Hanya Ada Tiga “Bung” di Republik Ini?

Ditulis Juni 30, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Artikel Populer, Filsafat

Tags: , ,

hatta rajasa

Debat Cawapres 2014 yang berlangsung semalam (29 Juni 2014, pukul 20:00 WIB) menarik untuk diikuti, dan bagi saya itu pertama-tama bukan karena isi materi yang mereka sampaikan. Saya juga tidak akan berkomentar mengenai gaya dan strategi komunikasi yang sudah banyak dikomentari “para ahli”, baik ahli benaran maupun ahli dadakan yang dinobatkan televisi. Salah satu pemandangan yang menarik semalam adalah teriakan heboh para pendukung Hatta Radjasa. Mereka meneriakkan “Hidup Bung Hatta” dan dengan begitu mereka mengidentifikasi Hatta Radjasa dengan Wakil Presiden RI Pertama dan Bapak Proklamator kita, Mohammad Hatta.

Reaksi Terhadap Julukan “Bung”

Sontak saja, teriakan itu menimbulkan reaksi keras dari para nitizens. Sebagaimana kita baca dari salah satu media online, para nitizens tidak setuju kalau Hatta Radjasa dijuluki Bung Hatta. Ada nitizen yang berkicau di Twitter, katanya, “Hanya ada satu Bung Hatta. Orang paling sederhana dan jujur yang dimiliki Indonesia. Sang proklamator.” (Cuitan pemilik akun @uttha). Ada juga yang berkata, “kok saya kesel ya Bapak @hattarajasa dipanggil dengan ‘Bung Hatta’, perasaan beliau gak ada apa-apa nya dibandingin dengan Bung Hatta yang asli,” cuit ‏@Oraririkho. “But Hatta Radjasa is not that awesome to be called Bung Hatta,” tulis pemilik akun ‏@ibethps. Sementara itu, ada yang lain mengatakan, “Aduh tolong jangan samakan Hatta Rajasa dengan Bung Hatta karena anak Bung Hatta ga pernah nabrak orang sampe mati terus dibiarin gitu aja,” @ReynaldoGultom. “Terserah mau nyoblos siapa nanti, tapi Hatta Rajasa ga pantes disamain sama Mohammad Hatta dengan sapaan ‘Bung Hatta’,” (Ciutan pemilik akun ‏@Rockintan). (Mengenai hal ini, baca http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/06/29/269589020/Netizen-Kritik-Teriakkan-Bung-Hatta-di-Debat).

Menariknya, putri Bung Hatta sendiri, yakni Ibu Halidah Hatta pun ikut berkomentar. Di dinding Facebooknya, Halida Hatta menulis, “Ahahaha… kok Pak Hatta Rajasa di-yel-yel ‘Bung Hatta… Bung Hatta…’? Kasihan bangsa ini enggak punya perspektif sejarah. Hatta Rajasa adalah anak sejarah masa kini dong… harusnya Abang Hatta atau Pak Hatta Rajasa sekalian….” (baca http://nasional.kompas.com/read/2014/06/29/2258117/Halida.Hatta.Kritik.Yel-yel.Bung.Hatta.untuk.Hatta.Rajasa). Dan menanggapi reaksi rekan-rekannya yang mendorong Ibu Halida Hatta memprotes penjulukkan Bung Hatta kepada Hatta Rajasa, Halida Hatta lanjut menulis, “Kalau bangsa ini menghargai setiap penggal sejarah kebangsaannya sendiri, seharusnya tidak harus ada copyright, tetapi sudah harus tahu nuansa-nuansa sejarahnya sesuai zamannya.”

Pertanyaannya, apakah memang istilah “Bung” hanya bisa digunakan untuk menyebut “Bung Karno”, “Bung Hatta” dan “Bung Sjahrir”? Apakah itu hak eksklusif mereka? Apakah kita yang hidup jauh dari masa pergerakan kemerdekaan tidak bisa menyebut diri kita atau menjuluki seseorang sebagai “Bung”?

Menafsir Sejarah

Mengikuti jalan pikiran Bu Halida Hatta, seharusnya tidak ada copy paste penggunaan istilah “Bung” jika kita mau menghargai setiap penggal sejarah. Bagi Halida, setiap penggal sejarah di Republik ini memiliki makna dan nuansa atau konteks historis yang berbeda sesuai zamannya, sehingga tidak bisa diduplikasi atau dipinjamgunakan untuk menyebut orang atau tokoh lain. Dan jalan pikiran semacam ini memang sama seperti yang disampaikan para nitizen di atas. Singkatnya, kedua tokoh ini berbeda, konteks historisnya berbeda, sumbangan atau kiprah mereka pun berbeda sehingga sulit disamakan begitu saja.

Konon kata “bung” berasal dari kata Bahasa Bengkulu yang artinya “Kakak”, dan itu mirip dengan orang Betawi memanggil seseorang tokoh, yang dituakan atau pemimpin dengan sebutan “Bang” (bdk Bang Ali, Bang Yos, Bang Fauzi). Kata ini sendiri digunakan semula digunakan dalam konteks yang lebih sempit, yakni panggilan untuk kakak laki-laki yang tertua dalam suatu keluarga (http://dauz-dhorny.blogspot.com/2011/06/akronim-kata-bung.html). Bahkan disebutkan bahwa kata “bung” dalam kultur dan kebudayaan Bengkulu sebenarnya sudah digunakan sejak sekitar tahun 1850-an, dan panggilan ini masih digunakan oleh masyarakat Bengkulu sampai sekarang, selain panggilan Donga atau Uda (yang juga berarti kakak, tetapi bukan untuk kakak laki-laki tertua). Menariknya, kata “Bung” juga digunakan seorang istri untuk memanggil suaminya, terutama jika keluarga sang istri tidak memiliki kakak laki-laki dalam keluarganya. Juga menarik untuk melihat bagaimana Ibu Fatmawati yang masih sangat belia, memanggil Soekarno sebagai “Bung Karno” karena alasan ini.

Kita juga membaca dari sejarah, bahwa panggilan “bung” ini lenyap selama masa Orde Baru persis ketika rezim ini mau membersihkan semua sisa-sisa dan pengaruh Orde Lama yang identik dengan kekuatan Soekarno-Hatta. Sapaan “bung” di zaman Orde Baru diganti dengan sapaan “Bapak”. Demikianlah, Soeharto tidak dipanggil sebagai “Bung Harto” tetapi sebagai Bapak Soeharto atau Bapak saja. Pelenyapan penggunaan istilah ini sebenarnya menunjukkan sebuah pergeseran kultur politik bangsa Indonesia di bawah cengkeraman kekuasaan Orde Baru, yakni dari egalitarianisme ke patriarkalisme. Di zaman Orde Baru, istilah “Bapak” merepresentasikan struktur masyarakat yang hierarkis dan bertingkat, di mana Bapaklah yang memegang kendali atas seluruh urusan rumah tangga Indonesia.

Dari sinilah kita bisa mengatakan dua hal mengenai penggunaan kata “bung” dewasa ini. Pertama, kata “bung” tampaknya baik dan positif jika digunakan untuk menyapa atau memanggil tokoh-tokoh publik tertentu sejauh itu diartikan dalam konteks egalitarisme politik. Dan semangat semacam ini sangat cocok dengan alam demokrasi, di mana setiap anggota masyarakat adalah sama di hadapan hukum, harus diperlakukan sama sebagai warga negara, dan semacamnya. Dalam arti itu, menyebut seseorang dengan sebutan “Bung” hanya sekadar ekspresi sopan-santun kita memanggil seseorang yang lebih tua. Tetapi panggilan atau sebutan itu tidak lantas memposisikan dia lebih tinggi dari kita dan memiliki semacam kekuasaan tertentu atas kita (mungkin juga menarik untuk membacanya dari sudut pandang kultur Melayu yang egaliter. Bdk misalnya http://csis.or.id/post/ketika-pembangkangan-sipil-tiba).

Kedua, “bung” dalam maknanya yang egaliter seharusnya juga merepresentasikan karakter orang yang disebut “bung” itu. Artinya, ketika saya memanggil Hatta Rajasa dengan sebutan “Bung Hatta”, saya tidak saja memposisikannya sebagai setara denganku, tetapi juga mengakui bahwa orang yang bernama Hatta Rajasa itu memang karakternya begitu. Bahwa dia adalah orang yang egaliter, yang dalam setiap sepak terjangnya sebagai tokoh publik, selalu memosisikan diri sebagai setara dengan warga Indonesia lainnya.

Menurut saya, keberatan sebagian nitizen atau juga rasa kurang sregnya Bu Halida Hatta, mungkin terletak dalam tafsiran kedua ini. Pertanyaannya, apakah memang “Bung Hatta” (Rajasa) benar-benar sosok yang egaliter, yang memosisikan diri setara dengan warga masyarakat lainnya? Jika kita ingat kasus kecelakaan lalulintas menewaskan beberapa orang dan yang melibatkan putra Hatta Rajasa dan yang sekarang tidak terlalu jelas penyelesaian hukumnya, saya menjadi ragu, apakah Hatta Rajasa pantas disebut atau disapa “bung” dalam arti kesetaraan itu. Dalam arti itu, saya mengerti sepenuhnya keberatan sebagian nitizen atau rasa kurang sregnya Bu Halidah Hatta.

Kerja Memang Harus Bermartabat

Ditulis Mei 21, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Resensei Buku

Tags: , , , ,

Resensi Buku

Buku KasdinPendahuluan

Apakah kerja harus bermartabat? Sejauh mana sebuah pekerjaan disebut bermartabat? Apakah kerja bermartabat hanya menyangkut jenis pekerjaan atau profesi tertentu, misalnya white-collar works? Atau, kerja bermartabat juga termasuk pandangan dan sikap individu terhadap pekerjaannya, bagaimana institusi memperlakukan pekerjanya, bagaimana menyeimbangkan pekerjaan dengan waktu luang, dan sebagainya?

Menyimak percakapan antara Jeremy Miller-Reed (23) dengan Samson White (22), dua banker muda di Goldman Sachs sebagaimana dicatat Kevin Roose, penulis buku Young Money: Inside the Hidden World of World Street’s Post–Crash Recruits dapat memberikan gambaran kepada kita apa yang dimaksud dengan kerja bermartabat. “Jika tujuan [yang mau kita capai] adalah bagaimana membuat orang lain mengalami kerusakan psikologis tertinggi, maka saya rasa asal saya naik ke meja kerjamu dan menghancurkan kepalamu di siang bolong, ini akan menjadi cara terbaik [untuk mencapainya],” kata Jeremy Miller-Reed.” Mendengar itu, Kevin Roose lalu bertanya, “Apakah Anda tahu apa reaksi rekan-rekan kerjamu setelah mengetahui kejadian itu?” “Para analis keuangan lainnya yang mengetahui kejadian itu akan diminta oleh atasan mereka, katanya, “Hai kalian semua, bolehkah kalian membersihkan [darah] yang tercecer di meja dan lantai itu?” (baca http://www.theatlantic.com/business/archive/2014/02/the-woes-of-wall-street-why-young-bankers-are-so-miserable/283927/). Percakapan ini tampak sangat vulgar, tetapi itulah realitas keseharian yang dihadapi para banker muda yang bekerja di perusahaan-perusahaan jasa keuangan ternama di dunia, seperti Goldman Sachs, Wall Street, JP Morgan, dan semacamnya. Karena tekanan kerja yang begitu tinggi yang menyebabkan stress, banyak banker muda yang memutuskan bunuh diri (baca “Why High Finance Workers Commit Suicide?” dalam Business Insider, 21 Februari 2014 atau: http://business.financialpost.com/2014/02/21/why-high-finance-workers-commit-suicide/).

Kevin Roose mencatat percakapan ini ketika dia mewawancarai banyak banker muda dalam rangka menulis buku Young Money: Inside the Hidden World of World Street’s Post–Crash Recruits (Grand Central Publishing, New York: 2014). Buku ini lahir untuk menjawab sebuah fenomena, mengapa banyak lulusan terbaik dari berbagai perguruan tinggi (terutama Ivy Leaguers seperti Brown University, Columbia University, Cornell University, Dartmouth College, Harvard University, Princeton University, the University of Pennsylvania, dan Yale University) yang tidak mau bekerja di perusahaan keuangan besar seperti Wall Street, JP Morgan, Goldman Sachs dan semacamnya setelah tahun 2008?

Roose terutama mengamati dan mencatat secara kronologis kehidupan 8 banker ambisius, 20-an analis keuangan, semuanya masih muda dan sedang menapaki karier kesuksesan di Wall Street. Dia menemukan bahwa sikap dan kultur perusahaan sedang mengalami perubahan, terutama setelah krisis finansial tahun 2008. Para calon banker masuk ke dunia kerja dalam keadaan yang sebetulnya pesimistik, dan mereka harus bekerja. Karena itu, mereka “terpaksa” menerima situasi kerja dengan lingkungan yang sangat keras. Krisis finansial telah mengubah kebijakan pemotongan gaji para banker, sehingga mereka bekerja keras tetapi menerima penghasilan yang tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan keadaan sebelum tahun 2008. Fakta lain yang mencuat, para banker muda bekerja nyaris tanpa istirahat, waktu mereka diisi kerja, tanpa mempedulikan kepentingan pribadi, waktu luang, relasi manusiawi, dan tidur. Para banker juga tampak pucat karena kurang tidur dan menjadi terlalu gemuk karena pola makan dan istirahat yang tidak sehat. Perlahan-lahan, para banker juga menjauhkan diri dari kawan-kawan yang tidak meminati masalah keuangan. Kevin Roose menulis hal ini dengan sangat bagus, “Money goes from being something that is infrequently discussed to being the primary subtext of life. … “Social relationships start to feel transactional.” (baca: http://www.washingtonpost.com/opinions/2014/03/21/f18ce204-9e71-11e3-9ba6-800d1192d08b_story.html)

Betapa tidak. Para banker muda itu harus bekerja dari pukul sembilan pagi hingga jam lima keesokan hari. Tentang waktu kerja yang tidak manusiawi ini, Prof. Alexander Michel dari University of Southern California menyimpulkan dalam sebuah penelitiannya, bahwa ada tiga alasan mengapa para banker muda bekerja sangat keras sampai pada titik yang membahayakan kehidupannya sendiri.

Pertama, para banker muda berani mengambil risiko yang membahayakan dirinya karena ingin meraih impian kehidupan yang lebih baik. Tentang hal ini, Prof. Alexander Michel menulis, “During years 1-3, bankers construed their bodies as objects that the mind controls. They worked long hours, neglected family and hobbies, and forget their bodies’ needs in order to enhance productivity. They suppresed the need for prolonged sleep, taking naps at 11 p.m and then again at 1, 3, 4. When I asked, “Aren’t you worried that this will affect your health?, most responded like this Bank Associate, “For the next few years, work has priority. I will worry about may health then.” To my question, “What if you do irreversible damage?” Many answered, “I am willing to take that risk.” (Lihat http://www.theatlantic.com/business/archive/2014/02/the-woes-of-wall-street-why-young-bankers-are-so-miserable/283927/).

Kedua, alasan uang . Penghasilan seorang banker muda bisa mencapai lebih dari 900 ribu dollar per tahun. Jadi, wajar jika mereka bekerja keras di awal karier untuk bisa menikmatinya di kemudian hari, termasuk mengambil risiko yang membahayakan diri. Tapi, apakah alasan ini masih relevan sejak krisis keuangan tahun 2008, di mana ada kebijakan cut-off terhadap gaji para banker? Banker muda dewasa ini menerima gaji yang lebih kecil dibandingkan dengan senior mereka pada posisi yang sama sebelum tahun 2008.

Ketiga, soal tujuan (purpose) yang ingin dicapai. Setiap tahun Wall Street merekrut orang-orang muda dan ambisius dari perguruan tinggi terkemuka dan berharap agar mereka mau bergabung dan membuat dunia menjadi lebih baik. Wall Street menawarkan kepada para banker muda sebuah impian menjadikan dunia lebih baik dalam semboyan “real-world-responsibility” dan investasi yang bertanggung jawab secara sosial. Padahal ini semua tidak lebih dari sebuah wishful thinking. Misalnya, seorang yang baru saja masuk ke Goldman, mengira bahwa tugas khususnya hanya menjalankan perdagangan komoditas. Padahal setelah beberapa saat berlalu, tugasnya bisa berubah dan menjadi lebih berat. Tujuan yang hendak dicapai lalu bergeser dari “menjadikan dunia lebih baik” kepada ideologi perusahaan keuangan, yakni “we exist to make money”. Tampak jelas bahwa pekerjaan para banker ternyata tidak jauh berbeda dengan pekerjaan seorang kuli, yakni menjalankan pekerjaan distributif, dan bukan pekerjaan kreatif. Dalam pemahaman Prof. Alexander Michel, sebuah profesi disebut pekerjaan kreatif jika merealisasikan sesuatu yang baru ke dalam dunia. Sebaliknya, disebut pekerjaan distributif jika pekerjaan difokuskan semata-mata pada bagaimana menaklukkan para kompetitor dan menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya dari sebuah pasar finansial.

Kerja Memang Harus Bermartabat

Temuan Kevin Roose dan catatan Prof. Alexander Michel mendorong kita untuk bertanya, “Apakah manusia harus bekerja tanpa mengenal batas kemampuannya?” “Apakah alasan manusia bekerja?” “Apakah dapat dibenarkan secara etis jika manusia mereduksikan pekerjaan kepada semata-mata sarana untuk merealisasikan kepentingan ekonomi?”

Kasdin Sihotang, pengajar Etika Bisnis di Fakultas Ekonomi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menerbitkan sebuah buku berjudul Kerja Bermartabat: Kunci Meraih Sukses (2014). Apa yang dimaksud dengan kerja bermartabat? Umumnya perusahaan-perusahaan memahami kerja bermartabat sebagai “komitmen setiap organisasi untuk membangun lingkungan kerja yang kondusif dan positif sedemikian rupa sehingga terbangun hubungan kerja yang manusiawi.” Untuk merealisasikan hal ini, umumnya perusahaan-perusahaan menginisiasi terbentukna prosedur, kebijakan, dan standar perilaku tertentu yang mengikat setiap karyawan. Beberapa prinsip yang biasanya diacu sebagai pendefinisi kerja bermartabat meliputi hak seorang pekerja untuk (1) diperlakukan secara bermartabat; (2) bekerja dalam lingkungan atau suasana kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan; (3) bebas dari ketakutan dan diskriminasi; (4) menerima penghargaan atas keterampilan dan kemampuan profesionalnya; (5) menerima penghasilan yang layak.

Merujuk ke distingsi Hannah Arendt mengenai labour, work dan activity, Kasdin Sihotang berpendapat bahwa manusia tidak sekadar bekerja (labour), tetapi juga berkarya dan mewujudkan dirinya secara utuh. Bekerja pada level paling dasar dilakukan manusia karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya (labour), dan ini menempatkan manusia pada level biologis, sama seperti yang dilakukan binatang. Padahal, manusia bukan sekadar pekerja (homo laborans), tetapi juga subjek atas pekerjaan (homo faber). Dengan menjalankan pekerjaan, manusia merealisasikan seluruh kemampuan dirinya. Manusia adalah tujuan pada dirinya. Dengan bekerja, manusia merealisasikan tujuannya, nilai-nilai yang dihayatinya, serta imbalan yang pantas dengan profesinya. Bekerja memiliki orientasi individual, tetapi juga sosial. Pekerjaan memiliki nilai-nilai tanggung jawab, keadilan, kejujuran, dan kepercayaan (hlm. 4–19). Kerja bahkan merealisasikan spiritualitas tertentu, bahwa Tuhan memanggil setiap orang untuk membangun dunia menjadi lebih baik (hlm. 30–33).

Dalam arti itu, dapat disimpulkan bahwa etos kerja yang dibangun perusahaan jasa keuangan sebagaimana dideskripsikan di atas telah melupakan dimensi kerja bermartabat. Tampak jelas bahwa pekerjaan telah direduksikan hanya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan, dan itu artinya menyamakan pekerjaan (profesi) dengan kerja tangan dalam arti labour menurut Arendt. Padahal, menurut alur pemikiran yang dibangun Kasdin Sihotang, kerja tidak hanya bernilai personal, tetapi juga sosial, etis dan spiritual. Bahkan pada level sangat personal pun kerja tidak bisa direduksikan sebagai kerja tangan dalam arti peyoratif (tanpa kebebasan), karena secara filosofis, tangan dan keterampilannya justru mencerminkan kebebasan manusia (hlm. 16–17). Di akhir bab kedua Kasdin mau menjawab pertanyaan, “Bagaimana mewujudkan kerja bermartabat?” Bagi Kasdin, kode etik profesi dapat diandalkan sebagai semacam sarana untuk mewujudkan kerja bermartabat. Kasdin Sihotang membayangkan bahwa kode etik profesi yang adalah prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar suatu pekerjaan (prinsip kejujuran, tidak berperilaku buruk, tidak melanggar hukum, berperilaku adil dan proporsional, dan semacamnya), jika dilaksanakan secara konsekuen, dapat mewujudkan kerja bermartabat.

Dari simpul inilah Kasdin Sihotang kemudian menarasikan bab ketiga, ketika dia terutama mengeksplorasi apa itu profesi dan ciri-ciri profesi (hlm. 38–46) sebelum kemudian menegaskan prinsip-prinsip etika profesi (hlm. 47–51). Pertanyaannya, mengapa kemudian buku ini harus mendeskripsikan secara panjang lebar teori-teori etika dasar sebagaimana nampak dalam bab 4–6 (hlm. 55–111)? Tampaknya Kasdin Sihotang terjebak dalam pemikiran bahwa etika profesi mengandung prinsip-prinsip moral yang perwujudannya menjadi semacam jaminan bagi terciptanya sebuah kerja yang bermartabat. Pendekatan semacam ini tidak sepenuhnya salah jika kita memahami bahwa buku ini dibaca dan digunakan oleh mahasiswa yang belum pernah mempelajari etika dasar sebelumnya. Kelemahannya, kajiannya menjadi terlalu panjang dan melelahkan. Menurut saya, seseorang dapat memahami etika profesi tanpa memahami secara mendalam etika dasar. Prinsip-prinsip etika dasar seperti deontologi dan utilitarisme sebetulnya dapat dijelaskan ketika membicarakan prinsip etika profesi tertentu. Toh prinsip-prinsip etika profesi, sejauh itu ada pada level etika terapan, tidak akan menerapkan prinsip-prinsip etika dasar (terutama utilitarisme dan deontologi) secara literer. Kita tahu, yang berlaku pada level etika terapan (termasuk etika profesi) adalah prinsip prima facie sebagaimana dimaksud W.D. Ross (1877–1971) dan prinsip-prinsip turunan lainnya yang dirumuskan kemudian, atau prinsip balancing (balancing principles sebagaimana dimaksudkan Beauchamp dan Childress dapat dibaca dalam http://www.bu.edu/wcp/Papers/Bioe/BioeToml.htm) sebagaimana dipraktikkan dalam etika kedokteran. Dalam arti itu, menurut saya, bab 4–6 buku ini tidak harus diikutkan dan pembaca bisa langsung mempelajari bab 7 (tanggung jawab dalam pekerjaan), bab 8 (kesadaran moral dalam kerja), bab 9 (keadilan dalam kerja), serta bab 10 (hak dan kewajiban karyawan).

Kembali ke keadaan kerja para banker muda sebagaimana dideskripsikan di bagian pendahuluan. Dapatkah prinsip tanggungjawab sebagaimana dideskripsikan dalam buku ini (bab 7, hlm. 113–125) dapat menjelaskan memecahkan masalah yang dihadapi perusahaan-perusahaan jasa keuangan? Bukankah bekerja tanpa kenal lelah dengan sedikit waktu istirahat adalah bagian dari tanggung jawab memajukan perusahaan? Apakah seorang banker tidak memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri, terhadap waktu luang, terhadap kebutuhan sosial dan kepentingan keluarganya? Membaca bab tujuah buku ini, saya menjadi khawatir, jangan-jangan kita mengajarkan prinsip-prinsip tanggung jawab yang memiliki muatan ideologis karena hanya menguntungkan perusahaan. Bagaimana jika prinsip stakeholders orang harus diuntungkan (hlm. 119) dipraktikkan sebegitu dengan mengorbankan kepentingan seorang karyawan, misalnya hak untuk istirahat yang cukup, memperhatikan kesehatannya, dan sebagainya sebagaimana menjadi masalah para banker muda di atas? Dalam arti itu, prinsip tanggung jawab dalam kerja bermartabat harus diperluas hinggah meliputi pula tanggung jawab seorang karyawan atas dirinya dan kepentingannya.

Ini penting ketika kita berbicara mengenai kesadaran moral dalam bekerja (bab 8, hlm. 127–148). Masih merujuk ke masalah yang dihadapi para banker muda di atas, saya membayangkan bahwa para mahasiswa yang membaca bab ini akan menyadari bahwa bagian dari kesadaran moralnya adalah keberanian moral untuk meninggalkan sebuah perusahaan jika perusahaan tersebut jelas-jelas merugikan kepentingan dirinya (membahayakan kesehatannya, menyita hampir seluruh waktu, merampas kebebasannya, dan semacamnya). Beberapa pemikiran dasar sudah coba dieksplorasi dalam bab ini (lihat misalnya di halaman 144–145), dan itu seharusnya dipertajam lagi, dengan contoh-contoh yang lebih konkret. Jika para banker muda tahu bahwa pekerjaan mereka berisiko (misalnya membahayakan kesehatannya), dan suara hatinya menyadari hal ini, mengapa mereka tetap merisikokan dirinya? Jika iming-iming gaji yang tinggi dan kenyamanan hidup yang didapat menjadi alasan pembenar, mengapa terjadi perubahan cara pandang semacam ini? Pertanyaan-pertanyaan filosofis semacam ini tentu sulit diharapkan jawabannya dari buku ini (terutama setelah membaca bab 8).

Bab kesembilan dan kesepuluh memang penting dipelajari. Lagi-lagi, jika yang hendak ditonjolkan dari prinsip keadilan dalam bekerja hanyalah prinsip tidak diskriminatif (prinsip keadian komutatif, lihat hlm 155–156) atau prinsip equal consideration dan bukan prinsip equal treatment dalam bekerja, misalnya dalam hal pemberian gaji (prinsip keadilan distributif di hlm. 157–158), maka sebetulnya tema-tema ini dapat diintegrasikan ketika membicarakan masalah etika profesi dalam bekerja (menurut saya, salah satu pemahaman menarik atas pemikiran Adam Smith mengenai tema-tema ini datang dari Peter Singer, filsuf Australia dalam bukunya Singer, Peter, The Expanding Circle: Ethics and Sociobiology, New American Library, NY, 1981) mengenai . gagasan Adam Smith Masalahnya akan menjadi lain jika prinsip-prinsip etika kerja sebagaimana dirumuskan Adam Smith (hlm. 158–165) dieksplorasi sebagai pendalaman dari prinsip-prinsip keadilan yang dideskripsikan sebelumnya. Saya membayangkan bahwa sikap simpati sebagaimana dimaksudkan Adam Smith (hlm. 160) dapat diperdalam dengan diskusi mengenai sikap solidaritas dalam arti keberpihakan kepada kelompok tertindas dan upaya membebaskan manusia dari struktur sosial yang merusak hubungan antarmanusia, mengkotak-kotakkan masyarakat berdasarkan profesi dan melanggengkan pembagian kerja sebagai sarana penindas (Yeremias Jena, 2013, hlm. 116). Di titik inilah problem yang dihadapi para banker muda dan kaum profesional lainnya dapat diatasi. Simpati atau solidaritas nyata harus sampai pada upaya menghancurkan iklim kerja yang membelenggu dan membatasi karyawan untuk menjadi dirinya sendiri.

Penutup

Sebagai buku ajar, karya Kasdin Sihotang ini dapat dibaca dan dipahami bahkan oleh orang yang sama sekali tidak memiliki latar belakang filosofis yang memadai. Di titik inilah sebetulnya terletak kelebihan buku ini – sejauh sebagai buku ajar – bahwa siapa pun yang mengajar etika kerja atau profesionalisme dapat menggunakan buku ini sebagai buku pegangan wajib. Seseorang tidak harus mempelajari etika dasar untuk memahami etika profesi dalam pekerjaan, karena materi-materinya sudah dijelaskan secara panjang lebar dalam buku ini.

Meskipun demikian, catatan-catatan dan pertanyaan kritis yang saya ajukan di atas dapat menjadi sumbangan yang bagus dalam memperkaya perspektif buku ini. Jika martabat (dignity) sebagaimana nampak dalam judul buku ini hendak dipahami sebagai “sesuatu yang dimiliki setiap pengada sejak lahir sebagai yang harus dihormati” atau dalam pengertian Kantian sebagai “sesuatu yang memiliki tujuan pada dirinya sendiri dan dengan demikian tidak bisa dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan lainnya”, maka kerja bermartabat seharusnya adalah kerja yang melaluinya manusia mencapai dirinya sendiri sebagai subjek. Di sinilah sebuah catatan penutup harus diberikan. Sejauh manakah kita yakin bahwa prinsip-prinsip kerja bermartabat sebagaimana dibahas dalam buku ini sungguh-sungguh membantu manusia (setiap pekerja) untuk menyadari bahwa dirinya adalah persona yang tidak bisa direduksikan sebagai alat? Atau, jangan-jangan prinsip-prinsip kerja bermartabat yang kita kampanyekan justru menjadi semacam perpanjangan tangan penguasa atau pemilik modal dalam menganeksasi kesadaran manusia untuk mereduksikan pekerjaannya sebagai tidak lebih dari pekerjaan tangan (labour), meskipun dia mengklaim diri sebagai profesional? Kasus yang dihadapi para banker muda sebagaimana diangkat di bagian pendahuluan tulisan ini seharusnya membantu kita untuk menjadi lebih kritis ketika mendiskusikan problem-problem moral dalam pekerjaan.[]

Daftar Pustaka

Jena, Yeremias. Marajut Hidup Bermakna. Narasi Filosofis Pencerah Kehidupan. Jakarta, Bidik-Phronesis: 2013.

Lopes, Linette. “Why High Finance Workers Commit Suicide?” Dalam: http://business.financialpost.com/2014/02/21/why-high-finance-workers-commit-suicide/). Akses: 10 Mei 2014.

McDonough, Megan. ‘Young Money: Inside the Hidden World of Wall Street’s Post-Crash Recruits’ by Kevin Roose. Dalam: http://www.washingtonpost.com/opinions/2014/03/21/f18ce204-9e71-11e3-9ba6-800d1192d08b_story.html) Akses: 10 Mei 2014

Roose, Kevin. The Woes of Wall Street: Why Young Bankers Are So Miserable. Dalam: http://www.theatlantic.com/business/archive/2014/02/the-woes-of-wall-street-why-young-bankers-are-so-miserable/283927/). Akses: 10 Mei 2014

Sihotang, Kasdin. Kerja Bermartabat. Kunci Meraih Sukses. Jakarta, Penerbit Universitas Atma Jaya: 2014.
Singer, Peter, The Expanding Circle: Ethics and Sociobiology, New York, New American Library: 1981.

Tomlinson, Tom. Balancing Principles in Beauchamp and Childress. Dalam: http://www.bu.edu/wcp/Papers/Bioe/BioeToml.htm). Akses: 12 Mei 2014.

Kekerasan Terhadap Tubuh dan Absennya Ruang Spiritual

Ditulis April 29, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Artikel Populer

Tags: ,

Berita kriminalitas terus saja mengguncang kesadaran etis kita. Media massa mewartakan perilaku sadistik dan pembunuhan dengan motif-motif yang tampaknya sepele, seperti cemburu, sakit hati karena diejek, selain alasan klasik seperti perampokan dan pemerkosaan. Selain perempuan dan anak-anak menjadi korban, pelakunya pun terbilang anak-anak remaja. Lebih mengejutkan lagi, perilaku sadistik menyertai aksi kekerasan dan pembunuhan ketika korban “dihabisi” dengan cara ditusuk, dicekik, dianiaya, dan dibiarkan mati perlahan-lahan.

Kita pun bertanya, mengapa tubuh manusia begitu mudah dihabisi? Ada yang berpendapat bahwa beban ekonomi atau psikologis yang tidak tertahankan telah menjadi pemicu tindakan kekerasan. Kalau pun alasan-alasan ini benar, mengapa manusia tidak sanggup menahan perilaku brutal dan sadistiknya dan tega dan mengahabisi tubuh yang lain yang juga tidak berbeda dengan tubuhnya sendiri?
Matinya Ruang Spiritual

Gabriel Marcel (1889–1973), seorang filsuf Prancis, berpendapat bahwa zaman modern dengan seluruh watak teknis yang mementingkan efisiensi telah mengahancurkan dimensi dan ruang metafisika (spiritual) dari dalam kesadaran manusia. Padahal ruang ini penting agar seseorang bisa memahami dirinya dan orang lain, bukan semata-mata sebagai tubuh organik, tetapi sebagai diri dalam ketotalannya. Absennya ruang metafisika hanya akan mereduksikan tubuh menjadi semata-mata benda yang dapat diobjektifikasi demi kepentingan tertentu, termasuk menyiksa dan membunuhnya.

Hal ini juga digarisbawahi oleh Karol Wojtyla (1920–2005) ketika dia melihat bahwa peralihan ke abad dua puluh satu ditandai oleh lenyapnya dimensi metafisika ini. Padahal hanya di dalam dan melalui ruang inilah kita bisa memahami tidak hanya tubuh orang lain, tetapi juga tubuh kita. Hilangnya ruang metafisika mereduksikan tubuh hanya sebagai objek pemuas kebutuhan, objek rekayasa, dan sebagainya. Kita lupa bahwa pemberangusan ruang metafisik manusia berakibat pada hilangnya manusia sebagai pribadi yang bermartabat.

Tabiat modernitas dengan rasionalitas teknisnya menyulitkan dirinya untuk memelihara ruang metafisik dan spiritual manusia hanya karena dimensi-dimensi ini tidak bisa dikuantifikasi. Bagi modernitas, ruang metafisik dan spiritualitas tidak relevan karena tidak mampu membuktikan diri sebagai yang bermanfaat dalam menciptakan kesejahteraan ekonomi, memperbesar laba, meraup keuntungan finansial, meraih kekuasaan dan semacamnya. Selain itu, pengakuan atas eksistensi ruang spiritual dan metafisik hanya akan membatasi berbagai rekayasa terhadap tubuh sebagai komoditas. Dalam perspektif Wojtyla, misalnya, mengatakan bahwa tubuh adalah persona yang bermartabat hanya akan berarti mencegah perlakuan sewenang-wenang terhadap tubuh. Padahal tubuh justru menjadi komoditas yang sangat menguntungkan, sebut saja untuk pelacuran, perdagangan anak dan perempuan, aborsi, dan semacamnya.

Padahal ruang metafisik, dimensi spiritual, atau oase rohani sangat dibutuhkan dalam seluruh proses menjadi manusia. Hanya dalam dimensi inilah tubuh – pada level individu – dapat memahami dirinya bukan sekadar “badan” tetapi sebagai “aku” dalam seluruh pengalaman hidupnya. Sementara itu, pada tataran relasional, ruang metafisik, selain mencegah seseorang mereduksikan tubuh yang lain sebagai objek, juga mampu membangkitkan rasa kagum, keterpesonaan, perhatian dan tanggung jawab, agar tubuh yang sedang menampakkan diri dalam relasi antarsesama itu tidak disakiti dan dibunuh.

Konsekuensi

Lalu, apa hubungan antara hilangnya dimensi metafisik dengan tindakan brutalisme, sadisme dan pembunuhan terhadap tubuh? Pertama, tubuh sesama tidak akan mungkin disakiti dan dibunuh jika ada perjumpaan antarindividu, terjadi saling menyapa dan terbangun relasi intersubjektivitas. Pelaku pembunuhan dan korban bisa jadi saling mengenal dan membangun relasi, tetapi relasi itu tidak pernah mencapai level “perjumpaan”. Setiap perjumpaan, demikian Emmanuel Levinas (1905–1995) adalah “momen penampakan” ketika orang lain memperlihatkan dirinya sebagai wajah yang mengundang tanggungjawab untuk dikasihi.

Kedua, setiap perjumpaan dengan sesama selalu menyisakan ruang misteri. Orang lain tidak pernah menampakkan dirinya dalam ketotalannya. Selalu ada “ruang yang tidak dikenal” dalam setiap relasi antarmanusia. Di situlah persisnya terjadi ketegangan pilihan etis dalam memperlakukan sesama. Mereka yang punya motif mengobjekkan sesama berusaha menempatkan sesama sebagai orang asing sebegitu rupa agar mudah diciderai dan dibunuh. Kalau pun relasi antarsesama pernah terbangun sampai pada level perjumpaan yang membangkitkan tanggungjawab, relasi itu dinegasikan atas nama “sakit hati”, “kecewa”, “cemburu”, dan semacamnya. Penyangkalan ini dimaksud hanya untuk memberangus ruang “asing” dalam diri orang lain agar tubuh yang lain menjadi benda yang mudah disakiti dan dibunuh. Dan tampaknya para pembunuh yang kejam dan brutal itu jatuh ke dalam pilihan semacam ini.

Di lain pihak, terdapat mereka yang teguh berprinsip, bahwa tubuh yang lain, seperti juga tubuhku, tidak pernah bisa dipahami secara menyeluruh. Pemahaman terhadap tubuh selalu menyisakan ruang misteri dan wilayah batas nalar yang membangkitkan kekaguman dan misteri. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak mengalami godaan mereduksikan tubuh yang lain sebagai objek pemuas kebutuhan. Hanya saja mereka “memilih” untuk tidak mematikan ruang metafisik dan spiritual dari dalam dirinya.

Tidak mudah memelihara dimensi spiritual atau ruang metafisik sebagai bagian dari proses menjadi manusia persis ketika kita “terlempar” dalam dunia yang membangun logika objektifikasi, kuantifikasi, dan materialiasasi berbagai hal untuk kepentingan ekonomi. Dan ketika ada sebagian dari kita yang berusaha sekuat tenaga menahan diri dari godaan semacam ini, sebagian kecil lagi ternyata jatuh ke dalam godaan mengobjekkan, menyakiti, dan membunuh sesamanya.

Berhadapan dengan watak teknis modernitas yang keras kepala mempertahankan tendensi teknis dan objektifnya, kita perlu bekerja keras menyemai generasi yang mampu melampaui dikte modernitas, agar bisa sampai pada ruang perjumpaan dengan “yang lain” bukan sebagai objek yang harus dibunuh, tetapi sebagai “aku-yang-lain” yang harus dikasihi.[]

Penulis adalah dosen etika kedokteran dan staf PPE, Unika Atma Jaya Jakarta.

Kesepian Itu Tidak Baik Bagi Kesehatan

Ditulis Maret 6, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Artikel Populer

Tags: , ,

Sebuah studi terbaru yang terbit di Toronto Sun menunjukkan bahwa ternyata “kesepian yang kronis” memiliki bahaya terhadap kesehatan seseorang sama seperti bahaya obesitas. Menurut laporan itu, “kesepian meningkatkan kemungkinan terjadinya kematian dini sebesar 14 persen, dan angka ini sama dengan peningkatan kematian dini karena obesitas.” Dalam arti itu, keduanya memiliki risiko yang sama besar terhadap kematian seseorang.

Laporan itu sebenarnya adalah hasil survei yang dilakukan oleh sebuah Yayasan Kesehatan Jiwa terhadap 2000 responden di Amerika Serikat, di mana 10 persen responden merasa kesepian, sepertiga dari mereka merasa bahwa teman akrab atau saudara mereka sedang mengalami kesepian, dan setengah dari mereka mengatakan bahwa masyarakat pada umumnya semakin lama semakin merasa kesepian.
Studi itu juga menunjukkan bahwa kelompok masyarakat yang paling sering merasa kesepian adalah mereka yang berusia di atas 50 tahun. Sementara kesepian dari kelompok usia di atas 60 tahun semakin kronis karena ditambah dengan kekhawatiran mereka bahwa penyakit karena lanjut usia dan kematian akan segera datang menghampiri.

Ini tentu menjadi ancaman yang cukup serius bagi mereka yang memasuki usia pensiun dan kaum lansia. Bahkan ahli demografi dan psikologi mengatakan bahwa kelompok masyarakat ini sebaiknya selalu hidup berdampingan dan bersama, jangan sampai saling memisahkan diri dan hidup jauh satu sama lain dalam waktu yang relatif lama.

Anehnya, penelitian ini tidak menyinggung faktor lain yang menyebabkan terjadinya kesepian kronis, yakni perceraian yang semakin tahun semakin terus meningkat. Padahal perceraian tidak hanya menyebabkan terjadinya kesepian pada pasangan suami dan istri, tetapi juga anak-anak. Di Amerika Serikat, data statistik menunjukkan bahwa angka perceraian bertambah dua kali lipat sejak tahun 1990, yakni meningkat dari 4,9 menjadi 10,1 perceraian setiap 1000 perkawinan. Jika diperkirakan akan meningkat dua kali untuk sepuluh tahun mendatang, maka di tahun 2020-an angka perceraian mencapai di atas 20 persen dari 1000 perkawinan.

Di Indonesia sendiri, angka perceraian menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Sejak tahun 2005, angka perceraian selalu di atas 10 persen. Pada tahun 2010, terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia. Penyebab pisahnya pasangan jika diurutkan tiga besar paling banyak akibat faktor ketidakharmonisan sebanyak 91.841 perkara, tidak ada tanggungjawab 78.407 perkara, dan masalah ekonomi 67.891 perkara. Sedangkan tahun sebelumnya, tingkat perceraian nasional masih di angka 216.286 perkara. Angka faktor penyebabnya terdiri atas ketidakharmonisan 72.274 perkara, tidak ada tanggungjawab 61.128 perkara, dan faktor ekonomi 43.309 perkara.
Mungkin saja para peneliti dari Yayasan Kesehatan Jiwa itu tidak bermaksud meneliti hubungan antara perceraian dengan kesepian. Tetapi fakta kesepian yang disebabkan oleh perceraian tidak bisa dianggap enteng. Penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dnegan kaum remaja dari keluarga yang utuh, kaum remaja korban perceraian umumnya mengalami kehidupan dalam rasa sepi yang mendalam dan rasa ketidakpuasan pada diri mereka sendiri. Dan ini sudah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan di Pamukkale University di Turki.

Para peneliti dari Pamukkale University di Turki mengumpulkan data dari 863 siswa Sekolah Menengah Atas, yang setelah diolah secara statistik, menunjukkan adanya korelasi positif antara perceraian orangtua mereka dengan perasaan kesepian yang sedang mereka alami. Para peneliti kemudian menyimpulkan, “Para remaja sekolah menengah atas dari orangtua yang bercerai ada dalam bahaya mengalami rasa kesepian dan ketidakpuasan dalam hidup.”

Per definisi, kesepian (loneliness) dipahami sebagai perasaan atau emosi yang tidak menyenangkan sebagai reaksi terhadap pengalaman kesendirian (pengalaman terisolasi) atau pengalaman ketiadaan rekan, sahabat, orang terdekat. Kesepian meliputi perasaan khawatir, curiga, atau putus asa terhadap kesendirian, ketiadaan orang-orang sekitar, dan semacamnya. Perasaan ini dapat termanifestasi dalam banyak bentuk, mulai dari hal yang ringan sampai hal yang paling ekstrem seperti bunuh diri.

Kembali ke persoalan di atas, bahwa rasa kesepian sebagai fenomena yang sama berbahayanya dengan obesitas memang harus dihargai. Meskipun demikian, kita masih memiliki pekerjaan rumah yang amat besar, terutama bagiamana membantu saudara-saudara kita yang mengalami kesepian selepas perceraian orangtua mereka.[]

TAJAMNYA PISAU GOSIP

Ditulis Februari 25, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Artikel Populer, Filsafat

Tags: , ,

Oleh Yeremias Jena
(Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Jl. Pluit Raya No. 2 Jakarta Utara. 14440)

Siapa yang tidak tahu gosip? Apakah kita sendiri pernah bergosip ria? Adakah sesuatu yang salah dari tindakan atau perilaku semacam itu? Bukankah gosip wajar dilakukan sejauh ia dipahami sebagai bagian dari status kita sebagai manusia?

Oxford Dictionary mendefinisikan gosip sebagai “casual or unconstrained conversation or reports about other people, typically involving details that are not confirmed as being true.” Per definisi, gosip menegaskan beberapa hal penting yang menandai karakter kita sebagai manusia: percakapan atau informasi yang tak-terbatas mengenai orang lain. Percakapan atau obrolan selalu mengenai hal-hal yang kebenarannya belum dikonfirmasi apakah benar atau salah. Hal penting lainnya yang perlu ditambahkan adalah bahwa obrolan atau percakapan itu terjadi tanpa kehadiran orang yang sedang menjadi subjek pembicaraan tersebut.

Gosip dapat dikaji dari berbagai perspektif. Ada kajian antropologis atau sosiologis yang menegaskan bahwa dalam arti tertentu, gosip dibutuhkan masyarakat sebagai pemersatu relasi sosial. Gosip dapat menjadi sarana edukasi ketika karakter tokoh-tokoh tertentu dikisahkan secara berlebihan sebegitu rupa untuk menimbulkan kekaguman dan imitasi. Sementara gosip mengenai kelemahan lawan dapat membangkitkan keberanian dan harga diri diri anggota komunitas dalam persaingan antarkomunitas.

Gosip juga dapat dimaknakan secara filosofis. Kajian etika sendiri – terutama dari perspektif deontologi – menegaskan bahwa tindakan menggosip orang lain sama saja dengan memperlakukan orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan individu. Dalam arti itu, benarlah yang dikatakan Margareth Holland (“What’s Wrong with Telling the Truth? An Analysis of Gossip” dalam Americal Philosophy Quarterly, Vol. 33, No. 2, April 1996, hlm. 206), bahwa ada alasan moral untuk menghentikan atau tidak berpartisipasi dalam gosip ketika kita menyadari sepenuhnya “kaidah emas” yang memerintahkan kita untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Selain itu, gosip tetap bisa diposisikan sebagai tema refleksi fenomenologis-filosofis, misalnya dari sudut pandang obrolan dan kejatuhan manusia otentik dalam das Mann sebagaimana dikemukakan Martin Heidegger.

Tulisan ini mencoba meneropong gosip dari sudut pandang filsafat Kristiani. Karena tema tulisan ini begitu dekat dengan nilai-nilai Kristianitas, tulisan ini sebenarnya dapat juga dipahami sebagai semacam spiritualitas kritis atas nilai-nilai Kristianitas mengenai gosip itu sendiri. Untuk kepentingan tulisan ini, penulis sangat berutang budi pada karya Thomas Aquinas dalam Summa Theologica, II-II Q. 73,Art. 2.

Bahaya Kata-kata

Sebuah kisah datang tradisi filsafat Socrates. Sang filsuf dan guru kehidupan yang sangat dihormati ini suatu ketika kedatangan seorang tamu yang adalah sahabatnya sendiri. Kepada Socrates, sang tamu itu berkata, “Tahukah Anda apa yang baru saja aku dengar mengenai para sahabatmu?” Socrates menjawab, katanya, “Tahan sekejab. Sebelum Anda memberitahu kepadaku mengenai sahabat-sahabatku, bagus jika kita berdiam diri sejenak dan menyaring terlebih dahulu apa yang ingin kita katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai ‘tes penyaringan berlapis tiga’. Lapis pertama adalah Kebenaran. Apakah Anda yakin betul bahwa apa yang akan Anda katakan kepadaku adalah sebuah kebenaran?”

“Tidak juga,” jawab sang tamu itu. “Aku hanya mendengarnya dari orang lain dan ….”

Sebelum melanjutkan kata-katanya, Socrates memotong, “Baiklah! Jadi Anda tidak tahu persis apakah yang akan Anda katakan itu benar atau salah. Sekarang marilah kita terapkan penyaringan lapis kedua, yakni lapis Kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya adalah hal mengenai kebaikan sahabat saya?”

Sang tamu itu tampak tersipu-sipu lalu menjawab, “Emmmmm, tidak. Justru sebaliknya!”

Socrates pun menjawab, “Jadi Anda sebenarnya mau mengatakan sesuatu kepada saya mengenai sahabat saya tetapi Anda sendiri tidak bisa memastikan apakah itu suatu Kebenaran atau tidak. Dan yang akan Anda katakan itu bukanlah suatu Kebaikan mengenai sahabat saya. Mungkin saja Anda bisa melewati tes ini karena masih ada satu lagi penyaringan, yakni Kebermanfaatan. Apakah informasi yang ingin Anda beritahukan kepada saya mengenai sahabat saya itu akan bermanfaat bagi saya?”

“Tidak, sama sekali tidak!” jawab sang tamu itu.

“Baiklah,“ Socrates menyimpulkan, “Jika apa yang akan Anda katakan itu tidak mengandung kebenaran, tidak mengandung kebaikan, dan tidak bermanfaat, mengapa Anda ingin sampaikan kepadaku?” (Kisah diambil dari http://www.inspirationpeak.com/cgi-bin/stories.cgi?record=150, akses: 6 Februari 2014).

Mengapa ketiga ketiga syarat sebagaimana dikemukakan Socrates itu harus dipenuhi ketika kita membicarakan orang lain tanpa kehadiran dirinya? Memenuhi ketiga tuntutan itu sama artinya dengan tidak melibatkan diri dalam setiap upaya gosip-menggosip. Apakah manusia memang harus mencegah dirinya memasuki situasi yang memungkinkan terjadinya gosip? Jika disebut sebagai bagian dari hakikat alamiah manusia, mengapa manusia harus mencegah dirinya menggosip sesamanya?

Kata-kata yang keluar dari mulut kita ternyata bagai pedang bermata dua. Dia bisa menginspirasi, membangkitkan dan mendorong perubahan dan pertumbuhan manusia. Tetapi dia juga bisa menghancurkan. Kata-kata bahkan lebih mematikan daripada pedang, terutama ketika itu diungkapkan sebagai fitnah.

Dalam artikel pertama dari pertanyaan 73 dalam Secunda Secundae, Thomas Aquinas mengatakan bahwa gosip itu fitnah (backbiting). Melibatkan diri dalam gosip atau mendengar gosip, dalam iman Katolik, dikategorikan sebagai dosa ringan (venial sin). Menanggalkan terlebih dahulu perdebatan seputar gosip dan dosa, Thomas Aquinas berusaha menunjukkan secara rasional, mengapa gosip yang adalah fitnah itu harus dihindari. Sebagaimana lazim dalam cara berfilsafat Thomistik, sang filsuf pertama-tama menolak pandangan umum yang menolak fitnah sebagai salah (dan dosa). Menurut Thomas Aquinas, mereka yang membela fitnah sebagai tindakan yang salah umumnya mendasarkan diri pada dua alasan utama. Pertama, jika fitnah – per definisi – adalah membicarakan keburukan dan merusak nama baik orang secara rahasia, ini tidak memenuhi syarat kerahasiaan, karena memfitnah seseorang pasti dilakukan di hadapan para pendengar. Dalam arti itu, tindakan memfitnah memiliki dimensi kepublikan sehingga bertentangan dengan definisi kata “fitnah” itu sendiri.

Kedua, sehubungan dengan fitnah sebagai upaya merusak dan menghancurkan reputasi atau nama baik seseorang, pengertian ini pun harus ditolak. Sesuatu disebut sebagai reputasi atau nama baik mengandaikan rekognisi dan akseptasi publik. Karena itu, usaha menghancurkan nama baik tidak bisa tidak dilakukan secara publik.

Thomas Aquinas berpendapat bahwa kedua posisi ini tidak bisa diterima. Mereka yang menolak gosip dan fitnah sebagai sesuatu yang buruk lupa bahwa merusak dan menghancurkan orang lain itu dapat terjadi dalam dua cara, yakni secara terbuka dan langsung (seperti tindakan seorang perampok yang merebut nama baik seseorang secara frontal) dan secara tidak langsung (seperti tindakan seorang pencuri yang tidak memberitahu terlebih dahulu kapan dia datang). Bagi Thomas Aquinas, gosip dan fitnah adalah upaya merusak nama dan harga diri seseorang yang disebarkan melalui kata-kata, diucapkan secara tertutup dan rahasia (tanpa kehadiran korban). Tindakan ini buruk pada dirinya sendiri karena intensi penggosip adalah merendahkan dan menghancurkan korbannya melalui upaya meyakinkan lawan bicaranya bahwa apa yang dibicarakannya mengenai orang lain itu mengandung kebenaran. Tujuan akhir yang hendak dicapai penggosip adalah menciptakan kesan dan opini yang buruk dari orang lain (pendengar) mengenai korban gosip.

Berbeda dengan tindakan merusak dan mengahancurkan orang lain secara terbuka (posisi yang dibela para pendukung gosip), gosip dan fitnah memiliki kadar moralitas yang jauh lebih buruk. Menyerang dan menghancurkan orang secara terbuka (Thomas Aquinas menyebutnya sebagai “mencaci maki” atau reviling), meskipun berpengaruh pada kehormatan (honor) seseorang, sang korban memiliki kesempatan untuk membela diri. Tidak demikian dengan menggosip dan memfitnah orang. Korban yang difitnah tidak hanya kehilangan harga dirinya (honor), tetapi juga nama baiknya (good name). Mengapa nama baik (good name) sangat ditonjolkan oleh Thomas Aquinas dalam refleksi filosofis dan teologisnya mengenai gosip dan fitnah? Bagi dia, memiliki nama baik jauh lebih berharga dari harta dan kekayaan apa pun; bahwa ketiadaan nama baik justru menyulitkan seseorang dalam melakukan banyak hal secara baik. Padahal, menjadi baik secara moral – mengikuti Aristoteles – adalah bertindak sebagai orang yang berkeutamaan dengan merealisasikan seluruh potensialitas diri. Menjadi orang yang tersakiti karena fitnah akan menghalangi seseorang dari merealisasikan seluruh potensialitas dirinya itu.
Lebih dari Sekadar Larangan

Di sinilah kita mengerti dengan baik maksud kata-kata Socrates dalam dialog di atas. Bahwa menggosip atau memfitnah seharusnya dihindari karena tidak mengandung kebenaran, tidak membawa kebaikan, dan tidak bermanfaat. Implikasi moralnya amat jelas: relasi antarsesama dan persahabatan seharusnya dibangun di atas kebenaran dalam arti saling menerima apa adanya. Bahwa setiap orang saling mengisi dalam kekurangan dan kelebihannya. Bahwa kebenaran dalam arti itu akan membawa kebaikan bagi kita, dan kebaikan itulah manfaat dari relasi itu sendiri.

Belajar dari Santo Thomas, kita harus mengatakan tidak untuk gosip dan fitnah. Tindakan semacam itu tidak hanya melawan cinta kasih, tetapi juga keadilan. Cinta kasih adalah dasar persahabatan Kristiani. Radikalitas cinta kasih Kristiani justru terletak pada kesediaan menerima dan mengasihi orang lain, bahkan musuh sekalipun. Sementara keadilan adalah imperatif moral untuk memperlakukan orang lain sama seperti seseorang ingin diperlakukan.

Gosif dan fitnah ibarat pisau amat tajam yang siap menghancurkan relasi sosial kita. Maka membiarkan gosip dan fitnah tetap eksis sama saja dengan mengizinkan pedang teramat tajam itu mengiris dan mengancurkan persahabatan kita. Dan kita tidak mau seperti itu, bukan?[]

Banalitas Korupsi

Ditulis Februari 19, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Artikel Populer, Filsafat

Tags: ,

Ratusan mata wartawan dan jutaan pemirsa di tanah air membelalak. Rudi Rubiandini, mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berurai air mata sambil membela diri seusai sidang pengadilan tindak pidana korupsi, Selasa 7 Januari 2014. Ada dua poin inti pembelaan diri. Pertama, ia mengaku tidak bersalah. Kalau pun ada penyelewengan uang negara, itu dilakukan semata-mata karena kepentingan stakeholders, apa yang disebutnya sebagai “…ada kebutuhan logistik meminta sesuatu.” Kedua, pertahanan moral Rudi akhirnya “jebol” setelah selama lima bulan menahan diri untuk tidak menerima tawaran suap.

Pengakuan Rudi menegaskan bahwa tindakan korupsi yang dilakukannya, dalam pemahamannya, sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku di institusinya. Dia menyebut itu sebagai “… saya melakukan semua dengan menggunakan tupoksi yang dilakukan teman-teman saya di SKK Migas.” Ada hal yang kontradiktif di sini. Di satu pihak Rudini mengatakan bahwa tindakannya bukan korupsi karena sudah sesuai dengan tupoksi yang berlaku. Tetapi di lain pihak, dia sebetulnya tahu bahwa tindakan itu salah. De facto dia sudah “berhasil” menahan diri selama lima bulan untuk tidak korupsi.

Pertanyaan publik lalu mengarah ke kenyataan yang kontradiktif ini. Jika tahu bahwa tindakan itu – termasuk tupoksi – salah, mengapa masih berani menerima suap? Mengapa seorang yang sangat terdidik seperti Rudi dengan pemahaman yang mantap tentang apa yang baik dan buruk secara moral, seakan-akan tunduk pada pendiktean sistem yang korup?
Kemalasan Berpikir

Pembelaan diri Rudi mengingatkan kita akan konsep Hannah Arendt mengenai banalitas kejahatan. Sebuah kejahatan dikatakan banal jika itu dianggap lazim oleh pelakunya. Disebut lazim pertama-tama karena dilakukan sesuai prosedur, hanya menjalankan ketentuan institusi, sudah menjadi kebijakan birokrasi, dan sebagainya. Dalam konteks itu, siapa pun juga orang baik yang masuk dalam institusi yang korup pasti melakukan kejahatan.

Karakteristik kejahatan yang banal bukan terletak pada motif tindakan melakukan kejahatan, misalnya memperkaya diri, memajukan institusi, mencapai kekuasaan, dan semacamnya. Juga bukan pada absennya kehendak (will) yang kuat dalam diri subjek berhadapan dengan godaan korupsi sebagaimana dipersepsi teologi tradisional. Motif-motif ini, dalam pemikiran Hannah Arendt, tidak dilihat sebagai alasan pembenar tindakan kejahatan, karena mereka mengandaikan pelaku kejahatan memiliki pertimbangan rasional – rasionalitas tindakan instrumental atau strategis – sebelum melakukan kejahatan. Kejahatan disebut banal atau lazim jika pelaku kejahatan malas berpikir sehingga tidak mampu mencapai level reflektif yang memampukan dia untuk selalu membedakan tindakan-tindakan yang benar secara moral dan melaksanakannya.

Kalau benar bahwa apa yang dilakukan Rudi bukan untuk memperkaya diri (menurut pengakuannya, dirinya dan keluarganya tidak miskin-miskin amat), dan bahwa pertahanan dirinya “jebol” setelah lima bulan, maka yang sebetulnya dialami sang profesor adalah penyerahan dirinya ke dalam logika kejahatan banal ketika pikiran rasional dan kritisnya berhasil dilumpuhkan institusi yang korup. Dua kondisi harus dipenuhi supaya seseorang bisa membebaskan diri dari sistem yang korup, yakni kesatuan antara kata (pikiran, rasionalitas) dan tindakan (aksi). Pikiran atau rasionalitas dibangun dalam apa yang disebut Hannah Arendt sebagai vita contemplativa. Apa yang dilakukan Rudi selama lima bulan mungkin bisa dikatakan sebagai tahap contemplatio ketika dia betul-betul bersikap kritis, mengambil jarak, dan sanggup mendeteksi kecurangan dan kebobrokan sistem. Tetapi itu tidak terjadi pada level tindakan atau apa yang disebut Hannah Arendt sebagai vita activa. Daya nalar kritis seakan-akan lumpuh di hadapan tindakan. Ada jurang yang sangat lebar antara apa yang diketahui sebagai benar dan tindakan itu sendiri.

Mengapa pikiran rasional dan kritis seakan tidak berdaya menghadapi “godaan” kejahatan? Kondisi seperti apakah yang dihadapi Rudi sehingga kejahatan korupsi itu menjadi semacam pesona yang terus memikat dan sulit dihindari, persis ketika seorang pemuda yang tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang wajah sang pujaan hatinya?

Institusi yang jahat dan korup biasanya didesain sebegitu rupa sehingga memiliki daya pelumpuh kesadaran etis, mirip birokrasi dan kekuasaan elit partai di zaman Nazi Jerman yang mampu melumpuhkan kesadaran kritis setiap pengikutnya. Ada semacam kekuatan pencuci otak yang dimiliki setiap birokrasi (yang korup). Caranya bisa macam-macam. Perubahan gaya hidup, misalnya mulai menyenangi olahraga golf, mengkoleksi mobil, rumah mewah, barang-barang antik, dan sebagainya dapat menjadi cara efektif yang digunakan sistem yang korup untuk melumpuhkan kesadaran kritis dan etis seseorang.Dalam pemikiran Hannah Arendt, yang disasar institusi yang korup adalah melumpuhkan apa yang disebut “the faculty of thinking” dari setiap pelaku tindakan. Dalam kasus Rudi, proses pelumpuhan itu terjadi selama kurang lebih lima bulan.

Akibatnya fatal bagi Rudi sendiri dan seluruh tindakan kejahatan yang banal lainnya. Tindakan yang dilakukan memang tampak sebagai bukan tindakan kejahatan tetapi hanya sebuah kelaziman persis ketika pelaku kejahatan telah kehilangan kesadaran moralnya. Dan untuk itu, Rudi harus membayar mahal. Bukan hanya kemandekan atau kegagalan seluruh cita-citanya membenahi sistem dan birokrasi di SKK Migas yang korup, tetapi juga kekalahan kaum intelektual di hadapan pesona kejahatan. Dan jika benar bahwa gaya dan kenyamanan hidup telah menjadi senjata utama sistem dan birokrasi yang korup dalam memasung kesadaran kritis kita, maka logika bahwa gaji yang tinggi sanggup membebaskan seseorang dari tindakan korup mungkin harus dipertimbangkan ulang.

Kebijaksanaan hidup tradisional yang diusung agama-agama mungkin saja benar. Hartamu boleh banyak dan berlimpah. Gajimu sebulan mungkin saja membuatmu bergelimang uang. Yang terpenting adalah apakah seseorang mampu membebaskan hatinya dari kepungan dan penguasaan kekayaan atau tidak. Kata orang bijak, “Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada”, dan itu berlaku bagi mereka yang pikiran kritis dan rasionalnya sudah dilumpuhkan oleh institusi yang korup.[]

Tiga Filter Gosip

Ditulis Februari 9, 2014 oleh Jeremias Jena
Kategori: Cerita Inspiratif

Tags: ,

Socrates

Sebuah kisah datang tradisi filsafat Socrates. Sang filsuf dan guru kehidupan yang sangat dihormati ini suatu ketika kedatangan seorang tamu yang adalah sahabatnya sendiri. Kepada Socrates, sang tamu itu berkata, “Tahukah Anda apa yang baru saja aku dengar mengenai para sahabatmu?” Socrates menjawab, katanya, “Tahan sekejab. Sebelum Anda memberitahu kepadaku mengenai sahabat-sahabatku, bagus jika kita berdiam diri sejenak dan menyaring terlebih dahulu apa yang ingin kita katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai ‘tes penyaringan berlapis tiga’. Lapis pertama adalah Kebenaran. Apakah Anda yakin betul bahwa apa yang akan Anda katakan kepadaku adalah sebuah kebenaran?”

“Tidak juga,” jawab sang tamu itu. “Aku hanya mendengarnya dari orang lain dan … .”

Sebelum melanjutkan kata-katanya, Socrates memotong, “Baiklah! Jadi Anda tidak tahu persis apakah yang akan Anda katakan itu benar atau salah. Sekarang marilah kita terapkan penyaringan lapis kedua, yakni lapis Kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya adalah hal mengenai kebaikan sahabat saya?”

Sang tamu itu tampak tersipu-sipu lalu menjawab, “Emmmmm, tidak. Justru sebaliknya!”

Socrates pun menjawab, “Jadi Anda sebenarnya mau mengatakan sesuatu kepada saya mengenai sahabat saya tetapi Anda sendiri tidak bisa memastikan apakah itu suatu Kebenaran atau tidak. Dan yang akan Anda katakan itu bukanlah suatu Kebaikan mengenai sahabat saya. Mungkin saja Anda bisa melewati tes ini karena masih ada satu lagi penyaringan, yakni Kebermanfaatan. Apakah informasi yang ingin Anda beritahukan kepada saya mengenai sahabat saya itu akan bermanfaat bagi saya?”

“Tidak, sama sekali tidak!” jawab sang tamu itu.

“Baiklah,“ Socrates menyimpulkan, “Jika apa yang akan Anda katakan itu tidak mengandung kebenaran, tidak mengandung kebaikan, dan tidak bermanfaat, mengapa Anda ingin sampaikan kepadaku?” (Kisah diambil dari http://www.inspirationpeak.com/cgi-bin/stories.cgi?record=150, akses: 6 Februari 2014).


Myimansyah's Blog

Just another WordPress.com site

ITQON MANAGER

"ahsanu 'amala"

blogx utari dhina

Just another WordPress.com weblog

Step to Improve Better

Never Ending Inspiration

Pandoe

Kehidupan tak pernah berhenti untuk diungkap

dennydelioncourt

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Demoslink

Meramu Ide Wujudkan Asa

AMUNTODA NEWS

Just another WordPress.com weblog

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Global Dashboard

A way to keep track.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

BUAH PENAKU

hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 647 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: