harus ditolak. Sesuatu disebut sebagai reputasi atau nama baik mengandaikan rekognisi dan akseptasi publik. Karena itu, usaha menghancurkan nama baik tidak bisa tidak dilakukan secara publik.

Thomas Aquinas berpendapat bahwa kedua posisi ini tidak bisa diterima. Mereka yang menolak gosip dan fitnah sebagai sesuatu yang buruk lupa bahwa merusak dan menghancurkan orang lain itu dapat terjadi dalam dua cara, yakni secara terbuka dan langsung (seperti tindakan seorang perampok yang merebut nama baik seseorang secara frontal) dan secara tidak langsung (seperti tindakan seorang pencuri yang tidak memberitahu terlebih dahulu kapan dia datang). Bagi Thomas Aquinas, gosip dan fitnah adalah upaya merusak nama dan harga diri seseorang yang disebarkan melalui kata-kata, diucapkan secara tertutup dan rahasia (tanpa kehadiran korban). Tindakan ini buruk pada dirinya sendiri karena intensi penggosip adalah merendahkan dan menghancurkan korbannya melalui upaya meyakinkan lawan bicaranya bahwa apa yang dibicarakannya mengenai orang lain itu mengandung kebenaran. Tujuan akhir yang hendak dicapai penggosip adalah menciptakan kesan dan opini yang buruk dari orang lain (pendengar) mengenai korban gosip.

Berbeda dengan tindakan merusak dan mengahancurkan orang lain secara terbuka (posisi yang dibela para pendukung gosip), gosip dan fitnah memiliki kadar moralitas yang jauh lebih buruk. Menyerang dan menghancurkan orang secara terbuka (Thomas Aquinas menyebutnya sebagai “mencaci maki” atau reviling), meskipun berpengaruh pada kehormatan (honor) seseorang, sang korban memiliki kesempatan untuk membela diri. Tidak demikian dengan menggosip dan memfitnah orang. Korban yang difitnah tidak hanya kehilangan harga dirinya (honor), tetapi juga nama baiknya (good name). Mengapa nama baik (good name) sangat ditonjolkan oleh Thomas Aquinas dalam refleksi filosofis dan teologisnya mengenai gosip dan fitnah? Bagi dia, memiliki nama baik jauh lebih berharga dari harta dan kekayaan apa pun; bahwa ketiadaan nama baik justru menyulitkan seseorang dalam melakukan banyak hal secara baik. Padahal, menjadi baik secara moral – mengikuti Aristoteles – adalah bertindak sebagai orang yang berkeutamaan dengan merealisasikan seluruh potensialitas diri. Menjadi orang yang tersakiti karena fitnah akan menghalangi seseorang dari merealisasikan seluruh potensialitas dirinya itu.
Lebih dari Sekadar Larangan

Di sinilah kita mengerti dengan baik maksud kata-kata Socrates dalam dialog di atas. Bahwa menggosip atau memfitnah seharusnya dihindari karena tidak mengandung kebenaran, tidak membawa kebaikan, dan tidak bermanfaat. Implikasi moralnya amat jelas: relasi antarsesama dan persahabatan seharusnya dibangun di atas kebenaran dalam arti saling menerima apa adanya. Bahwa setiap orang saling mengisi dalam kekurangan dan kelebihannya. Bahwa kebenaran dalam arti itu akan membawa kebaikan bagi kita, dan kebaikan itulah manfaat dari relasi itu sendiri.

Belajar dari Santo Thomas, kita harus mengatakan tidak untuk gosip dan fitnah. Tindakan semacam itu tidak hanya melawan cinta kasih, tetapi juga keadilan. Cinta kasih adalah dasar persahabatan Kristiani. Radikalitas cinta kasih Kristiani justru terletak pada kesediaan menerima dan mengasihi orang lain, bahkan musuh sekalipun. Sementara keadilan adalah imperatif moral untuk memperlakukan orang lain sama seperti seseorang ingin diperlakukan.

Gosif dan fitnah ibarat pisau amat tajam yang siap menghancurkan relasi sosial kita. Maka membiarkan gosip dan fitnah tetap eksis sama saja dengan mengizinkan pedang teramat tajam itu mengiris dan mengancurkan persahabatan kita. Dan kita tidak mau seperti itu, bukan?[]

Banalitas Korupsi

Ditulis Februari 19, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Artikel Populer, Filsafat

Tags: ,

Ratusan mata wartawan dan jutaan pemirsa di tanah air membelalak. Rudi Rubiandini, mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berurai air mata sambil membela diri seusai sidang pengadilan tindak pidana korupsi, Selasa 7 Januari 2014. Ada dua poin inti pembelaan diri. Pertama, ia mengaku tidak bersalah. Kalau pun ada penyelewengan uang negara, itu dilakukan semata-mata karena kepentingan stakeholders, apa yang disebutnya sebagai “…ada kebutuhan logistik meminta sesuatu.” Kedua, pertahanan moral Rudi akhirnya “jebol” setelah selama lima bulan menahan diri untuk tidak menerima tawaran suap.

Pengakuan Rudi menegaskan bahwa tindakan korupsi yang dilakukannya, dalam pemahamannya, sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku di institusinya. Dia menyebut itu sebagai “… saya melakukan semua dengan menggunakan tupoksi yang dilakukan teman-teman saya di SKK Migas.” Ada hal yang kontradiktif di sini. Di satu pihak Rudini mengatakan bahwa tindakannya bukan korupsi karena sudah sesuai dengan tupoksi yang berlaku. Tetapi di lain pihak, dia sebetulnya tahu bahwa tindakan itu salah. De facto dia sudah “berhasil” menahan diri selama lima bulan untuk tidak korupsi.

Pertanyaan publik lalu mengarah ke kenyataan yang kontradiktif ini. Jika tahu bahwa tindakan itu – termasuk tupoksi – salah, mengapa masih berani menerima suap? Mengapa seorang yang sangat terdidik seperti Rudi dengan pemahaman yang mantap tentang apa yang baik dan buruk secara moral, seakan-akan tunduk pada pendiktean sistem yang korup?
Kemalasan Berpikir

Pembelaan diri Rudi mengingatkan kita akan konsep Hannah Arendt mengenai banalitas kejahatan. Sebuah kejahatan dikatakan banal jika itu dianggap lazim oleh pelakunya. Disebut lazim pertama-tama karena dilakukan sesuai prosedur, hanya menjalankan ketentuan institusi, sudah menjadi kebijakan birokrasi, dan sebagainya. Dalam konteks itu, siapa pun juga orang baik yang masuk dalam institusi yang korup pasti melakukan kejahatan.

Karakteristik kejahatan yang banal bukan terletak pada motif tindakan melakukan kejahatan, misalnya memperkaya diri, memajukan institusi, mencapai kekuasaan, dan semacamnya. Juga bukan pada absennya kehendak (will) yang kuat dalam diri subjek berhadapan dengan godaan korupsi sebagaimana dipersepsi teologi tradisional. Motif-motif ini, dalam pemikiran Hannah Arendt, tidak dilihat sebagai alasan pembenar tindakan kejahatan, karena mereka mengandaikan pelaku kejahatan memiliki pertimbangan rasional – rasionalitas tindakan instrumental atau strategis – sebelum melakukan kejahatan. Kejahatan disebut banal atau lazim jika pelaku kejahatan malas berpikir sehingga tidak mampu mencapai level reflektif yang memampukan dia untuk selalu membedakan tindakan-tindakan yang benar secara moral dan melaksanakannya.

Kalau benar bahwa apa yang dilakukan Rudi bukan untuk memperkaya diri (menurut pengakuannya, dirinya dan keluarganya tidak miskin-miskin amat), dan bahwa pertahanan dirinya “jebol” setelah lima bulan, maka yang sebetulnya dialami sang profesor adalah penyerahan dirinya ke dalam logika kejahatan banal ketika pikiran rasional dan kritisnya berhasil dilumpuhkan institusi yang korup. Dua kondisi harus dipenuhi supaya seseorang bisa membebaskan diri dari sistem yang korup, yakni kesatuan antara kata (pikiran, rasionalitas) dan tindakan (aksi). Pikiran atau rasionalitas dibangun dalam apa yang disebut Hannah Arendt sebagai vita contemplativa. Apa yang dilakukan Rudi selama lima bulan mungkin bisa dikatakan sebagai tahap contemplatio ketika dia betul-betul bersikap kritis, mengambil jarak, dan sanggup mendeteksi kecurangan dan kebobrokan sistem. Tetapi itu tidak terjadi pada level tindakan atau apa yang disebut Hannah Arendt sebagai vita activa. Daya nalar kritis seakan-akan lumpuh di hadapan tindakan. Ada jurang yang sangat lebar antara apa yang diketahui sebagai benar dan tindakan itu sendiri.

Mengapa pikiran rasional dan kritis seakan tidak berdaya menghadapi “godaan” kejahatan? Kondisi seperti apakah yang dihadapi Rudi sehingga kejahatan korupsi itu menjadi semacam pesona yang terus memikat dan sulit dihindari, persis ketika seorang pemuda yang tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang wajah sang pujaan hatinya?

Institusi yang jahat dan korup biasanya didesain sebegitu rupa sehingga memiliki daya pelumpuh kesadaran etis, mirip birokrasi dan kekuasaan elit partai di zaman Nazi Jerman yang mampu melumpuhkan kesadaran kritis setiap pengikutnya. Ada semacam kekuatan pencuci otak yang dimiliki setiap birokrasi (yang korup). Caranya bisa macam-macam. Perubahan gaya hidup, misalnya mulai menyenangi olahraga golf, mengkoleksi mobil, rumah mewah, barang-barang antik, dan sebagainya dapat menjadi cara efektif yang digunakan sistem yang korup untuk melumpuhkan kesadaran kritis dan etis seseorang.Dalam pemikiran Hannah Arendt, yang disasar institusi yang korup adalah melumpuhkan apa yang disebut “the faculty of thinking” dari setiap pelaku tindakan. Dalam kasus Rudi, proses pelumpuhan itu terjadi selama kurang lebih lima bulan.

Akibatnya fatal bagi Rudi sendiri dan seluruh tindakan kejahatan yang banal lainnya. Tindakan yang dilakukan memang tampak sebagai bukan tindakan kejahatan tetapi hanya sebuah kelaziman persis ketika pelaku kejahatan telah kehilangan kesadaran moralnya. Dan untuk itu, Rudi harus membayar mahal. Bukan hanya kemandekan atau kegagalan seluruh cita-citanya membenahi sistem dan birokrasi di SKK Migas yang korup, tetapi juga kekalahan kaum intelektual di hadapan pesona kejahatan. Dan jika benar bahwa gaya dan kenyamanan hidup telah menjadi senjata utama sistem dan birokrasi yang korup dalam memasung kesadaran kritis kita, maka logika bahwa gaji yang tinggi sanggup membebaskan seseorang dari tindakan korup mungkin harus dipertimbangkan ulang.

Kebijaksanaan hidup tradisional yang diusung agama-agama mungkin saja benar. Hartamu boleh banyak dan berlimpah. Gajimu sebulan mungkin saja membuatmu bergelimang uang. Yang terpenting adalah apakah seseorang mampu membebaskan hatinya dari kepungan dan penguasaan kekayaan atau tidak. Kata orang bijak, “Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada”, dan itu berlaku bagi mereka yang pikiran kritis dan rasionalnya sudah dilumpuhkan oleh institusi yang korup.[]

Tiga Filter Gosip

Ditulis Februari 9, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Cerita Inspiratif

Tags: ,

Socrates

Sebuah kisah datang tradisi filsafat Socrates. Sang filsuf dan guru kehidupan yang sangat dihormati ini suatu ketika kedatangan seorang tamu yang adalah sahabatnya sendiri. Kepada Socrates, sang tamu itu berkata, “Tahukah Anda apa yang baru saja aku dengar mengenai para sahabatmu?” Socrates menjawab, katanya, “Tahan sekejab. Sebelum Anda memberitahu kepadaku mengenai sahabat-sahabatku, bagus jika kita berdiam diri sejenak dan menyaring terlebih dahulu apa yang ingin kita katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai ‘tes penyaringan berlapis tiga’. Lapis pertama adalah Kebenaran. Apakah Anda yakin betul bahwa apa yang akan Anda katakan kepadaku adalah sebuah kebenaran?”

“Tidak juga,” jawab sang tamu itu. “Aku hanya mendengarnya dari orang lain dan … .”

Sebelum melanjutkan kata-katanya, Socrates memotong, “Baiklah! Jadi Anda tidak tahu persis apakah yang akan Anda katakan itu benar atau salah. Sekarang marilah kita terapkan penyaringan lapis kedua, yakni lapis Kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya adalah hal mengenai kebaikan sahabat saya?”

Sang tamu itu tampak tersipu-sipu lalu menjawab, “Emmmmm, tidak. Justru sebaliknya!”

Socrates pun menjawab, “Jadi Anda sebenarnya mau mengatakan sesuatu kepada saya mengenai sahabat saya tetapi Anda sendiri tidak bisa memastikan apakah itu suatu Kebenaran atau tidak. Dan yang akan Anda katakan itu bukanlah suatu Kebaikan mengenai sahabat saya. Mungkin saja Anda bisa melewati tes ini karena masih ada satu lagi penyaringan, yakni Kebermanfaatan. Apakah informasi yang ingin Anda beritahukan kepada saya mengenai sahabat saya itu akan bermanfaat bagi saya?”

“Tidak, sama sekali tidak!” jawab sang tamu itu.

“Baiklah,“ Socrates menyimpulkan, “Jika apa yang akan Anda katakan itu tidak mengandung kebenaran, tidak mengandung kebaikan, dan tidak bermanfaat, mengapa Anda ingin sampaikan kepadaku?” (Kisah diambil dari http://www.inspirationpeak.com/cgi-bin/stories.cgi?record=150, akses: 6 Februari 2014).

BAHAYA POLITIK PENCITRAAN

Ditulis Januari 19, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Artikel Populer

Tags: ,

Sebagai tahun politik, tahun 2014 semakin memanas. Berbagai peristiwa politik mengindikasikan meningkatnya persaingan antarpartai dan kandidat. Ketika berbagai lembaga survei dan media massa mewartakan meroketnya popularitas Jokowi, berbagai manuver dan perang opini terus berusaha meyakinkan kita bahwa perang dan persaingan sesungguhnya baru saja dimulai. Ada kader partai tertentu yang “ditugaskan” untuk membangun opini, mengkritik sosok tertentu, mencari kesalahan lawan politik dan membeberkannya ke publik, dan sebagainya. Ini menjadi strategi politik memperbaiki citra, meningkatkan elektabilitas, mengalihkan isu, membangun opini publik dan semacamnya.
Media massa konvensional dan media sosial sibuk mendiskusikan siapa yang pantas memimpin republik ini lima tahun ke depan. Ada yang mengusung tema “mencari” sosok pemimpin ideal, “merindukan” pemimpin yang pro rakyat, “menanti” pemimpin yang merakyat, “memburu” pemimpin yang anti korupsi, dan semacamnya. Semua diskursus publik ini bermuara pada upaya mengidealisasi pemimpin yang pantas memimpin Republik ini. Sementara di lain pihak, figur-figur publik calon presiden “sibuk” mencitrakan dirinya.
Benar bahwa praktik politik dalam demokrasi modern tidak bisa dipisahkan dari politik pencitraan. Kesadaran bahwa pencitraan memainkan peran penting dalam praktik politik muncul pertama kali tahun 1960 ketika Richard Nixon yang memenangi perdebatan Presiden AS di radio justru kalah telak oleh John F. Kennedy dalam perdebatan di TV. Terpilihnya John F. Kennedy sebagai presiden AS tidak terlepas dari politik pencitraan ketika media massa merepresentasikannya sebagai figur ideal dalam seluruh aspeknya. Sejak saat itulah praktik politik AS tidak pernah bisa lepas dari politik pencitraan. Para kandidat presiden tidak segan-segan mengeluarkan uang ratusan milyar Rupiah, tidak hanya untuk konsultasi dan pemasaran politik, tetapi juga untuk mengubah penampilan, gaya rambut, gaya pakaian, cara menghadapi media, teknik meredam serangan lawan, dan sebagainya. Di AS sendiri, politik pencitraan yang dimenjadi bagian dari praktik politik yang demokratis mencapai puncaknya sejak tahu 2000-an dan terus dipertahankan hinggah kini.
Politik pencitraan ala Indonesia mulai dipraktikkan sebagai bagian dari praktik politik sejak zaman reformasi, terutama sejak SBY maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrat menantang Megawati Soekarnoputri dari PDIP pada tahun 2004. Beberapa ahli dan konsultan politik lulusan AS sangat berjasa dalam merepresentasikan sosok SBY ke publik, tidak hanya sebagai figur yang disakiti (diberhentikan sebagai menteri oleh Megawati Soekarnoputri), tetapi juga sosok yang gagah, ganteng, santun, berwibawa, mampu menahan emosi, dan semacamnya. Representasi sosok semacam ini tentu bertolak dari kajian ilmiah persepsi masyarakat mengenai sosok yang disenangi, dan konon mereka menyukai figur SBY sebagaimana dikemas dan dipasarkan konsultan politik.
Sejak saat itu – dan tampaknya akan terus begitu – politik pencitraan menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik politik di negara ini. Karena itu, tidak mengherankan jika calon-calon presiden 2014 rajin mencitrakan dirinya. Ada yang tiba-tiba rajin “blusukan”, ada yang mencitrakan dirinya sebagai pejuang kaum miskin, pembela produk dalam negeri, bermain bola dan rela mandi lumpur dengan sekelompok anak desa, pro petani dan nelayan, pro pedagang kecil, anti ekonomi liberal dan ribuan ikon lainnya. Ada juga yang memperbaiki penampilan fisiknya supaya tampil lebih bergaya, funky, gaul, wangi, menyukai genre musik atau film tertentu, dan semacamnya, yang semuanya dimaksud untuk menarik dukungan pangsa pemilih tertentu.
Kalau pun politik pencitraan mulai diterima sebagai semacam kelaziman, itu tidak berarti bahwa ia lolos dari evaluasi kritis dan sanggahan etis kita. Politik pencitraan menurut Margaret Scammell, ahli pemasaran politik dari London School of Economic (LSE) dipahami sebagai upaya memperkenalkan tokoh yang punya reputasi baik. Dalam arti itu, yang dilakukan dalam seluruh usaha mengemas dan menjual sosok calon pemimpin sebenarnya adalah menjual reputasi orang tersebut, dan itu semata-mata diartikan sebagai “…trustworthiness and credibility of the candidates or parties” (2006). Dalam arti itu, politik pencitraan adalah hal yang baik secara etis. Memasarkan seseorang yang mempunyai reputasi baik seharusnya dilihat sebagai tanggung jawab moral memperkenalkan sosok yang layak menjadi pemimpin bangsa untuk menghindari negara ini jatuh ke tangan orang yang buruk dan tidak bertanggung jawab.
Masalahnya, politik pencitraan sekarang, terutama dalam konteks pemasaran politik, direduksikan hanya sebagai “branding”. Diadopsi dari dunia ekonomi, “branding” sebenarnya adalah upaya meyakinkan publik bahwa barang dan jasa yang dipasarkan pantas dibeli bukan pertama-tama karena kualitas, tetapi karena kemampuan pemasar menciptakan kesan mendalam dalam kesadaran publik mengenai barang dan jasa tersebut. Dikontekskan dalam pemasaran politik, “branding” lalu dipahami sebagai usaha menganeksasi kesadaran publik bahwa sosok atau tokoh tertentu adalah berbeda dari tokoh lain, khas, ideal, bukan pertama-tama karena kualitasnya, tetapi karena kemampuannya membangkitkan kekaguman publik. Trik-trik pemasaran figur publik dipersepsi tidak melulu rasional karena mengeksplorasi juga aspek-aspek psikologis dan bawah sadar, termasuk kekaguman akan figur-figur yang gagah, ganteng, berwibawa, cool, dan semacamnya.
Pergeseran praktik politik pencitraan dari upaya mempromosikan figur yang berkualitas kepada usaha merebut kekuasaan menimbulkan dampak etis yang dapat merugikan publik sendiri. Pertama, praktik semacam itu mengaburkan esensi politik, bahwa politik adalah panggilan, bahwa hanya orang-orang yang berkualitas secara manajerial dan etislah yang pantas memimpin republik ini. Kedua, kita melanggengkan hasrat primordial manusia untuk berkuasa dengan memanfaatkan segala cara demi merebut kekuasaan tersebut. Akibatnya, kita akan memiliki pemimpin yang terus bersolek dan hanya memperhatikan penampilannya saat jutaan masyarakat menderita kemiskinan dan ketidakadilan. Ketiga, kelaziman mengamini penampilan sebagai yang seolah-olah merepresentasikan kenyataan objektif sang pemimpin hanya akan menumpulkan kesadaran kritis kita untuk mengambil jarak demi melawan praktik-praktik kekuasaan yang korup dan tidak manusiawi.
Mengawali tahun politik 2014 seharusnya berarti meningkatkan kewaspadaan terhadap praktik politik pencitraan. Semoga kita tidak lekas percaya pada kubur yang dicat putih, padahal di dalamnya penuh dengan tulang-belulang yang busuk baunya.[]

Pergantian Tahun dalam Kemewaktuan

Ditulis Januari 1, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Filsafat

Pergantian waktu tetap menyisakan persoalan filosofis yang terus saja diperdebatkan. Mengatakan bahwa kita meninggalkan tahun lama dan menyambut tahun baru, apakah itu berarti waktu mengalami perubahan dan pergantian? Bagaimana kita tahu bahwa waktu memang mengalami perubahan? Apakah waktu sebagai perubahan atau peralihan itu disadari sebagai fakta karena ada pergantian malam ke siang, hari ke minggu, bulan ke tahun, dan tahun ke tahun berikutnya? Bukankah pergantian itu disadari karena kita memahami waktu dalam peristiwa atau kejadian? Jika waktu bukanlah peristiwa atau kejadian, lalu apakah waktu itu? Apakah waktu dapat dipahami pada dirinya sendiri terlepas dari relasinya dengan suatu peristiwa?

Santo Agustinus dari Hippo (354-430 M) mungkin filsuf yang paling brilian yang merefleksikan waktu secara sangat filosofis dan teologis. Ini nyata dalam buku ke-11 dari karya agungnya berjudul The Confessions. Buku ke-11 itu diberi judul: Waktu dan Keabadian (Time and Eternity).

Pemahaman Agustinus mengenai waktu dapat dikategorikan dalam dua tahapan yang lebih luas. Tahap pertama, perhatian dan refleksinya mengenai waktu dipusatkan pada realitas waktu lampau, waktu kini, dan waktu yang akan datang. Ini dapat disebut sebagai pandangan mengenai waktu berdimensi tiga. Mengenai hal ini, St. Agustinus menulis, “Bagaimana mengenai kedua waktu ini, yakni lampau dan akan datang: dalam arti apa keduanya adalah pengada real; ketika yang lampau tidak lagi eksis dan yang akan datang belum juga mengada? Begitu juga dengan masa kini, jika itu tetap mengkini dan tidak pernah tergelincir menjadi lampau, maka dia tidak pernah menjadi waktu sama sekali; dia akan menjadi sebuah keabadian.”

Dengan refleksi semacam ini, Agustinus sebenarnya ingin mengatakan bahwa ketiga dimensi waktu tersebut [lampau, kini dan akan datang] merupakan realitas yang hanya eksis dalam pikiran. Kekinian tidak lebih dari perhatian sekilas; kenangan kita akan masa lampau terjadi melalui pengumpulan kembali kelampauan dalam kekinian; dan kesadaran kita akan masa depan terjadi melalui pengharapan (ekspektasi). Mengenai hal ini, Agustinus menulis, “Adalah tidak tepat mengatakan bahwa terdapat tiga pembabakan waktu: lampau, kini dan akan datang. Agaknya yang lebih tepat untuk dikatakan adalah bahwa terdapat tiga pembabakan waktu, yakni masa kini dari hal-hal lampau, kekinian dari hal-hal kini, dan masa kini dari hal-hal yang akan datang.” Agustinus kemudian melanjutkan, katanya, “Ketiga realitas ini tidak lain adalah tiga realitas dalam pikiran, tetapi tidak ada di satu tempat pun sejauh yang saya ketahui, karena hal-hal kini dari masa lampau adalah ingatan (memory), kekinian dari hal-hal kini adalah perhatian (attention), dan kekinian dari hal-hal yang akan datang adalah pengharapan (expectation). Jika kita diperbolehkan untuk mengatakan hal demikian, maka saya sesungguhnya melihat adanya tiga jenis pembabakan waktu, dan mengakui bahwa mereka sebenarnya adalah tiga.”

Pemahaman Agustinus mengenai waktu pada tahap kedua dapat dirumuskan demikian. Agustinus memusatkan perhatiannya pada hakikat Waktu (Time) dan bagaimana ia dapat diukur. Mengenai hal ini, Agustinus menulis, “Saya ingin mengetahui esensi dan hakikat waktu, di mana kita mengukur pergerakan benda-benda lalu mengatakan; misalnya, bahwa satu pergerakan berakhir dua kali sejauh yang lain juga demikian.” Agustinus menolak pandangan bahwa Waktu adalah pergerakan dari benda-benda langit. Karena dia percaya bahwa Waktu akan tetap eksis jika benda-benda langit berhenti bergerak dan bahwa pergerakan dari benda-benda langit adalah penanda bagi eksistensi Waktu. Agustinus menulis, “Tidak ada satu pun objek material bergerak kecuali di dalam waktu … Ketika sebuah benda bergerak, saya mengukurnya dalam pengertian berapa lama benda itu bergerak, mulai dari pergerakan ketika dia mulai bergerak sampai pergerakannya berhenti. Jika saya tidak menyadari kapan benda itu mulai bergerak, dan dia terus saja bergerak terlepas dari perhatian saya sampai dia berhenti, maka saya tidak bisa mengukur waktu, kecuali barangkali jika interval di antara pergerakan ketika saya mulai mengamati dan ketika saya berhenti mengamatinya … jika pergerakan dari sebuah objek adalah satu hal, dan ukuran yang kita gunakan untuk mengukur lamanya pergerakan (durasi) adalah masalah lain, bukanlah itu sesuatu yang tidak jelas yang mana dari keduanya memiliki klaim yang lebih kuat untuk disebut sebagai waktu?”

Agustinus menggunakan beberapa ilustrasi untuk menjelaskan hakikat Waktu. Salah satu ilustrasi dapat dikemukakan di sini: “Misalkan saya akan melantunkan sebuah puisi yang telah saya hafal. Sebelum memulai, ekspektasi saya diarahkan ke seluruh puisi, tetapi begitu saya mulai membacanya, saya menjauh dari ekspektasi demikian dan keterlemparan ke masa lampau menjadi urusan dari ingatan saya, dan daya utama dari apa yang sedang saya lakukan sedang berada dalam ketegangan antara keduanya [ekspektasi akan keseluruhan dan ingatan akan masa lampau]: ketegangan itu mengencang ke arah ingatan: karena bagian dari apa yang sudah saya ucapkan, dan kepada ekspektasi saya dalam pengertian pada bagian yang masih harus saya katakan. Tetapi perhatian (attention) saya hadir untuk sementara, karena masa depan telah disalurkan melaluinya untuk menjadi masa lampau. Dan ketika puisi terus dilantunkan, ekspektasi menjadi terbatas dan ingatan justru diperpanjang, sampai ekspektasi digunakan seluruhnya, ketika seluruh tindakan telah terlaksana dan telah beralih kepada ingatan.”

Demikianlah, bagi Agustinus, ada tiga realitas yang ada dalam pikiran manusia, yakni (1) kekinian dari hal-hal lampau yakni ingatan, (2) kekinian dari hal-hal kini yakni perhatian (attention), dan (3) kekinian dari yang akan datang yakni ekspektasi. Pikiran berharap (expects), dan memperhatikan (attends) dan mengingat (remembers). Ini terjadi supaya apa yang diharapkan beralih ketika pikiran memperhatikan (attends) lalu beralih kepada apa yang diingat. Tulis Agustinus, “Di dalamu, pikiranku, aku mengukur waktu. Apa yang saya ukur adalah impresi di mana fenomena yang sedang terjadi dan beralih sedang meninggalkan engkau, yang mengikat setelah mereka lewat … impresi itu sendiri adalah apa yang saya ukur ketika saya mengukur interval waktu. Demikianlah, entah waktu adalah impresi, atau apa yang saya ukur bukanlah waktu.” Singkatnya, bagi Agustinus, waktu adalah keberlanjutan (kontinuum) dari kesadaran eksistensial dan yang diukur melalui interval dari keberlanjutannya itu sendiri.

Jadi, ketika kita merayakan pergantian tahun dari Tahun 2013 ke Tahun 2014, apakah kita sedang membiarkan kekinian tergelincir menjadi lampau dan membiarkan yang akan datang merealisasikan eksistensinya dalam kekinian? Atau, jangan-jangan seluruh perubahan episodik itu hanya terjadi dalam pikiran manusia? Pemikiran Agustinus mengenai waktu membantu kita menegaskan posisi kita berhadapan dengan perubahan dan kemewaktuan. Pertama, kita memang berhadapan dengan perubahan episodik, dan itulah realitas kebertubuhan manusia. Perubahan eksis ketika kita merelasikan eksistensi kekiniaan dengan sesuatu yang sudah terjadi. Ketika kita mengenang dan mengumpulkan seluruh yang sudah tergelincir ke masa lampau dalam kekinian. Kelampauan terjadi ketika kekinian membiarkan dirinya tergelincir ke masa lampau persis ketika kita berhadapan dengan dua atau lebih episode perubahan dan ketika kita dapat mengukur durasi keterjadian mereka. Dalam arti itu, memori menjadi kekuatan ingatan untuk mengindentifikasi sesuatu sebagai yang telah lewat. Memori juga yang menegaskan bahwa sesuatu itu memang sudah lewat atau lampau.

Kedua, ekspektasi atau pengharapan memampukan ingatan menghadirkan yang akan datang dalam kekinian. Dalam arti itu, masa yang akan datang tidak pernah bersifat terlalu jauh persis ketika ekspektasi mengeksekusinya menjadi realitas yang mengada. Yang akan datang tidak pernah mengada tanpa kekinian.

Ketiga, seandainya perubahan dan peralihan yang sifatnya episodik itu memang hanya impresi kesadaran semata, apakah eksistensi waktu ikut dinegasikan? Dalam perspektif Agustinus, waktu bersifat kekal (eternity). Waktu adalah kekekalan. Waktu kekal sebetulnya tidak mengalami perubahan. Perubahan ada dalam impresi pikiran. Perubahan bukanlah waktu. Waktu juga bukanlah perubahan. Waktu adalah entitas yang mengada pada dirinya. Keberpihakan pada waktu yang kekallah yang memampukan seseorang menghayati kekiniannya, baik sebagai pergeseran ke masa lampau maupun ekspektasi akan sesuatu yang patut direalisasikan.

Pesan moralnya terasa amat kuat ketika harus merayakan kedatangan Tahun 2014. Pergantian itu sebaiknya dipahami sebagai salah satu peralihan ingatan, ketika kekinian membiarkan dirinya tergelincir ke kelampauan dan ketika ekspektasi mendorong kita merealisasikan sesuatu yang menurut kekinian adalah hal yang akan eksis. Dalam arti itu, sebaiknya kita memfokus pada kekinian sambil berharap bahwa kekekalan waktu mampu mempersempit ketegangan durasi antara yang lampau dengan yang akan datang.

Selamat datang tahun 2014.

Miss World, Budaya Timur, dan Milley Cyrus

Ditulis Agustus 28, 2013 oleh Jeremias Jena
Kategori: Artikel Populer, Tinjauan Kritis

Tags: , , , ,

Ajang Miss World yang sedang menuai kontroversi di Indonesia.

Ajang Miss World yang sedang menuai kontroversi di Indonesia.


Beberapa hari menjelang digelarnya ajang Miss World di Sentul dan Bali, FPI (dan MUI) berupaya keras untuk menggagalkan ajang yang menurut mereka hanya sekadar mengumbar kemolekan tubuh tersebut. Menyimak alasan yang mengemuka dan menyebar di berbagai media pemberitaan, penolakan itu didasarkan sekurang-kurangnya pada dua hal. Pertama, alasan budaya ketimuran. Kedua, alasan agama.

Tidak usah memperdebatkan alasan agama ketika referensinya jelas-jelas sebuah Kitab Suci yang oleh pemeluknya diyakini sebagai yang turun dari Allah sendiri. Tentu celah perdebatan tetap terbuka, terutama pada pertanyaan sejauh manakah perintah Ilahi memiliki efektivitas mengikat ketaatan para pemeluk agamanya? Sejauh mana pula kelompok yang mengatasnamakan pemimpin umat mampu “memaksakan” ketaatan umat kepada perintah atau ayat yang dirujuk sebagai inti moralitas pelarangan ajang Miss World tersebut. Sekali lagi, meskipun pertanyaan-pertanyaan ini menarik untuk didiskusikan, saya tidak akan mengangkatnya di sini.

Budaya Barat Vs “Budaya Timur”

Coba sekarang kita refleksikan argument pertama, bahwa ajang Miss World harus dibatalkan karena tidak sesuai dengan budaya ketimuran. Pertanyaannya, apakah budaya ketimuran itu? Pada tataran akademik, lebih mudah mendefinisikan budaya Barat dibandingkan dengan budaya ketimuran.

Budaya Barat umumnya diidentikkan dengan peradaban Barat, gaya hidup Barat, atau peradaban Eropa. Terminologi ini digunakan untuk mengidentifikasi warisan norma sosial, norma-norma moral, tradisi, kebiasaan dan adat istiadat, sistem kepercayaan, sistem politik, artefak-artefak dan teknologi yang berkembang di Barat dalam rentang sejarah tertentu di seluruh Eropa darat. Budaya Barat, dengan demikian, ditandai oleh sistem budaya (seni, filsafat, sastra, hukum, tradisi, dan sebagainya) yang mereka wariskan dari suku-suku bangsa Celtik, Germanik, Helenistik, Yahudi, Slavik, Latin dan beberapa kelompok etnik dan bahasa lain di daratan itu. Bahwa budaya Barat berkembang pesat sejak abad ke-4 masehi, lalu mengalami pemercepatan selama zaman Abad Pertengahan dan Renaisans. Bahwa ada pengaruh budaya dari dunia Timur (Islam) bagi perkembangan budaya Barat, tentu ini sebuah fakta yang tak-terbantahkan(terutama sejak ekspansi Islam dalam penaklukan Semenanjung Iberia dan sekitarnya).

Hampir pasti, ketika orang kebanyakan berbicara mengenai budaya Barat, referensi mereka adalah nilai-nilai budaya tersebut. Jadi, apa nilai budaya Barat itu? Beberapa literatur mengatakan bahwa nilai budaya Barat melingkupi penghargaan yang tinggi atas kerja nalar (reason), individualisme, konsep mengenai kebahagiaan yang didapatkan secara sekuler, paham mengenai demokrasi, kapitalisme, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Nilai-nilai ini dengan mudah dilihat dalam berbagai manifestasi budaya Barat, baik dalam bentuk kebudayaan material maupun non-material.

Dapatkah kita mendefinisikan budaya Timur dengan berangkat dari pemahaman mengenai budaya Barat? Beberapa konsep mungkin saja memadai, misalnya soal kebebasan dan individualisme. Tetapi apakah dengan begitu, kita mudah mengatakan bahwa budaya Timur menegasikan individualisme dan menyangkal kebebasan individu? Lebih sulit lagi mengatakan bahwa budaya Timur lebih mementingkan perasaan dan bukan nalar, atau budaya Timur anti kapitalisme. Barangkali satu-satunya identitas budaya yang cocok sebagai pembeda budaya Barat dan Timur adalah bahwa budaya Barat bersifat sekuler dan budaya Timur adalah religius. Tetapi lagi-lagi pembedaan semacam ini pun tidak tepat. Budaya Barat bukan sekuler tetapi memosisikan ranah kehidupan beragama sebagai wilayah privat dan ranah lainnya sebagai urusan publik. Tentu pemisahan ini memiliki alasan historisnya sendiri yang dapat dipahami.

Persis di sinilah kita mendefinisikan budaya Timur. Pertama, tidak ada sebuah kesatuan wilayah – katakan semacam sebuah Pan Asia – yang menunjukkan adanya ekspresi kebudayaan yang sifatnya monolitik. Kedua, mendefinisikan budaya Asia sebagai yang berbeda dari budaya Barat (definisi negatif) hanya akan merendahkan budaya Timur itu sendiri. Jika begitu, menurut saya, ketika orang berbicara mengenai budaya ketimuran (apalagi itu dibicarakan di Indonesia oleh FPI atau MUI), sudah hampir pasti itu adalah sebuah klaim religius atas budaya ketimuran. Dengan kata lain, di tangan FPI, MUI dan semacamnya, budaya ketimuran atau kebijaksanaan lokal tampaknya identik dengan budaya religius. Nah, jika pembacaan saya ini tidak keliru, maka sebetulnya menolak digelarnya Miss World di Indonesia lebih didasarkan pada satu alasan tunggal, yakni alasan keagamaan.

Milley Cyrus dan Kita

Ada satu fenomena yang menggoda untuk ditafsirkan. Hari-hari ini banyak sekali kaum muda di Barat (terutama di Amerika Serikat) yang memprotes penampilan Milley Cyrus yang menyanyi sambil (maaf) pantatnya digoyang-goyang mengarah ke arah (maaf) kemaluan Robin Thicke ketika mengisi acara MTV Video Music Awards, 25 Agustus 2013 yang lalu. Aksi nakal dan erotis pemeran Hannah Montana yang membawakan lagu “Blurred Lines” itu sontak mengundang reaksi dan kecaman publik. Mayoritas masyarakat – sebagaimana tampak dalam pemberitaan media – menyayangkan aksi artis muda dan idola kaum remaja itu (http://www.youtube.com/watch?v=PxOmRwILc1E).

Pertanyaannya, mengapa masyarakat Barat yang menurut kaca mata kita adalah sekuler dan bebas, toh tetap memiliki kesadaran moral dalam memilah-milah manakah tindakan yang baik dan manakah yang buruk dan harus dihindari?
Tentu mereka tidak sampai turun ke jalan, mengerahkan kelompok “penjaga moral” untuk merusak panggung tempat Milley Cyrus menyanyi atau memboikot acara hiburan. Di sinilah barangkali perbedaan mencolok antara budaya Barat dan budaya Timur (yang sebenarnya adalah budaya berdasarkan agama tertentu). Bahwa di Barat sana mereka menonjolkan fungsi nalar atau kerja rasio. Berbagai acara dapat ditampilkan di publik dan nalarlah yang memilah-milah manakah ekspresi budaya yang baik dan bermoral dan yang pantas dijadikan sebagai pegangan hidup dan manakah yang harus ditolak. Dalam bingkai cara berpikir semacam ini, orang Barat dapat mencapai kedewasaan dalam berbudaya ketika penyaringan (filterisasi) budaya tidak mereka wakilkan kepada orang atau kelompok lain di luar dirinya. Merekalah yang menjadi penyaring budaya bagi dirinya sendiri.

Barangkali inilah letak perbedaannya. Bahwa masyarakat kita, untuk selamanya tidak akan pernah bisa menjadi masyarakat yang dewasa dan mandiri dalam berbudaya persis ketika fungsi kritis nalarnya disandera oleh orang atau kelompok lain – yang belum tentu juga menggunakan nalar kritisnya. Lalu, ketika kita mengatasnamakan budaya Timur untuk menolak budaya Barat, yang kita lakukan adalah menolak berbagai ekspresi budaya Barat, bukan dengan sebuah alur berpikir yang rasional, tetapi dengan perasaan horor dan ketakutan bahwa budaya Barat tersebut dapat membawa kita ke neraka.

Saya lalu membayangkan seorang Tuhan yang ikut menonton acara Miss World sambil mengagumi karya ciptaan-Nya sendiri. Oh, betapa indahnya lekak-lekuk tubuh ciptaan-Ku, demikian kata Tuhan.[]


Myimansyah's Blog

Just another WordPress.com site

ITQON MANAGER

"ahsanu 'amala"

blogx utari dhina

Just another WordPress.com weblog

Step to Improve Better

Never Ending Inspiration

Pandoe

Kehidupan tak pernah berhenti untuk diungkap

dennydelioncourt

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Demoslink

Meramu Ide Wujudkan Asa

AMUNTODA NEWS

Just another WordPress.com weblog

Global Dashboard

A way to keep track.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

BUAH PENAKU

hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 618 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: